Hijaunya Nada

Panas. Siang ini matahari bersinar terik. Tirza menatap halaman depan rumahnya dari ambang pintu dengan mata menyipit karena silau. Sebenarnya ia enggan ke luar rumah di hari sepanas ini, tapi jika hanya diam di dalam rumah selama akhir pekan, ia tidak akan menemukan inspirasi untuk menyelesaikan tugas seni dan budaya.

Kelas Tirza kedapatan tugas membuat sebuah lagu sebagai tugas akhir pelajaran seni dan budaya. Untungnya dikerjakan secara kelompok, jadi tidak terlalu berat. Karena Tirza pintar bermain musik, terutama gitar, jadi dia yang membuat alunan nadanya. Sedangkan untuk syair ada Bobby yang hobi menulis puisi. Lagu itu nantinya akan dinyanyikan bersama teman-teman kelompok mereka yang lain.

Sudah tiga hari kertas syair dari Bobby nangkring di meja belajar di kamar Tirza, tapi setiap kali Tirza memainkan gitarnya, hanya nada-nada sumbang yang muncul. Walaupun deadline tugas itu masih sekitar dua minggu lagi, Tirza kesal dengan mampatnya kemampuan musiknya beberapa hari belakangan. Biasanya dia dengan gampang menemukan nada yang pas saat ingin membuat iringan musik untuk puisi-puisi Bobby. Mendengarkan lagu-lagu kesukaannya pun tak banyak membantu. Jadi, Tirza berniat melangkahkan kakinya ke udara yang panas demi sebuah inspirasi.

Sejenak Tirza ragu-ragu, lalu dia kembali ke dalam rumah untuk mengambil topi kebun milik ibunya. Tirza tidak punya topi sendiri kecuali topi sekolah. Tapi masa jalan-jalan pakai topi sekolah.

“Kira-kira dia datang tidak ya,” gumam Tirza sambil melihat jam tangannya. Sepuluh menit lagi jam satu siang. Pelan-pelan dia berjalan meninggalkan rumah.

Kawasan tempat tinggalnya cukup tenang karena agak di pinggir kota. Setiap rumah punya halaman depan dan samping yang dibatasi pagar kayu, besi, atau tanaman yang rendah. Setiap halaman minimal terdapat satu pohon buah. Saat itu sedang musim mangga, jadi di pohon-pohon mangga tampak bergelantungan buah mangga yang hijau. Beberapa dibungkus kertas koran atau anyaman bambu untuk menghindari dimakan kelelawar.

Kringkring... kring

Terdengar bunyi bel yang sangat dikenal Tirza. Ia menoleh, dari belakang tampak sebuah sepeda federal yang dikayuh seorang anak laki-laki mendekat ke arahnya.

KringKring

Belnya dibunyikan lagi ketika sepeda itu hampir sejajar dengan Tirza.

“Hai, mau pergi ke mana?” sapa Tatya.

“Tidak ke mana-mana, hanya ingin keliling di sekitar sini. Kamu dari mana dan mau ke mana?” Tirza balik bertanya. Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu karena Tirza sudah tahu jawabannya.

“Tidak dari mana-mana dan tidak mau ke mana-mana. Sama denganmu, hanya berkeliling,” jawab Tatya yang mengayuh sepedanya perlahan sehingga tetap sejajar dengan Tirza.

“Menjelajah? Seperti biasa?”

“Betul sekali!” Tatya tersenyum lebar.

Tatya baru beberapa bulan pindah ke kawasan ini, tepatnya beberapa hari sebelum tahun ajaran baru dimulai. Tapi Tirza tidak satu sekolah dengannya. Ia bisa kenal dengan Tatya karena hobi “menjelajah” Tatya yang unik. Hampir setiap minggu, maksimal dua minggu sekali di hari Sabtu dan Minggu, Tatya lewat di depan rumah Tirza. Beberapa kali mereka mengobrol, obrolan singkat, dan setiap kali tak lupa mengajak Tirza untuk “menjelajah” bersamanya, yang selalu ditolak oleh Tirza karena Tatya selalu pergi “menjelajah” di siang bolong. Bayangkan betapa panasnya.

