Quête Pour Le Château de Phantasm - Episode 7 (Perbaikan/versi Anggra)

“HATCHIM!”

Eik mengusap hidungnya yang beringus dengan jubah coklat lusuhnya. Semakin mereka mendekati Pegunungan Saxea, semakin sering ia bersin. Kalau saja bukan demi menemukan Le Château de Phantasm, ia pasti tidak akan mau menuruti saran kakek tua penjaga perpustakaan itu.

“Ke Hutan Seribu Pinus?”

Eik teringat kakek itu menyebutnya. Ia tidak pernah mendengar tempat itu. Maklum, karena asalnya dari Atalia, sebuah desa dalam wilayah Kazandria, daerah padang pasir di sebelah barat Hyrapter dan tidak pernah berpergian sampai sejauh sekarang.

“Ya,” jawab si kakek mantap saat itu. “Carilah roh bijaksana penunggu di sana. Ia dapat memberitahu apapun yang kau tanyakan.”

“Dia tahu letak Le Château de Phantasm?”

“Yup.”

“Letak Wendy dan Sion?”

Baru diingat Eik sekarang. Si kakek memang sempat terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada yang tak seyakin sebelumnya. “Letak Wendy dan Sion juga.”

Rasa gatal kembali menyerang Eik. “HATCHIM!” Ia hendak menyekanya dengan jubah lusuhnya, tetapi karena jubah itu sudah penuh dengan lendirnya, sebuah pohon terdekat menjadi korban Eik selanjutnya.

“Bagaimana mungkin manusia sejorok kau bisa hidup,” gerutu Edgar yang sengaja berjalan agak jauh darinya. Kata-kata itu sebenarnya hanya berupa gumaman, tetapi cukup keras untuk ditangkap telinga Eik.

“Ini kan gara-gara kau.” Eik bersin lagi. “Sudah tahu pengendali api tidak tahan dingin, kau malah bersikeras melewati gunung jelek ini.”

“Ini satu-satunya jalan yang masuk akal untuk mencapai Hutan Seribu Pinus.”

“Justru ini jalan yang tidak masuk akal!” sanggah Eik (bersin lagi). “Kita bisa ke selatan, numpang lewat Set, lalu memasuki Hutan Seribu Pinus dari sisi timurnya. Selesai…HATCHIM!… semua senang.”

“Aku tidak berniat menghadapi tentara-tentara rendahan penjaga Set yang sudah pasti akan keberatan kita numpang lewat teritori mereka.” Edgar membelai rambut hitamnya dengan gaya angkuh. “Pertarungan membuatku tidak cantik.”

“Aku bisa menghadapi mereka semua dengan apiku!” seru Eik memamerkan kekuatan apinya ke udara, tetapi desiran angin gunung yang agak kencang membelokkan arah api itu ke belakangnya. Menuju Edgar dan…

“Ups. Maaf.” Eik menyengir geli melihat ada bagian kecil rambut Edgar yang hangus.

Butuh beberapa saat untuk Edgar menyadari apa yang terjadi. Saat kesadaran itu menghampirinya. Aura kegelapan berpendar di sekeliling pemuda cantik itu, membuat Eik mendadak ngeri.

Terdengar suara benda keras menghantam sesuatu dan sinar dari kejauhan, disusul teriakan menyakitkan yang membahana.
***

Pilek Eik semakin parah. Udara pegunungan yang jelas semakin tinggi semakin dingin, menyiksanya habis-habisan. Ia sudah mencoba membuat dirinya hangat dengan selubung api di sekelilingnya tetapi sihir itu tidak bertahan lama, karena suasana dingin membuatnya cepat kehabisan tenaga.

