Eternity (3)

ETERNITY (3)

Close your eyes so you don't fear them
They don't need to see you cry
I can't promise I will heal you
But if you want to, I will try

I'll sing this somber serenade
The past is done
We've been betrayed
It's true
Someone said the truth will out
I believe without a doubt, in you

You were there for summer dreaming
And you gave me what I need
And I hope you find your freedom
For eternity...
For eternity..

(Eternity-Robbie Williams)

Erlangga meletakkan bunga lily yang bertahta di dalam pot biru di sebuah side table kecil di dekat meja kerjanya di toko buku. Kadang matanya menoleh dan menghabiskan beberapa detik untuk memandang bunga lily itu. Erlangga merasa ada sesuatu yang menarik indera penglihatannya untuk menoleh ke bunga indah yang dibelinya dari toko milik Dina beberapa hari lalu, meski dia sedang bekerja melayani pelanggan, atau sedang menulis novel.

“Angga! Kamu tidak lihat ada beberapa pembeli kebingungan dengan buku yang mereka cari?! Jangan keseringan duduk saja di meja kerjamu! Layani mereka!” teriak Mahendra yang baru saja memasuki toko buku.

Erlangga menghela nafas sebelum kemudian berdiri dari kursinya, meninggalkan satu paragraf cerita yang baru saja diketiknya di komputer,”Ya, Yah,”

“Kamu itu menulis terus. Harusnya di toko kamu konsentrasi dulu dengan pekerjaanmu. Jangan menulis terus, toko buku ini akan menjadi milikmu, kontribusimu pada toko masih sangat sedikit…” samar-samar Erlangga masih mendengar ayahnya menggerutu. Sudah terbiasa dengan hal itu, Erlangga hanya menyibukkan diri dengan menghampiri seorang pelanggan.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya Erlangga pada seorang perempuan yang tampak mencari-cari sesuatu di antara rak-rak buku.

“Saya mencari The Book Of The New Sun kira-kira masih ada nggak ya, Mas? Pengarangnya Gene Wolfe,” jawab perempuan yang kira-kira seumuran dengan Angga itu.

“Em… itu buku kategori apa ya, Mbak? Buku diktat atau ensiklopedia atau apa?” tanya Erlangga yang sama sekali tidak pernah mendengar tentang buku itu. Sudah lama dia ingin melakukan stock opname terhadap daftar stock buku yang ada di toko secara berkala, namun dia tak juga melakukannya. Akibatnya, Erlangga tak begitu familiar dengan seluruh buku yang ada di toko milik ayahnya itu.

“Novel science fiction sih. Buku lama. Saya coba cari di toko-toko buku besar, tapi belum juga ketemu.”

“Coba saya carikan ya, Mbak,” Erlangga menghampiri meja kerjanya. Tampaknya Mahendra masih menduduki kursinya, menghadap komputer.

“Yah, aku mau cari buku,” ucap Erlangga dengan maksud meminta ayahnya beralih dari komputernya.

“Buku apa?”

“Buku yang dicari pelanggan, aku mau mencarinya di database,” Erlangga menatap ayahnya yang tampaknya tidak ingin beranjak dari kursi.

“Apa judulnya?” Mahendra bersiap mengetik di komputer.

“Sudahlah, Yah, biarkan aku yang mencari sendiri,” Erlangga agak kesal dengan sikap ayahnya yang seringkali meremehkannya.

“Kamu ini kenapa? Mau Ayah bantu malah marah,” Mahendra akhirnya beranjak dari kursinya dan memasuki ruangan dibalik meja kerja, yang biasa digunakan Erlangga untuk beristirahat.

Erlangga tidak mempedulikan ucapan ayahnya, segera dia mengetikkan judul buku ke dalam database yang tersimpan di dalam komputer. Setelah satu kali klik pada icon SEARCH, Erlangga tidak menemukan buku itu tersedia di dalam tokonya. Erlangga sendiri merasa tidak pernah mendapat pasokan buku-buku terbitan lama. Ketika hendak beranjak dari kursi, perempuan calon pembeli tadi sudah berdiri di depan meja Erlangga, membuat Erlangga cukup terkejut.

