Apel (an apple a day keeps the doctor away!)

 

 “Chi!”

Aku menatap teman kerjaku. Kubiarkan desahan pelan keluar dari sela-sela mulutku sambil memperhatikan tangan kecil si wanita meraih tisu untuk menyeka hidung. Benar-benar, orang ini. Tak hanya rambut coklatnya yang begitu manis, tetapi juga perangainya, dan bahkan bersinnya! Oh Tuhan, begitu imut! Kekanakan! Cocok sekali dengan tubuh pendek dan wajahnya, yang seharusnya hanya boleh dimiliki perempuan yang berusia 10 tahun lebih muda dari umurnya sekarang.

“Flu?” tanyaku, berusaha tidak terdengar kelewat khawatir.

“He-eh,” dengusnya dengan mimik muka yang membuatku ingin sekali melompati kedua meja kerja kami yang berseberangan, agar bisa memeluknya. Setengah kasihan, setengah tak tahan disuguhi keimutan secara terus-menerus seperti ini.

“Chi!” Ia bersin lagi.

Kesempatan, pikirku, “Mungkin kamu kurang vitamin C?” kukeluarkan apel merah yang ranum dari kotak bekalku, “Nih. An apple a day keeps the doctor away!” senandungku riang sambil mengulurkan apel itu kepadanya.

Ia tertawa kecil dan mengambil apel yang kutawarkan padanya, lalu berkata sambil tersenyum, “Makasih ya, kamu perhatian sekaa- aa- Chi!” lagi, bersin yang imut itu.

Aku kembali ke mejaku dengan hati berbunga-bunga, dari sudut mataku aku melihat ia meletakkan apel itu di atas selembar tisu bersih. Aku tahu ia tidak akan langsung memakan apel itu. Ia baru akan menyentuh apel itu kembali setelah pekerjaannya hari ini tuntas. Keseriusannya yang cenderung obsesif dalam melaksanakan aturan dan menyelesaikan pekerjaan adalah satu dari sedikit bagian dirinya yang tidak cocok dengan sosok kekanakannya.

Berapa lamapun aku mengulur waktu pulang agar bisa pulang bersamanya, aku tak berhasil mengalahkan semangatnya untuk bekerja, bahkan saat kondisinya sedang lebih lemah dari biasanya akibat flu. Setelah 2 jam lebih melayani ABG yang sedang mencari pacar di sebuah forum online untuk menghilangkan bosan, aku menyerah. Saat aku menyeret kakiku untuk meninggalkan ruang kerja kami, apel itu masih berdiri tegak beralaskan tisu, menunggu disantap.

Esok harinya, hidungnya masih merah dan ia tetap bersin –dengan imut- berulang kali. Kesempatan lain untukku dalam kesulitannya. Aku memberinya apel lagi. Apel mungkin bukan hadiah yang mahal, tetapi kurasa tetap bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan hubungan kami yang tidak juga melewati tingkatan teman biasa.

Beberapa hari setelahnya, ia akhirnya sembuh dari flu. Aku belum bisa merelakan tak lagi mendengar bersin-bersinnya yang manis, tetapi bahkan setelah aku berhenti mendengar bersin-bersin itu, aku berhasil tetap mempertahankan kebiasaan baruku untuk memberikan apel padanya setiap hari. Sayang sekali apel-apel itu bukan apel putri salju yang bisa membuatnya tertidur pulas saat hanya sedang berdua denganku, tetapi paling tidak ritual pemberian apel ini membuatnya berbicara lebih banyak kepadaku.

Kami menjadi lebih dekat. Belum sedekat yang aku inginkan, tapi aku cukup puas. Bahagia.

Bahagia.

Sampai ia mengulurkan amplop itu. Amplop krem dengan motif batik coklat muda.

Tadinya aku girang bukan kepalang, jantungku berdebar penuh pertanyaan, juga harapan, tak percaya bahwa untuk pertama kalinya, ditengah jam kerja pula, ia rela menyediakan waktu untuk menyeberangi meja-meja kerja kami dan menghampiriku. Tapi saat ia mengulurkan amplop itu, firasat burukku mulai mengambang ke permukaan.

Aku meraih amplop itu, “Apa ini?” tanyaku saat ia hanya tersenyum tanpa menawarkan penjelasan dalam bentuk kata-kata.

“Undangan ke pernikahanku,” aku ingin sekali, ingin sekali, menusukkan cutter di laciku, atau gunting di atas mejaku, atau benda tajam manapun dalam jangkauanku, ke dadaku. Ingin sekali. Karena aku yakin, tusukan itu tak akan seperih, sesakit dampak dari tiga kata yang ia hujamkan tanpa belas kasihan padaku.

