Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus

Tokyo, Jepang

“Waktu tinggal tiga puluh detik lagi!” seru seorang komentator dengan begitu serunya. “Mungkinkah tim basket Asakuma-gakuen menyusul tiga angka dari lawannya, Yasogami-gakuen?”

Stadion benar-benar bergemuruh saat itu. Penonton memadati stadion, membela kedua tim basket dari kedua sekolah. Mereka berteriak-teriak begitu keras hingga tenggorokan mereka nyaris putus, kupikir.

Aku berdiri di tengah-tengah lapangan, mendribble bola basket dengan begitu gesit. Pandanganku menatap seorang anak laki-laki dengan garang. Ia mencoba menghalangiku memasukkan bola ke ring. Jika aku terus diam, aku bisa terkena pinalti.

Aku mengedarkan pandanganku ke teman-teman timku, mencoba mencari siapa yang bebas. Tidak ada! Mereka semua dihadang satu per satu oleh tim lawan. Aku nyaris melempar bola basket ke temanku yang bisa dibilang agak bebas, sampai aku bisa melihat celah di depanku. Dengan gesit, aku menerobos lawan di depanku, menuju ke area tiga angka, dan melempar bola dari luar area tersebut.

Aku bisa merasakan waktu berhenti sejenak. Aku bisa merasakan penonton menahan napas mereka, sementara tim lawan tampak tak berdaya melihat lemparanku yang tak mungkin ditahan itu. Aku nyaris tidak percaya saat bola itu menembus ring basket, membuat jaringnya menari-nari kegirangan.

“Masuk!” teriak sang komentator dengan sangat antusias. “Asakuma-gakuen berhasil mengejar tiga angka. Sekarang mereka seri dengan Yasogami-gakuen. Waktu tinggal dua puluh detik sekarang!”

Aku terengah-engah. Bagus, pikirku. Paling tidak sekarang kami seri. Waktu tinggal dua puluh detik. Kupikir kami hanya perlu meningkatkan pertahanan kami.

Begitu peluit dibunyikan, tampaknya permainan semakin berlangsung cepat. Tim lawan tampak tidak terima kami berhasil menyusul mereka. Mereka dengan cepat menuju ke area kami dan hanya butuh beberapa detik untuk menembakkan sebuah bola ke ring kami. Detik-detik rasanya begitu lama saat melihat bola itu semakin mendekati ring dan terpantul pinggiran ring. Tidak masuk!

Temanku langsung merebound bola itu dan mengopernya ke arahku. Dengan secepat kilat, aku mendribble bola itu, menuju ke area lawan yang nyaris kosong. Hanya ada satu orang guard di sana. Aku sempat melirik penghitung waktu di atas. Tinggal sepuluh detik!

Aku berhasil melewati si guard dengan mudah dan tidak ingin membuang-buang waktuku lagi. Aku langsung menembakkan bola itu ke arah ring. Si guard yang kulewati melompat untuk mencegah bola itu masuk, tapi usahanya gagal. Bola itu tetap meluncur begitu mulus seolah tak ada gangguan. Aku melihat penghitung waktu. Tiga! Dua! Satu!

Tepat saat penghitung waktu berubah dari angka satu dan nol, aku melihat bola itu sudah menembus ring basket. Wasit memberi tanda bahwa bola itu sah dan membunyikan peluit panjang! Angka di papan skor berubah menjadi 82-80. Tim kami menang! Kami menjuarai Inter-High!

Stadion nyaris meledak saat itu. Para pendukung tim kami berteriak-teriak begitu gembira. Beberapa gadis tampak menangis terharu. Aku melihat mereka semua! Semua teriakan itu hanya untukku! Aku mendengar mereka menyerukan namaku. Yamato!

Teman-teman timku semua berlari ke arahku, mengangkatku, dan menganggapku seperti seorang pahlawan. Aku tertawa begitu lebar. Aku tidak ingin semuanya berakhir. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Aku mendadak terbangun dari mimpiku. Aroma khas rumah sakit langsung menampar hidungku. Aku memandang sekelilingku. Tidak ada stadion, tidak ada penonton yang bersorak-sorak, tidak ada teman-temanku! Yang ada hanyalah sebuah kamar gelap, dengan sebuah tempat tidur empuk berwarna hijau, sebuah sofa, dan rak kecil di sampingku. Aku melihat ke arah pergelangan tanganku yang terhubung ke sebuah botol infus melalui sebuah slang bening dan panjang.

