SURAT UNTUK IBU

Senja yang indah. Langit telah berubah mendekati merah. Matahari semakin membenamkan dirinya di balik gunung-gunung yang tinggi. Burung-burung pun secara naluriah terbang kembali ke sarangnya.
Menikmati senja itu, seorang wanita paruh baya duduk di depan sebuah rumah. Ia seorang diri. Sebuah kursi tua yang agak reot didudukinya sambil matanya tidak lepas menatap sekeliling rumahnya.
Diseruputnya teh yang sedari tadi berada di atas meja di hadapannya. Sesekali wajahnya terlihat sedang menunggu sesuatu. Tampaknya ia berharap seseorang datang membuka pintu pagar depan rumahnya. Ataupun jika perlu melompati pagar tersebut. Tidak sulit bagi orang dewasa untuk melompati pagar yang hanya terbuat dari kayu bambu tersebut.
Dua hari yang lalu, anaknya berbicara lewat telepon, memberinya kabar.
“Halo, ibu! Bagaimana kabarnya?” tanya Alif, anak semata wayangnya.
“Alif? Ibu baik-baik saja, nak. Kamu sudah sampai, ya? Dimana kamu sekarang? Kamu sendiri bagaimana? Kamu tidak kekurangan apapun, kan? Kenapa baru nelpon?”
Rentetan pertanyaan diajukannya menyambut telepon dari anaknya.
“Alif baik, bu. Pertanyaannya jangan sekaligus, dong. Aku kan jadi bingung mau jawab yang mana. Ibu tenang saja, Aku disini baik-baik. Yang penting ibu terus mendoakanku.” jawab anaknya tenang.
“Alhamdulillah…” lirihnya.
“Yang penting sekarang, ibu tunggu saja surat dariku. Nanti akan kuceritakan semua lewat surat itu.”
“Lho, kok lewat surat? Bukannya kamu bawa handphone?” potongnya.
“Iya. Tapi sepertinya lewat surat akan lebih istimewa, bu. Aku merasa akan lebih bermakna jika ibu bisa membaca suratku. Ibu sendiri kan pernah bilang, kata-kata dalam tulisan bisa mewakili perasaan seseorang. Lagipula handphone nanti digunakan untuk keperluan mendesak saja, bu. Pokoknya ibu tunggu saja, deh.”
Ia tidak bisa menolak keinginan anaknya. Ia tahu anaknya memang selalu membuatnya terkejut. Akan tetapi di samping keterkejutannya itu, ia selalu mendapati rasa kagum terhadap anaknya. Tidak masalah baginya jika ia harus berkirim kabar dengan anaknya melalui surat. Toh, sama saja.
Surat sudah cukup baginya. Selembar kertas surat bahkan lebih mendalam menuturkan seluruh kata hati pengirimnya. Bisa ditebak, mengapa sebuah surat, khususnya surat cinta, juga menjadi sebuah simbolis keromantisan seseorang terhadap lawan jenisnya. Ini membuktikan bahwa surat masih lebih berjaya untuk menyampaikan kata hati seseorang. Begitu pikirnya kemudian.
“Assalamu’alaikum!” sapa seorang petugas pos tiba-tiba.
Arini kemudian tersadar dari lamunannya. Begitu tersadar, ia sudah tahu siapa yang datang. Orang yang diharapkannya telah datang.
“Wa’alaikum salam!” jawabnya sembari bergegas ke depan rumah menemui petugas pos yang terlihat berdiri menunggu di luar rumah.
“Ada surat buat Anda,” kata petugas pos itu, “dan tolong ini ditandatangani.”
Petugas pos itu menyodorkan buku nota. Arini pun lantas menandatanganinya.
“Terima kasih ya, Pak.”
“Sama-sama.” Ucap petugas pos itu ramah sambil berlalu.
Seperti yang telah ditunggu-tunggunya, surat dari anaknya telah tiba. Surat pertama yang dikirimkan Alif semenjak ia harus meninggalkan ibunya sendiri di rumah.
Dibukanya surat itu dengan penuh rasa bahagia dan penasaran yang berkecamuk menjadi satu. Rasa rindu seorang ibu pada anaknya telah membuncah untuk membuka tulisan tangan tersebut.

