mimpi

Detak-detak jam terdengar digendang telingaku sejak aku masuk ke cafe ini. Hening, hening yang menggigit. Tiba-tiba dari depan cafe terlihat seorang perempuan yang berambut hitam panjang sedang memarahi sopirnya. Entah karna apa. Hening, hening lagi , hening yang menggigit dan menarikku ke suatu kenangan. Kenangan disaat aku masih remaja dulu, waktu aku menjadi sopir pribadi untuk membiayai kuliahku.

***
Dari pintu rumah yang cukup megah, keluarlah seorang gadis cantik jelita yang memiliki paras wajah yang kental akan budaya Belanda. Sebut sajalah Minati. Orang yang terpandang di daerah ini. Sambilku lap mobilnya, aku melihat mulutnya berkomat-kamit tidak karuan.
Aku tidak mendengar sahutannya itu lalu dia mengulangi lagi gerakan mulutnya. Tapi aku tetap tidak menghiraukan karena telingaku terpasang handseat dengan volume yang cukup keras.
“Hey... kamu budek ya?” ucapnya emosi sambil menegur pundak kiriku. Terasa sakit sampai ke tulang dalam. Aku menoleh sambil ketakutan. Aku bertanya dalam hati “ada apa ini?”
Dari mulut tipis kemerahannya, ia mengulangi lagi perintahnya.
“Antar aku kerumah Ina!”
“Ba..ik..!”jawabku cukup ketakutan sambil kulepas heandseat dari telingaku. Aku masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengaman dengan kencang. Tapi masih ku lihat Minati berdiri disamping kiri mobil Avanza ini. Aku terdiam sejenak. Hanya terdengar suara mobil dan motor yang berada di balik pagar putih itu. Hmmm aku teringat. Ku buka sabuk pengaman yang telah terpasang baik ini lalu ku membuka pintu mobil dan menuju ke hadapan Minati.
“Maaf mbak, aku lupa membukakan mbak pintu! Ucapku sambil menarik gagang pintu mobil yang berwarna hitam ini.
“Eh panggil mbak lagi, emang gue embak ello? Cepetan dong bukanya! Lama banget sih.”ucapnya lirih.
Aku menari gagang pintunya yang sedari tadi belum juga terbuka. Terlihat pula Minati yang mengangkat tangan kirinya sambil melihat jam yang terlilit ditangan kirinya.
“Cepetan dong bukanya! Udah telat nih. Gimana sih, kerja tuh yang becus dong! Tuh lihat pintunya kekunci dari dalam bego'!”
“O.. iyah mbak, maaf aku lupa”
ku ambil kunci mobil yang tengah aku taruh di kantong celana jens ku ini. Ku tekan remot kunci mobil dan mempersilahkan Minati masuk.
“Silahkan mbak !”
“Ahh lama lo”
Dari balik pintu utama rumah Minati, terdengar suara yang yang sedikit dalam.
“Minati... minati... minati... kau lupa membawa HP mu sayang!”
hmm itulah ayah Minati, seorang pengusaha yang ternama di kota ini. Sosoknya sangat dermawan dan juga sangat bijak. Tanpa dia, aku mungkin tidak akan bekerja disini. Khayalanku terpecah ketika Minati membuka pintu mobil dan berjalan menuju ayahnya dan mengambil HP nya.
“Makasih ya pa”
“Iya, hati-hati dijalan ya sayang”
“Pasti dong pa.. aku pergi dulu ya...”
Minati berjalan menuju kembali ke mobil. Sebelum masuk ke mobil, HP nya tiba-tiba berdering.
“Halo Na.- emm kamu dimana?- tunggu aku ya...- ini nieh sopir aku bikin masalah lagi-okey deh....” tit...tit..tit.. telpon pun terputus.
Udara berhembus dengan nyamannya dari jendela mobil. Terlihatlah pepohonan yang sedang menari dengan dedaunan. Tidak salah jika daerah ini disebut daerah yang terbersih dan terindah. Aku tidak menyadari bahwa di perjalanan tadi aku melamun. Sesampainya dirumah Ina , temanya Minati. Minati langsung saja membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya diatas rumput yang lembut. Dengan langkah kecilnya itu, membuat aku tertarik. Hmmm mimpi!!!!
Dari seberang rumah Minati, tampak seorang gadis yang sepertinya aku kenal. Dia berambut panjang agak kemerahan. Aku menghampirinya. Dia sedang menyapu halaman rumahnya yang dipenuhi dengan dedaunan pohon jambu.
“Hay.. kamu Dini kan?”
“Iya.. Usahanto?” jawabya sambil mengangkat skop sampah.
“iya.. eh kamu tinggal disini? Ama siyapa?”
Dia berjalan menuju ke tempat sampah kecil miliknya, dia menaruh sampa yang ia pungut tadi.
