CERPEN MIMPI: Yume Zakura--Sakura Dream

First Movement--Rin

“Rin, kau harus selalu bersikap anggun. Jangan sampai mempermalukan keluarga kita.”

“Tidak ada yang peduli dengan apa yang kau pikirkan, Rin. Gadis bangsawan sepertimu hanya perlu duduk manis dan tersenyum.”

“Jangan membantah atau mempertanyakan apapun. Pembangkang hanya akan merusak nama baik keluarga kita.”

“Kau harus menikah dengan pria terhormat dan terpelajar, Rin. Itulah satu-satunya yang bisa kaulakukan bagi keluarga kita.”

Entah mengapa kata-kata Ibu selama bertahun-tahun kembali terngiang di telingaku malam itu. Aku selalu datang ke tempat ini ketika keadaan di rumah itu mulai terasa menyesakkan, berdiri di bawah dahan-dahannya yang mengisi setiap relung otakku. Terkadang dahan-dahan itu gundul dan berbayang dalam kegelapan malam, atau berkilau keperakan oleh kristal-kristal salju di bawah siraman rembulan, dan ada kalanya kuncup-kuncup yang bersemu merah jambu bermekaran dan berguguran seperti saat itu.

Bukannya melegakan pikiranku dengan pemandangan malam itu, aku malah teringat akan hal-hal yang harus kulalui untuk menjadi putri bangsawan Kagamine yang sempurna. Hukuman-hukuman yang kuterima saat membuat kesalahan di pelajaran tata krama, rasa iri ketika melihat anak-anak lain bermain di luar dan tertawa lepas dari balik jendela, tamparan-tamparan dari Ibu setiap kali aku mempertanyakan mengapa aku tidak boleh berteman dengan anak-anak itu dan membela mereka ketika orang dewasa menyebalkan berbalut pakaian mahal mencemooh mereka…

Sejak saat itu, aku belajar untuk membunuh perasaanku, membuang nuraniku sendiri demi menjadi gadis bangsawan yang sempurna di mata mereka. Aku tak butuh emosi, itu hanya membisikkan ilusi yang membuatku bertindak gegabah dan mempermalukan keluarga. Setelah aku membuang semua itu, menjadi gadis ningrat yang dipuja-puja menjadi semudah bernafas. Toh aku hanya perlu duduk manis, tersenyum, dan menghadiri pesta-pesta tanpa memiliki pendapat akan apapun. Dan tak lama lagi orangtuaku akan memilihkan seseorang di antara pria-pria bangsawan yang mengantre untuk meminangku, lalu aku akan memenuhi satu lagi kewajibanku untuk mengangkat nama keluarga.

Aku tertawa sinis ketika teringat akan orang-orang bodoh yang memilih ilusi yang mereka sebut ‘kata hati’. Mereka mungkin akan sempat merengkuh kebahagiaan, tapi itu hanya sementara. Pada akhirnya mereka tidak akan tahan dengan tatapan merendahkan dari orang-orang seperti Ibu yang selalu menentukan apa yang benar dan salah sesukanya.

Ya, semuanya jauh lebih mudah tanpa ‘hati’ dan ‘perasaan’.

Hembusan angin malam mulai terasa menusuk tulang. Kurapatkan selendangku, berharap jalinan benang-benangnya cukup untuk menghalau hawa dingin yang mulai menyelimutiku. Tapi sepertinya percuma… Dengan atau tanpa penghangat, tampaknya hawa dingin sudah terlanjur bersarang di rongga kosong tempat ‘hati’-ku dulu berada.

Aku masih berdiri seorang diri dalam pelukan bisu kelopak-kelopak sakura yang berguguran. Lalu terdengar lengkingan nada yang memecah keheningan.

Suara biola. Seseorang sedang memainkan biola entah di mana, tapi alunannya terasa begitu dekat, seolah berasal dari dalam diriku sendiri. Alunan nada yang indah namun pahit, lembut namun meneriakkan keputusasaan yang menyiksa jiwa…

Alunan nada yang membangunkan detak-detak yang kukira sudah membeku untuk selamanya.

…Apa …ini?

Rasa dingin yang bersemayam dalam diriku seolah menguap bersama alunan biola yang terdengar bagaikan isak tangis yang merdu, digantikan oleh kehangatan yang meledak-ledak, membangunkan sesuatu entah apa yang tiba-tiba terasa berdentum tanpa henti. Jemariku yang gemetar mencengkeram dadaku yang kini entah kenapa terasa begitu perih…

Apa ini?

Air mataku meluap. Awalnya hanya tetes-tetes kecil, lalu berubah menjadi aliran deras yang menuruni pipiku tanpa henti. Air mata yang telah kubendung selama belasan tahun membuncah keluar. Potongan-potongan ‘perasaan’ yang seharusnya sudah mati menari-nari dalam ingatanku—segelintir keceriaan dan banyak kepedihan yang tak pernah benar-benar hilang… Menumpuk dan menunggu sesuatu yang mampu menembus pertahanan yang selama ini kubangun dan membebaskannya…

…Menunggu kelembutan dalam gesekan getir biola itu.

