Persona: Sacrifice. Chapter 2

Weird Dream and Encounter

“Kami pulang!” kata pamannya setelah memarkirkan mobil di garasi samping rumah dan turun dari mobil. Akira mengikuti pamannya menuju pintu dan masuk ke dalam rumah. Ia dan pamannya lalu melepaskan sepatu dan langsung dihampiri oleh seorang wanita yang cantik dan berkata, “Selamat datang!”

Bibi Nana adalah istri Paman Hajime. Sama seperti pamannya, bibi adalah orang yang luar biasa ramahnya, termasuk kepada orang asing. Benar-benar sifat yang seperti pedang bermata dua. Bibi memiliki rambut yang hitam panjang yang sering digelung. Matanya coklat tua dan berhidung mancung. Bibi Nana berusia sekitar tiga puluhan tahun tapi masih tampak berusia dua puluh tahun. Tidak heran jika melihat paman dan bibi pergi bersama, banyak yang menyangka bahwa Bibi Nana adalah adik Paman Hajime. Mendengar itu, biasanya Bibi hanya tertawa sambil menambah-nambahi hal yang tidak penting.

Bibi dan paman Akira bukan orang yang sering keluar rumah sebab pekerjaan mereka berdua bukanlah pekerjaan di kantor. Bibi Nana adalah seorang perancang desain web dan hanya keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, sedangkan Paman Hajime seorang penulis cerita fiksi ilmiah yang lumayan terkenal di Jepang. Paman sendiri hanya keluar rumah saat hendak bertemu dengan editornya.

“Biar Bibi yang membawa ranselmu, Akira,” kata Bibi Nana sambil mengangkat ransel yang dicangklong Akira dari punggungnya. “Lebih baik kau mandi dulu baru kita makan malam. Sudah kusiapkan air panas untukmu di kamar mandi. Kau masih ingat letaknya, kan?”

Akira mengangguk. Meski sudah sembilan tahun tidak mengunjungi rumah paman dan bibinya, Akira masih ingat bagaimana keadaan rumah itu.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Akira langsung berjalan menuju ke ruang makan dan langsung disambut dengan hangat oleh bibinya yang masih memakai celemek untuk memasak.

“Akira-niichan!” seru seorang anak laki-laki sambil berlari memeluk pinggang Akira. Akira lalu sedikit membungkuk dan mengusap-usap rambut anak itu dan berkata, “Kau sudah besar sekarang, Jun!”

Jun mendongak dan tersenyum ceria. “Aku kangen sekali dengan Oniichan!” Jun lalu menggandeng tangan Akira dan mengajak Akira untuk duduk di meja makan.

Jun adalah satu-satunya anak paman dan bibi. Ia mirip sekali dengan Paman Hajime semasa kecil dan tidak ada mirip-miripnya dengan Bibi Nana. Rambut Jun coklat tua acak-acakan sama seperti ayahnya. Warna matanya hitam pekat yang penuh dengan aura misterius.

Akira akrab sekali dengan Jun semasa ia masih tinggal di Naginomori. Hampir setiap hari ia bermain bersama Jun sepulang sekolah. Selisih usia mereka hanya tiga tahun. Mungkin hal itulah yang membuat mereka sangat akrab.

Begitu duduk, perhatian Akira langsung terpancang pada televisi yang sedang menyiarkan acara berita petang. Akira sedikit terkejut dengan berita yang sedang dibacakan saat itu: kasus pembunuhan dengan cara membelah tubuh korbannya menjadi dua.

“Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kau tampak terkejut dengan berita itu, Akira,” kata Paman Hajime yang duduk di sebelahnya. Ia mengambil rokok di kantung kemejanya dan menyalakannya. “Sebenarnya itu sudah kasus kedua sebulan ini. Yah, Paman tidak heran kau tidak mengetahuinya karena kau dirawat di rumah sakit hampir tiga minggu. Dan, Ya Tuhan, kamarmu benar-benar tidak berperadaban.”

Akira menoleh ke arah pamannya dan tersenyum memaksa lalu mulai memerhatikan televisi dengan serius lagi.