“Ada, Mas?” tanyanya.

“Maaf, Mbak, nggak ada. Kami nggak punya buku itu,” jawab Erlangga.

“Sayang sekali ya… ke mana lagi ya aku harus cari?”

“Memangnya novelnya bagus, Mbak?” tanya Erlangga yang mulai memunculkan instingnya sebagai penulis.

“Itu novel lama yang ada empat seri gitu. Kalau sekarang, semacam Harry Potter, atau Twilight… yah yang berseri gitu deh. Novel science fiction, tentang fantasi masa depan dimana matahari telah redup dan jauh dari bumi. Sehingga bumi perlahan mendingin,” perempuan itu antusias menjelaskan.

“Wah, sepertinya menarik. Tapi sayangnya, kami memang masih jarang memasok buku-buku asing semacam itu, Mbak. Apalagi buku lama,” Erlangga tersenyum.

“Iya, nggak apa-apa. Ya sudah, terima kasih ya Mas, aku coba cari lagi di tempat lain. Mungkin adanya di perpustakaan kali ya?”

Erlangga hanya mengangguk,”Mungkin saja, Mbak. Atau di toko-toko buku bekas.”

Perempuan itu ikut mengangguk-angguk,”Baiklah. Permisi, Mas,”

Erlangga memandang perempuan itu berlalu dari hadapannya. Entah kenapa, dia penasaran dengan buku yang dicari perempuan tadi.

“Sebuah buku tentang matahari yang menjauh dari bumi?” batin Erlangga berpikir mengenai isi buku itu.

Tiba-tiba Erlangga merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Bayangan sinar matahari yang menyilaukan serta sangat hangat, terlintas di pikirannya. Erlangga merasa melihat dan merasakan sinar matahari itu seakan sangat nyata di tempatnya duduk, di dalam toko, menyatu membelai dirinya, meski cuaca di luar sangat jelas mendung. Kembali secara refleks mata Erlangga melirik pada bunga lily di dalam pot yang berada di meja kecil samping meja kerjanya. Cukup lama dia menatap bunga lily itu, hampir tak berkedip. Sesaat Erlangga merasa bunga lily itu berdiri lebih tegak dan terlihat lebih segar dari sebelumnya. Erlangga kemudian mengedipkan matanya tak percaya, dia merasa telah berhalusinasi.

“Erlangga!” suara Mahendra kembali menyadarkan Erlangga dari lamunannya.

“Aku memberimu tanggung jawab bukan untuk melamun!” lanjut Mahendra yang sudah berdiri di dekat Erlangga.

“Aku tidak melamun, Yah,”

“Lalu kenapa kamu tidak segera beranjak dari kursimu dan menyambut Pak Roni? Itu mobil box nya sudah berhenti di luar toko.”

Erlangga kemudian beranjak dari kursinya, berjalan menuju ke pintu toko untuk menemui seorang laki-laki yang biasa datang ke toko, sebagai perantara dari distributor buku untuk tokonya. Kali itu, Pak Roni tidak membawa pasokan buku, dia hanya menyerahkan beberapa lembar kertas pada Erlangga, sebelum kemudian membawa mobil box-nya pergi meninggalkan toko.

“Kenapa Pak Roni tidak masuk?” tanya Mahendra langsung begitu Erlangga kembali ke meja kerjanya.

“Dia buru-buru, Yah, ada kiriman yang harus segera diantar,” Erlangga langsung duduk di kursinya, meletakkan kertas-kertas yang tadi diterimanya dari Pak Roni di meja.

“Struk-struk tagihan?” tanya Mahendra begitu melirik kertas-kertas itu. Erlangga hanya mengangguk sambil mengambil satu kertas. Setelah membaca kertas itu, Erlangga mulai membuka sebuah file dari komputernya, mulai mendata jatuh tempo tagihan dan menyesuaikannya dengan keuangan toko.