Kedua lututku melemah, seolah tak kuat lagi menopang berat tubuhku dan semua sensasi yang telah lama kulupakan. Aku bersandar pada batang pohon sakura dan memejamkan kedua mataku yang masih basah, mereguk kepedihan dalam keindahan setiap not yang dimainkan biola itu, membiarkan diriku terlena dalam ‘perasaan’ yang selama ini selalu kuingkari.

…Sial. Aku tidak boleh lengah… Seharusnya aku menahan emosi seperti ini sebelum semua ini terlanjur kembali menguasaiku. Yang seperti ini seharusnya tidak berpengaruh padaku sama sekali… Yang seperti ini seharusnya hanyalah mimpi…

Ya. Ini hanya mimpi.

Ini hanya mimpi. Malam ini, seluruh perasaan ini, air mata… Semuanya hanya mimpi indah yang sementara, tidak lebih. Aku akan menikmati mimpi ini sampai akhir dan besok malam dan malam-malam berikutnya, aku akan memimpikan hal lain. Sekarang biarkan aku tersihir oleh rintihan biola itu…

Siapa? Siapa yang memainkan biola itu? Apakah biola dan pemainnya itu juga hanya mimpi? Aku melangkah keluar dari bayang-bayang dahan sakura yang menyembunyikan sosokku malam itu, mencari-cari sumber alunan biola yang masih menjerit-jerit putus asa ke udara. Aku menengadah… Dari rumah seseorang kah? Tidak mungkin… Suaranya terdengar jauh lebih dekat dari itu. Dekat sekali… Seolah yang memainkannya adalah pohon sakura itu sendiri. Aku melangkah memutar, dan di sanalah dia, si pemain biola yang telah mengacaukan semua yang telah kubangun selama bertahun-tahun…

Aku melihat seorang pemuda berambut keemasan yang bersandar di sisi lain pohon sakura itu sambil menggesek biola dengan mata terpejam, menuangkan seluruh jiwanya pada setiap nada yang ia mainkan. Pemuda itu mengenakan gakuran lusuh yang berantakan dan sedikit robek di sana-sini. Wajahnya tampak lelah dan ada jejak darah di sudut bibirnya, tapi ia terus memainkan biolanya tanpa memedulikan sekelilingnya.

Aku berdiri mematung, memandangi sosok pemuda itu memainkan biolanya di bawah siraman kelopak sakura yang berguguran seolah tersihir.

Tiba-tiba pemuda itu berhenti dan membuka matanya, seolah sadar bahwa ia memiliki penonton. Pemuda itu tersentak, begitu juga aku.

Aku melangkah mundur melihat mata pemuda itu, mata yang tampak begitu dalam di kegelapan malam, mata yang tampak seolah mampu melihat segalanya… Aku takut. Aku takut sepasang mata itu melihat seluruh isi pikiranku, melihat jauh ke dalam hatiku. Air mataku masih belum berhenti mengalir. Tenggorokanku terasa kering. Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus memujinya? Mencemoohnya karena statusnya yang jelas sekali jauh di bawahku?

Sementara itu kehangatan tadi masih belum sirna bahkan setelah alunan biolanya berhenti, tapi malah semakin membara dan menjalar ke seluruh tubuhku dan naik ke wajahku.

“…Musikmu bagus.”

Lalu apa?

…Ini hanya mimpi, bukan? Sudah saatnya aku bangun dari mimpi yang tak bisa lagi kukendalikan ini. Aku berbalik dan berlari pulang ke rumah itu.

***

Keesokan harinya aku kembali menjadi putri bangsawan Kagamine yang sempurna—gadis anggun yang tak banyak bicara, tidak pernah membantah, dan tidak mengenal hati maupun perasaan. Aku kembali menjadi sosok yang mereka harapkan…

Ya, tidak ada yang berubah.

Tapi sejak malam itu dan malam-malam berikutnya, aku bermimpi berdiri di bawah pohon sakura di tepi jembatan, mendengarkan seorang pemuda berambut keemasan memainkan biolanya dari sisi lain pohon yang sama. Aku bermimpi hatiku hidup kembali dan berdetak untuknya. Aku bermimpi perasaanku kembali, menangisi ratapan dan bersenandung dengan keceriaan dalam musiknya.

Tapi bahkan ada yang tak bisa kulakukan dalam mimpiku itu… Aku sangat ingin berbalik dan melangkah ke sisinya, agar pemuda itu tahu aku mendengarkan nyanyian hatinya. Tapi aku takut… Aku takut aku tak sanggup kembali ke kehidupan nyata dan melupakan semuanya begitu aku berdiri di sampingnya dan mengenalnya… Dan aku lebih takut lagi bila ia menyadari keberadaanku, mimpi indah ini harus berakhir untuk selamanya…

…Dan akhir itu tampaknya sudah semakin dekat. Enam belas hari sejak aku pertama kali bermimpi, orangtuaku memilihkan seseorang untuk kunikahi, seorang pemuda terhormat dan terpelajar, pemuda bangsawan yang sempurna untuk putri bangsawan yang sempurna. Perjodohan ini adalah satu lagi pencapaian putri bangsawan Kagamine yang sempurna. Seharusnya aku merasa senang. Lega. Bukankah ini yang sudah kutunggu-tunggu selama ini? Bukankah untuk hal inilah selama ini aku berjuang keras menuruti apa kata mereka?