“Kasus pembunuhan sadis dengan membelah tubuh korbannya menjadi dua terjadi kembali Sabtu kemarin. Korban bernama Akagawa Ryo, 17 tahun, seorang siswa SMA di kota Toriya. Mayat korban ditemukan di sebuah gang sempit dekat dengan pusat kota Toriya. Sama seperti kasus sebelumnya, jantung korban tidak dapat ditemukan—“

“Sudah, sudah. Itu bukan tontonan yang baik saat mau makan,” kata Bibi Nana. Tangan kanannya memegang remote televisi sedangkan tangannya yang kiri membawa celemek yang terlipat rapi. Sepertinya ia sudah selesai memasak makan malam. “Sekarang kita makan!”

Bibi Nana duduk di depan Paman Hajime dan mengisi piring masing-masing dengan nasi.

“Tapi, Yah, Toriya kan hanya beberapa kilometer dari sini, kan?” tanya Jun tiba-tiba.

“Benar, Jun. Tapi kau tak perlu takut dengan kasus pembunuhan itu. Ayah yakin polisi akan mampu menangkap siapa pelakunya,” jawab Paman Hajime, mematikan puntung rokoknya setelah mendapat tatapan jangan-merokok-saat-makan dari Bibi Nana.

“Bisa saja pelaku itu sampai ke sini, kan? Lagipula polisi belum mampu menemukan senjata pembunuh yang bisa memotong tubuh manusia serapi itu. Siapa tahu yang melakukannya monster atau setan atau makhluk lain?” sanggah Jun. Meski sudah berusia empat belas tahun, Jun kadang-kadang bisa sangat kekanak-kanakan.

Air muka Paman Jun sempat berubah saat Jun mengatakan soal monster tapi kembali menjadi normal beberapa saat kemudian lalu berkata, “Ah, kamu terlalu banyak menonton film horor, Jun. Mana mungkin ada monster yang mau repot-repot membunuh orang dengan membelahnya menjadi dua.”

Akira yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka berdua akhirnya berkata, “Bagaimana dengan kasus pertama, Paman? Siapa korbannya? Di mana?”

Paman Hajime mengerutkan dahi, sibuk mengingat-ingat. “Seingat Paman korbannya seorang gadis yang juga masih SMA di kota Nagata, sekitar sepuluh kilometer ke utara Toriya. Kau pasti melewatinya tadi saat naik kereta menuju Naginomori. Kejadiannya kira-kira hari Kamis minggu lalu. Mayat terbelah menjadi dua dan jantungnya hilang, sama seperti kasus kemarin.”

Akira punya firasat buruk dengan kasus pembunuhan itu. Rasanya ada hal yang mengganggunya, tapi ia tidak mengatakan hal tersebut kepada pamannya.

“Hentikan pembicaraan soal kasus pembunuhan sadis itu, anak-anak. Sekarang kalian makan dulu!” kata Bibi Nana, menghentikan topik pembunuhan itu tadi.

“Itadakimasu!” seru mereka berempat serentak.

* * *
“Waktumu sudah tiba, Nak,” kata seorang pria tua yang membuat Akira kaget.

Ia berada di sebuah ruangan berukuran sedang dengan langit-langit yang luar biasa tingginya, sampai Akira tidak bisa melihatnya. Ruangan itu mirip sekali dengan penjara lengkap dengan pintu berjeruji di belakang Akira, namun ruangan itu lebih bersahabat dan misterius. Suasana misterius itu mungkin disebabkan karena seluruh ruangan itu berwarna ungu, termasuk lantai dan jeruji besi di belakangnya. Akira merasa sudah pernah berada di ruangan itu sebelumnya. Rasanya sudah sejak lama ia mengunjungi ruangan itu. Ada rasa kerinduan di dalam hatinya.

Akira baru saja menyadari bahwa ia sedang duduk di sebuah kursi besar yang tampak kurang bersahabat. Sandarannya begitu tinggi dan pegangan kursinya diukir dengan sangat rumit. Di hadapannya ada sebuah meja kotak yang nyaris memenuhi ruangan berukuran sedang, ditutupi dengan kain yang berwarna ungu juga. Di belakang meja itu, duduk seorang pria tua yang membuat Akira kaget. Ia semakin kaget begitu melihat pria yang bicara kepadanya.

