Fantasy Fiesta 2011 - REOG

Barong vs Ragil vs Reog

 

 

 

 

 

 

Suatu malam, remang-remang lampu mewarnai ruang tengah rumah kos murah di gang sempit di selatan Kota Jakarta, dekat Depok.  

            Di sana, suara celoteh anak-anak kos yang duduk-duduk di ruangan itu bagai dengungan selaksa lebah, dan satu-satunya suara yang cukup jelas terdengar adalah suara penyiar berita di televisi.

            “Topeng Reog, pusaka bersejarah yang dipercaya adalah topeng asli tokoh dalam legenda Reog Ponorogo hilang dicuri dari Museum Nasional pagi tadi. Pihak museum menyatakan, lemari kacanya pecah berantakan tapi tak ada penjaga yang terluka...”

            “Hei, Bondan! Ini nih, makanan lo! Lo lagi meneliti tentang Reog Ponorogo, kan?” seru seorang pemuda bertampang kumal sambil menengok ke belakang.

            “Mana, mana?”

            Dengan semangat, pemuda yang dipanggil “Bondan” itu mengalihkan pandangan dari netbook-nya ke arah televisi, rambutnya yang panjang dan gimbal melambai, terbawa gerakan tubuh kurusnya.

            Wajah topeng yang terpampang di layar televisi adalah sebuah mata tunggal berwarna hijau, besar sekali, bulat sempurna dengan ukiran-ukiran seperti urat-urat nadi hitam yang menonjol di sekitarnya, beralas warna hijau yang lebih tua.

            Lalu citra televisi beralih pada seorang wanita yang sedang sibuk membubuhkan sesuatu di pecahan kaca lemari – mencari petunjuk lewat sidik jari dan semacamnya.

            Melihatnya, tanpa sadar bibir Bondan berucap, “Gile, cantik sekali...”

            Si kawan kumal menjitak kepalanya, “Wah, lo ini, lihat yang cantik langsung suka!”

            “Duuh! Sakit, tahu! Kayak lo kagak aja, Tono! Tapi gawat bener, nih! Topeng Reog dicuri, ini sama aja bencana budaya!”

“Apa maksud lo, Bon?” Tono pasang wajah bingung. “Memangnya ada topeng di tari Reog? Selain Barongannya, bukankah wajah para penarinya hanya dicat saja?”

            “Bener itu, Ton. Makanya penemuan Topeng Reog bikin geger, karena gak ada di legendanya. Asumsi gue, topeng itu milik satu Warok – Pendekar Angin Hitam terkuat bernama Reog yang misterius dan dirahasiakan keberadaannya.”

            “Lho, kenapa dirahasiakan?” Tono melongo.

            “Entahlah, itulah yang sedang gue coba selidiki sampai sekarang.”

            “Wah, lo emang asli maniak Reog, Bon. Ya udah, gue ngantuk, mau mimpi dulu...” Tono bangkit meninggalkan ruang itu.

              Bondan kembali mengalihkan perhatian ke netbook-nya, mencari berita topeng pusaka itu dengan berselancar di internet. Iseng, ia mengecek e-mail. Ada pesan baru.

            Pengirimnya bernama Ragil. Bondan menatap curiga, jangan-jangan ini SPAM, hoax atau worm. Tapi saat membaca judulnya, “Topeng”, rasa ingin tahu mendorongnya mengklik e-mail ini dan membaca isinya.

            To: Bondan Prasetyo,

            Kenalkan, saya Ragil, ingin bertemu dan bertanya tentang Topeng Reog. Ini urusan resmi. Ini nomor ponsel saya, temui saya besok jam 12 siang di alamat di bawah ini. Jangan sampai terlambat.

            Si pemuda ceking-gimbal ternganga lebih lebar. “Urusan resmi” ini rupanya lebih aneh daripada berita di televisi tadi.

 

==oOo==

 

            Saat matahari bertengger di puncak langit, tampak Bondan berjalan melalui pintu kaca sebuah café lalu menoleh kiri-kanan.

