Yume Zakura -- Sakura Dream

夢桜

First Movement--Rin

“Rin, kau harus selalu bersikap anggun. Jangan sampai mempermalukan keluarga kita.”

“Tidak ada yang peduli dengan apa yang kau pikirkan, Rin. Gadis bangsawan sepertimu hanya perlu duduk manis dan tersenyum.”

“Jangan membantah atau mempertanyakan apapun. Pembangkang hanya akan merusak nama baik keluarga kita.”

“Kau harus menikah dengan pria terhormat dan terpelajar, Rin. Itulah satu-satunya yang bisa kaulakukan bagi keluarga kita.”

Entah mengapa kata-kata Ibu selama bertahun-tahun kembali terngiang di telingaku malam itu. Aku selalu datang ke tempat ini ketika keadaan di rumah itu mulai terasa menyesakkan, berdiri di bawah dahan-dahannya yang mengisi setiap relung otakku. Terkadang dahan-dahan itu gundul dan berbayang dalam kegelapan malam, atau berkilau keperakan oleh kristal-kristal salju di bawah siraman rembulan, dan ada kalanya kuncup-kuncup yang bersemu merah jambu bermekaran dan berguguran seperti saat itu.

Bukannya melegakan pikiranku dengan pemandangan malam itu, aku malah teringat akan hal-hal yang harus kulalui untuk menjadi putri bangsawan Kagamine yang sempurna. Hukuman-hukuman yang kuterima saat membuat kesalahan di pelajaran tata krama, rasa iri ketika melihat anak-anak lain bermain di luar dan tertawa lepas dari balik jendela, tamparan-tamparan dari Ibu setiap kali aku mempertanyakan mengapa aku tidak boleh berteman dengan anak-anak itu dan membela mereka ketika orang dewasa menyebalkan berbalut pakaian mahal mencemooh mereka…

Sejak saat itu, aku belajar untuk membunuh perasaanku, membuang nuraniku sendiri demi menjadi gadis bangsawan yang sempurna di mata mereka. Aku tak butuh emosi, itu hanya membisikkan ilusi yang membuatku bertindak gegabah dan mempermalukan keluarga. Setelah aku membuang semua itu, menjadi gadis ningrat yang dipuja-puja menjadi semudah bernafas. Toh aku hanya perlu duduk manis, tersenyum, dan menghadiri pesta-pesta tanpa memiliki pendapat akan apapun. Dan tak lama lagi orangtuaku akan memilihkan seseorang di antara pria-pria bangsawan yang mengantre untuk meminangku, lalu aku akan memenuhi satu lagi kewajibanku untuk mengangkat nama keluarga.

Aku tertawa sinis ketika teringat akan orang-orang bodoh yang memilih ilusi yang mereka sebut ‘kata hati’. Mereka mungkin akan sempat merengkuh kebahagiaan, tapi itu hanya sementara. Pada akhirnya mereka tidak akan tahan dengan tatapan merendahkan dari orang-orang seperti Ibu yang selalu menentukan apa yang benar dan salah sesukanya.

Ya, semuanya jauh lebih mudah tanpa ‘hati’ dan ‘perasaan’.
Embusan angin malam mulai terasa menusuk tulang. Kurapatkan selendangku, berharap jalinan benang-benangnya cukup untuk menghalau hawa dingin yang mulai menyelimutiku. Tapi sepertinya percuma… Dengan atau tanpa penghangat, tampaknya hawa dingin sudah terlanjur bersarang di rongga kosong tempat ‘hati’-ku dulu berada.

Aku masih berdiri seorang diri dalam pelukan bisu kelopak-kelopak sakura yang berguguran. Lalu terdengar lengkingan nada yang memecah keheningan.

Suara biola. Seseorang sedang memainkan biola entah di mana, tapi alunannya terasa begitu dekat, seolah berasal dari dalam diriku sendiri. Alunan nada yang indah namun pahit, lembut namun meneriakkan keputusasaan yang menyiksa jiwa…

Alunan nada yang membangunkan detak-detak yang kukira sudah membeku untuk selamanya.