Ia mirip sekali dengan mimpi buruk yang biasa dialami anak kecil. Pria tua cebol yang berwajah seperti orang kurang waras. Bagian yang menakutkan ialah hidungnya yang luar biasa panjang menempel dengan tidak wajar di wajahnya yang kecil. Rambut putihnya hanya menutupi sisi kanan dan kiri kepalanya.

“Waktumu sudah tiba, Nak!” ulang pria tua itu tadi. Ia menatap Akira dengan penasaran sambil tersenyum licik. Tangannya yang mungil dilipatnya di atas meja ungu tadi. “Akhirnya kita bertemu lagi.”

Akira terkejut dengan ucapan pria itu. “Maaf, apakah kita pernah bertemu?”

“Aaaah.” Pria itu mendesah dengan misterius. “Tidak secara langsung kurasa. Tapi aku yakin kita pernah bertemu dan kita sudah pernah berkenalan, Akira. Cobalah untuk mengingat.”

Akira tambah terkejut mengetahui pria tua itu mengetahui namanya, tapi Akira mencoba mengingat-ingat soal pria itu. Perkataanya benar, Akira pernah bertemu dengan pria itu. Tanpa sadar, Akira menggerakkan bibirnya dan berkata, “I... gor.”

Pria tua itu tersenyum licik dan berkata, “Lega sekali kau mengingatku, Akira. Ah, kau mengingatkanku pada seorang anak muda lain yang pernah bertemu denganku. Sayang, dia belum mengunjungi ruanganku ini. Namanya Shin, kalau-kalau kau kenal.”

Akira menggeleng. Ia lalu bertanya, “Apa maksud Anda bahwa waktu saya sudah tiba?”

Igor diam dengan penuh misterius lalu ia menjawab, “Waktumu untuk mengubah takdir akan segera tiba, Akira. Kau memiliki kekuatan besar yang belum kausadari, Nak. Kekuatan yang bisa kaugunakan untuk menyelamatkan dunia atau justru untuk menghancurkan dunia. Kau sendiri yang memilih jalanmu, kau sendiri yang memilih takdirmu. Keputusanmu saat ini akan memengaruhi dunia, Akira.

Yang perlu kauingat ialah kau harus percaya pada dirimu yang lain, Akira. Seburuk apa pun dirimu yang lain, kau harus menerimanya karena itu adalah bagian dari dirimu juga. Ah, yang kuperlukan sekarang adalah tandatanganmu di atas kontrak ini.”

Sebuah kertas bulukan tiba-tiba saja muncul dari atas meja dan membuat Akira kembali kaget. Ia mengambil kertas dan melihatnya. Kosong.

“Ehm, maaf, Tuan Igor, apa yang harus saya tandatangani?” tanya Akira.

“Kau sendiri yang membuat kontrakmu, Akira. Apa yang tertulis, kau sendiri yang memutuskan,” jawab Igor, masih dengan senyuman misteriusnya.

Akira menandatangani kertas itu dengan penuh tanda tanya, lalu menyerahkannya kepada Igor.

“Bagus! Sekarang waktunya kau kembali ke dunia nyata, Anakku,” kata Igor.

“Tunggu sebentar! Takdir apa yang harus kuubah? Diri saya yang lain apa? Kehancuran dunia?” tanya Akira bertubi-tubi, tapi sosok Igor dan ruangan ungu pun mulai memudar.

* * *
“Hosh, hosh, hosh!” Akira terbangun dengan terengah-engah. Rupanya ia hanya bermimpi tentang pria tua dan ruangan ungunya, tapi rasanya begitu nyata. Basah, pikir Akira. Ia melirik bajunya dan melihat bajunya basah kuyup karena keringat. Ia lalu melirik jam beker di samping kasurnya. Jam tujuh.

