Taman Bunga Jam Sembilan Pagi

Kalian pasti akan mengatakan aku gila. Karena tidak ada orang waras yang akan menolak menghabiskan liburan ke Singapore bersama kekasihnya. Apalagi bila untuk kegiatan liburan itu tidak perlu mengeluarkan sepeser uang pun.

Kemudian kalian akan mengatai aku sinting, pasti. Karena aku lebih memilih menghabiskan malam pergantian tahun di sebuah kota kecil. Dan yang paling parahnya lagi, di taman yang sepi.

Berawal dari putusnya hubunganku dengan Dina beberapa hari yang lalu. Aku yang terlalu sibuk mengejar deadline novel yang sudah ditagih oleh pihak penerbit, sehingga melupakan janjiku pada Dina. Dina tidak bisa lagi menolerir sikapku yang mencuekkan dia demi kisah romantis nan indah yang sedang aku tulis. Dia mengancam bila aku membatalkan janjiku lagi untuk menemaninya berlibur, maka kami akan putus.

Aku sangat ingin. Tapi penerbitku juga akan memutuskan hubungan kami bila novelku tidak siap pada waktu yang telah disepakati. Aku memilih penerbit dibanding Dina. Karena biasanya Dina akan memaafkan sikapku, dia tahu betapa aku mengejar cita-citaku menjadi penulis profesional. Namun setelah itu, aku menyesalinya. Karena Dina benar-benar melaksanakan niatnya. Dia memutuskanku hanya lewat sms. Kali ini dia benar-benar marah.

#Dun, kejar saja mimpimu untuk menjadi penulis best seller. Tapi ingat satu hal, Dina tidak akan pernah membeli novel yang ditulis oleh Dadun yang tidak memperhatikan perasaan kekasihnya#

==

Lalu bagaimana bisa aku berada di kota Pontianak, Ibu kota provinsi Kalimantan barat ini?

Semua karena aku begitu menyesali putusnya hubunganku dengan Dina. Sehingga saat Kepala redaksi penerbitan Bumi wacana mengajakku mengadakan jumpa penulis di pulau Kalimantan, aku langsung menerimanya. Aku ingin menyepi, ingin pergi ke tempat baru untuk menenangkan hatiku setelah tidak ada satu pun sms yang dibalas Dina. Bahkan dia juga menolak panggilanku.

Aku mencoba memfokuskan pikiran pada acara jumpa penulis ini. Menurut jadwal tujuan pertama roadshow berbagi ilmu serta jumpa penulis itu diadakan di toko buku Bumi wacana di kota Pontianak yang memiliki penjualan terbesar tahun ini. Acara dimulai dengan talkshow dan diskusi. Setelah itu dilanjutkan dengan bedah buku. Dan Novelku menjadi salah satu buku yang dibedah.

Aku terpaksa memasang wajah tersenyum saat acara tanya jawab. Terutama ketika mereka menanyakan perihal kisah cintaku di dunia nyata. Apakah kisah cintaku seindah kisah yang ada di dalam novelku? Aku tidak ingin menjawab. No comment lebih baik, cari aman sajalah.

“Dadun, acara hari ini sudah kelar. Kamu mau ikutan keliling kota sama kami atau ada rencana lain?” tanya Mas Irwan.
“Aku istirahat di hotel aja deh, mas,” sahutku sambil membereskan laptop dan beberapa buku dari stand.

Mataku menyapu setiap sudut toko buku tersebut. Aku tersenyum saat melihat novelku terpajang di bagian best seller. Setidaknya aku tidak sia-sia menguras keringat dan waktu.

==

Aku menatap kamar hotel yang disewa Mas Irwan. Kamar yang tidak terlalu besar, cukup untuk menampung aku dan mas Irwan. Sementara beberapa rekan yang lain menempati kamar yang berukuran lebih besar. Hotel Serasan terletak di jalan utama menuju Bandar udara. Hotel yang sudah berdiri cukup lama dan memiliki kesan tenang dan sejuk.

Setelah membersihkan badan serta berganti pakaian, perutku mulai protes minta diisi. Awalnya aku tergoda untuk makan malam di restoran tepi sungai, namun berpuluh-puluh notification di Facebook serta foto-foto liburan Dina menghentikan aku. Alhasil aku memilih memesan makan malam lewat jasa layanan kamar hotel.

Sambil menunggu nasi cap cay pesananku datang aku membalas email serta komentar teman-temanku. Namun mataku menangkap sekilas bayangan ketika ekor mataku melirik ke jendela di samping meja yang ku tempati. Aku menatap ke luar jendela dan mendapati seorang gadis berkulit putih menatap juga dari taman yang terletak di sebelah hotel. Gadis itu menatapku terus menerus seakan aku mahluk aneh yang datang dari planet pluto. Karena penasaran dengan gadis manis berkulit putih itu aku melangkahkan kaki keluar kamar, menekan tombol lift dan berlari menuju taman yang kini kosong tanpa sosok si gadis manis.

