Salahkah Bila Aku Berharap Bisa Menggapaimu? (14) - Kekeliruan

Devon Juliansyah

“Aku ingin kamu nikahin aku,” jawab Keira singkat, namun sangat mengejutkan untukku.

“Apa?” kataku tak percaya.

“Ya, kalo kamu pengin aku kasih nomor kak Kevin, kamu harus mau nikahin aku.” Terang aku terkejut, tak menyangka kata-kata itu meluncur mulus dari bibir merah mudanya. Aku terus menerus menatap bola matanya yang bening, masih dengan tatapan tak percaya. Tatapan itu penuh harap. Seolah memohon padaku untuk mengabulkannya. Haruskah?

Hhh… aku beringsut dari hadapannya, menuju ke teras belakang. Aku duduk di sana tak memandang apapun. Pandanganku kosong, karena aku tak tahu harus berbuat apa. Ah…bodoh! Aku benar-benar merasa menjadi seorang pria yang bodoh yang bisa saja dengan mudah dimanfaatkan seperti ini. Tapi bukankah semua kulakukan demi Valeria, agar dia bisa kembali pada mas Kevin… apalah artinya pengorbananku menikahi Keira bila dibandingkan kebahagiaan yang akan dia dapatkan kembali bersama Kevin?

Sekali lagi aku menghela napas dalam… terkenang kejadian kemarin ketika kami berdua berada di ruang tengah rumah Valeria sesaat setelah Valeria menerima surat cerai…

“Val, satu kata saja yang aku mau dari kamu… dan itu akan ngerubah semua keadaan yang ada saat ini,” kataku seraya menggenggam tangannya. Satu kata… yah hanya satu kata yang kuinginkan saat itu juga mengalir dari mulutnya…

Aku menggeser dudukku mendekatinya. Kini dia tepat berada di sampingku. Sementara tanganku yang masih menggenggam tangannya, kubawa menuju ke bibirku. Aku mengecupnya perlahan. Tak dapat lagi kubendung perasaan yang selama ini terus menerus kutekan. Terus terang akui ingin menciumnya… kembali menciumnya seperti yang saat itu pernah kulakukan. Sorot matanya yang sayu semakin membuatku tak mampu menahan diri. Ya Tuhan, perang batin kembali menyerangku. Antara ingin dan tak ingin, boleh dan tak boleh… Katakan apa yang harus aku lakukan, Tuhan?

Kulihat dada Valeria mulai naik turun menghembuskan napas yang tersengal. Sama seperti yang aku rasakan. Darahku mulai mengalir hangat dan cepat memenuhi seluruh pembuluh nadiku… semua itu karena jantungku kini memompanya dengan begitu cepat dan nyaris tak terkendali. Getaran ini begitu hebat kurasakan.
Tak bisa lagi menahan diri, akhirnya kuberanikan diri kembali mendekatkan wajahku pada wajah Valeria, bibirku pada bibirnya… hhh…

“Apa yang Abang lakukan?!?” tiba-tiba kudengar suara Davina berteriak dari jendela yang terbuka. Dia melihat semuanya? Benarkah? Davina bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam. Raut wajahnya terlihat sangat marah.

“Abang keterlaluan yah! Dia ini kan udah punya suami! Udah punya anak!” hardik Davina padaku. Segera kutarik tangan Davina keluar rumah sebelum mengacaukan semuanya, namun Davina menghempaskan tanganku.

“Kamu murahan banget sih! Udah tahu punya suami tapi…”

“Stop!” hardikku.

“Cukup! Ayo pulang!” kutarik tangan Davina menjauh. Namun Davina masih saja menghempaskannya. Matanya kini menatap tajam mataku. Berkilat dipenuhi rasa marah dan kecewa.

“Aku nggak nyangka kalo ternyata Abang dan bang David sama rusaknya! Klo udah gini apa bedanya Abang sama bang David, Bang?!?” Kubalas tatapan mata Davina.

“Mau tahu bedanya?! Aku melakukannya dengan cinta dan bang David nggak!” jawabku lantang. Davina menggeleng-gelengkan kepala.

“Abang nggak pantas bilang cinta ke istri orang! Masih mending sama pelacur daripada istri orang!!!” Spontan kulayangkan tanganku hendak menampar pipi Davina, namun…

“Sudah cukup!” tiba-tiba Valeria menengahi. “Iya, aku tahu aku salah… aku nggak seharusnya selingkuh sama abang kamu, aku minta maaf…, dan janji nggak akan ngulanginnya lagi,” katanya. Aku menatapnya tak percaya.

“Tapi ini jelas bukan salahmu, Val… aku yang cinta sama kamu! Aku yang menginginkan kamu!” ungkapku. Valeria tersenyum simpul sedikit dipaksakan.

“Besok aku akan pergi dari sini, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi,” katanya pada Davina tanpa mempedulikanku. Sementara Davina langsung menarik tanganku keluar dari rumah Valeria.

“Pikirkan papa, Bang… Apa Abang udah lupa apa yang terjadi sama papa waktu itu, waktu tahu bang David menghamili pelacur? Apa Abang tega papa jadi seperti itu lagi?” Aahh.. brengsek! Papa terserang STROKE! Dan aku... melupakannya...

Aku kembali menghela napas dan tersadar dari lamunan saat Keira kini berlutut di depanku. Dia menatapku sedalam-dalamnya, masih dengan tatapan yang penuh harapan. Yah, mungkin aku memang salah, pernah memberikan harapan untuknya. Andai saja aku tak pernah melakukannya.