Selesai mandi dan memakai seragam, Akira turun ke ruang makan untuk sarapan. Paman, bibi, dan Jun sedang menikmati sarapannya begitu Akira sampai di sana.

“Selamat pagi,” sapa Akira. Ia duduk di samping Jun dan mengambil roti panggang di depannya.

“Selamat pagi, Akira. Ah, kau tampan sekali dengan seragammu itu,” kata Bibi Nana sambil menuangkan susu ke dalam gelas Akira. “Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?”

Akira terdiam sejenak lalu berkata, “Ya, Bi. Nyenyak sekali.”

“Oh, ya, Akira,” kata Paman Hajime. “Kemarin sudah datang surat dari sekolah soal kelas barumu. Begitu kau sampai sekolah, pergilah ke kantor guru dan temuilah Hanamura Yosuke-sensei. Dia wali kelasmu. Oke?”

“Baik, Paman,” kata Akira, menelan gigitan terakhir rotinya dan menghabiskan susunya dalam satu tegukan. “Yuk, Jun, kita berangkat!"

Akira bangkit berdiri dan mengambil tas sekolahnya yang sudah ia bawa turun tadi di sofa dekat ruang makan. Jun yang baru saja menghabiskan susunya hanya melongo, tapi kemudian ia pun ikut bangkit berdiri dan menyusul Akira yang sudah memakai sepatu.

“Kami berangkat!” seru Jun.

Akira berjalan beberapa langkah di depan Jun. Ia kemudian memperlambat langkahnya, begitu melihat Jun agak jauh tertinggal di belakangnya.

Jun menyusul Akira dengan semangat namun ia terlihat muram begitu bertatapan mata dengan Akira.

“Kenapa, Jun?” tanya Akira yang heran.

Jun menggeleng dan berkata, “Tak apa.”

Perjalanan beberapa saat kemudian dilewatkan dalam keheningan.

“Kita berpisah di sini, Akira-niichan,” kata Jun begitu ia sampai di depan sekolahnya. “Akira-niichan tinggal jalan lurus dari sini, pasti sudah sampai.”

Jun melambaikan tangannya dan berjalan masuk menuju sekolahnya. Akira membalas lambaiannya sebentar dan melanjutkan perjalanannya ke sekolah.

SMA Naginomori merupakan satu-satunya SMA di kota Naginomori. Tidak heran cuma ada satu SMA, mengingat Naginomori merupakan kota kecil. Meski hanya satu, tiap-tiap kelas rasanya begitu lengang dan sepi. Kebanyakan anak-anak memilih bersekolah di SMA di kota lain, seperti Toriya yang tidak terlalu jauh dan berkualitas bagus. SMA Naginomori sendiri juga bukan merupakan sekolah favorit di Jepang, tapi Akira sendiri yang memilih bersekolah di sana meski pamannya sudah menawarkan sekolah di kota Toriya.

Sudah banyak murid yang sampai di sekolah pagi itu. Akira dengan penuh percaya diri melangkah masuk ke dalam kompleks sekolah bersama dengan dua orang gadis yang sedang bergosip dan beberapa menit kemudian Akira sudah tersesat.

Dari luar SMA Naginomori tidak terlihat begitu luas, hanya jalan masuk yang ditanami pohon sakura yang baru saja berguguran dan lapangan rumput dengan berbagai macam semak-semak. Gedungnya juga tidak begitu luas. Gedung SMA Naginomori juga tidak berbeda dengan sekolah lain di Jepang. Akira sendiri heran kenapa ia bisa tersesat dengan mudah.

Begitu masuk dari pintu depan, ada berderet-deret loker yang tertata rapi dan beberapa murid yang menukar sepatunya. Karena takut tersesat lebih jauh lagi, Akira memutuskan bertanya kepada gadis di dekatnya yang sedang berusaha membuka lokernya.

“Permisi,” kata Akira.

“Ya?” Gadis itu menoleh dan terkejut dengan kehadiran Akira yang terlalu dekat dengannya. Ia mundur beberapa senti dan berkata, “Ada apa?”

“Bisakah kau menunjukkan jalan ke kantor guru?” tanya Akira.

