Persona: Sacrifice. Chapter 3

The Awakening

“Akira-kun!” panggil Ayumi saat bel makan siang berbunyi.

Akira yang merasa namanya dipanggil, menoleh, dan mendapati Ayumi dan seorang gadis berjalan mendekati bangkunya. Akira tersenyum tipis melihat mereka berdua.

Akira tidak pernah menyangka bahwa gadis yang ia tanyai arah tadi pagi adalah teman masa kecilnya, Nagano Ayumi. Tidak heran Akira nyaris tidak mengenali Ayumi karena sudah sembilan tahun mereka tidak bertemu. Ia sendiri baru sadar kalau gadis itu Ayumi saat Akira memperkenalkan diri di depan kelas. Ayumi langsung saja memekik kegirangan dan berlari maju ke depan dan memeluk Akira dengan erat.

Ia dan Ayumi benar-benar akrab saat mereka masih kecil. Bersama Kei, sahabat Akira lainnya, Akira dan Ayumi sering sekali bermain bersama-sama dan permainan favorit mereka—sebetulnya cuma Ayumi yang suka—yaitu rumah-rumahan. Akira sampai sekarang masih geli sendiri saat mengingat kejadian sebelas tahun yang lalu. Saat itu, mereka bertiga sedang bermain rumah-rumahan di sebuah taman. Akira menjadi sang suami, Ayumi menjadi istri, dan Kei menjadi tetangga yang usil. Tiba-tiba saja Ayumi menghampiri Akira dan berkata, “Aku suka kamu, Akira-kun!” Akira yang berpikir bahwa hal itu bagian dari permainan menjawab, “Aku juga suka.” Tapi tiba-tiba saja Ayumi berlari kencang sambil menangis dan berseru, “Akira jahat!” Ia tidak berbicara dengan Akira selama beberapa hari meski akhirnya berbaikan.

Ayumi tidak banyak berubah sejauh yang Akira lihat sekarang. Kecuali tubuhnya yang bertambah besar dan tinggi, tidak ada yang berubah. Ia masih memiliki rambut hitam berombak yang panjang. Matanya hitam berkilat-kilat ramah saat ditimpa cahaya matahari. Ia bertambah cantik, pikir Akira, dan entah kenapa ia merasakan pipinya bersemu merah saat memikirkan hal itu.

“Akira-kun!” kata Ayumi, duduk di depan Akira. Gadis yang bersamanya berdiri di sampingnya sambil tersenyum kepada Akira. Ayumi menarik lengan gadis itu dan berkata, “Kau masih ingat Shizu-chan?”

Akira memandang gadis itu dan mengangguk.

Yamada Shizuka juga teman masa kecil Akira. Akira tidak begitu akrab dengannya meski mereka pernah bermain bersama-sama beberapa kali. Seingat Akira, Shizuka adalah anak yang pemalu dan jarang bicara. Tampaknya sifat itu belum berubah. Yang berubah hanyalah ia hanya memakai kacamata dan rambutnya bertambah panjang.

“Kau sudah makan siang, Akira-kun? Kau boleh bergabung bersama kami,” kata Ayumi, mengangkat sebuah bungkusan berisi bekal makanan. “Aku membawa banyak hari ini.”

“Tak perlu, Ayumi. Aku sudah membeli sandwich dan jus buah tadi pagi,” kata Akira, mengambil sandwich dan jus dari dalam laci mejanya.

“Baiklah,” kata Ayumi menghela napas. Ia tampak kecewa. “Kau mau, Shizu-chan?”

Shizuka yang sudah mengambil kursi dan duduk di dekat Ayumi menggeleng dan menjawab, “Aku juga sudah membawa bekal sendiri.”

Ayumi tampak semakin sebal dan menyerah soal membagi bekal makanannya. Ia pun memutuskan untuk diam dan makan bekalnya sendiri.

“Ah, Takahashi,” kata Shizuka tiba-tiba. Akira yang sedang menyedot jusnya pun menoleh. “Kapan kau tiba di Naginomori?”

“Kemarin sore,” jawab Akira singkat.

“Bersama orangtuamukah, Akira-kun? Ah, rasanya aku harus menyapa mereka berdua. Aku sudah kangen dengan masakan ibumu yang luar biasa enaknya itu,” kata Ayumi.

