Melody of Fireworks.

Udara sejuk mengalir perlahan melalui tengah kota Seoul menerabas sungai Han yang membelah tengah kota. Angin dingin berhembus jauh dari daratan Siberia yang beku kemudian mengalir melewati gedung gedung tinggi dan rendah Seoul hingga kemudian berarak terus melewati pegunungan-pegunungan di timur terus hingga jauh melampaui kepulauan Jepang. Angin ini menghembus daratan Hanguk yang tadinya panas dan lembab menyapu awan-awan hujan pergi, maka tinggalah langit cerah bagi kota paling sibuk di Korea.

Ini adalah jenis hari yang paling baik di kota Seoul. Hari yang cerah, ketika musim hujan telah tiba pada masa akhirnya. Saatnya bagi pemuda dan pemudi melewati malam yang sejuk di keramaian Seoul, menghilangkan penat, mengikuti festival di pusat-pusat kebudayaan atau menenggelamkan diri dalam musik dan tarian dalam warna-warni kehidupan malam.

Bahkan daun-daun Maple di sekitar kota sudah mulai meranggas, di mulai dari daerah utara kemudian perlahan menjalar ke selatan. Seakan dia tertulari oleh gunung gunung yang lebih dahulu menguning di utara. Pohon-pohon yang rasanya sedikit terkejut dengan perubahan musim yang tiba-tiba.

Hari indah macam ini tidak merubah kebiasaan pusat kota Seoul. Dipenuhi oleh semangat, kekuatan dan vitalitas. Seperti kekuatan sebuah aliran air Cheonggyecheon, yang sementara sungai Han mengalir dari timur ke barat sungai kecil ini mengalir dari barat ke timur. Melewati puluhan jembatan yang membentang membelah air. Sebelum kemudian bergabung dengan sungai Han.

Hari yang lebih indah ini memberi semangat baru di kota Seoul. Terutama di sekitar pertokoan di Pusat kota di sekitar Cheongyecheon. Memberi tambahan kesibukan bagi jalanan downtown tengah kota. Seperti biasa tengah kota Seoul dipenuhi dengan berbagai acara kebudayaan, para artis jalanan yang menampilkan berbagai kebolehan dari diam membatu hingga tarian hip-hop ala korea, demonstran yang membagikan berbagai selebaran mengenai kekejaman saudara di utara dan bahaya pasar bebas dan tentu saja penjual jajanan jalanan yang menebarkan bau mengundang dan menyebarkan warna-warna menarik untuk memancing pelanggan. Semua makin ramai, terlebih lagi karena adanya Asian Culture Convention, pertemuan tingkat tinggi yang membahas kemajuan kebudayaan Asia, yang diadakan di beberapa gedung pertemuan di tengah kota Seoul.

Hari indah macam ini biasa dihabiskan oleh Geum Chung-Hee pergi ke tempat les untuk belajar entah subjek studi apa lagi yang ditawarkan. Duduk sambil membaca huruf teks yang dipenuhi oleh tidak hanya Hangul tapi juga Hanja. Biasanya Chung-Hee hanya duduk memandang langit cerah di hari yang cerah di kota Seoul. Kadang dia menghela nafas, kenapa hanya dirinya sendiri yang mengalami nasib sesial ini.

Tapi tidak hari ini, dia sedang duduk merajuk di sebuah undakan tangga batu, memegangi pipinya yang lebam karena dipukul. Baru kali ini dia dipukul dan nyaris berkelahi, Semua berkat seorang gadis bernama Ah-bi. Karena hendak menyelamatkan seorang gadis dia jadi kena pukul oleh preman aneh berbaju hitam. Rasanya ini adalah hari yang paling keren bagi Chung-Hee, dia berhasil menyelamatkan seorang gadis. Bedanya dengan drama adalah rasa sakit yang masih tersisa berdenyut di pipi kirinya. Di drama biasanya itu terjadi dan tokoh utamanya masih bersih, mulus dan tidak bercela. Tapi pipi Chung-Hee kini mulai membengkak kecil.

“Ooo.. Enaknya, kau harus mencobanya..” glooork, sang gadis tidak malu mengeluarkan suara tenggorokannya, mungkin jadi begitu keras karena dia juga menegak Cola satu botol.

“Kau nampaknya menikmatinya.” kata Chung-Hee masih mengeluh.

Gadis itu mengangguk “Ya, Roti bunga ini enak. Kau mau coba?”

“Jangan terlalu banyak makan itu, nanti gigimu sakit.” kata Chung-Hee.

Ahbi menepuk-nepuk punggung Chung-Hee “Kau terlalu murung ah, kau seperti orang tua saja, yang semangat dong.”