Gadis itu terdiam sesaat lalu menjawab, “Kau murid baru? Ah, senangnya ada murid baru! Tentu saja. Dari loker ini kau tinggal belok ke kanan, lalu berjalan terus. Abaikan saja jika ada persimpangan koridor. Kantor guru ada di sebelah kanan.”

“Ah, terima kasih banyak,” kata Akira. Ia membungkukkan badan dan berjalan.

“Tunggu sebentar! Kau tampak familiar. Apa kita pernah bertemu?” tanya gadis itu.

Akira berhenti berjalan dan berpikir sejenak lalu menjawab, “Tidak, kurasa tidak.”

Tidak sulit mencari kantor guru. Beberapa menit kemudian, Akira sampai di depan pintu dan mencoba menggeser pintu ketika seorang guru melakukan hal yang sama dari dalam, membuat Akira nyaris jatuh, jika tidak ditolong oleh guru tersebut.

“Kau tak apa, Nak?” kata guru itu.

“Ah, saya tak apa-apa. Maafkan saya karena kurang hati-hati,” kata Akira.

“Tak apa-apa,” kata guru itu. “Apa yang bisa kubantu?”

Akira menatap guru itu. Seorang pria yang masih muda, mungkin sekitar dua puluhan tua. Rambutnya coklat dan mencuat ke mana-mana. Pria itu mengenakan headset berwarna merah di lehernya. Penampilannya benar-benar tidak mencerminkan seorang guru.

“Saya mencari Hanamura-sensei. Saya murid baru dan Hanamura-sensei wali kelas saya,” kata Akira.

Guru itu tadi terperanjat dan berkata, “Aku Hanamura-sensei. Oh, jadi kau Takahashi Akira-kun. Baiklah, tunggulah sebentar di dalam. Tanyalah kepada guru mana pun di mana mejaku dan duduklah di sana. Aku ada urusan sebentar—di toilet. Tunggulah sebentar, Takahashi.”

Akira pun masuk ke kantor guru dan menunggu di sana.

* * *
“Yah, dia baru saja datang dan tampaknya belum menyadari kekuatannya,” kata Hanamura-sensei. Tampaknya ia sedang berbicara dengan orang lain melalui ponselnya. “Tidak. Justru semakin mudah jika ia tidak mengetahuinya. Akan memudahkan kita, bukan?”

Ia menatap cermin di depannya dan merapikan rambutnya. “Kau benar soal persona itu. Dia memilikinya. Tampaknya personanya cukup kuat, jauh melebihimu kurasa. Sulit? Kurasa tidak. Baiklah, aku harus berperan menjadi guru yang mendapat seorang murid baru biasa lagi, walau dia murid yang tidak biasa. Sampai jumpa.”

Hanamura-sensei menutup ponselnya dan tersenyum lalu berjalan meninggalkan toilet.

Read previous post:  
116
points
(1040 words) posted by dansou 8 years 7 weeks ago
89.2308
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | FANFIC | Geje | misteri | persona | remaja
Read next post:  
Writer phantom27
phantom27 at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (6 years 36 weeks ago)
100

Astagaa!! PERSONAAA..

Saya fans berat game ini dan sedang dalam proyek fanficny, ternyata sudah ada sensei mendahului. Hihihi....
Mohon kiranya nanti sudi untuk mampir ngasi wejangannya *sembah sujud

Overall. Keren...

Baru baca dua chapter saya sudah jatuh cinta pada cerita anda.

Writer panglimaub
panglimaub at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (7 years 37 weeks ago)
100

Okey ada dua hal yang buat saya bingung :

1. Bibi Nana adalah istri Paman Hajime. Sama seperti pamannya, bibi adalah orang yang luar biasa ramahnya, termasuk kepada orang asing. Benar-benar sifat yang seperti pedang bermata dua (maksudnya????? bibinya bisa kejem gitu)

2. Personanya kaya apa woi! Kan ga pernah ditunjukin di chapter sebelumnya? Oke soal Igor ..... kenapa harus DIA!!!!??? Kenapa ga buat karakter lain macam Durga atau semacamnya sebagai penjaga Velvet Room?