“Kemarikan,” Mahendra meminta kertas yang sedang dipegang oleh Erlangga.

“Yah, aku sedang mendatanya.”

“Kamu tata komik-komik yang berantakan itu saja. Biar Ayah yang memproses tagihan-tagihan itu.”

“Tapi, Yah…”

"Sudah, cepat lakukan! Daripada kamu keliru mengalokasikan pendapatan kita sebagai tagihan, seperti yang sewaktu dulu pernah kamu lakukan!"

Erlangga mulai kesal lagi, "Ayah selalu begitu. menuduh aku tidak bertanggung jawab, namun kenyataannya adalah Ayah yang tidak memberikan ruang gerak untukku bekerja. Meragukan kemampuan dan tidak pernah mempercayaiku!"

Mahendra tampak terkejut mendengar ucapan anaknya, namun sikapnya tetap tenang,”Nyatanya kamu memang belum bisa optimal menjalankan toko ini. Kamu kurang peduli pada kelangsungan toko, yang kamu pedulikan hanya menulis saja!”

“Aku peduli, Yah! Kalau aku tidak peduli, aku lebih memilih sekolah film! Tapi aku tetap di sini kan? Ayah tidak pernah menghargai usahaku menjalankan toko ini!”

Beberapa pembeli yang kebetulan sedang menjelajah buku di dalam toko, mau tak mau mendengar perdebatan itu dan melirik ke arah Mahendra dan Erlangga.

“Jadi kamu tidak ikhlas menjalani tanggung jawab yang Ayah berikan padamu?!”

“Siapa yang bilang tidak ikhlas sih, Yah? Ayah jangan suka mengambil kesimpulan sendiri. Aku hanya ingin dihargai dan dipercaya, Yah. Ayah selalu menganggap aku tidak bisa melakukan apa-apa, itu karena Ayah tidak pernah percaya padaku!”

Para pengunjung toko tampak mulai keluar dari toko setelah melihat pertengkaran ayah-anak itu.

“Kamu puas sekarang? Kamu membuat pengunjung toko kita pergi semua!”

Erlangga hanya diam. Dia merasa akan sia-sia saja jika terus mendebat ayahnya. Seorang laki-laki tampak berjalan tergesa-gesa memasuki toko, membuat Erlangga mengalihkan perhatiannya pada laki-laki itu.

“Angga! Kamu sudah baca tabloid Read Me edisi terbaru?! Eh… malam, Pak Mahendra,” ucap laki-laki bernama Tommy itu begitu menghampiri Erlangga di dalam toko. Mahendra tak menjawab sapaan Tommy, sementara Erlangga menerima sodoran satu eksemplar tabloid dari teman anaknya itu.

“Resensi tentang novelmu,” lanjut Tommy sambil menunjuk ke halaman di dalam tabloid. Erlangga membaca halaman tabloid itu.

“Saya akan berterus terang. Buku ini oke, tapi saya tidak akan membacanya jika saya menjadi Anda. Plot yang dibangun sangat buruk. Tokoh wanita tidak menyukai tokoh lelaki, kemudian dia menyukainya. Bagus memang, tapi terlalu simple dan klise. Humor yang coba dijajakan pun benar-benar garing. Maaf, tapi saya tidak akan menghabiskan waktu untuk membaca buku yang tidak aku suka…” begitu secuplik kalimat yang tertulis di dalam rubrik Resensi mengenai novel berjudul Petir Pagi karangan Erlangga.

“Maaf, Ngga…” ucap Tommy ketika melihat ekspresi terkejut dari Erlangga,”…em… aku… harus pergi dulu. Aku cuma ingin mengabarimu soal ini saja, mumpung lewat sekalian mampir. Permisi, Pak Mahendra,” Tommy berpamitan dan keluar dari toko buku.

