Persona: Sacrifice. Chapter 7

Takahashi Akira, Karino Kei, Nagano Ayumi 6 years old

Next Target

Ruangan itu begitu besar sehingga jika ada orang yang ingin menumpuk seratus buah mobil, ruangan itu mampu menampungnya. Cahaya yang menerangi ruangan itu berasal dari lampu yang begitu redup dan nyaris mati. Udara di dalamnya begitu dingin meski saat itu musim semi.

            Mesin-mesin dan peralatan-peralatan aneh memenuhi ruangan itu. Rasanya ruangan itu seperti ruangan bekas laboratorium sebab terdapat berak-rak tabung reaksi dari kaca, tabung-tabung yang kosong isinya, dan ada satu benda—sebuah mesin, tepatnya—yang benar-benar menarik perhatian. Sebuah mesin asing yang entah apa fungsinya. Bentuknya seperti kursi yang biasa ditemukan di dokter gigi hanya saja ada berpuluh-puluh slang berukuran sedang yang tersambung ke sebuah benda berbentuk seperti helm yang ada di sandaran atas kursi itu. Ujung slang-slang yang lainnya terhubung ke berpuluh-puluh tabung aluminium dengan selimut kaca tembus pandang yang berisi cairan hijau menjijikkan dengan gelembung-gelemnbung yang menari di dalamnya. Cairan itu memantulkan warna hijau temaram akibat cahaya lampu yang redup, membuat beberapa bagian dinding yang hangus menjadi lebih gelap. Di antara tabung-tabung tersebut, ada tiga buah tabung yang berisi sebuah benda berukuran kepalan tangan orang dewasa dan berwarna merah tua. Benda itu seharusnya tidak diletakkan dalam tabung-tabung itu. Benda itu seharusnya berdenyut, tapi ia hanya melayang dalam cairan tabung.

            Di sudut ruangan, terlindungi dari cahaya pucat lampu, terdengar sejumlah orang yang sedang duduk dan bercakap-cakap dengan nada yang tampak serius.

            “Sejujurnya,” kata suara pertama. Suara seorang pria dewasa yang serak. Dari suaranya ia terdengar seperti orang yang berusia paruh baya. Ia tampak disegani sebab tidak terdengar percakapan lainnya saat ia bicara. Pria itu melanjutkan, “aku kecewa dengan cara kerja kalian yang lambat.”

            Tidak terdengar sepatah kata pun dari orang-orang di sekitarnya. Tampaknya mereka semua begitu takut dengan si pria ini.

            “Tiga orang pemilik persona dalam waktu tiga minggu?” kata pria itu lagi. “Cih! Menggelikan. Kalian benar-benar payah untuk orang yang memiliki persona.”

            “Tapi Sonoda-san,” kata suara kedua. Suaranya yang berat tampak begitu tenang meski ia tidak bisa menyembunyikan rasa takut dari suaranya. Ia melanjutkan, “Kami sudah berusaha sebaik yang kami bisa. Kami harus menunggu kiriman data mata-mata kita di SMA Naginomori untuk mencari siapa saja yang memiliki potensial.”

            Pria yang bernama Sonoda-san itu tidak berkata apa-apa. Setelah terjadi keheningan selama beberapa saat, ia berkata dengan keras, “Kalau begitu suruh dia bekerja dengan lebih cepat lagi. Aku tidak bisa menunggu lama-lama lagi. Aku sudah tidak sabar untuk memiliki persona-persona itu.”

            Terdengar suara kursi yang berderit, bergesekan dengan lantai luangan itu yang kusam. Kemudian pria itu membuka pintu yang berada tidak jauh dari sudut ruangan dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan orang-orang yang berbicara dengannya sendirian.

            Setelah yakin bahwa pria bernama Sonoda-san itu benar-benar pergi, barulah percakapan orang-orang itu dilanjutkan. Cahaya lampu yang redup menghasilkan tiga sosok yang tampak pucat. Wajah mereka benar-benar tampak ketakutan.

            “Galak betul Sonoda-san itu,” kata satu-satunya perempuan muda yang berada dalam ruangan itu. Ia tampak begitu kesal. “Kenapa tidak ia sendiri yang mengeksekusi para pemilik persona itu? Seenaknya saja menyuruh kita cepat-cepat—“

            Perempuan itu berhenti bicara setelah mendapat tatapan tajam dari seorang laki-laki yang berkata, “Kau tidak boleh berbicara begitu, Tsubasa. Dia yang telah membiayai kita sampai sekarang ini.”

