Salahkah Bila Aku Berharap Bisa Menggapaimu? (15) - Ternyata Dia?

Kevin Armando

“Nggak itu nggak mungkin!!!" ucap sebuah suara mirip Keira dari seberang. "Aku tahu kamu sangat menginginkan Valeria, karena itu aku yakin kamu bakalan manfaatin situasi ini! Iya kan?!?" Deg! Itu benar suara Keira. Terdengar keras dan jelas. Sangat jelas hingga tak ada satu katapun yang terlewatkan oleh telingaku. Kata-kata yang terlalu sangat menyakitkan dan mengundang emosiku. Geram membuatku susah bernapas. Tak pernah kuduga kecurigaanku terhadap kebohongan Valeria selama ini terbukti. Dia berselingkuh!

"Asal kamu tahu ya, Von! Kalo menurutmu, kamu tahu apa yang terbaik buat Valeria lebih dari kak Kevin yang selama ini menjadi suaminya? Kamu salah besar! Bullshit! Dibandingin kak Kevin, kamu itu nggak tau apa-apa! Bahkan mungkin makanan kesukaannya aja kamu nggak tahu, bagaimana mungkin kamu bisa mengklaim diri kamu bisa kasih yang terbaik buat Valeria??" Apa? Siapa? Devon? Devon yang selama ini kupikir dekat dengan Keira? Apa-apaan ini!! Dua kali kecurigaanku terbukti?? Tubuhku pun lunglai karena kenyataan ini. Bahwa benar di luar sana ada seseorang yang merasa lebih bisa membahagiakan Valeria daripadaku yang telah menjadi suaminya selama tiga tahun.

Ah Keira… kamu salah sudah belain aku dengan mengatakan semua itu! Aku bahkan TIDAK PERNAH TAHU bagaimana cara membahagiakannya.

Hhh.. brek! Kuletakkan ponsel di atas meja lalu kusandarkan kepala di sandaran tempat tidur. Sementara isi kepalaku terus berputar, mencoba menerjemahkan perasaan yang sedang berkecamuk di hatiku. Aku terjebak diantara ego yang berperang melawan perasaan bersalah, dan diantara harga diri yang bergulat melawan perasaan cinta.

Cinta… hh.. benarkah aku masih memilikinya? Kalau tidak, kenapa aku masih seperti ini? Aku cemburu. Cemburu yang sangat parah, hingga membuatku ingin membunuh Devon. Harga diriku sebagai seorang laki-laki dan suami sudah terinjak-injak oleh kelakuannya pada istriku, telah hancur karena kebohongan mereka! Tapi.. bagaimana bila memang dia sanggup membahagiakan Valeria? Bagaimana kalau dia bisa? Lalu bagaimana dengan Keira yang terlihat begitu memujanya?? Harus berapa kali lagi adikku harus dikecewakan oleh cinta? Kuhembuskan napasku kuat. Mencoba melegakan dadaku yang terasa sesak.

“….aku cuma ingin supaya Valeria mendapatkan yang terbaik… itu aja!” terngiang kembali ucapan Devon yang tadi sempat aku dengar, yang tak pernah kusangka itu adalah suara Devon. Begitu terdengar tulus dan serius. Ya Tuhan, tolong bantu aku… beritahu aku, apa yang harus aku lakukan? Beberapa saat lalu aku masih sempat berpikir bisakah aku kembali padanya, namun sesaat kemudian pikiran itu harus kumusnahkan…

Vale, kini aku tak kan bisa lagi kembali padamu, kejadian ini kembali menyadarkanku. Kalau aku tak pernah bisa menjadi yang terbaik untukmu, tak pernah bisa membahagiakanmu.

Tiba-tiba ponselku berdering. Aku menatapnya sesaat. “Keira…” alisku berkerut seraya memungutnya.

“Siapa dia, Kak?” tanyanya sebelum sempat kuucapkan halo. Aku berpikir sesaat, mencoba menyelami pertanyaannya yang tak kumengerti. Mungkinkah karena dia saat ini sedang shock, hingga tanpa sadar terlontar pertanyaan aneh dari mulutnya?

“Iya, Ra.. aku udah dengar semuanya. Dan aku tahu ini berat buat kamu, tapi sudahlah… buat apa kamu mempertahankan seseorang yang jelas-jelas nggak menginginkan kamu?” ucapku. Aku berusaha menenangkan adik semata wayangku semampuku. Tak peduli keadaan hatiku sendiri, yang saat ini kuyakini lebih kacau darinya.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Kak!” bentak Keira dari seberang, mengejutkanku. “Jujur aja Kak, katakan siapa dia? Siapa wanita itu?” Ya, Tuhan aku semakin tak mengerti apa yang Keira bicarakan?