           Sesaat kemudian, ia melihat seorang wanita yang duduk sendirian dekat jendela. Parasnya cantik berkacamata serasi, rambutnya hitam, pendek mengembang. Blus putih serta jas dan rok hitam yang dikenakannya membuatnya tampak seperti eksekutif muda, dan Bondan mengenalinya sebagai wanita di berita televisi kemarin malam.

            “A... anu, ini Mbak Ragil?”

            “Ya. Kamu pasti Bondan, duduklah,” senyum Ragil mencairkan suasana. “Mau pesan apa? Cappuccino? Biar saya yang bayar.”

            “Nggg... terserah mbak saja.”

            “Satu Iced Hazelnut Latte, mas,” ujar Ragil pada pelayan di sebelahnya, lalu kembali menoleh ke Bondan. “Nah, kita langsung ke urusan resminya. Nama saya Rania Giselda, detektif, biasa dipanggil Ragil. Saya ditugaskan kepolisian untuk menyelidiki kasus pencurian Topeng Reog di Museum Nasional, mungkin kamu sudah tahu beritanya?”

            Bondan mengangguk.

            “Baik. Nah, saat mencari keterangan, saya menemukan di blog kamu informasi tentang topeng itu dan Reog Ponorogo yang ‘beda’ dengan sumber manapun, jadi saya langsung menghubungi kamu. Tapi, tolong jelaskan apa informasimu itu berdasarkan fakta yang akurat?”

            “Yah, terus terang hanya Topeng Reoglah sumber faktanya. Saya bahkan sempat pergi ke Ponorogo menemui penemu topeng itu, katanya ia tak sengaja terperosok ke dalam lubang tersembunyi di perbukitan yang ternyata adalah sebuah gua. Dalam gua itu ada prasasti dengan topeng itu terletak di atasnya.

           Di prasasti itu ada tulisan yang dipahat dalam aksara Jawa Kuno yang artinya ‘Topeng Reog, Penguasa Angin Hitam. Terkutuklah orang yang memakainya kecuali pewaris Reog sejati.’”

            “Ya, itu semua tertulis dalam blog kamu, tapi nampaknya ada informasi yang kausimpan sendiri, benar kan?”

            Bondan mengangguk lemah, “Ya, blogku itu saja sudah dianggap kontroversial dan mengada-ada, apalagi kalau seluruh informasinya kuungkap.”

            Saat Ragil buka mulut untuk bicara lagi, tiba-tiba seorang pria menyeruak di sampingnya sambil berkata, “Kamu Ragil?”

            Kelakuan kurang sopan pria itu membuat Ragil sontak bangkit, berdiri di balik meja lalu menghardik, “Anda siapa?”

            Pria bertubuh kekar dan berpenampilan seperti preman itu menyeringai aneh, “Saya membawa pesan untuk Ragil: Jangan coba-coba campuri urusan kaum Warok, atau rasakan akibatnya! Anggaplah ini sebagai peringatan!”

            Mulut si preman komat-kamit, lalu wajahnya berubah kemerahan dengan kerut-kerutan hitam sekitar mata, disusul seberkas aura hitam yang terpancar dari seluruh tubuhnya. Melihat gelagat ini, dengan cekatan Ragil mencabut pistol dari sarung di pahanya dan menghardik, “TAHAN! Jangan coba-coba...!”

            Si preman mengayunkan tangannya dan selarik energi hitam bagai golok mahatajam menghantam meja kaca hingga hancur berkeping-keping. Wanita itu melompat ke belakang dan menembak.

            Peluru lantas bersarang di tulang kering musuh, tapi si preman malah menoleh ke arah Ragil dengan seringai mengerikan, lalu ambil langkah seribu, keluar dengan menerobos kaca jendela café hingga pecah berkeping-keping.

            “Berhenti kamu!”

            Dengan tangan lurus sempurna, Ragil membidikkan pistolnya. Peluru dimuntahkan, melesat bak kilat ke arah dada kiri si preman. Ajaib, si sasaran cepat beringsut menyamping, hingga peluru hanya menyerempet pangkal lengan kirinya. Lebih gila lagi, larinya malah makin cepat hingga hilang dari pandangan.

