Nada Harmonica

Seringkali, aku melihat kakak duduk di tepian danau di sore hari ketika dalam perjalanan pulang. Ia memainkan harmonica kesayangannya. Memang itu hobinya. Tetapi rasanya, aneh saja mengapa dia sering sekali memainkannya akhir-akhir ini. Bukankah dia baru saja menyelesaikan kuliah kedokterannya? Mestinya dia sedang sibuk koass.

***

Danau itu bisa dibilang danau buatan. Sebenarnya, tidak betul-betul sebuah danau. Hanya sebuah kubangan besar yang dibuat atas inisiatif warga. Untuk menghalangi banjir, katanya. Ya memang benar karena sejak ada danau itu, banjir tak lagi kerap melanda. Banyak warga memanfaatkannya. Ada yang sekedar memancing—apakah ada ikannya atau tidak, berlari mengelilingi danau, atau sekedar bermain-main di pinggirannya.

Dulu,ada seorang laki-laki yang suka memainkan harmonica. Waktu belum ada danau itu, ia senang sekali memainkannya di depan rumah, seolah mengundang para tetangga untuk datang. Tetapi laki-laki itu sudah jarang memainkan harmonica, mungkin karena kesibukan atau yang lainnya. Para tetangga sering menanyakan kabar laki-laki itu pada orangtuanya. Diketahui ternyata, bahwa laki-laki itu sibuk karena mengambil kuliah kedokteran. Orang-orang maklum, tetapi dalam hati kecil mereka, berandai-andai kapankah bisa mendengarkan nada-nada harmonica laki-laki itu lagi.

Tidak ada hal luar biasa yang terjadi hari itu. Hanya saja, mulai hari itu laki-laki itu mulai memainkan harmonikanya lagi. Ia duduk di kursi di pinggiran danau pada sore hari. Orang-orang yang kangen mendengar iringan nada itu segera mendekat ke arahnya. Setelah satu lagu selesai, mereka biasa bertukar kabar. Rupanya, kelulusannya dari kuliah kedokteran yang menyebabkan ia punya sedikit waktu untuk duduk-duduk bermain harmonica. Berita gembira itu disambut pula oleh para tetangga, sambil merapal doa agar laki-laki itu menjadi dokter yang hebat.

Sore itu, seperti yang sudah-sudah. Laki-laki itu kembali duduk di tepian danau. Memainkan nada-nada syahdu dari harmonicanya. Kali itu, tidak hanya manusia yang tergerak mendekati sumber suara indah itu. Seekor anjing mendekati si pemuda, mengibas-ngibaskan ekornya tanda ia senang. Laki-laki itu tersentak dan menghentikan permainannya. Spontan, ia menjauhi anjing itu. Ia termasuk orang yang jijik terhadap anjing.

“Maafkan anjingku,” seru seorang perempuan dari belakang punggung Si Laki-laki.

Seorang perempuan berjilbab. Lazimnya, orang muslim tidak memelihara anjing. Pemandangan ini membuat laki-laki ini keheranan.

“Kau muslim? Mengapa memelihara anjing?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari Si Laki-laki. Tetapi, perempuan itu tidak tampak kaget.

“Memang merepotkan. Setiap habis memegangnya, aku harus mencuci dengan tanah, bahkan baju-bajuku harus dicuci dengan tanah…,” jawab Si perempuan santai, sembari mendekati anjing golden retriever itu, lalu membelainya.

Si laki-laki masih menatap gadis di depannya dengan bingung. Rasanya, ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.

“Karena aku kesepian,” kata perempuan itu seakan paham maksud tatapan laki-laki di hadapannya.

Begitulah perkenalan mereka bermula. Perempuan itu bernama Tiara, orang baru di daerah itu, tinggal sendiri bersama seorang pembantunya. Oleh karenanya, ia memelihara anjing. Seekor hewan peliharaan yang dianggap setia dan mampu melindungi majikannya. Karena anjing pula, akhirnya Tiara tahu siapa pemuda pemain harmonica itu. Nama pemuda itu adalah Tami. Nama yang menurutnya terlalu manis untuk seorang laki-laki. Sejak pertama kali tinggal di sana, Tiara juga ingin bersikap sama seperti orang-orang, duduk mendekati laki-laki pemain harmonica di tepian danau. Tetapi langkahnya selalu tertahan dan ia hanya bisa mendengar nada-nada lembut itu dari kejauhan.