“Apa maksud kamu, Ra? Wanita apa? Aku nggak ngerti!” jawabku.
“Aku mohon jujur aja sama aku, Kak!” Ini udah tidak bisa dibiarkan lagi. Keira semakin lama semakin kacau!

“Ra, jangan kamu pikir cuma kamu aja yang menderita sampai kamu bicara ngaco seperti ini! Aku juga sama, Ra.. aku hancur! Selama ini aku hidup dalam kebohongan! Dan tragisnya yang ngelakuin itu adalah Valeria, istriku sendiri!” sambungku. “Saat aku tadi mendengar pengakuan Devon.. maksudku tak sengaja mendengar, aku cemburu, Ra.. aku marah! Tapi untuk apa? Yang ada malah semakin membuatku mengerti dan semakin menguatkan keyakinanku, kalo aku bukan laki-laki yang bisa membuat dia bahagia!”

“Jadi itukah sebabnya kenapa kak Kevin berselingkuh?” tanya Keira mengejutkanku. Entah bagaimana adikku bisa berpikir seperti itu! Aku tak percaya dia ikut meremehkan aku… tidak menghargai aku sebagai kakaknya dengan menuduhku serendah itu!

“Denger ya Ra, aku berselingkuh atau nggak! Itu sama sekali bukan urusanmu atau Valeria! Karena antara aku dan Valeria sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Semuanya sudah selesai!”

“Mas, aku mau bicara,” aku dikejutkan sebuah suara wanita dari pintu kamarku yang terbuka. Ku palingkan menatapnya “Nanti aku telpon kamu lagi, Ra.” Klik!

Keira Amanda

Ya Tuhan! Aku mendengar suara wanita itu! Tak begitu jelas, tapi aku tahu pasti itu suara wanita! Aku menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, kak Kevin selama ini sudah berselingkuh… Tak pernah kusangka kak Kevin bisa berbuat seperti ini? Mungkin itulah sebabnya kenapa selama ini kak Kevin kurang memperhatikannya? Pantas saja selama ini kak Kevin begitu betah dan jarang pulang ke Yogya? Bahkan di saat Valeria dan anak-anaknya rindu! Rasa marahku pada Valeria kini berubah menjadi rasa kasihan dan rasa bersalah. Andai saja dulu aku tidak mempertemukan dan menyatukan mereka.

“Siapa wanita itu, Ra? Mas Kevin bilang apa?” Devon menyentuh bahuku lembut saat menyadari diamku. Kubalikkan badan menghadap Devon. Kupandangi wajahnya yang tak pernah pupus kukagumi seraya kusiapkan hati untuk melepasnya.

Lalu kusentuh pipinya lembut, mencoba merasakan getaran yang mungkin untuk yang terakhir kali. “Bahagiakan dia, Von. Aku nggak akan menghalangi kamu lagi.” Devon memegang tanganku yang masih menempel di pipinya.

“Thanks, Ra,” jawabnya.

“Besok aku antar kamu ke Semarang, kita susul Valeria di sana,” kataku. Yah, aku yakin sekali saat ini Valeria ada di rumah orangtuanya. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang Valeria punya selain kak Kevin, Kinara, dan Keenan.

Siang ini matahari sungguh terik di kota Semarang. Aku dan Devon melangkahkan kaki menuju ke sebuah gang setelah turun dari bis kota jurusan Demak. Gang itu tidak sepi, di kanan kiri terdapat penduduk lokal yang berjualan sayuran. Semacam pasar yang tidak resmi. Beberapa pasang mata menatap kami heran. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Bahkan sejumlah orang nampak tersenyum setelah menatapku dan Devon bergantian.

Sebenarnya aku sudah agak lupa jalan menuju ke rumah sederhana milik keluarga Valeria. Terakhir aku kesana sekitar tiga tahun lalu saat kak Kevin melamar Valeria. Tapi untunglah suasana kampung itu tak banyak berubah. Jadi aku bisa dengan mudah menemukan rumah mereka. Apalagi kulihat Kinara dan Keenan tengah bermain di halamannya yang luas.

“Tante!!!” teriak Kinara saat melihatku. Lalu mereka berdua berhambur memelukku. Sementara Devon menyunggingkan senyumnya.