Aneh. Aku malah merasa hampa.

Lalu aku teringat akan gesekan biola semalam yang entah kenapa terasa begitu sedih dibanding malam-malam sebelumnya. Aku teringat akan sorot mata kosong pemuda itu yang sempat kupandangi sembunyi-sembunyi. Hampa berubah menjadi rasa sakit yang menyayat-nyayat diiringi gaung biolanya yang sayup-sayup masih kudengar.

“Aku tidak mau menikah dengannya.”

Apa aku masih belum terbangun dari mimpiku? Ibu menamparku dan menjerit-jerit marah. Ayah hanya semakin mengacaukan semuanya dengan mengoceh tentang bisnisnya, tapi aku hanya bisa mendengar rintihan biola pemuda yang mengenal nada itu, hanya bisa melihat sorot matanya yang begitu pilu.

Dan di sinilah aku, tawanan dalam kamarku sendiri. Kupandangi botol bening berisi cairan kehijauan dalam genggamanku, cairan yang kubeli belasan tahun yang lalu sebelum akhirnya memutuskan untuk membuang jiwaku demi menjadi sempurna di mata mereka.

Enam belas hari ternyata cukup untuk menggoyahkan pertahanan yang kubangun selama enam belas tahun ini…

Tapi tak apa. Bila kuteguk cairan itu, aku bisa kembali memimpikan berdiri di bawah dahan-dahan sakura, suara biola, dan pemuda berambut keemasan yang memainkannya.

***

Second Movement--Len

Jalan ini tetap sama. Penuh dengan manusia yang berjalan mendongakkan kepalanya, congkak. Yang laki-laki berjas, bertopi. Yang perempuan bergaun, berpayung renda. Gaya para bangsawan, kata mereka.

Aku tertawa sinis sejenak. Lantas kembali menekuni senar-senar biola yang menggetarkan melodi-melodi dari musik yang katanya sedang populer belakangan ini. Ah, padahal aku tak suka melodi ini, begitu datar.

Tapi apa boleh buat, aku harus memainkannya agar para bangsawan itu mendengarnya dan membuat mereka mengeluarkan beberapa peser uangnya untukku. Untuk seorang pelajar miskin yang mesti mengemis dengan musik hanya untuk melanjutkan hidup. Betapa menyedihkannya.

Sekilas kupergoki seseorang mencomot dompet lelaki tua berjas yang berjalan di depannya. Copet, pikirku, namun tak kulakukan apapun. Toh lelaki tua berjas yang kecopetan itu dari awal tampak heboh berbicara soal keluarganya yang mengelola sebuah perusahaan senjata api. Mulut besarnya lah yang patut disalahkan, bukan?

***

Kulirik langit yang mulai gelap, bulan masih rendah di ujung langit. Entah berapa jam telah kulewati dengan memainkan melodi membosankan yang sama. Jalan ini tetap sama, hanya penggunanya yang berubah. Tak ada lagi perempuan-perempuan bergaun dan berjalan lenggak-lenggok menyakitkan mata. Tak ada lagi pria-pria berjas berjalan terburu-buru dengan mulut besarnya menggumamkan kekayaan mereka.

“Bocah.” Seorang pria memanggilku, maka kupalingkan pandang dari senar biola.

Ah, dia pria yang tadi sempat bercumbu tanpa malu-malu di sisi jalan sana dengan perempuan lacur yang kini masih mengaitkan lengannya mesra di sampingnya. Tidak, aku tidak lupa kalau jalan ini berubah jadi distrik lampu merah kalau malam menghampiri.

“Kau merusak suasana dengan mengemis di sini! Tidak bisakah kau pergi? Atau haruskah kulempar beberapa keping uang terlebih dulu?” cemoohnya sambil meludah ke aspal di sampingku. Liurnya mengalir menjijikkan ke sepatuku. Sementara lacur rendahan di sampingnya terkikik kesenangan.

Kuhentikan permainan biolaku. Sunyi, hingga bibirku melengkung sinis, bergumam, “Kau tahu? Tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun, aku bisa mendapatkan pelacur yang jauh lebih cantik dan berkualitas dibanding dia.”

Dengan senyum puas mewarnai wajah, kutatap menantang lelaki hidung belang itu. Wajahnya memerah layaknya babi sementara perempuan di sebelahnya tak beda jauh.

“Bangsat!” umpatnya, “Tampan sedikit sudah sombong kau!” tinjunya mengarah penuh nafsu ke wajahku.

Setidaknya aku harus menyelamatkan biolaku. Seperti biasa.