“Ada beberapa hal menarik yang tidak dilihat orang di siang hari yang panas karena mereka lebih memilih tinggal di dalam rumah daripada di luar rumah,” begitu jawab Tatya saat Tirza menanyakan alasannya di suatu hari yang terik, pada salah satu kesempatan mengobrol mereka.

“Hal menarik apa?” tanya Tirza, tidak terlalu tertarik sebenarnya.

“Kamu lihat pohon beringin di sana?” tunjuk Tatya.

Tirza menoleh ke arah itu. Ia sangat mengenal pemandangan itu. Pohon beringin besar di atas bukit tak jauh dari rumahnya, bisa ditempuh sekitar lima belas menit dengan berjalan kaki. Tapi Tirza sama sekali belum pernah ke sana.

“Ya. Kenapa?”

“Kalau kamu cukup beruntung, kamu bisa melihat para Roh Hijau sedang bermain di sana,” jawab Tatya.

Tirza terkejut dan menatap Tatya tak percaya. “Apa? Jangan bercanda.”

Tapi saat itu Tatya tak terlihat sedang bercanda.

“Roh Hijau sudah tak pernah muncul lagi di mana pun sejak… ,” Tirza mencoba mendebat tapi kalimatnya tak selesai.

“Aku tak mungkin membuatmu percaya sampai kamu melihatnya sendiri,” kata Tatya. “Tak ada yang mau percaya. Oleh karena itu mereka tidak lagi melihat Roh Hijau di mana pun.”

Begitulah kira-kira percakapan yang terjadi antara Tirza dan Tatya beberapa waktu yang lalu. Dan sepertinya mereka belum pernah mengobrol lagi sejak saat itu. Walaupun Tirza cukup penasaran apakah yang dikatakan Tatya itu benar, apakah ia pernah melihat sendiri, tapi karena selalu sibuk dengan tugas sekolah di setiap akhir pekan, ia belum bertemu dengan Tatya lagi. Rasa penasaran itu sering tergusur dari pikirannya.

Tatya jarang absen dari kegiatan “menjelajah”-nya. Tirza tentu saja dengan mudah bisa menemuinya ketika Tatya lewat di depan rumah, asalkan ia mau keluar sebentar, seperti yang dilakukannya siang ini.

Suara langkah kaki Tirza dan ban sepeda Tatya kadang menimbulkan suara berkeretak ketika melindas kerikil-kerikil. Matahari yang terik sukses membuat Tirza merasa terpanggang walau sudah memakai topi dan jaket tipis yang menutup kedua lengannya. Tatya juga memakai topi, topi pet yang tampak lusuh, mungkin karena sering dipakai. Tapi dia tidak memakai jaket, hanya kaos lengan panjang.

“Mm.. Apa kamu pernah melihat Roh Hijau?” tanya Tirza memberanikan diri.

“Pernah, sering,” jawab Tatya.

Tirza agak kaget juga dengan jawaban Tatya, tidak membayangkan Tatya akan menjawab seyakin itu.

“Di… sana?” Tatapan Tirza ke arah pohon beringin yang seakan persis berada di depan mereka, menjulang misterius.

“Mau ke sana?” tanya Tatya.

Tirza bingung mau menjawab apa. Tatya yang sepertinya melihat keraguan Tirza tersenyum.

“Sebentar ya, aku ke rumahku dulu.”

Tirza belum sempat mengatakan apa-apa ketika Tatya tiba-tiba mengayuh cepat sepedanya dan berbelok di pertigaan.

“Aku ditinggal…” Tirza tertegun, tiba-tiba sendirian lagi di bawah terik matahari. “Diajak ke rumahnya kek, ditawari minum. Ini malah ditinggal. Mau apa sih dia?”

Tirza masih menggerutu dalam hati sambil berjalan ketika melihat Tatya menyusulnya, tanpa sepeda.

“Lho, mana sepedamu?” tanya Tirza.