Gadis yang baru dikenalnya itu menepuk-nepuk punggung Chung-Hee. Dia ingin marah, tapi rasanya perasaan sakit karena habis kena pukul lebih penting baginya. Dia mencelupkan kaki di sungai dan merasa terkejut karena dinginnya.

Dinginnya sungai tidak menghilangkan antusias anak-anak bermain di tepi sungai. Seorang anak perempuan dengan balon Spongebob yang melayang menendang-nendang air dengan kakinya dan kakaknya yang mengamati air. Ibu mereka berdiri di pinggir dengan cemas.

“Habis ini kita ke barat ah! Ah.” kata Ahbi.

Chung-Hee menoleh “Eh! Kau belum capek juga?”

“Tentu saja aku belum capek. Aku belum pergi ke semua tempat. Aku bahkan belum melihat akhir dari sungai ini.” kata Ahbi.

“Ah, kau gila, jauh lho!” kata Chung-Hee.

Ahbi mendesah “Kau ini seperti orang tua saja, yuk.”

“Hei tasmu?” kata Chung-Hee yang berdiri.

“Kau saja yang bawakan Ok! Kau kan cowoknya, kupikir biasanya begitu kan? Cowok yang membawakan tasnya?” Ahbi merengut.

Chung-Hee tidak keberatan membawa tas, jika saja tas itu hanya tas kecil atau tas tangan biasa. Tidak, tas itu adalah tas gunung berat. Orang pasti salah mengira dia pendaki yang tersesat atau malahan pedagang pasar yang hendak membuka lapak. Entah apa saja yang dimasukkan gadis itu ke dalam tasnya, yang pasti panci tergantung di salah satu sisi. Mungkin dia adalah seorang backpacker yang sering bepergian, entah kenapa Chung-Hee merasa tertarik dengannya.

Gadis ini bernama Ahbi. Tidak terlalu tinggi dengan potongan rambut aneh yang menutupi sebagian wajahnya. Gaya pakaiannya tomboy dengan celana militer panjang, jumper bomber dan topi barreta warna hijau. Dia nampak berjalan dengan agak bungkuk karena berat tas yang ada di punggungnya. Dia buat masalah di stasiun, kemudian atas ketidak sengajaan Chung-Hee yang malang yang mencoba melerai berbuntut orang itu menghantam Chung-Hee. Mungkin karena pertama kali Chung-Hee malah mencoba menendang betisnya.

Setelah mereka melarikan diri keluar dari stasiun yang ternyata melenceng beberapa kilometer dari tempat les, gadis itu membawa-bawa Chung-Hee untuk keliling-keliling karena dia baru saja tiba di Seoul. Chung-Hee rasanya tidak punya pilihan lain, karena selain sudah telat dia kasihan dengan gadis yang menurut pengakuannya kabur dari rumah. Rasa moralnya membuatnya memutuskan untuk menemani gadis ini.

Lagipula menurut Chung-Hee, Ahbi cukup manis. Chung-Hee juga sedang kosong. Sebenarnya masalahnya adalah bahwa cewek yang digebet oleh Chung-Hee sejak dua tahun lalu menjalin hubungan dengan guru dari tempat les yang dimaksud. Parahnya yang menyarankan tempat les itu kepada cewek itu adalah Chung-Hee. Sebenarnya dia ingin sekali keluar dari sana, tapi permasalahannya dia telah bayar tiga bulan di muka dan mustahil memintanya kembali dan masih ada beberapa minggu. Sayang uangnya.

Sekarang mereka melewati deretan lukisan prajurit berkuda kuno di dinding, puluhan pasukan berkuda berderet-deret dari atas ke bawah lukisan, rasanya dia akan memerlukan salah satu kuda itu. Karena kakinya merasa kelelahan membawa tas ultra berat milik Ahbi. Lukisan-lukisan ini dipanjang di samping sungai sebagai hiasan.

“Oh aku ingat, kita ke sana dulu ke keong raksasa.” Ahbi menunjuk ke arah ujung dari sungai.

Chung-Hee mengangguk “Katanya kau mau pergi ke Market?”

“Ke sana dahulu, Itu kan yang ada di Drama Iris, aku mau ke sana.” kata Ahbi.

“Maksudmu Cheyonggye Plaza..” cepat-cepat.

Akhirnya tur melelahkanpun dimulai. Terutama karena Ahbi yang meminta untuk berputar-putar seenaknya. Ini menyebabkan Chung-Hee memaksa Ahbi untuk membuat peta perjalanan. Ke mana mereka harus pergi dan berapa lama. Dia memaksa Ahbi untuk membuat prioritas.

