Persona: Sacrifice. Chapter 6

Heart Murder

“Kau pikir sudah waktunya bagi mereka untuk mengetahui yang sebenarnya?” kata Hanamura-sensei. Ia menjepit ponsel dengan bahu kanan dan telinga kanannya. Kedua tangannya sibuk membuka-buka kabinet-kabinet di dapurnya, mencari-cari sesuatu. “Tapi aku pikir mereka belum siap.”

Setelah menemukan sebuah ketel berwarna perak, Hanamura-sensei mengisinya penuh dengan air dari kran, meletakkannya di atas kompor gas, dan memutar kenop kompor, memicu api biru yang menari riang.

“Benar. Mereka memang harus mengetahui yang sebenarnya,” kata Hanamura-sensei beberapa saat kemudian. Tangan kanannya kali ini sudah memegang ponselnya. “Tapi bukannya itu terlalu cepat?”

Ia kemudian menengok api yang menyala redup dan bergumam, “Sial! Aku kehabisan gas.” Ia lalu memutar kenop kompornya berkali-kali dan akhirnya menyerah.

“Baiklah jika harus begitu,” kata Hanamura-sensei, mengangkat ketel dari atas kompor, membuang air di dalamnya ke wastafel, lalu bersandar di meja konter. “Akan kuberitahu mereka apa persona itu.”

* * *
Akira tidak heran mendapati teman-teman kelasnya membentuk semacam kerumunan dan asyik berkasak-kusuk saat ia membuka pintu kelas esok harinya. Dan Akira tidak perlu bertanya apa yang sedang mereka bicarakan. Pembunuhan yang terjadi di Naginomori tadi malam.

Akira sudah mengetahui berita itu tadi pagi saat ia sedang sarapan. Televisi yang dinyalakan oleh Paman Hajime langsung menyiarkan berita mengenai pembunuhan itu. Jun sedikit bergidik saat wanita penyiar berita berkata bahwa korban sudah tidak memiliki jantung.

Yang Akira tahu adalah korban bernama Yamagishi Sora, seorang remaja berusia delapan belas tahun. Akira nyaris menyemburkan susunya saat pembawa berita berkata bahwa korban bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Yamagishi Sora adalah kakak kelasnya. Jun melirik Akira sebentar begitu melihat Akira memasang tampang tidak percaya, tapi kemudian ia melanjutkan sarapannya. Akira bisa merasakan kaki Jun yang sedikit gemetar di sampingnya. Paman Hajime menatap televisi nyaris tidak berkedip, mulutnya setengah terbuka, dan Akira bisa melihat ekspresi kemarahan di wajahnya. Kenapa ia tampak begitu marah? pikir Akira. Begitu melihat suasana menjadi aneh, Bibi Nana langsung mengambil remote dan mematikan televisi hanya dengan satu jari dan menyuruh mereka semua melanjutkan sarapannya.

Akira berjalan menuju bangkunya, meletakkan tas jinjing di sampingnya, dan duduk di bangkunya sambil mengamati kerumunan di depan kelas. Ia memikirkan Jun. Jun tampak benar-benar pucat saat berangkat sekolah tadi. Ia menggeleng pelan saat Akira menanyainya apa ia sakit. Jun juga tidak banyak bicara tadi. Apakah ini karena pembunuhan itu? Jun pernah bilang bahwa suatu saat pembunuh itu akan sampai ke Naginomori dan firasatnya benar.

Ada satu hal yang menjadi perhatian Akira. Dua kasus pembunuhan pertama berbeda dengan yang terjadi kemarin meski ketiga korban tidak memiliki jantung lagi. Kali ini korban tidak terbelah menjadi dua, seperti dua kasus pertama, tapi jantungnya menghilang begitu saja seolah ada yang mencabutnya dengan paksa. Tidak ada luka sama sekali pada tubuh korban, itu benar-benar ganjil, seolah-olah hal mengerikan itu tidak dilakukan oleh manusia biasa. Apa orang yang melakukannya berbeda?

“Takahashi!” panggil seseorang. Lamunan Akira buyar dan ia mendapati Daichi berdiri di depannya. Ia tampak begitu lelah. Ia masih membawa tasnya di bahunya pertanda ia baru saja datang. “Kita harus bicara.”

Daichi berbalik dan keluar kelas, membuat Akira dengan terpaksa mengikutinya. Setelah beberapa saat, baru Akira berhasil menyusul Daichi di tangga menuju ke koridor kelas tiga. Akira berjalan di sampingnya, tapi Daichi tidak berkata apa-apa. Ia terus berjalan dalam diam.

