Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan

Eka seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi swasta di kota Yogyakarta. Di kampusnya lagi ada heboh-heboh gitu. Dengan sikap yang bisa dibilang sedikit gentleman, Eka menghambur ke kerumunan cewek-cewek yang lagi heboh itu.

“Woi, woi minggir…Ada apaan sih?”
“Eh Ka, itu si Mirna habis lihat psycophat.”
“Psycophat maksud loe?”
“Itu lho Ka, masa loe nggak tahu sih?”
“Nggak.” Geleng Eka.

Dengan sedikit berdecak temannya menjelaskan dengan gaya biggosnya yang luar biasa.
“Itu lho Ka, orang yang suka mamerin “itunya” sama cewek-cewek.”
“Itunya apa maksud loe?”
“Ya itu.” Ucap temannya itu sambil menunjuk-nunjuk ke bagian Mr.P Eka.
Dengan tampang masih bingung, Eka mengikuti arah tunjukkan temannya.
“Hah sumpah loe?”
“Ughhh sumpah deh, gila nggak tuh. Gila kan. Ughhh, udah gitu ya tuh orang sukanya nongkrong di ujung gang sebelah parkiran itu.”
“Akh yang bener?”
“Ihhhh bener lagi Ka.”
“Tapi gue lewat situ nggak ada masalah aja tuh!”
“Ye…..Loe kan cowok, mana ada psycophat nunjukin “itunya” sama cowok. Loe ye kalau ngomong mikir dikit gituh loh.” Ujar temannya masih dengan centil-centilnya biggos.
“Iya kali ya.”
“Ya iyalah, masa ya iya dong. Duren aja dibelah bukan di bedong!”
Eka menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya sih nggak gatal.
“Ya sutralah ya bow, eike mau ngeggos, ngeggos, ngeggos dulu sama yang lain.” lanjut si biang gossip dengan tangan yang melambai-lambai dan bibir yang komat-kamit khas biang gossip. “Oia denger-denger yang jadi psycophat itu, “anunya” kecil Ka.” Bisiknya di telinga Eka.
“Loe tau dari mana?”
“Adyuhhhh Ka, hari gini telat gossip yang lagi happening banget bisa dibilang cupu loe. Jadi orang harus up to date dong Ka. Tapi gue belum yakin juga sih, makanya gue mau konfirmasi ulang nih.” Cerocosnya. “Dah ya bow, kalau ada gosgos baru lagi nanti gue kasih tahu loe.”
“Ok sip!”

Si biang gossip pun sudah menghambur ke sekelompok cewek-cewek yang sedang mendiskusikan apa yang baru terjadi dan tentunya di sertai dengan berita-berita yang kadang sering dibuat-buat sama mereka biar menambah “panas” nya topik mereka saat itu.

Eka yang baru saja mendengarkan apa yang diceritakan padanya menjadi penasaran dan tanpa basa-basi dia langsung datang ke gang yang dimaksud oleh si biang gossip itu.
“Katanya gang ini, tapi nggak ada siapa-siapa disini.”
“Ka, ngapain loe berdiri disini kayak orang bingung. Lagi nyari sesuatu?”
“Eh..Ky. Nggak, gue lagi nunggu orang.”
“Nunggu siapa?”

Entah karena memang dia penasaran dan ingin cerita atau karena sudah terasuk dengan virus gossip temannya yang biang gossip itu, Eka langsung merangkul temannya sambil sedikit berbisik-bisik.

“Gue denger katanya ada psychopat nih di gang ini, nah gue mau tahu aja siapa sih tuh orang sampai berani-beraninya nunjukkin Mr.P nya ditempat umum gini.”

“Oh, cerita yang itu gue juga sudah tahu. Tapi buat apa loe mau tahu tuh orang Ka, mau jadi pembela kebenaran dan keadilan loe kayak di anime-anime itu sambil bawa “pedang” loe juga.” Balas Ricky kemudian tertawa.

“Ahhh gila loe, nggaklah. Gue mau tangkap tuh orang terus gue laporin deh ke polisi.”

“Akh makin ngaco loe Ka. Sudah-sudah balik ke kost yuk.”
Eka mengikuti Ricky memasuki gang itu dan menuju kost mereka yang tepat berada di belakang kampusnya.

Sejak saat itu Eka selalu mencoba nongkrong sebentar di depan gang itu sambil mengamati sekitarnya, dan selama itu nggak ada tanda-tanda kalau si psychopat ada di sekitar itu. Sampai akhirnya Eka hopeless dengan apa yang dibuatnya, tetapi kejadian teman-teman cewek di kampusnya yang di kasih lihat Mr.P sama si psychopat masih aja ada. Dan semuanya menceritakan hal yang kurang lebih sama, sampai bosan Eka.

