Album Foto

Duduk sendiri di teras, melihat anakku yang baru berumur tujuh tahun bermain-main di halaman depan dengan bola kesayangannya. Ada rasa senang yang timbul di hatiku tatkala melihat anakku bisa ceria, tapi itu rasa itu hanya muncul sedikit saja. Sebagian besar perasaanku saat ini kosong.

Entah apa yang merasuki pikiranku saat ini, mendadak aku ingin mengambil album foto keluarga yang kusimpan di lemari. Anakku masih bermain halaman dan kurasa ia aman-aman saja di sana sementara aku meninggalkannya sebentar hanya untuk mengambil album foto.

Album foto yang kusimpan di lemari, belum berdebu dan usang seperti yang ada di lagu “Bunda” ciptaan Melly Goeslaw. Bisa dibilang cukup baru karena album ini berisi foto-fotoku bersama suami dan anakku, diisi dengan foto ketika aku dan suamiku masih berpacaran di saat kuliah dulu, hingga foto terakhir yang dimasukkan, yaitu dua tahun yang lalu.

Aku kembali duduk di kursi teras dan setidaknya aku masih melihat anakku menendang-nendang bola ke tembok, yang membuat tembok hijau terasku terkena noda cokelat tanah yang menempel di bola. Kubiarkan noda itu menempel di sana sebentar dan kubuka halaman pertama album yang kupegang ini.

Di sana ada foto yang diambil oleh salah satu temanku saat di kelas 1-J Akuntansi dulu. Itu adalah foto ketika aku berdebat dengan suamiku di kelas karena hal yang sepele: aku lupa membawa spidol dan penghapus kelas yang merupakan tanggung jawabku sebagai sekretaris kelas. Yah, jujur saja aku memang orang yang pelupa, contohnya saja spidol dan penghapus ini, di lain hari aku lupa mengambil daftar absen kelas di sekretariat, lupa membawa KTM, lupa ruangan kuliah, bahkan di kostan pun aku lupa membawa kunci kamar yang masih tergeletak di atas kulkas di lantai bawah. Hampir semua teman dekatku tahu hal ini, sampai-sampai aku ingat ada salah satu temanku yang dari Bekasi meledekku, “jangan sampai nanti pas suamimu kerja dinas ke luar kota atau ke luar negeri, terus kamu lupa kalo punya suami.” Tidak akan, jawabku dalam hati.

Yah, semenjak menikah dengan suamiku, kuakui kalau kebiasaan pelupaku semakin berkurang. Hampir setiap saat ia mengingatkan berbagai hal agar aku tidak lupa. Aku merasa jadi perempuan yang bodoh kala aku menyadari aku melupakan sesuatu.

Masih ada satu foto lagi di halaman pertama, yaitu foto wajahku yang dipenuhi bedak. Hari itu aku dan teman-teman (tentu saja ada suamiku di sana yang saat itu status kami masih sekedar teman sekelas saja) bermain poker di kostanku yang cukup luas. Kami membuat peraturan: yang kalah berhak menerima bedak di wajahnya. Dan entah mengapa saat itu aku sering kalah dan hasilnya wajahku dipenuhi bedak, seperti di foto ini. Mungkin saat itu dewi fortuna sedang berpaling dariku dan berbalik memihak suamiku yang wajahnya bersih dari noda bedak.