Daichi mengabaikan koridor yang penuh dengan murid kelas tiga dan terus naik tangga menuju ke atap sekolah. Akira sempat berhenti sebentar untuk melihat gerombolan anak kelas tiga yang memenuhi sebuah kelas. Akira memiliki perasaan bahwa itu adalah kelas Yamagishi Sora, korban pembunuhan. Ia kemudian setengah berlari menyusul Daichi yang sudah sampai di puncak tangga.

Udara musim semi yang segar langsung menyapa Akira begitu ia tiba di atap sekolah. Akira menghirup udara dalam-dalam sebelum ia mengikuti Daichi yang sedang berdiri, menyandarkan dirinya di pagar pengaman, dan menatap jauh ke depan.

Akira belum pernah ke atap sekolah sebelumnya, tapi ia yakin atap sekolah tidak akan sesepi ini. Hanya ada mereka berdua. Saat Akira menoleh ke arah bangku di dekat taman yang hijau, berharap menemukan seseorang untuk menjadi saksi, ia tidak menemukan apa pun. Hanya dua ekor burung yang sedang bermain di sebuah bak air.

Akira menyandarkan dirinya di samping Daichi. Ia menghela napas dan berkata, “Apa yang ingin kaubicarakan denganku, Toyama?”

Daichi masih menatap jauh ke depan sebelum ia berkata, “Kejadian itu terjadi empat tahun lalu. Juga saat pertengahan musim semi seperti ini. Aku masih ingat bunga sakura masih berguguran saat itu.”

Akira menoleh menatap Daichi. Ia tidak berkomentar apa-apa dan menatap pohon sakura yang berguguran di bawahnya.

“Tidak lama setelah upacara penerimaan murid baru SMP. Kau mungkin sudah melihat fotonya saat membereskan tumpukan foto kemarin. Okasan yang memberitahuku,” kata Daichi. “Aku benar-benar merindukan masa-masa itu, masa-masa di mana Otosan tertawa begitu lebar. Aku telah membunuhnya, aku yang melenyapkan tawa yang lebar itu.”

Daichi meremas pagar pengaman begitu kuat. Akira lalu berkata, “Bagaimana ceritanya?”

Daichi menghela napas sejenak, barulah ia berkata, “Kau mungkin masih ingat dengan tawuran antargeng yang terjadi empat tahun lalu di sini? Beritanya tersebar ke seluruh Jepang waktu itu. Otosan salah satu korban tawuran itu.

Aku masih ingat tawuran itu terjadi pada hari Minggu siang. Aku dan Otosan sedang pergi ke minimarket membeli makanan ringan. Siang itu rasanya begitu tenang dan damai. Tiba-tiba saja terdengar suara letusan dari luar minimarket. Karena penasaran, aku langsung berlari keluar dan melihat dua geng yang saling menembak dengan pistol. Peluru beterbangan di mana-mana. Mereka menembaki dengan begitu liar. Melihat itu, aku dan beberapa orang langsung berlari menuju ke minimarket untuk berlindung, tapi aku tidak melihat sebutir peluru melayang dari ujung senapan tepat dari sampingku. Aku sadar ketika Otosan mendorongku, membuatku jatuh, membuat peluru itu menembus pelipis kanannya.”

Akira sedikit berjengit mendengar cerita Daichi, tapi Daichi tetap melanjutkan ceritanya, “Darah langsung mengucur dari kepalanya dan membanjiri tanganku. Aku bisa merasakan bahwa kedua geng menatapku dari belakang. Waktu seolah membeku saat itu, tidak ada peluru beterbangan. Mereka kemudian berlari tergesa-gesa, tidak menyangka bahwa peluru mereka akan mengenai orang yang tidak bersalah. Aku ingin sekali menyusul mereka, tapi Otosan tampak sangat menderita saat itu. Aku berseru agar seseorang memanggil ambulans, tapi tak ada yang merespons karena kagetnya. Baru beberapa saat kemudian ambulans datang, tapi itu sudah terlambat. Aku masih ingat saat Otosan tersenyum kepadaku di mobil ambulans, senyuman terakhirnya.

Aku meraung begitu keras begitu Otosan menutup matanya dan sejak saat itu aku berjanji untuk membalas dendam. Aku masih ingat wajah para anggota geng itu. Mereka tidak berasal dari Naginomori, kau tahu? Mereka berasal dari kota sebelah dan tiba-tiba saja tawuran di Naginomori dengan pistol. Polisi memang berhasil menangkap beberapa anggotanya, tapi aku punya perasaan bahwa mereka bukan pelaku penembakan.”