“Aku tinggal di rumah. Nih.” Tatya memberikan sebotol air mineral pada Tirza, yang sebotol lagi langsung dia minum sendiri.

“Terima kasih,” ujar Tirza pelan, bingung. “Kenapa ditinggal di rumah?”

“Biar kita bisa jalan berdua. Biasanya aku ke sana naik sepeda, tapi kalau aku mengikutimu yang jalan pelan-pelan dengan naik sepeda, kan capek,” kata Tatya.

“Apa?” Ke sana, maksudnya ke pohon beringin? Tirza merasa belum menjawab kalau mau pergi ke pohon beringin atau tidak.

“Siapa bilang aku mau ke sana?” ujar Tirza.

“Kamu tidak mau melihat Roh Hijau?” tanya Tatya, tampak sangat heran.

“A.. itu.. Mau sih.. tapi...,” Tirza ragu-ragu.

Cerita tentang Roh Hijau sudah didengarnya sejak masih kecil dari ayah dan ibunya. Bagi Tirza, seperti dongeng sebelum tidur yang biasa, tapi sebenarnya mereka benar-benar ada, atau pernah ada, Tirza tidak yakin. Itu karena dia tidak pernah melihat sendiri. Ayah dan ibunya sebenarnya juga tidak pernah melihat yang disebut Roh Hijau itu, tapi kakek dan neneknya pernah, juga orang-orang lain di generasi kakek dan neneknya.

Dari cerita yang didengarnya dari kedua orangtuanya, dulu manusia bisa melihat Roh Hijau kapan pun dan di mana pun di hari yang cerah. Mereka, para Roh Hijau sangat senang dengan sinar matahari. Sedangkan saat malam hari, mereka beristirahat di rumah mereka, pohon-pohon tertentu yang tidak Tirza ingat semuanya. Dinamakan Roh Hijau tentu saja karena berwarna hijau, hijau transparan.

Anak-anak kecil senang sekali bermain bersama Roh Hijau karena wujud mereka yang katanya unik, hampir mirip seperti binatang, sejenis kucing, anjing, atau tupai bahkan rubah. Hanya saja, manusia tidak bisa menyentuh mereka karena mereka roh. Namun, manusia bisa merasakan hawa sejuk yang mereka timbulkan.

Entah karena sebab apa, jumlah Roh Hijau semakin berkurang dan akhirnya tak ada lagi yang tampak, bahkan di hari yang paling cerah dan terik sekalipun. Kata orang-orang tua, itu karena pohon tempat tinggal mereka sudah berkurang. Lahan-lahan di mana dulunya banyak terdapat pohon sekarang digantikan rumah-rumah dan gedung perkantoran. Sejak saat itu, Roh Hijau menyembunyikan diri dari manusia dan hanya bermain di antara mereka sendiri.

Itulah cerita yang disampaikan oleh kedua orang tua Tirza, juga orang tua anak-anak lain yang masih ingat menceritakan kenangan masa lalu dari generasi sebelum mereka. Bagi anak-anak di zaman sekarang, cerita itu adalah dongeng, tidak benar-benar terjadi, Roh Hijau tidak benar-benar ada. Mungkin beberapa anak percaya ketika mereka masih sangat kecil. Namun, rasa percaya itu semakin berkurang begitu si anak bertumbuh semakin dewasa hingga hilang sama sekali. Tapi semua anak pasti tahu tentang cerita itu, langsung dari orang tua mereka maupun orang lain.

Di dalam hati, Tirza sangat ingin bisa melihat Roh Hijau. Ajakan Tatya sulit untuk ditolak, tapi Tirza juga takut kalau ternyata Tatya berbohong. Melihat Roh Hijau sering dijadikan gurauan di antara teman-temannya, dan mungkin saja Tatya sedang bergurau dengannya. Pikiran ini membuat Tirza malu, berpendapat yang tidak-tidak tentang Tatya. Hanya ada satu cara untuk membuktikan perkataan Tatya, pergi ke pohon beringin.