…Apa …ini?

Rasa dingin yang bersemayam dalam diriku seolah menguap bersama alunan biola yang terdengar bagaikan isak tangis yang merdu, digantikan oleh kehangatan yang meledak-ledak, membangunkan sesuatu entah apa yang tiba-tiba terasa berdentum tanpa henti. Jemariku yang gemetar mencengkeram dadaku yang kini entah kenapa terasa begitu perih…

Apa ini?

Air mataku meluap. Awalnya hanya tetes-tetes kecil, lalu berubah menjadi aliran deras yang menuruni pipiku tanpa henti. Air mata yang telah kubendung selama belasan tahun membuncah keluar. Potongan-potongan ‘perasaan’ yang seharusnya sudah mati menari-nari dalam ingatanku—segelintir keceriaan dan banyak kepedihan yang tak pernah benar-benar hilang… Menumpuk dan menunggu sesuatu yang mampu menembus pertahanan yang selama ini kubangun dan membebaskannya…

…Menunggu kelembutan dalam gesekan getir biola itu.

Kedua lututku melemah, seolah tak kuat lagi menopang berat tubuhku dan semua sensasi yang telah lama kulupakan. Aku bersandar pada batang pohon sakura dan memejamkan kedua mataku yang masih basah, mereguk kepedihan dalam keindahan setiap not yang dimainkan biola itu, membiarkan diriku terlena dalam ‘perasaan’ yang selama ini selalu kuingkari.

…Sial. Aku tidak boleh lengah… Seharusnya aku menahan emosi seperti ini sebelum semua ini terlanjur kembali menguasaiku. Yang seperti ini seharusnya tidak berpengaruh padaku sama sekali… Yang seperti ini seharusnya hanyalah mimpi…

Ya. Ini hanya mimpi.

Ini hanya mimpi. Malam ini, seluruh perasaan ini, air mata… Semuanya hanya mimpi indah yang sementara, tidak lebih. Aku akan menikmati mimpi ini sampai akhir dan besok malam dan malam-malam berikutnya, aku akan memimpikan hal lain. Sekarang biarkan aku tersihir oleh rintihan biola itu…

Siapa? Siapa yang memainkan biola itu? Apakah biola dan pemainnya itu juga hanya mimpi? Aku melangkah keluar dari bayang-bayang dahan sakura yang menyembunyikan sosokku malam itu, mencari-cari sumber alunan biola yang masih menjerit-jerit putus asa ke udara. Aku menengadah… Dari rumah seseorang kah? Tidak mungkin… Suaranya terdengar jauh lebih dekat dari itu. Dekat sekali… Seolah yang memainkannya adalah pohon sakura itu sendiri. Aku melangkah memutar, dan di sanalah dia, si pemain biola yang telah mengacaukan semua yang telah kubangun selama bertahun-tahun…

Aku melihat seorang pemuda berambut keemasan yang bersandar di sisi lain pohon sakura itu sambil menggesek biola dengan mata terpejam, menuangkan seluruh jiwanya pada setiap nada yang ia mainkan. Pemuda itu mengenakan gakuran lusuh yang berantakan dan sedikit robek di sana-sini. Wajahnya tampak lelah dan ada jejak darah di sudut bibirnya, tapi ia terus memainkan biolanya tanpa memedulikan sekelilingnya.

Aku berdiri mematung, memandangi sosok pemuda itu memainkan biolanya di bawah siraman kelopak sakura yang berguguran seolah tersihir.

Tiba-tiba pemuda itu berhenti dan membuka matanya, seolah sadar bahwa ia memiliki penonton. Pemuda itu tersentak, begitu juga aku.

Aku melangkah mundur melihat mata pemuda itu, mata yang tampak begitu dalam di kegelapan malam, mata yang tampak seolah mampu melihat segalanya… Aku takut. Aku takut sepasang mata itu melihat seluruh isi pikiranku, melihat jauh ke dalam hatiku. Air mataku masih belum berhenti mengalir. Tenggorokanku terasa kering. Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus memujinya? Mencemoohnya karena statusnya yang jelas sekali jauh di bawahku?