Akira menatap Daichi yang tampak begitu sedih. Ia ingin sekali menghibur Daichi, tapi Akira membiarkan Daichi menyelesaikan ceritanya.

“Seandainya saja aku tidak keluar waktu itu, seandainya saja aku diam di dalam minimarket, Otosan pasti akan....” Daichi memejamkan matanya. Akira mendekatkan diri kepada Daichi lalu menepuk-nepuk bahunya.

“Sudahlah, Toyama. Kau tak perlu menyesali apa yang sudah terjadi,” kata Akira lembut, masih menepuk-nepuk bahunya.

“Tapi aku telah membunuh Otosan,” kata Daichi. Ia tampak begitu membenci dirinya sendiri.

“Tidak. Yang membunuh ayahmu adalah para anggota geng itu, bukan kau. Kau harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” Akira memandang Daichi. “Apakah itu sebabnya kau sering berkelahi dengan para anggota geng? Untuk mencari siapa pembunuh ayahmu?”

Daichi tidak menjawab. Ia diam saja dan menyapu kelopak bunga sakura yang hinggap di rambutnya. Ia lalu menoleh dan melihat Akira yang menatapnya dengan penuh kebingungan. “Ah, terima kasih banyak soal kemarin. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kau tidak mengantar PR ke rumahku.”

“Ah, sudahlah! Itu hanya kebetulan saja. Yang penting kau baik-baik saja,” kata Akira sambil tersenyum.

“Dan sampaikan terima kasihku juga kepada adikmu. Siapa namanya? Jun? Ah, sampaikan terima kasihku pada Jun-kun juga,” kata Daichi.

“Tentu saja,” kata Akira. “Tapi Jun bukan adikku, sebetulmya. Ia sepupuku.”

Daichi melongo dan berkata, “Benarkah? Kalian benar-benar mirip satu sama lain saat aku melihat kalian berdua sebentar kemarin.” Ia diam sejenak dan berkata, “Kau benar-benar baik. Dan yang kulakukan adalah meninjumu saat kita pertama kali bertemu.”

Akira nyengir. “Tak apa, Toyama. Rasanya aku memang harus ditinju sekali-sekali.”

Daichi memegang kedua pundak Akira dengan tangannya lalu menunduk dalam-dalam dan berkata, “Maafkan aku, Takahashi-san.”

Akira bingung apa yang harus ia lakukan. Ia melepaskan pegangan Daichi dari pundaknya dan berkata, “Kau tidak perlu berlebihan, Daichi. Ah, dan panggil aku Akira saja.”

Daichi berdiri dengan tegak lalu ia tertawa. Ia lalu mengulurkan tangannya dan berkata, “Senang berkenalan denganmu, Akira.”

Akira menjabat tangan Daichi sambil tertawa. Ia merasakan sedikit sengatan listrik yang sangat nyaman yang mengalir saat ia menjabat tangan Daichi. Rasanya ada sebuah kekuatan yang masuk ke dalam dirinya.

Mereka berdua diam selama beberapa menit setelah melepaskan jabatan tangannya, hingga Daichi berkata lagi, “Aku tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Yang aku ingat hanyalah aku melihat diriku yang lain dan berubah menjadi makhluk mengerikan. Aku pikir itu mimpi, tapi rasanya begitu nyata. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa makhluk itu?”

Sebelum Akira membuka mulut untuk menjawab, terdengar suara yang begitu familiar dari belakang dan berkata, “Makhluk itu disebut persona.”

Daichi dan Akira menoleh dan menemukan seorang pria dengan headset merah yang tergantung di lehernya. Hanamura-sensei. Mereka menatap mata Hanamura-sensei dengan tidak percaya. Terjadi keheningan selama beberapa saat, hanya terdengar suara desir angin yang membuat daun-daun bergesekan merdu.

“Bagaimana—“ Perkataan Akira dipotong oleh Hanamura-sensei yang berkata, “Takahashi, Toyama, ada yang harus kujelaskan pada kalian. Ini mengenai makhluk yang kalian keluarkan kemarin. Ikutlah aku!”

* * *
“Jadi, maksud Hanamura-sensei adalah para pelaku pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini memburu para pemilik persona seperti kami?” seru Daichi tidak percaya.

