Quête Pour Le Château de Phantasm - Episode 7

Eik dan Edgar berjalan di sebuah jalan sepi. Mereka terpaksa… di paksa meninggalkan kereta “Haris” dan beberapa keping emas untuk membayar ganti rugi tambahan pintu di atap.

“Hei, Edgar. Apakah hal yang di katakan si penjaga perpustakaan itu benar?” tanya Eik sembari menendang-nendang batu. Edgar, yang benar-benar kecapekan dan letih, menjawab dengan lesu. “Yaaaaa….”

Ya, bukan buku yang mereka cari sekarang, melainkan sebuah jiwa. Jiwa seseorang yang tak dapat beristirahat dengan tenang selamanya karena suatu hal yang pernah ia lakukan semasa hidupnya. Jiwa ini mengetahui segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk Le Château de Phantasm. Paling tidak itulah yang di katakan sang penjaga perpustakaan.

Mereka di minta berjalan ke arah barat, di mana mereka harus melewati lembah Geros dan mencapai tempat kediamannya di hutan seribu pinus. Dan Edgar tahu tempat itu. Berbekalkan peta kecil dari penjaga perpustakaan, merekapun berangkat.

Matahari bersinar terik, sementara tidak ada awan di langit.
Hal ini merupakan siksaan bagi Edgar. Peluh sudah memenuhi wajahnya. Sementara wajahnya sendiri sudah menampakkan wajah orang yang ingin tidur. Edgar kesal melihat Eik yang nampak baik-baik saja. Seolah matahari dan api adalah teman baginya.

“Eik!” panggilnya kesal. “Tidakkah kau capek?”
Eik menoleh, lalu nampak berpikir. “Tidak. Lagipula, kita harus cepat-cepat menemui jiwa ini dan menanyakannya tentang keberadaan ratu dan keberadaan Sion”

Edgar hanya bisa mendengus dan mengikutinya dengan kesal

Sementara itu, cukup jauh dari sana, di ujung barat benua Hyraphter, melewati selat Crasuel, di sebuah pulau yang di sebut Isla Islo…

Dua orang sosok wanita. Yang satu tinggi tegap dan besar, sementara yang satu ramping dan terlihat lebih ramah, berjalan beriringan di sebuah lorong yang penuh dengan bendera yang bersimbol sama dengan simbol yang ada di zirah mereka. Lambang sekor singa.

“Hei, Edea” panggil yang lebih ramping. “Haruskah kita beritahu Robin?”
Edea, wanita yang tinggi tegap dengan sebuah luka di mata kanannya menggeleng. “Tidak usah, May. Kau tahu kan, seperti apa sikapnya bila kita memberi tahunya siapa yang akan kita temui. Memang dia sudah terpisah dengannya, tapi tetap terbuka kemungkinan bahwa-“

Perkataan Edea di putus munculnya sosok bayangan di hadapan mereka. Seorang anak kecil. Nampak seperti lima belas tahun, memakai sebuah ikat kepala dengan lambang yang sama, muncul begitu saja.

“Kakak!” panggilnya ke May. “Kalian mau ke mana ?”
May hanya tersenyum sambil melirik-lirik ke arah Edea seolah Edea yang mengetahui semuanya. Anak itu lalu merengek pada Edea.

“Kak Edeaa…. Tolong beri tahu akuuu…” rengeknya. Edea menarik nafas.
“Tidak, Robin” jawab Edea tegas. Robin menatap ke bawah, namun kemudian mendongak kembali dengan pandangan yang sangat manis.
“Tch-“ Edea tercekat. Ya, itulah kelemahan terbesarnya. Pada anak-anak yang lucu dan imut. Pada wajah mereka yang lugu dan polos.

“Tolong ya…” pinta Robin mendekat.
“ARRGGHHHH!! Aku tak tahan lagi!!!” jerit Edea menyerah, “Kami di minta untuk menemuinya”

“Dia!? Dia?!” tanya Robin bersemangat. Edea mengangguk pasrah. Robin melompat-lompat kegirangan seolah dia mendapat hadiah sekarung emas.

“Tapi kau tak boleh ikut”

Kata-kata May menghentikan kegirangannya menjadi rengekan. Kali ini, ia merengek ke May yang tahan dengannya. Di tengah rengekan Robin, Edea menatap tajam ke May.

“May, kita akan terlambat kalau kita tak pergi sekarang. Ayo” ajak Edea.

Edgar dan Eik duduk di pinggir sungai Lummina, di sebelah selatanhutan Saxea. Eik asyik memakan ikan yang baru saja mereka bakar sementara Edgar masih sibuk menata wajahnya yang sempat berantakan karena keringat.
“Oi Edgyar, Kynapa kamyu tidhak seghera makhan?” tanya Eik yang mulutnya masih sibuk mengunyah.
“Aku masih merapikan dandananku, bodoh! Tidakkah kau lihat? Aku harus menghormati berkat dari Aprohidite” jawab Edgar.