“Tante, nginep sini kan?” tanya Keenan seraya mengajakku masuk ke dalam rumah neneknya. “Nggak, Keen… tante cuma mau ketemu sama mama,” ucapku. Lalu seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik dibalik kesederhanaannya, muncul dari balik pintu kamar.

“Rara kok nggak kasih kabar dulu kalau mau datang…,” aku tersenyum lalu mencium punggung jemari wanita itu. “Iya, Tan… ini mendadak, oh ya kenalin ini Devon,” Mama Valeria tampak tersenyum menatap Devon. “Wis cocok, sing siji ayu, sing siji ganteng…” ucapnya dengan bahasa jawa yang artinya “sudah cocok, yang satu cantik dan yang satu tampan”. Aku hanya bisa tersenyum lirih. Mama Valeria tidak menyadari kalau pemuda ganteng yang ada bersamaku ini adalah calon menantunya bukan kekasihku.

“Ada apa ini? Kok tiba-tiba datang?” tanyanya seraya mempersilakan kami duduk di sofanya yang tidak begitu besar dan berwarna pudar. “Aku mau ketemu sama Valeria, Tan, dia ada?”

“Tante Keira, mama kan pergi nyusul papa…” kata Kinara. Aku mengernyitkan alis. “Apa?” “Iya, Valeria menyusul ke Batam kemarin, karena itu dia menitipkan anak-anak di sini.” Deg! Jantungku tiba-tiba berdegub keras tak terkendali. Aku menatap Devon yang ternyata juga terhenyak.

Ya Tuhan! Bagaimana kalau Valeria memergoki kak Kevin sedang dengan perempuan lain?!? Aku resah, begitu juga dengan Devon.. terlihat sekali dari tatapan matanya yang cemas.

“Ra, tolong kasih aku alamat mas Kevin sekarang, aku akan menyusul ke sana!” kata Devon seraya beranjak dari tempat duduknya. Mengejutkan tante Reva, mama Valeria. “Lho lho.. ada apa ini?” tanyanya. Aku mencoba untuk tersenyum agar tante Reva tidak berprasangka buruk.

“Nggak ada apa-apa, Tan… Cuma Devon ini temen lamanya Valeria yang udah lama nggak ketemu, katanya ada yang mau dia sampaikan, tapi ponsel Valeria sepertinya dimatikan, karena itu dia harus menemui Valeria,” aku terpaksa bohong. Tante Reva manggut-manggut. Lalu berkata, “Tunggulah jangan ganggu mereka dulu, kasih mereka waktu buat bersama…”

“Nggak apa-apa, Oma… biar om Devon sekalian bawa mama pulang, Keen dan Kina kan udah kangen!” celetuk Keenan. “Iya, Oma…” Kinara menyetujuinya. Tante Reva tersenyum, “Hei, mama kalian kan baru pergi kemarin pagi, masa sekarang udah kangen?” Tunggu dulu? Pagi? Aku dan Devon saling berpandangan. Jadi???

Valeria Kevin

Meninggalkan anak-anak sementara dengan mama adalah jalan yang terbaik. Demi mereka, aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Ah.. mereka memang bukanlah anak yang lahir dari perutku, tapi ikatan batin diantara kami tak dapat lagi diungkapkan dengan kata-kata. Aku begitu mencintai mereka, seperti mereka mencintai aku. Dan aku tak peduli apapun kana aku lakukan untuk mempertahankan mereka.

Siang ini langit mendung saat aku menginjakkan kaki di Bandara Hang Danim Batam. Untuk ketiga kalinya aku menekan nomor ponsel mas Kevin. Namun tak ada jawaban. Aku pun menghentikan taxi, dan segera bergegas menuju alamat mas Kevin.

Di sepanjang jalan aku terus menerus memohon pada Tuhan, agar memberiku jalan yang terbaik dan memberiku kekuatan bila jalan yang terbaik itu tak sesuai dengan keinginan.

Satu jam perjalanan ku tempuh, akhirnya sampai juga aku di depan rumah minimalis yang mungil dan simpel. Sesekali kulihat nomor rumah itu. Takut salah. Yah, ini kali pertama aku datang, padahal sudah dua tahun mas Kevin tinggal di sini. Aku menggelengkan kepala menyadari keanehan hubungan kami.

Aku berdiri di depan pintu pagar besi yang dicat coklat tua dengan jeruji kecil-kecil yang lurus vertikal. Kutekan bel rumah yang terdapat di samping pintu itu. Berkali-kali namun tak ada yang keluar rumah untuk membukakan aku pintu.

“Ibu cari siapa?” tegur tetangga sebelah rumah. Aku tersenyum ke arah pria berkumis itu.