“Sebelum bertemu dengan hantu itu, bisa-bisa aku sudah jadi hantu duluan.” Gumamannya diakhiri dengan bersin. Wajah Eik sudah merah karena keseringan bersin. Tubuhnya diselubungi dengan mantel bulu Edgar, yang kasihan pada penderitaan Eik dan akhirnya merelakan salah satu mantel bulunya dikenakan pemuda jorok itu. Tentu saja, tanpa sepengetahuan Eik, diam-diam Edgar bertekad akan mencuci mantel itu ke laundry terbaik dan termahal bila mereka singgah di kota.

“Kau sudah seperti hantu,” sahut Edgar sambil melempar sebuah ranting kayu lagi di api unggun. Saat ia hendak mengambil ranting kayu lagi, ia hanya menyentuh tanah kosong. Edgar pun menoleh bingung. Sepengetahuannya, masih ada setumpuk ranting kayu di sebelahnya.

“Ada apa?” Tanya Eik, nampaknya menyadari kebingungan Edgar.

“Ranting-ranting yang kukumpulkan dengan mempertaruhkan keanggunanku mana?!”
Eik berusaha menahan diri untuk tidak menanggapi kata-kata narsis Edgar. Malas berdebat dengan hidung mampat begini. “Mana kutahu?”

Edgar tidak menyahut. Ia menyadari ada sesuatu yang melingkar-lingkar kecil berwarna cokelat muda di tanah bebatuan pegunungan tempat mereka berpijak. Begitu ia menyipitkan matanya untuk memperjelas dan mengulurkan tangannya menyentuh sesuatu itu, ia berujar heran. “Pasir hisap?”

“Hmm?”

“Ada pasir hisap! Tapi kok…” Edgar membelalak. Tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah dibacanya di buku. Ia menoleh pada Eik. “Sanduk!”

“Hah?”

“Sanduk!” ulang Edgar kesal. “Kau dari Kazandria kan? Masa tidak tahu sanduk!”

“Iya, aku tahu sanduk. Monster berupa pasir hisap. Kenapa? Tak mungkin kau menemukan sanduk di sini kan…” Eik langsung diam melihat apa yang ditunjuk oleh telunjuk Edgar. Ia berdiri dan mendekat untuk melihat lebih jelas. Tak lama matanya pun ikut membesar. “Itu sanduk!! Bagaimana bisa dia sampai kemari? “

“Sudah kubilang dari tadi!” geram Edgar.

Habitat sanduk yang sebenarnya adalah pasir, tempat ia menyembunyikan dirinya dari ancaman dan mencari makan, karena wujudnya yang berbentuk pasir hidup. Seperti halnya pasir hisap, menghisap segala yang ada di sekitarnya, sehingga sangat sulit membedakan yang mana sanduk dan pasir hisap sungguhan. Keduanya sama-sama mengancam nyawa siapapun yang berada di dekat mereka.

Tapi itu bila kita bicara mengenai sanduk dewasa yang ukurannya lima kali lipat orang dewasa. Yang ada di hadapan Eik dan Edgar adalah sanduk yang masih kecil. Ukurannya hanya sebesar kepalan tangan mereka dan tidak mungkin dapat menelan apapun yang lebih besar darinya. Alih-alih takut, yang dirasakan Eik malah kasihan melihat seekor sanduk kecil malang yang tersesat jauh dari rumahnya.

Tiba-tiba Eik mendapat ide. Saat ia menoleh pada Edgar untuk memberitahu idenya, ia terkejut melihat summoning scholar itu sedang merapal mantra. “Hei! Hei! Mau apa kau?!”

“Memusnahkannya dengan bantuan Posseidon tentu saja,” sahut Edgar dengan nada merendahkan seakan-akan Eik manusia idiot. “Sanduk tidak tahan sihir air.”

“Jangan! Dia hanya sanduk kecil yang malang yang tersesat ” Eik bersin lagi. “Ini bisa jadi pemecahan masalahku.”