“Kamu selalu ke sana ya?” tanya Tirza, berusaha menutupi keraguannya.

“Iya, rute wajib. Aku berputar di sekitar sini dulu, terus naik ke sana. Istirahat sebentar di pohon beringin, lalu turunnya lewat jalan lain dan langsung pulang. Tapi kadang-kadang aku ke kampung di balik sana, kalau sedang ingin,” kata Tatya, menjelaskan sambil menunjuk arah perjalanannya.

Tirza mengangguk-angguk. Jelas sekali Tatya hobi bersepeda.

“Kalau ke sekolah juga naik sepeda?” tanya Tirza lagi.

“Kadang-kadang, kalau bisa bangun pagi,” Tatya terkekeh. “Tapi biasanya naik sepeda motor.”

“Oh.”

“Kok tidak biasanya kamu keluar siang-siang?” tanya Tatya akhirnya.

“Aku… bosan di rumah,” jawab Tirza, “ingin jalan-jalan sebentar. Sumpek rasanya banyak tugas.”

“Iya, betul. Aku juga banyak tugas,” Tatya mendesah. “Tapi rasanya hidup ini juga tidak lengkap tanpa tugas.”

Tirza tertawa, sulit membayangkan Tatya duduk diam di rumah mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

Jadi mereka mengobrol sepanjang perjalanan menuju pohon beringin. Tatya ternyata cukup asyik, dan sepertinya orang-orang sudah kenal dengan Tatya. Jika kebetulan ada yang sedang duduk-duduk di teras rumahnya, nama Tatya dipanggil dan Tatya balas menyapa, kemudian ia memberitahukan pada Tirza nama orang itu. Ada juga yang Tirza kenal, tapi seakan dia yang pendatang baru di kawasan ini, bukan Tatya. Tirza bertekad akan lebih sering keluar rumah. Malu kan dengan Tatya.

Beberapa kali mereka berhenti untuk istirahat ketika jalan semakin menanjak. Tatya cukup sabar untuk menunggu Tirza. Udara yang panas membuat Tirza gampang lelah, dengan cepat air minumnya tinggal separuh.

“Lewat mana? Kiri atau kanan?” tanya Tirza ketika mereka tiba di pertigaan yang landai. Jalan yang ke kiri melandai kemudian turun lagi, yang kanan masih landai lebih jauh kemudian menanjak lagi dan berbelok ke kiri.

Di depan mereka bukan rumah, tapi dinding batu yang cukup tinggi dan memanjang entah sampai mana, seperti dinding sebuah benteng. Di tepi atasnya ada pagar besi karatan yang hampir tertutup semak tinggi yang tumbuh di baliknya. Pohon beringin tampak sangat besar, pasti ada di balik pagar itu.

“Kita ke kanan. Hampir sampai.”

Tirza mendesah lega. “Baguslah.” Keringatnya sudah bercucuran sejak tadi. Ia lihat Tatya juga berkeringat, tapi tidak terlihat lelah sama sekali.

Di sepanjang jalan selanjutnya tidak ada rumah. Hanya dinding batu di sisi kiri dan jurang di sisi yang lain. Rumah-rumah ada di bawah jurang itu. Tirza bisa melihat pamandangan kota di bawah hingga ke cakrawala. Angin yang bertiup mengeringkan keringatnya. Jalan yang mereka lalui cukup lebar, jadi tidak perlu khawatir terlalu dekat dengan sisi jurang. Di beberapa bagian juga dibatasi dengan semak rendah dan pagar seng di bagian yang terlalu miring. Kadang ada sepeda motor yang lewat, naik ataupun turun.

Semakin lama, dinding di sisi kiri semakin rendah hingga hanya pagar besi karatan yang ada. Mereka telah tiba di tempat yang landai dan ada rumah lagi. Di depan, jalan tampak menurun. Di sinilah puncak bukit itu. Tirza bisa melihat kota yang terbentang di sekitar bukit itu, setidaknya di bagian yang tidak terhalangi rumah, juga kawasan perbukitan yang lebih tinggi jauh di sana, penuh dengan petak-petak kecil rumah, dengan jalan berkelok-kelok yang hanya berupa garis hitam jika dilihat dari sini.

