Anugerah Terindah Darimu

“Aku hamil”
Dia datang ke kostku sambil mengayun-ayunkan testpack yang dibawanya dengan wajah bahagia yang terpancar sejak dia masuk dalam kamarku, sedangkan aku yang baru saja bangun tidur masih asik bermalas-malasan diatas tempat tidur.

“Anaknya siapa?”
Wajahnya seketika itu juga berubah, mengernyit dan sedikit tersinggung dengan pertanyaan singkatku itu. Mengubah senyum sumringahnya menjadi tatapan tajam kearahku.
“Memangnya ada berapa laki-laki yang tidur dengaku heh!”
“Oups sorry, jadi itu anaknya?”
“Ya, dan aku senang bisa mengandung anaknya.”

Wajahnya kembali bahagia saat mengatakan anak siapa yang di kandungnya sekarang, sambil sesekali dia mengusap-usap perutnya.
“Dia sudah tahu itu?”
“Belum, dan aku nggak mau dia tahu.”
“Kenapa, bukannya dia wajib tahu?”
“Aku nggak mau dia tahu, titik.”
Sudah ada kata titik yang dia utarakan, dan pagi itu aku sedang tidak ingin berdebat dengannya.
“Yakin kamu hamil?”
“Ya. Ini buktinya.” Yakinnya sambil menunjukkan padaku garis positif dalam testpack yang dipegangnya sejak dia masuk tadi.
Aku menarik diriku duduk kemudian melihat sejenak testpack yang disodorkan olehnya kemudan mengembalikannya lagi padanya.
“Terus apa yang mau kamu lakukan sekarang?”
“Aku mau ke rumah sakit, ngecek dan USG. Kamu temani aku ya.”
“Oke.”

Dia adalah sahabatku, perempuan berambut sebahu, tinggi, dan berkulit putih. Namanya Fia, semua yang dia lakukan dan dia kerjakan sangat berbeda denganku, baginya sebuah keperawanan bukan hal penting. Sedangkan bagiku itu hal yang menyangkut prinsip, dan aku bisa terima dengan perbedaan kami serta tidak pernah merasa terganggu juga kaget dengan apa yang terjadi dengannya seperti kehamilannya. Lelaki yang sekarang dekat dengannya juga teman baikku, namanya Yuda. Apa pun yang mereka lakukan pastinya mereka tahu dengan resiko yang mereka hadapi. Aku juga tahu Fia orang yang setia, berkali-kali dia mengatakan kalau dia sangat mencintai Yuda. Berkali-kali juga dia mengatakan bahwa dia sangat ingin punya keturunan dari Yuda. Saat akhirnya apa yang dia inginkan terwujud, wajar saja jika akhirnya dia begitu bahagia. Sejujurnya aku ikut bahagia dengan berita kehamilannya, tetapi yang menggangguku adalah bagaimana dia ingin merahasiakan hal itu dari lelaki yang dia sayangi. Aku juga khawatir dengan apa yang akan Yuda katakan jika dia tahu bahwa pacarnya hamil diluar nikah. Apakah dia akan menyuruhnya mengaborsi anak itu atau dia ikut bahagia seperti aku dan Fia.

Kami sudah siap untuk berangkat menuju rumah sakit. Dalam mobil berkali-kali dia mengusap-usap perutnya, wajahnya begitu bahagia, aku ikut tersenyum melihatnya walau dalam hatiku bimbang antara ingin menyampaikan kehamilannya pada ayah anak itu atau hanya bisa diam dan tak ambil pusing dengan urusan mereka. Aku menarik napas panjang kemudian mencoba untuk bertanya padanya.

“Kamu yakin, dia nggak perlu tahu soal anak itu?”
“Ya aku yakin.”
“Tetapi itu anaknya, dia wajib tahu soal ini.”
“Aduh, kenapa kamu cerewet sekali?”
“Ya karena itu hak Yuda, dia wajib tahu. Urusan bagaimana nanti kamu ingin merawat dia sendiri ya itu urusan nanti. Ini darah daging dia juga, dia wajib tahu itu.”
“Oke dia wajib tahu tetapi dia nggak perlu merawat anak ini. Aku nggak mau anak ini tahu siapa bapaknya.”
“Terserah, yang pasti dia wajib tahu kalau dia punya anak dari kamu.”
“Oke aku setuju, puas?”
“Ini bukan masalah puas atau nggak, ini masalah hak.”
“Aku malas bahas itu.”