Di halaman kedua, aku mendapati sebuah foto yang cukup membuatku tertawa ketika mengingat-ingatnya. Foto itu adalah fotoku dan Kenya, teman satu kamarku di kostan dulu, saat sedang membuat video lipsync dari lagu Melinda yang berjudul Cinta Satu Malam. Sebenarnya video itu hanya kerjaan iseng kami saja, karena waktu itu kegiatan perkuliahan belum terlalu sibuk dan kami mahasiswi rantau dari Bandung belum tahu tempat-tempat yang menarik di Jakarta — Bintaro ini. Jadi kami di kamar berinisiatif untuk membuat video lipsync yang seharusnya pribadi itu. Dibilang ‘seharusnya pribadi’ karena beberapa bulan setelahnya salah satu temanku menemukan video itu di HP-ku. Alhasil tersebarlah video itu di beberapa teman kelasku dan teman Kenya di kelasnya. Aku sempat membayangkan video itu sampai ada di YouTube dan dilihat jutaan orang hingga muncul sebagai bahan perbincangan di televisi, lalu ibuku shocked melihat itu di TV, dan aku dan Kenya pun di-DO dari kampus karena membuat video yang membuat gempar Indonesia itu (well, yang ini terlalu berlebihan). Okey, pikiranku terlalu jauh. Aku pun membalik halaman dengan cepat.

Dan di halaman berikutnya ada foto saat aku dan suamiku memerankan tokoh Romeo dan Juliet di audisi pentas seni ospek jurusan Akuntansi di kampus. Di foto itu aku dan suamiku memegang masing-masing ujung selendang berwarna jingga dari kejauhan. Kejadian selanjutnya adalah aku berputar dengan menggulungkan selendang di badanku dan mendaratkan tubuhku di pelukan suamiku yang sedang memerankan sang Romeo. Di audisi itu kelas kami kebagian untuk menunjukkan sit-kom, jadi kami membuat semacam plesetan cerita Romeo dan Juliet. Jujur saja, persiapan kami untuk audisi itu kurang sekali. Bahkan saat audisi pun banyak kesalahan yang dibuat, tapi karena kesalahan itu lah para juri dan penonton yang tersisa tertawa dan kelas kami pun lolos audisi. Yah, sebenarnya aku tidak berniat untuk lolos, karena nantinya penampilanku akan ditonton 1200-an orang dan tentu saja aku malu. Tapi karena ada acara ini, aku jadi bisa mengenal calon suamiku lebih dalam lagi. Dan di hari itulah aku merasa jatuh cinta padanya.

Di halaman sebelahnya ada foto suamiku yang sedang berdiri di depan air mancur kampus dengan kedua tangannya yang disembunyikan di belakang tubuh kurusnya. Aku ingat dia bilang kalau ini adalah foto pertamanya di depan air mancur. Yang aku suka dari foto ini adalah wajah suamiku yang lucu seperti anak kecil. Jauh di balik tampangnya di foto ini, ia sangat dewasa dan bertanggung jawab.

Lalu ada lagi foto suamiku yang sedang berdiri di jendela kelas, menghadap ke taman kampus yang ada di luar. Seingatku waktu itu adalah saat dosen Bahasa Inggris kami mengumumkan nilai UTS. Katanya suamiku mendapat nilai di bawah rata-rata, padahal dia sangat jago bahasa Inggris terutama saat ada tugas presentasi di kelas Bahasa Inggris. Ia bisa membawakan presentasi sangat baik, sampai dosen yang tadinya tertidur langsung bangun dan senyum-senyum melihat gayanya berpresentasi. Lalu setelah kuliah selesai, dia berdiri di sana beberapa menit. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin ia sedang galau saat itu. Dan kebetulan ada temanku yang diam-diam mengambil foto ini.

Di halaman selanjutnya ada foto suamiku dengan sepiring penuh nasi beserta lauknya. Kalau makan dia memang suka di tempat yang menyediakan nasi banyak. Itulah yang membuatku heran. Saat di kampus dulu, di mana kehidupan anak kost harus mengirit pengeluaran, dia sehari bisa makan tiga – empat kali tapi tubuhnya tidak juga gemuk. Bahkan sampai kami menikah pun dia tidak juga gemuk, walau sudah kuberi masakan dengan nasi dan daging yang banyak.