“Tapi, bukankah selain najis, rumah yang ada anjingnya tidak akan dimasuki malaikat?” Tanya Tami pada Tiara di suatu sore saat mereka berdua kembali bertemu di tepian danau.
Tiara tersenyum.

“Hm.. sebenarnya rumah anjingku terpisah dari rumahku,” Tiara berkata singkat, lalu ia menyambungnya, “lain kali, mainlah ke rumahku.”

Memang Tami belum pernah ke rumah Tiara. Pun demikian sebaliknya. Tetapi mendengar ajakan Tiara, Tami hanya bergidik dan membayangkan sepulang dari sana ia harus bersih-bersih badan dengan tanah.

“Tenang saja. Rumahku suci. Anjingku tidak pernah masuk rumah,” jelas Tiara meyakinkan, seakan mampu menembus pikiran laki-laki di depannya.

Demikian sore-sore di tepian danau mereka lewati dengan bercengkrama satu sama lain. Kadang-kadang tidak hanya mereka berdua, tetapi bersama orang-orang lainnya sesama penggemar suara harmonica Tami. Meskipun topik obrolan pada mulanya tidak terlalu mengenakkan, tetapi nyatanya malah bisa mendekatkan satu sama lain. Baik Tiara maupun Tami, sama-sama menikmati kebersamaan yang ada. Biasanya, matahari sudah di ufuk ketika mereka pulang ke rumah masing-masing. Dalam diri mereka, merapal doa yang sama setiap pertemuan mereka usai. Agar mereka dapat seperti itu selamanya.

***

Fajar

Aku tak pernah mampir ke tepian danau itu. Pun ketika danau itu baru saja selesai, atau bahkan setelah beberapa tahun lamanya. Aku selalu berpikir, untuk apa? Sampai aku menemukan suatu alasan mengapa harus ke sana. Di sana, aku menemukan kakakku sedang bercengkrama. Aku tahu, sejak dulu ia populer. Kala ia tak lagi memainkan nada-nada dari harmonicanya, orang-orang mencarinya dan bertanya-tanya. Sekarang ia kembali lagi dengan harmonicanya. Tidak heran kalau orang-orang rindu padanya. Seperti saat ini. Seperti saat dulu pula. Nada harmonica kakak mampu merekatkan sekat-sekat yang ada, menghapuskan kecanggungan, dan mencairkan suasana.

“Kakak…,” panggilku pelan. Ia masih asyik memainkan nada-nada itu. Entah sampai lagu ke berapa. Sementara sekarang sudah hampir gelap. Tetangga-tetangga yang tadi mengobrol dengannya, sudah kembali ke peraduannya masing-masing.

Kecuali satu. Tidak, maksudku dua. Seorang perempuan dan anjingnya.

Akhirnya lagu itu berhenti. Kakak menyapaku dengan senyumnya yang ramah. Kemudian, ia malah mengenalkanku pada perempuan itu. Tiara.

“Bukankah kita telah saling mengenal sebelumnya? Kau masih ingat?” Reaksi Tiara mengejutkanku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, memandanginya lagi dengan seksama.

“Ah. Fajar, Fajar… Kau lupa? Aku dulu pernah satu sekolahan denganmu. Ingat?” ulangnya lagi. Aku masih membeku. Mencoba mencari-cari serpihan ingatan masa lalu.

“Jadi, Tami ini adalah kakak yang selalu kau ceritakan itu?” Tiara bertanya lagi, sementara aku masih dalam diam yang sama.

“Benarkah dia selalu cerita tentangku?” Kakakku menanggapi dengan mata berbinar yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Tiara mengangguk, ”Kau adalah orang yang selalu dibanggakannya,” jawab Tiara. Kakak hanya tersenyum. Mukanya memerah, entah karena pantulan cahaya matahari sore atau karena bahagia. Ia lalu menatapku yang masih membatu.

Kemudian, kami berpisah. Aku dengan kakak, Tiara dengan anjingnya.

