Kokoro Kiseki part 1

Kokoro - Kagamine RIn --> http://www.youtube.com/watch?v=bE3hhVFbPbs

***

Kokoro Kiseki

Aku tersesat di hutan lindung ini, disekelilingku Cuma ada pohon-pohon berdiameter raksasa dan rumput yang mencapai pinggulku, hutan lindung ini dibuat oleh seorang professor robotik bernama Profesor Kagamine Len, orang yang sekarang namanya melekat padaku.

Hutan ini sendiri sudah berusia seratus tahun, menakutkan namun membuat penasaran. Dan aku termakan rasa penasaranku dengan masuk ke hutan ini. Aku mengambil pelajaran tentang hutan hari ini, melihat hutan adalah kesejukan, namun memasukinya adalah bencana.

Aku menghembuskan nafas, hari semakin siang, dan akhirnya aku menemukan keselamatan, sebuah bangunan tua berbentuk persegi dengan kubah bulat yang megah, namun bangunan ini tetap tampak kecil di tengah hutan ini.

Aku mendekati pintu. Dan di atasnya tertulis sebuah kalimat “kagamine House and Lab” dan beberapa peringatan dilarang masuk lain. Aku memutar kenop pintu besar itu, namun belum sampai pinu itu terbuka, pintu itu ambruk.

Debu beterbangan, aku segera menjauh. Ledakan debu ini membuatku terbatuk-batuk. Setelah semua debu menghilang diterpa angin, aku mendekat lagi. Pintu itu rata dengan tanah dengan beberapa rayap keluar darinya.

Aku melompati pintu itu dengan ngeri. Lalu aku memandang sekeliling, computer dimana-mana dengan berbagai layar besar yang mati, beberapa kotak yang sepertinya CPU menumpuk di berbagai sudut ruangan, sementara berbagai kabel warna-warni menggantung di langit-langit.

Ada sebuah tabung besar di tengah ruangan, tabung itu berdebu dan buram, namun bercahaya. Aku agak ragu saat mengusap kaca tabung itu, tak ada ledakan debu seperti tadi, namun aku terkejut, airnya masih jernih, ini aneh megingat seratus tahun berlalu sejak bangunan ini menghilang dari peradaban.

Aku memandangi seorang gadis yang melayang didalamnya. Tunggu, dia bukan gadis, aku mengenalnya di buku sejarahku, dia android kedua yang sangat mirip dengan manusia, dia android kedua yang bisa menyanyi dengan merdu, dia…

Kagamine Rin

Aku banyak membaca tentangnya, dia menghilang di tengah sukses besarnya, dan sejak saat itu, sang professor juga ikut menghilang. Pasti menyenangkan mendengarkan suaranya lagi.

Aku mundur untuk mencari generator listrik gedung ini, lalu berbalik, namun mataku menangkap seseatu yang ganjal, sebuah tengkorak duduk di sebuah kursi memandangi sang android.

Itu mayat sang professor, mayat Prof. Kagamine Len, ayah dari ‘anak’ emas ini.

Aku mendekati mayat itu, ia memegangi sebuah remote, aku mengambil remote itu dengan ngeri, tulang tangannya jatuh ke tanah, aku melompat terkejut. Jantungku berdegup ketakutan.

Aku berjongkok untuk mengembalikan tangan kanan itu ke pemiliknya. Di situlah aku menemukan sebuah tabung bewarna merah, tabung racun, tidak salah lagi, jadi sang professor bunuh diri, untuk apa ?

Aku memandangi remote yang kupegang, sebuah tulisan kecil dapat terbaca jelas di atasnya

“jika kau membangunkan Rin-chan, tolong jangan biarkan dia mengakses program kokoro”

Program kokoro ? remote satu tombol itu kutimang timang. Aku yakin ini remote untuk generator dan sekali menekannya, aku juga membangunkan Rin, tapi apakah arti program kokoro itu ? berbahayakah

Aku akhirnya menekannya, semua computer di sekitarku menyala bersamaan, sebuah logo muncul di semua layer computer itu, bukan logi Microhard yang sekarang mendunia, melainkan logo Microsoft yang eksis di jaman itu.