“Mas,” aku cukup dikejutkan oleh seorang pelayan hotel yang menepuk pundakku.
“Ada apa?’ tanyaku.
“Seharusnya saya yang bertanya, mas sedang ngapain yah di sini?” tanya pelayan itu kepadaku dengan senyum ramah khas seorang pelayan.
“Menikmati langit malam,” jawabku asal.

“Sebaiknya jangan sendirian kalau malam-malam gini mas,” jawabannya membuat aku sedikit terkejut.
“Ada apa yah? Sering terjadi kasus kriminal?” tanyaku cemas. Aku masih belum mengetahui seluk beluk kota ini walau sering mendengar ceritanya dari Cat, teman sesama penulis di kemudian.com.

“Bukan, hanya saja tidak ada yang berani mendekati taman jam sembilan itu kalau sudah malam,” ucap pelayan itu lagi.
“Taman jam sembilan?” tanyaku lagi.
“Yah, taman itu dinamakan taman jam sembilan karena bunga yang tumbuh di sana semuanya bunga jam sembilan pagi,” sahut seorang wanita yang mengendong anak berusia kira-kira dua tahun.

“Mengapa hanya ditanami bunga jam sembilan?” tanyaku lagi.
“Dun, bukan ditanami. Tapi tumbuh dengan sendirinya dan tidak bisa di musnahkan!” wanita itu menekankan setiap patah kata yang keluar dari mulutnya. Dia menyengir lebar dan membuat aku menyadari bahwa senyum itu pernah ku lihat sebelumnya.
“Kau! Mengapa tahu namaku Dun? Ternyata aku cukup terkenal yak,” ucapku ke-pede-an.

“Uh, narsis bin lebay dirimu Dun, Dun. Panggil Om Dadun nak,” ucapnya pada bocah kecil yang ku kenali sebagai Kenz.
“Cat!” teriakku tak percaya. Dia menepati janjinya untuk membawa si kecil Kenz mengunjungiku di hotel setelah suaminya menyelesaikan pekerjaan kantornya. Sudah lama aku ingin bertemu Kenz yang hanya bisa kulihat fotonya di facebook. Sampai saat ini fotonya dengan Lovaskeptika masih ku pakai untuk foto profil di kemudian.com.

Cat mengajakku makan malam, dia yang traktir – katanya. Aku bahkan sudah lupa dengan nasi cap cay pesananku saat menyetujui usul Cat. Akhirnya kami mengobrol di restoran yang terletak di tepian sungai hingga menjelang pukul sepuluh malam. Cat dan suaminya berpamitan karena Kenz mulai mengantuk.

“Jangan pernah penasaran dengan taman jam sembilan. Tapi coba saja kau tengok esok pagi pas jam sembilan pagi. Bunga kecil aneka warna akan menghiasi taman itu dengan sangat indah,” ucap Cat. Mulutnya memang sangat cerewet ternyata. Sejak awal dia yang terus menerus menyerocos, sedangkan Rudy, suaminya hanya sesekali menimpali percakapan kami.

==

Jika Cat tidak memberikan peringatan mengenai taman jam sembilan tentunya aku tidak akan terlalu pensaran. Dan saat ini aku berada di depan taman tersebut saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Aku membuka pintu pagar taman yang terbuat dari bambu-bambu yang disusun dengan sederhana dan unik.

Aku yakin tadi melihat amoy manis di sini. Amoy adalah sebutan gadis dari etnis tiong hua, aku sering mendengar mengenai amoy-amoy cantik dari kota ini. Terutama berita tentang pernikahan amoy-amoy tersebut ke luar negeri. Cat sering bercanda mengenai komoditi ekspor yang paling laris adalah amoy.

Kepalaku tiba-tiba merasa pusing dan berat. Aku berdiri dengan berpegangan pada pagar bambu. Saat tubuhku semakin lemas, sebuah jemari yang lembut membantuku masuk dan duduk di kursi taman. “Pusing?” tanyanya lembut. Dan aku yakin dia adalah gadis yang ku lihat tadi.
“Wa bantu ambilkan air yah,” aku mengangguk untuk menjawab ucapannya. Tak berapa lama dia datang dengan sebuah gelas di tangannya. Aku meneguk air putih yang terasa segar dan memberi energi baru.

“Terima kasih,” ucapku. Aku terkejut saat mataku memandang ke sekeliling. Malam masih pekat, namun saat ini aku tidak berada taman melainkan di sebuah kebun sayur.
“Di mana ini?” tanyaku ketakutan. Astaga! Apakah aku telah dibawa pergi ke ruang dimensi lain? Apakah aku ditarik oleh roh halus? Sahabatku pernah mengatakan bahwa kota Pontianak masih terkenal dengan hawa mistisnya. Dia menyarankan agar aku membawa beberapa jimat dari pamannya. Tapi sepertinya untuk ukuran anak muda gaul dari Bandung, mempercayai tahayul bagiku adalah hal yang sia-sia.