            Laki-laki itu adalah orang yang membalas perkataan Sonoda-san tadi. Tampaknya ia yang paling tua dari ketiga orang di dalam ruangan itu. Usianya mungkin sekitar dua puluh tahunan, sedangkan perempuan dan laki-laki satunya yang masih terdiam masih berusia belasan tahun.

            “Kau benar, Shouta,” kata perempuan bernama Tsubasa itu. “Tapi apa itu berarti ia bebas menyuruh kita seenaknya sendiri? Ia pikir mudah membunuh para pemilik persona itu? Kadang-kadang aku merasa enggan melakukan perbuatan kotornya.”

            “Untuk pertama kali dalam seumur hidup, Shouta, aku setuju dengan perkataan Tsubasa,” kata laki-laki yang dari tadi diam saja. Ia menyilangkan tangan di depan dadanya dan menatap laki-laki bernama Shouta dengan begitu tajam. “Ia seharusnya tidak menyuruh kita untuk terburu-buru. Kita harus menunggu kiriman data dari mata-mata kita sebelum melakukan perburuan dan kerjanya benar-benar lambat.”

            Shouta diam saja. Ia memang berpikir demikian, tapi ia tidak mengutarakannya.

            “Kenapa Sonoda-san begitu terobsesi dengan persona ini? Sampai ia tega membunuh orang untuk mendapatkannya?” kata Tsubasa. Laki-laki yang diam saja tadi menatapnya dengan heran. “Baiklah, Takeshi, aku ralat. Kenapa ia tega menyuruh kita untuk mendapatkan persona?”

            Takeshi tersenyum puas, sedangkan Shota melihat mesin dengan tabung di depannya dengan ekspresi hampa.

            “Kau tahu ruangan apa ini, Tsubasa?” kata Shouta. “Sekitar lima belas tahun lalu di tempat ini dilakukan penelitian rahasia mengenai persona. Sonoda-san salah satu dari para peneliti itu. Hanya saja penelitian itu gagal dan mengakibatkan laboratorium meledak. Kau masih bisa melihat bekas hangusnya di dinding ini. Untungnya mereka berhasil menyelamatkan beberapa penemuan penting, seperti mesin itu.”

            Shouta menunjuk mesin yang terhubung dengan slang dan tabung berisi cairan hijau di depannya. Tsubasa dan Takeshi melihat mesin itu sekilas kemudian beralih ke Shouta lagi.

            “Ya, ya, kau sudah menceritakan kerja mesin itu. Ia mampu mentransfer persona ke orang lain dengan medium jantung bla bla bla,” kata Takeshi dengan nada jenuh. “Kenapa mereka tidak melanjutkan hasil penelitian mereka?”

            Shouta tersenyum. “Menurutmu kenapa? Sudah jelas karena tidak ada sponsor. Mereka terpaksa menutup laboratorium dan meletakkan mesin itu di sini. Jelas tidak ada yang mau membawa mesin itu pulang ke rumah mereka, kan.”

            “Apa mesin itu bekerja?” tanya Tsubasa.

            “Entahlah.” Shouta mengangkat bahunya pertanda ia tidak tahu. “Aku tidak tahu bagaimana mekanismenya. Hanya Sonoda-san yang tahu dan aku tidak mau menanyainya.”

            Takeshi menatap mesin itu lagi dan berkata, “Kau belum menceritakan soal kenapa Sonoda-san begitu terobsesi dengan persona. Ia tampaknya begitu bernafsu untuk memiliki persona. Kenapa?”

            “Soal itu, aku tidak tahu,” kata Shouta. Ia kemudian melirik laptop di sampingnya sekilas yang mengeluarkan bunyi ‘biip’ pelan. “Dan tampaknya kita mendapat email baru. Kuharap tidak berisi promosi produk kecantikan.”

            Shouta membuka laptopnya, memantulkan cahaya monitor ke matanya. Setelah mengeklik beberapa bagian, ia tersenyum puas. “Kita mendapat buruan baru lagi.”

            Tsubasa dan Takeshi langsung bangkit dari kursi mereka dan berdiri di belakang Shouta.

            “Apa-apaan ini? Kenapa seorang gadis?” protes Tsubasa sambil menunjuk monitor. “Aku tidak mau mengeksekusinya.”

            Takeshi menatap Tsubasa dengan heran dan berkata, “Kalau kau tidak mau mengeksekusinya, biar aku saja yang melakukannya.”

            “Tidak, Takeshi!” kata Shouta. “Biar aku saja yang melakukannya. Gadis ini benar-benar tipeku. Lagipula personaku juga butuh latihan.”

