Sahabat

Lagi-lagi ia menceritakan kekesalannya padaku. Rasanya ini sudah keseribu kalinya ia menceritakan masalahnya padaku. Mengenai sekolahnya yang serba perfeksionis dan terlalu menuntutnya banyak, mengenai pacarnya yang manja dan menyebalkan, atau mengenai kedua orang tuanya yang tidak pernah sekali pun akur.

Aku memang sahabat yang baik. Aku selalu mendengarkan ceritanya dengan saksama dan memberi saran-saran yang bijak. Sayangnya, aku hanya bisa datang saat ia benar-benar membutuhkanku. Seperti di saat siang hari yang terik sepulang sekolah, ia menceritakan masalah mengenai sekolahnya hari itu.

“Rasanya sekolah itu benar-benar memuakkan,” gerutunya sambil membanting tasnya yang cukup mahal itu dengan keras. Membuatku kaget.

“Apalagi kali ini?” kataku dengan nada yang kubuat sesabar mungkin. Ia memang bersekolah di sekolah swasta yang cukup terkenal di kotaku. Sekolah itu memang terkenal hanya menerima anak-anak yang genius dan kaya. Perbandingan antara anak genius dan kaya kurang lebih tiga banding dua. Kebetulan ia termasuk golongan kedua-duanya.

“Kenapa guru-guru selalu menyuruh aku ini, itu, kamu harus begini, harus begitu? Aku bukan robot!” serunya.

Aku terdiam sejenak mendengar ceritanya kali ini. Ini benar-benar cerita yang baru mengenai sekolahnya. Biasanya ia bercerita mengenai guru-guru yang tidak kompeten atau teman-temannya yang menyebalkan.

“Memangnya kenapa?” tanyaku dengan sabar.

“Yah, kau tahu sendiri, kan? Mereka senang sekali mengaturku begini, begitu, dan seringkali berbeda dengan pendapatku. Guru yang baik, kan, seharusnya menghargai pendapat murid dan tidak menganggap dirinya yang paling benar.”

“Barangkali kau yang salah,” kataku mencoba membuatnya berpikir jernih.

“No way! Teman-temanku juga sependapat denganku,” katanya lalu duduk di meja belajarnya dan menghadapi laptopnya. “Terus aku harus bagaimana?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku memandang kamarnya yang benar-benar luas. Tipikal kamar anak laki-laki yang kaya: komputer di sebelah barat, tempat tidur besar di sebelah utara, AC tergantung di dinding, meja belajar berdampingan dengan komputer, TV LCD lengkap dengan X-Box dan PS3-nya, dan barang-barang lainnya. Aku memang sudah sering memasuki kamarnya tapi baru kali ini aku mengamatinya dengan teliti.

“Hey!” Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depanku. “Bagaimana?”

“Aaah!” Aku tersadar dari lamunanku. “Menurutku kau seharusnya lebih berani dalam mengemukakan pendapatmu. Aku tahu kalau kau pintar, tapi menurutku kau kurang berani dalam mengutarakan keinginanmu. Kau lebih memilih diam dan membiarkan orang lain yang mengatur jalan hidupmu. Padahal bukan mereka yang menjalani hidupmu. Terkadang guru memang salah dalam memahami muridnya. Tapi kau seharusnya tetap bertahan dengan pendapatmu jika kau yakin benar. Sertai dengan bukti yang tepercaya dan aku yakin mereka tidak akan memaksakan kehendak mereka.”

Dia bergeming selama beberapa saat, tampaknya mencerna ucapan bijakku. Ia lalu menutup laptopnya dan berkata, “Aku lelah sekali.”

“Baiklah, aku akan pergi,” kataku sambil beranjak berdiri. “Haruskah aku berpamitan dengan orang tuamu?”

Dia tersenyum sinis dan menjawab, “Tidak usah. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka. Mereka tidak akan memedulikan sahabatku.”