“Pak Kevin, hm.. apa ini benar rumah pak Kevin Armando?” Pria itu mengerutkan alisnya saat menatapku.

“Oh ya ya ya saya tahu, ibu ini istrinya yang di Yogya ya? Masuk aja, Bu… kebetulan pak Kevin lagi dinas ke luar kota, mungkin agak siangan nanti udah pulang. Sebentar ya Bu, saya ambilkan kuncinya dulu…” kata pria itu lalu masuk ke dalam rumahnya. Sementara aku terheran-heran, bagaimana mungkin mas Kevin memberikan kunci rumahnya pada orang lain?

Pria itu dengan lancar membuka semua pintu rumah mas Kevin, seolah sudah terbiasa. “Kalo boleh tahu, Bapak ini siapa yah?” tanyaku.

“Saya Karyo, Bu… tukang bersih-bersih rumah di blok ini. Silakan masuk, Bu.. saya tinggal ke sebelah dulu ya, mari permisi… “ ujarnya seraya meninggalkanku sendiri.

Aku menarik napas panjang, sementara mataku berkeliling menatap setiap sudut rumah yang selama ini didiami oleh suamiku tercinta. Ah.. tercinta, kenapa hatiku perih saat memikirkan kata itu. Lalu aku melangkah masuk menelusuri setiap ruang. Semua bersih dan rapi. Tak ada satupun benda yang tergeletak tidak pada tempatnya. Kecuali… mataku tertuju pada meja di samping televisi di dalam kamar hm.. mungkin kamar mas Kevin. Aku menggelengkan kepala, pantas saja mas Kevin tidak menjawab semua panggilan ponselku. Ternyata tertinggal di sini.

Lalu kuletakkan koper yang kubawa tepat di depan meja itu. Kurebahkan tubuhku yang lelah di atas kasur. Dan tersenyum melihat lukisan besar yang terpampang tepat di dinding depan tempat tidur. Di sana terlukis wajah ku, mas Kevin, Keenan dan Kinara… Namun tak lama kemudian, senyumku berubah menjadi nestapa, ketika teringat sesaat lagi semuanya akan berakhir…
Driiing.. driiing… aku terhenyak. Ponsel mas Kevin berdering begitu keras. Lalu aku mengambilnya… “Halo..” ucapku. Namun tak ada jawaban…

Kuletakkan kembali ponsel itu di tempatnya. Mungkin sebaiknya aku tak ada di kamar ini. Entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa tidak berhak berada di sini. Lalu aku memungut kembali koperku dan kubawa ke halaman belakang. Aku memutuskan untuk menunggu mas Kevin di sana. Di depan sebuah hamparan taman mungil berairmancur yang memperdengarkan suara gemericik menenangkan.

Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berderu di depan rumah disertai decitan pintu pagar yang terbuka lebar. Sepertinya mas Kevin datang. Entah kenapa aku berubah menjadi gugup begini. Jantungku berdetak sangat cepat. Satu rasa yang sama seperti saat aku jatuh cinta padanya dulu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?!? Bukankah dari rumah aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya? Bukankah aku sudah menyiapkan diriku dengan jutaan kata yang harus kusampaikan? Kemana semua kata-kata itu? Bahkan nyali untuk menemuinya saja… tidak ada!

Tenang, Vale… tenang, tarik napasmu dulu perlahan… hhh.. aku mencoba menenangkan diri.
Kudengar mas Kevin membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya. Rupanya dia tak menyadari kehadiranku di sini… hh.. ini adalah kesempatanku kembali mempersiapkan diri. Aku tak mau semua berubah kacau karena kegugupanku.

Kevin Armando

Cukup lelah rasanya berada di dalam mobil selama delapan jam. Akhirnya sampai di rumah juga. Lalu aku melirik ke jam mobil. Pukul 2 siang. Artinya pak Karyo sudah pulang. Aku bergegas keluar dari mobil dan membuka pintu pagar.

Setelah memasukkan mobil di carport, aku merogoh kunci rumah di saku jas. Namun ternyata rumah tidak dalam keadaan terkunci. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala karena kecerobohan pak Karyo kali ini.

Lelah membuatku langsung masuk ke dalam kamar, mengganti pakaian resmiku dengan kaos oblong dan celana pendek. Dan mataku tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas meja.
“Untung saja masih ada di tempatnya,” pikirku. Lalu aku mengambilnya. Tertulis di layarnya dua puluh lima miskol?!?