            Tsubasa mengamati layar monitor dengan lebih teliti dan sedikit terkejut. “Lihat! Ia memeringatkan kita soal anak yang sudah membangkitkan persona mereka. Jangan sampai berurusan dengan mereka. Sial.”

            Takeshi malah tertawa terbahak-bahak. “Justru aku malah ingin berurusan dengan mereka.”

            Shouta menengahi mereka berdua. “Sudahlah. Kita belum akan berburu. Polisi masih menyeldiki pembunuhan kemarin. Kita hanya mengawasi target selanjutnya beberapa hari ini.”

            Shouta mengamati monitornya sekali lagi. Sebuah foto seorang gadis ada di dalamnya dengan label nama bertuliskan ‘Yamada Shizuka’.

* * *

“Aku pulang!” kata Jun. Ia melepas sepatunya dan segera berlari di koridor rumah. “Otosan? Okasan? Akira-niichan?”

            “Ah, selamat datang!” kata Akira dari tangga. “Ojisan dan Obasan sedang pergi ke rumah teman mereka di Toriya. Katanya mereka akan pulang terlambat malam ini.”

             Jun mengangguk. Ia kemudian memejamkan matanya dan kemudian berkata, “Siapa yang berada di atas, Oniichan?”

            Akira sedikit terkejut dan kemudian ia tersenyum. Ia kemudian berkata, “Ah, aku tidak perlu meragukan kemampuanmu, Jun. Meski aku sudah menyembunyikan sepatu Daichi, kau masih bisa merasakan kehadirannya. luar biasa.” Akira berjalan turun dari tangga dan memandang ke atas dan berkata, “Daichi, turunlah!”

            Sosok Daichi yang masih memakai seragam sekolah berjalan menuruni tangga. Ia tersenyum lebar dan berkata, “Hai, Jun. Maaf mengganggu.”

            Jun tersenyum. “Apa kau sudah baikan, Toyama-san?”

            “Panggil Daichi saja, Jun,” kata Daichi. “Berkat kau, aku baik-baik saja. Terima kasih telah menyelamatkanku kemarin.”

            “Jun,” kata Akira. Ia benar-benar tampak serius. “Kau mandilah dulu. Ada yang harus kami bicarakan denganmu. Aku tunggu di kamarku.”

            Jun tidak berkata apa-apa, tapi ia meletakkan tasnya di sofa di ruang keluarga dan bergegas ke belakang. Akira menatap Daichi dan mereka naik tangga menuju ke kamar Akira. Akira tampak begitu muram.

* * *

“Duduklah, Jun!” kata Akira begitu melihat Jun berdiri di depan pintu kamar Akira. Rambut Jun masih basah dan masih ada handuk basah tersampir di bahunya. Jun masuk dan ia duduk di samping Akira, sementara Daichi yang sedang bermain dengan ponselnya di sudut ruangan memandang Jun aneh.

            “Apa yang ingin Akira-niichan bicarakan?” tanya Jun. Ia tidak tampak gugup meski ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

            “Wali kelasku tahu mengenai persona,” kata Akira. “Namanya Hanamura-sensesi. Dan tadi pagi, saat ia seharusnya melayat Yamagishi Sora, ia memberitahuku dan Daichi tentang persona.”

            Jun tampak sedikit terkejut. “Hanamura-sensei?”

            “Benar,” kata Akira. “Dan ia juga memberitahu kami soal kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini.”

            Jun kali ini tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. “Apa yang ia ceritakan?”

            Akira menceritakan apa yang diceritakan oleh Hanamura-sensei dan Daichi membantunya saat Akira melewatkan satu dua bagian. Mulai dari kisah mengenai sebuah perusahaan yang melakukan percobaan rahasia mengenai persona, hasil percobaan mereka, dan alasan mengapa si pembunuh mengincar jantung korbannya. Jun mendengarkan penjelasan Akira dengan begitu serius.

            “Ternyata benar,” gumam Jun kepada dirinya sendiri.

            “Apanya yang benar?” tanya Akira, memandang Jun dengan tajam.

            Jun menggeleng. “Apa itu yang ingin Oniichan bicarakan?”

            “Tidak. Ada satu hal yang harus kutanyakan padamu, Jun,” kata Akira. “Dari mana kau mengetahui semua hal mengenai persona ini. Kenapa penjelasanmu mengenai persona bisa sama persis dengan penjelasan Hanamura-senesi. Jujurlah padaku, Jun! Kita menghadapi masalah serius karena menyangkut nyawa seseorang. Kumohon, Jun!”