“Iya... aku tinggal disini, ama ibu.” jawabnya sambil tersenyum simpul. Dari senyumnya yang manis itu, bisa ditebak kalau dia mempersilahkan aku masuk.
“Masuk dulu!” ujarnya
Hmmm sudah kuduga. Ucapku dalam hati.“ah nggak usah, aku kesini cuman mau menyapa kamu aja kok. Lagian aku lagi nungguin teman aku .”
“Sambil nunggu, masuk dululah!”
Aku hanya masuk sampai ke teras rumahnya, takut nantinya Minati keluar dari rumah Ina dan mencari-cari aku.
Menit berlalu menjadi beberapa jam. Tidak terasa sudah hampir 2 jam aku berbincang bersama Dini. Sambil ditemani dengan secangkir the dan kue kering yang tersimpan didalam toples. Sore itu di teras rumah Dini. Embusan angin sepoi mengipas rambut Dini yang tergerai sedari tadi. Pakianku sesekali dikibaskan angin, hingga kadang tak sadar orang disekitar memperhatikan aku sibuk membenahi baju ku. Lembar demi lembar buku mata kuliahku terkibas-kibas disampingku. Bahkan sesekali bergeser karena doronganku.daun jambu dari pepohonan berserakan. Padahal Dini tadi sudah susah payah menyapuinya. Mereka seakan-akan turut menemani kami yang tengah berbincang-bincang. Awan dilangit sedari tadi seperti mendung. Oh, semuga saja tidak hujan. Daun jambu kini makin banyak berjatuhan. Ku lihat Dini sedang menatap halaman rumahnya dengan muka yang kurang enak. Aku berdiri hendak ingin mengambil sapu lidi dan menyapu halaman rumahnya. Itung-itung balas budi lah, karna dia sudah capek-capek menyediain the buat aku.
“Kamu mau ngapain?” ujarnya
“Aku mau nyapu”
“Ah nggak usah, sini biar aku saja.”
“Nggak apa-apa kok”
Terjadi tarik-menarik antara kami berdua. Tidak salah jika tangan kami sering bersentuhan. Tiba-tiba kaki Dini kesandung dengan kakiku. Kami terjatuh. Tatapan yang tengah terjadi antara kami berdua. Entah ada apa kenapa kami saling menatap. Dini bangkit dari atas dadaku.
“Maaf ya To.”
“Ah, nggak apa-apa kok. Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak kok”
Ku menoleh ke arah rumah Ina, kulihat Minati berdiri di samping mobil. Dia menatapku dingin. Dari raut wajahnya, sepertinya dia sedang sedih. Dia berpaling dari tatapanku dan berjalan ke arah kiri. Aku berpamitan dengan Dini untuk pulang. Kurapikan buku-bukuku dan berlari mengejar Minati.
“Mbak Minati!!!!!!!!!!”. Minati pun berbalik dan menatapku.
“mbak kenapa?” tanyaku.
Minati berjalan mendekatiku dan memukul dadaku.
“Kamu jahat!!!!”
“Jahat kenapa mbak?”
Hanya suara tangis yang terdengar
“Mbak kenapa? Ada yang salah dengan saya? Kalau gitu, maafin saya mbak”
“Aku nggak suka kamu deket ama Dini.”
“Iah kenapa to mbak? Mbak cemburu?”
“Iyyya!!!!”
Aku terkejut setengah mati, tapi ahhh Minati cuman bercanda kok.
Minati memeluk erat tubuhku. Pada saat itu, aku merasa sangat bahagia. Bagaikan dunia ini hanya ada aku dan dia. Perasaan damai yang ku rasa. Tapi Minati sedari tadi hanya menangis di pelukanku.
“Mbak nggak apa-apa?
Minati hanya terdiam. Sunyi .. hanya suara sesak tangis yang terdengar.
“Aku sayang kamu To! Jujur aku cemburu ngeliat kamu ama Dini tadi.”
“Apa?” jawabku.
“Aku sayang sama kamu!” ucapnya dengan suara keras.
“Aku juga!” jawabku nyengir.
“Hei.. aku serius nih!!!”
“Yah mestilah! Udah dong mbak nangisnya.”
“Liat sini dulu!” dia memegang pipiku dan menatap mataku.
“Aku sayang kamu!” dia mengulangi ucapannya
tanganku terlulur menyentu dahinya
“Hmmm nggak panas . Mbak lagi belajar ngungkapin cinta ya?
“Serius...aku sayang kamu!” jawabnya seperti sibuk sendiri.
“Eh kok bisa?”
“Nggak tau!”
“Nyadar nggak?”
“Iya! Tapi mau gimana lagi. Aku udah coba nahan … tapi nggak bisa!”
“Hmmm jujur juga ya mbak … aku juga sayang ama mbak!”
“Iya? Bener?”
“Bener!”
Sejak hari itu kami menyatukan rasa. Sejak hari itu pula aku merasa sangat bahagia. Kami berusaha menutupi hubungan kami dulu dengan siapapun tapi lambat laun hubungan kami tercium warga kampus.

