Persona: Sacrifice. Chapter 5

Pain from the Past

Setelah membereskan beberapa hiasan dinding yang terjatuh akibat pertarungan—kalau itu bisa disebut pertarungan—tadi, Akira lalu berusaha mengangkat Daichi yang pingsan di lantai ke atas sofa. Jun mengambil sehelai selimut dari sebuah tumpukan pakaian bersih, tidak jauh dari ruang keluarga, dan menyelimuti Daichi dengan pelan-pelan.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” bisik Akira. Ia menyandarkan dirinya ke tembok ruangan sementara mengawasi Jun yang masih mengamati Daichi dengan tatapan khawatir. “Kita pulang lalu berpura-pura tidak pernah ke sini atau menungguinya sampai ia sadar?”

Jun tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat, ia baru menjawab, “Kita tunggui Toyama-san sampai ibunya pulang dari Kyoto. Pasti tidak akan butuh waktu lama. Sementara itu, daripada Oniichan berdiri kaku di sana, lebih baik membantuku mengerjakan PR matematika di sini.”

Akira menghela napas lalu berjalan mendekati Jun yang duduk di lantai dan sudah mengeluarkan buku dan kotak pensilnya dari dalam tas. Akira duduk di dekat Jun, namun matanya memandang ke arah tumpukan foto yang tersusun rapi di sudut ruangan. Foto yang tadi berserakan di lantai yang dilihat Daichi dengan penuh kesedihan.

“Makhluk itu disebut persona, Akira-niichan,” kata Jun tiba-tiba yang membuat Akira sedikit kaget. “Dan aku tahu kalau ayah Toyama-san sudah meninggal karena persona juga.”

Akira tampak sedikit shock mendengar ucapan Jun. Ia lalu berkata, “Jangan bercanda denganku, Jun!” Namun, setelah melihat Jun mengangkat alisnya pertanda ia serius, Akira melanjutkan, “Dan makhluk macam apa persona itu?”

Jun tampak berpikir sejenak. Pensilnya ia biarkan melayang di udara lalu menjawab, “Aku sendiri tidak tahu makhluk apa persona itu. Yang aku tahu hanyalah persona adalah bagian dari diri kita yang lain, bagian dari diri kita yang tidak kita akui dan akhirnya memberontak, yah, semacam itulah.”

“Dan bagaimana kau dan aku,” Akira memberi penekanan pada kata aku, “bisa mengeluarkan makhluk mengerikan yang kau sebut persona itu. Aku benar-benar tidak paham, Jun! Terus apa yang bisa ia lakukan selain menjatuhkan hiasan dinding?”

Jun memandang Akira dengan muka bingung. “Aku sendiri tidak mengerti bagaimana aku mengeluarkan personaku. Rasanya sudah lama sekali makhluk itu muncul, sejak aku masih kecil. Tapi soal persona Akira-niichan, Oniichan sudah mengeluarkannya sejak sebulan yang lalu, sejak kejadian itu.”

Akira paham sekali apa yang dimaksud Jun dengan kejadian itu. Kejadian sebulan lalu, kejadian yang sangat ingin Akira lupakan. Persona, kata Jun. Aku sudah mengeluarkannya sebulan yang lalu, pikir Akira. Rasanya hal itu mustahil karena yang ia ingat setelah ledakan masif itu hanyalah kasur putih yang empuk dan aroma rumah sakit yang menyengat. Apa yang sebenarnya terjadi?

Dan lagi, Akira benar-benar tidak paham apa yang dilakukan persona itu. Sejauh ini yang Akira lihat hanya makhluk itu mampu mengeluarkan cahaya-cahaya indah yang mampu menembus kulit manusia. Akira tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap makhluk itu.

Akira memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan mengenai persona dan hanya mengawasi Jun yang mengerjakan PR-nya. Menurutnya, semakin banyak yang ia tahu, semakin banyak pula yang tidak akan ia mengerti. Lebih baik tidak mengerti apa-apa, pikir Akira.

Tiba-tiba saja terdengar suara gagang pintu yang diputar dan suara, “Daichi! Okasan sudah pulang!” yang membuat jantung Akira nyaris melompat keluar. Setelah tenang beberapa saat kemudian, barulah ia berdiri dan menghampiri ibu Daichi. Jun menyusul di belakangnya beberapa detik kemudian.