* * *

“AKU tidak pernah benar-benar mengerti apa yang ada di kepala perempuan?” gerutunya padaku di suatu Sabtu malam.

Rasanya aku sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini akan berlangsung. Hanya ada satu kata yang terngiang-ngiang di kepalaku: Nessa, pacarnya. Ia sudah sering sekali bercerita tentang Nessa, meskipun lebih banyak sisi negatifnya daripada yang positif. Dengan wajahnya yang tampan, tidak sulit untuk mendapatkan Nessa, meski sebenarnya Nessa yang lebih dulu menaksirnya. Nessa memang salah satu gadis paling cantik di sekolahnya sedangkan ia sendiri salah satu cowok paling tampan di sekolahnya. Benar-benar cocok, menurutku. Kalau tidak salah, sudah hampir empat bulan mereka pacaran. Aku sendiri tidak berminat untuk pacaran.

“Nessa kenapa?” tanyaku.

Ia mengajakku keluar kamar menuju balkon dan menatap ke langit yang cerah dan penuh bintang. Malam itu cukup dingin meski langit malam tampak cerah.

Ia bergidik dan berkata, “Menurutmu apa yang ada di pikiran para cewek?”

“Maksudmu?” tanyaku bingung. Ia memang terkadang mengutarakan pertanyaan yang aneh-aneh. Seperti dulu, ia pernah bertanya, “Mengapa manusia dilahirkan?” dan itu cukup membuatku speechless—tidak bisa berkata-kata. Sampai sekarang aku belum bisa menjawab pertanyaannya.

“Maksudku, setiap kali aku lewat, para cewek menatapku lalu cekikikan. Apakah aku terlihat lucu?”

Aku mengangkat bahu pertanda tidak tahu dan berkata, “Barangkali itu konsekuensi menjadi cowok populer.”

Ia nyengir dan menonjokku dengan pelan.

“Tadi Nessa benar-benar menjengkelkan. Ia tadi mengajakku membeli baju dan meminta pendapatku. Jujur saja, aku tidak terlalu antusias dengan acara belanja baju seperti itu. Aku heran sekali bagaimana mungkin para cewek betah melakukan kegiatan yang melelahkan itu. Maksudku, bukankah sama saja semua pakaian yang penting, kan, menutupi tubuh. Baiklah, aku setuju dengan yang namanya mode, tapi bayangkan saat Nessa menanyaiku bagaimana penampilannya dengan baju berwarna hijau, padahal modelnya sama persis dengan yang dipakai sebelumnya, cuma warnanya biru. Saat aku jawab sama saja, eh, dia malah ngambek. Katanya dia belum punya warna hijau, tapi yang biru lebih lucu. Astaga!”

Aku cuma terbahak mendengar ceritanya. Sepertinya ia memang membutuhkan ceramah berjudul ‘Apa yang Ada di Isi Kepala Cewek dan Bagaimana Cowok Berusaha Menerjemahkannya’.

“Aku tanya, deh, sekarang, kau sayang Nessa?” tanyaku.

Ia terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.

“Masalah selesai, kalau begitu. Kalau kamu sayang, itu konsekuensi punya pacar dan aku yakin itu ada gunanya buat masa depan nanti. Tapi kalau kau tidak sayang Nessa, buat apa pacaran? Maksudku, jangan jadikan pacaran buat mainan. Seriuslah dalam melakukan segala sesuatu dan kau akan mendapat hasil yang memuaskan. Jadikan pacaran ini sebagai tahap awal untuk jenjang yang lebih tinggi. Itu sebabnya aku tidak setuju kalau masih SMA sudah pacaran, tapi mau bagaimana lagi.”

“Bagaimana mungkin kamu sepandai itu? Apa kamu betul anak kelas dua SMA?”

Giliran aku yang menonjoknya pelan. Aku yakin ia tidak merasa sakit sedikit pun.