Pengumuman....................!!!!! woi...woi...woi... gadis cantik konglomerat pacaran ama sopirnya sendiri!!!! “hhhmm itulah kalimat yang tengah gempar di kampus ini. Kalau dibayangin sih, anak konglomerat mau pacaran ama sopirnya sendiri. Tapi namanya cinta, mau di apalah.” lamunanku terpecah ketika Minati menegurku dari belakang. Sampai-sampai botolan air minum kantin dihadapanku terjatuh. Bergegas tanganku memungutnya kembali.
“Makan yuk” pinta Minati
“Kamu mau makan apa? Biar aku yang pesenin!”
“Hmmm bakso aja ama teh sosro ya sayang!”
“Ok. Tunggu bentar ya say!!!” ku kecup kening Minati lalu pergi ke tempat untuk memesan apa yang tadi di pesan Minati. Dari kejauhan aku melihat orang-orang tengah berbisik sambil melihat dengan tatapan sinis. Tapi ku sering cuek saja tidak mempedulikan apa kata orang. Aku mengambil pesanan Minati dan berbalik ke arah Minati. Tapi di samping Minati tengah tampak seorang pria yang tengah memohon kepada Minati. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku bergegas mendekati mereka.
“Siapa dia Minati?”
“Dia ini mantan pacarku dulu”
“Tapi kenapa dia berlutut kayak gini?”
“Dia nyuruh aku balikan ama dia”
“Kamu mau?”
“Ya nggak lah, toh aku udah punya kamu”
Aku berpaling dari tatapan Minati dan menatap wajah lelaki itu. Dia berdiri, tampak tubuhnya yang kekar beda sekali dengan tubuhku.
“Kenapa kau mendekati pacarku?”
“Eh, dia pacarku.!”
Perasaanku tiba-tiba marah entah dari mana perasaan itu. Tiba-tiba saja aku naik pitan. Tanganku melayang dengan kerasnya ke muka pria itu. Dia terjatuh dan menjerit lalu berdiri dan membalas pukulanku. Minati bangkit dari kursi yang semula ia duduki dan menari tanganku.
“Tenang To” tangannya memegang dadaku. Tapi aku masih merasa sangat marah.
“To.. lihat aku” aku melihat mata Minati
“Dia bukan siapa-siapaku, di hatiku cuman ada kamu.”
Aku memegang pipi Minati. Tubuhnya cukup dingin, mungkin karena ketakutan. Tiba-tiba perasaanku menjadi tenang. Aku memeluk erat Minati.
“Aku tidak mau kehilangan kamu Minati!”
“Iya, aku juga To!”
“I love you!”
“Yes me too!”
Tiba-tiba pria itu menarik tangan Minati.
“Minati.. kembalilah bersamaku! Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan aku lagi... pliiisss come back to me!!!”
Minati berbalik dan menampar pria itu.
“Kamu udah ngancurin hidupku tau nggak..!!! kamu rela ninggalin aku demi Siska. Sana pergi aja ama Siska.!!!
“Aku mencintai kamu!!”
Tiba-tiba aku mendorong pria itu.
“Dia nggak mau.. pergi nggak!!!!”
“Eh dia masih mencintai aku bodoh!!! kamu tanya aja ama dia!!!”
aku berbalik menatap Minati.
“bener itu ?”
“Nggak To.. aku nggak!!!” jawabnya
“Tuh kan kamu dengar sendiri.. sana pergi!!! jangan lo ganggu Minati lagi.. Minati tuh punya gue..!!!”
Pria itu pergi dengan berat hati. Perasaannya bisa digambarkan dari matanya yang merah. Aku berbalik ke Minati lagi. Ku memeluknya sangat erat sambil mengelus rambutnya.
“Aku mencintaimu sayang!!!”
terdengar dari kejauhan, pria itu membusungkan dadanya.
“Lihat pembalasanku nanti!”