***

Tertatih-tatih, aku berjalan menyeret tubuhku yang penuh luka. Noda darah masih tersisa di sudut bibirku, sakit. Tak peduli walau gakuran-ku begitu berantakan dengan beberapa kancingnya tanggal. Kulangkahkan kaki ke bantaran sungai kecil dimana sisi-sisinya dipenuhi oleh jajaran pohon sakura. Indah. Begitu menggoda tubuh lelahku untuk sekadar bersandar di batang kokohnya. Maka kupilih satu yang terdekat, duduk di dekat akar-akarnya sambil memeluk lutut.

Tidak adakah lagi harapan di dunia ini? Segalanya penuh kebusukan. Dusta belaka ditawarkan.

Sial. Segala keputusasaan itu begitu merasuki pikiranku, menguasai. Rasanya tak ada lagi kebahagiaan untukku. Anehnya, aku malah tertawa. Menertawakan diri sendiri yang masih saja bertahan di dunia kosong ini. Membiarkan diri hancur, lebur.

Lebih baik segera mati, bukan?

Perlahan kukeluarkan biola dari boksnya. Setidaknya dia selamat walau aku sendiri harus babak-belur.

Merintih pelan, kupaksa bangkit. Lantas kuposisikan instrumen itu di antara pundak dan dagu sementara tangan kananku menjepit busurnya. Ah, betapa familiernya sensasi di jemariku ini. Betapa nikmat saat lengkung kayu itu menyentuh kulitku.

Senyum terkembang di bibir ketika senar tergesek sempurna. Bunyi penuh warna memenuhi indera pendengaranku. Inilah musikku. Penuh perasaan, penuh emosi jiwa.

Angin berembus, sejuk mengikuti alunan. Kelopak sakura berguguran, layaknya hujan pendamping melodiku. Yang menyayat perih, sebuah jeritan piluku. Lama-kelamaan jiwaku tersedot, masuk ke dalam alunan, menyatu dengan melodi. Mengawang.

Namun mendadak kurasakan tatapan menusuk. Seseorang sedang memerhatikanku dari jauh. Siapa? Refleks kuhentikan permainan hingga sunyi kembali hadir.

Dengan panik aku menoleh. Dan menemukan...

Sesosok gadis bangsawan.

...Yang tersembunyi di antara rimbunnya sakura.

Sedang apa ia di sini? Mungkinkah sekadar mencari hiburan untuk mencemooh dan menertawakan permainan musik pengemis? Seperti bangsawan-bangsawan bangsat lainnya?

Hingga akhirnya kami beradu pandang, sekilas. Karena ia segera tertunduk malu. Membuatku terkesiap.

Cantik. Sosok itu begitu cantik. Berbeda dengan segala gadis bangsawan berpoles menor menjijikkan. Wajah nan polos. Mata nan tergenang selayak kristal...

Tunggu. Bukankah itu air mata...?

Ia menangis?

“...Musikmu bagus,” suara mungil terdengar memanjakan telinga. Membuat dadaku berdentum dahsyat.

Ia... memuji musikku? Melodi sampah yang tak layak diperdengarkan pada siapapun? Yang mestinya dicacimaki, sama seperti diriku yang tak berguna ini?

Kata-katanya yang tulus seolah meniupkan kembali harapan ke kehidupan busuk ini. Memperkenalkanku kembali pada denting kasih sayang nan lembut.

Dirinya... melodi baru yang mengalun, menata jiwa yang telah hancur berkeping.

Namun mengapa ia menangis? Mengapa tampak begitu rapuh?

Jemariku terulur. Tanpa sadar. Seolah dengan bertindak begitu aku dapat merangkulnya, melindunginya entah dari apapun yang mengusiknya.

Dalam sekejap mata sosok itu lenyap ditelan malam. Tanpa pernah sempat kuucapkan apapun untuknya.

“Semoga ia selamat sampai rumahnya.” Satu-satunya doa yang pernah kupanjatkan seumur hidupku.

***

Sejak pertemuan di bawah hujan sakura itu, telah lima belas hari. Dimana tiap-tiapnya aku selalu melintas didepan rumahnya, rutinitas baru seusai sekolah dan sebelum mengemis.

Aku mencari tahu mengenai dirinya. Putri keluarga terpandang Kagamine, celetuk orang-orang kotor di jalan. Tak pantaslah aku menghampirinya, apalagi bertegur sapa. Maka di sinilah aku, memandang dari jauh, mengingin tanpa terucap.

Dua gadis yang tengah bergosip sambil pamer busana melintas di depanku yang tengah menggesek biola. Suara cempreng mereka menusuk-nusuk telinga, seperti dengung lebah. Berisik.

Namun begitu kalimat “Putri Kagamine telah dipinang” terucap dari bibir salah satunya, kontan jemariku berhenti memainkan melodi. Membatu.

Perlu waktu cukup lama hingga makna kalimat itu berhasil diterima otak tololku. Yang lantas membuatku terbahak-bahak layaknya orang kesetanan. Mengundang tatapan sinis dan cemooh dari para bangsawan di situ, yang tak kupedulikan.

Dipinang.

Tentu saja kan. Mana ada gadis cantik yang adalah bangsawan tidak dilirik lelaki hebat? Mimpi saja aku pantas mengenalnya. Mimpi saja aku dapat memilikinya.