Mereka bertiga berada di ruang musik yang sedang tidak terpakai saat itu. Tidak ada pelajaran hari ini karena semua murid dipulangkan lebih awal karena insiden yang terjadi. Hanamura-sensei seharusnya melayat bersama guru-guru lain, tapi ia beralasan bahwa masalah persona ini jauh lebih penting.

Setelah membawa Akira dan Daichi dari atap sekolah menuju ruang musik, Hanamura-sensei duduk di kursi piano dan menyuruh mereka berdua mengambil kursi dan duduk di dekatnya. Hanamura-sensei lalu mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Akira heran sekali karena penjelasan Hanamura-sensei persis dengan penjelasan Jun kemarin. Ini membuat Akira menjadi bingung. Tidak, Akira yakin mereka berdua tidak bersekongkol. Tapi dari mana mereka berdua mengetahui soal persona ini. Akira masih belum bisa memercayai penjelasan soal persona ini. Rasanya begitu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin manusia memiliki diri lain yang bisa membentuk sosok yang solid?

Akira memutuskan untuk tidak memotong perkataan Hanamura-sensei dan mendengarkannya saja. Tidak ada informasi yang baru sejauh ini hingga Hanamura-sensei tiba pada topik kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini. Bahwa pelakunya memburu para pemilik persona.

“Benar, Toyama,” kata Hanamura-sensei. Ia tampak menunduk seolah-olah ia melakukan suatu kesalahan. “Aku sudah menyadarinya sejak kasus pertama beberapa minggu yang lalu dan aku yakin bahwa pelakunya akan tiba di sini tak lama lagi dan dugaanku ternyata tepat.”

Akira menoleh ke arah Daichi yang mendengarkan penjelasan Hanamura-sensei dengan ekspresi shock. Akira benar-benar heran kenapa Daichi bisa menerima penjelasan soal persona itu dengan begitu mudahnya. Dan Akira berani bersumpah bahwa ia melihat kilatan jahat dari matanya ketika Hanamura-sensei berkata bahwa persona memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Dan bagaimana Anda tahu soal persona? Bagaimana Anda tahu soal pelaku pembunuhan itu memburu para pemilik persona? Kalau begitu pelakunya juga memiliki persona? Dan kenapa si pelaku mengambil jantung korbannya?” tanya Akira. Akhirnya ia mengeluarkan semua pertanyaan yang ada dalam pikirannya.

Hanamura-sensei menghela napas. Ia menatap Akira dengan ekspresi menyesal sebelum berkata, “Soal darimana aku tahu soal persona kurasa tidak penting. Tapi mengenai kasus pembunuhan itu ada yang harus kujelaskan pada kalian.

Ada sebuah proyek rahasia yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan sekitar lima belas tahun lalu. Aku tidak mengerti apa yang sebetulnya mereka lakukan, tapi yang aku tahu adalah mereka melibatkan para pemilik persona. Aku yakin mereka sedang mengembangkan sesuatu yang tidak baik. Hingga akhirnya laboratorium mereka meledak sekitar dua belas tahun lalu, memusnahkan semua hasil percobaan yang sudah mereka lakukan. Namun, ada beberapa hasil dari penelitian mereka yang masih bisa terselamatkan, seperti fakta bahwa jantung adalah sumber persona.”

Hanamura-sensei berhenti sejenak untuk menyaksikan bagaimana tanggapan Akira dan Daichi. Namun, Daichi yang bukan anak IPA sedikit kebingungan mendengar penjelasan Hanamura-sensei, sementara Akira masih tidak percaya. Hanamura-sensei akhirnya melanjutkan, “Aku melihat kemarin di rumah Toyama bahwa persona Takahashi berhasil melukai milik Toyama dan Toyama berjengit kesakitan. Manusia dan persona saling berhubungan, kalian tahu. Jika kau berhasil membunuh persona, kau berarti membunuh si pemilik. Sebaliknya, jika kau membunuh pemilik persona, belum tentu kau membunuh personanya, asal jantungnya masih utuh. Dan hasil percobaan yang masih bisa terbaca adalah mereka berhasil membuat mesin yang mampu mentransfer kekuatan persona ke manusia biasa dengan jantung pemilik persona.”

Akira memandang jijik sementara Daichi sedikit bergidik.

“Soal pembunuhan itu, aku yakin sekali ada orang yang ingin melanjutkan hasil percobaan itu ke manusia. Itu yang aku takutkan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika hal itu berhasil.”