“Kita masuk lewat sini,” kata Tatya. Dia sudah melangkahkan sebelah kakinya melewati pagar, di bagian yang salah satu besinya hilang hingga bisa menyelip di antaranya.

Ternyata ada bangunan besar di sana, di balik pagar. Atau dulunya bangunan besar karena sekarang sudah roboh, hanya puing-puing tembok yang tersisa. Di belakang bangunan itu pohon beringin berdiri.

Tirza mengikuti Tatya menyelip melewati pagar.

“Ini tempat apa?” tanya Tirza.

Tatya menatap Tirza sambil mengernyit.

“Apa?” ujar Tirza menanggapi tatapan Tatya.

“Masa kamu tidak tahu?”

Tirza berpikir. “Mungkin tahu, tapi aku lupa.” Ia tertawa karena kebodohannya.

“Dulunya ini sanatorium.”

“Oh, iya, betul. Aku pernah diberitahu ibuku.”

Mereka berjalan melintasi jalan tanah di halaman (bekas) sanatorium. Di sekitar reruntuhan bangunan tumbuh ilalang yang hampir setinggi mereka. Tatya berjalan ke arah dekat ke pagar di mana tampaknya tidak ada reruntuhan bangunan dan ilalang tumbuh lebih rapat.

“Sekarang lewat mana?” tanya Tirza, di depan mereka sepertinya tidak ada jalan lagi untuk menuju pohon beringin.

“Ikuti aku.” Tatya maju, melompati selokan kecil dan menyibakkan ilalang yang menghalangi jalannya.

“Ayo, lewat sini,” panggil Tatya ketika Tirza tidak beranjak.

“Tidak ada ularnya kan?” tanya Tirza takut-takut.

“Selama ke sini aku belum pernah lihat ada ular. Ayo. Jangan jauh-jauh di belakangku.”

Tirza pun mengikuti Tatya dan berjalan hampir menempel ke punggungnya. Ternyata mereka melalui jalan setapak yang sangat sempit, tapi tidak tampak karena tertutup ilalang.

Tidak berapa lama, ilalang menghilang, digantikan jalan berbatu dengan rumput-rumput pendek. Dan Tirza tertegun melihat pemandangan di depannya. Itu pohon beringinnya, berdiri megah menaungi lapangan kecil berumput. Batangnya sangat besar, di pangkalnya terdapat akar-akar yang besar pula, akar-akar gantungnya menjuntai hingga menyentuh tanah, daun-daunnya sangat rindang dan tampak gelap.

“Keren,” ujar Tirza, sesuatu seperti menggelitik dadanya. Untuk sesaat, dia melupakan Roh Hijau.

Tatya tersenyum melihat reaksi Tirza.

“Hebat kan.” Tatya berjalan di sisa jalan setapak menuju lapangan kecil.

Tirza melihat sekeliling. Reruntuhan bangunan, pohon beringin, lapangan rumput, pemandangan kota. Semua ini luar biasa. Seakan dia sedang berada di tempat yang sangaaat jauh dari rumah. Dan di sini udaranya tidak panas. Rasanya ingin berbaring di atas rumput itu.

Tirza berlari kecil ke gundukan di bawah pohon beringin dan membaringkan dirinya di tanah miring berlapis rumput.

“Rasanya nyamaaan….”

Tatya tertawa. “Aku juga begitu waktu pertama datang ke sini.”

Tirza bangkit, menyadari sesuatu. “Mana Roh Hijaunya?” Dari tadi dia tidak melihat roh apapun.

Tatya menoleh ke sekitarnya. “Mereka sembunyi tahu kita datang.”

“Apa mereka akan muncul?”

“Kuberitahu caranya.” Tatya menghampiri Tirza, meletakkan botol minumnya yang isinya hanya berkurang sedikit di samping botol minum Tirza dan berbaring nyaman di dekat Tirza dengan kedua tangan diselipkan di belakang kepala. “Nikmati saja suasana di sini, mereka akan muncul.” Tatya menutup matanya.