***
Dua hari berlalu setelah masalah itu, seorang perempuan memanggilku dengan nada cukup ketakutan, mungkin dia bermaksud untuk memanggilku.
“Kamu dipanggil sama pak Burhan dikantornya!”
“Untuk apa?”
“Nggak tau tuh! Datang aja!”
“Makasih ya”
Aku berjalan sambil bertanya-tanya, tiba aku sampai didepan pintu kantor pak Burhan. Aku mengetuk pintu sambil memberi salam.
“masuk To!” terdengar suara itu dari dalam.
Aku masuk keruangan pak Burhan. Tampak komputer yang sedang menyala dan terdengar pula lagu-lagu yang keluar dari speaker komputer.
“Mana uang pembayaranmu?” nadanya sedikit keras
Aku membuka tas ranselku, ku obrak-abrik isinya, tapi tidak tampak uang pembayaranku.
“Maaf pak uangku hilang!”
Dia berjalan menuju komputernya, dan mematikan lagu-lagu yang tengah bermain.
“Apa? Tidak usah bohong, kamu taukan hari ini hari terakhir untuk melunasi pembayaran semesteran mu.!” dia berbalik dengan nada marah.
“Tau pak tapi...”ucapanku terpotong
“Nggak ada tapi-tapian, tandatangan surat ini!”
“Ini surat apa pak?”
“Ini surat pengunduran dirimu!”
“Pak maafkan saya, tapi uang itu benar-benar hilang.”
“Ahh tanda tangan saja !”
dari balik pintu terdengar suara serak.
“Dia pasti bohong pak!” suara itu dari pria yang waktu dulu mengganggu Minati. Aku bangkit dari tempat dudukku.
“Hey apa masalahmu?” nadaku marah dan mendorong dadanya.
“Kamu hanya orang miskin. Buat apa sekolah disini.!?” jawabnya
pak Burhan menenangkan kami berdua.
“Benerkan pak, orang miskin kayak dia buat apa sekolah disini?”
“Tutup mulutmu!” nadaku marah, mungkin inilah pembalasannya.
Dari balik pintu itu lagi, tampak seorang perempuan berbaju pink dan bercelana jeans.
“Ada apa ini pak?” ucapnya, “itu Minati? Buat apa dia kesini?”ujarku dalam hati.
“Dia belum mlunasi pembayaran semesterannya!” ucap pak Burhan.
“Berapa pak?”ucapnya sambil mengeluarkan isi dompetnya
Aku menarik tangan Minati.”tidak usah!”
“ahhh nggak apa-apa! Nih pak, cukup kan?”
Minati menarikku keluar dari ruangan pak Burhan. Tampak pria itu terpaku menatap kami berdua berjalan dan berlalu.