Chung-Hee tidak mengira dia akan berhasil melalui semua perjalanan panjang ini, padahal karena alasan yang sama dia tidak tahan dengan latihan Taekwondo. Sebenarnya Ahbi menawari untuk membawakan tasnya, tapi kebanggaannya sebagai lelaki membuatnya menahan beban ini. Setelah melewati berbagai halangan, rintangan, kutipan-kutipan drama korea, patung-patung orang terkenal dan beberapa kali foto mereka akhirnya beristirahat di salah satu fastfood Lotteria di Gwakjang Market.

Lotteria adalah gerai Fastfood yang sangat terkenal di Korea. Sebenarnya berasal dari Jepang namun sangat populer di Korea.

“kau masih bisa makan lagi. Setelah semua itu?” kata Chung-Hee.

Ahbi hanya tertawa “Sedikit saja. Masih ada ruang.”

Entah bagaimana gadis itu mampu menelan banyak makanan dengan tubuh sekecil itu.

Chung-Hee kemudian bersiap menanyakan hal yang sejak tadi ingin ditanyakannya.

“Maaf, kalau boleh tanya kau sebenarnya dari mana sih? Dialekmu agak aneh.” tanya Chung-Hee.

“Emm Kyudo..” kata Ahbi “Di timur, kau tak akan tahu.”

Tempatnya pasti terpencil sekali, Chung-Hee agak kasihan padanya. Tapi ini bukan saatnya untuk merasa kasihan.

“Katamu kau datang ke Seoul karena kabur dari rumah. Asal tahu saja, hidup di kota besar itu berat dan berbahaya. Aku tak tahu apa alasanmu kabur, mungkin kita bisa membicarakannya.” kata Chung-Hee.

Ahbi memalingkan wajah sebentar kemudian menunduk seperti dia hendak berfikir keras. Dia berbicara sambil menunduk “Itu tidak masalah, aku bisa sendiri.”

Chung-Hee merasa heran “Orangtuamu pasti khawatir.”

Ahbi kemudian seperti merajuk “Ayahku tidak akan memperhatikanku. Tapi itu bukan urusanmu bukan.”

“Lalu Ibumu bagaimana?” tanya Chung-Hee.

“Ibuku sudah meninggal, waktu aku masih kecil.” kata Ahbi.

“Maaf.” kata Chung-Hee.

Kemudian Ahbi seakan memandang ke angkasa “Aku ingat dahulu ibuku menjual Manju di pinggir jalan. Aku tidak begitu ingat. Tapi dulu Seoul tidak seperti ini.”

“Kau pernah tinggal di Seoul? Katamu kau orang kaya. Kupikir.”

Dia menguap “Yah dulu belum sebagus ini. Hei tapi semua itu bukan urusanmu bukan. Entah kenapa aku bicara begini dengan orang asing.”

“Yah, orang asing ini yang kena pukulan di pipi tahu. Aku cuma prihatin padamu.”

Ahbi mengeluarkan beberapa lembar uang Won dan menyerahkannya kepada Chung-Hee.

“Maaf tapi..”

Ahbi tersenyum kemudian mengangguk “Itu bukan apa-apa hanya hadiah.. hadiah. Ah, aku harus kembali ke hotel. Carikan aku taksi.”

Chung-Hee diam saja, kemudian mengantongi uang itu. Lumayan buat tambahan uang saku. Dia kemudian mengantonginya dan segera mencarikan taksi untuk Ahbi. Sedikit misteri tak apa-apa deh.

Sudah beberapa hari Chung-Hee menjadi guide wisata bagi Ahbi.

Hari cerah yang lain membawa mereka ke jalan-jalan sibuk di tengah kota Seoul. Sekali lagi Chung-Hee diajak berputar-putar ke toko demi toko. Dengan semangat menggebu dan tangguh. Untungnya dia tidak membawa-bawa tas gunung serba berat Sekarang dia memakai rok agak pendek, cardigan dan syal. Dia masih memakai baretta yang kemarin.

Mereka telah pergi ke musium, kemudian menjelajahi dari Cheyonggye plaza hingga wall of hope, Fashion town, Gedung namsam hingga royal shine. Mereka sekarang sedang mengikuti jadwal tur. Sekarang mereka berada di Insadong, dia ingin pergi ke tempat kerajinan keramik yang dia lihat di televisi.

“Banyak sekali orangnya?” kata Ahbi.

“Tentu saja.”

Ahbi mengangguk “Tokonya juga banyak, tidak akan sempat memasuki tiap toko satu persatu.”

“Memangnya kau mau melakukannya. Entahlah, aku juga pernah mendengar tentang toko keramik itu. Tempatnya cukup besar dan terkenal kok.”

Ahbi terkejut “Ah, iya, aku mau.. Ohhh...”

Tiba-tiba Ahbi menyeret Chung-Hee cepat hampir menyenggol seorang badut yang berada di atas bola.