Hanamura-sensei berdiri dari kursi pianonya dan meregangkan tubuhnya. “Kurasa sudah cukup penjelasannya. Kalian boleh pulang sekarang. Ah, dan kalian harus waspada apabila ada orang yang mencurigakan. Tapi kupikir kalian akan aman-aman saja karena kalian telah membangunkan persona kalian. Pelakunya membunuh orang yang belum membangunkan persona miliknya.”

Akira dan Daichi ikut berdiri sebelum Hanamura-sensei melanjutkan perkataannya, “Jika kalian menemukan orang yang memiliki potensial, segera beritahu aku. Ah, dan kau bisa memanfaatkan kemampuan sepupumu, Takahashi. Miliknya benar-benar sangat berguna. Aku melihat kalian kemarin.”

“Dan bagaimana kami tahu bahwa orang itu memiliki potensial?” kata Daichi.

Hanamura-sensei tersenyum dan menjawab, “Kalian belum menyadari persamaan di antara kalian berdua. Yah, seharusnya aku tidak tersenyum, tapi kupikir kalian akan segera menemukannya nanti.”

“Bisakah kami memercayai Anda?” tanya Akira. Matanya menatap Hanamura-sensei dengan tajam. Ia masih belum bisa memercayai Hanamura-sensei. Tapi begitu melihat Hanamura-sensei mengangguk, tatapannya sedikit melunak. Akira dan Daichi mengambil tas mereka dari lantai dan berbalik.

“Ah, Takahashi, Toyama...” kata Hanamura-sensei. Ia tampak ragu, tapi kemudian ia berkata, “Hati-hatilah di jalan.”

Akira punya perasaan bahwa bukan itu yang hendak Hanamura-sensei katakan, tapi kemudian ia teringat sesuatu dan menoleh. “Hanamura-sensei, apakah Anda memiliki persona?”

Ia hanya tersenyum. “Sudah lama aku tidak bisa mengeluarkan Jiraiya, personaku. Rasanya aku rindu dengannya. Pulanglah, Takahashi!”

Akira lalu menyusul Daichi yang sudah keluar dari ruang musik tanpa menoleh ke belakang.

“Aku tidak tega memberitahu mereka yang sebenarnya,” kata Hanamura-sensei pelan, menatap pintu yang baru saja tertutup rapat.

* * *
Ayumi menghela napas begitu ia masuk ke kamar di asramanya. Setelah ia melepaskan sepatunya, ia merebahkan diri di atas kasur tanpa mengganti seragam. Ia tampak begitu muram.

Setelah berbaring selama beberapa menit, ia bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi. Ia menatap mukanya yang pucat melalui cermin yang masih berkilau. Rasanya ada beban di pikirannya yang tidak bisa ia ceritakan kepada orang lain. Setelah membuka kran wastafel, ia membasuh mukanya dengan air dan menatap cermin lagi. Jauh lebih baik, pikirnya.

Ia kemudian berdiri membelakangi cermin dan bersandar pada meja wastafel. Ia memejamkan matanya dan tampak begitu keras memikirkan sesuatu. Setelah membuka matanya, Ayumi mendongak menatap makhluk besar di atasnya. Makhluk itu tampak indah dengan warna merah muda, meski tubuhnya dipenuhi dengan ukiran-ukiran rumit. Kepalanya sama seperti manusia dengan hiasan mahkota di atasnya. Matanya yang oval menatap Ayumi dengan tatapan kosong.

“Apa yang harus aku lakukan terhadapmu?” kata Ayumi kepada makhluk itu. “Kenapa kau terus memberiku mimpi bahwa Naginomori akan hancur berkeping-keping?”

Read previous post:  
54
points
(1834 words) posted by dansou 8 years 5 weeks ago
90
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | FANFIC | misteri | persona | remaja
Read next post:  
Writer AL_paper
AL_paper at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (6 years 34 weeks ago)

Loh? Bukanny di chapter sebelumny kalau ayah daichi meninggalnya karena persona? Tp chapter 6 di ceritain klo kmatian ayah daichi karena nolongin daichi. Jadi, gimana nie? Persona itu adalah sisi lain summonerny ya? Truz klw summonerny terus nolak keberadaan personany, gmn efekny ke summonerny? Klo menurut gw, daichi bukan harus menerima klo dy yg ngebunuh ayahny tp dy harus menghapus rasa bersalah diriny.
Maap, newbie yg udah bnyk ngomonk n bnyk nanya.