***
Tidak terasa aku melamun selama 2 jam dan tetap menatap laptop di hadapanku. Kopi yang sedari tadi ku pesan, kini telah dingin. Aku merapikan alat-alatku dan beranjak ingin pulang. Kuberdiri dan mengambil jas yang aku gantung di belakang kursi yang kududuki. Aku berbalik dan sosok lain muncul dari balik bahuku. Seorang perempuan cantik. Perempuan yang telah menghadiahi aku seorang anak laki-laki. Dia menyambutku dengan senyum simpul dari bibir indahnya. Usaha cafe ini maju dan sukses berkat bantuan dan dorongan Minatiku tercinta.
Malam telah datang tak terasa sore telah pergi tapi akan kembali lagi esok hari. Suara gemercik air diatas genting membuat aku menjadi terganggu. Proposal yang ingin ku ajukan besok harus selesai. Sepertinya kepalaku akan pecah. Ku dorong kursi dari tempat yang kududuki, kubanting pena yang sedari tadi aku gunakan. Aku berjalan menyusuri ruangan tapi tak ada seorang pun yang aku lihat dari tadi. Aku duduk di ruang tengah. Sunyi, tidak ada suara berisik dari anakku Ary. Hanya air yang turun dari langit hitam. Lama, lama aku duduk. Tiba-tiba aku teringat lagi dengan bisnis yang ditawarkan oleh perusahaan yang aku ajak berbisnis. Datang ke kampung yang banyak menggoreskan kenangan diwaktu aku masih anak-anak dulu. Kampung yang berusaha aku lupakan itu. Bagaimana pun itu kampung halamanku banyak kenangan yang indah tapi ada juga yang menyakitkan. Dari balik pintu kamar, Minati keluar dengan baju piamanya.
“Sedang apa mas? Kok belum tidur?”
“Aku nggak bisa tidur!!”
“Kenapa? Urusan bisnis lagi?”
“Iyah nih.. lokasinya ada di kampung halamanku dulu. Hmm kampung yang menggoreskan banyak kenangan itu.”
“Cerita dong mas. Aku mau dengar!”
“baik lah, dengerin aku ya!”

***
Aku bangun dari tempat tidur, hal pertama yang kulihat adalah wajah nenekku. Badanku sudah segar dibanding tadi karena aku sudah mandi. Aku siap untuk bermain, tanpak temanku berada di depan rumah.
Pagi berlalu, matahari sudah ada di atas kepala, satu per satu temanku sudah pulang. Aku pun juga pulang. Disepanjang jalan, perasaanku menjadi tidak enak. Mungkin karena kelamaan main panas-panasan. Sesampainya di depan rumah, aku melihat nenekku tengah memasang tatapan duka. Nenek berjalan menghampiriku dan memelukku. Nenek mengajak aku pulang.
Kami pun pergi dan kembali menuju rumahku. Tampak pohon berserakan dan rumah hancur-hancur. Perasaanku terhanyut entah kemana. Pandanganku terpaku pada satu titik yaitu nenekku. “ada apa sebenarnya ini? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” perasaanku makin lama makin tidak enak. Jantungku berdeguk tidak karuan.
Sesampainya aku di rumah, mataku tiba-tiba menjadi padam. Rumahku hancur. Aku mencoba menahannya tapi tidak bisa. Air mata bercucuran . Aku menoleh ke nenekku, tapi tampak nenek juga menangis.
“Ayah sama ibumu meninggal nak.!”
“A....ppa..??”aku berlari menjauh dari nenek, entah kenapa kakiku tiba-tiba saja berlari. Entah kemana tujuanku. Hatiku hancur. Tiba di suatu batu yang cukup besar. Aku duduk diatasnya. Aku menangis.. menangis dan menangis.. dunia ini sepertinya sudah mati tanpa orang tuaku.
“Bodoh!bodoh!bodoh! Kenapa kau tinggal ayah ibumu?”gumamku sambil menyalah-nyalahkan diriku
Lama aku terduduk di atas batu, tiba-tiba ibuku muncul duhadapanku.
“Ibuuu!!!”
“Usahanto? Kamu kemana saja nak? Ibu mencarimu!”
“Lah malah aku mau bertanya sama ibu, ibu kemana aja? Kata nenek tadi ibu sudah meninggal!”
Ibu hanya menjawab dengan senyuman. Ibu mengelus-elus rambutku, tenang, tenang, tenang yang indah. Sampai sore menjelang.
“Ibu harus pergi ya! Jaga nenek baik-baik”
“Ibu mau kemana? Ayo kita pulang bu.. pulang kerumah!! pasti ayah mencari ibu!”
“To, ibu harus pergi ya!!! jadilah anak yang baik!! ingat pesan ibu!”
“Bu... aku ikut ya..! aku rindu ibu.”
“Kamu tidak boleh ikut”
Ibu berdiri dan pergi dan berlalu.. gelap terasa..
“Ibu.....!!!!!”
Aku terbangun dari tidurku sambil berteriak memanggil nama ibuku. Sungguh mimpi yang sangat nyata. Ibuku datang meninggalkan pesan. Tapi kenapa? Apakah ibu sudah meninggal? Sore itu ku termenung sendiri. Aku mengingat pesan ibu yang mengatakan “Jaga nenek baik-baik”. Aku berlari pulang dengan mata mengeluarkan air. Basah bajuku gara-gara tangisanku sendiri. Aku tidak menyangka ibuku pergi begitu cepat. Aku sampai dirumahku yang sudah roboh. Kulihat nenekku yang masih mencari-cari entah apa yang di cari. Aku mengajak nenekku pulang.

