Loriké Mortés, the Fire Wanderer - 3rd Fragment

Pagi baru saja menyapa, bahkan hangatnya belum menyentuh desa Atalia sejengkalpun. Tidak ada alasan bagi seorang Iké untuk bangun sepagi ini kecuali seorang Irene yang biasa menyiramnya dengan air ada di rumah. Beruntung bagi dia dan anak-anak yang setipe dengan dia, hari ini Irene bersama Ibu Lynn sedang pergi ke kota Tamanor yang berjarak dua hari perjalanan dari desa Atalia. Namun, keberuntungannya tidak berlangsung lama saat Karin yang sudah siap dengan pakaian untuk berjalan membangunkannya.

"Iké, ayo bangun!" Karin menggoyang-goyangkan badan Iké.

Iké setengah terjaga, dia hanya menatap Karin dengan sebelah matanya saja. Dilihatnya Karin sudah berdandan rapi dengan pakaian biru putih kesukaan gadis kecil itu.

"Karin, kenapa kamu membangunkanku sepagi ini?!" tanya Iké yang kembali menutup matanya.

"Antarkan aku ke guild! Ini hari pertamaku belajar di sana. Ayo, aku tidak mau terlambat!" Karin memelas, gadis sepuluh tahun itu tahu kalau Iké paling lemah terhadap dirinya.

"Sama nenek muda saja!" elak Iké.

"Tapi Irene sedang ke kota Tamore dengan Ibu Lynn sejak kemarin." Karin mengeryitkan dahi, memulai strategi lain untuk membuat Iké bersedia.

"Oh iya juga." kata Iké masih dengan kedua mata tertutup. Ia melanjutkan, "Pergi dengan Xavi saja sana!"

Karin menggeleng kencang,

"Aku tidak mau pergi dengan Exavius!" tolak Karin.

"Heh?" Iké tidak percaya dengan pendengarannya. Dia membuka matanya, pikirannya sedikit kaget.

"Kenapa kamu tidak mau? Bukankah Xavi lebih bisa diandalkan dari pada aku?" giliran Iké yang mengernyitkan dahi.

Iké bangkit dari tidurnya dan duduk bersila menatap gadis kecil yang menatapnya binar.

Karin mendekatkan wajahnya ke kuping Iké,

"Aku lebih suka berjalan dengan kamu, Exavius orangnya terlalu serius. Dia juga kadang tidak peduli dengan teman seperjalanan. Seperti biasa dia hanya DIAM." bisik Karin sambil menekankan kata terakhir. "Aku lebih suka berjalan dengan kamu. Tidak seperti Exavius yang akan melotot jika kita mengajaknya berbicara." Karin melanjutkan.

Iké tersenyum senang, akhirnya dia merasa ada bagian dari dirinya yang lebih unggul dari Exavius, walaupun itu hanya sebagai teman seperjalanan yang asyik dan hanya seorang Karin yang mengakuinya.

"Baiklah, aku akan bersiap!" teriak Iké sambil melompat dan berdiri tegak di atas kasur, lupa dengan kenyataan bahwa dia berada di tingkat bawah dari ranjang bertingkat dua di kamar itu. Sebuah suara yang keras dan benjol di kepalanya pun tidak terhindarkan menghias kepalanya.

Karin tertawa gelak, "Ahahaha, itulah kenapa aku suka dengan kamu. Tingkahmu yang bodoh dan konyol selalu membuat aku selalu tertawa."

"Cih" tukas Iké sambil mengusap kepalanya.

"Aku bersiap dulu. Buatkan aku sarapan yang enak!" lanjut Iké sambil berjalan dengan semangat keluar kamar menuju kamar mandi.

"Jangan lupa, kita akan naik kereta kuda." kata Karin polos.

Kuping Iké bagai tersengat sihir petir Exavius begitu mendengar kata "kereta", mendadak dunia menjadi tidak seindah tadi. Jalannya menjadi sangat lemas.

=====

Iké merasakan harinya tidak semakin membaik, pagi yang terganggu karena harus mengantar Karin di hari yang seharusnya dia bisa bersantai karena tidak ada Irene, kepala yang benjol, dan yang lebih buruk dari naik kereta kuda menuju kota Latheer adalah naik kereta bersama dengan Exavius.

Ya, rival Iké itu berada satu kereta dengan dia dan Karin. Exavius ternyata juga akan berlatih sihir di Sothale Circle di hari yang sama. Sebenarnya Iké sudah berusaha menolak untuk satu kereta dengan Exavius, namun Ibu Anne yang lebih galak daripada Irene memberikan pelototan mata yang dia sangat tahu artinya apa. Dalam kelemasannya, Iké mengumpat sejak kereta meninggalkan desa.