* * *

AKU mendengar suara piring pecah di bawah saat berada di kamarnya suatu sore. Awalnya aku berpikir kucing yang menjatuhkan, tapi begitu aku melihat gelengan kepalanya saat aku menunjukkan wajah tanda tanya dan terdengar teriakan dari bawah, aku yakin kalau itu bukan kucing.

“Ini sudah yang kedua kalinya dalam minggu ini,” katanya. “Yah, aku tahu memang masih banyak stok piring di rak makan, tapi kalau begini terus, bisa-bisa aku makan dengan daun pisang.”

Ia tersenyum getir. Aku tahu meskipun ia tampaknya sangat santai dalam menghadapi masalah pertengkaran kedua orang tuanya, tapi aku yakin kalau ia menangis di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

Aku memang sering mendengar pertengkaran mereka saat ia bercerita padaku, tapi belum pernah aku melihatnya sefrustasi ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan karena aku sama sekali tidak memahami permasalahan semacam ini.

Ia tersenyum memaksa dan berkata kepadaku, “Haha! Aku yakin sekali kau tidak bisa memberi saran yang bijak kali ini. Aku yakin kalau tidak setiap masalah bisa diselesaikan. Aku yakin masalah ini termasuk yang tidak bisa diselesaikan.”

Aku paham sekali saat ia berkata seperti itu, itu berarti ia membutuhkan saran-saran bijakku. Ia sangat membutuhkannya, meski ia terlalu gengsi untuk mengungkapkannnya di depanku.

“Aku memang tidak bisa memberimu saran yang bijak kali ini. Dan aku percaya memang ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Tapi aku yakin sekali kalau masalahmu ini bisa diselesaikan.”

Setelah aku mengucapkan itu, kami saling diam-diaman.

“Entahlah,” katanya sambil berdiri, “aku masih berpendapat kalau masalahku ini tidak bisa diselesaikan. Tak tahukah kau kalau aku sering mendengar kata ‘cerai’ ketika mereka bertengkar?”

“Barangkali aku harus pergi agar kau bisa berpikir jernih,” kataku dan ia melambaikan tangannya lalu langsung tergeletak tertidur di kasurnya.

* * *

MASIH terdengar suara piring pecah saat aku ke kamarnya keesokan harinya. Ia masih memakai seragam sekolahnya dan terduduk lesu di meja belajarnya.

“Ingatkah kau kalau kau masih berhutang satu pertanyaan denganku?” tanyanya tiba-tiba yang membuatku terkejut.

Aku mengangguk. “Mengapa manusia dilahirkan, bukan?”

“Apa kau sudah menemukan jawabannya?” tanyanya.

Aku bergeming. Aku belum menemukan jawabannya.

“Jujur saja, aku belum menemukan jawabannya. Tapi aku yakin kalau kita memiliki tujuan masing-masing mengapa kita dilahirkan.”

Ia tersenyum lesu lalu berkata, “Tak apa. Kita akan menemukan jawabannya barangkali setahun lagi, atau lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi, atau dua puluh tahun lagi, atau hingga akhir hayat. Yang penting kau tetap menjadi sahabatku.”

Aku mengangguk dengan pasti. Aku menyadari kalau sudah tidak terdengar suara piring pecah dan teriakan. Aku mendengar suara seseorang di pintu luar dan terdengar pintu terjeblak terbuka.

“Apa tujuanmu dilahirkan?” tanyanya tidak memedulikan pintu yang terbuka.

“Untuk mendengar ceritamu dan menjadi tempat sampahmu,” jawabku pasti.

Dan mendadak saja terlihat seorang wanita cantik berusia empat puluhan berlari dan memeluknya dengan erat dan berkata, “Kamu bicara dengan siapa, Sayang?”

“Oh, Ma. Kenalkan ini sahabatku Diran,” katanya memperkenalkanku.