Sementara itu kehangatan tadi masih belum sirna bahkan setelah alunan biolanya berhenti, tapi malah semakin membara dan menjalar ke seluruh tubuhku dan naik ke wajahku.

“…Musikmu bagus.”

Lalu apa?

…Ini hanya mimpi, bukan? Sudah saatnya aku bangun dari mimpi yang tak bisa lagi kukendalikan ini. Aku berbalik dan berlari pulang ke rumah itu.
***

Keesokan harinya aku kembali menjadi putri bangsawan Kagamine yang sempurna—gadis anggun yang tak banyak bicara, tidak pernah membantah, dan tidak mengenal hati maupun perasaan. Aku kembali menjadi sosok yang mereka harapkan…

Ya, tidak ada yang berubah.

Tapi sejak malam itu dan malam-malam berikutnya, aku bermimpi berdiri di bawah pohon sakura di tepi jembatan, mendengarkan seorang pemuda berambut keemasan memainkan biolanya dari sisi lain pohon yang sama. Aku bermimpi hatiku hidup kembali dan berdetak untuknya. Aku bermimpi perasaanku kembali, menangisi ratapan dan bersenandung dengan keceriaan dalam musiknya.

Tapi bahkan ada yang tak bisa kulakukan dalam mimpiku itu… Aku sangat ingin berbalik dan melangkah ke sisinya, agar pemuda itu tahu aku mendengarkan nyanyian hatinya. Tapi aku takut… Aku takut aku tak sanggup kembali ke kehidupan nyata dan melupakan semuanya begitu aku berdiri di sampingnya dan mengenalnya… Dan aku lebih takut lagi bila ia menyadari keberadaanku, mimpi indah ini harus berakhir untuk selamanya…

…Dan akhir itu tampaknya sudah semakin dekat. Enam belas hari sejak aku pertama kali bermimpi, orangtuaku memilihkan seseorang untuk kunikahi, seorang pemuda terhormat dan terpelajar, pemuda bangsawan yang sempurna untuk putri bangsawan yang sempurna. Perjodohan ini adalah satu lagi pencapaian putri bangsawan Kagamine yang sempurna. Seharusnya aku merasa senang. Lega. Bukankah ini yang sudah kutunggu-tunggu selama ini? Bukankah untuk hal inilah selama ini aku berjuang keras menuruti apa kata mereka?

Aneh. Aku malah merasa hampa.

Lalu aku teringat akan gesekan biola semalam yang entah kenapa terasa begitu sedih dibanding malam-malam sebelumnya. Aku teringat akan sorot mata kosong pemuda itu yang sempat kupandangi sembunyi-sembunyi. Hampa berubah menjadi rasa sakit yang menyayat-nyayat diiringi gaung biolanya yang sayup-sayup masih kudengar.

“Aku tidak mau menikah dengannya.”

Apa aku masih belum terbangun dari mimpiku? Ibu menamparku dan menjerit-jerit marah. Ayah hanya semakin mengacaukan semuanya dengan mengoceh tentang bisnisnya, tapi aku hanya bisa mendengar rintihan biola pemuda yang mengenal nada itu, hanya bisa melihat sorot matanya yang begitu pilu.

Dan di sinilah aku, tawanan dalam kamarku sendiri. Kupandangi botol bening berisi cairan kehijauan dalam genggamanku, cairan yang kubeli belasan tahun yang lalu sebelum akhirnya memutuskan untuk membuang jiwaku demi menjadi sempurna di mata mereka.

Enam belas hari ternyata cukup untuk menggoyahkan pertahanan yang kubangun selama enam belas tahun ini…

Tapi tak apa. Bila kuteguk cairan itu, aku bisa kembali memimpikan berdiri di bawah dahan-dahan sakura, suara biola, dan pemuda berambut keemasan yang memainkannya.
***

Second Movement--Len

Jalan ini tetap sama. Penuh dengan manusia yang berjalan mendongakkan kepalanya, congkak. Yang laki-laki berjas, bertopi. Yang perempuan bergaun, berpayung renda. Gaya para bangsawan, kata mereka.