Aku juga tidak membahas lebih lagi karena saat itu kami sudah berada di parkiran rumah sakit. Di meja resepsionis kami di sambut dengan ramah oleh seorang bapak yang membantu dia mencari namanya karena dia tidak membawa kartu registrasinya, dengan sopan bapak itu menyerahkan sebuah kertas sebagai nomor antrian, nama dokter dan ruangan yang akan kami masuki. Ruangan itu ada di lantai dua rumah sakit itu. Aku berjalan disampingnya, memandang sekelilingku sambil tersenyum saat melihat beberapa anak kecil belarian disekitar ruang tunggu yang kami tuju. Beberapa ibu juga duduk disana dengan perut yang membuncit, dari yang sedikit buncit sampai akhirnya benar-benar buncit atau biasa para ibu menyebutnya hamil besar. Kami tidak banyak bicara, hanya diam memperhatikan beberapa orang ibu yang hilir-mudik ruang praktek yang ada di depan kami. Aku membayangkan jika salah satu ibu dengan perut membuncit besar itu adalah Fia, dan anak-anak yang berlarian itu adalah keponakan-keponakanku betapa bahagianya aku. Sampai akhirnya gilirannya untuk masuk ke dalam ruang periksa, aku memilih untuk menunggu diluar saja. Baru dua menit Fia masuk, dia keluar lagi.

“Sudah?”
“Belum, aku butuh air supaya bisa buang air kecil. Temani aku cari air mineral di kantin ya.”
“Oke.”
Kami harus turun menuju lantai satu dan kembali ke arah parkiran rumah sakit untuk menemukan sebuah botol air mineral. Dibukanya tutup botol itu kemudian ditegak habis air dalam botol itu sambil berjalan menuju ruang periksa.
“Mudahan bisa buat aku mengeluarkan air seniku.”

Setelah berkata begitu, seketika juga dia kembali masuk dalam ruang periksa itu, aku merasa saat itu dia melakukan segala sesuatunya dengan sangat cepat. Sampai-sampai aku tidak sempat mengucapkan kata sedikit pun padanya. Cukup lama aku menunggunya di luar, sampai akhirnya dia keluar dengan mengacung-acungkan selembar foto.
“Apa itu?” Tanyaku menyelidik.
“Hasil USG.”
“Jadi beneran hamil?”
“Iya dong, jangan bilang Yuda ya.”
“Selamat.” Ucapku tulus. “Tapi bukannya dia wajib tahu untuk hal ini, kita sudah sepakat tadi.” Lanjutku lagi menagih ucapannya tadi di parkiran.
“Ya..ya…ya..nanti aku bilang dia.”
“Kenapa harus nanti, sekarang.”
“Iya.” Balasnya malas sambil mencari nama kekasihnya di phone book ponselnya.

Aku menunggu di sampingnnya, semenit kemudian hubungan teleponnya tersambung. Kucermati dengan seksama tiap ucapannya yang mengtakan bahwa dia hamil dan dia sudah memeriksakannya di rumah sakit sampai akhirnya mereka janjian untuk bertemu sore ini.
“Apa reaksinya?” Tanyaku saat dia menutup teleponnya.
“Dia senang, dan ingin lihat hasil USG nya.” Jawabnya sambil bangkit berdiri, aku pun ikut berdiri dan berjalan menuju kasir.
“Terus?”
“Ya nanti sore aku ketempatnya.”
“Kamu tetap sama pendirianmu?”
“Ya. Kalau anak ini lahir, aku nggak mau dia tahu siapa ayahnya.”
“Egois.”
“Bukan egois, aku nggak mau ganggu kehidupan dia nantinya.”
“Nggak ada yang tahu nantinya bagaimana kehidupanmu dengannya, kamu bukan Tuhan yang bisa meramalkan apa yang akan kamu jalani nantinya.”
“Ah cerewet.”

Dia bangkit berdiri saat namanya di panggil oleh bagian kasir rumah sakit. Aku hanya bisa menghela napas. Aku tahu dia begitu sayang dengan Yuda, sampai-sampai dia begitu bahagia dengan anak yang dikandungnya dari Yuda. Tetapi dia terlalu egois untuk menjauhkan Yuda dari anaknya sendiri jika anak itu lahir nantinya, karena bagaimanapun juga itu adalah anaknya.
“Cari makan dulu ya baru pulang.” Ajaknya. Aku mengangguk menjawab ajakannya.

Siang itu tak henti-hentinya dia mengusap-usap perutnya, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Sepertinya dia ingin mengatakan pada semua orang kalau dia sedang mengandung. Mengandung anak dari orang yang dia idam-idamkan selama ini, yang sudah dia tunggu selama ini. Setelah makan siang, kami tidak langsung pulang melainkan mampir dulu di kost salah seorang teman lama kami. Disana dia berseru bahagia bahwa dia sedang hamil hingga penghuni kost yang ada di situ ikut mendengarnya. Dia memang orang yang tidak dapat mengendalikan perasaannya jika dia sedang bahagia. Aku pun tak mampu menahannya karena aku ikut bahagia dengannya.