Writer panglimaub
panglimaub at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (7 years 37 weeks ago)

Beda antara khodam dan Persona :

Khodam manggilnya pakai mantra, penguasaannya susah dan mungkin saja berontak.

Persona, penurut ideal, mudah dikuasai

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (7 years 41 weeks ago)
80

Lagi makan denger kasus pembunuhan kok nafsu makannya nggak hilang? Maka pembunuhannya sadis begitu... Tapi kalau memang sudah biasa dengan kasus misal org kepilisian nggak masalah. Soal pendeskripsian Igor, kurang enak didengar kalau disebut hidung panjang aja, lebih enak kalau ditambahi hidung bengkok/ hidung betet. Kalau hidung panjang aja, yang belum pernah liat Igor bakal nangkep kesannya kayak pinokio.
Tapi keseluruhan ini bagus bngt, lho. Mulai dari narasi dsb. Terus ada kemajuan dari part 1. Point sama persisnya udah nggak terlalu ngeganggu lagi. Ganbatte, ya!

Writer panglimaub
panglimaub at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (7 years 37 weeks ago)

Saya ada kasus pembunuhan atau gambar mayat pun makan tetep oke kok :D

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (7 years 41 weeks ago)

SIal!!! Ternyata ada master Persona di sini. TIDDAAAKKK!!!! Hem... cerita ini langsung masuk peti mati komputer saya dan tak akan saya buka lagi XDDDD
.
Thanks anyway

Writer Alfare
Alfare at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 2 weeks ago)
70

*face palm*
Semakin ke sini, penggambaran diri Igor cenderung semakin garing. Tapi tenang, aku enggak merasa ini salah kamu kok.
.
Entah ya. Seperti yang sebelumnya kukatakan, nuansanya benar-benar mirip dengan Trinity Soul, dan aku lumayan benci Trinity Soul. Rasanya kayak makna yang terselubung dalam ceritanya itu sama sekali enggak penting gitu, dan hal tersebut bertentangan dengan makna yang sebelumnya berusaha disampaikan oleh game-game Persona.
.
Sekalipun ini cuma fanfic, mungkin sebaiknya apa-apa sesungguhnya yang mau kamu sampaikan dalam cerita ini mulai kamu renungin.
.
Satu lagi, kurasa bila menilik usianya, lebih wajar Jun jika memanggilnya 'Nii-chan' atau 'Aniki.'

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 2 weeks ago)

hihihi... padahal masih chapter-chapter awal. kenapa gak suka Trinity Soul, sih? saya suka banget, padahal. Tapi menurut saya Trinity Soul ini lebih baik ceritanya dibanding Persona 3 ama Persona 4. Ah, mungkin setara sama P4 karena ceritanya bagus banget. Itu dia, Jun ini walau udah gede, jalan pikirannya masih kaya anak-anak. Jadi aku biarin aja deh dia manggil Akira sesukanya

Writer liza is rin
liza is rin at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 2 weeks ago)
100

keren, kakak! tapi bibinya kok mencurigakan yaa?? hihihi..

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 2 weeks ago)

bibinya biasa aja tuh menurut saya. hehehe... ada lah entar bagian yang nyeritain rahasia bibinya

Writer liza is rin
liza is rin at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 2 weeks ago)

bener ya?? *mata berkaca2* aku tungguuu...! :)

Writer herjuno
herjuno at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 6 weeks ago)
80

Ketika membaca cerita ini, saya merasakan adanya suasana kalem di awal dan tengah cerita (terutama bagian pertemuan dg Igornya itu, deskripsi suasananya seperti yang saya bayangkan dalam game-nya), tapi begitu mendekati akhir chap, kamu sukses membangun tension--seperti halnya yang kamu lakukan di chap 1. Nice.
.
Kritik: ada sedikit ketidakkonsistenan, yakni saat Jun memanggil dengan sebutan berbahasa Jepang ("Akira-niichan!"), sementara bagian lainnya menyebut dengan bahasa Indonesia (“Tapi, Yah, Toriya kan hanya beberapa..."). Terus di bagian awal kayaknya ada bagian yang agak melompat2, tapi di bagian2 akhir udah menghilang :D