            Ragil berlari mengejarnya keluar café, namun tak berhasil menyusulnya. Ia berdiri terpaku di tepi trotoar. Orang-orang di sekitar mulai berkerumun, heboh, jadi Ragil menyarungkan kembali pistolnya.

            Seseorang menghampiri Ragil. Wanita itu menoleh cepat, melayangkan tangan dengan gerakan ala pencak silat.

            “Wow! Ini aku, Bondan,” pemuda itu mengangkat kedua telapak tangannya.

            Ragil cepat-cepat menarik lengan Bondan menjauhi massa, baru di sudut yang aman ia bicara, “Yang tadi itu... Warok?”

            Bondan mengangguk, “Ya, Warok Muda. Itu jelas dari wajahnya.”

            “Dia tadi bilang ‘kaum Warok’. Apa itu berarti ia tak sendirian?”

            “Kurasa begitu. Karena dia mengincar mbak, dia pasti terlibat kasus Topeng Reog.”

            Ragil tertunduk, dahinya berkerut seakan berpikir keras, “Mereka sengaja memberi petunjuk dan ancaman. Kita sedang berurusan dengan kekuatan gaib, bukan orang yang mencuri demi uang atau apapun.”

            “Lalu, apa tindakan mbak selanjutnya?”

            “Tugas adalah tugas, saya harus melanjutkan pengusutan ini sampai tuntas, dan nampaknya saya terpaksa harus melibatkan kamu, Bondan.”

            Bondan gelagapan, “A-apa? Wah, j-jangan deh mbak. Saya ini mahasiswa biasa, bertemu preman tadi saja saya kabur, apalagi menghadapi sepasukan Warok sakti mandraguna? Hiiiyyy...!!”

            “Saya sangat butuh pengetahuanmu yang lebih tentang Reog. Lagipula jangan takut, saya akan melindungimu dengan ini,” ujar Ragil sambil menepuk bagian pahanya tepat di tempat pistolnya tersandang.

            Bondan merinding, namun dengan acuhnya Ragil bicara terus, “Nah, menurutmu darimanakah kita harus mulai?”

            Si rambut gimbal terpekur sejenak, lalu bibirnya yang agak tebal berucap, “Karena Topeng Reog ditemukan oleh orang Ponorogo, sebaiknya kita menemui orang itu dulu dan memintanya memandu kita ke tempat topeng itu ditemukan. Mungkin kita akan mendapat lebih banyak petunjuk tentang si pelaku di sana.”

            “Baik, besok pagi-pagi sekali kita berangkat naik kereta api ke Ponorogo. Nah, saya harus membereskan soal pengrusakan di tempat ini dulu.”           

            Wanita cantik itu berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Bondan yang wajahnya kini pucat pasi – seolah mendapat firasat buruk.

 

==oOo==

 

            Di waktu bersamaan, di tengah sebuah pematang sawah yang dikerumuni orang banyak, seonggok pengusir burung tergantung di tonggak. Anehnya, itu bukan boneka jerami, melainkan... sesosok jenazah yang telah membiru.

            Tampak jenazah pria setengah baya itu tertunduk dengan mata terbelalak dan darah beku menghitam yang berlumuran dari mulutnya yang menganga.

 

==oOo==

 

            “Huh, kita terlambat,” gerutu Bondan sambil menghentakkan kakinya di lantai kamar jenazah rumah sakit.

            Sementara Ragil yang baru selesai bicara dengan dokter forensik menghampirinya dengan wajah dingin dan tenang layaknya profesional. Suaranyapun datar, “Menurut hasil pemeriksaan, waktu kematiannya kemarin, antara jam satu hingga empat pagi, dan jenazahnya digantung seperti boneka pengusir burung di tengah sawah. Menurut hasil otopsi, organ-organ tubuhnya rusak padahal tak ada luka luar sama sekali.”