Sepanjang perjalanan pulang, kakak masih saja memainkan nada-nada harmonicanya. Kurasa, itu sedikit membantuku mengingat siapa Tiara. Ah akhirnya aku mampu mengingatnya. Ia adalah cinta di masa lalu. Menurutku, ia tidak akan pernah kembali lagi. Tidak mungkin dan tidak akan. Jadi, mengapa ia muncul di hadapanku?

Ini mungkin adalah cinta monyet semasa dulu. Saat Tiara duduk di sebelahku. Jaman itu, tempat duduk ditentukan guru. Kami masih anak-anak patuh yang tidak pilih-pilih teman. Sehingga entah berapa lama, Tiara dan aku duduk berdekatan. Kakak dua tahun lebih tua daripadaku dan juga bersekolah di tempat yang sama dengan kami. Dibandingkan Tiara, akulah yang lebih banyak bercerita. Dan kakak adalah objek ceritaku. Aku sama sekali tak menyangka, bahwa Tiara masih mengingat cerita-ceritaku tentang kakak.

Cinta monyet itu kurasa telah berakhir saat kelasku dan Tiara berpisah. Kami pun bertahun-tahun lamanya tidak berjumpa. Kami melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Aku pun hampir saja melupakan dirinya, andai saja tadi ia tak muncul di hadapanku sembari berkata ia pernah mengenalku. Tetapi, melihat kejadian sore tadi, mengapa hatiku seakan tak rela Tiara tertawa bersama kakak?

***

Nada-nada harmonica laki-laki itu mulai jarang terdengar lagi. Setiap sore, orang-orang berharap mendengar nada harmonica yang selalu merdu itu. Satu hari, tidak ada. Barangkali laki-laki itu sedang sibuk. Dua hari, tiga hari, hingga seminggu, dua minggu, bahkan sebulan. Orang-orang bertanya-tanya, ke manakah dia? Mereka selalu rindu akan suara harmonica itu. Bagaikan penyejuk jiwa-jiwa yang kering. Satu dua orang mulai mendatangi ke rumah laki-laki itu. Jika yang dilihat ibunya atau ayahnya, maka mereka bertanya, ke mana putra pertama mereka? Jika yang dilihat anak kedua mereka, mereka bertanya, ke mana kakak laki-lakinya?
Rupa-rupanya, laki-laki itu sedang sibuk koass di sebuah Rumah Sakit. Kali ini, orang-orang berusaha memaklumi lagi, sambil berharap agar dokter muda itu segera menyelesaikan koassnya dengan lancar. Sehingga ia punya waktu lagi untuk memperdengarkan nada-nada indahnya.

Begitu pula Tiara. Ia selalu merapal doa yang sama untuk laki-laki itu. Entah sejak kapan, perasaannya bertaut dengan laki-laki itu.

Sampai pada suatu ketika, koass dokter muda itu selesai. Ia pun memulai lagi aktivitas lamanya dengan memainkan harmonica di tepian danau. Orang-orang menyambutnya gembira. Mereka kembali bertukar cerita. Kali ini, laki-laki bercerita bahwa ia akan segera diambil sumpah sebagai dokter, dan setelah itu ia segera magang. Tetangga-tetangga mengira bahwa mereka tidak akan mendengarkan suara harmonica lagi dalam waktu dekat. Tetapi mereka selalu berdoa untuk keberhasilan masa depan laki-laki itu. Nada harmonica itu telah menumbuhkan cinta yang mendalam pada siapapun yang mendengarkan, dan mencintai pula sang peniupnya.

Setelah pengambilan sumpah dokter, laki-laki itu segera magang. Tetapi ia mengambil cuti. Orang-orang bertanya-tanya mengapa dia cuti. Tetapi mereka tak ambil pusing, dan berharap dapat kembali mendengar suara harmonica di tepian danau.

Meskipun mengambil cuti magang, tak setiap saat laki-laki berada di rumah. Kabarnya, ia sering bepergian. Entah ke mana. Orang-orang mulai bertanya-tanya, jika ia cuti magang, ke manakah ia pergi? Mengapa tak lagi memainkan harmonica seperti dulu?