Lantas, apakah perasaan bahagia yang timbul di malam itu juga sebuah mimpi? Apakah memang pernah aku merasakan kehangatan itu?

Ilusi.

Dan tawaku makin keras. Seiring makin terlukanya diri.

***

Sudah sering kucaci diri agar tak lagi meyakini adanya kebahagiaan untukku di dunia ini. Adanya kelembutan.

Namun hati ini begitu keras. Tak mau menerima logika itu.

Maka...

“Bermimpi saja terus,” geliku. Walau kontras dengan mata yang sembab dan basah. Bukti kecengenganku.

Kumainkan melodi menyayat, selalu. Di bawah naungan sakura yang makin jarang, lenyap terkikis musim. Walau kumohon seperti apapun, sakura tak akan kembali mekar cantik. Begitu pula kebahagiaan di hati yang pernah kukecap tempo itu.

“Selamat malam, Nona Kagamine.”

Mimpiku.

Melodi terakhir.

Perih.

***

Last Movement--Coda

Segalanya bertabur putih. Kosong. Tampak seorang gadis belia menolehkan kepalanya kesana-kemari, bingung, panik. Seperti tak tahu dimana dirinya berada. Perlahan ia langkahkan kaki, tanpa tujuan. Ke mana? Namun sayup-sayup terdengar gesekan biola, sebuah melodi. Senyum bahagia yang tak terperi segera mewarnai wajah sang gadis, ia tahu harus pergi kemana. Alunan indah itulah sang penuntun.

Ia terus mencari-cari asal suara itu, tapi semua tampak sama saja... Putih. Ia tidak tahu lagi ke mana ia melangkah, tersesat dalam kekosongan yang seolah tak berujung. Namun suara biola itu terdengar makin jelas dan dekat seiring dengan langkahnya, meyakinkannya bahwa ia ada di jalan yang tepat, seolah mengusir ketakutan dalam hatinya yang kehilangan arah.

Di hadapannya, seolah tenggelam dalam melodinya sendiri: seorang pemuda tengah menggesek biola, matanya tertutup, bibirnya melengkungkan senyum abadi. Menyeret sang gadis untuk ikut menikmati melodi tersebut, pun sosok sang pemain. Ingin rasanya ia hampiri pemuda yang selama ini selalu menjadi mimpi-mimpinya, namun tak juga ingin mengusik permainan indah itu. Seketika melodi menghanyutkan itu berhenti, diiringi wajah sang pemain yang menoleh padanya, dimana senyum menghiasi wajah itu.

"...Apa kabar?"

Pemuda itu menanyakan kabarnya! Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Ia kehilangan kata-kata. Bagaimana ia harus menjawab pemuda itu? Mengatakan dirinya baik-baik saja sementara gejolak yang ia rasakan mengatakan sebaliknya?

"A, aku..." ucap sang gadis terbata-bata. "... Itu, aku..." Mengapa sulit sekali baginya untuk sekadar mengutarakan bahwa ia begitu ingin bertemu sang pemuda?

"Aku ingin berbincang denganmu, Nona Kagamine," mendadak perkataan sang pemuda menyentak kekalutannya, menjadikannya terpukau. Tak menyangka bahwa namanya diketahui.

“Kau tahu namaku?!" mata gadis itu melebar, tapi ia menunduk lagi. Bila ibunya melihatnya merespon dengan antusias seperti itu, ia pasti sudah diomeli...

...Tapi ibunya tidak ada di situ, tidak ada siapapun dan aturan apapun. Hanya ada pohon sakura, dirinya. pemuda itu, dan biolanya, "Maksudku... Aku juga... Aku juga ingin berbincang-bincang denganmu..."

Mereka saling memandang, melempar senyum yang sejak lama tertahan.

"Apakah ini mimpi?" ujar sang putri Kagamine.

Yang ditanya hanya menggeleng, "Tidak tahu."

"Apakah akan berakhir?" ujar sang gadis lagi, meyakinkan diri. Yang tetap dibalas gelengan.

Walau tak ada yang mengucapkan, masing-masing tahu bahwa tak ada satu pun yang ingin "mimpi" ini berakhir. Segala luka, segala sedih, segala keputusaasaan, entah bagaimana menguap terganti oleh kebahagiaan tak terbatas.

"Siapa namamu?" mendadak sang gadis bertanya, antusias, tak lagi menahan segala emosi yang membuatnya merasa hangat ini.

"Len," jawab si pemuda, "Namaku Len. Mungkin agak terlambat tapi... Senang berkenalan denganmu..."

Pemuda itu tertunduk sejenak, menyembunyikan kegugupan dalam wajahnya. Lalu ia menyebutkan nama gadis itu, suaranya ragu namun penuh dengan kerinduan, "...Rin."

"Aku juga... Len."

Pemuda itu tersenyum, begitu lembut, "Maukah kau mendengar permainanku hingga akhir, Rin?" tanyanya, tak lagi memanggil dengan gelar.

Mengajak sang gadis tertawa lepas. Sensasi hangat melingkupinya, bahagia. "Dengan senang hati, Len."