            Bondan menyela, “Itu jelas tenaga dalam – Angin Hitam Warok. Gila, mereka sudah tahu kita akan mencari saksi kunci itu dan melenyapkannya sebelum memperingatkan kita.”

            Ragil berujar, “Mungkin ia kena ‘Kutukan Topeng Reog’ dan kematian di tangan Waroklah akhir nasibnya. Tapi, bukankah kita masih pegang satu kunci lagi? Kita datangi saja bukit tempat asal topeng itu, walau pasti berat mencari gua prasasti itu setelah pemandu kita tewas.”

 

==oOo==

 

            Bulan sabit tergantung tinggi di langit saat dua insan menapaki perbukitan di barat daya Kota Ponorogo, Jawa Timur.

            Mengandalkan senter di tangan, Bondan yang sejak sore tadi mendaki dan memeriksa setiap jengkal bukit mulai membungkuk, kepayahan. Peluh membasahi seluruh tubuh, wajah dan rambut gimbalnya.

            Sementara Ragil, bersepatu bot, selalu berpenampilan sama bagai agen rahasia menyoroti tanah di atasnya dengan gerakan-gerakan yang masih lincah bersemangat.

            “Mbak Ragil, istirahat dulu! Saya lelah sekali!” keluh Bondan sambil mengelus lututnya yang pegal.

            “Kita tak bisa berhenti sekarang, Bondan! Kamu nggak mau terlambat lagi, kan? Jangan sampai si pelaku memusnahkan barang bukti dan menunaikan maksudnya, apapun itu!”

            “Iya, iya! Duh, mbak sih enak, sudah banyak terlatih di Kepolisian, lha saya? Jangankan karate atau pencak silat, jogging saja saya ja... AAAAHHHH!!”

            Tiba-tiba Bondan terperosok ke dalam sebuah lubang besar menganga. Tubuhnya terus meluncur bagaikan naik perosotan, dan beberapa saat kemudian terpelanting, jatuh tengkurap di permukaan tanah datar.

            “Awwww...”

            Masih meringis, pemuda itu menegadah, melihat sebuah gua yang cukup lebar dengan obor-obor menyala di sisi-sisi dindingnya.

            Belum sempat Bondan bangkit, tiba-tiba sesuatu yang amat berat menimpa tubuhnya, “AUUUGHHH!!” Ia lantas terlalu sibuk kesakitan hingga tak sadar “si beban” diam sejenak, lalu terangkat dan berlutut di depannya.

            “Wah, maaf. Saya juga terperosok tadi. Kamu baik-baik saja, kan?”

            Suara Bondan lirih, “Rasanya... tadi ada... tulang... yang bergeser...”

            “Sini!” Dengan cekatan Ragil menarik dan mendudukkan Bondan, lalu menekuk-nekuk tubuh pemuda itu seperti ahli pijat refleksi.

            “Bagaimana, sudah lebih baik?”

            “Ehhh... l-lumayan...”

            “Cepat bangun!” Dengan kasar Ragil menarik Bondan berdiri, dan si gimbal segera menyadari maksud tindakan si detektif ini.

            Empat pria berjalan maju, menghadang di mulut gua. Mereka berpenampilan seperti preman dengan wajah merah hitam khas Warok. Salah seorang di antaranya, yang menyerang Ragil di café waktu itu menghardik, “Sudah diperingatkan, malah bandel. Yang bandel harus DIHUKUM! HEEAAAA!!!”

            Bersamaan, para Warok merangsek maju, dua di antaranya malah merayap di tembok dan langit-langit gua seperti cicak. Dengan cekatan Ragil menembakkan kedua pistol di tangannya dua, tiga, empat kali. Satu peluru bersarang di kepala salah seorang Warok, membuatnya roboh, tak bergerak lagi.

            Dua Warok lainnya menyabetkan angin hitam tajam. Ragil berhasil menghindari serangan itu dengan salto indah, namun disambut tinju keras si Warok ketiga di pinggang kanannya.

            “AAGH!” Walau kesakitan, Ragil sempat menendang keras wajah lawan terdekat dengannya. Ia lantas berseru, “Bondaaan! Kesempatan, cepat terobos!!”