Sampai suatu hari, tersiar kabar bahwasanya ia sedang dirawat. Pertanyaan besar menggantung di benak pada pendengar harmonicanya, seharusnya dia yang merawat, mengapa malah dirawat? Bukankah dia dokter? Tetangga-tetangga mulai berduyun-duyun datang ke Rumah Sakit. Sungguh mencengangkan pemandangan yang ada di hadapan mereka. Laki-laki itu tergolek tak berdaya. Tangannya yang biasanya memainkan harmonica, terbujur lemah di sisi ranjang dengan infus yang menancap kuat. Tubuhnya tampak kurus kering. Untuk bicara pun susah payah, apalagi untuk meniup harmonica. Beberapa orang yang melihatnya sampai menetaskan air mata. Beberapa lainnya, buru-buru keluar kamar saking tak tega menatap sosoknya.
Di benak banyak orang, begitu besar menggelanyut kata tanya. Sakit apa? Mengapa? Kali ini, mereka yang menjenguk tak sanggup untuk sekedar berkata, semoga lekas sembuh. Mereka sendiri tidak yakin bahwa penyakit itu bisa tersembuhkan. Meskipun doa mereka sebaliknya.

Orang-orang yang mencintai laki-laki itu, mendoakan sekuatnya agar bisa ia sembuh, agar bisa sehat lagi. Tak mengapa mereka tak lagi mendengarkan nada harmonica itu jika laki-laki itu memang sibuk. Tetapi jangan terbaring lemah seperti ini. Mereka berdoa sangat kuat. Siapapun yang mengenalnya. Siapapun yang pernah mendengarkan untaian nada harmonicanya. Doa mereka adalah untuk kesembuhannya.

***

Fajar, “Andaikan dokter berkata tidak, Allah bisa berkata iya.”

Itu adalah status facebook Fajar hari itu. Entah sudah separah apakah penyakit kakaknya. Status itu ambigu. Tidak jelas. Apakah berupa pengharapan atau bukan. Bagi Tiara yang saat itu membacanya, air matanya tumpah. Sekonyong-konyong, ia mampu menerka apa yang akan terjadi. Perasaannya tidak enak. Galau.

“Begitu pula sebaliknya,” bisik Tiara dalam hati. Ia ingin menuliskannya sebagai komentar atas status Fajar. Tetapi tidak bisa. Tidak mampu. Rasanya ia tahu bahwa kata-kata itu menyakitkan, tetapi akan menjadi nyata.

***

Fajar

Tidak ada lagi suara harmonica di sore hari. Tidak ada lagi orang-orang bertanya, ke manakah Si Peniup Harmonica.

Hari itu, cuaca mendung. Dini hari, kakak menghembuskan nafas yang terakhir di Rumah Sakit. Pada akhirnya, ketika semua usaha telah dikerahkan, tapi memang Allah yang memutuskan: Tidak. Kakak tidak diberi umur yang lebih lagi.

Aku diam mematung, dan air mengalir deras dari mataku. Kakak yang sangat kucintai. Kau bahkan baru saja berucap sumpah dokter. Mengapa kau begitu cepat pergi? Kakak, kau ini seorang dokter, mengapa tidak bisa mendeteksi penyakitmu lebih dini?

Dalam diam, aku mencaci kakakku. Mengapa, mengapa, mengapa? Aku begitu meratapi kepergiannya. Ia yang selalu kubanggakan. Ia yang selalu kucintai. Ia pula yang sempat membuatku cemburu. Hei, kakak, kita belum beradu untuk memenangkan hati Tiara. Mengapa kau pergi secepat ini? Ah, bahkan mungkin sebenarnya kau telah memenangkan hati Tiara. Aku tidak tahu.

***

Kali ini, orang-orang berdatangan di rumah laki-laki itu. Bukan, bukan untuk bertanya-tanya ke mana dia. Sebab semua orang sudah tahu. Bukan, bukan untuk bertanya kapan ia pulang. Sebab semua orang tahu ia tak akan kembali.

