Kecil-Kecil Gini Gue Bisa Main BaseBall Lho!!!

“Wow ada penerimaan pemain baseball, bisa nih gue daftar”
“Yang bener aja, loe mau jadi pemain baseball?”
“Iya emang bener! Kenapa?” Hardik Rara.
“Idih galak aja bu.”

Rara masih mengamati kertas ukuran folio yang ada di depan matanya.

“Beneran loe mau jadi pemain baseball Ra?” Ucap Rico yang masih nggak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
Rara mengangguk pasti lalu berujar “Memangnya kenapa sih?”

Dengan disertai tawa Rico menjawab “Loe kuntet gini mau jadi pemain baseball, yang ada loe di kejar terus sama bola.”
Rara menoleh dan langsung menunjul keras kepala Rico terus beranjak pergi. Rico yang sedang mengusap-usap kepalanya yang sakit setelah di tunjul Rara langsung mengejar Rara.

“Idih Ra, gitu aja loe dah marah. Gue bercanda Ra.”
“Bercanda gimana, loe bawa-bawa fisik Co! Tau deh tau, gue kuntet. Nggak setinggi loe.”
“Yah, dia sensi.”
“Gue nggak sensi tapi memangnya kenapa sih kalau gue mau daftar jadi pemain baseball. Nggak ada salahnya kan.”
“Ya nggak ada sih.”
“Tapi???”
“Tapi gue nggak percaya aja kalau loe bisa main baseball.”
“Ok, kalau gitu sekarang loe antarin gue ke tempat pendaftaran baseball itu.”
“Hah! Sekarang Ra, serius loe?”
“Ya iyalah begooo, memangnya mau kapan lagi. Tahun depan? Udah deh cepet loe antar gue” Pinta Rara sambil berjalan menuju parkiran.

Rico hanya berdiri melonggo di lobby kampus, Rara yang merasa Rico tidak ada dibelakangnya langsung menoleh dan berteriak.
“Eh bego, loe kayak orang bloon tau nggak sih berdiri disitu. Cepetan kenapa sih, panas nih!”

Rico yang tersadar dari longoan oonnya karena teriakan Rara langsung berlari mengejar Rara yang sudah nangkring manis didepan mobil kesayangannya.
“Iya iya, nggak sabaran banget sih loe Ra.”
“Bukan nggak sabaran, tapi loe kayak orang bloon tau nggak”
“Eh biar aja gue kayak orang bloon, lebih bloon lagi orang yang mau temenan sama orang bloon.” Balas Rico sambil masuk kedalam mobil.
“Jadi loe mau bilang gue lebih bloon dari loe gitu?”
“Menurut loe?” Jawab Rico disusul dengan tawanya.
“Ah sial loe.” Dumel Rara sambil memasang sabuk pengamannya.
“Jadi ke GOR Segiri nih?”
“Iya.”

Rico mulai menyetir, menyetel radio, dan perlahan suara seorang penyiar cowok memenuhi mobil itu.
“Ferry ya?”
“Iya.”
“Gue denger dia mau tunangan ya.”
“Nggak penting kali ya, ganti aja ah.” Ucap Rara malas sambil mencari-cari siaran radio lainnya.

Rico tersenyum maklum sambil terus menyetir.
Setelah menemukan sebuah siaran radio yang sedang melantunkan sebuah lagu I Just Wanna Say I Love You dari Potret yang lagi hot-hotnya mondar mandir di tipi-tipi dan radio-radio, Rara behenti mencari dan membiarkan lagu itu melantun. Rara memandang keluar jendela, tanpa sadar bayangan beberapa tahun lalu kembali menari-nari di pikirannya.

Saat itu Rara masih di bangku SMU dan lagi senang kirim-kirim salam lewat radio dengan teman-temannya di luar sekolah dan yang satu sekolah. Dari radio itulah dia mengenal Ferry, seorang penyiar muda yang saat itu statusnya sebagai seorang mahasiswa, suara merdunya berhasil menarik perhatian Rara dan membuat Rara jatuh cinta walaupun belum pernah bertemu dengan dengan si empunya suara merdu itu.