“Sepertinya kamu memang lebih baik jadi penjual buku daripada penulis buku,” ujar Mahendra yang tadi ikut membaca tabloid itu dari balik punggung Erlangga. Mahendra kemudian berjalan mendekati pintu toko.

”Kalau kamu pulang, jangan lupa rapikan dulu semuanya dan kunci toko dengan benar,” tambah Mahendra sebelum kemudian keluar dari toko meninggalkan Erlangga sendirian di dalam toko, masih terpaku pada apa yang dibacanya.

Erlangga tak dapat memungkiri bahwa kritikan pendek itu membuatnya down, belum lagi pertengkaran dan ucapan terakhir dari ayahnya sebelum pergi dari toko. Dadanya terasa agak sesak menahan apa yang dirasakan hatinya saat ini. Erlangga merasa gagal dan tidak berguna sebagai apapun. Namun Erlangga merasa dia tidak boleh lemah, dia merasa harus terus menjadi lelaki kuat. Baginya, sebuah kesedihan tidak layak untuk dirasakan berlarut-larut, apalagi sampai dilihat orang lain. Namun pancaran matanya tidak dapat menutupi kegalauan yang kini dirasakan hatinya. Erlangga duduk termangu di kursi kerjanya dengan tatapan kosong pada tabloid, hanya ditemani alunan lagu dari radio.

Kekasihku, aku tahu bagaimana hatimu ingin berteriak. Aku ada di sini, tepat di dekatmu. Keluarkan semuanya. Andai saja aku bisa berbicara padamu. Aku tidak ingin menjadi bunga saat ini, aku ingin menjadi mentari, menyinari dan menghangatkanmu, seperti yang kaulakukan padaku di kehidupanmu sebelumnya. Begitu kan yang seharusnya dilakukan sepasang kekasih? Bergantian memberikan kenyamanan di saat pasangannya membutuhkannya?

Kamu dengar lagu itu kan? Anggaplah lagu itu adalah aku yang tengah berbicara padamu. Close your eyes so you don't fear them… They don't need to see you cry… I can't promise I will heal you… But if you want to, I will try… Pejamkan matamu, Sayang, andai aku bisa, aku akan menyembuhkan lukamu…

I'll sing this somber serenade… The past is done, we've been betrayed, it's true… Someone said the truth will out,
I believe without a doubt, in you… Ingatkah kamu pada masa kita menjalin cinta yang takkan pernah bisa bersatu dan harus terpisahkan? Suatu saat aku berharap kamu akan mengingatku, mengingat cinta kita di kehidupan kita yang dulu…

You were there for summer dreaming… And you gave me what I need… And I hope you find your freedom
For eternity... Untuk mencapai keabadian cinta kita, matahariku…

Erlangga mengalihkan pandangannya, lagi-lagi ke bunga lily dalam pot biru. Tiba-tiba Erlangga kembali melihat sebuah kilasan sinar yang menyilaukan matanya, kemudian hilang.

“Angga!” suara Dina tiba-tiba memecah lamunan Erlangga.

“Dina…” Erlangga merasa tidak menyadari kedatangan Dina ke dalam tokonya.

“Kamu… sudah baca ya?” Dina melihat tabloid di atas meja Erlangga. Belum sempat Erlangga menjawab, Dina langsung menyentuh telapak tangan Erlangga,”Jangan kamu pikirkan ya… Itu hanyalah sebuah kritik dari orang gila yang tidak mengerti sastra. Aku… memang nggak tahu apa-apa soal sastra sih, tapi… kritikannya sepertinya tidak mengandung hal-hal yang berbau sastra, seperti hanya ejekan subjektif saja, Ngga… seenak dia sendiri aja ngomong. Memangnya dia siapa sih? Hanya pembaca saja, tidak punya kapasitas untuk menilai sebuah novel kan? Aku heran, kenapa juga kritikan seperti itu dimuat…” Dina tampak berbicara panjang lebar, mencoba menghibur sahabatnya yang dia yakini tengah merasa down atas kritikan di tabloid itu.