“Akh gila tuh orang, penasaran banget gue sama tuh orang. Sebenarnya siapa sih dia sampai nekat ngasih liat Mr.P nya di depan umum gitu. Gue aja nggak pernah, dia sering banget. Malu-maluin nama para lelaki aja tuh orang.” Batin Eka.
“Ka, ada gossip baru lhooooo…..”
Eka menoleh malas, si biang gosip dengan mata berbinar-binar sudah duduk manis di sebelahnya.
“Gossip apa lagi?”
“Itu soal psycophat yang lagi heboh-heboh itu.”
“Kenapa lagi dia, bugil?”
“Duh kok bugil sih.”
“Jadi apa?”
“Gue denger-denger katanya orang biasa, bukan mahasiswa, orangnya agak hitam, terus nggak keurus gitu deh. Tetapi bukan orang gila lho.”
“Terus-terus.” Pinta Eka sedikit bersemangat.
“Terus tuh orang biasa nongkrong di gang sekitar jam 09.00-09.30, pokoknya waktu semua orang pada sibuk kuliah jadi masih sepi-sepi gitu. Makanya dia punya kesempatan untuk menunjukkan aksinya itu.”
“Oh pantesan!”
“Kenapa Ka?”
“Nggak, gpp.”
“Uhhhh gue kira kenapa.”
“Gue pamit dulu ya, mau buru-buru balik ke kost.”
“Yahhhhh Ka, gue lom selesai gossip nih.” Teriak si biggos tetapi Eka sudah jauh.

Disetiap langkahnya menuju gang itu Eka berpikir dan terus berpikir bagaimana caranya kalau dia ketemu dengan orang itu, apa yang harus dilakukan. Gila aja kalau tuh orang ternyata preman terus dia dipukul babak belur, bukannya dia nangkep tuh orang yang ada dia yang masuk rumah sakit, terus kalau misalnya tuh orang bukan preman tapi ternyata tuh orang bener-bener psychopat yang doyan sama lelaki juga, dan dia dibawa kesuatu tempat tanpa bisa kabur, tau-tau ada kabar dia dah mati di mutilasi. Wah lebih bahaya lagi tuh. Tetapi dengan cepat dia tepis semua pikiran anehnya itu demi sebuah kalimat “Akulah pembela wanita-wanita yang tertindas karena harus melihat Mr.P orang tak beradab, harusnya kan punya gue yang dilihat tapi kenapa itu orang yang duluan nyosor keinginannya.” Nah lho, sebenarnya yang psycophat siapa sih Eka atau tuh orang, ada-ada aja pikiran Eka.

Eka sudah melewati parkiran menuju gang sebelah parkiran itu. Diliriknya jam di tangannya, jarum jam menunjukkan pukul 08.30. Berarti sesuai berita dari biang gossipnya itu, si psychopat itu harusnya sudah keliaran di gang untuk nungguin anak-anak cewek yang lewat dan melancarkan aksinya.

Eka mencari tempat sembunyi yang pandangan matanya dapat menjangkau seluruh gang itu. Sambil pura-pura tidak peduli dengan keadaan sekitar, Eka menarik sebatang rokok keluar dari kotaknya kemudian menyulutnya, menghisapnya dan menghembuskan asapnya. Sepuluh menit menunggu akhirnya datang seorang pria dengan ciri-ciri yang dimaksud sama si biang gossip. Orang itu mondar-mandir sambil menarik-narik celananya. Eka tersenyum senang karena sudah mendapatkan orang yang dia cari akhir-akhir ini.

“Pokoknya loe beraksi, gue langsung datang ngehajar loe!” Ancam Eka dalam hati.

Lima menit berlalu akhirnya datang seorang cewek, yang Eka tahu itu teman kampusnya karena dia pernah sekelas sama cewek itu. Eka memperhatikan dengan seksama gerak-gerik orang itu dan temannya, si cewek membelakangi Eka dan pria itu berada menghadap Eka namun sebagian tubuhnya tertutup oleh tubuh cewek itu. Semenit kemudian si cewek berteriak, Eka dengan sigap membuang rokoknya lalu berlari menuju gang itu, menarik kerah baju pria yang dilihatnya dari tadi.

“Mau kemana lagi loe, loe nggak bisa kemana-kemana. Gue bakal laporin loe ke polisi sekarang juga!”Ancam Eka ganas.
“Apa-apan ini?” Tanya orang itu bingung.
“Sudah ngaku aja, loe psycophat itu kan. Yang suka mamer-mamerin “itu” loe sama cewek-cewek kampus gue. Terus sekarang loe mau melancarkan aksi loe, tapi sayang banget sudah ketangkep duluan sama gue sebelum loe kabur.”