Bendera putih terkibar di depan gang kala memasuki rumahnya. Tenda dipasang, dengan beberapa kursi lipat ditata di bawahnya. Sanak saudara berdiri di depan menyambut para tamu. Kotak sumbangan diletakkan di dekat pintu masuk di rumahnya. Biasanya, sedih atau tidak sedih, di rumah duka para tamu akan menunjukkan muka sedih yang terbaik. Walaupun pura-pura. Sebagai tanda tidak enak kepada keluarga yang berduka jika tidak menunjukkan muka bersedih. Tetapi, di sana, semua orang yang datang, tampak sungguh-sungguh bersedih. Apakah menangisi orang yang telah tiada? Ataukah menangisi suara harmonica yang tidak mungkin lagi terdengar? Ya, saat ini hanya terdengar nada-nada untaian doa yang begitu memilukan.

Mayat laki-laki itu tampak sendu. Ia terbungkus kain mori putih, diletakkan di atas meja yang tidak terlalu tinggi. Wajahnya begitu damai. Ketika orang menatapnya, mereka berharap nantinya laki-laki itu bisa melanjutkan permainan harmonicanya di surga kelak. Beberapa orang dengan sukarela, berjejer rapi di belakang mayat itu. Secara bersama-sama, mereka bersembahyang yang terakhir kali untuknya.
Mendoakannya dengan tulus. Semoga Allah berkenan mengabulkan.

Walaupun Tiara termasuk tetangga, ia tak datang tepat sebelum jenazah dikuburkan. Ia memilih datang ketika tenda sudah dibereskan, kursi sudah diangkut, dan orang-orang sudah pulang. Ingin ia mendoakan laki-laki itu, melihatnya untuk terakhir kali, dan juga bersembahyang untuknya. Tetapi ia tak sanggup.

Sembari menunggu pelayat selesai dalam prosesi penguburan, sanak saudara yang ada di rumah duka, menceritakan kepada Tiara kronologis bagaimana laki-laki itu terkena penyakit.

Katanya, awalnya Tami hanya merasa sakit maag. Ia pun merasa biasa-biasa saja, dan hanya minum obat sakit maag. Ia juga beraktivitas seperti biasa. Hingga beberapa bulan yang lalu, ia merasa ada sesuatu yang keras di ulu hatinya. Saat itulah, baru diperiksanya ke Rumah Sakit. Ternyata, itu adalah kanker. Kanker hati. Sayang, sudah memasuki stadium akhir. Tami menolak untuk menjalani kemoterapi. Ia ingin pengobatan alternatif. Ia bilang, tidak ingin kurus. Ia tidak ingin tidak mau makan. Karena alasan itu, ia berkeliling ke daerah-daerah yang diketahui ada cara pengobatan selain standar kedokteran yang lazim.

Tiara tak sanggup membendung air matanya. Di penghujung cerita, sambil menahan air matanya, ia minta ijin untuk pulang. Dalam perjalanan, air matanya langsung tumpah ruah tanpa diperintah. Tak ingin ia terlihat cengeng. Tapi tak bisa. Air itu terus menuruni pipinya apabila tidak ia usap. Tapi nyatanya, tetap saja air itu mengalir deras. Berkali-kali air mata itu dilap dengan sapu tangan. Tetapi tak kunjung surut jua. Ia menangis beberapa lama hingga tiba di rumah. Pun sampai di rumah masih saja air mata belum berhenti. Berjam-jam lamanya, ia memeluk anjingnya di luar kandang. Kandang yang ia sebut rumah, yang ia bilang terpisah dari rumahnya.

***

Fajar

Tiara tak datang pada hari pemakaman kakak. Aku tidak tahu apa alasannya. Mestinya dia datang. Statusnya sebagai tetangga. Jadi harusnya dia hadir. Terlebih dia adalah salah seorang pendengar harmonica kakak. Sungguh menurutku, tak ada satu pun alasan baginya untuk tidak datang.

Sore ini, langit masih sama seperti biasanya. Orang-orang masih saja bersantai di tepian danau. Aku mencoba mengamati apa-apa yang mereka kerjakan biasanya. Di sinilah aku duduk saat ini. Di kursi, tempat biasanya kakak duduk memainkan harmonicanya.

Guk… Guk…

Suara anjing golden retriever membuyarkan lamunanku. Mungkinkah anjing itu mengira bahwa yang duduk di sini adalah kakakku? Kutolehkan wajahku ke belakang, dan kudapati gadis itu berdiri di sana.