Tirza masih menatap Tatya beberapa lama, tapi ia tak ada tanda-tanda akan mengatakan lebih banyak lagi. Jadi Tirza kembali berbaring, selama sesaat melihat dahan-dahan beringin di atasnya. Sesekali terdengar suara burung berkicau di atas sana. Mungkin ada beberapa sarang burung yang tersembunyi di baliknya. Tirza pun menutup mata.

Angin yang berhembus membuat suara gemeresik pelan dan dalam ketika menggoyangkan daun-daun pohon beringin dan berusaha menyelinap di antaranya. Kicauan burung kadang terdengar satu-satu, bersahutan, atau bersamaan. Jika lebih jeli lagi, ada suara jangkrik entah di mana di antara ilalang.

Tirza merasa damai. Seandainya sejak dulu ia ikut dengan Tatya, pasti menyenangkan sekali. Pohon beringin yang menghalangi sepenuhnya sinar matahari membuat udara di bawahnya terasa sejuk dan segar. Kadang hangat ketika angin yang membawa udara panas bertiup.

Tiba-tiba Tirza merasa udara menjadi lebih sejuk di sekitar wajahnya, seperti ada yang menggelitik pipinya. Tirza membuka matanya. Sesuatu dengan wajah seperti kucing dan bermata lebar sedang mengamati di dekat kepalanya.

“Wuaaa!!!” Tirza terlonjak, hampir menindih Tatya yang masih berbaring dan langsung bangun.

“Ada apa?” tanya Tatya kaget.

Tirza merapat di sebelah Tatya, menatap sesuatu itu, jantungnya berdebar kencang di dalam dadanya.

“Itu-itu,” Tirza tergagap.

Bentuk dan besarnya seperti kucing dewasa. Telinga seperti kucing, mata bulat seperti kucing, dengan ekor yang panjang seperti kucing. Tapi di ujung keempat kakinya rambut-rambutnya lebih panjang, juga di ujung-telinganya. Selain itu, warnanya hijau transparan.

Tatya tertawa. “Tenang, kamu takut dicakar atau digigit?” godanya.

“A-aku kaget,” Tirza menelan ludah dengan susah payah dan berusaha melambatkan detak jantungnya.

“Mereka tidak berbahaya kok,” kata Tatya.

Selama itu, si “kucing” melayang naik dengan melompat-lompat, seperti ada tangga tak kasat mata di udara. Beberapa saat kemudian, muncul kabut-kabut hijau di sekeliling batang pohon beringin, dan membentuk menjadi makhluk yang mirip seperti yang pertama. Ada yang lebih besar, ada yang lebih kecil. Tirza tidak bisa menghitung jumlah mereka karena mereka kadang muncul kadang menghilang dan menyebar di sekitar lapangan.

“Sedang apa mereka?” tanya Tirza. Ia melihat ada dua Roh Hijau berkejaran di luar naungan pohon beringin, lalu tiba-tiba menghilang.

Tatya mengangkat bahu. “Bermain. Dari cerita yang turun-temurun, dikatakan bahwa Roh Hijau senang bermain di sekitar pohon, menikmati sinar matahari.”

Satu Roh Hijau melayang ke arah mereka. Bentuknya seperti anak anjing, dia berhenti di depan Tirza, sejajar lututnya, dan terus mengibaskan ekornya. Mata hijaunya yang lebih gelap menatap Tirza, beberapa kali berkedip, persis seperti anjing.

Tirza menoleh pada Tatya, tanpa kata bertanya apa yang harus dilakukannya.

“Ulurkan tanganmu,” kata Tatya.

Tirza mengulurkan tangannya kanannya ke depan Roh Hijau itu, seperti akan mengelus anjing. Terasa sejuk ketika Tirza hampir menyentuh kepalanya, tapi Roh itu tiba-tiba melayang ke atas tangan Tirza dan berputar mengelilingi Tirza.