“Hah?”
***

Edgar mengerang merana memikirkan berapa ongkos yang harus dihabiskannya untuk mencuci mantel bulunya yang dipinjamkannya pada Eik. Seharusnya ia membiarkan pemuda jorok itu mati kedinginan sekalian! Benar-benar tidak tahu terima kasih! Pemuda itu menggunakan sanduk sialan itu untuk menyelubungi tubuhnya yang dingin dengan kehangatan.

“Sanduk kan memiliki panas tubuh yang hampir setara dengan elemen api dan kemampuan menghisapnya, bisa menghisap seluruh lendir dalam hidungku,” ujar Eik riang. Sementara sanduk itu melingkar-lingkarkan pasirnya gembira di sekeliling Eik. Nampaknya makhluk itu menyukainya.

Edgar mengernyit mendengar kalimat terakhir Eik. Ingin muntah rasanya.

Yah, sebenarnya ia tidak keberatan makhluk itu menghangatkan Eik, tetapi yang menjadi masalahnya adalah mantel bulunya dipakai sebagai perisai Eik. Mencegah makhluk itu bersentuhan langsung dengan tubuh Eik. Untuk jaga-jaga jangan sampai si sanduk menghisap tubuhnya, katanya. Seharusnya sekalian saja sanduk itu menelannya hidup-hidup! Jangan jadikan mantel malangnya sebagai tumbal!!

Ia tak sanggup lagi melihat penderitaan mantel bulu malangnya. Dialihkannya pandangan ke pemandangan di hadapannya. Hutan Seribu Pinus sudah nampak dalam jarak pandangnya. Satu-satunya penghiburannya. Daerah hutan pasti tak sedingin gunung. Eik mungkin akan melepaskan mantel bulunya dari penderitaannya.
***

Hutan Seribu Pinus sama saja dengan hutan-hutan lainnya. Pohon-pohon pinus yang berbatang kurus tinggi memenuhi daerah itu. Jarak-jarak mereka yang tak terlalu jauh menyamarkan apa yang ada di penghujung hutan. Ditambah hari menjelang sore dan rimbunan dedaunan pinus bagaikan tudung penutup dari cahaya mentari membuat sekeliling mereka agak gelap.

Suasana yang cocok sebagai tempat tinggal roh yang telah hidup selama ratusan tahun, Eik setuju. Bersama Sandi –nama si sanduk yang baru saja diberinya- di pundaknya dan Edgar di belakangnya yang memanggul tas dan karung berisi mantel bulu yang dipinjam Eik selama di gunung, ia memberanikan diri melangkahkan kaki memasuki hutan itu. Walaupun penampilan hutan itu seperti hutan biasa, namun perasaan dingin yang dirasakan Eik membuatnya merasa hutan ini jelas berbeda dari hutan biasa.

Baru mereka melakukan beberapa langkah perlahan, terdengar suara yang entah dari mana asalnya, “Siapa kalian?”

Rombongan itu melonjak terkejut. Sementara Sandi bersembunyi di balik jubah Eik.

“Siapa kau?!” seru Eik. Tubuhnya bersiap dalam kuda-kuda. “Perlihatkan dirimu!”

“Hei! Aku yang bertanya duluan! Dasar manusia tidak sopan!” bentak suara itu.

Eik dan Edgar saling berpandangan sejenak. Edgar yang akhirnya membuka suara. “Maafkan ketidaksopanan manusia hina yang satu ini, Tuan,” ucap Edgar sopan, diselingi seruan protes dari Eik. “Namaku Edgar Maxwell dan ini Eik Moonfang. Kami pengembara yang sengaja datang ke tempat ini demi bertemu dengan roh bijaksana yang dapat memberi kami petunjuk akan perjalanan kami, sekaligus menemukan dua kawan kami yang hilang.”

Tiba-tiba semilir angin berputar di sekeliling mereka, lalu melayangkan dedaunan kering di bawah kaki mereka ke udara. Sosok tembus pandang seorang pria berkumis dan berjanggut tipis muncul di tempat dedaunan tadi berputar-putar.