            “Tapi, mbak...!”

            “CEPAT! Biar kutangani mereka!”

            Tanpa pikir panjang Bondan menyeruak maju, berhasil melewati ketiga Warok yang sedang sibuk mengeroyok satu wanita dan terus berlari. Suara-suara letusan pistol, teriakan dan berbalas hantaman makin sayup-sayup...

            Langkah-langkah Bondan cepat menyusuri lorong-lorong gua, dan perhatiannya cepat tertuju pada pemandangan di depannya.

            Itu adalah sebuah ruangan yang cukup luas, berpenerangan obor. Sebagian dindingnya telah runtuh, dan yang paling menonjol di sini hanya sebuah prasasti batu dan benda yang tertanam sempurna di permukaannya: Topeng Reog.

            Tanpa pikir panjang Bondan menghampiri lingga itu saat tiba-tiba sesosok pria bertubuh kekar bak binaragawan menghadangnya.

            “Eit, jangan harap kau bisa menyentuh topeng ini!” hardik pria berambut berombak, panjang sebahu ini.

            Bondan memilih bersikap “tahu diri”, melangkah mundur dan berujar, “Siapa kamu?”

            Pria kekar itu menjawab sopan, “Namaku I Made Wardhani. Siapa namamu?”

            “Saya Bondan. Apa kamu biang keladi pencurian dan pembunuhan demi topeng itu?”

            Pria kekar itu balik bertanya, “Pembunuhan? Siapa yang terbunuh? Aku tak membunuh siapapun, tapi ya, akulah pencuri topeng pusaka itu.”

            “Aah, jangan pura-pura! Penemu pertama topeng itu tewas, dan detektif yang mengusut kasus inipun diserang, siapa lagi dalangnya kalau bukan kamu?”

            Made terperanjat, “APA? Jadi itukah yang dimaksud para Warok dengan ‘biar kami urus sisanya’? Tak kusangka mereka akan pakai cara sekeji itu.

            Tapi yah, topeng pusaka kini telah kembali ke tempat asalnya, dan aku berniat ‘mengubur’ ruangan ini supaya tak ada orang lain lagi yang menemukannya, entah ia pewaris sejati atau bukan, dan menyalahgunakannya.”

            “’Mengubur’ ruangan ini? Menimbunnya dengan tanah? Gila, itu sama saja menghilangkan bukti terkuat tentang asal-usul sejati Reog, yaitu dari Ponorogo!” tanpa sadar Bondan membentak pria yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun itu.    

            Made tentu saja balas membentak, “Coba pikir, tilik hati nuranimu! Mana yang lebih penting, bukti legenda atau nyawa manusia? Apalah artinya sebuah bukti kalau bukti itu jadi pembawa bencana? Aku telah coba memusnahkan topeng ini dengan segenap tenaga, tapi gagal! Lalu para Warok datang menawariku solusi ini, dan aku menerimanya karena memang tak ada pilihan lain.

            Nah, aku baru berhasil meruntuhkan sedikit dinding gua setelah seharian bekerja, jadi, kalau kamu tak mau membantuku, setidaknya jangan halangi usahaku ini. Bagaimana jawabmu?”

            Bondan nampak ragu.

            “Kami tak bisa memenuhi permintaanmu itu,” sebuah suara menyahut lantang. Tapi itu suara wanita, bukan suara Bondan.

            Bondan dan Made menengok dan melihat Ragil, tubuhnya luka-luka tapi ia tetap berdiri tegak mengacungkan kedua pistolnya.

            “Apa sebabnya, Detektif Ragil?” seru Made.

            “Bagiku lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas. Apapun tujuanmu, kau telah melakukan kejahatan: mencuri dan berkomplot dengan penjahat brutal, jadi kami harus menangkapmu, demi tegaknya hukum,” ujar Ragil tanpa ekspresi. “Para Warok di depan sana sudah kulumpuhkan, kini giliranmu.”