Si cewek ketawa ngakak.
“HAHAHA…..Ka, ini bokap gue tauk! Barusan gue dikasih handphone makanya gue teriak gara-gara seneng banget.” Ralat si cewek sambil memamerkan kotak handphone yang masih terbungkus rapi. “Habis ini baru mau ke kost gue, nyokap gue sudah ada disana.” Lanjutnya.

Eka mendadak pucat pasi, kemudian melepas tangannya dari kerah baju bokap temannya itu.
“Jadi ini bokap loe?”
“Iya, baru aja sampai tadi pagi dari Jakarta langsung kesini.”
Muka Eka langsung merah karena malu.
“Maaf ya pak, maafin saya.”
“Iya nggak pa-pa nak. Tetapi lain kali jangan main serobot saja ya nak.”
Eka tersenyum garing.
“Ya dah Ka, gue balik ke kost gue dulu ya sama bokap gue. Kalau loe terobsesi sama psychopat jangan bokap gue lagi dong yang mau loe laporin ke polisi.” Canda cewek itu sambil tertawa.
“Duh jadi malu gue.”
“Dah akh, yuk ya Ka.”

Cewek itu berlalu dengan bokapnya meninggalkan Eka yang masih menahan malu dengan apa yang dilakukannya tadi. Mungkin karena terlalu terobsesi sama tuh psycophat, sampai-sampai Eka melupakan satu ciri yang disebutkan si biang gossip. Kalau si psychopat itu nggak keurus, sedangkan bokapnya temannya itu tadi pakai baju kerah dan rapi banget. Seketika itu juga Eka mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri.

“Bego banget sih gue, lagian buat apa juga susah payah ngurusin psycophat itu. Bukan gue ini yang dirugikan.”
Eka berjalan masuk menuju gang, kemudian kembali lagi keluar gang, masuk lagi, dan keluar lagi. Berkali-kali dia mondar-mandir dalam gang itu. Antara masih penasaran tetap mengintai si psychopat atau lebih baik pulang dan melupakan obsesinya.

Akhirnya dia memutuskan untuk memenuhi rasa penasarannya. Eka berjalan keluar gang, dan terlonjak kaget dengan apa yang dilihatnya. Seseorang dengan ciri-ciri yang disebutkan si biang gossip sudah berada di depan matanya dan sedang melancarkan aksinya di depan segerombolan cewek, ya nggak bisa dibilang gerombolan sih hanya lima orang cewek tapi sudah lumayan banyak kan buat dibilang gerombolan.

Cewek-cewek itu berlari dibelakang Eka. Eka bingung, apa yang harus dilakukannya sedangkan cewek-cewek itu berteriak histeris dengan aksi si psychopat. Sedangkan psychopat itu tampak tertawa senang banget dengan aksinya, mungkin ada kepuasan dalam dirinya melihat respon dari cewek-cewek yang berteriak saat dia menunjukkan Mr.P nya.

“Cepet Ka, loe tangkap dia. Loe kan cowok.”
“Iya tapi gimana, gue sendirian.”
“Akh cemen juga loe Ka.”

Eka tersinggung dong dengan apa yang dilontarkan oleh salah satu cewek itu. Cowok mana sih yang terima kalau dibilang cemen. Secara Eka kan cowok gentleman, yang artinya gene-gene terpopuler man! Walaupun tampang pas-pasan tapi memang dia terkenal di kampus, aktivis yang suka sibuk kesana-kemari ikut lomba karya ilmiah. Back ke kejadian di gang.

Eka memperhatikan wajah si psychopat yang masih tertawa senang dengan aksinya. Sepertinya dia pernah melihat wajah psychopat ini, diamatinya terus wajah psychopat itu kemudian setelah Eka mengenali wajah itu dia pun berteriak.

“Aaaa gue tahu, loe yang nyolong jemuran gue kan.! Kurang ajar loe.”

Si psychopat yang tertawa mendadak pucat pasi, tetapi masih dengan Mr.P yang menggantung.
“Eh loe sudah maling jemuran gue, sekarang mau sok-sok pamer Mr.P loe lagi disini. Kalau gede aja sih nggak pa-pa ini kecil gitu.”
Si psychopat melihat Mr.P nya yang dibilang kecil sama Eka. Eka berteriak keras.
“HEH, NIH LOE LIHAT PUNYA GUE. GEDE KAN!!” Teriak Eka sambil menunjukkan Mr.P nya.
Serentak cewek-cewek yang ada dibelakang Eka kembali histeris berteriak.
“AAAAAAAAAAAAA………..”

Mendengar terikan histeris teman-teman ceweknya, Eka baru sadar kalau dia berada di tempat umum. Dasar obsesinya kelewat dahsyat sampai lupa dimana dia berada. Cepet-cepet Eka menarik risleting celananya, wajahnya merah bener-bener merah menahan malu. Tetapi dia coba focus dengan si psychopat. Melihat si psychopat terduduk lemas, Eka mengambil keempatan untuk menangkap si psychopat lalu melaporkannya ke polisi.