Aku menyandarkan tubuhku di sandaran tempat tidur. Mimpi itu terasa indah, pikirku. Aku menjadi pahlawan bagi tim basketku. Aku yang membawa kemenangan bagi tim sekolahku.

Tapi kupikir itu hal yang mustahil. Aku melihat ke bagian bawah tubuhku. Tidak ada dua benda panjang yang membantuku berpijak di sana. Celana panjang milik rumah sakit tampak terlipat ganjil di sana. Aku baru ingat. Aku tidak punya kaki.

Ingatanku melayang ke beberapa minggu yang lalu. Saat aku berada dalam sebuah mobil dan sedang tergesa-gesa menuju ke stadion untuk sebuah pertandingan basket antarwilayah. Ayahku duduk di kursi mengemudi dan aku bisa melihat wajahnya yang tampak begitu panik. Ia mengemudikan mobil dengan terburu-buru dan tidak melihat ada sebuah bus yang juga melaju dengan kencang dari belakang. Yang aku ingat kemudian adalah suara decitan rem mobil dan benturan yang menusuk telinga. Kakiku terjepit di antara dasbor mobil, membuatnya terpaksa dipotong untuk bisa mengeluarkanku dari mobil. Ayahku juga selamat meski ia mendapat beberapa cedera di kepalanya.

Aku teringat kembali dengan mimpiku, mimpi di mana sekolahku menjuarai pertandingan interhigh. Seandainya saja kecelakaan itu tidak terjadi, aku pasti.... Sekarang aku harus mengubur keinginanku, kesukaanku bermain basket dalam-dalam. Mana mungkin orang yang tidak memiliki kaki bermain basket?

Aku memejamkan mata. Berusaha mengingat saat-saat menyenangkan bermain basket. Suara merdu saat bola memantul dari permukaan tanah. Denting yang halus saat bola memantul dari ring basket. Suara sorakan penuh semangat dari para penonton.

Tanpa sadar, aku merasakan air mata meleleh dari mataku. Tidak! Aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku tidak ingin berhenti bermain basket. Aku sangat menyukainya. Aku ingin terus bermain.

Yang aku lakukan kemudian adalah menarik kursi roda dari sebelah tempat tidurku, bangkit dengan susah payah, meletakkan diriku di atas kursi roda, dan mengaitkan botol infus ke sebuah tiang di kursi itu. Aku memutar rodanya dan menuju ke sudut ruangan di mana sebuah bola basket tergeletak. Aku yang memintanya agar tetap di situ agar aku bisa mengenang saat bermain basket. Dengan mantap, aku mengambil bola itu dan meletakkannya di pangkuanku. Aku lalu menuju ke pintu kamar dan keluar sambil memandang bola basketku dengan penuh rindu. Aku tidak boleh menyerah, pikirku.

* * *
New York, Amerika Serikat

Aku berjalan menyusuri gang di antara dua kursi yang berderet-deret. Aku memandang ke atas dan tampak ruangan beratap tinggi dengan lukisan-lukisan indah dan kaca-kaca patri dengan gambar yang menakjubkan. Aku kemudian memandang ke depan dan melihat beberapa kursi terisi oleh sejumlah orang. Teman-temanku. Mereka menatapku dengan penuh bahagia.

Di bagian paling depan ruangan itu, aku melihat seorang pria tampan dengan tuksedo yang berwarna putih berdiri dan menatapku sambil tersenyum lebar. Ia benar-benar tampan saat itu dengan rambutnya yang hitam, tampak kontras dengan tuksedonya. Seorang pria tua berwajah masam berdiri di belakangnya sambil memakai jubah berwarna putih.

Tak lama kemudian aku sudah tiba di depan ruangan dan berjajar di samping pria tampan itu. Ia tersenyum padaku dan menggenggam tanganku erat-erat. Aku bisa merasakan bibirku tidak berhenti melengkung ke atas.

Pria tua berwajah masam itu berdeham sesaat dan kemudian berkata bahwa acara pernikahan ini akan dimulai. Dan setelah beberapa ucapan basa-basi darinya, ia lalu menatap pria tampan di sampingku dan bertanya, “Apa kau bersedia menikahinya, mencintainya seumur hidup baik di waktu senang dan susah?” Jantungku berdebar-debar saat melihat pria tampan di sampingku dan bertanya-tanya apa yang akan dijawabnya. Jantungku nyaris meloncat keluar saat ia berkata, “Aku bersedia.”