Dan "mimpi" itu pun dimulai kembali.

Di bawah hujan kelopak sakura di suatu malam.

"Mimpi" nan kekal.

Read previous post:  
Read next post:  
90

Copas yg dr lapak Gie *kabur*

EPIC to the max! Flow ceritanya pas & narasinya enak banget dibaca :D Paling suka pas deskripsiin Len main biola di tengah kelopak sakura berguguran :)

Tapi gw agak bingung sama setting ceritanya. Ada yg pake kimono, ada jg yg pake baju orang Barat. Jepang sekitar jaman Restorasi Meiji di akhir abad 19 kah?

100

Ries, gie, maaf saya baru baca sekarang.
Dan saya nyeseeel kagak baca ini dari kemarin2, karena ini terlalu kereeeeen.
Ini kan cerpen ya? Tapi saya berasa baca komik. Maksud saya, kalian tuh menggambarkan rapi dan sangat jelas sehingga kesannya ada visualisasi di depan mata saya yang berasal hanya dari kata-kata yang kalian bangun. Gyaaa... belum bisa bikin kayak gini. Ajarin doong.
Oh ya, saya mau nanya, umm, lebih tepatnya mastiin, itu terakhirnya mereka ada di surgakah?
Btw, kalo berminat, boleh juga mampir ke cerita saya di sini; http://www.kemudian.com/node/255062
Saya akan senang sekali kalau kalian mau berkomentar.

80

Gambaran pertemuan Rin dan Len di bawah pohon itu beneran berkesan romantis.

100

wow! aku baru baca! deg2an nih jadinya! kerasa muda lagi, hohoho...

100

200 point ^_^

80

wah, roman <3 romeo dan juliet versi jepang di bawah siraman bunga sakura *berkhayal tingkat tinggi*
aku suka~ tapi entah ada yang mengganjal (apa ya.. mungkin perasaanku saja O_o)*abaikan* hehe ^^ sweet kolabs d(^^)b

80

endingnya romantic ya..

100

he...
Sing: dimana rumahku dimana istriku dimana anakku...
*kepala berasap tertembak senapan angin*

Keren Gila!
Riset yg bagus,kepekaan kalian,kemampuan membaca,dll
Thats so great!

Sing: dimana rumahku dimana istriku dimana anakku
*balik pulang,kepala masih berasap*

Writer cat
cat at CERPEN MIMPI: Yume Zakura--Sakura Dream (6 years 5 weeks ago)
80

Waah. Kolab yg bagus.

90

Halo ries, salam kenal. Saya barusan baca cerita yang sama dari saudari gie. Kolaborasi yang kompak. Inspiratif. Kalo sempat bolehlah mampir ke cermim saya di sini: http://www.kemudian.com/node/254858
Arigato ^__^

100

Ah
.
Ah...
.
Ah! Saia gak tanah! Eh tahan!
Cerita ini ba-gu-s!! POV yang pindah terasa fine-fine aja, udah gitu emosinya... ugh hebat lah, gak overload namun ga cetek (yang cetek mungkin pas Len ditonjok, dan pas ketemuan di surga).
.

Quote:
Entah mengapa kata-kata Ibu selama bertahun-tahun kembali terngiang di telingaku malam itu. Aku selalu datang ke tempat ini ketika keadaan ...
Rasanya kalimat pertama dan kedua gak nyambung tuh. Lompat jauh. Soalnya yang pertama tuh udah make ket.waktu "malam itu", sementara yang kedua malah ket.tempat "tempat ini". Eh bukan itu deh alesannya. Tapi ini--> yang pertama tuh objeknya "kata-kata Ibu" sementara yang kedua "tempat ini". Lalu saia jadinya nanya: Mau nginget kata-kata ibu atau mau ngejelasin tempat, sih? Kalimat pertamanya serasa paragraf terpisah, menurut saia.
.
Ah ya, ga bisa disunting ya.
.
Btw, masalah sunting-menyunting... ini pas udah jadi langsung digabung aja ya? Ada beberapa kata yang penulisannya berubah di babak selanjutnya. Contoh--> "hembusan" dan "embusan". Ayo dong, udah kolab kan seharusnya bisa saling mengingatkan (baca: jadi editor), hehehe...
.
Ah ya, saia ga biasanya loh ngomentarin fanfic (biasanya kalo fanfic langsung saia buang dari daftar baca). 10 poin deh

Makasi pujian dan komenna. Terus errr... Maap juga >_<
Itu karena saya dodol ga sempet ngecek sebelum Ries posting. Tapi untuk yang dikirim via email, dah kami ubah "hembusan" jadi "embusan", moga gda lagi kesalahan fatal. (Mang yang dinilai yang dpost pa yang di-email yak? Ah sudahlah~)

100

UGH! Narasinya bikin speechless seperti biasa -_-
sedang miskin komen saya, sementara itu saja T_T

100

Kalian berdua membuat bulu kuduk saya berdiri >,<
Ini sih karya dewa T_T
Keren, lain kali kalian juga harus kolab lagi trus saya bisa baca XD (maunyaaaa)