Tiara tersenyum. Tampak sangat dipaksakan. Matanya sembab, dengan kantung mata di bawahnya.

“Kenapa kemarin tidak datang?” tanyaku merujuk pada hari kematian kakak.

“Aku datang. Kau dan beberapa orang sedang di makam waktu aku ke rumahmu,” ujarnya datar. Aku menunggu kata selanjutnya keluar dari mulutnya. Sebab tampaknya dia masih akan bicara.

“Sebenarnya aku sudah tahu,” katanya lagi. Aku tak paham apa maksud pernyataannya itu. Tahu mengenai apa?

“Sejak kau menulisnya di facebook,” sambungnya.

Aku mengingat-ingat apa yang kutulis di facebook baru-baru ini. Mungkin itu. Ya. Status tentang kakakku.

“Manusia itu aneh. Walaupun sudah tahu, tetap saja sedih,” lanjutnya. Aku hanya diam membisu, mendengarkan ucapannya, tak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Aku menunduk membelai anjing Tiara yang terduduk di samping kursi. Dia menjulurkan lidahnya. Ekornya dikibas-kibaskannya.

“Bolehkah kalau sewaktu-waktu aku pinjam anjingmu untuk sekedar berjalan-jalan atau duduk-duduk di sini?” tanyaku pada Tiara, masih mengusap-usap bulu anjingnya.

“Kau tidak jijik? Tidak takut?” Tiara bertanya keheranan. Mungkin karena aku memiliki reaksi yang berbeda dengan kakak.

“Karena aku kesepian.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cloudiath
cloudiath at Nada Harmonica (3 years 24 weeks ago)
70

mantapp
emosi dan karakternya terasa.

tetap belajar sama-sama
silakan berkunjung kesini

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 24 weeks ago)

waduhh,, mantap apanya, ha3. kacaw ini critanya....
wah makasih ya dah bca n komen.
syukur, deh klo pnyampaian emosi & karakternya ada yg kena ke pembaca.. he3....

Writer septy
septy at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)
90

ceritanya sedikit mengambang kalau menurut aku ^^
tapi aku kurang tahu bagaimana cerita yang benar-benar bagus.
tadinya aku pikir bakal fokus ke persoalan si kakak dan Tiara.
hehehe
mampir juga ke tulisan tantanganku ya, kak ^^
salam

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 24 weeks ago)

hmmm,, iya yah...
memang sih..
bingung juga saya.. kurang fokus yah kesannya...
makasih yah udah baca n komen..

Writer heinz
heinz at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)
80

Hm, harmonica ato harmonika yah?
Terganjal dengan unsur religi yang tersisip dalam cerita: "anjing dan malaikat". Bukan masalah terlalu besar sih, tapi ke belakangnya makin banyak yang gak kumengerti.
Jadi poin aja dah.

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 24 weeks ago)

hiaaaa,, maap lom diedit.. yg bener harmonika kayaknya....
wah bagian mananya yah yg tidak dimengerti...? apakah susah dicerna yah crita ini?
maafkan bila blom bs menyampaikan crita ini dg baik

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 24 weeks ago)

hiaaaa,, maap lom diedit.. yg bener harmonika kayaknya....
wah bagian mananya yah yg tidak dimengerti...? apakah susah dicerna yah crita ini?
maafkan bila blom bs menyampaikan crita ini dg baik

Writer Ciel
Ciel at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)
80

bagus ceritanya. tapi sedikit kurang fokus

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)

iya,yah....?
hmm, mungkin krna saya kurng cerdik meramu ini cerita jadi begini deh...
tapi makasih yah udah baca.. he3.

Writer fachrunnisa eva
fachrunnisa eva at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)
80

hmmmmp, ini sudut pandangnya ada 3 yah? atau 2... yg aku liat cuma 2, soalnya di atasnya cuma ada "fajar" aja, heheh gini deh klo lemot. heheheh, tapi aku tersentuh membaca cerita ini, ujungnya sama2 kesepian,,, :D
maaf kak klo kurang berkenan :D

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)

iya cuma 2 sudut pandang kok.. maaf yah klo jadi bingung...

makasih ya udh bca..