Akira terdiam sejenak. Ia bingung harus menjawab bagaimana. Setelah menelan ludah beberapa kali, barulah ia menjawab, “Tidak. Aku tinggal bersama paman. Orangtuaku sudah meninggal sebulan yang lalu.”

Ayumi membiarkan sumpitnya melayang di udara selama beberapa saat begitu mendengar kabar itu, sedangkan Shizuka tampak sangat terkejut dan menatap Akira dengan tatapan tidak percaya.

“Maafkan aku,” kata Ayumi lemah. “Kalau boleh tahu, kenapa?”

“Kecelakaan.” Akira menjawab dengan enggan pertanda ia malas sekali membicarakan hal itu. Untungnya, Ayumi dan Shizuka langsung mengerti keengganan Akira dan memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

“Aku belum bertemu dengan Kei hari ini. Apa ia sekolah di sini?” tanya Akira berusaha mengubah topik pembicaraan.

“Ah, benar. Kei-kun sekolah di sini, tapi ia di kelas sebelah. Kelas 2-2,” jawab Ayumi segera. “Aku akan memberitahunya kalau kau kembali ke sini, Akira-kun. Tenang saja.”

Karino Kei adalah sahabat terbaik yang pernah Akira miliki. Akira dan Kei benar-benar tidak terpisahkan saat itu. Mereka berdua dulu anak yang sangat nakal dan bandel. Mereka juga seringkali jahil dengan teman mereka, seperti menaruh permen karet di kursi Ayumi, menyembunyikan tas teman mereka, memecahkan jendela kelas saat bermain baseball, dan sebagainya. Tapi semenjak Akira pindah ke Tokyo, mereka mulai jarang berhubungan dan akhirnya tidak pernah berhubungan sama sekali.

Mereka bertiga melanjutkan percakapan siang itu. Akira baru mengetahui kalau Ayumi, Shizuka, dan Kei tinggal di asrama sekolah. Keluarga Shizuka tinggal di luar kota sehingga ia harus tinggal di asrama, begitu kata Shizuka.

“Aku tidak senang dengan ibu tiriku,” jawab Ayumi ketika Akira bertanya kenapa ia memutuskan tinggal di asrama. “Ayahku menikah dengan wanita lain dan kami tidak begitu cocok satu sama lain. Daripada aku bertemu dengannya setiap hari dan memperpendek umurku, lebih baik aku menyingkir saja.”

“Lho, bagaimana dengan ibumu?” tanya Akira.

Ayumi tidak menjawab pertanyaan itu segera, ia malah menusuk-nusuk kroket bekal makanannya dengan sumpit. Akhirnya ia berkata, “Ibuku meninggal lima tahun lalu. Ia sakit.”

Akira diam saja. Ia benar-benar tahu bagaimana rasanya ditinggal orang yang ia sayangi. Dan ia tahu bahwa Ayumi pasti merasakan hal yang sama dengannya. Meski kejadian itu terjadi lima tahun yang lalu, rasa sakit itu pasti masih tersimpan di dalam hatinya.

“Oke, oke! Lupakan topik yang suram tadi,” kata Ayumi tiba-tiba. Ia berdiri dengan semangat setelah menyelesaikan makan siangnya dan merapikannya. “Kita masih punya beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi, kau mau jalan-jalan, Akira-kun?”

Akira menggeleng. “Aku lebih suka melihat bunga sakura yang berguguran dari jendela kelas.” Tempat duduk Akira berada di dekat jendela kaca besar sehingga ia dengan mudah melihat ke luar.

“Baiklah kalau begitu. Aku dan Shizu-chan akan pergi ke kafetaria dan membeli jus kaleng,” kata Ayumi. Ia lalu mengajak Shizuka keluar kelas, tepat saat seorang laki-laki memanggil nama Akira, “Takahashi-san!”

Akira menoleh dan yang ia dengar kemudian adalah suara BUUGGH keras menghantam wajahnya. Ia terjatuh dari kursinya dan menatap sang pemukul dengan tatapan murka. Seorang anak laki-laki dengan senyuman mencemooh berdiri di hadapannya.

Ayumi yang tepat berada di pintu kelas dan hendak menggesernya, menoleh, dan langsung berlari menuju Akira sambil berteriak, “Toyama-kun! Apa yang kaulakukan?”

Ayumi menghampiri Akira dan mencegah Akira membalas pukulan anak laki-laki itu. Akira berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Ayumi, tapi gagal. Akira menatap anak laki-laki itu dengan penuh amarah.