Ah, ada lagi foto yang menarik di sini. Ini foto ketika kami dan teman-teman karaokean di dekat kampus. Dan di foto ini aku dan suamiku berduet menyanyikan sebuah lagu. Aku tidak terlalu ingat dengan persis lagu apa yang kami nyanyikan saat itu, karena sejujurnya aku sedikit terganggu dengan nyanyian suamiku. Perlu kau ketahui, suamiku tidak berbakat dalam hal musik, baik itu menyanyi ataupun memainkan alat musik. Dia benar-benar buta nada. Walau begitu ia tetap suka mendengarkan musik dan menyanyikan beberapa di antaranya ketika tidak ada orang di sekitarnya. Beberapa kali aku mendapati suamiku menyanyi pelan di teras saat aku tengah berada di dapur.

Foto-foto di halaman selanjutnya berisi kenangan kami selama di kampus. Bersama teman-teman, di taman kampus, di kelas, di sebuah acara kampus di mana kami menjadi panitianya, saat jalan bersama, baik bersama teman-teman maupun hanya berdua saja.

Dan aku tidak melewatkan foto yang diambil oleh salah seorang temanku dari jendela kereta, foto saat suamiku menggenggam tanganku pertama kalinya di stasiun. Waktu itu di liburan semester dua, kami dan beberapa teman dekat kami di kelas, berencana untuk pergi ke Jogja dengan kereta. Tapi di tengah jalan, aku ditelpon ayahku yang bilang kalau ibu sakit, jadi aku harus segera sampai di rumah secepatnya. Jadi, mau tidak mau aku harus turun di stasiun terdekat dan segera kembali ke rumahku di Bandung. Sewaktu aku hendak turun dari kereta, tiba-tiba ada di antara kami yang juga ikut turun. Dia lelaki yang sama yang selalu meledekku di kelas, di twitter, dan aku sering dijahili olehnya, dialah orang yang menjadi suamiku sekarang. Sebelum yang lain bertanya, ia sudah memberi jawaban, “Dia ini perempuan, kasihan kalau sendirian. Apalagi ini sudah malam dan Tami belum tahu daerah ini, jadi lebih baik kalau aku temani.”

Lidahku kelu, tubuhku pun bergeming, bahkan aku lupa bernafas, tapi hatiku berdegup cepat, mengikuti irama hatiku saat itu. Saat itu aku speechless, tidak menyangka kalau dia akan berkata begitu. Aku mau saja bilang “tidak usah repot-repot, aku bisa jaga diri,” tapi ia sudah keburu turun dan pintu kereta sudah tertutup. Aku bisa melihat kebingungan semua teman-temanku di wajah mereka yang dibatasi kaca jendela. Pria di sebelahku ini melambaikan sebelah tangannya pada teman-teman di kereta hingga mereka tidak terlihat lagi. Kemudian aku berpikir, kenapa aku tidak ikut melambaikan tangan juga, seperti kebiasaan dua orang teman ketika berpisah di jalan? Lalu aku menyadari bahwa tangan kiriku tidak bebas. Tangan kanan pria itu mengepal tanganku. Aku makin tidak habis pikir, apa yang merasuki orang ini?

Lalu dia pun menarik tanganku seraya berkata, “Ayo Tam, kita cari tiket balik.” Tanganku tertarik olehnya tapi tubuhku tak mau menurut dengan arah gerakan itu. Aku terlalu bingung. “Tunggu, Ko. Hari ini kamu aneh,” kataku sambil mengalih pandang ke tanganku yang digenggamnya. Mungkin saat itu dia tidak sadar, jadi buru-buru ia melepas genggaman tangannya padaku. “Maaf,” katanya.

Setelah itu kami pun berjalan pelan dalam kebisuan. Langit malam yang tak ingin bersuara, kegiatan stasiun yang hanya berisi sedikit orang, begitu pula kami berdua. Tidak ada yang berkata selama sepuluh menit, sampai ia mengatakan, “Tami, aku cinta kamu.”