Satu per satu aku membukanya. Sebagian panggilan dari kantor yang akhirnya menelepon di ponsel Handoko. Sebagian… aku mengerutkan alis. Valeria? Ada apa dia meneleponku? Lalu nomor siapa ini? Aku mencoba mengingatnya. Klien barukah? Tidak ada salahnya aku mencoba menghubunginya kembali.

Valeria Kevin

Akhirnya aku berhasil mengumpulkan keberanian itu. Kutarik napas panjang lalu melangkah menuju ke kamar ma Kevin. Aku mematung sesaat ketika mendengar suara mas Kevin dari pintu kamarnya yang terbuka.

“Ra, jangan kamu pikir cuma kamu aja yang menderita sampai kamu bicara ngaco seperti ini! Aku juga sama, Ra.. aku hancur! Selama ini aku hidup dalam kebohongan! Dan tragisnya yang ngelakuin itu adalah Valeria, istriku sendiri!” ucapnya dengan nada tinggi.

“Saat aku tadi mendengar pengakuan Devon.. maksudku tak sengaja mendengar, aku cemburu, Ra.. aku marah! Tapi untuk apa? Yang ada malah semakin membuatku mengerti dan semakin menguatkan keyakinanku, kalo aku bukan laki-laki yang bisa membuat dia bahagia!” Deg! Tubuhku melemas mendengarnya. Hatiku bagai dihantam sebuah bogem besar penghancur gedung! Tak menyangka mas Kevin akan mengetahui semuanya bukan dari mulutku sendiri!

Tanpa sadar airmataku meleleh.. apa yang kupersiapkan solah menjadi sia-sia. Pengakuan yang sudah kurancang sedemikian rupa agar mas Kevin mau mengampuni aku… musnah sudah menjadi kata-kata yang tak berarti lagi.

“Denger ya Ra, aku berselingkuh atau nggak! Itu sama sekali bukan urusanmu atau Valeria! Karena antara aku dan Valeria sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Semuanya sudah selesai!” sambungnya semakin membuatku sakit dan terpukul. Tapi tidak! Aku tidak boleh tinggal diam, dan membiarkan semua yang ingin aku perjuangkan berakhir sia-sia! Lalu aku pun memberanikan diri masuk ke kamar itu.

“Mas, aku mau bicara,” ucapku sepertinya membuat mas Kevin terkejut.

------------------
bersambung lagi... :)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

menunggu lanjutannya... saya suka gaya menulisnya,,,ditunggu

80

mbak onik..
saiia tetap suka ceritanya^^
tapi ada kejanggalan..
waktu keira sama devon tengkar, itu kan singkat..
tapi waktu valeria ngangkat telpon sama jeda waktu kevin ngangkat itu kan jauh lebih lama..
gitu, rasanya kan aneh..

Onik, cara adalah menulis miring sebagai berikut. *bukan guru*
Silahkan ikuti contoh:
(em)kata yang akan dimiringkan(/em)

NB. tanda kurung ( diganti saja dengan tanda kurung siku < , >.

Semoga saya belum terlambat. Selamat mencoba :)

horeee.. berhasiiill... tengkiu banget yah buat bantuannya :) btw klo tebal pake apa? hehehe... >.<"

Untuk menulis huruf bold, Onik bisa mengikuti format di bawah:
(strong)kata(/strong)

NB (kembali): tanda ),( diganti dengan kurung siku <,>

selamat mencoba (saya juga baru tahu beberapa bulan lalu ^_^)

okey.. tengkiu banget yaaah ^^

sama-sama.
btw, Onik. http://angelpujangga.kemudian.com/ tidak bisa dibuka.

hix hix... iya.. kok ga bs dibuka yah? udah lama ga nulis jadi lupa juga alamat blog-ku nih.. gawat! T_T

hahhahah di bantu sama om midori,, iya itu dia, harusnya gtu, dan salahnya aku malah pake spasi, jadi aja miring di komennya ,, ( perlu yah di jelasin segala??) ahhahah ^^

gpp say.. tengkiu juga udah berniat ngajarin walopun salah dikit... xixixi ^^

100

weleh...LANJUUUUUUUUUUUUUUT

tengkiuuu.... :)
btw mau nanya nih, klo bikin tulisan miring caranya gimana yah? hehehe...

hihihihihih..... lho? begini kak tulisan yang pengen di bikin miring

aku cuma tau miring ma tebel aja. Selebihnya masih tanya2 sama yang berwajib, hehehheh

100

jadi teraduk-aduk...

bagus sekali

tengku yah.. :) semoga ga bosen bacanya hehehe...