Pria tua itu mengangguk dan kemudian beralih kepadaku, lalu menggumamkan pertanyaan yang sama kepadaku. Dengan mantap, aku mengangguk dan menjawab, “Aku bersedia.”

Aku terbangun ketika mendengar suara dengkuran pelan. Aku membuka mata dan terduduk di ranjang. Aku melihat siapa yang mendengkur dan tidak terkejut saat melihat seorang pria tampan dengan rambut hitamnya tertidur di sebelahku. Pria yang muncul dalam mimpiku. Pria yang ingin kunikahi.

Aku melirik jam beker di sampingku. Pukul lima pagi. Aku bangun terlalu awal pagi ini. Aku kemudian membuka selimutku dan bangun dari ranjangku. Aku mengecup kening pria itu dengan lembut dan ia hanya merintih pelan. Aku tersenyum pelan.

Haus. Aku berjalan menuju ke dapur untuk mengambil segelas air, melewati ruangan utama apartemenku yang begitu berantakan. Pakaian-pakaian kotor tergeletak begitu saja, entah itu pakaianku atau pakaiannya. Setelah mengambil gelas dari rak piring, aku membuka air kran, dan membiarkan beberapa teguk air segar membasahi kerongkonganku.

Aku teringat dengan mimpiku yang baru saja terjadi. Mimpi tentang pernikahanku. Rasanya semuanya begitu indah. Aku heran kenapa semua hal yang indah harus terjadi di dalam mimpi. Saat aku berjalan menyusuri gang di antara dua kursi, saat teman-temanku memandangku bahagia, dan... saat ia mengucapkan sumpah itu di hadapanku.

Tapi aku tahu ini adalah hal yang salah. Ini tak mungkin terjadi. Ia tak memikirkan hal yang sama dengan yang kupikirkan. Kami tak mungkin menikah. Aku melihat pantulan diriku di sebuah cermin yang tergantung di dapur. Wajah seorang pria berambut pirang balik menatapku dari cermin. Wajah yang sangat kubenci. Aku berbalik dan menunduk. Aku melihat tumpukan piring kotor di bawahku, di sebuah bak pencuci piring.

Ia hanya menganggap hubungan ini sebuah mainan. Ia tidak menganggapnya serius. Aku saja yang bodoh yang menganggapnya hal yang serius.

Jantungku nyaris berhenti saat seseorang memeluk pinggangku dari belakang. Aku tahu itu pasti dia. Ia mengusap-usap kepalanya ke punggungku dan membuatku bergidik. Aku berusaha berbalik tapi ia mencegahku. “Dengarkan aku,” katanya.

Terjadi keheningan beberapa saat sebelum ia berkata, “Aku mencintaimu. Maukah kau menikahiku?”

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Apa ia melamarku? Apa ia mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin kudengar? Apa dia?

Aku tidak perlu berpikir ulang untuk menjawabnya.

* * *
Jakarta, Indonesia

Aku berdiri di sebuah panggung besar dengan beratus-ratus orang menatapku. Aku mengenakan sebuah jubah hitam dengan topi yang berwarna sama. Aku melirik ke arah berpuluh-puluh orang di sampingku. Mereka memakai pakaian yang sama denganku dan aku bisa melihat ekspresi bangga terpancar dari wajah mereka.

Aku bisa melihat kedua orang tuaku dan adikku duduk di barisan depan penonton dengan penuh bangga. Aku bahkan bisa melihat ibuku mengusap air mata harunya dengan sapu tangan. Aku tersenyum lebar. Aku diwisuda hari ini.

Ternyata usahaku tidak sia-sia. Setelah empat tahun belajar keras, aku berhasil lulus kuliah dan menjadi seorang sarjana ekonomi, hal yang sudah lama kuidam-idamkan. Aku begitu senang hari ini sampai tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya mendengar pidato singkat dari dekan fakultas ekonomi dengan setengah hati. Aku sudah melayang-layang hingga tiba saat pembagian sebuah gulungan kertas, hasil jerih payahku selama empat tahun.

Tanganku gemetar saat seorang bapak memberikan gulungan kertas itu dan menyalamiku. Aku menangis terharu. Aku begitu bahagia.