Chung-Hee heran “Mau kemana Ahbi.”

“Tidak cuma kita harus pergi...” kata Ahbi.

Chung-Hee yang merasa Ahbi dikejar sesuatu menengok kebelakang. Seorang pria dengan jas hitam dan tidak memiliki rambut dan kacamata hitam nampak memanggil mereka. Tapi Ahbi tidak berhenti.

“Ahbi, ada orang memanggilmu.” kata Chung-Hee.

“Kau percaya padaku..” tanya Ahbi “Lari”.

“Apa! Kau pikir ada orang baik-baik pakai pakaian seperti itu.” kata Ahbi, Ayo lari.

Mereka berdua kemudian lari seperti dikejar setan. Melewati berbagai orang yang memandang dengan shok. Rasanya Chung-Hee belum pernah lari sekencang ini. Mungkin tahun lalu ketika dia nyaris digigit anjing tetangga, tapi untuk tahun ini belum pernah dia lari sekencang ini.

Kedua orang ini berlari menyusuri Insadong. Melewati dan menerobos kerumunan dan gerbang masuk. Meloncati dan berputar di bebera kios makanan hingga yang punya marah-marah. Setelah cukup aman. Hampir membuat pembawa makanan menumpahkan makanannya, melewati orang-orang tua yang sedang main musik. Mereka kemudian berpisah. Mereka masuk ke kerumunan dan menghilang. Tapi setelah itu Ahbi tidak bisa dihubungi.

Ini menyebabkan Chung-Hee pulang dengan rasa cemas menggeluti di dada. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan gadis itu. Semalaman dia tidak bisa tidur, rasanya ingin dia melupakan semuanya dan menganggap bahwa hari-hari ini tidak lain dan tidak bukan hanya merupakan mimpi. Tapi dia tidak bisa, bayang-bayang kejadian buruk yang menimpa Ahbi membuatnya tidak bisa tidur semalaman.

Apa dia harus lapor polisi, tapi dia ingin lapor sebagai apa. Dia hanya tahu namanya adalah Ahbi, entah itu asli atau palsu. Dia tinggal di Kyudo, entah di mana itu. Sekarang sudah mail ke duapuluh yang dia kirim, masih tidak ada jawaban.

Handphonenya berbunyi..

“Moss'ssumida... ” kata suara yang ada di telepon.

“Apa?” Salam macam apa itu? Pikir Chung-Hee.

“Ah, tidak, aku baca massagemu, maaf handphoneku tidak mati, aku tidak apa-apa. Tolong jangan lapor polisi. Aku bisa kena masalah.” kata Ahbi.

“Ahh.. Ahbi syukurlah, kau tidak apa-apa,” kata Chung-Hee.

“Apa kau habis nangis..”

“Aku! Tidak! Aku hanya agak pilek. Hari sudah semakin dingin.” kata Chung-Hee.

Terdengar tawa terbahak-bahak dari Ahbi “Senang sekali ya, ada orang selain keluarga kita yang menangisi kepergian kita. Kau itu halus sekali ya Chung-Hee.”

“Aku tidak menangis. Aku ingin penjelasan.”

“Besok hari sabtu bukan. Kita ketemu besok siang.”

Ahbi melahap gimbab dengan lahab, dia mengambil dengan sumpit dan memasukkannya penuh-penuh ke dalam mulut. Walau sedikit kesulitan dia berhasil menelan semua yang diambilnya ke dalam mulut. Rasanya Chung-Hee menjadi kenyang karena melihat Ahbi makan.

Ahbi sekarang kembali ke model awal, hanya saja baretanya ditinggalkan dan sebagai gantinya dia memakai topi rajut kerudung warna cokelat.

“Yah, jadi sebenarnya kalau kita memberikan sepatu ke kekasih kita itu artinya buruk ya? Aku pernah melihatnya di Drama. Engg, kau tidak makan?”

“Tidak” Chung-Hee hanya melihatnya nya makan sambil menyeruput teh gandum kental.

Memang ada yang aneh dalam diri Ahbi, tapi Chung-Hee belum bisa menemukan apa itu. Dia mengamati garis halus dagu Ahbi yang lembut di atas kulitnya yang putih kekuning-kuningan dan sedikit merona di kedua pipi. Kemudian ke arah bibirnya yang tipis dan berwana sedikit pink, mengingatkannya pada bunga pohon cherry. Baru kemudian dia mengamati matanya yang besar yang sekarang mengamati ke arahnya..

Seperti ketahuan mengintip Chung-Hee segera mengalihkan mata, kemudian menegak Shikhae dengan cepat.

“Kau benar tidak mau makan.” kata Ahbi.