Yogyakarta, 20 Juli 2009
Yang Tercinta dan Kurindu Selalu…
Ibundaku di Rumah

Assalamu’alaikum wr wb.
Ibuku tersayang….
Betapa hati ini rindu untuk bertemu dengan ibu.
Dikirimnya surat ini menandakan bahwa aku telah tiba dengan selamat di Yogyakarta. Tidak kekurangan apapun (layaknya yang selalu ibu khawatirkan selama ini). Aku berharap ibu juga baik-baik saja. Semoga ibu selalu ada untuk mendoakan anakmu yang lemah ini.

Ibuku tersayang….
Tidak perlu cemas akan kelangsunganku disini .Bersama temanku, aku telah menemukan pondokan yang cocok untuk kami. Pondokan khusus untuk putra. Jadi, ibu tidak usah cemas. Anak ibu pasti bias jaga diri.
Orang-orang disini semuanya ramah-ramah. Keakraban kami sesama mahasiswa cukup mudah terbangun. Ternyata memang benar kata ayah dulu, sebagian besar orang Jawa itu ramah dan baik. Sekarang pun, Alif sudah lihat sendiri buktinya.
Untuk masalah kuliah dan kebutuhanku, ibu tidak perlu bekerja terlalu keras. Cukuplah ibu menjalani perkerjaan ibu sebagai seorang guru. Tidak usah menambah pekerjaan lain. Tentunya aku akan cari pekerjaan sampingan disini. Suasana disini sepertinya sangat mendukung mahasiswa untuk menjalani pekerjaan sampingan. Insya Allah, tidak akan mengganggu waktu kuliah yang kujalani. Jadi, ibu tidak perlu khawatir.

Ibuku yang kusayangi….
Meskipun, kini ibu sendirian di rumah, aku harap ibu tidak kesepian. Aku pasti akan selalu ada buat ibu, seperti halnya ibu yang dulu selalu ada buat aku. Aku harap dengan surat-surat ini akan bias melepas kesepian ibu.
Kini, aku harus menghadapi masa-masa yang berat disini. Menjalani kehidupan baruku sebagai seorang mahasiswa. Dengan segala tanggung jawab yang dilekatkan pada namanya. Bagiku, tidak masalah, karena aku tahu ibu pasti selalu mendoakan yang terbaik buatku. ^_^

Ibu…
Tulisan tangan ini kucukupkan dulu sampai disini. Aku janji pasti akan mengirimkan surat lagi lain waktu. Ibu tunggu saja. Tapi ibu harus selalu jaga kesehatan. Juga doakan aku, ya biar berhasil… Finally, aku saying ibu.

Salam Rindu

Alif

Hatinya begitu bahagia usai membaca surat itu. Tidak ada lagi alas an baginya untuk merasa cemas akan keadaan anaknya. Ia sadar, meskipun Alif adalah anak semata wayangnya, namun Alif sudah beranjak dewasa. Ia bukan kanak-kanak lagi. Kemandiriannya membuktikan segalanya. Bahkan, kemungkinan ia telah siap untuk menggantikan peran ayahnya.
Arini menyeka setetes air mata di pipinya. Air mata haru. Air mata penuh rasa bangga.
* * * * * * *

“.......Ibu mungkin lupa hari ini adalah hari apa. Tapi aku tidak akan lupa. Semoga saja, tepat ketika surat ini telah sampai di genggaman ibu, ibu telah genap berusia 47 tahun. Oleh karena itu, ingin kutitipkan ucapan, ‘Selamat Ulang Tahun’ buat ibu.
Di hari istimewa ini, aku selalu mendoakan semoga Yang Kuasa memberikan ketenteraman buat ibu. Semakin tabah, semangat menjalani hidup, ramah, pengertian, dan ulet. Satu lagi, semoga Yang Kuasa senantiasa mengabulkan doa-doa ibu.
Maaf, ya bu. Aku tidak bisa menemani ibu. Disini aku masih menjalani kuliah yang begitu padatnya. Meskipun baru sekitar empat bulan kuliahku berjalan, tapi sudah banyak tugas yang mesti diselesaikan dalam tempo yang juga cukup singkat.(Ya, seperti yang kuceritakan dalam surat sebelumnya, bu).

Ibundaku tercinta....
Ucapan selamatku sudah kusampaikan. Oleh karena itu, tibalah waktunya aku kembali mengakhiri surat ini. Tenang saja, surat lainnya akan menyusul. Yang penting, ibu sehat-sehat disitu............”