Ibu Daichi sedikit kaget melihat kehadiran Akira dan Jun, tapi kemudian ia tersenyum dan berkata, “Kalian teman-teman Daichi? Jarang sekali ia mengajak teman main ke rumah. Maafkan aku karena harus pergi dan tidak bisa menemani kalian.”

Akira tersenyum lalu membungkuk dan berkata, “Maafkan kami yang seenaknya main ke sini. Ah, nama saya Takahashi Akira. Senang bertemu dengan Anda.”

Jun membungkuk dan berkata, “Nama saya Takahashi Jun. Senang bertemu dengan Anda.”

Ibu Daichi tampak sangat gembira. Ia melepas sepatunya, meletakkannya di rak sepatu dekat pintu, dan berkata, “Kalian benar-benar anak yang sopan. Ngomong-ngomong di mana Daichi? Apa dia menjadi tuan rumah yang baik?”

Akira diam sejenak. “Ah, soal itu...”

Akira lalu menjelaskan soal Daichi yang tidak masuk sekolah hari itu. Dengan beberapa kisah rekaan, seperti Akira yang ingin mengantarkan PR ke rumah Daichi, lalu menemukan Daichi yang pingsan di lantai, kecuali soal pertarungan antarpersona. Ibu Daichi tampak tidak curiga dan ia buru-buru masuk ke ruang keluarga dan berjongkok di sebelah Daichi. Tangannya memegang keningnya lalu bergumam, “Ia tidak demam.”

Akira dan Jun berdiri di dekat pintu ruang keluarga. Akira lalu berkata, “Kami belum menghubungi dokter atau memberinya obat. Kami hanya memindahkannya dari lantai ke atas sofa.”

Ibu Daichi berbalik dan berkata, “Ah, terima kasih karena telah menunggui Daichi. Mungkin dia hanya kecapekan. Ah, sekarang sudah pukul enam sore. Kalian barangkali mau makan malam di sini?”

Akira menggeleng. “Tidak, terima kasih banyak. Kami belum pulang ke rumah sama sekali. Lebih baik kami pulang sekarang. Kami lega sekali Obasan sudah pulang.”

Mereka berdua lalu berkemas-kemas dan beberapa menit kemudian mereka sudah di pekarangan rumah sambil diantar ibu Daichi. Akira dan Jun berpamitan lalu berjalan pulang.

Malam itu cukup gelap sebab bulan tertutupi awan pekat, menghalangi cahayanya menyinari bumi. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu jalanan dan lampu rumah yang memancarkan cahaya temaram. Jun dan Akira berjalan diam. Jun tampak asyik mengamati bayangannya dan bayangan Akira yang berkejar-kejaran di dinding sebelah kanan mereka.

“Kau masih berhutang penjelasan padaku, Jun,” kata Akira tiba-tiba, melihat Jun yang berjalan beberapa meter di depannya. Akira bergidik saat angin malam yang cukup dingin berembus. “Kau masih belum menjelaskan seluruhnya.”

Jun berbalik menghadap Akira dan berkata, “Oniichan sudah tahu makhluk apa itu. Persona. Dan yang aku tahu hanyalah persona adalah bagian diri kita yang lain. Sudah aku jelaskan tadi di rumah Toyama-san.”

“Tidak! Kau belum menjelaskan semuanya,” seru Akira. Mereka berdua berbelok ke kanan saat tiba di sebuah pertigaan. Sebuah gang panjang dan gelap langsung menyapa mereka. “Bagian diriku yang lain yang mana? Dan bagaimana kau tahu kalau ayah Toyama sudah meninggal? Dan dari mana kau tahu kalau ia membunuh ayahnya?” Akira setengah berbisik saat mengucapkan kata ‘membunuh’.

Jun menghela napas sejenak, lalu berkata, “Aku tidak tahu bagian diri yang lain yang mana Akira-niichan miliki. Itu bagian dirimu, Oniichan. Dan soal ayah Toyama-san, aku sudah bilang itu kemampuan personaku. Aku bisa merasakan perasaan sakit yang orang lain rasakan. Aku bisa mendengar perasaan Toyama-san yang mengakui bahwa ia membunuh ayahnya sendiri. Aku tidak tahu detilnya, tapi ia benar-benar mengakuinya.”

Akira tampak shock mendengar penjelasan Jun. “Jangan main-main denganku, Takahashi Jun. Mana mungkin ada orang yang bisa mendengar perasaan orang lain?”