Ketika ia selesai merapikan penampilannya, ia mendapati seluruh ikan yang tadi Eik tangkap sudah menghilang. Sejumlah kerangka ikan nampak terceceran di sekeliling Eik yang sedang tertidur pulas. Edgar yang marah berniat memukul Eik dengan bukunya, sampai ia mendapat sebuah ide bagus yang lain…

Ketika mereka berjalan di sisi kiri sungai Lummina, mereka dapat melihat sebuah benteng besar, cukup jauh dari sisi kiri sungai.
“Edgar, benteng apa itu?” tanya Eik.
“Itu benteng perbatasan kerajaan Set” jawabnya singkat.
“Set? Berarti Sion-“
“Hei hei! Sion belum tentu ada di sana! Kekuatanmu memang hebat, tapi pejuang Set sangat tangguh. Kamu bisa terbunuh, bodoh! Kita sebaiknya bertanya dahulu ke jiwa itu” kata Edgar. Eik hanya dapat memandang benteng perbatasan Set itu dengan kosong dan pergi mengikuti Edgar dengan berat hati.

Mereka memasuki hutan seribu pinus melalui jalur utara, dan terus berjalan maju, sampai Edgar terantuk sesuatu dan terjatuh. Sebuah altar budar. Edgar bangkit berdiri dan membersihkan dedaunan kering yang menutupi altar tersebut dan mendapati tulisan yang terukir.

“Bebaskan jiwaku, dengan sesuatu. Tanyakan pertanyaanmu, tahan dilemaku. Satu pertanyaan, dan ribuan jawaban”

Seusai Edgar membaca tulisan tersebut. Suasana mencekam. Kabut turun dan angin berhembus kencang. Awan gelap dan mendung datang. Edgar sedikit pucat.

“Apa yang kau cari?”

“Gyaaaa!” Edgar memekik mendengar pertanyaan dari seseorang, yang tak lain adalah sang jiwa yang mereka cari. Jiwa itu berupa seorang perempuan. Wajahnya mengerikan, kulitnya kerut seperti nenek-nenek, matanya terbelalak seolah sudah terbuka selama… selama-lamanya. Giginya ompong dan kukunya panjang.

“Um… nek?” panggil Eik. Sang jiwa melotot ke arahnya.
“Nek? Kau panggil aku nek? Aku ABADI! Ingat itu! Panggil aku Void! Hampa” kata jiwa itu. Eik hanya terdiam.

“Void… Aku ingin bertanya tentang sesuatu” kata Edgar. Si jiwa, Void, melayang-layang mengitarinya sambil membisikkan kata-kata dengan sangat cepat. Eik seolah mendengar angin bertiup. Eik dapat melihat Edgar berubah menjadi tidak sabar, lalu puncaknya, Edgar dengan marah melangkah keluar dari atlar.

“Ada apa?” tanya Eik yang heran.
“Gila! Nenek tua itu terus mengatakan hal-hal yang buruk dan penuh ejekan! Aku tak kuat lagi!” jawab Edgar kesal. Eik melangkah maju ke atlar. Tak perlu menunggu, sang jiwa sudah mulai berputar-putar mengelilinginya.

“Aku ingin bertanya” kata Eik singkat. Tiba-tiba, dari bahu sebelah kanan, kepala Void muncul dan menatapnya dengan wajah menakutkannya itu.

“Kau akan melihat kematian… Kau tak akan dapat mengeluarkan api… Kau akan-“ Void memulai kata-katanya.

“Jadi ini yang tadi di dengar Edgar tadi” pikir Eik.

“Di mana Ratu Wendy?”

“Mereka yang mati takkan bangkit kembali… Mereka yang pergi takkan kembali… Mereka yang terlambat kau selamatkan akan pergi…”

Sion. Itu yang ada di pikiran Eik ketika mendengar “… Mereka yang terlambat kau selamatkan akan pergi”

“Sion! Di mana Sion!?”

“Tahanlah cobaannya, karena ini tantangannya”

“Diam dan jawab pertanyaanku!”

“Inilah tantanganku. Menangkan dan dapatkan jawabanmu”

“SIOOONNN!”

“AARRRGHHH” Void mengerang. “Aku tidak percaya ini! Bocah ini sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga ia tidak mendengar dilemaku…”

“Eh?”

“Inilah pertanyaanmu, tentang sahabatmu Sion. Dan inilah jawabanku, akan temanmu itu, Menuju ke kematian, menuju ke abadian. Dia akan bertarung, dan mencoba untuk lari. Menjauh dari masa lalu, dan menuju masa depan”

Edgar, yang merasa Wendy lebih penting dari pada Sion, segera melangkah maju. “Bagaimana dengan Ratu Wendy?”