“Kebun sayur Pak Hulu,” jawabnya lembut.
“Aku seharusnya tidak boleh berada di sini,” teriakku. Dia mengisyaratkan agar aku mengecilkan suara.
“Hati-hati! Nanti Pak Hulu bisa marah besar kalau dia tahu kamu ada di sini,” gadis itu membantuku berdiri.

“Siapa kamu?” tanyaku dengan cemas.
“Aku Sun, kamu lupa yah? Bukankah kita sering bermain sewaktu kecil. Walaupun setelah menginjak remaja, kita tidak bisa bermain lagi,” ada rasa rindu yang dalam tersirat pada ucapannya.
“Kita? Bermain? Memangnya kamu kenal denganku?” tanyaku kesal. Kalau ini adalah mimpi maka aku harus segera bangun.
“Kamu lucu! Siapa yang tidak kenal dengan Yusuf, putra pertama Pak Hulu. Calon penerus tuan tanah besar,” sahut Sun.

“Kalau aku adalah Yusuf, anak tuan tanah. Maka kamu pasti adalah pacarku?” aku terlanjur masuk dalam dunia yang aneh. Jadi mengapa tidak sekalin bermain-main di dalamnya saja pikirku.
“Astaga! Bang Yusuf, sudah berapa kali kukatakan kalau kita tidak bisa bersama! Aku sudah dipinang oleh ayahmu,” ucapnya kaget. Dan aku pun kaget. Ternyata kisah cinta seperti ini masih saja melekat dan membuatku berimajinasi aneh.

“Kalau aku katakan bahwa aku bukan Yusuf. Dan aku tidak tahu siapa dirimu, kau mau menunjukkan jalan pulang ke duniaku?” tanyaku dengan hati-hati.

“Kamu bukan Yusuf? Lalu ke manakah Yusufku? Dia berjanji akan menemuiku di sini,” tiba-tiba dia menatapku aneh. “Di mana dia? Mengapa dia tidak datang menemuiku?” tanyanya sedih. Airmatanya membanjiri wajah putih mulusnya. Aku mencoba menyeka air matanya, namun sia-sia. Baru saja aku hendak memegang tangannya, tubuhku terasa seperti diguncang dengan hebat.

“Dun!” suara yang ku kenal.
“Mas!” suara pelayan itu, pikirku.
“Dadun!” teriakkan Cat membangunkanku dari mimpi aneh itu.

“Ngapain kamu tidur di bangku taman? Kayak nggak disewain kamar aja!” ucap Mas Irwan dengan ekspresi tak percaya. Aku mengerakkan leher dan badanku yang pegal. Ternyata hari sudah pagi dan saat aku menyapukan pandangan ke sekeliling aku merasa takjub. Hamparan bunga-bunga kecil aneka warna menghiasi taman itu, aku segera merogoh saku celana panjangku untuk mengambil telepon genggamku untuk memastikan jam berapa saat itu.

“Jam sembilan, tidak perlu kau cek lagi. Bunga jam sembilan akan mekar dengan sempurna pada saat jam sembilan pagi, indah bukan,” ucap Cat sebelum aku sempat menekan tombol telepon genggam.
“Sangat indah,” aku menyetujui perkataan Cat.
“Meski hanya seperti bunga rumput yang kecil, lemah dan tidak menarik tapi saat bunga-bunga mungil ini mekar dan memenuhi taman ini, maka rasanya begitu indah. Satu lagi, bunga jam sembilan atau sun plant dalam bahasa inggrisnya ini memiliki khasiat yang bagus lho,” timpal Cat.

“Yah, nanti aku akan tanya sama paman Google mengenai bunga jam sembilan ini. Sekarang aku mau tidur dulu, ngatuk,” ucapku sambil meregangkan otot-otot badanku yang sakit setelah tidur semalaman di kursi bambu.
“Siapa suruh kamu tidur di taman,” teriak Mas Irwan.

“Kau mengabaikan peringatanku,” ucap Cat kesal sebelum aku memasuki lobi hotel. Kenz berlari memeluk mamanya dan mulai mengoceh tentang berenang dan main air. Rupanya Rudy membawa Kenz ke kolam renang yang terletak di bagian belakang hotel.

==

“Jangan kau dekati lagi taman jam sembilan!” peringatan Cat terus terdengar di telingaku. Namun entah mengapa sore ini kembali aku menatap taman itu dengan penasaran. Apalagi setelah aku mendengar cerita yang beredar mengenai taman bunga jam sembilan tersebut.

Aku menyalakan laptop dan meng-klik lambang MS Word yang nampak di desktop. Saat kursor kecil itu mulai berkedip-kedip, jemariku mulai melompat-lompat di atas tuts keyboard. Aku mulai mengetik judulnya – Legenda taman bunga jam sembilan pagi.