Beberapa menit kemudian mobil polisi datang dengan mobil dari RSJ, karena apa yang dilakukan oleh si psychopat sudah termasuk dalam salah satu bentuk kelainan jiwa. Suka menunjukkan alat kelaminnya untuk kepuasan sexnya di depan umum sudah termasuk dalam kelainan jiwa. Eka merasa puas dengan apa yang dilakukannya, obsesinya tercapai. Dia memandang mobil RSJ yang membawa psychopat itu, dan berharap semoga orang itu cepat sembuh. Bukan karena dia kasihan tapi karena pengen jemurannya yang di colong sama tuh orang dibalikkin. Dasar Eka!

“Ka, makasi ya.” Ucap salah seorang temen ceweknya.
“Iya Ka, aman deh kita kalau mau lewat-lewat gang ini lagi.” Lanjut yang lain lagi.
“Oia punya loe ‘gede’ juga Ka.” Goda yang lain lagi.
Eka yang digoda langsung merah wajahnya.
“Gue pamit pulang dulu ya.” Pamitnya sambil berlari kecil masuk dalam gang disertai tawa cekikikan cewek-cewek itu.

Gossip Eka menjadi pahlawan kesiangan di gang sebelah kampus sudah tersebar keseluruh antero kampusnya. Gimana nggak tersebar, cewek-cewek di gang yang melihat aksinya merupakan gerombolan si biang gossip yang sering ngasih-ngasih gossip sama Eka. Jadi deh sejak kejadian itu Eka harus tahan melihat tatapan teman-teman padanya yang kadang melihatnya dengan padangan menggoda, ada juga yang cekikikan, ada juga yang melihat kebagian Mr.P nya, mungkin ingin menyakinkan betul atau nggak yang digosipkan tentang Mr.P nya itu. Tetapi bukan Eka namanya kalau nggak cuek bebek kayek cobek diulek-ulek. Dia tetap cool. Malah kalau ada yang memandang dengan tatapan menggoda, dia bales dengan kedipan mata lalu berjalan dengan santai disertai senyum nakalnya.

The End

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer akido
akido at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (8 years 23 weeks ago)
50

Hahahahahaha, cuma cuma bisa bilang koplak! gak bisa ngasih kritikan, coz c pmula! :)

Writer greensasa
greensasa at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (8 years 23 weeks ago)

terima kasihhhhh ;p

100

Eka setipe sama saya juga hahaha

Writer greensasa
greensasa at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (8 years 24 weeks ago)

sama-sama suka penasaran ya atau?? *kedip2 mata* hahaha

iya hahahaha

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (8 years 24 weeks ago)

Hmm... pertama, orang yg suka ngeliatin "itu"-nya tuh ekshibisionis. Kalo psikopat tuh orang yang amoral (atau kejam) dan ga punya empati, tapi kelakuannya mirip orang biasa. Ya silakan riset sendiri lah, sepertinya penjelasan saia agak salah-salah juga
.
Lalu hm, terlalu padat ya. Harusnya tiap paragraf di-enter dua kali biar ga ngegumpel kaek gini. Tapi terserah sih kalo itu emang gaya hha.
.
Cewek bigos-nya kok lebih mirip maho ya ahahaha saia agak bingung jadinya. Selebihnya bagus lah, asik dibaca, dan si Eka itu kelakuannya... hadeuuh... saia suka sama "tragic hero" seperti itu ahahahah. Nais job kip raiting!!

Writer greensasa
greensasa at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (8 years 24 weeks ago)

soal ekshibionis, iya bener namanya ekshibionis kalau istilah psikologisnya. mikirnya sih biar lebih familier aja kalo judul psikopat gitu *masukannya diterima* yeay yeay dapet masukan.... terima kasih... salam kenal...

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (8 years 24 weeks ago)
80

Loh, dobel-pos, om? Atau re-release? Ah oke, saia baca dulu... komen menyusul...
.
Sekalian titip poin hhe. Bentar ya, saia baca dulu

Writer greensasa
greensasa at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (8 years 24 weeks ago)

maklum baru join... tadi ngerasa kok kurang kumplit yg di post jadi nya posting ulang, eh sama aja... mau post cerita lain eh udah gak bisa lagi.... hehehe.... tengkiueee sudah mampirrr rea

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (8 years 24 weeks ago)

Eh, maaf, maksud saia tante... hueheheheheheeh

Writer greensasa
greensasa at Obsesi Gue Nangkep Psycophat Edan (7 years 49 weeks ago)

dimaafkan, tapi saya tidak punya jenggot ya jd lain kali jgn panggil oum lagi Rea ;p