Aku tertawa sinis sejenak. Lantas kembali menekuni senar-senar biola yang menggetarkan melodi-melodi dari musik yang katanya sedang populer belakangan ini. Ah, padahal aku tak suka melodi ini, begitu datar.

Tapi apa boleh buat, aku harus memainkannya agar para bangsawan itu mendengarnya dan membuat mereka mengeluarkan beberapa peser uangnya untukku. Untuk seorang pelajar miskin yang mesti mengemis dengan musik hanya untuk melanjutkan hidup. Betapa menyedihkannya.

Sekilas kupergoki seseorang mencomot dompet lelaki tua berjas yang berjalan di depannya. Copet, pikirku, namun tak kulakukan apapun. Toh lelaki tua berjas yang kecopetan itu dari awal tampak heboh berbicara soal keluarganya yang mengelola sebuah perusahaan senjata api. Mulut besarnya lah yang patut disalahkan, bukan?
***

Kulirik langit yang mulai gelap, bulan masih rendah di ujung langit. Entah berapa jam telah kulewati dengan memainkan melodi membosankan yang sama. Jalan ini tetap sama, hanya penggunanya yang berubah. Tak ada lagi perempuan-perempuan bergaun dan berjalan lenggak-lenggok menyakitkan mata. Tak ada lagi pria-pria berjas berjalan terburu-buru dengan mulut besarnya menggumamkan kekayaan mereka.

“Bocah.” Seorang pria memanggilku, maka kupalingkan pandang dari senar biola.

Ah, dia pria yang tadi sempat bercumbu tanpa malu-malu di sisi jalan sana dengan perempuan lacur yang kini masih mengaitkan lengannya mesra di sampingnya. Tidak, aku tidak lupa kalau jalan ini berubah jadi distrik lampu merah kalau malam menghampiri.

“Kau merusak suasana dengan mengemis di sini! Tidak bisakah kau pergi? Atau haruskah kulempar beberapa keping uang terlebih dulu?” cemoohnya sambil meludah ke aspal di sampingku. Liurnya mengalir menjijikkan ke sepatuku. Sementara lacur rendahan di sampingnya terkikik kesenangan.

Kuhentikan permainan biolaku. Sunyi, hingga bibirku melengkung sinis, bergumam, “Kau tahu? Tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun, aku bisa mendapatkan pelacur yang jauh lebih cantik dan berkualitas dibanding dia.”

Dengan senyum puas mewarnai wajah, kutatap menantang lelaki hidung belang itu. Wajahnya memerah layaknya babi sementara perempuan di sebelahnya tak beda jauh.

“Bangsat!” umpatnya, “tampan sedikit sudah sombong kau!” tinjunya mengarah penuh nafsu ke wajahku.

Setidaknya aku harus menyelamatkan biolaku. Seperti biasa.
***

Tertatih-tatih, aku berjalan menyeret tubuhku yang penuh luka. Noda darah masih tersisa di sudut bibirku, sakit. Tak peduli walau gakuran-ku begitu berantakan dengan beberapa kancingnya tanggal. Kulangkahkan kaki ke bantaran sungai kecil dimana sisi-sisinya dipenuhi oleh jajaran pohon sakura. Indah. Begitu menggoda tubuh lelahku untuk sekadar bersandar di batang kokohnya. Maka kupilih satu yang terdekat, duduk di dekat akar-akarnya sambil memeluk lutut.

Tidak adakah lagi harapan di dunia ini? Segalanya penuh kebusukan. Dusta belaka ditawarkan.

Sial. Segala keputusasaan itu begitu merasuki pikiranku, menguasai. Rasanya tak ada lagi kebahagiaan untukku. Anehnya, aku malah tertawa. Menertawakan diri sendiri yang masih saja bertahan di dunia kosong ini. Membiarkan diri hancur, lebur.