Matanya terus saja berkca-kaca jika membaca surat anaknya. Ia benar-benar merasa bangga pada anaknya. Tidak sia-sia anaknya memilih untuk kuliah di Yogyakarta. Padahal beberapa kali ia telah menganjurkannya untuk kuliah di Makassar.
“Tidak, bu. Aku rasa kualitas disana sudah terjamin. Selain sebagai universitas tertua, dikenal juga sebagai salah satu universitas terkemuka. Lagipula kotanya juga terkenal sebagai kota pendidikan. Jadi tidak ada salahnya jika aku kuliah disana.”
“Tapi, disana kamu tidak punya siapa-siapa loh.” cemasnya.
“Tidak apa-apa, bu. Namanya juga orang kuliah. Sudah sepatutnya hidup mandiri, kan.”
“Tapi, Alif....”
“Sudahlah, bu. Percaya deh sama Alif. Insya Allah aku bisa.”
Sebagai orang tua, dirinya juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya. Toh, yang menjalani kuliah, ya Alif sendiri. Lagipula dia sudah cukup yakin dengan keyakinan anaknya. Ia begitu mengandalkan kemampuan yang dimiliki anaknya. Anaknya sudah bisa mandiri.
Jika Alif sudah seyakin itu, tidak mungkin baginya untuk mencegahnya. Ia tahu betul watak anak kesayangannya itu. Keteguhan hatinya tidak mudah goyah dirusak siapapun.
* * * * * * *

“Ibuku yang kusayangi........
Kembali surat ini kukirim sebagai pelepas rinduku. Entah, surat ini telah menjadi surat yang kesekian kalinya sampai ke tangan ibu. Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk menghitung-hitung semua surat yang telah kukirimkan buat ibu, sebagaimana ibu pun yang tidak pernah menghitung-hitung kasih saying ibu padaku.
Semoga, ibu disitu masih tetap sehat seperti biasa. Alhamdulillah, disini aku pun sehat wal’afiat.

Ibuku yang penuh pengertian......
Ibu adalah yang terbaik buatku. Hari ini merupakan hari yang cukup istimewa bagi seluruh ibu di dunia, tidak terkecuali bagi ibuku sendiri.

Selamat Hari Ibu!
Meskipun kini aku jauh dari ibu, tapi aku ingin menyempatkan diri untuk memberi ucapan selamat hari ibu pada ibu yang kusayangi. Ibu yang disayangi harus merasa bahagia pada hari ini. Semoga dengan surat yang kukirimkan ini ibu bisa merasa bahagia selalu.
Ibu ingat tidak, ketika aku masih di rumah. Jika hari ini tiba, aku selalu menyempatkan diri untuk membuat kejutan untuk ibu. Ketika masih kanak-kanak, aku selalu membuat semacam kerajinan tangan sekedar untuk diberikan untuk ibu. Memang, tidak cukup bagus, tapi ayah selalu membantuku. Ayah pula yang dulu mengajariku untuk merangkai kembang buat ibu. Semua usaha kulakukan untuk membuat ibu senang di hari seperti ini. Semua jerih payahku buat ibu terbayar dengan hadiah senyuman yang tulus dari ibu. Aku bangga, ibu tidak pernah menilai hadiahku, dan aku tahu bahwa ibu sebenarnya lebih menghargai usaha dan kemauanku. Terima kasih ibu. Aku kemudian sadar, itulah mengapa ayah sangat mencintai ibu.

Selamat Hari Ibu!
Aku sangat bahagia memiliki orang tua seperti ibu. Mungkin, bisa jadi, dari sekian banyak orang di dunia ini yang memiliki orang tua, akulah yang paling beruntung.

Ibuku tersayang......
Kuliahku disini berjalan lancer sebagaimana yang selalu diharapkan ibu. Bahkan aku memperoleh Indeks Prestasi yang cukup tinggi. Tak ada kesulitan berarti selama aku kuliah disini. Semoga saja seterusnya bisa seperti itu.I hope so much....
Uang saku yang ibu kirimkan bulan lalu belum aku pergunakan, karena uang hasil perkerjaanku masih cukup untukku disini. Uang ibu akan kusimpan untuk keperluan penting yang lainnya. Aku harap ibu bisa mengerti.Pekerjaanku, (seperti yang kuceritakan di surat sebelumnya) sebagai guru les privat, sepertinya cukup untuk membiayai sekedar keperluanku disini. Mengenai pembayaran kuliahku, akan kuusahakan agar bisa mendapatkan beasiswa. Doakan, ya bu...