            “Hei, nona, dengan alasan seperti itu aku juga tak bisa memenuhi permintaanmu. Kalau kau mau main keras, kulayani!” Sebentuk aura berwarna emas terpancar deras dari tubuh Made. Ternyata ia seorang pendekar sakti.

              Tanpa ragu lagi Ragil memicu pistolnya. Tiga-empat peluru muntah, dan dengan mudah Made menghindari dan menangkisnya dengan zirah aura emas pelindung tubuh sambil mendekati lawan.

            “Payah! Serangan sejati harusnya begini! HAUUUMM!!” Made menghantamkan tinju emasnya di tubuh Ragil, membuat wanita itu terlontar hingga membentur dinding gua, lalu roboh tak sadarkan diri.

            Satu penyusup takluk, Made menoleh ke kanan-kiri dan menemukan penyusup kedua berhasil mencopot topeng pusaka dari lingga.

            “Stop! Letakkan kembali topeng itu!” teriak si pria besar.

            “TIDAK! Aku harus membawanya kembali ke tempat seharusnya – Museum Nasional!” Bondan gemetaran saat melihat hasil keperkasaan Made tadi. Tiba-tiba sebuah suara berbisik padanya, Ayo, kenakan topengnya.

            Made berseru lagi, “Kau tak mengerti! Topeng itu terkutuk! Kekuatan jahatnya terlalu besar, bahkan para Warokpun tak rela topeng itu ditemukan si pewaris yang akan mengungguli mereka! Percayalah padaku! Demi kebaikan umat manusia, kembalikanlah!”

            Bondan menggeleng, “J-jangan paksa aku! A-aku akan memakainya!”  “JANGAAAAANNNN!!” Suara Made itu tak lagi didengarnya.

            Kenakan. Suara misterius itu lagi.

            Tangan Bondan bergerak dan menempelkan topeng di wajah. Rasanya pas, sempurna, seakan topeng itu dibuat khusus untuknya. Tiba-tiba, ia merasakan seakan ada sulur-sulur akar tumbuh dan menjalar di sekujur tubuh dan lehernya, membalutnya hingga sosoknya tak ubahnya manusia pohon berzirah akar hijau. Hanya rambut gimbalnya saja yang tetap mengembang, tak tersentuh zirah akar itu.

            Melihatnya, Made berseru, “R-reaksi itu... Ternyata dia pewaris Reog sejati!”

Sesaat kemudian Made kembali menggeram, lalu sekali lagi maju menerjang, mengira kekuatan lawan belum stabil. Gabungan kekuatan bumi dan logam dalam tinju dan tendangan Made deras bagai ombak bergelora, sementara Reog meliukkan tubuhnya bagai ular, berkelit secepat kilat.

Tiba-tiba kuku-kuku panjang tumbuh di semua jari tangan Reog, dan ia menyabetkan cakar-cakar dahsyat sambil memutar tubuh dengan gerakan bagai angin puyuh hitam.

            “Sambut seranganku!” Penuh percaya diri, Made segera meluncurkan lusinan tendangan dan tinju lagi.

            Badai cakaran, tinju dan tendangan bertumbukan. Selang beberapa menit, satu tendangan keras Reog mendarat di wajah Made. Kali ini giliran si kekar yang terpuruk.

            “Ah, siaal!” Made mencoba bangkit, namun disambut oleh berondongan cakar dahsyat. Didera tanpa henti, aura pelindung akhirnya bobol dan darah memercik dari punggungnya.

            Di bawah siksaan melebihi ambang batas, Made meraung, “HHAUUMMM!!”

Pancaran aura emas makin besar. Di balik celah kemeja kuning yang kancingnya terbuka sebentuk kalung dengan liontin berbentuk kepala singa emas yang tergantung di depan dadanya yang bidang berpendar cerah dan membesar, membentuk zirah emas yang menutupi seluruh tubuhnya. Sebentuk topeng emas menutupi kedua belah mata dan pipinya, rambutnya yang panjang berubah menjadi pirang, bagaikan surai singa.