“Dia memang pembaca umum. Dan tabloid itu memang sudah terkenal dengan kritikan tajamnya. Tapi… tetap saja, orang akan berpikir dua kali untuk membaca karyaku. Bahkan mungkin tidak akan kepikiran sama sekali untuk tertarik pada karyaku.”

Dina menatap sahabatnya penuh arti.

“Tidak apa-apa, Din… kritik itu biasa…” Erlangga mencoba menunjukkan sikap santai,”… aku kan masih pemula juga. Bukan hal itu yang mampu membuatku hancur…” Erlangga menunduk, mencoba menghindari tatapan Dina, mencoba menyembunyikan perasaannya.

Dina mencerna kalimat sahabatnya itu dan mengerti. Sudah lama dia mengenal Erlangga, dan tahu persis akan perubahan-perubahan sikap Erlangga dan penyebabnya tanpa harus Erlangga berbicara padanya. Dina berjalan pelan-pelan ke balik kursi Erlangga. Kedua tangannya menyentuh pundak Erlangga dan mengusapnya lembut,”Ayahmu lagi?”

Erlangga hanya diam tak menjawab, menatap ke bunga lily. Dina merasa tidak perlu mendapatkan jawaban dari Erlangga. Pandangan Dina menuju ke arah pandangan mata Erlangga.

“Aku pernah bilang padamu, bila bunga itu kauberikan padaku, maka luka itu akan kuobati. Tapi… kamu tidak perlu memberikannya padaku, aku… akan mengobati lukamu…” ucap Dina masih mengusap pundak Erlangga.

Apa kamu tahu bagaimana rasanya berulang kali melihatmu bersama selain aku? Aku yang seharusnya mengobatimu, kekasihku! Tadi aku sudah berkata padamu, aku yang akan mengobatimu… aku… aku… aku… bukan dia… atau siapapun! Berapa kali lagi aku harus melihatmu melupakanku dan bersama yang lain? Apa kamu tahu bagaimana rasanya hanya bisa terdiam mematung dan merasakan kecemburuan dari waktu ke waktu?
*-*-*-*

Erlangga meraih jaketnya dan mematikan satu demi satu lampu yang menerangi toko buku. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tinggal satu lampu lagi sebelum kemudian dia keluar dari toko dan menguncinya. Toko sudah gelap, Erlangga menekan saklar lampu terakhir, namun lampu itu tidak mau padam. Erlangga menekan-nekan saklar lampu itu, namun lampu gantung itu tetap menyala.

“Ada yang rusak dengan sambungannya,” pikir Erlangga agak bingung. Dia berjalan ke bawah lampu itu dan memandang ke atas. Tak sengaja tangannya menyenggol sebuah komik yang tertata di atas rak yang berdiri di dekatnya. Komik itu terjatuh. Erlangga memungut buku itu dan mengembalikan ke posisi semula di rak. Tiba-tiba dia terkejut melihat sebuah buku yang tertata di samping komik yang terjatuh tadi. Terlihat jelas sangat kontras komik-komik yang tertata di sekitarnya. Sebuah novel, bukan komik. Erlangga mengucek matanya dan kembali membaca judul buku itu. The Book Of The New Sun.

to be continued

Read previous post:  
136
points
(1353 words) posted by cat 8 years 30 weeks ago
85
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | cat | Eternity | lily | sunflowers-cat-lavender
Read next post:  
Writer miss worm
miss worm at Eternity (3) (8 years 24 weeks ago)
70

Ini manis. dialog di bagian ketiga ini masih lebih luwes jika dibandingkan dengan bab tulisan Cat (sorry to bring your name up, sista).

Omong-omong, dear...

side table: meja nakas
science fiction: fiksi ilmiah
down: sedih, kecewa, depresi, or else -just pick
box: boks
database: pusat data
stock opname: pemeriksaan stok, or whatever you think best -hell, I don't know what it is.

Yuk, ah. Kau menulis dalam Bahasa Indonesia. Tantangannya di situ ;)

keep writing!