Jun tampak lelah sekali, tapi ia menjawab, “Apa aku pernah bercanda, Akira-niichan? Aku bisa mendengar perasaan sakit yang orang lain rasakan. Tidak semua orang sebetulnya, hanya beberapa orang tertentu yang memiliki potensial.”

Akira tambah shock. “Dan demi penguasa langit, apa potensial itu?”

Jun nyengir dan berkata, “Potensial. Orang yang memiliki kemungkinan untuk menggunakan personanya berarti ia memiliki potensial.”

“Kalau begitu baca perasaanku!” kata Akira. “Aku berarti punya potensial, kalau begitu.”

Jun menatap Akira tanpa berkedip, “Tak bisa, Akira-niichan. Kau tidak sedang sakit hati. Aku tidak bisa mendengar perasaanmu.” Sebenarnya ada, Akira-niichan. Kau tidak mau mengakuinya, pikir Jun.

Akira terbahak-bahak. “Jadi, suara aneh yang kaudengar tadi sore itu?”

Jun mengangguk. “Benar. Itu suara Toyama-san yang belum bisa menerima kematian ayahnya.”

Akira tampak berpikir serius kemudian berkata, “Jadi yang kaulakukan dengan personamu kepada Toyama saat pingsan adalah....”

“Tindakan agar Toyama-san mau mengakui dirinya yang lain. Benar.”

Akira menatap langit yang gelap. Ia masih tampak sangat bingung. “Jun,” katanya, “aku masih belum bisa menerima penjelasan yang irasional itu. Persona? Kau pikir kita ini hidup di mana? Dunia game? Novel? Tapi apa boleh buat, aku akan menerimanya hingga aku menemukan penjelasan yang lebih logis.”

“Terserah Oniichan, deh,” kata Jun putus asa. Jun lalu kembali mengamati bayangannya yang hitam yang berjalan tegak di sebuah dinding rumah.

“Hal itu membuatku berpikir,” kata Akira lagi. “Jika kau memiliki persona, kenapa kau tidak mencoba mengeluarkannya kemarin saat sebuah mobil hendak menghilangkan nyawamu kemarin?”

“Aku sendiri juga tidak mengerti. Rasanya pikiranku macet dan tidak bisa bergerak kemarin,” kata Jun. “Mungkin itulah yang membuat aku tidak bisa memanggilnya kemarin. Ambil sisi positifnya, Akira-niichan. Kau bisa mengeluarkan personamu yang keren itu.”

Akira mendengus sambil berkata, “Keren? Menggelikan.”

Mereka berbelok ke arah kiri saat tiba di perempatan kedua. Akira memutuskan untuk tidak bertanya macam-macam lagi. Ia akhirnya melihat-lihat rumah di sebelah kirinya hingga akhirnya ia berhenti saat tiba di sebuah rumah besar.

“Ada apa, Akira-niichan?” tanya Jun, menoleh ke arah Akira.

“Kau masih ingat rumah ini, Jun?” kata Akira, menunjuk rumah besar bertingkat dua dengan atap berwarna coklat. Rumah itu dikelilingi dinding setinggi satu setengah meter dan ditanami semak-semak di atas dinding. Pagarnya terbuat dari besi dan dicat hitam yang berkilau ditimpa cahaya lampu jalanan. Sebuah pohon yang Akira tidak tahu spesiesnya tumbuh di pekarangan rumah itu, memberikan suasana sejuk.

“Bukankah itu rumah,” kata Jun lambat-lambat. Tampaknya ia berusaha keras untuk mengingat-ingat, “Akira-niichan waktu masih kecil?”

Akira tidak menjawab apa-apa. Namun dari wajahnya yang penuh dengan kerinduan tampaknya jawaban Jun benar. Akira melihat rumah itu dari atas ke bawah. “Tidak banyak yang berubah dari rumah ini,” gumamnya.

Sementara Akira mengamati rumah itu, Jun menatap Akira dengan sedih. Kau masih terjebak di masa lalu, Akira-niichan, pikir Jun. Ia lalu memejamkan matanya mendengar suara yang tidak bisa Akira dengar.

* * *
“Ah, malam ini mendung,” kata seorang wanita menatap langit dengan muram. “Rasanya kita salah waktu memilih waktu perburuan.”

“Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan,” kata seorang pria dengan suara berat dan misterius. “Kita sudah telanjur mendapat hasil buruan kita. Apa kita harus menunggu hingga bulan purnama?”