Aku membuka kembali ingatan di otak. Cerita tentang asal usul taman jam sembilan pagi itu.

Menurut cerita cat dan beberapa pelayan hotel, seorang amoy yang mencintai putra majikannya meninggal dengan tragis di sana. Mereka tidak tahu nama gadis itu. Gadis itu adalah putri dari sepasang suami istri yang mengadu nasib menjadi penambang emas di sungai kapuas. Keluarga mereka di datangkan dari Cina daratan untuk menjadi para penambang emas. Selain gaji yang cukup mengiurkan, para pekerja dari dataran Cina tersebut juga melarikan diri dari himpitan perekonomian serta wabah di negaranya.

“Sudah enam tahun orang tua sang gadis bekerja pada tuan tanah tersebut. Dan gadis bunga jam sembilan pagi itu selalu menjadi teman bermain anak tuan tanah yang terkenal menyebalkan. Ternyata perasaan saling suka muncul di antara mereka. Berita kedekatan mereka menimbulkan hal yang tidak sedap. Tuan tanah ternyata menginginkan gadis itu untuk dirinya sendiri.” Dadun mengingat kembali cerita dari Cat

Lagipula menurut Tuan Tanah, darah bangsawan mereka akan tercemar bila menikahi gadis keturunan yang miskin. Dia telah mengatur pernikahan putranya dengan putri dari kerabat nan kaya raya yang berasal di tanah Jawa. Rencana itu tidak boleh gagal.

Pemuda itu menjanjikan akan membawa sang gadis pergi ke tempat lain. Mereka berjanji untuk bertemu di tempat yang sekarang menjadi taman itu setiap pagi. Hanya saja sang pemuda selalu saja mengulur waktu. Tiap hari mereka bertemu, tapi tiap hari pula pemuda itu menyatakan belum siap. Dan gadis itu kembali mengantungkan harapan serta menanti kekasihnya setiap pagi.

Hingga akhirnya rencana mereka tercium oleh tuan tanah. Tuan tanah mengirim anaknya ke luar pulau untuk dinikahkan secepatnya. Sementara sang gadis masih menunggu.

Aku menghentikan jariku yang sedang mengetik legenda Taman bunga jam sembilan pagi itu di MS Word. Cerita legenda ini bisa menjadi salah satu referensi untuk cerita-ceritaku.

Entah mengapa langit kembali gelap, padahal baru sepuluh menit yang lalu matahari sangat terik. Cuaca panas terik di kota Khatulistiwa ini memang sangat berat. Kulit-kulitku mulai kering dan keringat terus mengucur dari tubuhku akibat sengatan matahari. Namun langit saat ini sangat gelap dan mungkin akan turun hujan lebat.

Kembali kepalaku terasa berat dan sakit. Aku merasa mataku berkunang-kunang dan segala macam tulisan yang akan kukerjakan nampaknya sia-sia. Dalam keadaan setengah sadar, aku melihat Sun berlari dengan kencang menembus rimbun semak-semak. “Tangkap dia!” teriakkan seorang pria membuat aku terkejut. Dua orang pria berbadan besar menarik tangan Sun dengan kasar. Mereka menyiramkan minyak ke tubuh gadis itu. Mengikatnya pada sebuah pohon kelapa dan menebar kayu bakar dan sabut kelapa kering disekelilingnya. Mereka pun mulai menyalakan api.

Gemeretak suara kayu bakar dan sabut yang termakan api semakin kuat. Setelah api mulai meninggi, kedua orang bertubuh besar itu pergi dengan tawa kemenangan. “Aku harus melakukan sesuatu,” batinku.

Tapi kakiku tidak bisa bergerak. Tubuhku hanya mematung melihat Sun menangis dan menangis. Saat api mulai berkobar menjilat tubuh Sun aku baru dapat mengerakkan langkahku. “Kau menepati janjimu Yusuf. Kau datang saat bunga itu mekar,” ucapnya sambil menatap sebuah bunga kecil di dalam pot yang tergeletak di dekat petak sayur bayam.

“Apakah kau akan membawaku pergi saat ini?” tanyanya penuh harap.
“Aku tidak perlu hidup mewah. Tidak perlu lagi mengumpulkan emas untuk biaya hidup kita, Yusuf. Kita bisa bekerja nanti,” ucapnya sambil tersenyum.

“Aku?” ucapku tanpa tahu harus berbuat apa.
“Aku akan mencari bantuan. Memadamkan api ini,” ucapku lagi.

“Kau sudah tidak menginginkan aku lagi? Apakah gadis yang dijodohkan ayahmu telah memikat hatimu?” tanya Sun lirih. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kembali kepalaku tertunduk lemas.
“Bila memang itu piihanmu, pergilah Yusuf. Aku bahagia bila kau bahagia,” Sun tersenyum lagi.