Di Perjalanan serasa hampa, kosong dan gelap. Suara yang berisik gara-gara motor berlalu lalang, kini serasa tak terdengar. Hatiku kacau tiada tara. Lagi-lagi aku menangis. Aku mengusapnya dan bertekat untuk tidak menangis lagi. “akukan laki-laki-!!! harus tegar!”

***
Berbulan-bulan telah berlalu. Sudah setahun ayah ibuku meninggal tapi aku sudah bisa menerima nasibku ini. Masih ada nenek yang bisa menjagaku, merawatku dan memberikan kasih sayang kepadaku. Tapi akhir-akhir ini nenek sakit. Entah apa penyakitnya itu. Aku kasihan kepada nenek, selama ini dia yang merawatku. Setiap pagi aku pergi menebang kayu di hutan, alhasil bisa ku membeli makanan setiap hari, dan selebihnya aku sisihkan untuk uang berobat nenek.
Aku sudah siap kesekolah, ku berpamitan terlebih dahulu. Terdengar suara temanku yang sudah memanggilku untuk bersama ke sekolah. Disepanjang jalan aku merasa senang karena nanti ada pertandingan bola. Hmmm pasti aku menang lagi..
“Eh kok senyum-senyum?” sahut temanku
“Ah nggak kok, aku cuman ngebayangin kalau entar kita akan menang”
“Ya.ya.ya kalau ada kamu tim kita pasti menang dong!”
Kami tertawa bersama. Tak terasa sudah sampai di gerbang pintu sekolah. Tapi perasaanku tiba-tiba tidak enak. Seperti saat orangtuaku meninggal. Aku teringat pada nenek, aku berlari menuju pulang kerumah. Keringat ditambah dengan jantung yang berdeguk kencang. Sesampainya di depan rumah, telah ku lihat orang-orang sudah bekumpul. Air mataku tiba-tiba lagi terjatuh. Kutatap nenekku yang terbaring diatas kasur sambil menggunakan pakaian yang tadi pagi ia gunakan.
“Sabar ya nak!”sahutan itu yang terdengar hampir semua warga kepadaku. “apa salahku Tuhan....???? kenapa kau mengambil orang yang aku sayangi?? ambil aku juga Tuhan!!!” aku tidak sanggup menghadapi ini semua . Air mataku berjatuhan, seperti ombak yang menabrak karang. Hidup memang tidak adil. Pernyataan itu yang mampir di benakku.
Nenekku telah dikuburkan di samping kuburan ayah ku dan ibuku. Hampa, hitam, kosong yang ada di fikiranku saat ini. Pak lurah sudah mengurus semua kepindahanku ke panti asuhan karna tidak ada satu orang pun yang mau merawatku.