“Hmm.. kalian ingin bertemu Roh Bijaksana?” Roh itu lalu menyadari kedua pengembara di hadapannya yang sedang menatapnya dengan tatapan takjub. “Baru pertama kali melihat roh ya?”

Eik mengangguk, sementara Edgar berkata bahwa dirinya biasa hanya melihat dewa-dewi yang biasa dapat dipanggilnya melalui summoning dan mereka jelas tidak tembus pandang.

Roh itu tertawa. “Kalian lucu. Baiklah. Panggil saja aku Lon. Aku adalah salah satu roh yang tinggal di sini.”

“Salah satu roh?” tanya Eik heran. “Jadi masih ada lagi?”

Lon mengangguk. “Begitulah. Selain aku, masih ada tiga lain. Tiga roh pelayan dan tentu saja ada Roh Bijaksana.”

“Apa kau akan mengantar kami pada Roh Bijaksana?” tanya Edgar.

“Tentu saja. Tapi ada syarat yang harus kalian penuhi.”

“Apa itu?”

Lon tidak menjawab. Sekeliling mereka tiba-tiba berubah. Mereka berada di tengah-tengah hutan dalam kegelapan. Di hadapan mereka nampak sebuah pondok kecil yang berdiri di tengah-tengah kolam kecil. Berkas-berkas cahaya dari jendelanya yang menerangi kegelapan itu.

Yang selanjutnya terjadi mengejutkan Eik setengah mati. Berkas-berkas cahaya dari jendela, tiba-tiba membentuk gumpalan bola-bola cahaya. Tiga bola tepatnya. Dan berkas cahaya itu berterbangan dan singgah di depan rumah itu. Perlahan-lahan mereka membesar membentuk sosok, lalu mengerjap hilang. Nampaklah tiga sosok tembus pandang baru di sana.

Eik berusaha menyipitkan mata, memperjelas penglihatannya. Kegelapan membuat mereka agak sulit dikenali. Sosok pemuda berwajah murung, seorang gadis kecil bermata tajam dan seekor anak serigala putih.

“Perkenalkan,” ujar Lon tersenyum simpul. Memperkenalkan mereka berurut dari si pemuda, gadis kecil dan anak serigala putih. “Ini Cyant, Nanami dan Felix. Mereka semua, termasuk juga aku, ada di tempat ini karena penyesalan yang kami rasakan semasa kami hidup. Karena itu lah kami semua terikat antara ruang dan waktu di tempat ini.”

“Ada empat roh,” ujar Edgar heran. “Bukankah tadi kau bilang hanya ada tiga roh pelayan dan satu roh bijaksana?”

“Kau jeli juga rupanya, Pengembara Edgar,” puji Lon. “Ini syarat yang harus kalian penuhi untuk mendapatkan pengetahuan yang kalian cari. Tebaklah, siapa di antara kami yang adalah Sang Roh Bijaksana!”

Eik melongo, sementara Edgar membelalakan matanya. “Apa yang akan terjadi bila kami gagal?”

Lon tersenyum misterius. “Kalian akan melupakan segalanya mengenai kami maupun hutan ini.”
***

“Apa yang harus kita lakukan, Edgar?” Eik menghela nafas, entah sudah keberapa kalinya. “Bagaimana kita bisa tahu, siapa di antara mereka si roh bijaksana itu?” Mereka sedang berdiskusi sementara diawasi keempat roh yang berbaris rapi di depan pondok itu.

Edgar tak menjawab. Ia sedang memutar otak. Berpikir keras. Membuka lembar-lembar kamus imajiner dalam kepalanya mencari pengetahuan dari buku-buku yang pernah dibacanya selama ini. Tetapi nihil. “Entahlah,” katanya putus asa. “Tak ada satu pun petunjuk mengenai roh ini pernah kutemukan dalam buku-buku yang kubaca.”