Lebih baik segera mati, bukan?

Perlahan kukeluarkan biola dari boksnya. Setidaknya dia selamat walau aku sendiri harus babak-belur.

Merintih pelan, kupaksa bangkit. Lantas kuposisikan instrumen itu di antara pundak dan dagu sementara tangan kananku menjepit busurnya. Ah, betapa familiernya sensasi di jemariku ini. Betapa nikmat saat lengkung kayu itu menyentuh kulitku.

Senyum terkembang di bibir ketika senar tergesek sempurna. Bunyi penuh warna memenuhi indera pendengaranku. Inilah musikku. Penuh perasaan, penuh emosi jiwa.

Angin berembus, sejuk mengikuti alunan. Kelopak sakura berguguran, layaknya hujan pendamping melodiku. Yang menyayat perih, sebuah jeritan piluku. Lama-kelamaan jiwaku tersedot, masuk ke dalam alunan, menyatu dengan melodi. Mengawang.

Namun mendadak kurasakan tatapan menusuk. Seseorang sedang memerhatikanku dari jauh. Siapa? Refleks kuhentikan permainan hingga sunyi kembali hadir.

Dengan panik aku menoleh. Dan menemukan...

Sesosok gadis bangsawan.

...Yang tersembunyi di antara rimbunnya sakura.

Sedang apa ia di sini? Mungkinkah sekadar mencari hiburan untuk mencemooh dan menertawakan permainan musik pengemis? Seperti bangsawan-bangsawan bangsat lainnya?

Hingga akhirnya kami beradu pandang, sekilas. Karena ia segera tertunduk malu. Membuatku terkesiap.

Cantik. Sosok itu begitu cantik. Berbeda dengan segala gadis bangsawan berpoles menor menjijikkan. Wajah nan polos. Mata nan tergenang selayak kristal...

Tunggu. Bukankah itu air mata...?

Ia menangis?

“...Musikmu bagus,” suara mungil terdengar memanjakan telinga. Membuat dadaku berdentum dahsyat.

Ia... memuji musikku? Melodi sampah yang tak layak diperdengarkan pada siapapun? Yang mestinya dicacimaki, sama seperti diriku yang tak berguna ini?

Kata-katanya yang tulus seolah meniupkan kembali harapan ke kehidupan busuk ini. Memperkenalkanku kembali pada denting kasih sayang nan lembut.

Dirinya... melodi baru yang mengalun, menata jiwa yang telah hancur berkeping.

Namun mengapa ia menangis? Mengapa tampak begitu rapuh?

Jemariku terulur. Tanpa sadar. Seolah dengan bertindak begitu aku dapat merangkulnya, melindunginya entah dari apapun yang mengusiknya.

Dalam sekejap mata sosok itu lenyap ditelan malam. Tanpa pernah sempat kuucapkan apapun untuknya.

“Semoga ia selamat sampai rumahnya.” Satu-satunya doa yang pernah kupanjatkan seumur hidupku.
***

Sejak pertemuan di bawah hujan sakura itu, telah lima belas hari. Dimana tiap-tiapnya aku selalu melintas didepan rumahnya, rutinitas baru seusai sekolah dan sebelum mengemis.

Aku mencari tahu mengenai dirinya. Putri keluarga terpandang Kagamine, celetuk orang-orang kotor di jalan. Tak pantaslah aku menghampirinya, apalagi bertegur sapa. Maka di sinilah aku, memandang dari jauh, mengingin tanpa terucap.

Dua gadis yang tengah bergosip sambil pamer busana melintas di depanku yang tengah menggesek biola. Suara cempreng mereka menusuk-nusuk telinga, seperti dengung lebah. Berisik.

Namun begitu kalimat “Putri Kagamine telah dipinang” terucap dari bibir salah satunya, kontan jemariku berhenti memainkan melodi. Membatu.