Tirza tertawa melihat ulahnya. Di sekitar tubuhnya jadi terasa sejuk.

“Apa mereka biasa seperti itu?” tanya Tirza.

“Kadang-kadang,” Tatya ikut tertawa.

Lama-kelamaan, Tirza jadi terbiasa dengan kehadiran roh-roh itu. Mereka suka melayang-layang dan saling berkejaran.

“Aku ingin bawa pulang satu ke rumah,” kata Tirza.

Tatya tertawa. “Tidak mungkin. Mereka roh yang bebas, tidak seperti binatang peliharaan yang bisa dikasih makan dan diajak jalan-jalan. Kecuali kalau mereka memang tinggal di halaman rumahmu.”

“Tinggal di halaman rumahku?” tanya Tirza heran.

“Iya, tempat tinggal mereka kan pohon-pohon yang umum ada di halaman rumah.”

“Jadi bukan pohon beringin ini?”

“Bukan, pohon beringin hanya tempat bermain. Kalau sudah hampir malam mereka kembali ke pohon rumah mereka.”

“Pohon apa?”

“Apa ya. Aku tidak ingat, mungkin kamu bisa tanya ke ayah atau ibumu,” kata Tatya. “Orang tua sepertinya lebih tahu.”

“Apa orang tuamu tahu kamu bertemu Roh Hijau?” tanya Tirza, ingin tahu.

“Iya, mereka tahu.”

“Mereka percaya?”

“Percaya tidak percaya. Mereka senang mendengar aku bisa bertemu dengan Roh Hijau, tapi tidak tertarik lebih jauh. Orang dewasa sulit dialihkan perhatiannya dari kegiatan mereka yang lebih serius.”

Tirza memikirkan kata-kata Tatya. Apa pendapat ayah ibunya kalau dia cerita pada mereka. Apakah mereka ingin bertemu Roh Hijau juga atau menerima begitu saja ceritanya tanpa tertarik lebih jauh, seperti orang tua Tatya?

Telepon seluler di kantong celana Tirza tiba-tiba berbunyi. Dari ibunya.

Tirza, kamu ke mana? Cepat pulang, ibu mau pergi sebentar lagi,” kata ibu Tirza di seberang sana.

“Iya, aku pulang,” kata Tirza pada ibunya.

Setelah mematikan telepon, Tirza berkata pada Tatya, “Aku harus pulang,” walau dengan berat hati.

“Ya sudah, ayo.”

“Apa kita harus berpamitan pada mereka?” tanya Tirza.

“Lambaikan saja tanganmu. Seperti ini,” Tatya melambaikan tangannya. “Daahh..”

Roh-roh Hijau itu mengerti, dan melompat-lompat menatap Tirza dan Tatya sambil mengibaskan ekor mereka.

Tirza melambaikan tangannya dengan semangat. “Daahh.. Kita pasti bertemu lagi.”

Selama perjalanan pulang yang tidak menguras tenaga, di dalam kepala Tirza muncul beberapa nada yang sepertinya tepat untuk syair Bobby. Nada-nada itu datang jika dia mengingat saat berbaring di bawah pohon beringin dan Roh-roh Hijau yang suka melompat.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Penulis d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Hijaunya Nada (3 years 46 weeks ago)
70

Sempat merasa ceritanya seperti diulur2. Menanti2 mau menceritakan apa. Curiga bakal ada sesuatu yang menegangkan nantinya mengenai roh hijau itu, tapi suasananya kok santai2 saja. Kaget cuman waktu bertemu roh hijau yang ternyata berwujud hewan. Juga bertanya2 maksud keberadaan Bobby. Tapi semua itu menjadi terpahami setelah sampai di akhir dan membaca komen2 hehe.

Penulis sabbath
sabbath at Hijaunya Nada (3 years 44 weeks ago)

terima kasih sudah mampir dan berkenan membaca... :D

red_rackham at Hijaunya Nada (6 years 15 weeks ago)
90

O_____O

Speechless.....

Cerita fantasy + slice-of-life yang heartwarming sekali...