Chung-Hee mengerutkan kening “Aku belum mau makan kalau kau tidak menjelaskan mengenai semuanya.”

Ahbi meletakkan sumpit di meja. Kemudian menatap mata Chung-Hee, dia mengatupkan kedua belah tangan.

Ahbi menyorot tajam “Kau mau tahu sebenarnya...”

“Tentu saja.”

“Aku sebenarnya adalah mata-mata dari korea utara..” kata Ahbi serius.

Chung-Hee menyipitkan mata “Jangan bercanda!”

Ahbi kemudian tertawa “Aku bercanda tentu saja, kau jangan serius-serius sekali.”

“Sudahlah, aku cemas mengenai keadaanmu. Aku tidak tahu siapa orang itu, bisa jadi kau terkena masalah. Sebaiknya ceritakan bagaimana keadaan sebenarnya.” kata Chung-Hee.

Ahbi menunduk ke bawah “kenapa kau harus cemas, bagimu aku ini hanya sumber uangmu bukan.”

Chanjuk mulai marah “Apa maksudmu, aku tidak menganggapmu demikian..”

“Kalau begitu kenapa? Kau anggap aku ini apa? Kenapa kau cemas?” tanya Ahbi.

“Aku...” Chung-Hee merasa shok dan diam berapa menit, jantungnya seakan meloncat sampai ke bulan “Aku, aku merasa kasihan padamu. Kau itu temanku kau tahu. Kalau ada teman dari kampung memang sebaiknya membantu. Sebenarnya aku sudah tahu masalahmu. Garis besarnya.”

Ahbi mengangkat wajahnya.

“Kau itu adalah tuan putri dari keluarga besar di desa. Kemudian kabur karena ingin mencari pengalaman di luar. Kemudian tadi itu pasti bodiguardmu. Apa perkiraanku benar? Kau pulanglah ke desa, aku akan membantumu menjelaskan kepada orangtuamu.”

“Dia tidak perduli kepadaku.” kata Ahbi.

Chung-Hee menyilangkan tangan di depan dadanya “Mana ada sih orangtua yang tidak menyayangi anaknya. Jika kau perlu aku akan ikut, naik bus jurusan manapun akan kutempuh.”

Ahbi tertawa “Hahaha, Jauh, jauh. Kau tak akan sanggup bertemu ayahku.”

Chung-Hee berujar sombong “Mana ada sih yang aku takuti.”

Ahbi tertawa “Yah, kau benar. Dia memang bodyguardku.”

“Hampir benar, aku memang bodyguardnya. Biar aku yang selesaikan ceritanya.” Seorang pria besar muncul di belakang mereka berdua. Dia masih memakai jas dan kacamata hitam “Aku sudah siaga, aku tak akan biarkan nona kabur untuk yang ketigakali.”

Chung-Hee terkejut, dia kemudian menoleh melihat si botak yang pernah meninjunya waktu bertemu dengan Ahbi. Si botak sepertinya juga masih ingat ditendang di selangkangan. Mereka saling bertatapan.

“Kau mau berbuat kekerasan, bisa ditangkap polisi lho.” kata Chung-Hee.

Si botak kemudian mengangguk “Kau sudah tahu masalahnya bukan, kalau kau melawan lagi kau bisa kena tuduhan penculikan. Tapi kami pasti tidak akan membiarkan orang yang menculik nona kami hidup bahagia.”

“Yah, jangan khawatir aku akan membujuknya pulang ke pedesaan. Aku akan bertemu orangtuanya yang kolot.”

Si botak kemudian nampak bingung “Desa? Apa maksudmu...”

“Diamlah!” kata Ahbi “Biar aku yang menjelaskan, Aku akan ikut kalian, asal aku diberi waktu dua hari lagi.”

Sang bodyguard botak memalingkan wajah ke nonanya “Tapi nona.”

“Beberapa hari saja, Hajime” kata Ahbi.

Chung-Hee merasa aneh lagi. Ha Jime? Tapi itu bukan masalah

Chung-Hee mengangkat tangan “Apapun masalahnya dengan Ayahmu bicarakanlah dahulu .Nah, jadi tinggal dua hari lagi, kita harus cepat-cepat. Kalau tidak kau tidak akan sempat lho.”

Ahbi menatap Chung-Hee “Maaf Chung-Hee, hari-hari terakhir ini aku akan pergi sendirian.”

Chung-Hee merasa seakan dihantam sesuatu.

“Oh, jadi begitu.” Chung-Hee kemudian berdiri “Untuk hari ini gratis kalau begitu. Selamat menikmati hari-hari terakhirmu di Seoul ya. Tidak masalah.”

Cowok itu kemudian pergi keluar dari toko.