Perlu waktu cukup lama hingga makna kalimat itu berhasil diterima otak tololku. Yang lantas membuatku terbahak-bahak layaknya orang kesetanan. Mengundang tatapan sinis dan cemooh dari para bangsawan di situ, yang tak kupedulikan.

Dipinang.

Tentu saja kan. Mana ada gadis cantik yang adalah bangsawan tidak dilirik lelaki hebat? Mimpi saja aku pantas mengenalnya. Mimpi saja aku dapat memilikinya.

Lantas, apakah perasaan bahagia yang timbul di malam itu juga sebuah mimpi? Apakah memang pernah aku merasakan kehangatan itu?

Ilusi.

Dan tawaku makin keras. Seiring makin terlukanya diri.
***

Sudah sering kucaci diri agar tak lagi meyakini adanya kebahagiaan untukku di dunia ini. Adanya kelembutan.

Namun hati ini begitu keras. Tak mau menerima logika itu.

Maka...

“Bermimpi saja terus,” geliku. Walau kontras dengan mata yang sembab dan basah. Bukti kecengenganku.

Kumainkan melodi menyayat, selalu. Di bawah naungan sakura yang makin jarang, lenyap terkikis musim. Walau kumohon seperti apapun, sakura tak akan kembali mekar cantik. Begitu pula kebahagiaan di hati yang pernah kukecap tempo itu.

“Selamat malam, Nona Kagamine.”

Mimpiku.

Melodi terakhir.

Perih.
***

Last Movement--Coda

Segalanya bertabur putih. Kosong. Tampak seorang gadis belia menolehkan kepalanya kesana-kemari, bingung, panik. Seperti tak tahu dimana dirinya berada. Perlahan ia langkahkan kaki, tanpa tujuan. Ke mana? Namun sayup-sayup terdengar gesekan biola, sebuah melodi. Senyum bahagia yang tak terperi segera mewarnai wajah sang gadis, ia tahu harus pergi kemana. Alunan indah itulah sang penuntun.

Ia terus mencari-cari asal suara itu, tapi semua tampak sama saja... Putih. Ia tidak tahu lagi ke mana ia melangkah, tersesat dalam kekosongan yang seolah tak berujung. Namun suara biola itu terdengar makin jelas dan dekat seiring dengan langkahnya, meyakinkannya bahwa ia ada di jalan yang tepat, seolah mengusir ketakutan dalam hatinya yang kehilangan arah.

Di hadapannya, seolah tenggelam dalam melodinya sendiri: seorang pemuda tengah menggesek biola, matanya tertutup, bibirnya melengkungkan senyum abadi. Menyeret sang gadis untuk ikut menikmati melodi tersebut, pun sosok sang pemain. Ingin rasanya ia hampiri pemuda yang selama ini selalu menjadi mimpi-mimpinya, namun tak juga ingin mengusik permainan indah itu. Seketika melodi menghanyutkan itu berhenti, diiringi wajah sang pemain yang menoleh padanya, dimana senyum menghiasi wajah itu.

"...Apa kabar?"

Pemuda itu menanyakan kabarnya! Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Ia kehilangan kata-kata. Bagaimana ia harus menjawab pemuda itu? Mengatakan dirinya baik-baik saja sementara gejolak yang ia rasakan mengatakan sebaliknya?

"A, aku..." ucap sang gadis terbata-bata. "... Itu, aku..." Mengapa sulit sekali baginya untuk sekadar mengutarakan bahwa ia begitu ingin bertemu sang pemuda?

"Aku ingin berbincang denganmu, Nona Kagamine," mendadak perkataan sang pemuda menyentak kekalutannya, menjadikannya terpukau. Tak menyangka bahwa namanya diketahui.

“Kau tahu namaku?!" mata gadis itu melebar, tapi ia menunduk lagi. Bila ibunya melihatnya merespon dengan antusias seperti itu, ia pasti sudah diomeli...

...Tapi ibunya tidak ada di situ, tidak ada siapapun dan aturan apapun. Hanya ada pohon sakura, dirinya. pemuda itu, dan biolanya, "Maksudku... Aku juga... Aku juga ingin berbincang-bincang denganmu..."

