Persona: Sacrifice. Chapter 4

Facing the Other Self

Akira tidak bisa tidur dengan nyenyak malam harinya meski tubuhnya begitu lelah. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding kamarnya. Kamarnya gelap karena Akira mematikan lampu kamar. Meski demikian, cahaya bulan yang terang menembus kaca jendela kamarnya, memberikan secercah cahaya dan membentuk bayangan-bayangan aneh saat menimpa tubuhnya. Akira menatap ke luar jendela, menatap ke arah bulan yang berkilau malam itu.

Akira langsung menuju kamarnya setelah ia mandi dan makan malam. Jun terus mengawasi Akira dengan ekspresi cemas, meski ia sendiri yang nyaris kehilangan nyawanya sore tadi. Paman Hajime memutuskan tidak bertanya apa-apa ketika Akira berdiri duluan saat makan malam dan memutuskan untuk kembali ke kamar. Capek, katanya. Namun, Akira masih bisa mendengar Jun bercerita tentang cerita palsu soal jatuh dari meja kepada Paman Hajime saat ia bertanya dari mana Akira mendapat lebam di wajahnya.

“Puuh!” Akira menghela napas. Pandangannya masih tetap ke arah bulan yang terang, meski pikirannya berdesing dengan cepat, berusaha mengingat kejadian yang ia alami selama hari itu. Mulai dari pertemuannya dengan teman-teman lamanya, seorang anak laki-laki asing yang meninjunya tiba-tiba, Jun yang nyaris tabrakan dengan mobil, hingga makhluk mengerikan yang seolah-olah muncul dari dalam dirinya.

Akira berbalik memunggungi jendela dan menundukkan kepalanya. Tangannya merogoh sesuatu dari kantung celana jinsnya. Ponsel. Matanya langsung memantulkan cahaya LCD begitu Akira membuka ponselnya. Ia tersenyum tipis saat melihat pesan dari Ayumi. Kumpulan lambang-lambang aneh yang membentuk tulisan: Ganbatte! Akira menutup ponsel, memasukkannya kembali ke dalam kantung celananya, dan memandang ke luar jendela lagi.

Makhluk itu yang menjadi pikiran Akira. Akira belum pernah melihat makhluk seatraktif itu. Sebenarnya bukan keatraktifan makhluk itu yang mengganggu pikirannya. Dari mana makhluk itu berasal-lah yang mengganggu pikiran Akira. Akira memiliki perasaan aneh bahwa makhluk itu berasal dari dirinya, seolah sudah menjadi bagian dari dirinya. Apalagi makhluk itu tiba-tiba menghilang setelah menyelamatkan Jun dan Akira merasa bahwa ada sesuatu yang merasuki dirinya. Tapi jika memang demikian, bagaimana mungkin? Bagaimana ia bisa melakukannya? Kenapa ia tidak menyadari kehadiran makhluk itu sejak dulu?

“Waktumu sudah tiba, Nak.” Tiba-tiba saja Akira teringat dengan ucapan pria tua bernama Igor itu. “Kau memiliki kekuatan besar yang belum kau sadari.” Mungkinkah makhluk itu kekuatan yang dimaksud? Tapi untuk apa mengeluarkan makhluk mengerikan dari dirinya?

Akira menguap lebar-lebar. Rasanya ia begitu lelah setelah kejadian sore tadi. Ia berjalan menuju kasurnya, menjatuhkan dirinya ke tumpukan busa yang lembut, dan sebelum Akira sadari, ia telah terlelap jauh dalam mimpinya.

* * *
“Daichi,” panggil seorang wanita begitu Daichi keluar dari kamar mandi. Uap air panas membubung rendah saat Daichi membuka pintu kamar mandi dan menghilang begitu ia menutupnya. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kering, lalu menjawab, “Ada apa, Okasan?”

Ibu Daichi yang sedang duduk santai di sofa di ruang keluarga melambai-lambaikan tangannya, menyuruh Daichi duduk di sebelahnya. Daichi menurut dan duduk di samping ibunya. Ia memandang ke arah ibunya sambil menunggu apa yang hendak ia katakan. Beberapa tetes air jatuh dari rambut Daichi, membasahi kaosnya, saat ibunya berkata, “Okasan akan ziarah ke makam ayahmu di Kyoto besok. Besok tepat empat tahun ayahmu meninggal.”