Melalui radio juga Ferry melancarkan aksi-aksi gombalnya, membuat Rara benar-benar tergila-gila padanya. Gimana nggak tergila-gila kalau setiap siaran Ferry selalu menyisipkan kata “Buat Raraku tersayang yang lagi dengerin siaran ini, I Love You dah.” Idih gombal banget nggak sih, tapi dasar Rara masih cupu sama yang namanya cinta jadi percaya gitu aja dengan segala gombal busuk seorang penyiar. Alhasil akhirnya Rara jadian sama penyiar itu, walaupun belum pernah dia ketemu dengan yang namanya Ferry ini. Gila nggak tuh! Cinta memang gila.

Sebulan jadian Rara akhirnya punya kesempatan untuk main-main ke radio tempat dimana si Ferry siaran yang kebetulan saat itu jam siaran Ferry belum dimulai tapi dia sudah ada disana. Rara nyelonong aja masuk serasa wilayah kekuasaannya. Sesaat Rara sudah berada di dalam, Rara bertemu dengan produser radio tersebut.

“Mas, yang namanya Ferry mana ya?”
Karena tuh produser agak sedikit sibuk dengan cuek dia jawab “Tuh di belakang lagi istirahat”
Dengan senyum sumringah Rara langsung berjalan makin ke dalam. Ruangan yang Rara masukin adalah ruangan buat para penyiar, operator dan crew istirahat saat sedang tidak bertugas. Seketika itu juga Rara langsung tetegun melihat seorang pria dan wanita sedang asik bercumbu mesra di sofa ruangan itu. Nggak ada siapa-siapa lagi disana selain kedua orang itu. Dengan sedikit terbata-bata Rara berucap
“Ferry?”

Sontak setelah mendengar namanya diucapkan oleh seseorang, pria berkacamata dengan rambut jabrix nggak karuan yang lagi asik mencumbu mesra teman wanitanya itu langsung menoleh. Dengan sedikit menyipitkan mata dan mengerutkan dahinya Ferry menyebutkan sebuah nama saat melihat baju seragam yang dikenakan cewek itu
“Rara ya?”.

Tanpa banyak basa-basi Rara langsung ngeloyor pergi, mengemudikan mobilnya keluar menjauh dari orang yang selama ini dia puja-puja dan selalu menemaninya setiap hari lewat radio.

Beberapa minggu kemudian Rara tahu dari teman-temannya kalau sebenarnya Ferry sudah mempunyai seorang pacar dan Rara hanya dianggap seorang fans yang menganggumi dirinya, oleh karena itulah dia bisa dengan sukses mempermainkan hati Rara. Sejak kejadian itu, nggak pernah sedikit pun Rara mencoba saluran radio yang dulunya menjadi andalan telinganya untuk di dengar setiap hari. Mulai saat itu juga Rara langsung ngeblack list itu radio dari daftar radio yang kudu di denger. Bisa dibilang sejak saat itu Rara jarang banget denger radio kecuali kalau lagi di dalam mobil dan itu nggak boleh ada channel radio dimana tempat Ferry siaran.

“Duar! Melamun aja loe Ra, jadi nggak nih daftarnya. Sudah nyampe nih.”

Rara yang dikagetin Rico langsung tersadar dari lamunannya lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, ternyata mereka sudah sampai di lapangan baseball GOR Segiri Samarinda.
“Jadilah.” Ucap Rara sambil keluar dari dalam mobil kemudian menarik napas, menghembusnya lalu berjalan menyusul Rico yang sudah berada di pintu masuk lapangan baseball. Setelah berhasil menyusul Rico, Rico merangkul Rara layaknya seorang sahabat sambil berjalan menuju pelatih yang sedang melatih timnya.
“Permisi Pak.” Ujar Rara sopan.

Si pelatih yang memakai topi garis-garis berwarna biru dan putih menoleh ke asal suara yang di dengarnya, terlihat ramah sebagai seorang pelatih.
“Ada apa?”
“Gini Pak, saya baca pengumuman yang di tempel di kampus saya. Katanya team ini lagi butuh pemain-pemain baru ya Pak?”
“Oh iya benar. Anda mau daftar?”
Rara mengangguk pasti.

“KELLY, LHANY.” Teriak si pelatih sambil melambaikan tangan menyuruh orang yang dipanggilnya datang ke hadapannya.
Dengan sedikit berlari dan tergopoh-gopoh, kedua orang yang dipanggil pelatih sudah berada di depan mereka.
“Ada apa Pak.” Jawab seorang pria dengan badan tegap dan tinggi hampir setinggi Rico. Rara yakin pasti namanya Kelly.
“Ini ada anak baru, tolong di urus.”
“Iya Pak. Lhan, ambil formulir untuk diisi.”