Sementara seorang pria yang lain menatap sesosok mayat yang tergeletak di bawah kakinya. Tidak ada yang salah dengan mayat itu. Tidak ada luka sedikit pun.
“Sudah sejak lama aku tidak setuju dengan metodemu,” kata pria kedua menatap mayat itu dengan jijik. “Bukannya lebih mudah membelahnya menjadi dua dan mengambil jantungnya daripada menembus dadanya dan mencabut jantungnya dengan paksa?”

Wanita itu menatap pria kedua dengan ekspresi bosan. “Kau benar-benar memiliki jalan pikiran yang terganggu. Metodemu itu terlalu menjijikkan menurutku. Apa aku perlu mencobanya kepadamu?”

Wanita itu mengeluarkan makhluk mengerikan dengan kait yang tampak berkilau di tangan kirinya. Sementara pria kedua tampak sedikit gentar. Ia mundur sedikit lalu berkata, “Baik, baiklah. Sesukamu sajalah.”

“Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan?” kata pria pertama. Suaranya yang berat terdengar sangat kesal. “Ayo, kita kembali ke markas dan mengantar hasil buruan kita.”

“Aku tidak sudi memegang benda berdenyut itu,” kata wanita itu.

“Baiklah!” Pria kedua terdengar sangat sebal. “Aku yang membawanya.”

Yang terlihat kemudian adalah tiga sosok manusia melayang di langit dengan makhluk mengerikan mengiringi mereka, meninggalkan sesosok mayat di sebuah gang kecil yang gelap di dekat pusat kota Naginomori.

Read previous post:  
63
points
(2842 words) posted by dansou 8 years 6 weeks ago
90
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | FANFIC | misteri | persona | remaja
Read next post:  
Writer panglimaub
panglimaub at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (7 years 37 weeks ago)
100

Sedulur Papat Pancer Lima. Itu Personanya orang Jawa :D

Soal Jun yang bisa baca perasaan orang lain berarti ... dia kaya Kyla di Tales of Egaza ya?

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (7 years 41 weeks ago)
90

No comment..

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (7 years 41 weeks ago)

kok no comment sih? -____-"
.
Heeem... thank you, mira ^^

Writer M0n1kk
M0n1kk at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)
80

Persona ya.. Jdi ngeri kalau ngebayangin punya persona yang jahat, kwkwk. Dtnggu ja next chapternya

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)

ada kok yang jahat. para pemburu tu kan jahat ^^
.
ah makasih udah baca

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)
90

wah,wah, sibuk ulangan masih bisa nulis cerita, salut... smoga ujian nasionalnya lancar dan sukses, kudoain kok >.<

ternyata jun tahu banyak ya, kok bisa? sedangkan akira gak tahu apa-apa. ah, ternyata jun bisa membaca perasaan ya. penasaran dengan kemampuan akira, kayaknya personanya spesial ya. okelah, aku tunggu lanjutannya, mau tahu kenapa orang yang memiliki persona dibunuh, terus aku penasaran juga bagaimana orang2 yang memiliki persona ini melawan.

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)

saya yang kebangetan masih bisa nulis walau mau ujian -__-. mungkin minggu ini masih ada satu update an lagi, baru vakum seminggu, terus online minggu depannya. jadi saya mohon kesabarannya.
.
ah, makasih atas doanya. huhuhu T_T
.
Jun bisa baca perasaan sakit aja, bukan secara keseluruhan . Dan ia cuma bisa dengerin yang punya potensial aja. Akira? Ah saya malah belum mikirin kekuatannya. Sambil belajar, sambil mikir nih

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)
90

selamat belajar deh
.
hem, jadi personanya Jun tuh empath ya

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)

empath tu apa ya? -___-

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)

empath tuh ya kemampuan buat ikut merasakan apa yang dirasain sama orang lain... bukan baca pikiran sih, lebih ke merasakan mood kali ya, terutama kalo sedang menderita
asalnya dari kata empati

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)

ah, aku pikir empath itu sama dengan 4. beda ya? hehehe.
.
ah ya bisa dibilang semacam gitu kok.
.
omong2 makasih banyak buat doanya

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 5 (8 years 5 weeks ago)
90

Akhirnya selesai juga chapter 5 ini. Mungkin saya agak lama mengupdatenya karena harus belajar. Minggu depan saya sudah ujian >_<. Mohon doanya ya!!!
.
Ah dan nggak lupa kritik dan sarannya.
.
Trivia:
Persona Daichi bernama Patrimpas
Persona Jun bernama Mastema