Daichi tidak menjawab apa-apa. Ia menundukkan kepalanya sambil mengamati titik-titik air yang juga membasahi celananya.

“Kau tak perlu ikut, Daichi. Okasan akan pulang besok malam, jika nenekmu tidak menginap. Kalau pun menginap, Okasan akan mengejar kereta yang paling awal dan akan sampai sebelum kau bangun,” kata ibu Daichi, memandang anaknya yang masih menunduk dengan ekspresi sedih. Ia membelai rambut Daichi dengan begitu lembut sehingga membuat Daichi bergidik sebentar. “Sudahlah. Kau lupakan yang terjadi empat tahun lalu, Daichi. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Ah, nasinya sudah matang! Ayo kita segera makan malam.”

Ibu Daichi meninggalkan Daichi yang masih menundukkan kepalanya. Ia berjalan dengan cepat-cepat menuju dapur, meninggalkan Daichi sendiri. Perlahan-lahan, Daichi mengangkat kepalanya. Pandangannya tertuju ke sebuah pigura di dekat sofa. Ia meraih pigura itu dan menatap foto yang terbingkai di dalamnya. Seorang pria, seorang wanita, dan seorang anak laki-laki tersenyum lebar dengan latar belakang sebuah bianglala. Daichi menatap foto itu begitu lama.

Setetes air jatuh lagi membasahi celana Daichi. Bukan dari rambutnya, melainkan dari matanya yang terpejam begitu rapat.

* * *
“Ah, Takahashi. Bisa kau bantu aku?” panggil seseorang kepada Akira. Akira yang sedang melamunkan sesuatu, terperanjat, lalu menoleh mencari si sumber suara. Seorang anak laki-laki berwajah ramah tersenyum kepadanya, sambil membawa tumpukan buku yang menggunung tinggi hingga menutupi dadanya. Meski ia tersenyum, ia tampak sangat merana membawa tumpukan buku itu. Ia adalah Uesawa Hiromi, ketua kelas 2-1. “Bantu aku bawa buku ini ke kantor guru, dong.”

Akira nyengir melihat Hiromi menderita karena membawa tumpukan buku, tapi ia berdiri dan mengangkat sebagian tumpukan buku. Hiromi bernapas lega setelah Akira mengangkat sebagian bawaannya dan berkata, “Terima kasih banyak, Takahashi.”

“Panggil Akira saja. Dan sebagai gantinya aku boleh memanggilmu Hiromi,” kata Akira berjalan mengikuti Hiromi yang sudah memimpin beberapa meter di depan. “Aku heran bagaimana kau bisa terpilih menjadi ketua kelas dengan badanmu yang kecil seperti itu. Jangan tersinggung, ya, tapi banyak anak laki-laki lainnya yang jauh lebih besar darimu.”

Hiromi tertawa terbahak-bahak, menimbulkan tatapan aneh dari para gadis yang sedang bergosip di koridor. Saat itu sedang istirahat, tidak heran koridor penuh dengan murid-murid, “Yah, mungkin seharusnya Daichi yang menjadi ketua kelas. Dia tampan, tinggi, dan jago olahraga, tapi ia tidak mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas. Aku akhirnya yang terpilih menjadi ketua kelas. Dengan paksaan, sih.”

Akira mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Ah, bicara soal Daichi, aku ingin tahu kenapa ia meninjumu kemarin,” kata Hiromi menoleh ke Akira yang berjalan di belakangnya. “Tapi aku tidak heran. Ia memang terkenal paling suka berkelahi dengan geng pemuda di kota sebelah. Mungkin itu sebabnya ia tidak masuk hari ini.”

Ya, Akira heran sekali kenapa Daichi tidak masuk hari ini. Tidak ada keterangan kenapa ia absen. Akira sebetulnya sangat menyesalkannya karena ia sudah mempersiapkan tinju balasan buat Daichi.

“Kau tahu kalau ayahnya sudah meninggal empat tahun yang lalu,” kata Hiromi tiba-tiba, saat mereka berdua berjalan menuruni tangga. “Itu sebabnya ia pindah ke Naginomori bersama ibunya sekitar tiga tahun lalu. Ibunya sendiri jarang di rumah karena ia harus bekerja. Mungkin itu membuat Daichi menjadi anak yang—yah, bisa dibilang bandel.”