Seharian Chung-Hee di SMU Sangmin terasa kosong. Dia lemas dan tidak bertenaga, dia bahkan menanggapi guru olahraganya yang mengesalkan dengan pasrah. Beberapa temannya merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan Chung-Hee. Hingga pada pelajaran sastra Korea yang khidmat (ini berkat guru tangan dingin), akhirnya dia mendapat SMS dari Ahbi. Ini membuatnya terlonjak senang. Tentu saja tidak membuat Pak Im-Park senang karena dia menghukum Chung-Hee dengan tugas-tugas berat.

Sepulang sekolah dia segera bersiap untuk menemui Ahbi. Malam itu malam yang cerah dan masih tidak terlalu dingin. Dia menunggu dan menunggu tapi gadis itu tidak juga datang.

Waktu terasa begitu lama. Memandang ke arah patung Yi Shun-shi dan air mancur-air mancur di bawahnya. Sang jendral perang besar itu nampak tidak peduli dengan kehadirannya. Kadang dia merasa bahwa dia telah ditipu, jangan jangan dipermainkan. Dia jongkok dan malah mengobrol dengan si jendral.

“Aku ini sedang ngapain ya?” tanya Chung-Hee.

“Maaf menunggu ya?”

Chung-Hee menoleh dan dia mendapati Ahbi sedang berdiri di sana, tidak memakai pakaian ala cowok seperti biasanya. Kali ini rambutnya di clip dengan jepit rambut. Pakaiannya putih dari atas hingga bawah, penuh dengan rumbai rumbai. Cewek tomboy itu memakai terusan putih dengan rok selutut yang yang manis. Chung-Hee merasa tidak percaya dengan pemandangan ini.

“Ada apa?”

“Tidak apa-apa”

Mereka berdua berjalan menuju jalan kiri sungai yang ramai dipenuhi pemuda dan pemudi. Katanya hari ini akan ada pesta kembang api penutupan Asian Culture Convention. Karena itu banyak yang menonton, kebanyakan dengan pacar atau teman. Chung-Hee juga sekarang berjalan dengan seorang gadis, tapi entah apa status gadis ini, yang pasti dia sangat cantik.

Chung-Hee memang sudah sadar dengan kecantikan Ahbi, tapi tidak secantik ini. Kecantikan yang rasanya membuat Chung-Hee kadang bertanya pada dirinya apakah dia berada di alam nyata atau tidak. Suasana hening begitu lama, tidak ada yang bicara. Chung-Hee sebenarnya hendak bertekad memecah kekakuan ini di didahului oleh Ahbi, yang entah dari mana membicarakan Ayahnya.

“Ayahku berada di konfensi?” katanya.

“Begitukah?” jawab Chung-Hee, pasti Ayah Ahbi orang penting hingga dia bisa berada di sana “Ah, kau akan pulang, kapan?”

“Besok,” kata Ahbi.

"Besok" Chung-Hee kemudian menoleh “Aku bisa menghubungimukan.”

“Terlalu jauh..” ujar Ahbi.

“Tapi”

“Kau tahu.. udara yang segar bukan, aku suka udara malam sekarang. Pasti akan menyebalkan kalau badai pasir datang.” katanya.

Chung-Hee mengangguk “Benar, menyebalkan.”

Ahbi kemudian menoleh “Tapi kalau dipikir hari semacam ini jarang. Suatu saat pasti pagi akan datang dan musim dingin akan datang. Kemudian ada hari-hari lainnya. Segalanya ada awal dan ada akhirnya. Kalau dipikir bukannya malahan karena berakhir cepat disitulah keindahannya.”

Sebelum Chung-Hee mengungkapkan ketidaksetujuannya, Ahbi mendekatkan diri ke arah Chung-Hee dan menggenggam tangannya. Ini membuat Chung-Hee terdiam. Mungkin dia benar. Mereka terus berjalan menuju ke salah satu jembatan, tempat yang paling tepat untuk melihat kembang api.

Waktu berlalu begitu cepat, sedikit bicara. Banyak yang ingin Chung-hee bicarakan tapi entah kenapa lidahnya kelu tidak bisa mengucapkannya.

“Oh, aku punya hadiah.” Ahbi memperlihatkan palstik hitam yang tadi selalu dibawa olehnya.

Chung-Hee menerimanya “apa ini?”

Dia segera membukanya dan melihat sepatu Nike warna hitam putih. Sepertinya barang mahal, dia agak sungkan menerimanya. Tapi ada sesuatu yang lebih mengganggunya daripada fakta itu. Ada mitos yang mengatakan bahwa jika kau memberi sepatu ke kekasihmu maka dia akan pergi berlari meninggalkanmu.
Mitos yang bodoh. Lain ceritanya jika memang seseorang menginginkan dia berlari jauh darinya.