“Kita padamkan dulu api ini,nanti baru kita cari Yusuf-mu yang tidak menepati janji itu,” rutuk Dudun kesal.
“Tidak perlu Yusuf. Api ini sudah lama padam berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hanya aku yang terus menunggumu, menanti dirimu pada saat yang kita janjikan. Setiap pagi saat bunga kembang tabuh delapan yang kau berikan berbunga, maka kita akan bertemu di kebun sayur ini. Bersenda gurau sesaat kemudian kembali menjadi orang yang tak mengenal satu sama lagi lagi. Aku tahu pasti kita tidak akan pernah bersama. Namun menunggumu seperti bunga kembang tabuh delapan yang setia mekar setiap pagi adalah janjiku padamu,” ucap Sun.

“Setidaknya janji itu akan terus ku lakukan. Aku akan menunggumu setiap hari, sepanjang musim hingga kau melupakanku lagi,” ucapnya lagi.
“Mengapa kau mau menunggu Yusuf walau dia telah mengkhianati dirimu? Tanya Dadun sambil mengambil beberapa karung yg telah dicelupkan ke air untuk memadamkan api, namun sia-sia. Api masih saja berkobar.

“Aku bukan Yusuf,” sahutku.
“Kau adalah Yusuf. Meski bukan Yusufku lagi. Kembalilah kepada istrimu, kita sudah berakhir. Api menghanguskan tubuhku, namun tidak cinta dan janjiku padamu,” Sun semakin samar dalam pandangan mata dan dalam sekejap sinar yang panas menerpa wajahku.
“Setiap pagi aku akan di sini menantimu,” Sun tersenyum dan menutup matanya.

Aku berteriak histeris saat melihat Sun hangus dimakan api. Tanganku berusaha memadamkan api, tidak peduli apakah panas itu bisa membakar kulitku atau tidak. Namun sia-sia. “Sun! Sun!” teriakku.

Aku terbangun di meja, laptopku masih menyala dan ruangan masih sepi. Aku menyeka keringat yang mengalir deras. “Sun, mengapa kau memarikku?” tanyaku pelan.
“Apakah karena aku tidak pernah menepati janji pada kekasihku?” kembali aku merenung.
“Sun, aku ingin bertemu lagi denganmu,” aku mengambil sebotol minuman dingin dan meneguknya cepat.

Mas Irwan memasuki kamar dan menepuk pundakku. “Kenapa mukamu pucat?” Aku segera berlari ke cermin dan menatap wajahku yang masih kehilangan rona merah.
“Mimpi buruk,” Mas Irwan menertawaiku. “Makanya jangan tidur ddi bangku taman ato di meja laptop. Tidur tuh di kasur!” ucapnya sambil tertawa.
“Aku tidur dulu yah, capek. Besok pagi jam sembilan kita sudah harus pergi ke bandara,” ucap Mas Irwan sambil merebahkan badan di atas spring bed single dengan bed cover berwarna hijau lembut.

“Tadi aku ketemu si Cat di lobi ma anak dan suaminya. Dia mau ngajak kamu keliling Pontianak. Mau traktir kamu makan bubur padas katanya,” Mas Irwan langsung terlelap setelah menyampaikan informasi tadi.
Aku menganti pakaian dan mengecek ponselku. Ada sepuluh sms masuk, dan semuanya dari Cat. “Dasar mahluk tidak sabaran,” omelku.

“Sudah hampir satu jam aku tungguin kamu di sini. Ampe berlumut rasanya,” Cat memasang tampang seram. Padahal kalau tidak marah pun matanya sudah sangat mirip kucing garong.
“Maafkan aku Mama Cat,” Kenz tersenyum saat aku mengoda mamanya.
“Ayo aku bawa kamu makan makanan khas Pontianak,” Cat menarik Rudy dan Kenz yang masih asyik bermain di ayunan dekat kolam renang. Sementara aku mau tidak mau mengikuti langkah kaki Cat yang terburu-buru.

Dua mangkuk bubur padas, dua mangkuk bakmie kepiting serta satu piring kuetiaw goreng tersedia di meja. Aku mencoba bubur padas dan bakmie kepiting. Perutku rasanya mau pecah setelah semua makanan itu menempati ruang kecil di usus-ususku. “Kenyang banget! Enaknya langsung tidur,” cat melotot tak percaya saat mendengar ucapanku.
“Baru aja bangun tidur, uda mau tidur lagi!” teriaknya.

“Bangun tidur, tidur lagi. Banguuun tidur lagi,” Kenz menyahut dengan menyanyikan lagu yang baru dipelajarinya dari anak-anak pengamen tadi. Rudy juga ikut-ikutan menyanyi, alhasil kami memanggil pengamen kecil itu untuk mini konser lagi dengan suaranya yang cempreng pas-pasan.