Tadinya waktu saia baca kamu mau menampilkan Roh Hijau en biasa tinggal di pohon...di kepala saia terbayang para Dryad. Rupanya wujudnya mirip kucing atau anjing :-D but that's okay (^___^)b

I love this one~!

Penulis sabbath
sabbath at Hijaunya Nada (6 years 14 weeks ago)

makasih... ^^
salam kenal...
kalau Dryad kan udah umum... ehehe... aku pingin bikin yang beda...

Penulis just_hammam
just_hammam at Hijaunya Nada (6 years 15 weeks ago)
80

Cerita kamu direkomendasikan oleh Rea_sekar http://www.kners.com/showpost.php?p=22593&postcount=6, dan tidak menyesal aku membacanya. Menyenangkan.
Kalau aku yang agak mengganggu pemilihan namanya, karena mirip aku jadi bingung ini Tirza yang mana Tatya yang mana, untungnya akhirnya paham sendiri setelah lanjut terus saja hehehe...
Selamat, cerita yang indah.

Penulis sabbath
sabbath at Hijaunya Nada (6 years 14 weeks ago)

terima kasih tautannya... ^^
terima kasih lagi untuk komen dsan poinnya... hehe...
Tirza dan Tatya itu dua nama yang kedengarnnya unik, jadi aku pakai.. ^^

Penulis kasurterakhir
kasurterakhir at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)
100

nice idea..salam kenal

Penulis bektiperanoto
bektiperanoto at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)
90

(^_^) Good

Penulis Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)
100

Seperti sebelumnya, deskripsinya menghanyutkan.

Ini ceritanya lebih condong ke cerita fantasy/dongeng anak kalau menurutku, ceritanya ringan dan terkesan ceria. Salut... ^^

Penulis sabbath
sabbath at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)

makasi Zoe.. ^^
yups, memang fantasi yang sederhana aja.. ^^

Penulis Rea_sekar
Rea_sekar at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)
80

Wah wah wah, tante sabbath sepertinya hebat dalam soal deskripsi! +2 untuk itu! Lalu, konsep roh hijaunya bagus. Saia merasa sejuk hhe (sejuk AC di kamar, sih). Kerenyahan cerita ini mendapat +1 juga.
.
Saia butuh cerpen seperti ini lagi... *ketagihan*

Penulis sabbath
sabbath at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)

terima kasih! ^^
waduh, sampe ketagihan.. >.<
saya baru saja mendapat ide utk cerpen selanjutnya. temanya msh seputar anak sekolah dg sentuhan fantasi *bocoran sedikit*
hehe...

Penulis sunil
sunil at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)
80

aku setuju dengan herjuno. penceritaannya bagus. nice. good job. ^_^

Penulis sabbath
sabbath at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)

terima kasih sunil...
salam kenal.. ^^

Penulis herjuno
herjuno at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)
80

Lovely. Cerita ini bagus dan simpel,dan sedikit sentuhan fantasi membuatnya jadi jauh lebih bagus. Fitur yang paling saya suka adalah pemilihan setting tempat dan deskripsinya. Jarang sekali ada yang menggunakan setting bekas sanatorium. Kemudian, bagaimana kamu mendeskripsikan perjalanan ke sanatorium lewat bukit itu juga mantap, hehe. Hanya saja ada beberapa dialog yang aneh, seperti: “Tidak dari mana-mana dan tidak mau ke mana-mana. Sama denganmu, hanya berkeliling.". Kurang alami, menurutku.
.
Keep writing!

Penulis sabbath
sabbath at Hijaunya Nada (6 years 40 weeks ago)

Terima kasih.. ^^
aku sudah lama ingin buat cerita dengan setting tempat itu, tapi baru sekarang akhirnya bisa terwujud. hehe..
wah, deskripsi perjalanannya mantap? gak mengira ada yang kasih pendapat seperti itu.. =p
.
sedang belajar membuat dialog.. lain kali akan aku perbaiki.
terima kasih lagi utk komentarnya.
(_ _)