Akira tidak menanggapi apa-apa. Ia tahu sekali apa yang Daichi rasakan saat ayahnya meninggal. Hiromi melanjutkan, “Barangkali ia mencoba mencari perhatian saat meninjumu kemarin, Akira. Ia sudah lama naksir Nagano-san, tapi tiba-tiba saja kau datang dan Nagano memelukmu erat-erat kemarin. Sesuatu yang sudah lama ia inginkan. Ah, kita sudah sampai di ruang guru. Biar aku saja yang menaruhnya di meja Hanamura-sensei, kau boleh kembali ke kelas. Terima kasih, Akira.”

Akira berbalik menuju ke kelasnya setelah ia memberi tumpukan bukunya kepada Hiromi. Saat ia hendak menaiki tangga, sebuah sosok anak laki-laki menuruni tangga dengan cepat, yang memancing perhatian Akira. Sosok itu tampak familiar sekali.

“Kei-kun!” seru Akira, sementara sosok itu berjalan makin cepat, membuat Akira terpaksa setengah berlari untuk menyusulnya. Begitu Akira menyusulnya, ia meraih pundak anak itu dan membuat ia menoleh. “Kau Karino Kei, kan?”

Anak itu mengangguk. “Benar, aku Karino. Maaf, apa kita saling mengenal?”

“Aku Akira, Kei. Aku Takahashi Akira. Kau masih ingat aku, kan? Kita dulu sering bermain bersama di rumahmu.” kata Akira dengan semangat. Sementara itu, Kei tampak bingung melihat Akira.

“Kau mungkin salah orang. Aku tidak mengenal orang bernama Takahashi Akira,” katanya. “Ada urusan lain? Aku harus ke perpustakaan sekarang.”

Kei berjalan dengan cepar begitu melihat Akira menggeleng. Akira tampak bingung sekali melihat tingkah teman lamanya itu. Dia pasti Kei, Akira sangat yakin. Tapi kenapa Kei tidak mengenalnya?

Sementara itu di belakang Akira, seorang pria dengan headset merah di lehernya mengawasi Akira sambil tersenyum mencurigakan. Hanamura-sensei.

* * *
Rumah Daichi tertutup rapat sore itu. Pintu depan dan jendela-jendelanya tertutup rapat. Tirai berwarna ungu muda menyelubungi jendela rumah itu, seolah-olah hendak menyembunyikan apa yang dilakukan oleh sang pemilik. Matahari sore itu tak mampu menembus tirai, membuat ruangan dalam rumah itu diselimuti kegelapan.

Sosok anak laki-laki duduk di lantai ruang keluarga. Di sekitarnya terdapat berlembar-lembar foto yang berserakan tidak teratur. Tumpukan album-album foto berada beberapa meter di depannya.

Daichi mengamati sebuah foto dengan ekspresi sedih. Cahaya matahari yang berwarna jingga berhasil menembus celah-celah ventilasi, memberikan sedikit terang dalam ruangan itu. Bayangan kepala Daichi jatuh menimpa foto itu tapi ia masih bisa melihat apa yang tergambar di foto itu. Seorang pria berusia empat puluh tahunan tertawa lebar sambil merangkul seorang anak laki-laki yang juga tertawa. Anak laki-laki itu memakai seragam SMP Naginomori dan di belakangnya ada sebuah gerbang sekolah dan papan bertuliskan ‘Upacara Penerimaan Murid Baru SMP Naginomori’. Bunga sakura yang berjatuhan tampak sangat indah di foto itu.

“Kau telah membunuhnya,” kata seseorang tiba-tiba.

Daichi terkejut dengan ucapan itu. Ia menoleh mencari siapa yang mengucapkan hal itu dan apa yang didapatinya membuat Daichi semakin kaget.

Daichi mendapati dirinya sendiri sedang duduk dengan angkuh di sofa ruang keluarganya. Kembaran Daichi itu memandang Daichi yang sebenarnya dengan ekspresi menghina. Ia menyilangkan tangan di dadanya. Sosok itu benar-benar mirip dengan Daichi, hanya saja ada aura gelap yang menyelubunginya.

“Siapa kau?” tanya Daichi, beranjak berdiri, menjatuhkan foto yang dipegangnya. Tangannya mengepal siap meninju makhluk kembarannya itu.