Keesokan harinya Yuda datang padaku.
“Fia hamil.”
“Ya, aku sudah tahu itu. Gimana perasaanmu?”
“Aku senang.”
“Good.”
“Tapi dia nggak mau anak itu tahu aku bapaknya.”
“Ya aku tahu juga itu, terus gimana menurutmu?”
“Aku nggak terima. Bagaimanapun juga dia anakku.”
“Aku sependapat sama kamu, tetapi yang dia bilang dia nggak mau menyakiti perasaan anak itu nantinya.”
“Dia juga bilang gitu sama aku, tetapi aku nggak bisa terima itu.”
“Cobalah bicara sama dia.”
“Sudah, tapi kamu tahu sendiri dia keras kepala. Susah merubah pendiriannya.”
“Jika nanti anak itu lahir dan kamu mau ketemu dengannya, aku coba usahakan buat kamu.”
“Thanks ya Ra.”

Wajahnya begitu gundah, tersirat sedih disana saat membicarakan dia tidak di perbolehkan bertemu anaknya. Aku tahu bagaimana perasaannya, dia juga bahagia dengan adanya anak itu dan mengapa harus dipersulit untuk bertemu dengan anaknya sendiri. Memang mereka melakukannya di luar nikah, dan saat ini mereka tidak mau terikat pernikahan karena perbedaan prinsip mendasar yang ada pada mereka masing-masing sehingga sahabatku memutuskan untuk melahirkan anak itu tanpa ayah dan tanpa ikatan pernikahan. Ucapanku dapat menyakinkanya bahwa aku pasti menepati janjiku itu.

Setiap hari kami begitu sibuk memperhatikan kesehatan anak yang dikandung Fia. Tak pernah lelah kami mengingatkannya agar memberikan asupan makanan bergizi dan tidak kelelahan walau umurnya baru seminggu. Sampai akhirnya genap sebulan anak itu berada dalam kandungannya. Kami semua begitu sayang dan tak pernah capek memperhatikannya.

Hari itu jam 6 pagi, aku masih terlelap di tidurku. Sebuah pesan singkat akhirnya membangunkanku dari tidurku, hingga membuat aku terjaga dari tidurku. Pesan itu berasal dari sahabatku yang menanyakan praktek bidan yang ada di dekat kostku. Seketika itu juga pikiranku menjadi kalut, ada apa dengannya hingga pagi-pagi begini dia harus mencari bidan. Obrolan kami terus berlanjut di telepon.

“Kamu kenapa?”
“Ada bercak darah.”
“Kok bisa?”
“Aku kelelahan.”
“Terus sekarang gimana, dah ketemu bidannya?”
“Sudah, dan harus di kiret sedangkan bidan itu nggak berani.”
“Terus gimana sekarang?”
“Aku disaranin ke klinik yang dekat kampus S.”
“Kamu dimana sekarang?”
“Dijalan mau kesana.”
“Sama siapa?”
“Mbakku.”
“Lho Yuda mana?”
“Sibuk, aku suruh dia menyusul. Kami sempat ribut sebentar tadi gara-gara dia nggak mau menemaniku disini.”
“Mungkin dia sibuk, coba ngerti saja ya”
“Tapi aku akan kehilangan anakku dan dia nggak ada disampingku, dia lebih memilih main futsal dari pada menemani aku.”
“Tapi akhirnya dia mau datang kan?”
“Dia harus datang.”
“Ya sudah, Nanti kabari aku kalau misalnya perlu apa-apa. Aku ada kelas hari ini.”
“Ya.”

Jawaban singkat itu menutup obrolan kami. Hingga senja hari setelah pulang kuliah aku melihat ponsel yang ku silent, ada beberapa panggilan tak terjawab dan dua pesan masuk dari Yuda tertera disana. Isi pesan singkatnya ingin menjemputku agar dapat menemani Fia di kostnya karena dia masih berada dibawah pengaruh bius.

Aku mengkonfirmasi ulang dengan membalas pesan singkat dari Yuda, beberapa menit kemudian dia membalasnya lagi dan mengatakan bahwa Fia tidak ingin ditemani. Dia bisa mengatasi rasa sakitnya sendiri. Dalam hatiku berdoa semoga dia baik-baik saja. Malam harinya saat aku sedang online, Fia juga online. Aku menyapanya, menanyakan keadaannya.