“Diran siapa, Dira, Sayang?” tanya wanita itu kebingungan.

“Diran yang duduk di kasurku itu, Ma.” Ia menunjuk tepat ke arahku.

Wanita itu memeluknya semakin erat dan menangis.

Tidak heran wanita itu tidak melihatku. Aku cuma ada di pikiran Dira. Aku dilahirkan dari pikirannya sendiri yang kesepian dan membutuhkan sahabat. Memang benar aku dilahirkan untuk menjadi ‘tempat sampah’-nya. Aku teman khayalannya—bukan, aku sahabat khayalannya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Sahabat (7 years 10 weeks ago)
100

Saya menyesal baru baca cerita sebagus ini sekarang. #pundung

Writer dansou
dansou at Sahabat (7 years 10 weeks ago)

Gie .___.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Sahabat (7 years 15 weeks ago)
100

Wah, keren.
Awalnya bingung ini sahabatnya cowok atau cewek, ternyata...
dari paragraf awal memang sudah terlihat ada keanehan dari sosok si sahabat ini, mulai dari tiba-tiba ada di rumah, nyelonong masuk ke kamar, tapi dibuat seolah-olah memang dia ada.
Aku suka.

Writer Sakura Arizuki
Sakura Arizuki at Sahabat (7 years 17 weeks ago)
100

“Menurutku kau seharusnya lebih berani dalam mengemukakan pendapatmu. Aku tahu kalau kau pintar, tapi menurutku kau kurang berani dalam mengutarakan keinginanmu. Kau lebih memilih diam dan membiarkan orang lain yang mengatur jalan hidupmu. Padahal bukan mereka yang menjalani hidupmu. Terkadang guru memang salah dalam memahami muridnya. Tapi kau seharusnya tetap bertahan dengan pendapatmu jika kau yakin benar. Sertai dengan bukti yang tepercaya dan aku yakin mereka tidak akan memaksakan kehendak mereka"

kalimat2 ini kayak yang pernah diucapin sahabatku.
rasanya aku seperti menemukan kekuatan lagi. hehehe
good story dach :)

Writer Riesling
Riesling at Sahabat (7 years 40 weeks ago)
100

<3

Writer dansou
dansou at Sahabat (7 years 40 weeks ago)

<3 <3 <3

Writer liza is rin
liza is rin at Sahabat (8 years 2 weeks ago)
100

ups, poinnya ketinggalan. maaf, kak. :)

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 2 weeks ago)

thx for reading, liza ^^

Writer liza is rin
liza is rin at Sahabat (8 years 2 weeks ago)

sama2. :D

Writer liza is rin
liza is rin at Sahabat (8 years 2 weeks ago)

ya ampun, kkak.. ak bahkan enggak bisa menyangka kalau endingnya kayak gitu. ckckck.. sepertinya cerita2 kaka memiliki jebakan ya? hahaha.. keren, kak! :)

xentra at Sahabat (8 years 3 weeks ago)

gilak!!!
bagus mas brow!
aq gak nyangka critanya
nikin penasaran euy
endingya jg gak dpt dprediksi
hehehe
keep spirit
n jgn lupa kunjungi aq
http://www.kemudian.com/node/254915

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 3 weeks ago)

makasih banyak. baiklah saya akan mampir

Writer reretno
reretno at Sahabat (8 years 4 weeks ago)
80

hebat banget sih udah pada nebak endingnya , saya malah nggak kepikiran endingnyaa *pembaca amatiran
tapi agak agak nggak srek sama dialog2nya, kan dialog antar teman tapi kayaknya formal banget , jd agak nggak rasional gitu kalo dikehidupan sehari hari kayak kata "mengapa" udah nggak pernah dipakai kan kecuali di soal ulangan ,
tapi udah bagus kok, bagus banget malah haha itu pendapat pribadiku sendiri

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 4 weeks ago)

ah saya seneng karena ada yang nggak nyangka endingnya. huahahaha *jahat*
.
soal dialog itu, karena saya pikir ini tugas bahasa indonesia, bahasanya harus baku. jadi saya bikin semuanya baku. ternyata temen2 saya malah ada yang pakai 'gue' 'lo' -___-
.
makasih udah baca

Writer reretno
reretno at Sahabat (8 years 4 weeks ago)

kamu seneng tapi aku jd ngerasa lemot *sedih
hahahaha
tapi pasti dapet nilai bagus kan dari gurunya?