“Kalau kau tidak tahu, apalagi aku,” sahut Eik menghela nafas lagi. Beberapa saat mereka terdiam

“Apa mungkin ada hubungannya dengan penyesalan mereka?” cetus Eik tiba-tiba.

Edgar seperti mendapatkan titik terang. “Tumben kau pintar. Boleh kita coba tanyakan.”

“Pertanyaan bagus,” ujar Lon tiba-tiba. Sepertinya mendengar bisik-bisik mereka. Dengan gaya seperti memperkenalkan tadi, ia berkata, “Penyesalan Cyant, karena ia tidak bisa menyelamatkan seluruh desanya yang hancur.” Roh yang bernama Cyant itu tak bereaksi sedikit pun ketika Lon menyebutkan penyesalannya.

“Penyesalan Nanami, karena tidak bisa menyelamatkan jiwa majikannya.” Roh gadis kecil itu berlagak tegar, tetapi Eik dapat melihat air mata menitik di salah satu pipinya.

“Sementara Felix, kehilangan sahabatnya.” Roh anak serigala itu mengaum sedih.

“Lalu penyesalanmu?”

Lon mendesah sedih. “Aku tidak bisa menyelamatkan nyawa wanita yang kucintai.”

Kesedihan terasa kentara di penjuru hutan yang gelap itu. Baik Eik maupun Edgar merasa sedikit bersalah karena menanyakan hal sensitif itu.

“Jangan merasa bersalah, Pengembara,” Entah bagaimana, Lon dapat mengetahui apa yang dirasakan mereka. “Membuat kesalahan adalah bagian dari hidup. Sebuah perjalanan untuk mencapai kebijaksanaan sejati.”

Seketika Eik menyadari wajar Edgar menjadi cerah seperti biasanya bila ia mendapatkan suatu jawaban. Benar saja.

“Aku tahu siapa di antara kalian yang adalah Sang Roh Bijaksana,” ucap si pemuda cantik itu mantap. Gaya angkuhnya yang biasa mulai tampil.

Pasti Lon, pikir Eik yakin. Tak mungkin Cyant yang pemurung, atau Nanami dan Felix yang kelihatan lemah. Satu-satunya yang nampak tegar adalah Lon.

“Kalian semua adalah Sang Roh Bijaksana.”

APA! Eik membelalak terkejut.

“Seperti katamu, kesalahan adalah bagian dalam jalan menuju kebijaksanaan. Kalian semua telah melakukan kesalahan dan sudah hidup ratusan tahun mempelajari kesalahan itu. Walaupun mungkin reaksi kalian terhadap kesalahan kalian berbeda-beda, tetapi ada satu hal sama yang kalian dapatkan...”

“Kebijaksanaan,” serempak keempat roh itu menjawab. Tak seperti sebelumnya, seulas senyum menghiasi wajah mereka semua.

Wajah Edgar pun penuh dengan senyuman kemenangan. “Aku juga bisa menebak apakah tiga roh pelayan yang kau maksudkan, Lon.” Kedua tangannya melayang anggun ke bawah. “Tanah.” Lalu mengarah pada kolam kecil itu, “Air.” Terakhir ke atas, “Udara.”

“Tiga unsur penting penuntun kehidupan, menurut catatan Guru Besar Flik Morales,” lanjut Edgar lagi. “Apa aku benar?”

Tiba-tiba pintu pondok itu terbuka dan muncul sinar terang menyilaukan dari sana yang memaksa Edgar dan Eik menutup mata. Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka memberanikan diri membuka mata dan menemukan diri mereka di sebuah ruangan serba putih.

“Dimana kita?” tanya Eik melihat sekelilingnya. Tidak ada jalan keluar. Seakan mereka terperangkap dalam dunia lain. Namun Eik sama sekali tidak merasa takut. Sensasi dingin yang dirasakannya dalam hutan itu memang masih ada, tetapi kali ini ia merasakan adanya kelembutan yang terpancar. Tempat ini sama sekali tidak jahat.