Aku terbangun begitu mendengar seseorang mengigau dalam tidurnya. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan baru menyadari bahwa aku tertidur di meja, berbantalkan buku ekonomi. Aku melihat jam dinding dengan bantuan sinar redup dari lampu lentera di sampingku. Pukul tiga pagi. Rupanya aku tertidur saat sedang belajar. Aku terjaga dan menyingkirkan rambut panjangku yang menutupi mata.

Aku menoleh ke belakang dan melihat tiga orang yang sangat kusayangi sedang terlelap. Ayahku, ibuku, dan adik perempuanku. Aku tersenyum melihat mereka bertiga dan sedikit kaget begitu adikku mulai mengigau lagi.

Aku teringat dengan mimpiku lagi. Aku diwisuda menjadi seorang sarjana ekonomi. Apakah itu mungkin? Aku bukan orang yang berpunya. Aku tinggal di sebuah rumah petak kecil yang hanya terdiri dari dua ruangan. Satu kamar mendi dan satu ruangan serba guna, di mana aku dan keluargaku tidur dan melakukan aktivitas kami sehari-hari. Ayahku hanya seorang tukang becak yang tidak tentu penghasilannya, sementara ibuku hanya seorang buruh cuci.

Aku bisa bersekolah sampai SMA itu karena adanya bantuan operasional sekolah yang kadang-kadang juga dikorupsi. Kuliah? Setelah lulus SMA, aku tidak memikirkan kuliah. Biayanya terlalu mahal. Aku mungkin hanya akan bekerja di sebuah pabrik setamat SMA beberapa bulan lagi.

Aku menoleh ke arah meja tempatku belajar tadi. Sebuah buku ekonomi lusuh dan bekas terbuka lebar dan memantulkan gambar-gambar kurva yang menarik. Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional. Sejauh ini, aku lancar-lancar saja dalam menghadapinya. Dan hari ini adalah pelajaran ekonomi yang menjadi pelajaran favoritku.

Aku menghela napas. Begitu mendapat mimpi tadi, aku merasakan ada suatu semangat timbul dari dalam diriku. Rasanya aku mendapat suatu semangat bahwa aku tidak boleh menyerah. Aku pasti bisa kuliah entah dengan cara bagaimana, aku sendiri juga tidak akan memikirkannya. Yang harus aku lakukan sekarang adalah belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi pelajaran ekonomi.

“Semangat!” kataku dengan penuh semangat.

* * *
Aku tersenyum saat melihat ketiga layar di depanku memantulkan gambar-gambar mimpi seorang remaja laki-laki, seorang pria, dan seorang gadis remaja dari belahan dunia yang berbeda. Mereka adalah orang yang beruntung yang kuberi mimpi indah pada malam mereka.

Namaku Morpheus. Yang tertua dari para Oneiroi dan pembantu Hypnos, dewa tidur. Aku adalah dewa mimpi. Aku nyaris tidak bisa beristirahat setiap hari karena harus memberi mimpi-mimpi bagi para manusia, entah itu mimpi baik atau mimpi buruk bersama saudara-saudaraku, Icelus dan Phantalos.

Mimpi? Apa mimpi itu? Aku sendiri sebagai dewa mimpi kadang tidak mengerti apa yang dimaksud mimpi itu. Yang aku tahu hanyalah mimpi memiliki kekuatan yang melebihi senjata tercanggih mana pun. Bahkan para dewa Olympus pun tak berdaya saat mereka berada dalam teritoriku.

Mimpi memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang seseorang atas hidupnya, seperti yang terjadi pada remaja dari Jepang itu. Mimpi adalah pertanda sebuah peristiwa yang akan terjadi, seperti yang terjadi pada pria dari Amerika Serikat itu. Dan mimpi mampu memberi semangat kepada orang yang putus asa, seperti yang terjadi pada gadis dari Indonesia itu.