Foto yang berisi momen tak terlupakan itu. Yah, sejak malam itu kami berpacaran. Mengisi beberapa lembar halaman album foto ini dengan foto-foto kenangan saat kami menjalani masa pacaran yang kurang lebih empat tahun. Setelah empat tahun, kami menikah dan hanya setahun setelah itu aku melahirkan Hasta, anak laki-laki kami yang saat ini duduk di tengah halaman dengan bola di sampingnya.

Hampir separuh halaman album ini berisi fotoku, suamiku, dan Hasta. Kebanyakan dari foto-foto itu ada di berbagai tempat yang berbeda. Yah, suamiku memang suka jalan-jalan ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Ia punya prinsip, “mumpung masih, muda, masih bisa jalan-jalan ke mana aja. Kalo udah kerja, sibuk, dan udah nikah nanti, udah susah buat jalan-jalan.” Aku tidak ingin menghancurkan impiannya itu, jadi walau kami menikah di usia muda, kami sering menabung untuk membeli tiket pesawat, kereta, atau bis. Mengelilingi Indonesia. Yah, dalam tujuh tahun ini kami sudah mengunjungi berbagai pulau besar dan objek wisatanya. Kami pun punya tujuan untuk mengunjungi Paris, kota yang dikenal sebagai kota cinta itu, tapi apa boleh buat, itu sudah tidak mungkin lagi.

Sabtu, 4 Juli 2020. Hari itu takkan pernah kulupakan. Hari di mana semua kebahagiaanku berbalik menjadi kesedihan. Pagi hari itu, ketika bangun tidur, aku mendapati suamiku tidak ada di sisi lain tempat tidur. Aneh, pikirku, karena biasanya aku yang harus membangunkannya dari tempat tidur kalau mau berangkat ke kantor (mengingat suamiku ini susah bangun pagi). Aku beranjak ke dapur, mengecek apakah ada pesan yang biasa ditempelkan di pintu kulkas, tapi tidak ada. Aku melangkah ke kamar mandi, dan di sana hanya tergeletak pakaian-pakaiannya, seperti biasa. Aku memungutnya dan memasukkannya ke mesin cuci. Aku pun beranggapan dia sudah berangkat ke kantor, karena motornya sudah tidak ada di parkiran rumah. Yah, mungkin saja ia harus berangkat pagi ke kantor karena ada meeting penting dan ia tidak ingin mengganggu tidurku.

Rencana awalanya aku ingin membangunkan Hasta untuk bersiap ke sekolah, tapi begitu dibangunkan ia berkata, “Ma, ini kan hari sabtu, sekolah libur.” Sekali lagi kebiasaan pelupaku kambuh. Aku lupa kalau hari itu hari sabtu, dan seharusnya suamiku pun libur. Lalu ke mana gerangan perginya suamiku?

Hari itu aku mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Diselingi dengan menonton berita dan sedikit infotainment di TV, sementara Hasta bermain Playstation di kamarnya. Hari pun menjelang sore dan aku bertanya-tanya ke mana suamiku pergi. Akhirnya aku menelpon HP-nya dan ia menjawab, “iya, sayang, sebentar lagi aku pulang. Kamu jangan tidur dulu ya.” Setelah itu aku menunggu, menunggu, dan menunggu hingga pukul sebelas malam. Hasta sudah tidur dan aku masih menunggu suamiku pulang. Kucoba menelponnya lagi, tapi tak diangkat. Aku pun mulai gelisah.

Lalu tidak lama setelah itu, telpon rumah berbunyi, langsung saja kuangkat karena aku yakin itu pasti dari suamiku. Tidak mungkin ada yang mau menelpon jam sebelas malam, kan? Tapi begitu kuangkat, ternyata panggilan itu dari rumah sakit. Mereka bilang suamiku mendapat kecelakaan. Sore itu motornya ditabrak oleh truk yang ugal-ugalan sepeda motornya hancur dan ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Shocked ? Jelas! Aku ragu mau membangunkan Hasta, jadi aku keluar rumah sendirian dan langsung mencari taksi dan menuju ke rumah sakit. Aku tidak berpikir apa-apa lagi selain berdoa pada Tuhan agar suamiku selamat dan bisa segera pulang ke rumah.