Belum pantes lah disetarain sama karya para dewa (di Kastil) kekekeke... XD
.
Iya, secara pribadi, saya juga rasana ketagihan kolab sama Ries ;) tapi susah sih nyari waktuna, yang atuk mahasiswa yang diancam ga bisa lulus semester ini sama pembimbingna, yang atuk siswi SMA yang bakal ikut ujian masuk PTN.
.
Semoga az bisa kolab lagi ma Ries dan bikin sesuatu yang lebi keren lagi *ngarep*
.
Makasi, Syn~~~

100

Cerita ini nggak bagus
.
Cerita ini AMAT SANGAT BAGUS.
.
Dari yang bisa saya tangkap, emosinya kuat, dan dijabarkan secara mengalir. Pilihan katanya juga bagus. Perasaan kesepian dan terkekangya Rin disampaikan dengan apik, begitu pula perasaan memberontak dan rendah dirinya si Len.
.
kemudian, bagian awal dan akhirnya yang sama dan kemudian menyatu di belakang itu oke banget.
.
Semangat untuk kalian berdua! XD

Jujur, saya kaget baca kalimat pertama Juno. GA BAGUS itu bikin degdegan! Ternyata... XD
.
Iya, kami berusaha mendalami perasaan mereka b2, syukur deh klo tersampaikan dengan baik :)
Untuk pembagian cerita jadi tiga bagian, itu kami mengikuti versi laguna yang memang dibagi tiga juga.
.
Makasi ya, Juno~~~ jadi semangat hehehehe

100

wah ini beneran karya kolab? keren banget. ceritanya mengalir banget, aku suka narasinya. pokoknya keren deh. Moga2 menang ya >.<

90

wakakak...
siap-siap aja nyobek hadiah buku jadi dua.
ha...99X

mantabs, fren.
meski konflik terkesan datar, tapi aku salut sama karakternya.
banzai!!!

well, tetap belajar sama-sama.
silakan berkunjung juga ke sini

Ya, tar dari sampul depan ke tengah bwt saya, dari bagian tengah ke belakang bwt Ries kekekekekeke...
Makasi dah baca :)

100

suka sangat saya deh banget pokonya apa ngomong lagi tau ga
(silahkan disusun lagi)

100

What should I say...? Hmm....
SUKAAAA!!!!
Baiklah gaya penceritaan semacam ini yg sdh lama tdk saya dengar *eh(?)*
whatever you say, it's mengalun dgn indah. Yosh *dang!dang!dang! stop dazzle me! >.<*
er... tp kata b**gs** itu... beauty not(?)

b**gs** itu BEAUTY *ditimpukin karena cengar-cengir yandere geje*

Hmmm... Di sini kami mencoba menyajikan dua "rasa" dalam satu cerpen. Dimana Rin kami tampilkan dengan "cantik" dan "lembut", sedangkan Len kami tampilkan dengan "vulgar" dan "kasar".
.
Makana, begitulah~~~
Makasi, Lisa... :)

100

Part 1 dan 2 ketangkep kuat emosinya, tapi pas ganti POV 3 di akhir, emosinya rada pudar. Tapi tetap bagus ceritanya... Saya juga suka narasinya yang puitis... ^^

Makasi, Ka Zul~~~
.
Iya, ini karena kami b2 lagi bereksperimen dengan cara kolab ganti" POV gini >_< Bagian ahir paling riweh sebenerna hehehehe... *curhat(?)*

90

narasinya bikin aku terhanyut. >.<
aku ga nyangka dikau bisa juga bikin cerita cinta XDD
.
sejujurnya, aku seharusnya kasih nilai 8 nih. Ada beberapa yang agak err.. aneh, tapi karena bikin aku kehanyut jadi poin 9! XD
.
menurutku bagian kejadian Len ditonjok bangsawan itu agak.. err.. agak-agak lebay deh. Kurang riil aja. Aku rasa lebih baik dikau menceritakan mengenai masa lalu Len. kenapa dia harus cari uang dengan biola gitu, daripada menceritakan tonjok2an. ;)
.
Terus apa lagi ya...?
.
Mengenai judul. Kenapa diberi nama Sakura Dream? Adakah makna dari bunga Sakura yang masuk ke inti cerita ini? (beneran tanya)
.
Ini sebenarnya jaman kapan? Asumsiku kayanya ini sekitar tahun 1900an ya? hehe..