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 24 weeks ago)

Ahahahaha.. Klo soal english nyampur di situ memang udah kebiasaan, suka membangkang daku klo nulis ga ngikutin kaidah atau EYD, ixixixixixix..
Thankss..

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Eternity (3) (8 years 27 weeks ago)

kak lavvv...
saia datang mencolek..
hhehehehe
lanjutan nya yg ke 6 lagi di proses yak?

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 27 weeks ago)

Ixixixixix..
Belum sempet pegang laptop sama sekali.. Dan belum dpt2 wangsit.. Ixixixxixix

Writer Maximus
Maximus at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)
100

Perfect ten kak lavender, XD XD
.
Suka dengan pertentangan batin bunga lilynya ^^
.
Lanjut baca deh ^^

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)

Awww.. Thank u.. :)

dadun at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)
90

gayanya lavender khas novel2 luar. detail dan liar. daku kagum, dirimu mampu melebur dalam setiap karakter dan aktivitas mereka. percakapan mahendra dan erlangga itu loh, so real. itulah keajaibanmu. dan aku belum bisa meniru itu. hiks.

bagian romanStisnya mulai berasa euy!

*lanzut ke TPS No.4

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)

Terima kasih telah membaca, dunz..
Kok bisa liar, dunz?? Ada ada aja ah.. Wkwkwk..
Dunz, gantiin daku aja yaaa di kolab ini, daku mau kabuuurr.. Ixixixixi..

Writer Kika
Kika at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)
90

tetep keren lanjutannya...
salam kenal kak lavender :)

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)

Thanks dah mampir.. Salam kenal jg..

Writer fachrunnisa eva
fachrunnisa eva at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)
90

iikh kak lav nih...keren!!!

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)

Thanks, vaaa..

Writer vhirelizta
vhirelizta at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)
100

keren banget..... lanjuttttt!!! ^^

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)

Thanks for reading :)

Writer aimie keiko
aimie keiko at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
100

karena semua master sebagai peserta kolab-nya, saya gak komen :P baca aja dan setiaa :)

eternity :)

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

Terima kasih telah membaca, aiiiii

Writer Rainie
Rainie at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
90

Ah, sudah ada yang ke 3.... salam kenal kak lavender....
sy menunggu lanjutannya XD

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

Salam kenal juga.. :)

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

eh2.. tampaknya tiba2 sy mendapatkan ide buat melanjutkan part 4 nya..
hari ini mgkn bakal sy kirimin ke FB dl yak? xixixixi

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

Waaaaaa hibaaaattttt..
Daku tak sabar menunggu datangnya message dari dikau k fb dakuuuu..

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

tapi sy jadi engga pede.. xixixiixi
tar yah di ramu duluuuu..

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

Aaaahhh ramuan Flow mah tidak ada yg berani meragukan daaahhh..

Writer cat
cat at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

Yup ramuan master sun tiada tandingan wkwk

Writer suasti_was
suasti_was at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
100

keren...tunggu lanjutannya (dri kak Sun kan)

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

Iya next Sun-Flowers..
Thanks for reading.. :)

Writer suasti_was
suasti_was at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)

kak Lav aku smpai bela2in cari laguna Eternity, mo denger langsung soalnya...heheh..perasaan dulu kakakku punya tpi katana hilang, hiks...

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 28 weeks ago)

Hehehe cari di 4shared.com aja

Writer dewisun
dewisun at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
100

part 3 finnaly out.....aku suka dengan ide mistis dan balutan soundtrack yg top markotop...hanya saja di part ini terlalu panjang dan agak datar....sedikit pangkasan pada alur cerita kan membuat ceritamu kian apik....Hhmmm, Romantic Sun - Lovely Catz - Melancholy Lav...3 serangkai yg manis ( asal jgn berubah jadi manis manja aja :D ) ditunggu next story-nya...^_^ Salam

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

terima kasih telah membaca part ku yang acak-acakan ini.. :)
next will be so much better pastinya, karena giliran Sun-Flowers.. hehehe..