“Apa salahnya, Toyama Daichi-kun? Dia murid baru di sini!” kata Ayumi. Ia juga tampak sangat marah.

“Dia bukan murid baru, Nagano-san. Kau sudah mengenalnya,” jawab Daichi dengan nada menghina. “Lagipula itu caraku menyambut murid baru.”

‘Dasar sinting!” jawab Ayumi. Ia lalu menoleh ke Akira dan berkata, “Kau tak perlu meladeni orang sesinting dia, Akira-kun. Ayo, kau kuantar ke UKS. Hagino-sensei tidak pernah bertanya macam-macam jadi kau tak akan mendapat masalah gara-gara berkelahi.”

Akira menurut saja saat Ayumi menggandeng tangannya keluar kelas. Shizuka yang tampak cemas berjalan di samping Ayumi dan bertanya apa Akira baik-baik saja. Mereka melewati seorang anak laki-laki yang tampak bingung di koridor depan kelas.

Anak laki-laki itu melihat Akira dari kejauhan dengan ekspresi dingin. Ia lalu melihat tali sepatunya yang lepas dan membungkuk untuk membetulkannya. Tiba-tiba badge namanya terjatuh dan ia buru-buru mengambil badge-nya. Karino Kei, tulisan di badge nama itu berbunyi.

* * *
“Kau tak apa, Oniichan?” tanya Jun sekali lagi saat mereka berdua berjalan pulang. Akira yang sejak menjemput Jun dari sekolah hanya meringis kesakitan menggeleng menjawab pertanyaan Jun.

“Aku tidak percaya bagaimana bisa Akira-niichan bisa terjatuh dari meja di hari pertama masuk sekolah,” kata Jun. Akira masih saja sibuk memegang pipinya yang membengkak akibat pukulan Daichi.

“Aku tidak bisa bicara banyak-banyak, Jun. Sakit... Aww,” pekik Akira saat Jun memencet pipinya dengan ringan. Jun berlari dengan sangat cepat untuk menghindari jitakan Akira.

Mereka berdua pulang agak terlambat hari itu. Akira harus menunggu Jun yang mendapat tugas membersihkan kelas hari itu sambil menahan rasa nyeri di wajahnya. Akira menunggu sambil duduk di halaman depan sekolah Jun dengan kurang sabar karena rasa sakitnya. Jun baru keluar saat matahari mulai terbenam. “Ah, tadi aku ada urusan dengan guru sebentar,” kata Jun saat Akira bertanya kenapa ia yang paling terakhir keluar dari sekolah.

Jalan yang biasa ramai penuh dengan anak-anak sekolah tampak benar-benar sepi sore itu. Sama sekali tidak ada orang yang lewat jalan itu. Seorang ibu yang membawa kantung belanja lewat sebentar lalu menghilang di balik rumah kecil di tepi jalan.

Jun masih saja berlari di depan Akira meski Akira sudah tidak ada keinginan untuk menjitak kepala Jun. “Hati-hati, Jun!” seru Akira kepada Jun yang sudah berada jauh di depan, di sebuah perempatan.

Akira tidak menyadari apa yang terjadi hingga ia mendengar suara deru mobil kencang dari sebelah kanan Jun. “JUN! LARILAH!” seru Akira.

Jun menoleh dengan wajah cemas dan berkata, “Kakiku tidak bisa bergerak, Oniichan!” Sementara pengendara mobil itu tampaknya tidak melihat Jun, mungkin karena ia mabuk karena mobilnya terlihat goyah. Bagaimana mungkin sudah ada orang mabuk di sore hari begini? Jangan bercanda, pikir Akira.

Akira langsung berlari kencang menuju ke arah kencang, sementara mobil itu semakin mendekat. Dengan kecepatan sekitar 70 km/jam dan jika ia mengerem dalam jarak lima puluh meter, mobil itu akan sampai dalam waktu lima detik, pikir Akira sementara ia berlari. Tidak akan cukup, pikirnya. “JUN!”

Yang Akira lihat kemudian benar-benar di luar akal pikirannya. Sesosok makhluk humanoid tiba-tiba muncul begitu saja, seolah berasal dari diri Akira sendiri. Sosok itu tampak mengerikan dengan lengan menyerupai sebuah bazooka. Warnanya biru dan kuning elektrik. Kepalanya lancip ke atas dan matanya hanya sebuah garis tebal berwarna merah. Tubuhnya benar-benar rumit menyerupai robot gundam yang pernah Akira miliki saat masih kecil dulu. Makhluk itu tampak seperti perpaduan antara kadal dan manusia dengan ekor panjang, juga berwarna biru dan kuning elektrik. Jika ada makhluk menyerupai robot dan dinosaurus, makhluk itu mirip sekali dengannya.