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 6 weeks ago)

Ah soal ketidakkonsistenan itu gara2 aku bingung gimana manggil ayah. Aku pikir Otosan kepanjangan dan gak bisa merefer diri sendiri. Bisa gak sih?
Btw, thx udah baca

Writer herjuno
herjuno at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 6 weeks ago)

Memang, secara tekstual, orang Jepang memanggil ayahnya dengan Chichi, tapi kalau kamu lihat dorama dan anime, tidak sedikit pula yang memanggil Otousan (film Taiyou no Uta merupakan contoh yang bagus). Bukan hanya "ayah" saja sebetulnya, kamu juga menggunakan "bibi" alih2 "Obasan". Cobalah pilih salah satu, apa mau pakai istilah Indonesia atau Jepang. Saran saya gunakan istilah Jepang untuk memperkuat setting suasana. :)

Writer Alfare
Alfare at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 2 weeks ago)

'Chichi' (ayah saya) ato 'Haha' (ibu saya) setauku digunakan saat membicarakan orangtua kita dalam pembicaraan dengan orang luar. Bukan untuk digunakan sebagai kata sapa secara langsung.

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 2 weeks ago)

bener kak. saya tanya temen saya yang pernah AFS ke Jepang juga menjawab hal yang serupa. Chichi atau Haha itu mirip seperti bokap-nyokap di Indonesia, katanya. Kita gak boleh manggil orang tua dengan itu, kalau nggak mau ditimpuk pake bata

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 6 weeks ago)

Baik2. Akan kupakai istilah Jepang aja. Makasih atas sarannya. Tapi di chapter berikutnya ya. Soalnya males ngedit. Hehehe

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 7 weeks ago)
90

Wah, semakin bikin penasaran ^^
Tapi apa maksudnya si bibi tuh seperti pedang bermata dua? pengungkapan ini bikin aku semakin memperhatikan karakter si bibi, but sejauh ini dianya normal-normal ya. tapi tetap aja aku penasaran dengan si bibinya.
Oh ya, si jun-nya juga agak menarik perhatian saya ^^ oke, aku tunggu aja lanjutannya

Oh ya, satu typo ---- dua puluhan tua? dua puluh tahunan, hehe

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 7 weeks ago)

makasih udah baca. aduh >_< typonya banyak banget ya? waktu nulis ini saya udah ngantuk banget. omong2 typonya itu letaknya di mana ya?
.
kan, kalau orang terlalu ramah sama orang asing kan bisa bahaya juga, gitu maksudnya. tapi bibinya juga punya rahasia kok. jun juga.
.
tunggu lanjutannya ya

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 7 weeks ago)

^^ sama2... gak juga, aku biasanya gak pernah peduli dengan typo asal ceritanya enak diikutin, typo bukan big prob kok ^^
cuman tadi pas ketemu aja

pas di paragraf ke tujuh dari bawah, waktu mendeskripsikan senseinya ^^

waaa,, masa ponakan sendiri dibilang orang asing, kok bibinya gitu seh.. oke, bakal aku perhatiin karakter itu, hehe... aku tunggu lanjutannya, penasaran dengan bibi dan si jun >.< juga dengan kekuatan akira.. ah pokoknya semua deh..

Writer kiva2011
kiva2011 at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 7 weeks ago)
Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 7 weeks ago)

cuma gitu aja komennya? oke, oke aku bakal mampir

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 7 weeks ago)
90

Belum pernah main game ini sih...
tapi ceritanya enak diikuti
jadi makin penasaran sama lanjutannya ^-^
.
ada saltik dikit:
punting rokok - harusnya puntung rokok

Writer liza is rin
liza is rin at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 2 weeks ago)

ini sih saltiknya bisa bkin ngakak. :D

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 7 weeks ago)

makasih banyak. akan saya edit.

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 2 (8 years 7 weeks ago)
2550

Mohon kritik dan saran. Saya kurang sreg waktu nulis chapter ini