“Kau sudah membunuh ayahmu sendiri,” kata Daichi-identik itu mengabaikan pertanyaan Daichi. Daichi-identik itu tidak tampak gentar melihat kepalan tangan Daichi. Aura gelap masih menyelubungi sosok itu.

“Tidak, kau salah,” jawab Daichi lemah.

“Ya, kau sudah membunuh ayahmu, Daichi. Kau tidak bisa menyangkalnya. Aku tahu segala sesuatu tentangmu, semua ketakutanmu,” kata Daichi-identik. Ia tetap saja bergeming. “Apa aku harus menceritakan detilnya padamu?”

Daichi menatap kembarannya dengan murka. Ia meninju kembarannya sambil berteriak dengan sangat keras, “TTTIIIDDDAAAKKK!!!”

* * *
“Kenapa Jun?” tanya Akira ketika Jun tiba-tiba saja berhenti berjalan. Mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang lalu Jun mendadak berhenti berjalan dan mendongak ke atas. “Kau tak apa-apa, kan?”

Jun diam saja. Ia masih menatap ke atas, lalu ia berkata, “Kau tidak dengar suara itu, Akira-niichan?”

“Suara apa?” Akira tampak kebingungan. Ia melihat mata Jun yang berkilau ditimpa cahaya matahari. “Kau yakin tidak apa-apa, Jun?”

Jun tiba-tiba saja berbalik dan berlari dengan begitu cepat. Akira dengan spontan langsung menyusul Jun yang sudah berlari duluan sambil berteriak, “Hei, Jun! Tunggu! Jangan lari! Kau sudah lupa dengan kejadian kemarin?”

Jun mengabaikan teriakan Akira dan terus berlari menyusuri gang-gang. Akira merasa Jun sudah tahu ke mana tujuannya sebab Jun tampak yakin dalam memilih gang yang bercabang-cabang. Jun hampir menabrak seorang ibu yang membawa belanjaan, tapi ia tidak berhenti untuk meminta maaf dan langsung menghilang dari pandangan. Terpaksa Akira yang meminta maaf kepada ibu itu lalu segera berlari menyusul Jun lagi.

Begitu Akira menemukan Jun, ia sudah berhenti di sebuah rumah. Jun menatap rumah itu dengan sedih. Ia menoleh begitu tangan Akira menyentuh lengannya. Ia terengah-tengah sambil berkata, “Jangan pernah berlari secara sembarangan lagi, Jun! Kau hampir kehilangan nyawamu kemarin.”

“Maafkan aku, Oniichan,” kata Jun dengan nada menyesal. “Tapi aku berhasil menemukan sumber suara itu tadi.”

Akira menatap ke rumah yang ditunjuk Jun. Sebuah rumah Jepang biasa dan tidak ada yang aneh. Pintu depannya tertutup rapat tapi entah kenapa Akira memiliki perasaan ada orang di rumah itu. Akira melihat papan nama yang tertempel di dinding depan. Toyama. Akira tidak asing dengan nama itu.

Terdengar suara deritan dan Akira terkejut saat melihat Jun sudah membuka pintu gerbang dan berada di pekarangan rumah itu. “Apa yang kaulakukan, Jun? Itu rumah orang, kita bisa disangka maling.”

Jun tidak menggubris perkataan Akira dan memencet bel. “Permisi.”

Akira langsung menyusul Jun dan menjitaknya dengan keras, membuat Jun meringis kesakitan. “Aduh!” katanya.

“Ayo, kita pulang setelah kita meminta maaf kepada pemilik rumah,” kata Akira sebal. “Kau ini benar-benar tidak punya sopan santun.”

“Tapi, Oniichan, aku mendengat suara dari dalam rumah ini.” Jun memberi alasan sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.

“Suara apa yang kaumaksud?” tanya Akira. Tepat saat itu pula terdengar suara rintihan dari dalam rumah. Akira dan Jun bertukar pandangan. Akira lalu memencet bel berulang kali dengan tidak sabar. “Permisi!”

Jun memegang gagang pintu dan memutarnya. Tidak terkunci. “Oniichan, ayo kita masuk!”

Akira dan Jun langsung masuk ke rumah itu. Akira nyaris tersandung dengan undakan di dekat pintu masuk. Rumah itu begitu gelap. Sementara itu, Jun yang sudah berada di koridor terpaku saat melihat ke dalam suatu ruangan. Akira yang mengikuti Jun ikut terpaku melihat apa yang ada di hadapannya.