“Dunia kekosongan,” sahut Edgar di sebelahnya. “Bisa dibilang, dunia antara dunia nyata dan roh.”

“Benar sekali, wahai Pengembara Yang Pandai.”

Sinar berbentuk bola cahaya muncul di hadapan mereka. Wujud asli Roh Bijaksana.

“Kami harus memanggilmu apa kali ini?” goda Eik. “Lon kah? Atau Cyant?”

Roh Bijaksana tertawa. “Kau boleh memanggil kami apa saja. Baiklah. Kami tidak akan membuang waktu lagi. Inilah jawaban dari pertanyaan yang ingin kalian tanyakan, wahai Pengembara.”

“Tapi kami belum mengajukan pertanyaan.”

“Tapi kami tahu.”

Baik Eik maupun Edgar segera terdiam. Menahan nafas siap mendengarkan jawabannya.

“Gadis yang kalian cari, berada di lawan aliran sungai Flumine. Seorang pria sedang bersamanya.”

“Wendy bersama Alcyon,” gumam Edgar. “Lawan aliran sungai Flumine, berarti sebelah barat dari hutan ini.”

“Lalu bagaimana dengan Sion?” tanya Eik.

“Temanmu yang lembut hati itu berada dalam batas hidup dan mati. Tetapi dia akan selamat dan kalian akan berjumpa kembali.”

Entah apa yang harus Eik rasakan. Sion selamat walaupun mungkin hampir mati, tetapi mereka akan bertemu kembali. Ada sedikit rasa lega dalam hatinya. Ya, itu yang terpenting.

Tiba-tiba Roh Bijaksana memecah keheningan dengan sajaknya, “Le Château de Phantasm, carilah gadis yang kalian cari. Dia adalah kuncinya. Carilah terang yang abadi, ia pun kuncinya. Hatimu adalah petamu. Nuranimu adalah kompasmu. Bersatulah, maka kalian akan menemukannya. Ujung barat timur utara dan selatan menjadi angkamu.”

“Apa itu maksudnya?” Eik bertanya lagi. Tetapi Bola cahaya itu sudah menghilang. Sekeliling mereka seakan berputar-putar, lalu kembali terang menyilaukan memaksa mata mereka menutup.

Ketika mata mereka membuka kembali, ternyata mereka sedang merebah di tengah-tengah dedaunan kering Hutan Seribu Pinus. Cahaya matahari sore menyusup di antara dahan dan dedaunan pohon menerpa wajah mereka, memaksa mereka bangun dari sana. Sekeliling mereka sunyi. Seakan tak pernah terjadi apapun.

Sandi melompat keluar dari balik jubah Eik. Pasir kecil itu mengeluarkan seruan-seruan kecil sambil menatap ke salah satu arah. Baik Eik maupun Edgar mau tak mau harus segera memulihkan kesadaran mereka dan menatap arah yang ditunjuk Sandi.

Sesuatu mendekat. Bulu kuduk Eik seketika merinding. Ia merasakan adanya energi mengerikan yang terpancar dari sesuatu itu. Alcyon. Seperti yang dikatakan Roh Bijaksana. Alcyon yang menyandera Wendy sedang mendekat ke arah mereka.

“Edgar, bisakah kau melakukan menggunakan kemampuan summoning-mu, mengirim Sandi kembali ke habitatnya?”

“Hah?”

“Kumohon,” pinta Eik memelas. “Ia bisa mati bila sampai terkena sihir es Alcyon.”

Edgar mengangguk. Disiapkan buku mantranya. “Phoenix,” panggilnya pelan. Sosok burung api keemasan muncul di hadapannya.

Perlahan Eik mengangkat monster pasir kecil itu. “Sampai bertemu kembali, Sandi. Terima kasih karena telah mengingatkanku pada kampung halamanku.”