Karin mencoba menghibur Iké dengan mengajak berbicara tapi usaha itu sia-sia. Exavius bahkan tidak memperdulikan sama sekali.

"Dasar lemah!" gumam Exavius.

Iké menoleh sedikit ke arah Exavius yang duduk di seberangnya, jika saja masih ada sedikit kekuatan dalam dirinya, ia akan menghajar Exavius. Akhirnya dia menyadari keadaannya, "menikmati" tiap jengkal getaran dan hentakan dari kereta penumpang berwarna coklat tua ini. Meski saat melewati bukit-bukit pemandangan sangat bagus untuk dinikmati, dia lebih memilih untuk memejamkan mata. Semakin dia sadar dia berada di dalam kereta, semakin parah perasaan mual yang dideritanya. Akhirnya dia memaksakan untuk tidur, dan entah bagaimana dia bisa tidur dan bermimpi dalam kondisi yang tidak nyaman.

Hampir selama perjalanan, Iké tidur. Saat kota Latheer sudah terlihat di depan mata, dia terbangun saat roda kereta secara tidak sengaja menabrak sebuah batu dan membuat kereta bergoyang keras. Dilihatnya Karin juga tidur, bersandar di lengannya, sementara Exavius duduk diam menatap ke arah kota.

Iké membenarkan letak kepala Karin yang hampir tergelincir. Namun hal itu justru membuat Karin terbangun.

"Maaf." kata Iké sambil memaksa untuk tersenyum, "Aku hanya ingin membetulkan posisi tidurmu."

"Tidak apa." kata Karin sambil menegakkan posisi duduknya dan mengucek-ucek kedua matanya. Sambil menguap ia berkata, "Haphoakah hitoa hampir sampai?" dan mengakhiri dengan kata hoaem di ujung kalimatnya.

Iké mengangguk pelan, dengan wajahnya dia menunjukkan bahwa kota Latheer sudah terlihat. "Sebentar lagi kereta ini akan mengantar kita tepat di depan guild yang berada di sisi timur kota." katanya pelan.

Kereta! pikir Iké, dia lupa kalau dia masih berada di dalam kereta. Matanya langsung membelalak dan mual langsung menyerang perutnya. Dilihatnya Karin tersenyum kecil saat dia kembali sukses terkapar di sandaran tempat duduk penumpang.

"Nanti kalau aku sudah mahir, aku akan menyembuhkan sakitmu Iké." kata Karin yang disambut dengan acungan jempol oleh Iké.

Iké tidak bisa berbicara lagi, membuka mulut sama saja dengan membuang semua sarapan yang dia makan sebelum berangkat tadi.

"Sekalian carikan sihir untuk mengobati kebodohannya!" Exavius menimpali tanpa menoleh. Ia melanjutkan, "Kalau memang ada sihir yang bisa menyembuhkan kebodohan mutlaknya itu."

Iké mulai naik pitam, meski tubuhnya lemas tapi emosinya membuat kedua tangannya memunculkan api. Namun sebelum dia berbuat lebih jauh, Karin membisikan sesuatu untuk meredakan kemarahannya.

"Aku juga akan mencarikan sihir biar Exavius tidak se-introvert seperti itu." Karin tersenyum sambil mengelus-elus punggung Iké.

Iké mengacungkan jempolnya lagi setelah memadamkan api di sepasang tangannya.

Kereta memasuki kota Latheer dan berbelok ke arah timur sebelum masuk ke pusat kota. Tidak sampai satu putaran pasir, kereta berhenti tepat di depan halaman gulid. Iké langsung melompat keluar dari kereta tidak melalui pintu, dan bersujud seakan-akan memeluk tanah. Tidak ada kebahagiaan yang lebih baginya saat ini selain kembali menginjak tanah, Bahkan Exavius yang mengejeknya tidak bisa menghentikan kebahagiannya itu.

"Iké, ayo!" kata Karin.

Iké menoleh pada Karin yang tiba-tiba menarik lengan kanannya dan mengajak untuk bergegas masuk ke dalam guild. Dia menurut saja saat Karin mengamit tangannya dan menuju tempat perkumpulan para penyihir itu.

Sebuah jalan setapak yang tidak terlalu lebar membelah dua halaman yang dipenuhi dengan hamparan rumput terpotong rapi, beberapa ornamen menarik hampir memenuhi kedua belah sisi taman. Iké dapat memahami perasaan Karin yang mengagumi tempat itu. Tunggu sampai kamu melihat apa yang ada di dalam guild pikir Iké.