Makhluk itu menatap Akira tanpa ekspresi dengan mata garis-merahnya dan membuat Akira bergidik ketakutan. Namun, makhluk itu mengabaikan Akira dan melaju kencang menuju ke arah Jun, mengangkatnya, dan menurunkannya ke tempat yang jauh lebih aman.

Mobil kencang itu melaju beberapa milidetik beberapa kemudian dengan begitu santainya seolah tidak ada apa-apa. Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, barulah Akira berlari menghampiri Jun yang terduduk di tepi jalan beraspal. Jun tampak begitu lelah, tapi ia tidak begitu ketakutan melihat makhluk itu tadi.

Sebelum Akira sempat melihat secara keseluruhan makhluk misterius itu tadi, makhluk itu sudah menghilang bagaikan asap. Akira memiliki perasaan aneh bahwa makhluk itu masuk ke dalam dirinya.

“Kau tak apa, Jun?” Akira berjongkok dan memeriksa setiap bagian tubuh Jun. Akira baru berhenti saat Jun menggeleng pelan. “Syukurlah.”

Jun nyengir pelan. Akira pun menjitaknya dengan pelan. “Lain kali jangan pernah seceroboh itu lagi, Jun. Untung kau tak apa-apa. Kenapa kau tidak bisa bergerak tadi?”

“Entahlah, Akira-niichan. Pikiranku mengatakan agar aku tidak bergerak dan aku tidak bisa melawannya,” kata Jun, berusaha berdiri dengan susah payah. “Kau melihat makhluk itu tadi, Oniichan?”

Akira yang membantu Jun berdiri menjawab, “Tentu saja. Makhluk itu seolah-olah muncul dari diriku. Menurutmu apa itu?”

“Persona,” jawab Jun pelan sehingga Akira nyaris tidak mendengarkannya.

“Apa, Jun?” tanya Akira. Akira tidak mendengar dengan begitu jelas jawaban Jun.

“Aku tidak akan memberitahu Otousan soal kejadian ini tadi dan makhluk itu tadi,” kata Jun sambil berjalan dengan lambat-lambat. “Dan juga perkelahian Oniichan di sekolah.”

* * *
Tiga sosok mengendarai mobil dengan kecepatan kencang malam itu. Cahaya lampu jalan yang terang menyinari mereka. Bulan bersinar terang sekali malam itu meski cahayanya kalah dengan lampu jalanan.

“Dua kilometer lagi,” kata sosok pertama. Ia tampaknya seorang pria yang mengemudikan mobil itu. “Tak lama lagi kita sampai.”

“Dari mana kau tahu?” tanya sosok kedua yang berada di kursi belakang. Dari suaranya, ia tampaknya seorang wanita. Sosok pertama itu menunjuk sebuah benda di luar dengan dagunya dan sosok kedua itu mengintip luar dengan matanya. Sebuah papan jalan penunjuk arah yang bertuliskan: Naginomori 2 km.

“Ah, aku sudah tidak sabar berburu jantung lagi,” kata sosok ketiga. Ia seorang pria yang berada di samping kursi pengemudi. “Dua hari bukan waktu yang sebentar buatku.”

“Hentikanlah, tatapan nafsumu itu,” kata sosok pertama. “Kita memiliki banyak buruan di sana nanti.”

“Jangan lupakan bagianku!” seru wanita di kursi belakang. “Kau terus yang menghabisi dua buruan terakhir.”

“Tenanglah. Kita akan berbagi jatah,” kata sosok ketiga. “Semua pemilik persona harus dimusnahkan."

