Will You Still Marry Me...?

Segalanya seperti yang selalu kuimpikan.

Hamparan permadani hijau ditaburi kelopak-kelopak mawar memenuhi seluruh lantai. Seperti padang bunga yang kubayangkan dalam khayalan-khayalan masa kecilku. Ada tumpukan bunga mekar yang tersemat di setiap sudut—dipetik segar dari seluruh penjuru kota. Daisy, yang selalu kusuka. Warna putih dan kuning cerah bertebaran disana-sini.

Ballroom itu memuat lebih dari tiga ratus orang. Saat ini sedikit di antara mereka—dalam kostum putih itu—mondar-mandir sibuk menenteng segala hal yang seperti tidak beres-beres juga sejak beberapa hari sebelum ini. Mikrofon-mikrofon, pita-pita, tali-temali. Gadis-gadis cantik sudah berdiri anggun di meja tamu yang panjang itu. Di sisi-sisi mereka berbaris papan-papan ucapan selamat dari entah siapa-siapa.

Kuangkat kain kebaya putihku, suaranya gemerisik saat aku berjalan ke sisi jendela. Jam setengah sembilan, lebih sedikit. Di halaman hotel, di bawah sana, dua mobil sedang merapikan posisi parkir. Jazz dan Yaris hitam. Mereka terlihat seperti sepasang kecebong yang berusaha mendekati satu sama lain.

Dua orang keluar dari masing-masing kecebong itu. Laki-laki dan perempuan. Sepupu-sepupu Rasya. Dibelakang mereka kendaraan-kendaraan lain sedang mengantri untuk masuk.

Kutatap lagi jam dinding itu. Jangan datang. Jangan datang, jangan datang. Kugenggam erat tirai jendela, berusaha berlindung dari ketakutanku sendiri, saat kudengar gerakan handel pintu yang dibuka, dan derik daun pintu putihnya yang didorong ke dalam.

Troy. Aku kenal gerakannya. Dia memang tidak pernah mengetuk.

Dia benar-benar datang.

Dia memakai kemeja hitam dan celana jins usangnya itu. Berdiri tidak jauh dari pintu, dan berkata, “Aku sudah tahu kamu pasti secantik itu kalau pakai kebaya pengantin.”

Aku terpaku. Seperti dulu, seperti yang selalu terjadi setiap menatap sosoknya. Desisku, “Aku nggak mau kamu datang, Troy. Pergilah. Please.”

Dia berjalan mendekat.

Aku merasa takut. Bukan pada kekuatan energinya saat dia tinggal beberapa langkah lagi di depanku. Tapi pada perasaanku sendiri, yang memaksa tubuhku tetap diam di tempatku berdiri ketika seharusnya aku keluar lewat pintu itu.

Dan berlari kepada Rasya.

Aku tidak tahu bagaimana dia tiba-tiba sudah meraih kedua tanganku.

Jauh sebelum hari ini, aku selalu berharap dia melakukannya. Sudah tidak terhitung berapa banyak pengharapan dan energi yang kubuang-buang agar ia benar-benar memenuhi janjinya. Datang ke kota ini. Untukku. Aku ingat malam-malam ketika aku duduk di stasiun Tugu, menunggu kereta dari Jakarta yang berjejal penumpang setiap akhir pekan. Atau pada waktu aku berdiri di waving gallery bandar udara Adisucipto, menatap ke langit, berharap salah satu dari Boeing kecil itu akan membawanya kembali ke kota ini.

Troy tidak pernah datang.

Bahkan setelah semua itu aku masih bertahan. Kataku, mintalah aku untuk menunggumu, Troy. Aku pasti akan menunggumu. Lalu datang, datanglah dengan sebenar-benarnya pada saat itu. Aku tidak peduli selama apapun aku harus menunggu, aku bisa.

Dia bilang, pada waktu itu mungkin aku sudah bersama orang lain.

Itu terjadi. Julia, Sylvi, Dita, Monda, datang dan pergi. Selama bertahun-tahun itu pula aku dengan bodoh bolak-balik untuknya dengan harapan suatu saat kelak dia akan sadar bahwa akulah yang sungguh-sungguh mencintainya.