Bangunan kayu besar memanjang ke belakang menunggu mereka di depan, saat belajar di sini Iké yakin bahwa gedung itu lebih besar dari kelihatannya. Dia yakin ada yang memberi sihir pada tempat ini. Mana mungkin tidak pikirnya, banyak penyihir hebat yang berkumpul di guild ini walaupun mereka hanya sebatas terkenal di daerah ini saja. Paling tidak salah satu dari mereka pasti bisa menyihir tempat ini menjadi lebih luas. Iké bersungut-sungut sendiri sambil mengenang masa-masa dia masih belajar di sini.

Iké hampir saja menabrak Exavius yang berhenti mendadak di depan rumah kuning pucat itu. Baru saja dia hendak membentak Exavius namun pemuda berambut putih itu lebih dahulu berkata.

"Apa kamu sudah siap?" kata Exavius kepada Karin sambil menempelkan kedua telapak tangannya di pintu berwarna jingga di depan dan bersiap mendorongnya.

Cih, sok keren umpat Iké dalam hati. Dia melirik ke arah Karin yang mengangguk-angguk senang dan kagum. Dasar anak kecil, mudah dipengaruhi dengan permen! Iké semakin mengumpat.

Exavius membuka pintu, Iké menghela nafas melihat keadaan di dalam. Tidak ada yang berubah sejak dia meninggalkan tempat ini. Ruang tamu yang ditata mirip dengan kedai minuman dengan meja-meja bundar dengan empat kursi dari kayu yang senada mengelilingi tiap-tiap meja diatur dengan rapi, jumlahnya mungkin belasan. Iké tidak pernah menghitung berapa jumlah pastinya. Dua buah meja panjang tempat minum berada di sisi kanan dan kiri ruangan, dipisahkan oleh sebuah jalan masuk menuju lorong yang menghubungkan ke ruang berikutnya.

"Kiri untuk makan, kanan untuk minum." jelas Exavius singkat seakan menjadi pemandu jalan bagi Karin.

Iké mencibir kesal pada Exavius yang berlagak keren. Dia mengalihkan pandangan, menatap sosok-sosok yang ada di sana. Memperhatikan beberapa orang yang sedang makan atau sekedar menikmati minuman mereka. Dia mengenali sebagian besar dari mereka, walau kadang dia tidak tahu nama orang itu. Sebagian kecil lagi dia sama sekali tidak mengenal mereka. Iké mengikuti Exaviuz yang berjalan menuju lorong. Karin di depannya berjalan pelan mengagumi ruang depan guild itu.

"Yo Iké! Lama tidak berjumpa." seorang pria dewasa berumur 30 tahunan mendekati Iké.

Iké tersenyum masam begitu menatap pria berambut pirang panjang yang memanggilnya itu, jaket panjang berwarna coklat muda yang sewarna dengan topi bundarnya membuat Iké yakin dia tidak mungkin salah mengingat orang itu.

"Hai Fliker!" Iké menjawab tanpa semangat, dia malas bertemu dengan Fliker karena dia sering dipermainkan oleh orang itu saat masih belajar di guild ini.

"Apa kamu ingin belajar di sini lagi? Wah..wah..aku akan sangat senang sekali." Fliker tersenyum nakal sambil mengangkat tangannya ke depan wajah Iké.

Iké menghindar, dan menjauh beberapa langkah dari Fliker. Dia tidak mau terjebak lagi dalam sihir Fliker yang bisa menghipnotis orang begitu dia menjentikkan jarinya di depan wajah korbannya. Sesuatu yang sangat dia waspadai karena dia sudah menjadi korban beberapa kali dari sihir Fliker ini.

"Aku cuman mengantarkan adik kesayanganku ke sini." Iké sengaja memberi tambahan "kesayangan" agar Fliker tidak macam-macan dengan Karin. Ia melanjutkan sambil memalingkan muka menatap Karin, "Dia akan belajar di guild mulai hari ini." Iké secara tidak langsung memperkenalkan Karin kepada Fliker, namun berusaha menjaga jarak antara kedua orang itu.

Karin terpaksa mendongak menatap laki-laki yang lebih tinggi kira-kira dua jengkal dari Iké.

"Jangan dekat-dekat dengan dia!" ketus Exavius dari jauh. Iké tersenyum, kali ini dia sependapat dengan pemuda bermata biru gelap itu.

Iké teringat kalau Exavius juga pernah dipermainkan oleh Fliker. Dia menunduk sedikit untuk membisikkan sesuatu kepada Karin, namun dia sengaja berbisik agak keras sehingga Fliker juga bisa mendengar perkataannya.

"Hati-hati! Dia adalah seorang psikopat. Dia terlihat tua tapi kelakuannya seperti anak kecil. Mungkin dia pantasnya berteman dengan anak-anak berumur tujuh tahunan, karena dia tidak bisa tenang kalau tidak menjahili orang yang lebih lemah darinya." Iké menyeringai kecil sambil melirik sedikit ke arah Fliker.