“Cat, ini serius!” ucapku. Pikiranku tidak pernah lepas dari Sun.
“Hem, ini bener-bener serius,” sahut Cat sambil mengutak-ngatik ponselnya.
“Cat! Dengerin kalau orang lagi ngomong! Sibuk update status aja,” aku kesal dan Rudy hanya senyum-senyum. “Sudah biasa,” sahut Rudy. Aku mengeleng tak percaya.

“Yah, ada apa sih? Serius bener? Eh kamu sudah mau pulang ke jakarta kan. Aku bawa makan durian yuk. Makan durian sambil nongkrong di pinggir jalan,” ucapnya tanpa mempedulikan wajahku yang kusut.
“Aku bener-bener serius, Cat. Aku bertemu Sun,” ucapku.
“Ah, tiap hari Sun emang bersinar dengan cerah kok,” Cat mengodaku.
“Bukan sun yang artinya Matahari! Sun, gadis bunga jam sembilan,” wajah Cat langsung berubah serius saat mendengar aku mengucapkan bunga jam sembilan pagi.

“Sun? Apa hubungannya dengan bunga jam sembilan pagi?” tanya Cat penasaran.
“Sun adalah nama gadis itu. Gadis yang dibakar di taman. Dia menanti Yusuf, kekasihnya yang tidak juga menepati janji menemuinya di pagi hari saat bunga jam sembilan pagi mekar sempurna,” aku menjelaskan mengenai pertemuanku dengan Sun di dalam alam mimpi. Yah, aku menyebutnya mimpi.

“Ayo ikut aku,” Cat membayar makanan dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju mobil sementara aku, Rudy dan Kenz hanya mengeleng-geleng.
“Ayo! Kita akan pergi ke klenteng!” teriaknya lagi.

Suasana klenteng Dewi Kwan Im sangat besar dan megah. Gerbangnya tinggi dan terdapat dua patung barongsai penjaga. Di dalam klenteng tersebut tersusun dengan rapi berbagai hio – dupa dan kertas sembayang. Aku melihat Cat mengambil seikat hio dan kertas yang telah disediakan. Dia mulai membakar hio dan memanjatkan doa.

Aku sedikit penasaran dengan apa yang sekarang Cat lakukan. Cat bilang dia sedang mengocok Chiam shi. Dia mengambil tabung bambu yang berisi batangan kecil seperti sumpit kayu yang tertulis angka-angka. Setelah dikocok, salah satu batang kayu melompat keluar dari tabung bambu. Cat kemudian mengambil dua buah kayu kecil yang berbentuk seperti setengah lingkaran yang ditumpukkan menjadi satu. Setelah berdoa sesaat, Cat melempar dan kayu tersebut terjatuh di lantai. Satu buah potongan setengah lingkaran merah itu terbuka menghadap ke atas, yang lainnya menelungkup. Cat tersenyum puas.

Kami duduk di mobil sambil membicarakan perkataan pembaca garis tangan yang mengambilkan kertas chiam shi tadi. Pak Tua tadi mengatakan kami harus berddoa untuk arwah Sun. Dan saat ini kami dalam perjalanan menuju taman bunga jam sembilan pagi.

Sesampainya di hotel, Cat dan aku segera menuju taman. Sementara Kenz dan Rudy menunggu di kamarku. Cat mengeluarkan hio dan kertas sembayang. Dia juga menaruh bunga serta buah lima macam. Cat mulai berdoa dan menancapkan sebuah hio di sudut taman tempat aku menunjuk. Aku yakin di sanalah Sun terbakar hidup-hidup.

==
Pagi ini aku bangun dengan wajah dan badan yang segar. Tidak ada lagi mimpi tentang Sun.
“Dua jam lagi kita akan kembali ke Jakarta. Bereskan barang-barangmu,” ucap Mas Irwan.
“Siap,” ucapku. Aku menatap ke taman bunga dan kuncup-kuncup berwarna-warni itu belum lagi mekar, tentu saja saat ini baru jam tujuh pagi.

Namun saat aku kembali menatap dengan seksama. Kusadari kuncup-kuncup itu mulai mekar dengan perlahan. Aku melihat jam di dinding serta jam tanganku, masih pukul tujuh pagi. “Jangan melupakan janji pada dia yang setia menunggumu,” aku mendengar bisikan suara Sun saat angin mengoyangkan bunga jam sembilan.

Para pelayan dan tamu hotel membicarakan bunga jam sembilan yang mekar pada pukul tujuh pagi. Sementara aku berdiri di depan hamparan bunga tanda janji Sun. Aku mengabadikan tanda janji Sun dalam kameraku.

Mas Irwa menarik tanganku. “Ayo! Mobilnya sudah mau berangkat.” Aku masih enggan pergi. Rasa penasaran pada bunga jam sembilan pagi masih menghantuiku. Namun mas Irwan sudah mendesakku, pesawat tidak akan menunggu kami – itu katanya. Dari balik jendela inova perak aku menatap taman jam sembilan sekali lagi. Kali ini Sun tersenyum padaku. Aku yakin, Sun sedang duduk di antara hamparan bunga jam sembilan sambil terus menunggu, menunggu pria yang tidak menepati janji untuk kembali diingatkan janjinya.