Saya pengen nanya bagian yang 'aneh' ntu di mana, tapi kalopun ditunjukin ujung-ujungnya ga bisa diedit juga... *pundung di pojokan* (kalo dikomenin di note yang saya sempet post di fb sempet nggak, kak? Ntar saya tag kalo sempet... *puppy eyes*)
.
Sakura itu tempat kopdarannya gitu looooh... *plak
Cerita ini sebenernya masih banyak lagi yang bisa dieksplor (dan dibanyakin tonjok2annya *plak*) tapi kuota itu looooh... T.T

Tag aja. Itu note yg sama apa beda dg crita ini?

sama kok~~ saya tag ya~~

Hmmm... Makasi Ka Anggra~~~ :)
.
Soal Len, adegan itu ada untuk menonjolkan pemikiranna soal dunia. Yang menurutna busuk, penuh dusta, dkk dll. Serta menekankan kesan kasar dan (apa kata Chloevr?) BADASS-na Len~~~<3
.
Secara khusus gda makna soal sakura. Sakura hanya perlambang tempat pertemuan kedua "mimpi" mereka. Kan mereka ketemu pertama kali di bawah pohon sakura. Ah iya, di Jepang, sakura itu lambang musim semi, sekaligus lambang CINTA <3<3<3 *uhuk uhuk*
.
Zaman Taisho di Jepang. Berlangsung sekitar tahun 1912-1926 (klo ga salah, maapkan saya yang males nge-search, cuma berbekal pengetahuan kuliah Sejarah Jepang!)
Seperti yang diceritakan di cerpen ini, saat itu Jepang lagi GETOL niruin Barat. Segalana ditiru, mulai dari gaya busana, gaya bicara, sampe pada gaya berpikir :)
Latar belakang sejarah cerita ini kuat sebenerna.

Es we te
.
Kenapa jadi mamanya Pemilik Toko yang nongol di sini?? Mana mamanya Noah? @.@
Pemikiran betapa buruknya dunia justru bs lebih disampaikan dg menggali masa lalu Len. Apalagi, kamu (atau kalian) kan menampilkan masa lalu Rin, sebaiknya Len pun diperlakukan sama. Hohohoo..

Mamana Noah lagi UN, Ka, kekekeke... XDD
(sebenerna dibanding jadi emakna Pemilik Toko, mending saya jadi kekasihna sekalian!!! *digiles fans Pemilik Toko*)
.
Makasi saranna~~~ mungkin di kesempatan lain akan kami praktikkan :D

Yg giles itu pasti mobil saia. Mwahahaa-
*lempar bakiak dan boks bakiak ke arah gie*

pertanyaan yg sama....

itu sepertinya emang abad 19 di barat, tapi knpa ada sakura ?

saya beneran nanya lho ries

BUKAN di Barat, ini di Jepang, zaman Taisho, Tsuki~~~ :)

zaman taisho ? *catet

eh....konsep kebangsawanannya saya membyangkan yg memakai gun ribet, bukan kimono XD

Nilai 100!!!
Kau betul Ziona, Jepang pada zaman Taisho mang lagi kecanduan kebudayaan Barat hingga cewe"na pada pake gaun gitu, bukanna kimono lagi~~~ :)
*mendadak jadi ngadain kuliah Sejarah Jepang*

LANJUTKAN KULIAH JEPANGNYA !!

hehehe

100

Saya dataang~~

Kirei Monogatari~~<3 Kalau baca ceritanya sambil dengerin lagunya beneran jadi mantep deh ;D

Penggambaran ceritanya cantiiiik sangat :3
Sedih juga kalau melihat nasib mereka berdua di cerita ini; sama-sama broken inside. Dan apalagii....LEN-NYA BADASS XD ahahaha

Rasanya ga mungkin bikin yang beginian sendirian xDD.
Biar badass yang penting tetep keren <3 <3
Saya dari kemaren mau donlot nih lagu ga pernah dapet yang bagus... Nemunya cuma fandub yang kualitasnya ga gitu pas =3=
Makasih udah mampir~~

80

Fanfic vocaloid kedua yang saya baca hari ini.. (sama2 tentang Rin dan Len pula)

Oknum yang bikin sama sih xDD. Bedanya yang Karakuri Burst, gie bikin solo~~
Makasih udah mampir~~

100

saya terharu...hikz

80

woeee??? ini bikinnya berdua??? hebatnyooooo.... :)

Yup, berdua antara saya dengan Riesling. Biasa az kok, ga sebegitu hebatnyooooo juga heheheheehe... XDD
.
Makasi dah baca, Ka Eko~~~ *seenakna ganti nama orang* XP

100

keren sekali sangat

KAU! *tunjuk tunjuk*
Baca Karakuri-na juga donk!
.
Ah iya, makasi pujianna~ jadi malu~ (lho?)

oyoy....
satu satu dunk, maklum, orang terkenal, jadi banyak yg ceritanya minta dibaca *plak ! ngaku ngaku

100

PERTAMA!
.
Oh yeaaaaah!!! Mantaaaab Ries!!! Tar saya nyusul deh, mungkin besok baru saya post fanfic yang sama, tapi saya binun mo pake judul CERPEN MIMPI juga ato ga...
Ga usah az deh hahahahaha...
.
Makasi dah mo kolab sama saya, Ries *ojigi*
Makasi dah bersedia ditarik sama saya bwt jadi partner kolab, saya pula yang seenakna milih lagu Kagamine yang ini, saya pula yang seenakna membiarkan kau nge-dit sendirian, dan kau tahan juga sama saya yang kerjana lambat wakakakakakaa...
.
Ngerjain kolab ini beneran menyenangkan!!! Sukaaaaa~~~~ padaal baru pertama kali qt b2 kolab yak! Kapan" lagi yaaaaa~~~ *ngarep*