Dua orang Daichi saling berhadapan. Daichi yang pertama menatap Daichi yang lain dengan ekspresi merendahkan, sedangkan Daichi kedua tampak pucat dan lemah.

“Toyama!” kata Akira, berlari masuk ke dalam ruang keluarga dan langsung menengahi kedua Daichi itu. Keduanya tampak terkejut dengan kehadiran Akira. Namun, Daichi kedua tampak lega setelah melihat Akira.

“Cih! Ada pengganggu. Apa kau juga mau kuhabisi seperti anak di belakangmu?” kata Daichi pertama dengan penuh nafsu. Aura gelap menyelimutinya. “Terpaksa aku memperlihatkan wujud asliku.”

Daichi pertama itu menghilang secara perlahan-lahan. Bukan menghilang, ia berubah wujud menjadi makhluk yang menjadi lebih mengerikan. Akira belum pernah melihat makhluk semengerikan itu—selain makhluk kemarin, tentunya.

Sosok yang berubah itu mirip sekali dengan yang Akira lihat kemarin. Bukan mirip secara keadaan fisik, melainkan ada hal yang tidak bisa Akira jelaskan yang membuat kedua makhluk itu memiliki kesamaan. Makhluk Daichi itu juga humanoid, sama seperti makhluk kemarin, hanya saja yang ini berwarna hijau. Ia memiliki kepala kotak dengan mata berbentuk persegi panjang berwarna hitam. Akira tidak bisa menjelaskan apa yang melingkar di kepala makhluk itu, semacam ikat kepala mungkin. Rambutnya luar biasa mencolok dengan warna hijau dan berdiri tegak seperti tumpukan rumput. Lengannya yang besar memegang sesuatu yang berbentuk seperti kilat petir berwarna kuning elektrik. Akira sedikit mundur saat makhluk itu mengangkat kilat petir itu.

Akira bisa merasakan Daichi merosot di belakangnya. Saat Akira menoleh sejenak, ia mendapati Daichi pingsan yang membuat Akira bertambah panik.

Makhluk itu menatap Akira tanpa ekspresi lalu mengangkat kilat petirnya dan siap menusukkannya. Akira memejamkan matanya, tak mampu melihat apa yang terjadi. Tapi saat ia membuka matanya, makhluk yang ia lihat kemarin muncul kembali. Tangannya memegang kilat petir itu dengan mudahnya seolah-olah itu adalah sebuah bambu, membuat makhluk Daichi itu mengelak ke belakang.

Makhluk yang Akira lihat kemarin mengangkat lengannya yang menyerupai bazooka, menembakkan kilatan cahaya dan berhasil mengenai pinggang makhluk Daichi. Ia menubruk dinding dan berhasil membuat beberapa hiasan dinding terjatuh dan pecah. Akira merasakan Daichi mengernyit kesakitan di bawah kakinya.

“Hentikan, Oniichan!” seru Jun. “Jangan lukai Toyama-san lagi.”

Ekspresi marah tergambar dari muka Jun. Akira yang belum pernah melihat Jun marah sedikit takut. Jun lalu maju dan melihat kedua makhluk di depannya dengan sedih. Ia lalu memejamkan mata dan makhluk ketiga keluar dari dirinya.

Akira bisa gila jika ia terus-terusan melihat makhluk menakutkan ini terus menerus. Tapi makhluk yang Jun keluarkan tampaknya tidak begitu menakutkan. Setidaknya jika dibandingkan dengan makhluk milik Akira dan Daichi. Makhluk Jun juga humanoid dan berwarna putih. Makhluk itu memegang tongkat panjang di tangan kanannya. Kepalanya menyerupai manusia jika saja matanya tidak tertutupi suatu kain berwarna hitam. Makhluk itu memakai jubah putih panjang yang berkibar-kibar walau tidak tertiup angin. Makhluk itu menghampiri Daichi yang pingsan, mengangkat tongkatnya, dan tiba-tiba saja Daichi tersadar.

Kedua makhluk yang muncul sebelumnya terdiam melihat Jun yang berjalan ke arah Daichi. Ia menyentuh pundaknya dan berkata, “Kau harus menerima dirimu yang lain, Toyama-san. Kau harus menerima kenyataan bahwa kau memang membunuh ayahmu walau itu tidak sengaja.”