Tapi dia diam, menyaksikanku jatuh saat aku berharap dia akan mengulurkan tangan meraihku. Dan berlalu bersama Monda. Membiarkanku hancur berkeping-keping di belakangnya.

Rasya hadir—menyatukan kepingan-kepingan itu lagi.

Kini, dia kembali.

Dia berkata, “Aku hanya ingin memeluk kamu.”

Tenggorokanku tercekat.

“Troy…,” kataku. Berusaha merenggut kedua tanganku kembali, dan tidak berhasil. Lalu aku mundur. “Kamu minta ijin sama Rasya soal itu, okay…?”

“Dia tahu aku disini,” jawabnya, membuatku segera sadar bahwa Rasya sedang berdiri di balik pintu, sendiri di lorong yang ditutupi karpet hijau dengan taburan kelopak mawar itu.

Pikiran ini tiba-tiba membuatku merasa gamang.

Apa yang dia lakukan disana?

“You asked him?” tanyaku, tidak percaya, mundur lagi.

“Yeah.”

Rasya tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Banyak calon mempelai berubah pikiran di saat-saat terakhir sebelum pernikahan. Aku sudah mendengar cerita seperti itu berkali-kali sebelum hari ini. Dia tidak tahu seberapa besar pengaruh yang bisa dibuat Troy. Betapa aku selalu kembali dan bertekuk lutut padanya…, bahkan setelah dia berkali-kali menyakitiku.

Dari bawah, terdengar suara klakson mobil. Lebih banyak lagi kendaraan memenuhi halaman parkir hotel. Jarum jam di dinding itu semakin mendekati angka sembilan saat kubiarkan Troy melingkarkan kedua lengannya di tubuhku.

Tanpa perlawanan.

***

Aku sudah tahu aku akan tergila-gila padanya sejak pertama dia memelukku seperti ini.

Waktu itu kami berdiri di duapuluh kilometer utara kota Jogja, mendekati puncak Merapi, menatap kerlip kota yang dingin menjelang tengah malam. Kataku, padanya, bawa saja aku jatuh cinta sedalam-dalamnya, Troy, aku tidak peduli.

Dia bercerita tentang mimpinya. Scientist dan ahli nuklir nomor satu. Aku akan temukan teori Fisika baru, and you know what…, one day I’ll really blow up the world. Aku tertawa. Setiap berkata seperti itu kedua matanya yang cerdas bersinar, yang selalu membuatku terpana. Kemudian, di bawah hamparan langit itu, ia tunjukkan padaku konstelasi-konstelasi bintang.

Dia menciumku saat Jupiter bersinar terang di atas kami berdua.

Aku pernah berkata kepada diriku sendiri, bila ada kekuatan yang membuatku mau memberikan seluruh hidupku kepada seseorang, maka itu adalah cinta yang seperti ini.

Bila suatu saat aku menikah, aku ingin aku jatuh cinta seperti ini.

Kini, halaman parkir hotel itu sudah hampir penuh oleh kendaraan-kendaraan.

Ia berbisik, “Ketahuilah aku tetap sayang kamu, Rara, and I know that you do, too.”

Ia memelukku. Seperti malam itu. Semakin erat. Persis seperti malam itu. Kemudian ia menunduk, dan membenamkan wajahnya di dalam rambutku. Kutatap jarum jam di dinding.

Sudah jam sembilan. Lewat lima menit.

***

Benar, Rasya ada disana. Dia duduk di sofa panjang di sisi koridor itu. Sendiri. Dia menunggu. Sekarang jarum jam itu sudah lebih jauh dari angka sembilan.

Dia masih menunggu.

Aku masih merasakan energi kehadiran Troy yang amat kuat di belakangku saat kuraih handel pintu putih itu. Suara deriknya terdengar, dan Rasya mengangkat wajah.

Dia berkata, pelan, “Sayang. Kamu nggak apa-apa…?”

Ia menatapku, dan Troy masih berdiri di belakang pintu putih itu. Selama beberapa saat itu aku merasa ingin keluar dari tubuhku. Menghilang, entah kemana.

Kemudian Rasya berdiri. Ia meraih jemari tangan kiriku, menggenggamnya, merasakan cincin pertunangan yang ia telah sematkan disana. Kulihat wajahnya—dan kutemukan tatapan dari sepasang mata yang sangat kukenal.