Sandi meraung-raung tak rela, tetapi selubung api dari Phoenix telah membungkusnya dan meletakkannya di punggung si burung. Kepak sayap dengan pendaran api mengiringi kepergiannya lurus ke arah barat.

“Terima kasih,” ucap Eik tulus pada Edgar. “Aku berhutang padamu.”

Edgar memutar bola matanya dengan lagak angkuh. “Kau memang banyak berhutang padaku.”

Eik tertawa. “Akan kubayar semuanya setelah kita mendapatkan kembali Wendy dan Sion.” Ia memasang kuda-kuda bertarung.

Pemuda pesolek itu tersenyum tipis. “Setuju.”

Sementara itu, suara langkah kaki cepat semakin lama semakin jelas terdengar dan dari balik rimbunan pohon-pohon pinus, sosok yang sudah mereka kenali, muncul dari sana.
***

Read previous post:  
Read next post:  
80

this is just getting better and better..
Dan yah,memang ini yang sebenarnya kita tunggu,
good job! ;)

100

BRRRRRAAAAAVVVVOOOOOOOO! bung anggara membuat cerita yang chapter2 belakangan mulai boring kembali hidup, anda memang hebat bung!

buat pembaca lain, coba jangan baca Chapter ini pake gaspol (ngegas sampe pol/ngebut)RUGI!

Bung...........?? ="=
Pak tulang, saya cewek lho. T-T
.
Tapi thanks udah mampir ya :D

80

nice karena bcanya ngebut belum menemukan kesalahan berarti khi2 semoga pas bagian saya bagus hasilnya

100

Kebijaksanaan,” serempak keempat roh itu menjawab.
err.. Felixnya bisa ngomong juga ya? =_=
ah, tapi itu hal kecil, gomen ne >.<
.
pokoknya, chapter yang ini bener-bener AZTAZIM!! XDDD
percakapan dengan para roh itu keren >.<

Yoi. Ternyata ada yg notice jg. Felix emg bs ngomong. Kan udah jadi roh :D
Thanxx..

100

hmmm

kok lanjutannya belum ada?
mana nih kak priska??

80

ya ampun aku sempat ngira2 kalau roh bijaksananya itu tiga-tiga-nya. tapi ga nyangka ternyata benar..
kereeennnn

100

Hm, abis versi tante anggra ini, siapa berikutnya?

Priska, pak guru. Abis itu si gie.
Tapi si priska belum posting2 ni -_-

Oya adegan tiga roh itu keren.
Dan lebih hebat lagi bikinnya tanpa pake usulan plot.
Top markotop dah!

Thanx, om!

90

1. Bos, apinya si Eik itu bukan sihir, jadi salah kalau ditulis penyihir api.

2. Alcyonnya sebelum nyampe ke tempat mereka, kenapa nggak di sihir pake Phoenix, biar teleport ke tempat yang jauh gitu hahahahaha

1. hah? kalo gt sumber api nya darimana? ada di OC ya?
2. phoenix kan elemennya api dan punya kemampuan terbang kan? (bukan teleport!) pakai si phoenix buat antar sandi doang yang enteng (sandi tahan api tapi kelemahannya air). kalau si phoenix suruh angkut yg lain juga bisa kedodoran dia. wkwkwkaa XD
lagian kan perlu ambil balik wendy. masa peculiknya mendekat, mereka malah menjauh?

1. Sumber apinya dari dewa.
2. Oke :)

aku ubah jadi pengendali api. ok ga?

itu yang benar...

100

Sandi lucu (><)
Eik mulai kelihatan lebih 'dalem' di sini.

100

aku suka part ini.. Makasih, anggra.. :)

eh?? makasih??