“Kau harus sering berlari kau tahu. Sering olahraga.”

“Apa kau tidak suka guideku.” tanya Chung-Hee.

“Tidak, aku menyukainya. Hanya saja aku tidak suka membuat segalanya terlalu rumit. Biarlah yang terjadi berlalu. Karena itu akan jadi kenangan indah.”

Chung-Hee kemudian menyandarkan dirinya ke bibir jembatan “Jadi begitu ya. Setidaknya beritahu aku satu hal. Apa Han Bi itu namamu?”

“Itu namaku, tapi kau harus mengucapkannya dengan lengkap.” kata Ahbi.

Sebenarnya Chung-Hee sudah menyadari itu beberapa saat yang lalu.

“Kau harus mengucapkannya secara lengkan, Namaku bisa disebut Han Ahbi. Lengkapnya Hanabi Matsuichi.” kata Ahbi.

Tepat pada saat itu semua menoleh dan bertepuk tangan ke angkasa. Berbagai jenis kembang api melayang ke udara dalam berbagai warna dan juga berbagai bentuk. Pertama berbentuk simbol, kemudian berbentuk berbagai jenis bunga, berbentuk huruf-huruf, berbentuk bola. Ada berbagai macam kembang api tapi ada kesamaan dari semua itu yaitu adalah bahwa semuanya singkat dan cepat. Penuh dengan warna dan ledakan, sekejap kemudian menghilang. Ahbi nampak sedikit kaget karena ledakan kembang api di punggungnya, tapi kemudian menikmatinya. Menikmati dengan sedikit terlalu riang dalam sebuah perpisahan.

“Tapi jarak bukan masalah!” kata Chung-Hee.

Ahbi meletakkan jari manis di mulutnya “Sttt. Aku hanya tidak ingin memperumit semuanya. Aku tidak suka hal-hal rumit.”

Tiba-tiba tanpa di duga Ahbi bergerak ke depan. Sebelum sempat Chung-Hee bereaksi mereka sudah berciuman. Kembang api masih berpijar di kejauhan. Singkat. Kemudian Ahbi mundur. Rasa bibir tipis Ahbi masa terasa meledak di pikirannya, seakan keindahan warna kembang api yang masih tersisa saat pijarnya hilang.

“Sudah ya..”

Ahbi segera mundur. Chung-Hee mengikutinya tapi dia bersembunyi di balik bodyguard besar berkepala pitak. Chung-Hee tetap meringsek melawannya, tapi dia kemudian dipukul di uluhati. Pukulan yang singkat tapi mematikan.

“Mundurlah teman.” kata pria itu.

Chung-hee meronta tapi percuma, pukulan itu membuatnya terpuruk di tanah.

“Sayonara Ne..” kata Ahbi.

Dan dia pergi ditelan kegelapan.

Sekarang sudah sebulan sejak kepergian Ahbi. Chung-Hee lebih banyak melamun sekarang. Dia ada dalam mode linglung selama berhari-hari menyebabkan teman-temannya bertanya apa yang terjadi padanya. Dia sering bicara sendiri dan memukulkan kepalanya ke tembok. Ini menyebabkan dirinya sering bertengkar dengan guru olahraga.

Dia juga sering jalan-jalan sendirian. Terutama hari minggu pagi. Dia lebih sering jogging tentu saja dengan sepatu Nike yang diberikan oleh Ahbi. Dia berlari berputar-putar tujuannya adalah untuk melupakan Ahbi, sayangnya tidak bisa. Dia tidak bisa melupakan ciuman yang seperti kutukan itu.Hanya ada satu hal dalam kepalanya sekarang, yaitu Ahbi.

Dia ingin menanyakan sesuatu. Sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Dia berlari, kemudian berlari lagi. Tapi tidak menghasilkan apapun. Apapun yang terjadi diantara mereka dia menginginkannya lagi. DIa ingin kembali, menanyakan hal yang sempat tak terjawab.

Kini dia menyadari perasaannya begitu jelas, sejelas pijaran api dalam malam itu, Namun Ahbi salah, semuanya tidak secepat menghilang seperti kembang api.

Dia ingin menanyakannya. Perasaannya.

Pertanyaanya yang tak sempat dia tanyakan sebelum Ahbi memberikan sepatu kepadanya untuk berlari.

Suatu hari dia menyadarinya.

Berlari tidak selalu pergi menjauhi. Sambil memandang sepatu Nike miliknya, dia menyadari satu hal. Ahbi memberikan sepatu berarti dia menginginkannya berlari, dan itu tidak harus selalu menjauhinya tapi bisa jadi mengejarnya.