Read previous post:  
87
points
(2337 words) posted by dansou 8 years 7 weeks ago
87
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | misteri | persona | remaja
Read next post:  
Writer phantom27
phantom27 at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (6 years 36 weeks ago)
100

Poinny ga masuk. Heu

Writer phantom27
phantom27 at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (6 years 36 weeks ago)

Wah? Munculny gt aja?? Tanpa kata "Persona" dari Summonernya?? -___-

Sederhana. Tp bukanny dalam keadaan begitu persona yg bangkit harusnya Personanya si Jun ya? (kalau ada) karena persona kan bangkit untuk melindungi summonernya, kecuali Akirany dlm keadaan bahaya juga. Iya bkn ya? CMIIW *nyengir

Tp keren. Adeganny kebayang sperti nonton Anime

Writer panglimaub
panglimaub at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (7 years 37 weeks ago)
100

Persona harusnya aktif melindungi tuannya sehingga saat Akira dipukul ia akan melakukan healing tubuh tuannya secara cepat.

Cobalah keluar dari konteks Persona yang sudah dibuat oleh Jepang dan membumbuinya dengan kreatifitas sendiri.

Tapi saya menikmatinya :D

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (7 years 41 weeks ago)
80

Reaksi Jun soal persona mencengangkan. Dia punya juga, kah? Awakeningnya kok cepet banget. Cuma tau-tau muncul gitu. (ngarep yg lebih heboh..) Oh, ya, Jun pura-pura polos, ya? Kalimat terakhirnya itu, lho..
ini keren, tapi rasanya agak terlalu tiba-tiba, itu aja.

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (7 years 41 weeks ago)

Wkwkwkwk... Ini beneran banyak banget bolongnya XDDDD. Thanks again ^^

Writer Alfare
Alfare at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 2 weeks ago)
80

Menurutku ada kesan terlalu dibuat-buat.
Tapi penceritaannya runut, jadi aku nikmati aja.

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 6 weeks ago)
90

eeeeeeeee....kebanyakan ngomong ampe lupa poinnya, maaf, maaf :p

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 6 weeks ago)

Ah, yang ketiga ney ^^
cerita awalnya terkesan biasa seperti layaknya kehidupan di sekolah ya, baru tahu kalau akira dulu tinggal di situ, banyak juga ya teman2 masa kecilnya.
hmm,, kepikiran ney, tinggal di asrama berarti ortunya gak ada di kota itu kan, aneh ya, padahal banyak anak2 yang pengen sekolah ke kota yang lebih maju, kok shizuka gak ikut pindah malah tetap di kota kecil itu, apa itu berarti sesuatu?

Jadi persona itu kepribadian kita, kok bentuknya gak kayak kita aja seh? ada perpaduan kadal segala *malah protes*
terus, gmana tuh sampe seseorang bisa punya persona, ceritanya gitu, apa bakal diungkapkan juga?

Jun tau banyak yak, mengejutkan... tapi reaksi jun dalam mengungkap persona kurang greget kali ya, dengan polos dia menjawab seperti itu, >.<

oke deh, aku tunggu lanjutannya, maaf jadi banyak komen. bukan bermaksud banyak mulut >.<

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 6 weeks ago)

Shizuka ya? Bener2 banget. Ada alasannya kok kenapa Shizuka milih tinggal di Naginomori. Mungkin di entah chapter berapa nanti.
-
Soal persona itu kan kepribadian kita yang lain. Jadi mungkin bentuknya macem2. Kayak perpaduan manusia dengan binatang. Biar keren aja *ngaco*. Omong2 personanya Akira namanya Fafnir, makanya ada wujud kadalnya.
-
Kalo langsung dijelasin sama Jun, tamat dong ceritanya ^^. entar saya jelasin deh.
-
gak papa komennya panjang. saya malah seneng kok

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 6 weeks ago)
80

ah, lupa. mohon kritik dan sarannya yah...

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 6 weeks ago)
90

Jadi persona itu apa sih?
kayak summon-an gitu?
Ditunggu lanjutannya

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 6 weeks ago)

ah bener2. bisa juga dibilang kayak gitu. walau menurut saya, persona itu diri kita yang lain gitu. persona kan berasal dari bahasa latin yang berarti topeng.
Jadi bisa dibilang persona itu kayak kepribadian kita yang lain gitu.
.
Makasih udah baca

Writer amy
amy at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 6 weeks ago)
80

Hem, sudah mulai ke inti ya? Critanya menarik dan bikin penasaran. . Q tunggu next part nya. .

Kok Jun juga tau tentang Persona ya? Apa dia juga punya itu?

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 3 (8 years 6 weeks ago)

ah iya. ini udah mulai inti tapi kayaknya endingnya masih agak lama lagi.
.
Jun ya? ah dibaca aja lanjutannya. pasti akan saya kasih tahu rahasia Jun
.
Makasih udah baca