Writer DeMEter
DeMEter at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)

Wkwkwk...
Saia suka cerita, tapi ntah ngapa, di cerita tantangan kali ini, lebih banyak yang nulis cerita di bawah seribu kata.. (termasuk saia)
Agak kepanjangan sih, tapi karna ceritanya bagus, saia lanjut terus.. hehehe
salam kenal :D

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)

hee, soalny pas saya bkin ini kan pas awal2.
cerita tantangan sebelumnya yang tentang selingkuh itu, di cerita tantangan tsb, ceritanya panjang2.... jadi saya mengacu ke situ.....
wah makasih critanya dibilang bagus. padhl menurt saya pas2an, he2...

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)
80

Halo kak :)
Aku mampir, hehe.
Hemm, mungkin karena agak berbelit, inti ceritanya padaku kurang sampai, maaf ya kak>.<.
Suasana melankolisnya sudah cukup dapat kok, hehe. Nice :)

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)

wah berarti memagn saya belum bisa mnyampaikan gagasan saya ke dalam tulisan dg baik.... saya hrus berusaha lagi ...
makasih dah mampir, he3...

dadun at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
80

ceritanya menarik, terlepas dari typo dan pleonasme. entah mengapa, "harmonica" itu kesannya kayak "belas" untuk menyebut "beras". hehe
hal yg sama dan sempat kupikir juga waktu menulis ini adalah soal anjing dan hubungannya dg org muslim. tapi ngga sempet dieksplor lagi. hihi. dirimu lebih lihai deh

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 25 weeks ago)

maap, adakah typo ? (harus cek lagi nih kayaknya.. makasih yah saya akn cek lagi).
apa itu yah pleonasme? maap tidak tau....
oh maafkan, seharusnya harmonika ya, bukan harmonica....
akn saya edit lagi....
soal anjing, saya jg bisanya cuma eksplor spt itu,, karna bingung juga sebenarnya ...
makasih dah bca ya...

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
90

Saya tidak tahu mau komen apa :(
Namun justru saya merasakan kesenduan di dalamnya (maaf ya Ramaaokiji,hihihi)
Saya klik poin saja

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

wah baguslah ada yg merasakan suasana sendu dari cerita saya ini,..
makasih dah baca.. he3

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
80

aku nitip poin dan jadi pengamat serta pembaca setia sajah, karena spertinya komentar2 sudah terwakili oleh yg lain... xixixixixixi...
gilaaaa, kalian hebat2 sekali..
gag sampe 1 hari, banyak yg udah jadi ceritanya :p
kerennnn :)

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

waduh, sun.. ini sama sekali nda hebat koq... cm kebetlan ja kmrn da kejadian yg menginspirasi....
makasih y dah bca he3....

Writer MelZhi
MelZhi at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
70

komen saya udah terwakili oleh komen kakak-kakak pendahulu saya di bawah, kak rahma. :)
.
yang paling menarik perhatian saya adalah endingnya. saya suka.
.
salut buat kakak yang cepet dapet ide :)

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

haha,, makasih dah baca ya....
endingnya saya jg suka.. (mungkin itu satu2nya bagian yg tidak aneh dlm cerita ini).
makasih dah bca ya

Writer anggra_t
anggra_t at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
70

hmm... nice idea. sepertinya ini intinya pertemuan kembali antara fajar dan tiara dengan dilatar belakangi kematian sang kakak.
cuma aku agak kurang sreg dengan alur yang agak berbelit soal anjing di bagian atas (kayanya diulang2 seperti kata gie) dan soal harmonika yang kayanya seperti cuma numpang lewat.
.
selebihnya oke. kip wraiting :D

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

soal anjing, sebenarnya saya bingung bagaimana menempatkan anjingnya (karna di gambarnya ada anjingnya,,) jadilah begini.. *keliatan banget kalo maksa ya.. huhuuhuu...
soal harmonika, sebenarnya itu yg utama, kenapa malah jadi kliatan sampingan ya.
huaduh gagal total saya kayaknya...