Selamat Hari Ibu!
Aku saying ibu, sebagaimana besarnya rasa sayang ayah pada ibu. Akan tetapi, tidak akan mungkin sebesar rasa sayang ibu padaku. Sekali lagi, semoga ibu tetap dalam lindungan Yang Kuasa.

NB: Aku titipkan hadiah buat ibu. Hanya sebatas foto-foto saat aku berada disini. Tapi, semoga ibu bahagia melihatnya.

Yogyakarta, 22 Desember 2009
Salam Rindu Anakmu,

Alif
* * * * * * *

Langit sungguh cerah. Terik matahari menyinari seluruh penjuru desa. Tak satu pun penduduk desa berkeinginan untuk keluar rumah. Hanya beberapa orang saja yang terlihat mondar-mandir di jalan setapak desa. Mungkin saja banyak dari penduduk desa yang menghabiskan waktunya dengan tidur siang.
Hari ini, Arini istirahat di rumah. Usai makan siang, ia merampungkan tugasnya. Sebagai seorang guru, ia harus membuat laporan tentang nilai-nilai siswanya. Harus ada pemeriksaan rutin terhadap perkembangan prestasi siswa-siswanya. Tugasnya pun sebagai seorang wali kelas menuntutnya untuk selalu memberikan dorongan guna meningkatkan prestasi belajar siswa-siswanya.
Ia dikenal di sekolahnya sebagai seorang guru yang cukup disegani oleh guru lainnya. Meskipun usianya yang terbilang masih cukup muda, namun banyak guru-guru se-profesinya yang segan kepadanya. Pemikiran-pemikiran kreatifnya selalu disambut terbuka oleh guru-guru lainnya.
Tidak berbeda di kalangan para siswa. Ia menjadi salah satu guru yang paling banyak disukai oleh siswanya. Gaya mengajarnya yang sungguh bersahabat mengubah suasana belajar di kelas. Siswa-siswa tidak pernah tegang dibuatnya. Bahkan mereka lebih leluasa dan tanpa malu-malu unjuk diri di kelas. Keakraban terjalin diantara dirinya dengan siswa.
Anak didiknya tidak pernah sungkan untuk datang berkunjung ke rumahnya. Baik untuk sekedar bertamu maupun untuk belajar. Baik secara individu, maupun secara kelompok. Sehingga ia tidak pernah merasa kesepian di rumah.
Minggu lalu, ia mendapat kiriman surat dari anaknya, Alif. Surat yang diterimanya sungguh merupakan surat yang sangat ditunggu-tunggunya selama ini. Ia begitu bahagia ketika membaca isi surat tersebut. Melebihi bahagianya ketika membaca surat sebelumnya.

“Ibu yang selalu kurindu.......
Aku kali ini tidak peru menanyakan kabar ibu, karena aku yakin ibu disitu baik-baik saja. Seperti halnya denganku disini. Semoga Yang Kuasa selalu melimpahkan rahmat-Nya buat ibu.

Ibu.....
Sudah setahun lamanya aku berada disini. Tentu sudah banyak hal-hal yang telah kulalui. Kesepian pun tidak pernah menghampiriku. Semua pasti berkat doa ibu..
Kini, aku ingin memberikan kejutan buat ibu. Seminggu lagi, aku akan pulang ke rumah. Ya, pulang.
Kampusku mendapat libur selama tiga minggu. Sehingga aku punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Bertemu dengan ibu. Tiga minggu, sebenarnya bukan waktu yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama ibu. Tapi, aku rasa itu cukup untuk sementara. Setidaknya, aku bisa melepaskan kerinduanku pada ibu. Aku juga sudah rindu dengan suasana di kampung. Ada perubahan tidak, bu?^_^

Ibu.....
Seminggu lagi aku akan pulang. Ibu tunggu saja....!