***
Hari pertama di panti memang kurang menyenangkan apalagi jika dibandingkan perasaanku saat ini. Hari kedua.. ketiga.. keempat.. hingga dua tahun aku di sana. Tapi keadaannya sama seperti hari pertamaku di sini. Masih teringat akan masa lalu yang kurang menyenangkan.
“koran...koran...koran...!!! koran pak?” aku menuju ke salahsatu mobil untuk menawarkan koran.
“Korannya satu dek. Berapa?
“3000 pak.”
“Nih..!” sambil memberikan uang 5000
“Wah pak nggak ada kembalian ni!”
“Ambil ajah. Itu buat kamu.”
“Makasih pak. Mudah-mudahan dibales ama yang diatas”
Sore menjelang, aku bermaksud ingin pulang. Uang yang ku dapat dari hasil jual koran ku sisihkan untuk pengurus yayasan. Lumayan rezeki yang ku dapat cukup banyak.
Senja sudah ada di ufuk barat, tanda matahari akan diganti bulan. Dari luar pintu kamar kulihat seorang pria dan seorang ibu-ibu. Pria itu datang dan langsung mendorongku ke atas ranjang.
“Ini bu, yang ambil uangnya!”
“Ah masa ibu nggak percaya”
“Aku melihatnya bu, tadi di masuk ke kantor ibu dan mengambil uang yang ada di laci ibu.”
“Betul itu To?”tanya ibu Nafisah sampil menatam mataku dalam
“Nggak bu, boong”
“Aah nggak usah ngees lo. Bilang aja lo yang ambil.”
“Nggak kok. Periksa aja”
“Gimana bu? Kita periksa? Tanya pria itu kepada ibu Nafisah
“Iyah periksa!”
Mereka mengobrak-abrik tempat tidurku, lemariku, bahkan dalam tasku. Tapi nasib sial bertimpa kepadaku.
“Ahh ini apa To? Ini uang kan? ibu sekarang percayakan?”
“Ahh itu bu...ka..n saya bu.. sumpah bu”
“Usahanto.. temui saya di ruang kantor!”
Aku ketakutan setengah mati. Tampak pria itu senyum sinis kepadaku, tapi benar aku tidak pernah mau berniat mencuri. Jantungku berdeguk tiada tara, serasa mau copot dari tubuhku. Terlihat ibu Nafisah sedang memegang kayu.
“Kamu tau perbuatanmu itu kurang baik?”
“Aku tidak mencuri bu..”
“Diam!!!! lalu apa ini? Ini buktinya kamu mencuri”
“Aku berani bersumpah bu.. itu bukan saya bu..”
“Pembohong!! kamu taukan di sini kita diajari untuk tidak mencuri.?”
“Tapi bu itu bukan ulah saya bu.. coba ibu pikir deh, saya tidak pernah masuk ketempat ibu, lagi pula mana saya berani bu..”
“Tapi teman kamu yang lihat kamu. Kamu tau apa ganjarannya?”
“Tapi bu, itu bukan saya bu, saya berani bersumpah!”
Aku ketakutan, karena dulu ibu Nafisah mengatakan peraturan di yayasan ini, jika seorang anak terbukti mencuri, maka akan dikeluarkan.
“Baik, kali ini aku maafkan kamu, tapi kalau besok-besok kamu lakuin lagi, kamu akan dikeluarkan, kamu mengerti??”
“Baik bu.!”

Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan kecewa. Siapa yang membenciku sampai-sampai dia lakukan ini kepadaku? Aku kembali ke kamar dan tertidur.