Mereka saling memandang, melempar senyum yang sejak lama tertahan.

"Apakah ini mimpi?" ujar sang putri Kagamine.

Yang ditanya hanya menggeleng, "Tidak tahu."

"Apakah akan berakhir?" ujar sang gadis lagi, meyakinkan diri. Yang tetap dibalas gelengan.

Walau tak ada yang mengucapkan, masing-masing tahu bahwa tak ada satu pun yang ingin "mimpi" ini berakhir. Segala luka, segala sedih, segala keputusaasaan, entah bagaimana menguap terganti oleh kebahagiaan tak terbatas.

"Siapa namamu?" mendadak sang gadis bertanya, antusias, tak lagi menahan segala emosi yang membuatnya merasa hangat ini.

"Len," jawab si pemuda, "Namaku Len. Mungkin agak terlambat tapi... Senang berkenalan denganmu..."

Pemuda itu tertunduk sejenak, menyembunyikan kegugupan dalam wajahnya. Lalu ia menyebutkan nama gadis itu, suaranya ragu namun penuh dengan kerinduan, "...Rin."

"Aku juga... Len."

Pemuda itu tersenyum, begitu lembut, "Maukah kau mendengar permainanku hingga akhir, Rin?" tanyanya, tak lagi memanggil dengan gelar.

Mengajak sang gadis tertawa lepas. Sensasi hangat melingkupinya, bahagia. "Dengan senang hati, Len."
Dan "mimpi" itu pun dimulai kembali.

Di bawah hujan kelopak sakura di suatu malam.

"Mimpi" nan kekal.
***

Read previous post:  
234
points
(2973 words) posted by Riesling 6 years 6 weeks ago
90
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | angst | April | biola | FANFIC | Mimpi
Read next post:  
Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Yume Zakura -- Sakura Dream (5 years 37 weeks ago)
100

Ah,ternyata di sini pun saya belum ngasih nilai ke diri sendiri xDD
.
Ayo kita kolab lagi, Nona Rieeeesss!!!

Writer sakurazaki90
sakurazaki90 at Yume Zakura -- Sakura Dream (5 years 43 weeks ago)
90

Diseret lagi sama Riesling XD

EPIC to the max! Flow ceritanya pas & narasinya enak banget dibaca :D Paling suka pas deskripsiin Len main biola di tengah kelopak sakura berguguran :)

Tapi gw agak bingung sama setting ceritanya. Ada yg pake kimono, ada jg yg pake baju orang Barat. Jepang sekitar jaman Restorasi Meiji di akhir abad 19 kah?

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Yume Zakura -- Sakura Dream (5 years 43 weeks ago)

Zaman Taisho, tepat setelah zaman Meiji. Oleh karena itu, banyak orang Jepang yang sok-Barat pk gaun dan jas~
.
Makasi Sakurazaki

Writer wellight
wellight at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 5 weeks ago)
100

abis dari tempat ries
*masih nyanyi dg kpala berasap*

90

Halo gie, salam kenal. Saya sangat menikmati sekali ceritanya.Btw, mungkin ada hubungannya dengan cerpen2 kamu sebelumnya, jadi saya kurang nyambung dngn last part-nya, coda itu sapa ya?

Oya, kalo sudi mampir ke Cermim saya di sini: http://www.kemudian.com/node/254858

Waduh makasi ya Kak! Err... Coda itu istilah musik yang menunjukkan itu bagian ahir musik :)
.
Gda hubunganna sama cerpen Karakuri ko, sy menautkan itu karena masih sama" fanfic Kagamine Twin.
.
Ya, mungkin masi bakal nanti", tapi sy bakal mampir k lapak Kakak.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 5 weeks ago)
100

Abis baca punya tante Ling... lalu sadar bahwa ini kolab... abis itu mampir ke sini... yasudala, kasih 10 poin juga biar adil^^ hehe
.
Btw, ini komen pertama saia untuk tante gie. Yeah! Mari rayakan dengan menghirup udara dalam-dalam!!