Mungkin suatu hari nanti dia akan mengejarnya

Melody of Firework tamat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Melody of Fireworks. (5 years 11 weeks ago)
80

Salut bisa menggambarkan latar asing dg cukup kental. Sedang ceritanya sendiri agaknya udah jamak ya, hehe, tentang orang yang sebenarnya bukan orang biasa2 kabur dari kehidupannya yang biasa dan berbaur dengan orang biasa lalu meninggalkan kesan. Selama membaca cerita ini saya teringat salah satu filmnya Stephen Chow, The Lucky Guy. Salah satu subplot dalam film itu juga menceritakan tentang putri orang kaya yang kabur (Shu Qi yang main) lalu tinggal di rumah cowok yang ayahnya pemilik kedai teh (Ng Man Tat, kalo ga salah). Bagaimanapun narasinya enak dibaca. Berasa nonton drama romantis ala Korea.

Writer just_hammam
just_hammam at Melody of Fireworks. (7 years 32 weeks ago)
70

Cerita ini recomended by Herjuno http://www.kners.com/showpost.php?p=22597&postcount=8
Aku ingin masuk dalam ceritamu. Namun, semuanya berasa asing sehingga deskripsi yang udah bagus itu tetap tidak mampu menyedot kesadaranku hayyah...
Selamat... cerita bagus :D

Writer neko-man
neko-man at Melody of Fireworks. (7 years 32 weeks ago)

Terimakasih :D,

Writer suararaa
suararaa at Melody of Fireworks. (7 years 51 weeks ago)
90

Baguss..deskripsi settingny keren..
Trus mmm,,kemisteriusan ahbi sebenarny udh ketebak sih,tpi dibawakan dg apik jdinya tetep betah baca smpe akhir..
Oia,banyak kata "hari" yg menurtku agak mengganggu,terutama pd paragraf2 awal,n apabl itu msh dlm wktu yg sama,mngapa disebutkan "hari" berulang2?

Writer kiva2011
kiva2011 at Melody of Fireworks. (7 years 52 weeks ago)
Writer kiva2011
kiva2011 at Melody of Fireworks. (7 years 52 weeks ago)
80

ceritanya mengingatkan ku pada filem korea tapi apanya

Writer neko-man
neko-man at Melody of Fireworks. (7 years 51 weeks ago)

apanya yang apanya sih? Settingnya memang korea.. mungkin ingat film friend kali? Entahlah...

Writer herjuno
herjuno at Melody of Fireworks. (7 years 52 weeks ago)
100

Ada empat hal yang saya saluti di sini. Pertama adalah penggunaan setting--baik tempat maupu kultur--Koreanya yang sangat detail dan menarik, meski masih ada beberapa bagian yang sepertinya perlu dibenahi (bukan Cheyonggye Plaza, tetapi Cheonggye Plaza, dan juga bukan Gwakjang Market tapi Gwangjang Market). Kedua adalah bagaimana kamu "menipu" pembaca dengan karakterisasi Ahbi dan membuatnya menjadi kejutan yang tak terduga (btw, deskripsi karakter dan atributnya juga bagus). Ketiga adalah nama asli dari Ahbi yang sesuai dengan judulmu. Keempat adalah jalinan cerita yang runtut dengan mengalir, dengan konflik yang cukup polished juga.
.
Good job, bang neko ^^b. Risetnya pasti butuh waktu lama, ya, haha.

Writer neko-man
neko-man at Melody of Fireworks. (7 years 52 weeks ago)

Thank udah baca..
..
Wahaha.. kamu benar, kesalahan penulisan, padahal kekuatannya ada pada riset. Soal setting, rahasianya adalah peta wisata dan blog dan terlebih lagi kalau ada koneksi cepat adalah Youtube. Kau bisa mendapat setting kuat tanpa harus bepergian jauh. Awalnya tentu saja wikipedia. Sayangnya tidak ada yang mengalahkan atmosfer pergi sendiri.
..

Writer herjuno
herjuno at Melody of Fireworks. (7 years 52 weeks ago)

Yups, saya juga pernah membuat satu cerpen dengan setting Shinjuku. Risetnya benar-benar harus mendalam.
.
haha, kalau pergi sendiri mah jangan ditanya. Apalagi kalau udah tinggal lama.

Writer ardeliakarisa
ardeliakarisa at Melody of Fireworks. (8 years 1 day ago)

bagus, aku pengen banget bisa buat cerpen latar belakang di luar negeri tapi sayang nggak pernah bisa karena nggak nyampe khayalannya hehe

Writer kirei_nahit0
kirei_nahit0 at Melody of Fireworks. (8 years 1 day ago)
80

good....

Writer neko-man
neko-man at Melody of Fireworks. (8 years 1 day ago)
100

Maaf kalau banyak salahnya...