Akira terkejut mendengar perkataan Jun. Dari mana Jun mengetahui hal itu? Yang Akira lihat kemudian adalah Daichi mengangguk lemah dan kemudian ia pingsan lagi.

Makhluk Daichi itu tiba-tiba saja maju dan menghampiri Daichi yang jatuh pingsan. Akira nyaris tidak percaya begitu melihat makhluk itu masuk ke dalam diri Daichi. Jun tampak lega melihat hal itu. Ia menghela napas dan makhluk yang ia keluarkan kembali masuk ke dalam dirinya.

Akira yang masih belum mengerti apa yang sedang terjadi menatap satu-satunya makhluk yang masih ada di ruangan itu. Namun, ia kemudian menghilang beberapa saat.

“Apa...?” tanya Akira kepada Jun yang berjongkok dan masih mengamati Daichi.

“Kapan-kapan akan kujelaskan, Akira-niichan,” kata Jun lambat-lambat. Ia beranjak berdiri. “Tapi pertama-tama kita harus membereskan ruangan yang tampak kacau ini.”

* * *
“Gila! Kau benar! Naginomori benar-benar kota yang keren,” kata Hanamura-sensei melalui ponselnya. Ia bersandar pada sebuah dinding rumah. Hanamura-sensei melirik papan nama di sampingnya yang bertuliskan Toyama sebelum ia melanjutkan, “Tiga pemilik persona dalam dua hari. Benar-benar luar biasa menarik.”

Ia lalu berjalan membelakangi matahari. Ia mengamati bayangannya yang berjalan mengikutinya.

“Tidak, aku tidak ikut campur. Belum saatnya, bukan?” kata Hanamura-sensei sambil tersenyum. “Akira memiliki persona yang keren. Aku iri dengannya. Sedangkan Daichi baru saja membangkitkannya, tapi aku yakin miliknya juga cukup kuat. Ah, ada satu hal yang harus kuingatkan. Hati-hati dengan persona milik Jun. Ia bisa merasakan rasa sakit di hatimu.”

Read previous post:  
70
points
(2094 words) posted by dansou 8 years 6 weeks ago
87.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | FANFIC | misteri | persona | remaja
Read next post:  
Writer phantom27
phantom27 at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (6 years 36 weeks ago)
100

Mantaspp.. Kek maen P4. Hehe

Btw ini karya setahun lalu ya, jadi sedih. Brarti saya terlambat sekali datang k kekom *curcol

Writer panglimaub
panglimaub at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (7 years 37 weeks ago)
100

Bagoes!

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (7 years 41 weeks ago)
90

Waktu shadow Daichi berubah di hati saya bgm-nya kayak di game P4 pas mau lawan boss. Ghahaha, chapter ini superkeren, soalnya bener-bener nyerap perhatian pembaca. Nice, nice...

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (7 years 41 weeks ago)

ya ya... heem... saya nurut aja sama kau, mira -___-"
.
Once again, thank you so much :D

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (8 years 6 weeks ago)
80

Keren, keren ceritanya ^^ bikin semakin penasaran. aku tunggu chapter selanjutnya aja, update segera ya XD

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (8 years 6 weeks ago)

Makasih banyak ^^
.
Ditunggu aja ya, pikiran saya lagi merancang plot2 nya

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (8 years 6 weeks ago)
90

Keren... keren...
jadi makin pensaran sama yang namanya persona

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (8 years 6 weeks ago)

Makasih banyak udah baca ^^

Writer amy
amy at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (8 years 6 weeks ago)
80

Hihi, tmbah keren. .
Aku masih penasaran dengan "persona" itu apa, mengapa tak semua orang memilikinya, dll. .

Eh ya, ada typo tuh di bagian penjelasan tentang keadaan di rumah Daichi waktu ibunya mau pergi. Disana dikatakan "Akira tidak menjawab apa-apa. Ia...", itu seharusnya Daichi kan?

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (8 years 6 weeks ago)

ah, bener itu harusnya Daichi -__-. akan aku edit.
makasih udah baca ^^

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 4 (8 years 6 weeks ago)
90

akhirnya selesai juga chapter 4. ah, chapter ini lumayan panjang, jadi saya mohon kesabarannya. dan juga kritik dan sarannya. terima kasih ^^