“Dengan siapa?” pertanyaan itu keluar dari mulutku, tapi aku tak merasa telah melontarkannya. Sebenarnya, aku tak bisa lagi merasakan kontrol atas tubuhku.

“Dokter yang kudatangi saat aku sakit flu beberapa bulan lalu,” ia masih tersenyum. Bahagia. Semakin bahagia dengan tiap kata yang terucap. Semakin bahagia dengan tiap kata yang menikam perasaanku.

Aku iri. Bagaimana bisa dokter itu berhasil mengajaknya menikah hanya dalam beberapa bulan sejak pertemuan mereka?

“Jadi ternyata apel-apel itu tidak bisa mengusir dokter, ya?” aku tertawa, menertawakan diri sendiri, menertawakan peribahasa yang ternyata salah.

“Oh! Sebenarnya aku percaya apel bisa membuat seseorang jauh dari dokter,” ia tertawa kecil, “Di rumah sakit tempat tunanganku bekerja, dokter perempuannya cantik-cantik. Tapi kata suster-suster di rumah sakit itu, tunanganku ini nggak pernah melihat dokter-dokter itu, seakan-akan tidak ada wanita lain untuknya. Hanya aku.”

Aku tidak mengerti, “Kenapa malah..” sulit sekali untuk mengucapkan kata itu, setelah ia mengucapkannya dengan rasa sayang yang tidak ditutup-tutupi, “..tunanganmu.. yang jauh dari dokter?”

Ia tampak kaget, lalu akhirnya tersenyum kecil dan meminta maaf, “Sebenarnya aku selalu memberikan apel darimu kepada tunanganku,” ia menunduk, mukanya memerah, sepertinya agak malu, “Aku tidak suka apel..” lalu ia mengangkat kepalanya dan meneruskan dengan ceria, “Tapi tenang saja, aku setiap hari minum tablet vitamin C!”

“Oh begitu,” aku menekuk paksa tepi-tepi bibirku ke atas, “Ah, selamat ya atas pernikahanmu,” aku berdiri untuk memeluknya, selagi ia belum sepenuhnya jadi milik dokter itu.

“Sebenarnya aku masih kurang yakin,” suasanya hatinya tampaknya sangat baik, sebab ia terus berbicara saat menyeberangi ruangan untuk kembali ke meja kerjanya, “Memangnya dalam apel ada vitamin C-nya ya?”

“Mungkin, aku juga tidak yakin,” sebenarnya aku tidak peduli dengan vitamin C. Tapi seharusnya apel itu menjauhkannya dari dokter.

Seharusnya ia memakan apel-apel yang kuberikan.

Seharusnya ia tidak bertemu dokter itu.

Seharusnya ia memakan apel-apel yang kuberikan.

Seharusnya dokter itu tidak perlu ada dalam kehidupannya.

Seharusnya ia memakan apel-apel yang kuberikan.

Seharusnya ia tidak menyerahkan sisa hidupnya pada dokter itu.

Seharusnya ia memakan apel-apel yang kuberikan.

Seharusnya kami bisa bersama.

“Aduh, punyaku patah,” ia mengangkat sebuah benda kecil agar terlihat olehku, “Padahal aku mau siap-siap pergi fitting gaun pengantin.. Boleh pinjam punyamu?”

“Boleh kok,” aku meraih kotak kecil di dalam tas tanganku.

Ia berjalan ke arahku, tampak begitu gembira hingga langkahnya tak jauh berbeda dengan lompatan, “Trims ya say!”

Say.

Sayang.

Padahal seharusnya kami bisa saling menyayangi.

Saling mencintai.

Ia berjalan keluar membawa tas kerjanya, meninggalkanku sendirian untuk menangis di ruang kerja kami sepanjang sisa hari itu. Hanya ditemani apel yang tadinya akan kuberikan padanya.

Ia pergi, untuk menemui dokter - pria - yang dicintainya, dan mungkin malam nanti mencium pria itu dengan bibir berwarna merah apel.

Bibir yang dipoles dengan lipstick milikku.

Read previous post:  
73
points
(1149 words) posted by fiola 3 years 4 weeks ago
81.1111
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | cinta terlarang | lamaran
Read next post:  
80

so sweet. ahahaha. saya baru mampir sekarang -_-

80

cintanya tu kata pribahasa 'gajah dipelupuk mata tak kelihatan tapi semut diseberang lautan jelas kelihatan'
-hehe-

80

Hmmm surprising ending..