Writer anggra_t
anggra_t at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

Iya nih. Si dogi itu jg tantangan terbesarku juga >.<
Gagal total sih ngga. Inti ceritanya kelihatan kok cm krg kuat aja dan masih bs dipadatkan. Cia you!! :D

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
70

Hmmm... apa ya?
Terlalu berbelit dan mengulang-ngulang, Ka Suararaa >_<
Dy sedih, dy nangis, itu jelas. Tapi seolah diputar-putar di itu-itu az (walo kata-katana berganti). Saya bahkan sempat merasa bosan beberapa kali.
Masalahna, walo dibilang berulang-ulang klo dy sedih, saya ga bisa ngerasain sedihna.
Mungkin bisa dipersingkat lagi, biar ceritana tampak lebih padat ^w^

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

gyaaa maaf. maaf...
niatnya mau menekankan ke bagian 'sedih' nya. tapi malah jadi membosankan yah..
maaf yah,, saya perbaiki kapan2.. *lhoh*
makasih saran dan kritiknya.

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

gyaaa maaf. maaf...
niatnya mau menekankan ke bagian 'sedih' nya. tapi malah jadi membosankan yah..
maaf yah,, saya perbaiki kapan2.. *lhoh*
makasih saran dan kritiknya.

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
80

poinnya,
karakternya tokohnya ga keliatan. hehe

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

karakternya ngga keliatan yah..? hix


maafkan,,, krn mungkin terlalu fokus ke ceritanya

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
100

akhirnya...
yah saya sedang stuck dalam tugas mulia saya (alias S*****), jadi saya memutuskan menulis tantangan ini saja..

cerita ini terinspirasi dari kejadian nyata beberapa hari yang lalu...


kalau ada salah2 ketik atau apa, mohon maaf saat ini sedang tidak bs membetulkan karna internet lagi lelet, tiap mau di-save eror.. maaf.. lain kali akan saya betulkan..


mohon kritik sarannya dan makasih udah mampir....

Writer Dark__Moon
Dark__Moon at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
100

karena aku kesepian....

ending yang unik ^_^

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

makasih udah baca.. he.. unik yah..
*kayaknya biasa aj sih. he3..*

Writer lavender
lavender at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
80

suararaa, ini memang sudut pandangnya sengaja dibuat campur ya? agak bingung kadang kakak, kadang laki-laki itu.. memang campur yak?
wiiihhhh hebatnyaaa udah langsung posting jugaa..
ck ck ck cepet amat siiihh dapet idenyaaaa..
daku benar2 saluuuttt..

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

aduh maaf ya kalo bingung.. aku akan memperjelasnya.
ini idenya dri kejadian nyata beberapa wktu yg lalu. he3..

Writer cat
cat at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)
70

aih .. rahma uda selesaiii jugak ..

maaf blom bisa kument banyak .. tar yak setelah kenz bobok

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

maaf tante, klo mengecewakan..
mohon kripik dan sarangnya he3..

Writer cat
cat at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

seeprtinya sudah banyak yg kument.

aku agak bingung dgn tokoh aku.

perpindahan antar paragrap cukup membuat bertanya-tanya.

tokoh aku ini tidak lah terlalu kuat.

anyway terima kasih karena sudah mengikuti tantangan kali ini.

he5 .. ditunggu untuk partisipasinya di tantangan berikutnya ..

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

wah tampaknya membingungkan yah.. hmmm,, apa sebaiknya dibikin satu sudt pandang aj ya..
iya betul, tokoh aku tidak terlalu kuat, krna tokoh utama adalah si kakak (pemain harmonica).
maaf ya tante.......
jangan kapok bca crita saya.... he3..

Writer cat
cat at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

tidak akan kapok kok Rahma ..

bahkan saya sudah siap menodong kamu untuk emnyelesaikan Tante Carrie muuuuuuu

tante tante tante carrrie ..

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

petromak
karena gambarnya yg sulit, atau apa ya?
hehe

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

yee
gak dibaca ya? asal pertamak aja nih....

Writer ramAOKIJI
ramAOKIJI at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

udah, tp datar aja, kerenan tante carry-nya :Dv---kpn lanjut?

Writer suararaa
suararaa at Nada Harmonica (3 years 26 weeks ago)

waduwh,, datar yah..
niatnya mau bikin cerita yang sendu. ternyata malah jadi datar ... hmmm, tampaknya saya tak berbakat bikin cerita sendu...
makasih dah baca yah..
tante carrie nya kapn2 ya.. he3.