Tapi semuanya terlambat. Saat sampai di sana, aku melihat suamiku yang terbaring di kasur rumah sakit itu sudah tak bernyawa. Malam itu aku tidak tahu harus berteriak, menangis, atau apa. Aku cuma bisa mengatupkan kedua tanganku di depan mulut sambil meneteskan butira-butiran air mata yang mengalir deras sederas aliran di hulu sungai. Dokter yang ada di situ hanya menyuruhku tabah, tapi tetap saja aku goyah karena rasa kehilangan yang mendera begitu cepat ini. Apa yang harus kukatakan pada Hasta nanti?

Salah seorang perawat datang menghampiriku yang tengah memegangi tangan suamiku yang masih hangat, berharap keajaiban datang dan ia kembali bangun dan bisa pulang ke rumah. Perawat itu memberikan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado dengan pita berwarna cokelat di atasnya. Perawat itu bilang kotak itu ditemukan di dekat lokasi kecelakaan, dan yakin kalau kotak itu milik si pengendara motor.

Setelah perawat itu pergi, aku membukanya perlahan. Di dalam kotak itu berisi tiga lembar tiket pesawat dan sekotak cokelat dengan bungkus yang sangat elegan. Aku tahu cokelat itu. Itu cokelat Fererro Rocher, cokelat mahal yang sangat kuinginkan. Di samping itu, ada selembar kertas yang ditekuk. Sebuah surat. Itu surat singkat dari suamiku yang isinya, “Selamat ulang tahun, sayang. Aku tahu kamu pasti lupa kalau ini hari ulang tahun kamu, jadi aku sengaja pulang malam biar bisa jadi orang yang ngucapin selamat ulang tahun terakhir. Dan ini kado ulang tahun dariku. Ini tiga lembar tiket pesawat untuk kita pergi ke Paris minggu depan, dan cokelat yang kamu suka. I love you honey.”

Yah, itu saat-saat terakhir yang tak pernah bisa kulupakan. Bahkan begitu bodohnya aku sampai lupa dengan hari ulang tahun sendiri. Dan gara-gara itu, suamiku meninggal.

Aku menutup album foto ini keras-keras dengan berlinangan air mata. Tidak bisa kupungkiri kalau aku sangat merindukan Kiko, suamiku saat ini. Kiko, seandainya saja waktu itu.... Ah, sudahlah, tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Aku hanya berharap kalau bisa diberi waktu satu jam saja untuk bertemu denganmu kembali.

Selembar foto keluar dan terjatuh dari dalam foto. Foto itu keluar dari halaman paling belakang album. Seingatku aku tidak pernah meletakkan foto apapun di halaman terakhir. Kuambil foto itu. Foto itu adalah foto setengah badan, di mana Kiko, suamiku melingkarkan tangan kanannya di bahuku sambil mengacak-acak rambutku, dan kepalaku tengah bersandar di bahunya. Wajahnya tampak bahagia, senyumnya merekah dan menampilkan sederet gigi putih yang rapi. Aku lupa kapan foto ini diambil, tapi aku yakin selama ini suamiku lah yang menyimpannya dan diam-diam menyembunyikannya di halaman terakhir album foto kami.

Foto ini makin membuatku rindu dengan suaranya, tawanya, celetukannya, gaya berbicaranya, teriakannya, cara makannya, wajahnya saat tidur, tatapannya, dan semuanya. Aku sangat rindu. Air mataku mengalir sampai aku tidak sadar kalau Hasta berdiri di sampingku seraya bertanya, “kenapa Mama nangis?”

Dan aku pun segera menghapus air mata di pipiku dan berusaha tetap tegar. “Mama ga papa kok, Has.” Kataku sambil memainkan rambut Hasta yang modelnya mirip dengan rambut ayahnya.