Aku melihat jutaan layar plasma yang berada di hadapanku. Ada beribu-ribu tombol rumit di depanku yang berfungsi memberikan mimpi bagi manusia. Aku masih punya tugas yang banyak selain menonton mimpi ketiga orang itu. Aku melihat ketiga orang yang sudah terjaga itu untuk terakhir kalinya sebelum memencet sebuah tombol dan ketiga layar itu terangkat ke atas digantikan tiga layar baru yang turun dari atas dan aku mulai mengamatinya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Riesling
Riesling at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (7 years 40 weeks ago)
80

Nice. Apalagi bagian kedua~~

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (7 years 40 weeks ago)

Iye... iye... kalo soal Yaoi-Yaoi an emang kau yang suka, Ling -__-

Writer MelZhi
MelZhi at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (7 years 47 weeks ago)
90

Sampai sebelum Morpheus menampilkan diri, saya pikir pemilik mimpi kedua adalah wanita! Astaga, betapa bodohnya. Padahal udah ada clue, yaitu baju bertebaran yang entah punya siapa dan pas dia ngaca—muncul wajah cowok pirang di cermin (ketika saya baca ini saya kira si ‘wanita’ sedang memikirkan pria lain). Mungkin ini efek tokoh yang tak diberi nama. Atau otak saya yang lemot? Hahaha.
Overall, ceritanya bagus . Dan saya setuju sama chie khusus bagian endingnya.
Oh iya, salam kenal, Kak.
Kalo berminat, boleh juga mampir ke cerita saya di sini; http://www.kemudian.com/node/255062
Saya akan senang sekali kalau Kakak mau berkomentar.

Writer kutchings
kutchings at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 1 week ago)
80

lupa ngasih point tadi :(

Writer kutchings
kutchings at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 1 week ago)

cerita yang bagus...

walau cerita yang kedua ga terlalu suka gue

(maklum gua dulu pernah nyantri) jadi ya lo tau lah....

morpheous tuh dewa apa yah dalam mitologi yunani??

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 1 week ago)

Hahaha... Gak apa2. Yah, cuman emang di sono, pernikahan sesama jenis emang dilegalkan sih.
.
Morpheus adalah anak tertua dari Nyx, dewi malam. Saudaranya Icelus dan Phantalos dan mereka bertiga sering disebut Oneiroi. Morpheus adalah dewa mimpi, sedangkan tugas adiknya juga berhubungan dengan mimpi (saya lupa apa, tapi ada yang ngasih mimpi buruk). Obat morfin diambil dari nama dewa ini karena memberikan efek yang mirip saat kita sedang bermimpi

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 1 week ago)
80

setuju dengan chie_chan. ceritamu menarik, cuma terlalu banyak penggunaan kata "aku" di awal kalimat. jadi terkesan byk pengulangan saat membaca :)
overall ceritamu bgsss :)
salam kenal ya

Writer liza is rin
liza is rin at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 2 weeks ago)
100

maaf, kak. baru muncul sekarang *ditendang gara2 telat banget*. tapi aku suka kok dengan konsep kakak. awalnya aku jga berpikir kalau diantara ketiga cerita ini, memiliki hubungan. eehh, gak taunya mlah lari ke morpheus. kreatif dan cerdik. haha..
oh ya, kak. mampir ya, di bab 1 edisi revisiku. http://www.kemudian.com/node/255109

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 2 weeks ago)

gak papa kok telat. daripada tidak sama sekali ^^
.
anyway, makasih udah baca

Writer triboy
triboy at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 2 weeks ago)
60

idenya bagus...cuma emang terkesan terburu-buru dan dipaksakan supaya cepat selesai....karena emang dibatasi yah kata-katanya supaya lulus sensor? hehehe...
Kalau dilanjutin tuh bisa jadi sebuah novel yang luar biasa, seperti flmnya Brad Pitt yang judulnya "BABEL", ada tiga cerita yang akhirnya membentuk satu ending yang bagus.
ku kasih nilai bagus deh untuk idenya.

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 2 weeks ago)

thx for the comment

Writer brainhacker
brainhacker at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 3 weeks ago)
80

Aku sedang dalam perjalanan silaturahmi ke semua penggarap cerpen mimpi. Luar biasa. Semuanya istimewa.
.
Tentu saja punya kamu juga istimewa. Sukses selalu!