Tiba-tiba Keira menyentuh kedua pipiku dan… ya Tuhan, dia nekad menciumku. Terus melumat bibirku. Jujur dan tak bisa kupungkiri, hasratku sebagai laki-laki normal pun bangkit. Aku ingin membalasnya… sangat ingin. Tapi tidak! Itu tidak akan aku lakukan kalau aku akan menambah kepedihan hatinya. Kutenangkan diri untuk tidak terlalu larut dalam kehangatan bibir merah mudanya. Sampai akhirnya dia berhenti dan menangis. Hhh…

“081123345..” akhirnya Keira memberiku nomor ponsel mas Kevin. Dan aku pun bergegas menekan tombol ponsel menghubunginya.
Nada tunggu ku dengar dan…

“Halo” bibirku tercekat saat mendengar suara dari seberang. Suara seorang wanita?!? Seorang wanita yang menerima panggilanku di ponsel pribadi mas Kevin?? Tercekat, aku pun hanya bisa menelan ludahku yang terasa getir. Entah kenapa kini dadaku terasa perih, seakan bisa merasakan kepedihan yang akan Valeria rasakan bila dia tahu kalau…

“Kamu kenapa, Von?” tanya Keira mendekat. Alisnya berkerut menunggu jawabku. Tak bisa menahan emosi membuat rahangku bergemeretak, sementara mataku menatap Keira nanar. Rasa marahku pada kakaknya membuatku melakukannya. Keira merebut ponsel yang ada di genggamanku.

“Halo.. halo!” katanya. Namun sepertinya ponsel sudah tak terhubung lagi. Keira menatap mataku tajam. “Kamu kenapa sih, Von?!?” Aku membalas tatapannya.

“Maaf, Ra.. aku memutuskan untuk berjuang mendapatkan Valeria!” Keira terhenyak. Wajahnya yang cantik kini terlihat marah.

"Gila kamu!" ucapnya singkat.

"Apa menurutmu mas Kevin bisa dengan gampangnya mempercayakan ponselnya untuk diterima oleh orang lain?" selidikku. Keira kembali menatapku.

"Apa maksudmu?" tanyanya balik.

"Seorang wanita mengangkat ponsel pribadi mas Kevin. Apakah itu wajar?" Keira menggelengkan kepala berkali-kali. Dia terlihat tak percaya.

"Terserah kamu mau percaya atau nggak, aku nggak akan ngebiarin mas Kevin menyakiti Valeria," tegasku.

Saat itu juga ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku menatap nomor Kevin yang terpampang dengan sangat jelas di layarnya. Mendadak jantungku bergemuruh dan seakan ingin meledak! Benar-benar tak rela, Valeria dikhianati oleh seseorang yang merasa dikhianati olehnya! Seseorang yang munafik!

Tiba-tiba Keira kembali berusaha merebut ponsel dari tanganku, dia tahu itu panggilan dari kakaknya. Tapi aku menghindar. Keira terus berusaha sementara mulutnya tak berhenti berkata, “Jangan lakukan itu, Von! Jangan gegabah! Bisa aja itu sekretarisnya karena kak Kevin sedang ada rapat! Bisa aja itu... itu temen sekantornya, relasinya yang nggak sengaja nemuin ponsel kak Kevin yang ketinggalan.. atau apapun!” Aku tak peduli, aku terus berkelit dari tangan Keira yang terus menghalangiku menerima panggilan itu.

“Von! Jangan buat semuanya tambah runyam! Jangan buat aku nyesel udah kasih nomor kak Kevin ke kamu!” Keira histeris dan mulai kehilangan kendali. Tangannya terus menerus berusaha meraih ponsel yang kuangkat tinggi-tinggi.

“Keira, STOP!!” ucapku keras, spontan membuat gadis itu terdiam. Matanya masih menatapku tajam dan berkilat. Aku pun membalasnya.

“Kamu pikir aku akan ngelakuin apa?? Ok. Ok... Kamu benar, aku memang lagi marah dan bisa saja aku bersikap gegabah… tapi please.. tolong kamu percaya sama aku, aku cuma ingin supaya Valeria mendapatkan yang terbaik… itu aja!” Keira menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Nggak itu nggak mungkin!!!" ucapnya dan kembali berusaha. "Aku tahu kamu sangat menginginkan Valeria, karena itu aku yakin kamu bakalan manfaatin situasi ini! Iya kan?!?" Keira menatapku penuh kebencian, tatapan benci yang pertama kali aku rasakan.

"Asal kamu tahu ya, Von! Kalo menurutmu, kamu tahu apa yang terbaik buat Valeria lebih dari kak Kevin yang selama ini menjadi suaminya? Kamu salah besar! Bullshit tahu! Karena kalo dibandingin kak Kevin, kamu itu nggak tau apa-apa! Bahkan mungkin makanan kesukaannya aja kamu nggak tahu, gimana mungkin kamu bisa mengklaim diri kamu bisa kasih yang terbaik buat dia??"

Spontan aku terhenyak. Lalu kubungkam mulut Keira dengan telapak tangan kiriku. Keira menatapku tak percaya. “Ra, ponsel ini… “ Keira terbeliak, saat menyadari sedari tadi ponsel tersambung… tak sengaja tertekan jemariku ketika berebut dengannya.

------------------
bersambung lagi... (maaf klo mungkin kurang asik dalam bercerita... udah hampir setaon absen nulis.. jd musti back to the beginning lagi^^) thx sampai sekarang masih baca cerita ini...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

wahhh setelah sekian lama menunggu dan melupakan tulisan ini.. sampai terbawa alurnya..keren

Скачать темы для смартфона nokia. Обзор смартфона acer iconia smart. Книги для смартфона скачать.

60

terus lanjutkan :)

90

weew.. mbak onik masih keren gaya penulisannya. lanjutkan mbak. kangen daku baca2 tulisanmu :)

90

ckckck..
lanjutkan :)

100

lanjuttttttt kak :)

msh seru tu d ikuti...heeeehhehehe