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
90

Lav, akhirnya Eternity 3 selesai, hehehehe
Saya hanya ingin bertanya kepadamu tentang:
1. mobil box-nya, mobil box nya atau mobil boks nya ?
Begitupun dengan kata "Lily". Bagaimana dengan "Lili"? (maaf, saya tidak punya KBBI)
Saya bingung, Lav. Mungkin kamu bisa membantu saya menentukan yang paling tepat/sesuai dengan EYD (saya juga belajar kepadamu)
2. Erlangga mulai kesal lagi, "Ayah selalu begitu. menuduh aku tidak bertnggung jawab,...."

kata yang bercetak tebal itu? ^^V

3. “Jadi kamu tidak ikhlas menjalani tanggung jawab yang aku Ayah berikan padamu?!”

bagaimana jika kata "aku" dihilangkan saja? Mohon petunjuknya, Master.

Saya suka cerita, meskipun saya menginginkan yang lebih dramatis, xixixixi
Tolong ya, Lav ^_^

Kamu berbakat !!! *Rey Khazama mode: ON*

>>>kabur....

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

Untuk nomer 1, dikau benar, Midori, kadang daku memang suka ngga nurut ma EYD, sukanya nyampur-nyampur antara ejaan indo-english, soalnya daku suka pake feeling aja pengen pake ejaan english gitu dicampur2 jadinya ga karuan... *daku ini pembangkang EYD* ixixixixxi..
*
nomer 2 dan 3 akan segera saya betulkaannn, terima kasihhh...
*
paragrap terakhir, naaahh kaaannn ntu buktinya daku tuh ndak berbakat o'... *kabuuurrr jugaaa*

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
100

pull point.. xixixixii
sperti yg sy blg di FB, ini keren loh.. asli...
saking kerennya, sy jd pusing gmn bikin lanjutannya..wwkwkwkw, ilmu sy blm sampe ni... kak cat helep dunnnkkk..
ak bukan master -____-
huhu

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

daku kabur ya, Flowww...
sudah kutinggalkan surat kekaburanku... iixixixixix..

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

suratnya sudah ditolak...xixixixiixi
km terikat kontrak :p

Writer cat
cat at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
100

Nilai poll untk lady romantic story muach muach.
Daku uda kument di fb wkwk.
1. Aku nda menyangka bakal ada lagu eternity, yg liriknya ngepas bgt. Lav emang top.
2. Bukunya, cukup memberi misteri.
3. Kereen bgt lho lav.

Lanjut master sun wkwkwk.
*diriku kabur.

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

muach muach juga ahhh buat mbak Catz sayang.. hehehe..
daku dari jaman tu lagu keluar suka banget mbak ma lagu ntu, trus melodinya cocok ma cerita yang agak2 berbau kesedihan, mistis, tragic...
mbak, daku juga mau kabur pokoknya..
*lempar batu sembunyi tangaaannnn*

Writer dede
dede at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
80

kalo di banding 2 cerita sebelumnya, yang ini sedikit kurang greget. tapi tetep, bagussss.....
aku suka tulisan lav, mulai yg fly n kiss the sky (klo gag salah judulnya itu. hehe) yg 20 something nya jugak... saia menunggu kelanjutannya

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

hohohoho, memang benarrr kok.. part ini jauhhh kurang dibanding dua part sebelumnya.. pasti bin yakin.. hehehe.. makanya daku ini abis post langsung kabur.. ixixixix..
thanks for reading :)

Writer suararaa
suararaa at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)
90

bagussss..
asik asik crita cinta kolab...
habis ini siapa nih?
critanya makin tak bs ketebak nih..
apakah tentang novelny akn dicritain yah. hehe

Writer lavender
lavender at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

abis ni masternya, Sun-Flowers, hehehe...
terima kasih telah membaca bagianku yang berantakan ini..
iixixi..

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Eternity (3) (8 years 29 weeks ago)

o-mi-god..
ak bukan master -__-
hiks..