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 4 weeks ago)

kayaknya gak dinilai sama gurunya deh

Writer ard
ard at Sahabat (8 years 5 weeks ago)
70

saya suka petunjuknya yang diberikan secara bertahap dan pelahan-lahan dari setiap paragraf, sehingga setidaknya reader bisa mulai menduga keganjilan dari si 'aku' ini sedikit-demi sedikit. ^^
Gaya bahasanya bagus, tetapi..mungkin hanya preferensi pribadi saja, tapi menurut saya 'Dira', sbagai seorang anak laki-laki kelas 2 sma, seakan agak...sedikit kurang maskulin. tapi mungkin ini hanya preferensi aja, overall sudah bagus kok ^^
nice job!

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 4 weeks ago)

makasih udah baca dan pujiannya juga.
.
jadi nangkepnya Dira kurang maskulin ya? kalo saya sih cenderung Dira masih kekanak-kanakan. tapi kan interpretasi tiap orang2 bisa berbeda2. nggak pa-pa kalo nangkepnya gitu

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Sahabat (8 years 6 weeks ago)
80

nitip poin dulu, komen menyusul, udah aku baca tapi lagi buru-buru, ntar komennya menyusul, gomen ne >.<

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 5 weeks ago)

iya iya silakan

Writer herjuno
herjuno at Sahabat (8 years 6 weeks ago)
80

Setuju sama 145. Kepribadian Diran (aku) memang mendominasi, tapi justru itulah yang menyembunyikan fakta sebenarnya dari dirinya. Terlebih penggunaan dialog yang dirancang sealami mungkin, menambah tabir yang menutupinya.
.
Nice story :D

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 5 weeks ago)

terima kasih banyak ^^

Writer cat
cat at Sahabat (8 years 6 weeks ago)
80

Tertebak atau tidak aku merasa puas membacanya.

Pengumuman :
Ikuti event ini http://www.kemudian.com/node/254382
Jangan memberi poin pada postingan pengumuman lomba yah.
Dan bila uda terlanjur di beri poin. Harap kembali ke lapak ini untuk meng -NOL kan pada postingan EVENT APRIL. Thx.

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 6 weeks ago)

makasih udah baca ^^.
-
ah soal lomba ini kayanya saya perlu belajar lebih banyak lagi sebelum ikut lomba. saya cukup menjadi pembaca yang baik saja. hahahaha '_'

Writer 145
145 at Sahabat (8 years 6 weeks ago)
80

Cukup menarik. Tapi yah, hmm petunjuk mengenai endingnya sudah dapat terbaca dari paragraf-paragraf awalnya.
-
Aku jadi membayangkan bagaimana jika akhirnya si Diran, yang kelihatannya lebih dewasa itu, akhirnya menjadi kepribadian yang lebih dominan.
-
Nice Story

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 6 weeks ago)

udah ketahuan ya. hehehe. kayaknya aku harus banyak belajar dalam membuat ending yang lebih mengejutkan nih.
.
aduh, pikiran saya belum sampai ke sana. malah jadi horor dong kalau Diran yang mengambil alih tubuh Dira.
.
Makasih udah baca ^^

Writer dansou
dansou at Sahabat (8 years 4 weeks ago)
90

cerita ini udah lama kubuat buat tugas cerpen bahasa Indonesia, tapi baru kuupload sekarang -__-.
-
mohon kritik dan sarannya