Selanjutnya semua computer secara bersamaan memunculkan foto foto berbeda Rin dan sang professor. Aku mulai panic dan saat itulah bunyi berdesis terdengar dari tengah ruangan itu.

Air dalam tabung itu menghilang, lalu Rin berdiri dengan lemas, matanya mulai terbuka, lalu semua kabel di tubuhnya terlepas dan mengeluarkan bunyi mendesis aneh, Rin sudah bangun.

“Kagamine Rin Activated” Rin berkata dengan suara sangat merdu, suara khas anak 14 tahun “All system activated”

Lalu kaca di tabung itu tersingkap, Rin melompat turun. Sejenak aku berpikir untuk kabur, namun sangat disayangkan kalau aku tidak mendengarkan suara android ini. Akhirnya aku tetap ditempatku berdiri.

“siapa kau ?” Tanya Rin, suaranya merdu, namun datar dan tak berperasaan, suara khas android

“Aku Len” jawabku

“professor ?” ia memiringkan kepalanya

“err…bukan” kataku “kebetulan saja namaku mirip”

Rin menggeleng, ia lalu menunjuk semua layar computer di sekelilingnya. Aku mengamati semua foto itu, lelaki itu mirip aku, dengan jubah putih panjang dan tubuh yang lebih dewasa.

“tapi itu bukan….”

“dimana program kokoro ?” Rin menyela

“aku tidak tahu” jawabku “untuk apa kau mencarinya ?” tanyaku

Ia memandang mataku dengan tajam namun tanpa ekspresi

“Apa yang kau rasakan ?” Tanya Rin

Aku melongo, pertanyaan macam apa itu ?

“aku….merasa senang” jawabku asal

“aku ingin merasakannya juga” jawab Rin

Aku terenyuh, aku tahu sekarang, semuanya sudah jelas. Proffesor ingin bermain bersama ‘anak’nya, namun Rin bukanlah seperti yang diharapkan sang professor, sekeras apapun Profesor mengajarkan Rin tentang arti hidup, cinta dan perasaan, Rin tetaplah android, jadi ia membuat sebuah program.

“Kokoro Program !” kataku, Rin masih memandangiku dengan ekspresi datarnya

“aku menemukannya !” Rin berteriak keras

Tapi kenapa Profesor tak menginginkan Rin memakai program itu ? pikirku

Rin mendekatiku, ternyata bukan, ia melewatiku, ia mendekti mayat Profesor Len dan mengambil seseatu dari sakunya, sebuah Flash Drive. Aku terpaku dihadapannya. Dia akan mengaktifkan program itu.

Tiba tiba semua layer menjadi putih dan muncul gambar professor

“Rin, aku minta kau mempertimbangkan lagi, android tak akan mampu menopang Kokoro dalam waktu yang lama” professor dalam layer itu memperingatkan Rin, namun Rin tampak tak menggubrisnya
Itulah kenapa Profesor tak menginginkan Rin memakai Kokoro.

“Tolong Rin !” professor semakin memelas

Namun Rin tetap terdiam memandangi Flash Drive itu, ia membuka sebuah Port USB di lehernya, lalu menancapkan Flash Drive itu disana.

Aku terkejut, ia akan mati, aku mendekatinya dan menerjang Flash Drive itu namun aku terpental jauh. Ada sebuah medan listrik yang mengelilinginya, aku tak bisa mendekat.

“Rin !” teriakku “Aku tak mengenalmu, tapi tolong jangan mati dulu”

“Aku hanya ingin merasakan apa yang dirasakan professor” kata Rin sambil menatapku sendu, wajahnya mulai menampakkan ekspresi.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Kokoro Kiseki part 1 (7 years 50 weeks ago)
70

Hmmm... berasa loncat-loncat, kurang mulus penceritaanna... Lumayanlah, tapi kurang berasa... Ada yang kurang apaaaaa gitu... Saya sendiri kurang tw -_-'