“Mama jangan nangis lagi, lihat, itu Ayah juga ikut sedih kalau Mama nangis.”

Sontak aku kaget mendengarnya. “Apa maksudmu, Has?” Jujur aku tak mengerti.

Tangan Hasta menggapai udara di sebelahnya, seakan ada seseorang yang meraih uluran tangan Hasta itu. “Ini Ayah, Ma. Hari ini Ayah pulang lagi.”

Bukannya tak mau mengecewakan perasaan Hasta yang masih polos ini, tapi tidak ada siapa-siapa di sebelahnya. Waktu Kiko meninggal, aku memang bilang pada Hasta kalau ayahnya pergi jauh. Mungkin karena itu Hasta jadi suka berimajinasi.

“Aku tidak bohong, Ma. Ini Ayah.” Hasta terisak, ia kecewa karena aku tidak memercayainya. “Sejak tadi ayah bermain bola bersamaku di halaman. Terus karena capek, jadi kami duduk di sana.” Kata Hasta sambil menunjuk halaman tempat ia bermain tadi.

Semuanya sulit dipercaya, sampai tiba-tiba ada hembusan angin kencang dan aku merasakannya, sentuhan lembut di pipiku, seperi sentuhan tangan Kiko yang khas. Kiko, suamiku ada di sini.

Lembaran foto tadi terbang tepat ke depan wajahku, aku menangkapnya. Di balik foto itu ada sebuah tulisan yang ditulis dengan tinta hitam. Tulisan tangan Kiko yang khas: tebal, cepat, bersambung dan miring ke kanan itu. Tulisannya: “If we believe in each other, our hearts won’t be apart, even worlds separate us.”

Aku hanya bisa menjawab tulisan itu dengan anggukan kepala. Ya, Kiko, aku takkan sedih lagi. Kini aku tahu kalau kau masih mengawasi kami berdua di sini untuk menjalani hidup yang lebih baik. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, tinggal bagaimana kita menghias kehidupan ke depan menjadi lebih baik, walau tanpa orang yang kita cintai.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Album Foto (3 years 3 days ago)
90

ohh my God... I give you 9 point... bener-bener tulisan yang perfect.. tutur bahasa yang ringan, penggarapan yang gak buru-buru, and ending yang menakubkan...
pergantian alurnya tepat banget...
terus nulis ya.. saya tunggu.. salam kenal :)

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Album Foto (3 years 3 days ago)

Terima kasih poinnya. ^_^ jadi ga enak kalo dibilang perfect, aku masih belajar. (*^_^*)
salam kenal juga.

Writer SR_2127
SR_2127 at Album Foto (3 years 3 days ago)
100

Nangis baca ini...
Ceritanya bagus, gak bosen baca flash backnya.
Keren!

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Album Foto (3 years 3 days ago)

Aduh, maaf ya sampe bikin nangis. :)
saya juga ga bosen baca tulisan yg satu ini.

Writer herjuno
herjuno at Album Foto (3 years 36 weeks ago)
80

Pergantian mood-nya menakjubkan, dari flashback penuh kenangan ke alur maju yang penuh kesedihan. Nice one, tidak ada alur yang patah, apalagi plothole. Endingnya juga mantap. Hohoho.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Album Foto (3 years 36 weeks ago)

Wew, makasih komennya.
Waktu nulis ga nyangka bisa jadi begini.
Ngebayangin jadi si tokoh ceweknya bikin nangis. T.T

btw, plothole itu apa? (sumpah, ga tahu) dan alur patah itu yang kayak gimana?

Writer yuu_chan
yuu_chan at Album Foto (3 years 36 weeks ago)
100

hiks.. ='(

d0_0b

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Album Foto (3 years 36 weeks ago)

Sedih ya?
Waduh, maaf, jadi bikin nangis. (_ _)