***
Betahun-tahun telah berlalu, kini aku sudah lulus SMA, aku mencoba mendaftarkan diri ke universitas melalui via online. Alhasil aku diterima di universitas yang cukup ternama di jakarta. Cita-citaku dari dulu ialah kuliah di universitas yang ternama, menjadi murid yang baik seperti yang dikatakan ibu dulu. “Railah cita-citamu setinggi bintang dilangit”. Aku berpamitan ke semua pengiurus yayasan dan teman-temanku. Terdengar pula ada suara tangisan dari balik pintu kamar.
Pintu keluar telah di depan mata, aku luangkan waktu untuk berbalik sejenak melihat kawand-kawand ku. Perpisahan yang amat terasa pedih. Sudah 3 kali aku merasakan sakit ini.
Kulangkahkan kakiku untuk mencari pekerjaan. Aku tiba di salah satu perusahaan yang paling ternama di Jakarta dengan bekal ijazah SMP. Fasilitasnya cukup megah dan menawan. Aku duduk dibagian lobby dan sosok lain muncul dari belakang. Aku menatapnya, seakan ia pernah aku lihat. Aku berjalan mendekatinya.
“Aaa maaf pak!”
“Yaa siapa ya?”jawabnya
“Bapak nggak kenal saya? Itu loh yang jual koran langganan bapak!”
“Ahh kamu? Sedang apa di sini?”
“Gini pak aku mau lamar pekerjaan disini, tapi kata resepsionisnya, tunggu dulu pemilik perusahaan ini, bapak tau nggak?!”
“Ahh dari tadi nunggunya?”
“Iya ni pak, udah 1 jam!”
“Kamu masuk dulu gih,!” perintahnya sambil menunjukkan sebuah ruangan. Tanpa berfikir lagi, aku pun masuk . Aku di persilahkan duduk, kursinya cukup empuk.
“Kamu mau kerja apa?”
“Apa aja boleh la pak”
“Gini nih anakku mau kembali dari Australia besok siang, tapi dia nggak bisa bawain mobil. Nah kau mau? Gajinya besar kok”
“Ahhh mau pak! Kapan mulai kerjanya pak?”
“Mulai besok, jemput anakku di bandara!”
“Baik pak!”
Tiba-tiba, Hpnya berbunyi, suaranya tidak terdengar jelas. Dia berbalik lagi menatapku.
“Kamu mulai kerjanya ini hari ya?”ucapnya sambil menoleh ke hadapanku
“Iya pak”.
“Kamu tinggal dimana sekarang?”
“Aku belum punya tempat tinggal pak, ini lagi sementara nyari,”
“Tinggal dirumah saya aja, kah kamu mau jadi sopir pribadinya anak saya”
Aku hanya menjawab dengan senyum simpul, aku malu bapak ini sudah menbantu sangat banyak, tapi mau diapalah.
Aku pun tinggal di rumahnya, rumahnya cukup megah,indah dan menawan. “orang kaya memang seperti ini!”
Siang itu, aku diberi kunci mobil oleh tuan rumah untuk menjemput anak gadisnya. Diperjalanan tampak pula seorang yang sedang ngamen di pinggir jalan. Senyum yang hanya dapat aku lakukan. Bandara sudah ada di depan, aku tepat waktu. Seorang gadis cantik turun dengan anggunya menari koper besarnya. Dialah majikanku sekarang, seorang gadis berparas belanda-indonesia, kulitnya putih mulus.
“Hallo?”ucapku kepadanya
“Who are you?”jawabnya sinis
“Im you sopir” aku menjawab dengan bahasa campuran,
“who? Sopir? What does its means? I dont understand!”
“Im usahanto!”ku julurkan tangan ku hendak mau menyalaminya, tapi dia malah sibuk membenahi rambutnya. Tanganku terpaling, kutarik kembali dan aku merasa malu sendiri.
“Cepatlah. I want go home!”
“Ok miss!”
kupersilahkan ia masuk kedalam mobil. Kubukakan ia pintu depan.
“What? Kau suruh saya duduk didekat mu? Never!!”
“Oh sorry miss!” kubukakan pintu dan kupersilahkan dia masuk

***
“Itukan dulu,, maklumlah aku nggak kenal mas!!” tiba-tiba suara itu terdengar memotong ceritaku. Suara itu berasal dari mulut Minati istriku.
“Iya, iya ,iya!! aku tau!”
tiba-tiba terasa hening , diantara kami berdua terdiam.
“Mas... gimana kalau kita buat yayasan panti asuhan?”
ucapannya sangat mengejutkan ku,
“Iya, boleh juga!”
malam itu hatiku serasa tergugah, istriku sudah banyak berubah. Ku tarik kepalanya dan ku sandarkan kepalanya dibahuku, perasaan haru bercampur bahagia. Kebahagiaanku bertambah ketika Ary bangun dan memberikan senyum manis kepadaku.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dyeant
dyeant at mimpi (3 years 39 weeks ago)
40

hehehe.. makasihh!!! ^_^
ini baru karya pertama..

Writer As syafin
As syafin at mimpi (3 years 39 weeks ago)
70

untung happy ending ya heheheh asyikkk bgt kykny tuh