            Jun terpana melihat Akira yang begitu putus asa mengorek keterangan darinya. Tapi Jun sudah berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan memberitahu darimana ia mengetahui semua hal ini hingga waktunya tiba. “Maafkan aku, Akira-niichan. Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Tapi aku yakin suatu saat aku akan memberitahumu. Tidak lama lagi.”

            Akira menghela napas dan berkata dengan serius, “Jun, aku mohon. Aku tidak main-main. Ini menyangkut nyawa orang, Jun.”

            “Aku berjanji, Akira-niichan. Aku akan memberitahumu suatu saat nanti.”

            “Sudahlah, Akira,” kata Daichi dari sudut ruangan. Ia menutup ponselnya dan melempar-lemparkannya ke atas. “Jangan paksa Jun. Ia sudah berjanji akan memberitahumu, kan? Yang penting sekarang adalah bagaimana cara menggunakan persona kita dan mencari orang yang memiliki potensial sebelum jantung mereka dicabut paksa oleh pembunuh itu.”

            Akira menatap Jun dan Daichi secara bergantian sebelum akhirnya menundukkan kepalanya dan berkata, “Baiklah. Aku menyerah! Sekarang bagaimana cara kami mengontrol persona kami? Dan bagaimana kami menemukan orang yang memiliki potensial?”

            “Eh?” kata Jun. “Aku rasa kalian tidak perlu mengontrol persona kalian. Kalian tinggal berkonsentrasi padanya dan aku yakin persona kalian akan menurut. Yah, memang, sih, ada beberapa tipe pembangkang, seperti milik Daichi-san, tapi dengan latihan, pasti kau akan terbiasa.”

            Daichi memejamkan matanya rapat-rapat dan berkonsentrasi. Sesosok makhluk yang sama dengan yang dilihatnya kemarin muncul, lengkap dengan rambutnya yang hijau. Sebuah kilatan petir ada di tangannya dan matanya yang hampa menatap Akira. “Sekarang, serang Akira!”

            Persona Daichi meluncur maju menuju ke arah Akira. Akira tampak begitu terkejut, tetapi persona Daichi hanya melewatinya dan menubruk rak buku yang berada di belakang Akira, mengakibatkan berpuluh-puluh buku jatuh menimpa kepala Akira. Akira terbahak, sedangkan Jun dan Daichi hanya melongo. “Benar-benar serangan yang hebat,” kata Akira. Ia mengusap kepalanya yang sedikit nyeri kemudian menata buku-bukunya kembali. Persona Daichi juga sudah lenyap setelah ia menabrak buku.

            Jun menggeleng pelan. ‘Kurasa kau perlu banyak belajar, Daichi-san.”

            Daichi menjitak kepala Jun dengan pelan. “Bagaimana mungkin ia tidak mau mengikuti perintahku?”

            “Kurasa cukup soal main-main dengan personanya,” kata Akira. Ia duduk kembali setelah menata buku-bukunya. “Sekarang bagaimana mencari orang yang memiliki persona?”

            Jun memegang kepalanya. Ia meringis pelan sebelum berkata, “Kalian belum menyadari persamaan di antara kalian berdua? Ah, mungkin aku seharusnya tidak memberitahu kalian. Soal mencari orang yang memiliki potensial itu serahkan saja padaku—“

            Perkataan Jun terpotong oleh suara dering ponsel. Daichi langsung mengambil ponsel dan wajahnya bersemu merah saat ia melihat layar ponselnya. “Ah, tunggu sebentar, Jun-kun!” katanya. Ia membuka ponselnya dan berkata, “Ada apa, Nagano-san?”

            Ekspresi Daichi yang semula begitu ceria langsung berubah menjadi pucat dan beberapa menit kemudian ia menutup ponselnya.

            “Ayumi—eng, Nagano—apa yang terjadi dengannya?” tanya Akira.

            “Yamada,” kata Daichi. “Yamada belum pulang ke asrama sejak tadi pagi. Ia tidak membawa ponselnya dan tidak ada seorang pun yang melihatnya sejak pagi tadi.”

            Jun menatap Daichi dengan tajam.

Read previous post:  
73
points
(2633 words) posted by dansou 8 years 5 weeks ago
91.25
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | FANFIC | misteri | persona | remaja
Read next post:  
Writer phantom27
phantom27 at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (6 years 36 weeks ago)
100

Yaah??? Habis??? Lanjutkan dong bung dansou.. *beg

sijojoz at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 2 weeks ago)

heii dan! gue bikin ini buat lo :D
check this out

http://www.mediafire.com/download.php?pdaw5qa855ed35d

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 1 week ago)

apaan tuh?