“Fia”
“Aduh sakit perutku.”
“Dikasih obat nggak?”
“Iya, tapi belum kuminum”
“Lho kenapa, diminum dulu”
“Nggak mau, bawaannya pengen tidur terus.”
“Ya nggak pa-pa justru itu bikin kamu istirahat biar nggak kesakitan”
“Iya iya sebentar lagi kuminum.”
“Tadi gimana di klinik, Yuda akhirnya datang juga kan?”
“Dia datang juga karena aku paksa, nggak ada niat dari dirinya sendiri. Nggak mungkin kan apa-apa harus aku suruh.”
“Yang penting dia datang kan.”
“Iya. Tadi setelah di kiret dan pengaruh biusnya masih terasa Mba Lina cerita katanya aku mengigaukan nama Yuda dan minta dia nemani aku disampingku.”
“Gimana perasaanmu sekarang”
“Sedih, aku dari tadi cuma bisa nangis dan nangis.”
“Dikubur dimana dia?”
“Mba Lina yang bawa kubur di tempat seorang nenek yang dia kenal.”
“Aku ikut sedih dan kehilangan.”
“Saat aku benar-benar ingin anak itu, aku harus merasakan kehilangan pada waktu yang sama.”
“Relakan dia Fi, biar dia tenang juga disana.”
“Ya, tapi aku sayang dia.”
“Kita semua sayang dia, tapi kamu dengar sendiri kata dokter waktu itu kalau janin itu sangat rentan dan tidak bertahan lama.”
“Sakit rasanya kehilangan dia.”
“Aku tahu.”
“Dia anugerah terindah yang diberikan Yuda untukku.”
“Tapi kamu harus terus bangkit Fi.”
“Ya. Ra, aku off mau tidur dulu ya. Efek obatnya mulai bekerja nih.”
“Oke, selamat malam Fi.”

Obrolan kami lewat instant messenger berhenti sampai disana. Aku tahu dia menangis walau aku tak melihatnya secara langsung, karena aku juga merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan. Aku pun tahu betapa besar harapan dan kebahagiaannya pada janin yang di kandungnya. Kadang harapan yang besar dapat diruntuhkan dengan sebuah kerterpurukan yang muncul dari harapan itu sendiri. Aku berdoa semoga dia bisa melalui keterpurukkannya dan kembali bangkit untuk terus menggapai harapan-harapannya tanpa melupakan sebuah anugerah terindah yang dia terima dari orang yang paling dia kasihi. Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih tenang dan mengikhlaskannya.

Seminggu berlalu dari dan Fia masih saja mengingat janin yang terpaksa harus digugurkannya itu. Dia selalu memimpikannya dan terkadang dia menangis saat mengingatnya. Semua yang terjadi padanya karena dia begitu mensyukuri anugerah yang didapatkannya. Rasa sedihnya tak pernah hilang, tetapi aku yakin suatu saat dia akan tersenyum saat mengenang apa yang dia yakini sebagai anugerah terindah yang pernah dia miliki dalam hidupnya.

The End

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer herjuno
herjuno at Anugerah Terindah Darimu (8 years 23 weeks ago)
70

Nice...membawa cerit hamil di luar nikah dg sudut pandnag yang tidak umum. Biasanya kan kalau kejadian kayak gini sang cewek akan nangis2, haha, Anyway, usaha yang bagus.
Btw, aku suka caramu memberitahukan bahwa sang janin keguguran dg cara dialog, meski sebenarnya, dialog polosnmu itu menurut saya kebanyakan :D

Writer greensasa
greensasa at Anugerah Terindah Darimu (8 years 23 weeks ago)

okiesss dicatet.... ini cerpen beberapa tahun lalu hihihihi.... tengkiue yaaa.... salam kenall ;)

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Anugerah Terindah Darimu (8 years 24 weeks ago)
80

Wah bagus. Tante greensasa emang jago bikin cerpen tentang kehidupan! Saia ga bisa berkata apa-apa. Eh bisa deh, tapi cuma sekedar ngasi tau beberapa typo aja.
.
>usg <--singkatan, kan? Kenapa huruf kecil?
>hal yang prinsipil <--saia masi ga tau yang bener apa, tapi yang pasti bukan "prinsipil". Entah itu "hal yang prinsipal" atau "hal yang menyangkut prinsip".
>serta tidak pernha merasa
>hamil diluar nikah <--"di"-nya dipisah. Disambung hanya jika kata kerja.
>Ruangan iru ada di lantai dua
>hilir mudik ruang praktek <--kurang tanda sambung? "hilir-mudik".
>yang mengtakan bahwa dia hamil
>“Terus.” <--ini pertanyaan kan? Kenapa ga ada tanda tanya?
>rmemberikan hasupan makanan <--kalo ga salah yang bener tuh "asupan".
>“Iya, tapi belum ku minum” <--"ku" selalu disambung, menurut saia.

Writer greensasa
greensasa at Anugerah Terindah Darimu (8 years 24 weeks ago)

ah iya benar... tengkiue koreksinya Rea.... *langsung memperbaiki. hugs Rea* ;)