Writer Chie_chan
Chie_chan at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 3 weeks ago)
70

sudah kubaca. cuma ada dua hal yang mau kukritik dari cerita ini. aku selalu berusaha ngasih kritik sebisanya setiap kali membaca suatu cerita, dan maka itu sebelumnya aku minta maaf dulu kalau-kalau nanti muncul kata-kataku yg ga berkenan atau kepedesan. hehehe
.
.
pertama, awal-awalnya (dengan sangat menyesal) aku ga merasa menemukan sesuatu yg spesial2 banget dari cerita ini. atau mungkin ini karena contoh-contoh kasus 'mimpi' yang kauambil berdasarkan yang sudah banyak terjadi di sekitar kita, makanya ga ada hal 'baru' yang kutemuin di sini. atau mungkin juga aku cuma kecewa gara2 cerita ini terlalu realistis dan tipikal untuk ukuran 'mimpi.' tapi percayalah, ending yang kaupakai benar-benar menyelamatkan cerita ini.
.
.
kemudian, aku juga menyarankan kau lebih banyak memakai kalimat pasif. gaya bahasa orang berbeda-beda sih, tapi yang pasti aku merasa ganjil baca ceritamu yang hampir setiap kalimat serta paragrafnya diawali dengan kata 'aku'. ga tau deh untuk pembaca lain, tapi aku merasa jadinya kurang begitu mengalir.
.
.
selain itu, emosinya dapet kok. deskripsinya juga lumayan. sisanya, paling2 aku nyaranin supaya kau lebih berhati2 dalam menuliskan kata sifat dan kata benda. misalnya "tersenyum pelan" dan "menatap dengan penuh bahagia" yang kutemuin di sana. tersenyum, pada dasarnya adalah pekerjaan tanpa suara, karena itu kata pelan rasanya kurang pas di sana soalnya pelan artinya menimbulkan bunyi walau sedikit. kecuali tertawa atau meringis. sedangkan bahagia itu kata sifat, kata bendanya adalah kebahagiaan.
.
.
baiklah, sekian sesi ngebawel saya di sini. semoga bisa dijadikan bahan pembelajaran. salam kenal ya, dansou. kip writing dan kip semangat! :)

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 3 weeks ago)

nggak apa-apa, kak chie. saya justru merasa senang kalau ada yang mengkritik karena bisa membuat saya berkembang ^^
.
terlalu realistis ya? saya sendiri juga bingung gimana bikin mimpi yang gak realistis. soalnya kalau saya sendiri mimpi, justru malah berkisar saya dan teman2 sekolah. jadi ngga ada bedanya sama dunia nyata. sekalinya gak realistis, itu adalah terjun dari tempat tinggi, dan ternyata saya jatuh dari kasur. tapi untung kak chie suka endingnya. wkwkwkwk *ngeles*.
.
kalimat pasif ya? kalau saya sih prinsipnya kalimat harus berpola SPOK. ternyata gitu ngefek ya ke cerita. baiklah. saya akan berusaha membuat kalimat pasif. tapi kalau dibuat kalimat pasif semua sama aja dong.
.
eh? ada kata tersenyum pelan? saya yang nulis malah ngga sadar *plak*. kalau tersenyum pelan bukan termasuk sinestesia ya? saya pikir termasuk sinestesia. ah, yang "menatap penuh bahagia" mungkin memang seharusnya "penuh kebahagiaan" ya?
.
makasiiiiih banyaaak buat kritik dan sarannya. akhirnya ada yang ngasih komen puanjaaang. kalo cuma satu kata, gimana saya tahu di mana salah karya saya dong ^^

Writer wellight
wellight at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
80

aku brfikir kalau dansou(naruto) seramah km,psti gak bakal ada konflik di konoha,haha
keren ceritanya,awalnya aku udah nyiapin angan view kayak slam dunk ato fruitbasket,eh gak taunya da 3 cerita dsni.
Kalo kata rianti mah, good job! I like it!

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 3 weeks ago)

*kucek2 mata* saya? Ramah? Hohoho. Saya jadi malu
.
Jadi mikirnya ke arah Slam Dunk ya? Wkwkwk. Bukan! Eh, emang Fruit Basket ada basket ya? Setahu saya itu romance deh *ngarang*

Writer wellight
wellight at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 3 weeks ago)

hahaha
my bad Dan-kun
bukan fruit basket tp Real ma Dear Boys
Gomenasai, amnesia aku
fruit basket mah cinta2annya para siluman
haha

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 3 weeks ago)

Gak apa2 Wel-kun. Iya kalo Dear Boys emang2 basket gitu. Aku malah baru tahu Fruits Basket itu cinta2an siluman. Hihihi

Writer Shinichi
Shinichi at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
80

sukak saia niy :D
ahak hak hak

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

aduh sampai sang panglima mau membaca cerita saya. makasih banyak *membungkuk dalam2*

Writer cat
cat at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
80

Wooooow ceritanya banyak bermacam2.