70

sayang bgt sandi d kembalikin??
kn bs d smbunyi'n dmn gt..hhe"

bgs" karakter e lbh mnonjol,.ap lg d dialog ma roh,.
tekateki yg mana rohny it jg bkin pmbaca ikut mikir...
sering" d kasi it..
hehehe" sip",.ayo bruan lnjtan e,.,.whehehehe" ^^v

soalnya si sandi rawan jadi karakter yg dilupakan -__-
karena ini kolab, jadi takutnya bikin susah penulis kolab selanjutnya setelah aku. ^^
thx udah baca :)

100

baguch baguch, tapi iya, ga nyambung sebelonnya
Edgar jadi lebi pinter, Eik jadi lebi penyakitan XD

Bikin begitu krn menurut penciptanya edgar mmg pinter dan eik emg alergi dingin :D

100

masih gak sempet baca. Titip poin dulu ehehehe
ntar pasti dibaca

100

Edgar tampak jauuuuh lebih berguna di sini! Seneng dy ga cuma jadi fanservice az hahahahhaa...
Dan siapa yang dateng??? Beneran Alcyon? Siapa? Siapa? Siapa???
.
Setuju sama Ries! Sandi lucu~~ kenapa cepet" dipulangin...

saya kasihan sama edgar XD
sandi dipulangin supaya gak nyusahin penulis selanjutnya. nanti jadi kebanyakan karakter lagi.. -__-
kalo ga, nanti gie aja yg bangkitin si sandi. :D

Huhuhu... Saya bikin Sion Ka, susah masukin Sandi >.<
.
Err... Sy bebas ngayal yang dateng itu BUKAN Alcyon, kan?

ga tau deh. tanya sama yg buat plot :D
aku cm kira2 aja plot yang dibikin si ea, sambil nyocokin dg episode2 sebelumnya ;)

100

Edgar makin lama makin cemerlang...
SANDIIIII~~~ Adorable~~
O, ya, rambut Edgar hitam loh (ini bukan kritik, kan???)

edgar rambut hitam toh??? cek dulu deh. nanti kurevisi :D

100

Aaaa... Cliffhanger...
T_T

100

Kereeen... jadi lebih enak dibaca, kk
jubah bulu yang malang ^^
Gini dong, paling enggak Edgar bisa lebih pinter

dr yg aku baca di trit OC, karakter edgar emang pinter kan? ^^
kasihan juga dia kalau jadi bulan2an melulu :D

100

kika suka part ini...
kenapa gak ada fay-nya??? :(

ayo lanjuut ^^

fufufu~ biar ga bs nebak siapa yg aku ikut sertakan di sini.
kalau aku masukkin fay, para pembaca pasti bakal bilang, "hmm.. sudah kuduga, bagiannya anggra bakal ada fay." XD XD

100

AWESOME! ini keren! XD XD favoritku bagian Roh-Roh Kebijaksanaan itu. keren banget dialognya! ada sedikit kritik sih. percakapan di awal-awal itu ternyata kaku juga kalau dibaca (refering to fanservice rambut edgar hangus). lucunya kurang dapet. mungkin bakalan lebih bagus kalau setelah rambut terbakar dan eik menghiba-hiba minta maaf, berikutnya zoom wajah suram edgar lalu cutscene diakhiri dengan lolongan panjang eik. lol XD XD XD
.
.
sejauh ini menurutku karakterisasi tokoh utama paling menonjol di part yg ini. kalau kubilang sih, gud job. :p

WOW! Ratu memang jagonya adegan sadis. XD XD XD
kaku ya? hehe.. maklum, bikinnya sambil ngantuk2 nih. Dikau bilang, bikin punyamu 5 jam kan? Aku 8 jam >.< + ngantuk.. (hoaehm)
kalau sempat nanti direvisi :D
.
.
*masihmeraungsedihkarenagakbisangelanjutdaripostingansebelumnya*

90

mangstab...heuheuhue...hidup Eik..maksudnya hidup Eik tambah jorok kakakaka...

btw,,ko Edgar mau kasih mantelnya,,ga takut diingusin ma Eik...

akiiiiii, masih ga bisa nerusin dari punya chie nih. T_T