Si pelatih kembali ke lapangan
Lhany dengan sigap langsung mengambil formulir dan dalam sekejap sudah kembali ke tempatnya semula. Mungkin ini anak punya ilmu menghilang kali ya, cepet aja dah balik lagi.
“Ini diisi semua.” Jelas Lhany sambil menyodorkan formulir tapi bukan kearah Rara melainkan kearah Rico.
Rara dan Rico saling berpandangan dengan penuh tanya diwajah mereka.
“Bukan gue tapi temen gue ini.” Ujar Rico sambil menunjuk Rara yang berdiri tepat disebelahnya. Seperti jari manis dan kelingking, Rico jari manisnya sedangkan Rara sudah pasti jari kelingkingnya.
Kedua anggota tim baseball itu dalam sekejap berteriak “HAH!” seolah nggak percaya dengan yang mereka dengar dari mulut Rico.

“Memangnya gue nggak pantas ya jadi pemain baseball?”
“Bukan gitu. Maaf, tapi yakin loe bisa main?” Tanya sang kapten masih nggak percaya.
“Perlu gue di test dulu?” Tantang Rara.
“Keberatan?”
“Gue harus jadi pitcher, batter atau catcher??”

Merasa dirinya ditantang oleh anak baru yang kuntet ini, si kapten penasaran ingin mencoba orang yang berani menantangnya. Kelly, si kapten langsung mengajak Rara ke lapangan, berbicara sejenak dengan pelatih. Intinya minta ijin untuk ngetest Rara. Sang pelatih menyuruh anak-anak didiknya untuk menyingkir dari lapangan. Kelly berjalan menuju Rara dan Rico yang berdiri di pinggir lapangan tak jauh dari sang pelatih berdiri.
“Semangat Ra, loe pasti bisa. Okay!”

Rara hanya terseyum seadanya pada Rico yang memberinya semangat. Dalam pikiran Rara “Bukannya tadi Rico ngetawain dia habis-habisan tapi kenapa sekarang dia malah kasih semangat. Duh, sudah lama banget gue nggak megang bat, bisa nggak ya gue. Fiuhhh.” Rara menghembus napas panjang kemudian menyemangati dirinya sendiri “Semangat-semangat Ra, loe pasti bisa.!”
Rico yang berdiri di sebelahnya memijat-mijat pundak Rara. “Semangat Ra!”
“Loe coba jadi pitcher dulu, gue mau lihat lemparan loe.”
Rara mengangguk kemudian mengikuti Kelly berjalan menuju lapangan.
“AYO RA, BUKTIKAN MERAHMU!!!”
“Apaan sih Rico, memangnya gue rokok apa disama-samain sama iklan rokok!” Batin Rara.
“Loe pakai dulu ini terus berdiri disitu.” Kata Kelly sambil memberikan sarung tangan dan menunjukkan mound dimana Rara berdiri sebagai seorang pitcher.
“Duh kenapa harus pitcher sih test pertama.” Keluh Rara dalam hati.
“HAJAR RA.” Teriakan Rico membahana, Rara was-was.

Rara mengambil posisi untuk mulai melempar bola kearah Kelly yang sudah siap dengan bat dan helmnya. Rara menganyunkan bola di tangan kanannya, mengangkat kaki kirinya kemudian melempar bolanya lurus ke depan dengan lemparan tajam. Tetapi bola itu dapat dipukul dengan mudah oleh Kelly dan melayang jauh di sekitar lapangan. Rara mengikuti kemana bola itu melayang kemudian menghembuskan nafas kecewa.

“Nih pakai helm, sekarang giliran loe jadi batter dan karena loe jadi batter jadi harus ada fielding teamnya. Gue mau lihat segesit apa loe.”

Rara melepas sarung tangan dan mengambil helm lalu mengenakan di kepalanya. Sambil berjalan menuju home plate dengan kekecewaan yang ada karena lemparannya yang kurang bagus, Rara menoleh kearah Rico yang tampak prihatin dengan usaha sahabatnya itu. Tetapi saat Rico melihat Rara menoleh kearahnya, dengan wajah yang menurut Rara sedikit dipaksakan tersenyum. Rico mengancungkan dua jempolnya dan berucap tanpa suara “Semangat, loe pasti bisa!”