Sangat kukenal. Karena aku tahu, dengan tatapan seperti itulah seseorang bersedia memberikan hidup dan mati. Juga segala yang berada di antara keduanya. Dengan tatapan seperti itu juga dia mendampingiku di saat-saat sulit itu, menyatukan kembali keping-keping hidup yang dihancurkan Troy.

Lalu, dia berbisik, “Will you still marry me…?”

Kutatap matanya.

Sekarang, aku mengerti mengapa ia membiarkan Troy masuk.

Rasya tetap memberiku kesempatan. Untuk memilih jalan hidupku. Walaupun dengan begitu aku mungkin akan membatalkan pernikahan ini.

Aku merasakan Troy mendekat, pintu putih itu berderik, dan untuk sesaat aku seakan melihat cermin berisi mimpi-mimpi happy endings tentangnya yang kubangun selama bertahun-tahun itu.

Tapi, kemudian, segenap bayangan di dalam cermin itu pudar.

Karena ia telah menghancurkannya terlebih dahulu.

Sudah banyak cerita tentang calon mempelai yang berubah pikiran di saat-saat terakhir sebelum pernikahan. Aku tidak akan membuat itu terjadi kepada Rasya.

Jawabku, “Yes, Baby, I will. I still will….”

Ia tersenyum, jenaka, dan mengusap pipiku.

“Come on, Princess, let’s get married now,” katanya. “Kalo enggak, kita nggak nikah-nikah….”

Aku tergelak. Kemudian kubalas genggamannya dan kuangkat kain putihku—bersamanya berlari kecil menuju pelaminan. ***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer FrenZy
FrenZy at Will You Still Marry Me...? (3 years 33 weeks ago)
70

kangen Layla.

I like the theme and the premise of the story. Menurutku, eksekusinya bisa lebih mantep, la, apalagi di tanganmu :) yang ini sedikit terlalu plain dan sederhana, in my opinion.

Writer heinz
heinz at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)
100

Nice.
Thanx for letting me read it.

Writer miss.jade
miss.jade at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)
90

awesome, kak!
mampirlah ke lapakku dan bantailah dengan ilmumu ^^

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)

lama menghilang, akhirnya kembali juga. kedatanganmu menambah jumlah penulis yang kukagumi. Saya menyukai semua tulisanmu yang sweet itu.
Salam kenal

Writer KD
KD at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)
100

i love you, w1tch

Writer naura
naura at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)
100

soo.. Sweet... ^_^ salam kenal, sudilah kiranya mampir ke gubuk puisiku. Masih butuh tambal sulam di sana sini...Bljr dari senior kan bisa bkin tulisan jd tmbh bagus...

Writer peri_kecil
peri_kecil at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)

Kak Morra.. Aku udah gak bisa ngomong apa2 lagi.. Hihi :D

Ditunggu buku kedua-nya.. :)

Writer aimie keiko
aimie keiko at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)
100

keren Kak.. ajari saya...

Writer w1tch
w1tch at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)

dengan ikut komunitas ini kan dah otomatis blajar dunks.. ;)

Writer aimie keiko
aimie keiko at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)

iya Kak.. heheheheh, sudilah kiranya mampir ke cerita saya, dan bantu benahi mana2 yang ancur.. hehehehe

salam kenal :)

Writer w1tch
w1tch at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)

@fadly - @lavender : thengkyu very much... it's nice to be back...

@dadun : enggak mau dipeluk daduuuunnn!!! :p :p :p

dadun at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)
90

welcomeback w1tch *pelukpeluk*

"Bila suatu saat aku menikah, aku ingin aku jatuh cinta seperti ini." <--- luv it luv it

wah troy udah gede yah. dan obsesinya tetep mirip will :D

manisss deh ceritanya, kayak aku *ditampar rame2*

Writer w1tch
w1tch at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)

enggak mau dipeluk daduunnn... wkwkwkwk :D

Writer fadly_pwk
fadly_pwk at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)
80

kereeennn... like it very much..

Writer w1tch
w1tch at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)

waah.. thanks ;)

Writer lavender
lavender at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)
80

Nice one.. :)

Writer w1tch
w1tch at Will You Still Marry Me...? (3 years 35 weeks ago)

thengkyu yaahh.. ;)