Void menoleh ke arahnya. “Satu orang satu pertanyaan. Cobalah tahan dilemaku dan kau akan mendapat jawabanmu”

“Apa?! Menahan dilemamu lagi? Tidak!” tolak Edgar mentah-mentah. Void mengangkat kedua bahunya lalu mulai memudar.

“Dia bukan siapa-siapa, tapi dia akan menjadi permata hatimu, kau akan gagal menjaganya. Namun belajar sesuatu darinya” kata Void, sebelum akhirnya menghilang ditup angin.

“Tunggu, “Dia bukan siapa-siapa”? Ratu Wendy-kah? Tapi… “… Kau akan gagal…”” gumam Eik. Edgar terdiam acuh tak acuh.

“HEI! SIAPA DI SANA!” bentak Eik. Edgar terdongak. Di depan mereka, di balik asap tebal, sesosok orang sedang melangkah menuju ke arah mereka

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Dari awal mula sampai episode ini, banyak h yang menarik. Saya tunggu lanjutannya. .
Walau sedikit bingung katrna terlalu banyak character yang munculnya singkat.
^^

80

waduh, karakter banyak sekali... Tiba2 langsung datang berbondong2.. Agak susah jadinya menyelami karakteristik dari tokoh tsb..
Tapi, untuk keseluruhannya sudah bagus, kok...

80

waduh, karakter banyak sekali... Tiba2 langsung datang berbondong2.. Agak susah jadinya menyelami karakteristik dari tokoh tsb..
Tapi, untuk keseluruhannya sudah bagus, kok...

80

halo.. masih newbie di sini...
ceritanya keren... tapi blum baca dari episode 1 hahahaha XD

*ayo tebak siapa aku*

60

sa-saya gak ngerti sama sekali >.<
mana konflik yang di chapter2 sebelumnya sedang intens-intensnya, padahal sudah saya tunggu2..
meskipun disambungkan dengan chapter 5, saya masih gak bisa dapat sense nya >.<
aztazim =_=

100

Hm....
Selesai baca part ini, aku malah jadi tambah bingung nanti pas giliranku aku musti nulis cerita tentang apa ya....

Karakter makin banyak aja. Latar belakang juga masih blur. Sifat masih agak melenceng. Setting juga.

Halah....
Wajib improvisasi kelas berat.

80

Keren!! ><

Ini posting perbaikan dariku ya. Ga bisa ngelanjut dari sini atau dari chie, kkom lagi eror :(
EPISODE 7 (PERBAIKAN/VERSI ANGGRA) http://id.kemudian.com/node/252012

ya ampun, writernya ga balik-balik,, niat banget TO, aku aja dua kali TO dua-duanya ampir ga belajar sama sekali xD

ea,bskah kau perbaiki ini sblum tgl 19?

100

Aku jd tambah Gªk ngerti dg alur cerita kolab ini @.@
Kenapa tau2 si edgar jd sayang sama wendy? Lalu siapa tuh 2 org yg numpang lewat?
Menurutku, cerita bab ini belum kelar. Sori kalo ocehanku pedas ya, ea. ><
Ahoy, panitia! Kalau nanti sampai giliranku. Pm plot adalah suatu kekuduan ya.
Kalo Gªk, aku ngambek aja aahh hahhaa.. :P

100

ritmenya terlalu cepet, tiba-tiba gini, tiba-tiba gitu
juga settingnya aneh

60

Ea,,menurutku terlalu melebar..kalo dalam kata sesingkat ini,,,perpindahan POV nya jadi ga ngena...
mungkin kamu fokus pada perjalanan eik aja...
bener kata ratu,,kemunculan Edea dkk kurang tepat ada di tengah2 kependekan ini...
Void nya boleh lah,,tapi bukannya Cyon dah ngeluarin Sidatta..kenapa ga pake itu aja..ramalan nya dah oke..tentang Edgar dan si ehem2 kan..
terus logika tempat juga berbeda dengan peta,,
saranku si dikembangin perjalanan Eik dan Edgar,,perjelas hubungan cek cok mereka ato apalah,,terus di ujung2 kamu boleh sisip kemunculan Edea dkk..
tapi repot juga yah kalo ada beban ujian,,ayo Ea jangan melarikan dulu..masih ada dua hari buat edit...