Isi surat tersebut selalu diingat-ingatnya selama seminggu terakhir ini. Rasa rindunya pada anaknya akan terobati. Semakin menggembirakan buatnya.
“Kriiing...kriiinng!”
Telepon rumah berdering. Ia lalu menghentikan pekerjaannya sejenak seraya mengangkat telepon yang berada di pojok ruang tamunya.
“Halo, Assalamu’alikum...” sapa suara di seberang sana.
“Halo, Wa’alaikum salam.” jawabnya.
“Benar, ini dengan ibunya Alif?” tanya suara itu.
“Benar, saya sendiri. Ada perlu apa, ya?”
Perasaannya mengatakan hal lain. Khawatir. Ia sendiri tidak mengerti. Suara orang yang meneleponnya terdengar agak berat dan sedikit terbata-bata. Sejenak suara itu terdiam. Tidak lama kemudian kemudian melanjutkan perkataannya.
Mendadak, telepon di genggamannya terlepas begitu saja. Kabar yang baru saja didengarnya bagaikan sengatan listrik baginya. Kini, kedua kalinya ia merasakan shock. Kali ini dengan orang yang berbeda. Namun juga orang yang disayanginya..
* * * * * * *

Cerahnya pagi ini tidak secerah yang dirasakan Arini. kini, hidupnya benar-benar terasa hampa. Raut wajahnya kini masih menyisakan gurat kesedihan yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Kesedihannya amat mendalam. Dukanya begitu lara.
Beberapa hari kemarin, ia masih sempat berharap anaknya bisa selamat dari kecelakaan yang menimpa anaknya. Ia berusaha untuk menguatkan dirinya bahwa anaknya baik-baik saja. Selama perjalanan ke Yogyakarta, ia tidak ingin sekalipun untuk berpikiran yang bukan-bukan terhadap anaknya.
Akan tetapi, segalanya tidak selalu sesuai dengan harapan. Sesampainya di rumah sakit, Alif telah menghembuskan napasnya yang terakhir. Tidak memberinya kesempatan untuk mengucap sepatah kata perpisahan dengan dirinya.
“Anak ibu saat tiba disini sudah dalam keadaan kritis. Di kepalanya terjadi pendarahan kritis. Hanya sekitar tujuh jam saja ia sempat bertahan. Selebihnya, ia sudah tak sanggup lagi.” jelas dokter padanya.
Air mata tiada hentinya mengalir ketika telah mendapati jenazah anaknya di rumah sakit. Jiwanya sangat terpukul. Kesedihan benar-benar melukai jiwanya. Kawan-kawan Alif yang saat itu berada di rumah sakit, hanya bisa berusaha menenangkannya.
Kini, hari-hari dilaluinya dengan kesedihan. Meskipun jenazah anaknya telah dimakamkan di desa, ia masih belum bisa merelakannya. Beberapa kerabat keluarga yang menemaninya di rumah pun tidak mampu menghiburnya. Hatinya benar-benar pilu.
Air matanya terurai. Anaknya yang dulu telah mengisi rasa sepinya, kini harus pergi selamanya. Anak yang begitu disayangnya, anak yang begitu dibanggakannya. Tidak seulas senyum pun yang memancar dari wajahnya. Hanya gurat kesedihan yang selalu tampak dari wajahnya.
“Ada apa, nak Indra?”
Dewi, adik Arini, menyambut kedatangan Indra, sahabat Alif, yang tak dihiraukan oleh Arini. sejak tadi, Indra menunggu di depan rumahnya.
Indra hanya diam. Sebuah amplop putih diserahkannya.
“Ini ditulis Alif sebelum ia meninggal. Ia menyuruhku untuk menyerahkannya pada Bu Arini. Aku sendiri tidak tahu apa isinya.” ucap Indra dengan mata yang agak berkaca-kaca.
Tante Alif menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
Surat itu tidak dibukanya. Ia sadar ini bukan surat untuknya. Oleh karena itu, diserahkannya surat itu pada kakaknya yang sejak tadi termenung di depan rumah.
“Arini, ada surat untukmu.....”
Tidak ingin dikatakannya pengirim surat itu. Ia tidak ingin membuat kakaknya semakin bersedih. Masih tampak kilauan air mata membasahai pipi Arini. Ia menerima surat tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata. Tatapannya begitu datar. Dibukanya surat tersebut.

Yogyakarta, 3 Agustus 2010
Ibuku yang Selalu Kusayangi
Di Rumah

Ibu....
Semoga ketika ibu membaca surat ini, kesedihan ibu tidak berlarut-larut. Alif tidak ingin melihat ibu meneteskan air mata. Aku tahu ibu sangat sayang padaku, akan tetapi tak selamanya rasa sayang selalu diwarnai dengan tangisan kesedihan.