Saya seneng banyak dapat bacaan yang baguuuss.

Semanghat

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Ah makasih udah baca. Event ini memiliki cerita2 yang bagus ya. Saya juga senang!

Writer 145
145 at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
90

Heee pertama kukira ada hubungannya dengan Matrix :)
Ternyata idenya dari Indiana Gufi dan Miki ahahaha.
-
Meski demikian kurasa cerita ini ditulis dan dikembangkan dengan sangat baik.
-
Good Job

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Makasih banyak. Ah Morpheus yang di Matrix emang ngambil nama dari mitologi Yunani.
.
Kata morfin juga berasal dari Morpheus lho #penting

Writer lavender
lavender at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
80

very nice... mirip dengan konsep yang ingin kubuat.. tapi udah keduluan.. hehehe.. ga jadi deh...

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

maaf ya.... tapi pasti punya kak lav jauh lebih bagus :D

Writer ardeliakarisa
ardeliakarisa at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
60

bagus banget :D

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Makasih banyak udah baca ^^

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
90

hahaha... wow keren, konsepnya beda. kirain apa hubungan ketiga karakter itu, mimpi ternyata, dan yang mengendalikan semuanya Morpheus, hehe... nice job

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Wah, makasih banyak. Saya jadi malu

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
80

Ternyata ada juga yang make konsep 3 cerita kaya saya..
Saya kira awalnya ketiga cerita ini ada hubungan antar karakternya, tapi ternyata yang menghubungkan itu semua adalah layar plasma dan seorang higher being, hahaha
.
Keep writing~

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Ah iya. Cerpenmu juga pakai model tiga cerita yang berbeda ya.
.
Kayaknya keren aja kalau ada yang mengendalikan mimpi manusia. Para ahli sendiri masih dibikin bingung dengan mimpi.
.
Makasih atas komennya

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Hehe, saya juga baca lho cerita Miki dan Indiana Gufi (ya ampun, tuh komik udah lama banget)
.
Hmm, pengendali mimpi ya? Boleh juga ya, walau saya pribadi lebih beranggapan kalau 'mimpi' itu adalah 'dunia' yang diciptakan oleh alam bawah sadar setiap manusia. Makanya mimpi tiap orang bisa beda2, karena dunia mereka semua beda2
.
Tapi saya pernah lho mimpi hal yang sama dengan temen saya, yang ketika saya tanyain esok paginya, dia juga kaget pas tahu mimpi saya 'bareng' sama mimpi dia (ups, jadi OOT)

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

yang nyari morpheus juga? iya udah lama banget, saya bacanya di edisi nostalgia sih. lupa saya taruh mana bukunya. jadi pengin baca lagi. saya cari lagi ah.
.

yang bener? masa mimpinya bisa sama sih? jangan2 kalian berjodoh? *apa sih*

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Jodoh saia bukan Sam_Riilme
.
Btw, saia belom baca sampe abis, eh nemu komen gini. Hahah, tunggu bentar ya...

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Hahaha... Loh ternyata mimpi kalian berdua toh yang sama. Keren2. Tapi itu berarti ada sesuatu di antara kalian berdua :p

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
90

wah, jadi 3 in 1 nih he3...
bagus...

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)

Makasih banyak

Writer dansou
dansou at Cerpen Mimpi: Namaku Morpheus (8 years 4 weeks ago)
90

Hai saya kembali! Ada yang merindukan saya? *plak*. Akhirnya ujian telah usai. Dan untuk merayakannya saya ingin meramaikan event di kemudian.com. Cerita-cerita lainnya bagus-bagus, bikin saya iri.
.
Saya dapat inspirasi ini waktu baca cerita Miki dan Indiana Gufi yang mencari Morpheus, dewa mimpi dan ternyata ia hanyalah sebuah program. Mungkin ada cerita yang mirip dengan ini saya mohon maaf karena saya tidak tahu.
.
Morpheus adalah anak Nyx, dewi malam. Kalau yang main P3 pasti tahu siapa Nyx itu. Ah, saya mohon maaf kalau ternyata ada salah kata dalam mitologi Yunani. Karena Morpheus adalah dewa minor, sedikit data yang saya dapat.
.
Akhir kata, mohon kritik dan sarannya