Aku berjanji padamu bunga jam sembilan pagi, aku akan kembali suatu saat nanti.

Read previous post:  
148
points
(2420 words) posted by cat 3 years 30 weeks ago
82.2222
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | cat | kumiko_chan | Romantis | snow | tantangan
Read next post:  
Writer gie27
gie27 at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (2 years 10 weeks ago)
80

sudah lama baca ne crita tapi baru bsa ngsih rate,,,

salam knal bang,,,baru menetas lg nich d kemdian.com
:)

Writer September
September at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 24 weeks ago)
90

baru baca. padahal sudah dari 2 minggu lalu. kagak apa-apalaj

pokoknya bagus !

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 25 weeks ago)

kak cat, gimana caranya masukin foto yg kak cat kirim ke FB buat cerita tantangan itu ke dalem k.com yak? hehehe
*maap sy lemot*

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
100

I'll be here...
--- Why?
I'll be waiting here...
--- For what?
I'll be waiting for you...
So... when you come here...
You'll find me...
I promise...
*(Final Fantasy VIII)*
-
kyaaa... ceritanya mengingatkan saya sama kata2 di atas!!!

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Ah, final fantasy, aku suka wkwk.
Thx uda singgah kurenai.
*ngajakin byako berenang ah wkwk. Eh tp kucing takut air yak

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Gpp...
Byakko kan angin, dia bisa jalan di atas air, jadi nggak perlu takut basah
he3...

Writer dewisun
dewisun at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
100

pertama-tama.....ehmm-ehmm-ehm, serius nih...alurna mantabz ngalir en enak banget dibaca, kedua...bau kemenyan disini walau sempat membuatku celingak-celinguk pas baca, tapi karakter peran pembantunya ^_^ membuat ceritanya ga serem2 amat.....( itu karakter asli khan ? keliatan kok dari sini juga ******kabuur )

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Peran pembantu? Nda ada pembantu buk dewix, yg adanya room service wkwk.
Thx uda singgah.

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Peran pembantu? Nda ada pembantu buk dewix, yg adanya room service wkwk.
Thx uda singgah.

Writer vieajah
vieajah at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
100

hadeuuuhhh...
suka iiiiiiii...

betewe, bawa2 nama dadun, huuww.. *beneran ngebayangin dadun dipegatin cewenya yang lagi asik ke singapur, dasar dadun bodooooohhhh,,,

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Ini mank request ceritanya dadun. Tp dia pasti tdk akan menolak ke singapore.

Writer Kika
Kika at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
90

Kereen kak cat..
Kika suka ^^
bunga jam 9 pagi emang beneran ada ya kak??

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

ada kika - bunga jam sembilan.. kecil-kekbunga rumput - tp mudah tumbuhnya - aneka warna .. imut lucu.

thx uda singgah

Writer lavender
lavender at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
90

kereeenn bangeettt mbaaakkk Catz...
misterius dan mistisnya terasaaaa.. udah kayak pilem luar dah..

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Wkwkwk, thx lav uda dtg.
Lav iktan kolab dgn sun yok.
*nodong bin maksa

Writer lavender
lavender at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Waaa yg roh2an itu??
Susaaaahhhh.. Ixixixix..

Writer suararaa
suararaa at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
80

tante cat..
cerita ini deskripsinya detil bagt.. bagus.. :)
eh tapi kasian bgt sun flower jadi roh gentayangan yg hrus didoain....

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Sun disini bukan sun nya sun flower.
Tp sun plant : bunga jam 9 pagi, kembang tabuh petak 8 wkwk.
Cm ini adalah reqnya sun n dudun.

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Sun disini bukan sun nya sun flower.
Tp sun plant : bunga jam 9 pagi, kembang tabuh petak 8 wkwk.
Cm ini adalah reqnya sun n dudun.

100

wah mama cat, tante cat, oma cat, mbah cat ini memang mantab,,, tapi aku lho jd merinding sama kak sun,, ahhahaha,,,

@ kak sun jgn datangin aku di mimpi pake cara kek gitu yah, serem!! hahahahha

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

mbah ?? wkwkwk ... aaa .. siapin menyan ma bunga a .. buat melet Eva

Sun .. peace

hahhaha,, iya mbah?? mbah yang jam 3 masih anteng chat, wkkwkwk,,, mbah katanya mbak sun ntar klo conference lagi minta d culik,, hahahahh ( aku baru tau tahun 2011 orang malah pada minta di culik)

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

wkwkwk . saya uda tobat chat ampe jam 3 .. saya pindah jam praktek dari jam 3 ke atas baru buka praktek wkwkwk.