KARENA ITU SAYA KURANG PUAS DENGAN BAGIAN INI. HAL YANG PALING MENGECEWAKAN ADALAH SETTING TEMPAT YANG SANGAT TIDAK PAS

80

lumayan...

semangat ya non, TO sama UNnya!!
*merasa pernah senasib*

30

Idem sama ratu.
Saya bener-bener nggak ngerti chapter ini. Tiba-tiba Eik dan Edgar harus mencari jiwa tanpa ada penjelasan kenapa mereka harus ngelakui itu, dll.

Ini bikinnya buru-buru ya? =='

iya, harus jadi sebelum weekend selesai T-T

60

aku 120% menyarankan bab ini dibikin ulang. -___-
.
.
1] tingkat kesan karakternya ngedown to the max. maksudku, semua karakter yg muncul kayak satu orang monolog dengan bermacam-macam nama. boro-boro OOC. karakterisasinya masing2 kayak apa aja ga kelihatan.
2] tingkat keseriusannya juga memprihatinkan. padahal di bab ini lumayan banyak nama baru yg muncul (padahal udah kubilang jangan munculin terlalu banyak karakter baru, atau malah kalau bisa jangan munculin karakter baru sama sekali di titik ini, mengingat suasana antar karakter yg udah muncul aja lagi intens-intesnya.)
3] adegan-adegannya geje. seandainya aku ga tahu-menahu soal plot, OC, dan detil-detil lainnya atau ga baca cerita kolab sama sekali, aku bacanya pasti sambil ngangkat alis, muka datar, dan buang napas.
4] dengan sangat terpaksa aku harus bilang bab ini ISINYA ANGIN DOANG. kau ga niat ya bikinnya? harusnya kalau lagi sibuk/pusing dikejar setan Try Out kau tuker giliran dulu aja Ea. kalau gini kan kasihan yg harus nerusin cerita berikutnya. -_-
.
.
kuharap Cyon/Irene/Ling/Makkie atau siapa aja dari tim panitia bisa secepatnya memberi pertolongan pertama atau membuat kebijakan terhadap bab ini (terutama kalau penulisnya udah terlanjur kabur). maaf seribu maaf kalau kritikku pedas. tapi terus terang aja hatiku hancur melihat terusan cerita bagianku (yg dibikin dengan susah payah menahan ego dan kemalasan, pakai bercucuran keringat darah, serta dikerjain 5 jam penuh non-stop) jadi ga bertanggung jawab nan geje begini... TT__TT

*tepuktepukkepalachie*

Wow..

(tampang melongo, mata membesar berbinar-binar, mulut terbuka lebar, tangan garuk-garuk kepala)

silahkan ratu. jadi saya udah adem dulu

100

Kurang dramatis, cepet amat sampenya (coba mereka diserang monster atau dipalakin preman atau kehabisan duit/makanan di tengah jalan xDD **dihajar**)... Si Void kurang berkesan... Tapi saya suka ramalannya sih xDD
.
Tapi saya mengerti dengan penderitaan Kak Ea, menulis dengan dibayang-bayangi TO dan UN **sedang menalami**...
.
Ayo berjuang!!!

TOT ada yang mengerti... ahhh... hatiku bergetar...
Buat malem2, jam 12 malam langsung post

Voidnya buat lebih kejam ah...

CLUE:
Bila and bisa memutar otak, ramalan Void yang terakhir bermakna sesuatu yang ada di forum OPLCDP FIX xD

Lol. Btw, kalo sempet tolong revisi yah, kak Ea~~ Terutama soal nama tempat, kebalik-balik, hhe. Kalo butuh bantuan, kami siap membantu~~

100

Titip Poin dulu
blom sempet baca--lagi sibuk nulis Raimazon.

100

Bagus chele *ngacung jempol*..

"chele"nya apus dong =3=

No need for real name

ga bisa diedit...--"
maap *bersujud*

90

ada yang kurang dari part ini, tapi kika gak tau apa..
lanjuut

50

Nice try, yeah walau agak Gak jelas

100

nitip poin dulu, entar dibcanya ^^

100

Saya mengecewakan pembaca *sfx: melo drama*
Nanti, seusai UN, Ea langsung buat sampai 7000 kata *berapi-api*

90

hoho.
Dkit amad.
pdahal dah dtunggu.

100

Jangan kabur dulu kau!

Sadis, Ea... Loncatan POV-nya...

Harusnya karaktermu lewat ga sesingkat itu juga... Ini jadi mirip episode 1, nanggung abis... Ahahah...

^_^

90

Kedikitan ah Bos..
Yang sebelumnya aja 5000 kata. Irit amat neh.. Wekekekek..
.
Setelah cerita tentang idea, tiba-tiba blub, balik lagi ke Eik dan Edgar. Tanpa diantar, tanpa diundang. Jadi kesrimpet..
.
Yang nulis lanjutanya, bikin 7000 kata sekalian yah.. Wekekekek..

100

Gyaa... ada typo... besok aja deh