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 1 week ago)

WOOOOOWWWW!!!! KEREEEEEN~~~~

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 1 week ago)

Makasih banyak m(_ _)m

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 41 weeks ago)
90

Lanjutkan! Lanjutkan! Lanjutkan! (unjuk rasa XD)
Sayang banget Dansou-san nggak ngelanjutin update ini lagi. Padahal bagus.... Lanjutkan! Lanjutkan! Lanjutkan! Yeah!

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 41 weeks ago)

Kau mau nglanjutin, Mira? Saya wariskan cerita ini padamu, termasuk gimana kau mau bikin gimana endingnya. Atau mau saya email gimana plot di kepala saya? :O

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 41 weeks ago)

Wah, gimana, ya... Kalau orang lain yg bikin nanti rasanya pasti beda, takutnya malah jadi jelek kalau di tangan saya.. Dansou-sama aja yg lanjutin. Oh iya, saya/ aku br baca reply dari Tuan Dansou-sama, rupanya komentarku/ saya nyebelin ato sok tahu, ya..? Ampun, maaf..... Saya/ aku ini cuma penulis amatiran gak jelas....

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 41 weeks ago)

siapa bilang nyebelin? Enggak kok. Saya malah seneng banget karena ternyata ada yang doyan persona juga ^^

Writer HastiSkarsih
HastiSkarsih at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 40 weeks ago)

wah ini neh penulis yang tidak bertanggungjawab, di selesaikan dong :))))

Writer ianz_doank
ianz_doank at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 51 weeks ago)

akhirnya selesai jg baca persona chapter 1 smpe 7, smuanya keren..

Ditunggu kelanjutannya ya..
Saya tau persona dari game temen sih, jg agak2 ngeh gmana bntuk persona..

Writer ianz_doank
ianz_doank at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (7 years 51 weeks ago)
100

akhirnya selesai jg baca persona chapter 1 smpe 7, smuanya keren..

Ditunggu kelanjutannya ya..
Saya tau persona dari game temen sih, jg agak2 ngeh gmana bntuk persona..

Writer liza is rin
liza is rin at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (8 years 2 weeks ago)
100

great. cra kakak menggambarkan ciri2 masing2 tokoh dan personanya keren banget.Dan sampai saat ini, aku mnjadi amat sangat tertark untuk mengetahui apa itu persona. hhe.. lanjutkan kakak. aku menunggu chapter selanjtnya. ^^

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (8 years 3 weeks ago)
90

pengen leat gambar kamu >.< repost donk *maksa*
cerita ini tetap bagus kok. gak aneh2 banget lar, toh aku juga gak nemuin bagian mana yang rasa gak sreg, apa yang menurut kamu kurang, tambahkan aja ke bagian2 selanjutnya, setiap bagian akan melengkapi yang lainnya. oke, aku tunggu next chapter nya ya

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (8 years 3 weeks ago)

Ah seperti biasa komentar2 Saddie selalu manis dan baik hati. Saya senang sekali >,<.
.
Saya malah bersyukur gambarnya gak keluar. Jelek sih. Saya kan malu. Hehehe.
.
Tunggu lanjutannya ya

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (8 years 3 weeks ago)
80

gambarnya nggak keluar ya...
.
rasanya kok chapter ini buru-buru ya... entah di mananya

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (8 years 3 weeks ago)

makanya itu... *sigh*. saya sendiri juga bingung kenapa bisa gitu *plak*. baiklah!!!! saya akan berusaha lagi di chapter berikutnya. saya mohon kesabarannya.
.
soal gambar, waktu saya upload keluar sih. tapi kenapa waktu saya lihat lagi gak ada, ya. hehehehe...
.
FIREEEE!!!

Writer dansou
dansou at Persona: Sacrifice. Chapter 7 (8 years 3 weeks ago)
90

akhirnya selesai juga chapter 7 yang penuh dengan perjuangan. idenya sih ngga mampet tapi entah kenapa waktu mau nulis itu rasanya males banget. jujur saja, waktu nulis ini saya merasa ngga yakin. chapter 7 ini rasanya aneh aja menurut saya.
.
saya nyoba bayangin gimana mukanya Akira, Kei, ama Ayumi waktu umur 6 tahun, dan hasilnya seperti ini. Saya ngga begitu pinter gambar, sih, tapi paling ngga ada ilustrasinya sedikit *tampar*
.
saya mohon dibantai cerita saya ini