Ibu....
Entah apa yang mendorongku untuk menulis surat ini. Hanya saja, aku merasa bahwa surat ini adalah surat yang terakhir kutuliskan buat ibu. Aku berharap semoga tidak seperti itu...
Aku ingin menitipkan salam sayangku buat ibu...

Ibu....
Aku tahu, ibu pasti sangat sedih jika seandainya aku akan pergi meninggalkan ibu. Aku tahu, dan akan selalu tahu, rasa sayang ibu terhadapku melebihi rasa sayangku pada ibu. Akan tetapi, aku berharap rasa sayang itu janganlah menjadi tabir penghalang jika seandainya aku harus pergi. Rasa sayang ibu terlalu berharga untuk disia-siakan.

Ibu....
Meskipun ayah telah lebih dulu meninggalkan kita, tapi ia tetap selalu tersimpan dalam hati kita. Semua kenangan akan dirinya selalu tersimpan rapi dalam benakku. Tidak sedikitpun kesedihan yang kurasakan ketika aku mengingat ayah. Kebahagiaanlah justru yang kurasakan. Karena aku yakin, ayah tidak menginginkan dirinya untuk ditangisi.
Kini, jika memang aku akan pergi. aku harap kepergianku tidak menciptakan goresan luka di hati ibu. Sebagai seorang guru, ibu masih diperlukan untuk menjadi teladan. Semangat dan senyuman ibu masih dibutuhkan semua orang. Dan sesungguhnya, seperti itulah ibuku yang selama ini aku kenal.Seorang ibu yang darinya kuwarisi sifat pantang menyerah. Dan dari ibu pula aku banyak belajar tentang kehidupan dan mimpiku.
Ibu pasti masih ingat dengan ucapan ini, “Buat apa menangis? Mata diciptakan bukan untuk selalu menangis, mengeluarkan air mata. Dua mata itu dianugerahkan Yang Kuasa untuk bisa melihat kehidupan. Menatap ke depan. Sudah sewajarnyalah kita melihat ke depan. Mengenang masa lalu dan hidup di masa sekarang. Buat apa menangis? Di saat sekelilingmu tertawa, tersenyum bahagia, akankah kau terus menangis? Tangisan tak akan pernah mengubah yang telah terjadi. Namun sebuah senyuman memberi arti yang lebih bagi hidupmu dan bagi orang lain. Maka dari itu, buat apa menangis? Tersenyumlah....”
Ucapan ibu itulah yang selalu memberi spirit buatku. Memberiku tenaga baru untuk menjalani hidup. Satu hal yang selalu kukagumi dari ibu, ibu selalu lebih kuat dariku.

Ibu....
Ibu, meskipun kalau tiba waktunya ibu harus hidup seorang diri, aku harap ibu menerimanya dengan lapang dada. Aku harap perasaan sedih tidak selalu menghampiri ibu. Aku mengenal ibu sebagai seorang yang tabah. Semangat ibu pun selalu bisa ditularkan kepada orang lain. Senyuman ramah ibu pulalah yang selalu dirindukan oleh setiap orang. Itulah mengapa ibu selalu menjadi the best one di kalangan anak didik ibu. Oleh karen itu, aku berharap hal itu tak dilupakan oleh ibu....
Semua semangat, keceriaan, dan senyuman yang terpancar dari diri ibu akan sangat dirindukan oleh banyak orang. Ibu bisa saja kehilangan aku, akan tetapi akan lebih banyak orang yang akan merasa kehilangan ibu.... Percayalah, ibu selalu lebih kuat dariku....

Ibu.....
Masih banyak yang ingin kusampaikan pada ibu. Akan tetapi, sepertinya aku sudah tidak kuat lagi.. Sebelum benar-benar berakhir, aku ingin menyampaikan bahwa “aku selalu menyayangi ibu sampai kapanpun..” dan Tersenyumlah....
Salam Sayang

Alif

Air mata membasahi pelupuk matanya. Kali ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata haru dan bahagia. Gurat kesedihan perlahan-lahan meninggalkan wajahnya. Seulas senyum bahagia menghiasi wajahnya, untuk mengawali kehidupannya yang baru.
“Terima kasih, anakku....” lirihnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer chenhakase
chenhakase at SURAT UNTUK IBU (3 years 19 weeks ago)
50

budiiiiiii :)