Eeer... Iya, trims. Eniwei, kau tidak salah ngira sy cowo yak, bagus! (walo sy kurang suka jg dpanggil tante -_-')

100

mantap..
pas bgt sama suasana sy sekarang :)

Writer Riesling
Riesling at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 6 weeks ago)

kak jangseng lagi galau???

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 6 weeks ago)
100

Karena bikinna berdua, saya kasih poin juga deh, biar ga slek... XD

Ga bakal selek ama Ries~~~ weeeeek, Ka Zul soktw!!! *mendadak anak kecil tengil modeon XP*
.
Makasi, Ka Zul bae gyahahaha...

Writer IreneFaye
IreneFaye at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 6 weeks ago)
90

Lagu yang cocok sih klo buat aku Cantarella wkwkwk

Saya juga suka Cantarella~~~ Apalagi yang versi Len X Rin, judulna berubah sih jadi: Adolescence. Rada twincest gitu...
.
Klo fandub Cantarella suka yang versi AkaPiko Hammer! Piko-tan dan Sekihan mantaaaaaaaab!!!! <3<3<3
.
Eniwei, makasi yak, Irene... ^^

100

hyaaa~~~ *ga prnh nyangka klo bakal komen di crita yg sama XD*
well... penuturan yg indah, kekuatan dalam setiap katanya *krn saya sk yang tipe-nya puitis ky gini* XDDD
meski B**gs**-nya sepertinya bs diganti dgn kata lain, XD, tp pengarang pny hak u/ memakai kata penegasan mrk sndr *kibarin bendera putih*
Len is a badboy? hmmm... u/ hal itu... dy masih terlihat sprt anak baik dimata saya XD

Writer Riesling
Riesling at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 6 weeks ago)
100

AKHIRNYA DI-POST JUGA!!! Asyiiiiiik~~
Btw, sinopsis ma link-nya dah kupasang di vocapost~~

Sippo! Kerja bagus, Ries!!! Sukaaaaaa~~~
*melaju ke VP*

Writer kiva2011
kiva2011 at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 6 weeks ago)
Writer Kurenai86
Kurenai86 at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 6 weeks ago)
100

Ya udah, komen di mana sama aja kan ^^
.
kereen... biarpun nggak tahu lagu2-nya tapi ceritanya bagus banget. Sedih, tapi cantik...
Hu2... endingnya tragis deh...

Yup yup, makasi Ka Kure~~~ Jangan nangis dong... >_< *pengarang merasa bersalah*

Dibuat berdua sama Riesling. Isina BENER-BENER sama dengan yang di-post oleh Riesling. Kami memutuskan supaya baik saya maupun Riesling HARUS meng-post FANFIC ini di lapak masing"~~~ Jadi yaaaaah saya nge-post juga hehehehe~~~~
.
Semangat bwt Ries yang hari ini ujian. Dan owh iya, saya dah dapet ilustrasi Yume Zakura yang lumayan bagus tuh! Ayo ditambah ilustrasi di postingan-mu, Rieeeess!!!
.
Eniwei, saya mo naut cerpen fanfic ini dengan Karakuri saya juga ah hihihihi...
.
Tambahan disclaimer:
Ilustrasi oleh yucco-sama
Musik dan lirik oleh SamoP-sama
Fandub oleh Choco-sama sebagai Rin, dan Valshe-sama <3<3<3 *ngibarin spanduk I'M VALSHE'S LOVER* *digeplak* sebagai Len.
.
Sukaaaaaaa biola di lagu ini~~~ >w< cantiiik...

Writer Riesling
Riesling at Yume Zakura -- Sakura Dream (6 years 6 weeks ago)

Ga bisa ngedit TAT
*ikut ngibarin spanduk Valshe Lover*

Oh iya, klo ada yang mo komen, terserah mo di sini ato di lapak Ries, ga masalah~~~ Biar pembaca ga binun hehehehe... (bukanna tambah binun yak? XDD)