Iké memaksa Karin untuk bergegas meskipun dia tahu kalau Karin ingin mengetahui lebih banyak tentang Fliker. Dia tidak mempedulikan kerutan di dahi gadis kecil itu dan menarik lengan Karin untuk mendekati Exavius yang menunggu di lorong.

Sekitar 40 kaki berjalan di lorong kayu coklat tua itu, Iké menegur Exavius yang berjalan sedikit lebih cepat di depan dia dan Karin.

"Hei Xavi, bukankah ruang administrasi ada di pintu ini!" Iké menunjuk ke pintu di sebelah kirinya.

"Kita akan langsung menuju ruang pengajar." kata Exavius sambil terus berjalan. Sambil menoleh sedikit ia melanjutkan, "Pesan Irene, kita langsung bertemu dengan Tuan Kelvor."

"Oooo..heh!" Iké kaget, dia baru sadar kalau mereka akan menuju tempat yang paling tidak dia sukai. Roman mukanya berubah, "Kita harus ke sana?"

"Kamu boleh menunggu di luar kalau tidak mau. Tempat itu memang tidak cocok untuk orang dengan otak pas-pasan." ejek Exavius dengan nada yang dingin seperti biasa.

"Cih, tidak usah mengaturku uban!" geram Iké. Baru saja dia menutuskan untuk tidak ikut ke ruang pengajar, Karin menarik tangannya. Memaksa Iké untuk tetap ikut menemani ke dalam ruang para pengajar. Dia terpaksa menguatkan hati demi gadis kecil itu. Dilihatnya di depan Exavius sudah berdiri di depan sebuah pintu lebar berwarna putih gading bersiap untuk mengetuk pintu. Karin menarik tangannya lebih keras dan mengajak untuk bergegas.

*****

Read previous post:  
Read next post:  
80

houyo huhuhuhohoho Ike Ike Ike, saya bacanya ngebut nih mau cari bahan buat kolab... woke lanjutt

tarik mang...

100

Kayak 145-senpai, Sasuke-Naruto banget XD
.
Ike dan Eik itu emang berhubungan yak?

xixixi...ya kayak gitu deh,,,

Ike itu masa kecilnya Eik,,,kalo mau dihubung2in..heuheuheu...

90

Masih santai~~ Sip~~

yup...thx for stop by...

90

Akhirnya ada lanjutannya juga & akhirnya typo kak makkie berkurang (atau g ada sm sekali)

heuheuheu...makasi kika...kemaren dateng ke itenas ga..??

Kika sekolah. Jadi g bisa dateng.
Padahal kika mau banget dateng (kesempatan langka di bandung)

hehe..kasian...sabtu2 ko sekolah,,,
kalo aku malah nyasar,,salah naek angkot... :(

Baru dari 3 minggu terakhir ini kika sekolah sampe sabtu :(

kok bisa salah naik angkot kak??
Semoga kopdar grup (kalo jd ada) di bandung lagi :D,, :D

iya,,namanya juga belum apal bandung,,malah naik cicaheum-ciroyom...walhasil terdampar deh...

kika aja orang bandung, gak apal nama jalan-jalan atau angkot nya :D
itung-itung pengalaman kan, kak makkie ^^

pengalaman si pengalaman,,tapi jadi ga sempet liat seminar...

100

Huhuhu... ada lanjutannya... jadi pengen liat aksi jahilnya Fliker... ^^

Fliker masih agak lama nongolnya,,soalnya kan Ike ga ke guild lagi..makasi dah mampir..

90

Naruto dan Sasuke :D
-
Masih mencoba membangun gambaran dunia cerita ini di benakku. Setidaknya ada dua atau tiga jenis manusia. Beberapa jenis sihir (kayaknya ada yang umum dan ada yang khusus tergantung si penyihir).
-
Tidak yakin juga. Tapi kayaknya kedudukan penyihir tidak terlalu istimewa (belum kelihatan istimewa) dalam strata sosial masyarakat.
-
Mungkin perlu dijelaskan sedikit tentang konsep sihirnya. (karena ada buku sihir, sepertinya ada kemungkinan mempelajari sihir di luar Guild).
-
Tapi soal Style seperti biasa MANTAP >_<

heuheuhue...benar sekali...
ni masih nyoba2 masukin informasi2 yang lain,,masih belum dapet yang mantap tentang sosialnya...
konsep sihir juga lagi mencoba meramu sesuatu yang baru,,biar ga klise heuheuheu..
makasi..makasi..

haa.. menunggu kelanjutan ceritanya :)

makasi..makasi..

100

akhirnya diupdate juga. . .
masih belum kelihatan gregetnya, mungkin karena masih chapter awal
tapi tetep keren

heuheu..makasi dah mampir,,iya ni mang masih pengenalan tokoh aja..mungkin 2-3 chapter lagi..