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (6 years 34 weeks ago)

Eh, oh ya, aduh, saya beneran lupa. Maaf banget, yaaaa. Seinget saya ayahnya Daichi mati gara-gara nolongin Daichi, tapi serius saya lupa kalau saya pernah nulis meninggalnya karena Persona.
.
Hum... hum... Jujur aja, konsep saya waktu ini belum begitu matang ._. Makanya biar temen saya dan kau aja yang memperbaikinya nanti
<(") :)
<<< seenaknya sendiri.
.
Makasih udah mampir :D

Writer phantom27
phantom27 at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (6 years 36 weeks ago)
100

Hanamura di sini ternyata Yosuke Hanamura di P4?0?? Si berisik itu jadi guru???? Wkwkwk tak terbayang. Haha

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (7 years 41 weeks ago)
90

Wah.... Keren.

100

wuuuuuuuuuuuuuuuaaaaoooww.....

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 1 week ago)

wuuuuaaaoooow juga untukmu ^^

Writer kiva2011
kiva2011 at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 5 weeks ago)
Writer M0n1kk
M0n1kk at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 5 weeks ago)
80

Semoga sukses ja ujiannya dansou, penggambaran critamu sngguh bgus, dan critanya membuatku smakin pnsaran saja

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 4 weeks ago)

aaah... sejauh ini pelajaran ipanya susah2 T_T. biologi sama kimianya benar2 tidak terduga *malah curhat*.
.
makasih udah baca ^^. tunggu lanjutannya

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 5 weeks ago)
90

woooow, banyak sekali orang yang memiliki persona. aku masih penasaran dan menunggu penjelasan lebih lanjut tentang kekuatan ini >.<
hmm... jangan2 nanti daichi berubah jadi si tokoh jahat deh *curiga*
penasaran juga dengan apa yang disembunyikan hanamura sensei
but... persona hanamura tuh jiraiya, ehhhhhh... bikin aku teringat sama jiraiya sensei... walah kalau begitu aku semakin penasaran dengan bentuknya dan kekuatannya, harus yang hebat lor ya >.<
waiting for the next chapter after yr national exam
moga lulus dengan memuaskan yah
semangat!!!

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 4 weeks ago)

iya, banyak. sampai saya bingung mau dikasih nama siapa personanya.
.
daichi? ah mungkin nanti ada satu chapter spesial buat daichi. saya udah mikir, sih, entar dia bakal kayak gimana, tapi mungkin masih agak lama.
.
jiraiya di naruto? kalau di gamenya, personanya Yosuke Hanamura emang Jiraiya. kenapa dia ngga bisa ngeluarin lagi? tunggu aja.
.
besok hari terakhir ujian!!! tinggal fisika! uuuyeeeah *curhat*

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 4 weeks ago)

Oke deh, aku tunggu aja lanjutan ceritanya, hehehe XD

wah... kalau begitu semoga sukses deh... ganbatte ne!!! secara, aku paling benci pelajaran fisika *otak lemot ikut curhat* ntar balik ke k.com bawa kabar baik ya, >.<

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 5 weeks ago)
90

Rasanya yang bagian Hanamura Sensei cerita tentang apa itu persona masih sambil lalu ya... kurang jelas nih.
Habis sudah berharap kalau omongan Hanamura setidaknya dimulai dengan: "persona adalah.... bla... bla..."
Oh, di-skip karena sebelumnya sudah dijelasin sama Jun jadi kamu nggak mau ngulang nulis semua lagi ya ^^
Ya udah deh...
Selamat belajar

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 5 weeks ago)

Bener. Kalo aku jelasin lagi, bakalan panjang banget. Tapi penjelasannya masih ada lagi kok ^^
.
Makasih udah baca

Writer destyannisa
destyannisa at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 5 weeks ago)

wah gue gag update nih, uda ktgln panjang chapterny.... :(

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 4 weeks ago)

ah, silakan dibaca chapter2 sebelumnnya ^^

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 6 (8 years 5 weeks ago)
90

AH, ini update an terakhir saya di minggu ini sebelum ujian nasional minggu depan. Sekali lagi saya mohon doanya dari teman-teman. Serial ini akan berlanjut (mungkin) Sabtu depan, jadi saya mohon kesabarannya buat yang suka dengan serial ini *pede* *tampar*
.
Chapter ini saya cut di sana-sini biar ngga terlalu panjang. Jadi kalau ada yang kurang jelas, atau kurang sreg silakan dikuliti habis-habis. Saya mohon kritik dan sarannya