Melihat dukungan yang diberikan oleh Rico, ada sedikit kekuatan yang kembali merasuk dalam dirinya.
“Gue harus bisa buktikan, biar kecil-kecil gini gue bisa main baseball lho!” Batin Rara karena semangat itulah dia berjalan dengan pede menuju home plate. Menutup matanya dan berdoa sejenak dalam hati, lalu berteriak “YEAH!”

Semua orang yang berada di sekitar lapangan menonton dengan wajah ingin tahu juga fielding team yang menjaga di sekitar base, apa iya anak baru yang kuntet itu dapat memukul bola yang dilemparkan oleh pitcher andalan mereka.

Rara mengayun-ayunkan bat yang dipegangnya, sampai akhirnya menggantungkan batnya di belakang bahunya. Sedikit was-was, takut gagal lagi seperti test menjadi pitcher tadi. Rara mencoba menepis rasa was-wasnya dan menyakinkan dirinya kalau kali ini dia bisa. Rico yang berdiri di pinggir lapangan terlihat berjalan mondar-mandir cemas. Sang pelatih yang duduk di kursi memandang ingin tahu calon anggota teamnya apakah benar-benar mempunyai kemampuan sebagai pemain baseball. Para fielding team bersiap-siap pada posisi mereka masing-masing.

Kelly mengayunkan bolanya sekali, lalu mulai mengayunkan bolanya lagi kedua kali. Rara semakin gugup dibuatnya, tetapi tetap fokus menatap bola yang akan dilempar oleh Kelly.
“Bola itu melayang, langsung pukul setelah itu lari.” Gumam Rara pada dirinya sendiri.

Blessss…..Bola melesat laju, entah sadar atau tidak Rara memukul bola itu dengan sekuat tenaganya. Bola itu melayang jauh, Rara tak melihat seberapa jauh. Dia berusaha lari sekencang mungkin, menginjak base pertama, lalu lari lagi ke base kedua, melaju lagi menuju base ketiga dan finish. Tepuk tangan terdengar dilapangan. Rico melesat lari memeluk Rara. Rara yang nggak sadar dengan apa yang terjadi hanya melongo kayak sapi ompong terus berkata pada Rico.
“Memangnya ada apa Co?”
“RA.LOE BISA! LOE MEMANG BISA!”
“Apaan sih maksud Loe Co.”

Sebuah tangan sedikit gemuk menepuk pundak Rara.
“Selamat bergabung dengan team baseball ini. Baru kali ini ada orang yang bisa menaklukan lemparan bola Kelly sampai home run.” Jelas sang pelatih bijak sambil tersenyum bangga pada Rara.
“Kayaknya team kita bakal tak terkalahkan nih, dengan adanya pitcher dan batter andalan. Selamat ya Ra.” Ucap Lhany sambil mengulurkan tangannya.
“Selamat bergabung Ra. Aku akan punya teman berlatih yang sesuai mulai sekarang.” Ucapan itu datang dari mulut Kelly.
Dalam beberapa menit Rara menerima banyak uluran tangan dari berbagai pemain yang ada di sekitar lapangan itu.

Setelah semua urusan dengan masuknya Rara dalam team selesai, Rara berlari menuju Rico dan memeluk sahabatnya erat.
“Thank’s ya Co sudah jadi penyemangat gue tadi.”
“Itu gunanya sahabat. Kalau sahabatnya kuntet kayak loe gini, butuh tuh dukungan dari orang tinggi dan ganteng seperti gue ini.”
“Idih narsis loe kumat, males deh!” Ucap Rara melepas pelukannya, berjalan menuju parkiran.
Rico menyusul Rara sambil berlari.
“Ra, tunggu gue Ra.!”

THE END

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

suka sih cerita macem gini.

Jadi itu ceritanya Rara suka Rico atau Rico suka sama Rara? Atau dua-duanya sama2 suka tapi gengsi?

Keep writing.
Salam kenal.

terima kasih dansou sudah mampir, salam kenal juga.
ceritanya dua-duanya sama2 suka tapi gengsi untuk nyatain krn efek persahabatan

70

Menarik yah cerita sport kyk gini, tetep lanjutkan okay :)

oh ya?? tengkiueeee ;)