mbah sun ikutan merusuh jugak?/ ancuurrr

iya, katanya mw ikut lempar2, kan conference segala bata, golok, bakiak, seng di lempar!!! hahahha

tapi mbak g sanggup chat ampe jam 3, jam 12 dah tepar katanya! hahaha

dadun at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
100

10 karena ada nama akunya. hahah
ini udah lebih baik dibanding yg waktu itu mbak. hehe
dilanjut yak sampe sisen 10 kayak lavender

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Hikz ... syukurlah Kong Dudun bilang lumayan ...wkwkw ..
saya bingung ee...

tidak akan dilanjut ampe sesen 10 - ini kan FTV bukan sinetron wkwkwk ..

saya menunggu Kara dan Kenz ampe sesen 20 yak wkwkwk

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
90

kolab dengan mba sun ya kak? uhuyy, mantap :)

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

bukan miko .. tp ni cerita pesanan Sun dan dudun wkwkwk - Dudun dgn tema menyepinya - sun dengan tema bunga kesukaanku wkwk (aku paling suka bunga jam 9 pagi)

sama seperti requestnya Miko tuh i wanna be close to you

Writer rositazh
rositazh at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
40

wah bagusnya...jadi merinding nih. salut!

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Aih, merinding disko yak.
He5, thx da singgah

Writer rositazh
rositazh at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
40

wah bagusnya...jadi merinding nih. salut

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
100

Saya tertampar membaca cerita ini, Cat. Ingin rasanya berlari dan melupakan situs tersayang ini. Namun bendera bertulisakan "Janji dan pengecut" pasti telah berkibar-kibar di kanan-kiri perjalananku.
Jadi kuputuskan untuk tetap eksis dengan hati yang sudah dilapisi satu ton asbes.
btw Saya sudah menjawab pertanyaanmu di lapakku. Ingat, saya tidak pernah lupa akan janjiku. Hanya waktu dan daya jua yang membatasi semuanya.

*Tegar sebagai laki-laki sejati*

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

saya tidak menampar ee ..*angkat tangan ...kebingungan.

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

kamu memakai nama tokoh penulis di kemudian.com.
Ini tentu mengingatkanku akan janji yang telah lama kepada Snowdrop, Lavender, dan Sun Flowers.

Pertanyaanmu di Lapakku, telah saya jawab (agar kamu lebih mengerti)

Writer suasti_was
suasti_was at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
100

pasti lucu dnger kenz nyanyi...

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)
90

Ah kak catttttttttttttttttttttttt...
kenapa nama saia dipake jadi kisah yg tragis beginiiiii?
wkwkwkkww..sy engga mau jadi hantuuuuu...
kyknya kak dadun bakal ngamuk kenapa dy dipasangkan ma saia..wkwkwkwkw
sy menodong cerita yg sndiri yah kak catttt..xixiixixi
mw sy bkinin cerita jg? mw cerita ttg apa kak?
.
eniwei, ada beberapa typo kak cat.. cb di cek lagih.. hehehe
.
sy agak dikit bingung.. jg mxsdnya, dadun itu sm dgn yusuf yak? *maapkan kelemotan sy*

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Sun, tidak boleh memakai kata "Kak". *sudah sadar..*

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

bukan masalah kata kak nya midori .. kalo tag kebih bagus pake cat aja.. karena saya tidak mungkin bikin tag dalam cerita kolabku nanti kak cat - jdnya aneh kan ..
kalo aku bikin tag dek sun flower nah tar cerita kami ndak ektmu di tag .. ini hanya soal sistem pencarian nantinya.

bukan pada masalah panggilan.

saya sih tidak masalh dengan kak, mbak, buk, mak, tante dsb .. he5 hanya saja tidak dengan kata bibik wkwkwk

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

He5. Sun : sun plant wkwk.
Minta cerita ttg bunga lily he5.
Itu dia sun,aku bingung kek nya ni cerita ngambang e. Wkwk.
Sun yg etenity keknya rumit e.

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

engga rumit kak cat.. wkwkwkw.. cm ak emank blm tw mw digimanain...bntar2 ak kirim di PM yah..
.
bunga lily yah?
hmmm.. oke2.. sy bertapa mencari ide dl yak..wkwkwkwkw

.
wkwkwkw.. kok ngambang sih? kalo gt sy mw dong yg gag ngambang .. xixixixi

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

kak caaaatttt
cara ngirim PM gimana? kok nda bisa?
*saya gaptek*
wkwkwkw

Writer cat
cat at Taman Bunga Jam Sembilan Pagi (3 years 26 weeks ago)

Kirim pm ke fb jg nda mslh kok he5.
Kalo kekom di pojok atas deretan post nama id dsb ada subsciber nah situ ada mesej kan. Kalo kgk slh. Aku pake hape sih.

Hem,aku bertapa dulu wkwk.
Menunggu cerpen ttg lily.
Sun plant : bunga jam 9 pagi.