'Suara' yang Berlalu

Kau benar, Re, aku api…

Bertindak terburu-buru termasuk salah satu sifatku yang tak kau suka dariku. Aku tahu. Dan aku melakukan semuanya itu bukan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, Re.

Aku sudah memperhitungkan semuanya. Aku sadar resiko yang akan ku hadapi sangat besar. Itu akan menjadi tantangan. Dan aku, seorang penentang yang keras kepala. Aku hanya ingin sedikit berontak tuk memilih warna untuk hidupku.

Tapi kau marah. Terlalu khawatirkah atau pada saat itu perasaanmu padaku berangsur surut? Entahlah, aku tak dapat mengambil kesimpulan atas perasaanmu itu.

Kau mengira aku bertindak tanpa berpikir panjang? Kau keliru. Tapi sudahlah, pun itu karena aku memang tak beritahukan rencana-rencanaku selanjutnya padamu.

Aku merindukanmu, Re..

Sekarang aku mengidentifikasimu sebagai angin. Kau tahu? Kau bukan lagi ‘suara’ yang selalu temani malam-malam insomniaku dan mengevolusi lara menjadi tawa.

Kau hanya angin yang menghempas hatiku ke lubang hitam. Mengapa aku tak berusaha mencari tahu tentangmu sebelumnya? Tapi aku tak menyesal. Mungkin, meski perih telah kubiarkan kebodohanku sendiri menyodorkan hati pada ‘suara’ yang sayup baru ku dengar.

Nyala apiku menari seiringan lihai tiupanmu. Kau beri ku kesejukan disaat lelahku pada dunia. Kau buatku berkobar, riang. Tapi kemudian hembusanmu semakin kencang, terlalu keras menghempas. Lidah apiku liar, tak terkendali.
Hentikan, Re! ada apa denganmu?

Kibasan beliungmu sungguh menyesakan. aku takut, nyalaku padam. Bukan, aku kecewa. Luka.

Kau meredam perasaanmu padaku, Re? Bahkan untuk cinta yang tak berdasar ini, Re? Kenapa?

Kehadiranmu pun surut, tak lagi menghempas dengan bebas. Kau pergi, semakin jauh dariku dengan dalih kepergian yang tak ku mengerti. Tak masuk akal, jika hanya itu alasanmu menjauhiku.
Kau berhasil permainkan perasaanku jika memang itu tujuanmu.

Apa kau puas?

Aku benci perlakuanmu, Re
dan aku teramat merindumu..

Aku seperti jelaga yang berharap kau nyalakan kembali. Menyala dengan lidah-lidah api yang menari indah, hangat dengan terangnya.

Tapi kau tak acuhkan ku. Harapan itu sia-sia, Re.

Jika kau membaca ini, mari kita duduk bersandar sebentar. Sejenak berandai-andai, kau tahu apa itu ‘pertukaran’? Oke, bayangkan itu. Kita bertukar peran, aku angin dan kau api.

Bagaimana perasaanmu, Re?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer die_cha
die_cha at 'Suara' yang Berlalu (8 years 28 weeks ago)

hmm bagus..

Writer citruz shell fine
citruz shell fine at 'Suara' yang Berlalu (8 years 28 weeks ago)

i liked it

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at 'Suara' yang Berlalu (8 years 29 weeks ago)
90

^^d

Writer kasurterakhir
kasurterakhir at 'Suara' yang Berlalu (8 years 29 weeks ago)
100

hmmmm...saya terlalu telat mengartikan....tapi semua terlihat sangat penuh makna...bagus2...!!

Writer souLYncher
souLYncher at 'Suara' yang Berlalu (8 years 28 weeks ago)

^^
makasih..

Writer Isavedha
Isavedha at 'Suara' yang Berlalu (8 years 29 weeks ago)

hybird anatara cerpen dan puisi
i think i love it
=D

Writer H.Lind
H.Lind at 'Suara' yang Berlalu (8 years 29 weeks ago)
90

Analogi api, angin, dan suara yang bagus. Saya suka. :D

Writer Imah Hyun Ae
Imah Hyun Ae at 'Suara' yang Berlalu (8 years 29 weeks ago)
60

Nice ^^d
plg ska bag akhrx, hehe...