            Mengenali musuh bebuyutannya, Reog berujar dengan suara aneh yang bukan suara Bondan, “Barong!”

            “Ya, akulah Barong, pejuang kebenaran. Kali ini kau pasti takluk, Reog!”

            “Kita lihat saja nanti!” Cakar sakti Reog berkelebat, disambut tinju Barong yang menerpa bagai gunung runtuh. Menggelar ratusan jurus, kedua pendekar bertarung bagai gila, terasuk kesumat yang telah terkubur berabad-abad.

            “Huh, kekuatanmu tak ada apa-apanya! Kuhabisi kau sekarang!” Reog menerjang sambil menyabetkan cakar pamungkasnya laksana badai hitam.

            “Oh, kau meremehkanku? Bagus! HHAAUMMM!!”

            Dua tinju Barong memalu tanah, menimbulkan gempa yang membuat pijakan Reog goyah. Melihat kesempatan itu, Barong memberondong Reog dengan serentetan tinju bagai hantaman ribuan godam. Saat tinju pamungkas itu reda, Barong berdiri tegak menatap lawan yang terkapar kalah, tak berdaya di bawahnya.

            “Habis kau, Reog. Hanya nerakalah tempat yang pantas bagimu.”

            Barong berlutut mengulurkan kedua tangannya untuk menanggalkan Topeng Reog saat tiba-tiba timah berapi menembus zirah emasnya, menghunjam antara dada dan bahu kanannya.

            “AAGHH!!!” Kesakitan, Barong menoleh ke arah datangnya tembakan.

            Seorang wanita berdiri tegak di sana dengan pistol teracung, masih berasap. Rania Giselda alias Ragil menyeringai sambil berujar, “Salah. Kaulah yang tamat, Barong. Tapi sebagai ungkapan terima kasih karena memastikan rencanaku berhasil, aku akan sangat menikmati menyiksamu.”

            Peluru berapi kedua melesat, kali ini menembus lengan kiri Barong.

            “GRRHH!!” Menyadari kondisi tak menguntungkan ini, Barong berseru, “Awas, akan kubalas kau... Rangda!” Ia melarikan diri, berhasil mengelak peluru ketiga dari pewaris penyihir terkuat dalam legenda Bali itu.

            Ragil tak mengejar, ia jatuh berlutut di tanah. Batu mirah pada cincin di jari manis tangan kirinya berpendar bagai api.

 

==oOo==

 

            Beberapa hari kemudian...

            Di layar televisi tampak Topeng Reog yang kembali tersimpan dalam kotak kaca museum, Ragil dan seorang pria kepala museum yang menyalaminya.

            Sementara itu, seorang pria kurus berambut gimbal sedang bertengger di sudut gedung, beratapkan bulan purnama dan langit malam. Sebentuk mata sangat besar yang memenuhi topengnya bergerak-gerak, menatap ke kejauhan.

            Ya, inilah sosok sang terkutuk, pengkhianat kaumnya. Mengenakan topeng yang persis seperti replikanya di Museum Nasional, tak seorangpun bisa menduga apa tindakannya sebentar lagi.

            Untuk saat ini, hanya satu hal yang pasti.

            Seorang pendekar super telah terlahir kembali.

            Reog.

Read previous post:  
105
points
(2779 words) posted by vadis 9 years 2 weeks ago
75
Tags: Cerita | Cerita Pendek | dongeng | cerita fantasi | fantasy fiesta 2010 | pedang
Read next post:  
Writer xenosapien
xenosapien at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 10 weeks ago)
100

10pts buat sesama peserta.
.
Ah, maap ya baru titip komen sekarang(Padahal udah sampai salah sebut di GRI. :P). Anw, kritik dan saran sepertinya udah banyak disampaikan ama teman-teman, dan sudah diklarifikasi. :D
.
Ah, tapi ada satu lagi, hampir kelupaan. Gak begitu penting sih. Cuma biar kerasa lebih enak aja. Di paragraf email ini:

Quote:
Kenalkan, saya Ragil, ingin bertemu dan bertanya tentang Topeng Reog. Ini urusan resmi. Ini nomor ponsel saya, temui saya besok jam 12 siang di alamat di bawah ini. Jangan sampai terlambat.
Nomer hapenya Ragil berapa ya? **dijitak yang bersangkutan** Err... maksudku, kenapa tuh cewek langsung kasih nomer hape klo udah kasih alamat cafe tempat janjian mereka. Kesannya kan jadi **dijitak lagi** percuma. TT-TT
Mungkin bisa dihapus, atau nomer hape itu baru diberikan setelah keduanya bertemu lebih pas kali ya. ^^a
.
Anw, tetap semangat, Vadis. :)

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 9 weeks ago)

Good point there. Kalo bisa direvisi nanti saya beresin minor glitch ini. Nih hadiahnya g beri pin BB Ragil: 2R4N6D4

Writer xenosapien
xenosapien at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 8 weeks ago)

Asik dapat pin BBnya Ragil. **joged2 kegirangan**
Aku simpan dulu, ya, di--------Wait... Aku gak punya BB. -______-"

Writer franci
franci at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 10 weeks ago)
80

yuu vadis, udah telatkah komen ku? :D
.
aku teringat the mask :P
.
keknya keunggulan cerita vadis ada diactionnya. aku suka. cm mungkin utk kategori cerpen, perangnya kebanyakan n bikin bbrp hal penting jd tak disinggung yak.
.
rasanya agak kaku di bbrp kalimat awal. klo mau slang, digituin aja smuanya. slang jg oke koq. walaupun gk umum, tp ada bbrp buku keren bgt yg dialognya pke kalimat slang.
jd mungkin 'Gile, cantik sekali' jd 'Gile, cakep banget' yak.
.
agak aneh bbrp kalimat di bbrp paragraf awal.
misal:
'saya menemukan di blog kamu informasi tentang topeng itu dan Reog Ponorogo yang ‘beda’ dengan sumber manapun'
tidakkah terasa ada kata2 yg kurang?
.
gt aja sih. smg ceritanya vadis makin LENTUR. hehehehe...

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 10 weeks ago)

Thx banget masukannya yg berharga. Semoga aja masih boleh "dilenturin" lagi secara ceritanya ud msk daftar...
Hmm soalnya ada konvensi jgn sebut2 produk spt bb, google, wikipedia dsb. Kadang bingung cari kata2 yg pas, utk 1 kalimat aja perlu 30 menitan utk "diukir".
Gile, bohaaay! (Slank xtreme)

Writer Zhang he
Zhang he at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 11 weeks ago)
90

Sangaaat suka kalimat-kalimat yang kamu tulis, ringan dan enak dibaca, tapi kurang suka dengan dialog dan sound effectnya, haha.

Kalau baca komen2 yang ada, kayaknya banyak yang komen soal event yang terjadi kurang real, secara settingmu lokal banget. Tapi menurutku, namanya cerita fantasy, suka-suka penulis dong kalau mau dibikin penduduk disitu kurang responsif dengan event2 yang terjadi.. hahaha, peace

Well done

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 10 weeks ago)

thankx, zhang. from zhang en to zhang he.
dialog, sound effect. check.

Writer yellowmoon
yellowmoon at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 11 weeks ago)
90

bagus sekali
ceritanya memang mudah ditebak karena saya juga sedang memikirkan tokoh utama berambut gimbal ^__^
apakah bagian ending itu memakai scene seperti spiderman?

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 10 weeks ago)

Duh, jadi larinya org inget spiderman-kah? Yah, mendingan lah daripada nongkrong di atas tiang listrik.. Bahaya.

Thx yah.

Writer panah hujan
panah hujan at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 11 weeks ago)
60

Uh, low fantasy, ya? Tapi, apa ini nggak lebih ke cerita detektif? Kalau dibilang suspense, ya nanggung, penceritannya sepertinya lebih ditujukan ke komedi (dialognya juga sangat slang). Geje sekali. -.-
.
Kalau memang ini diniatkan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia, kenapa tidak diselipkan deskripsi mengenai itu? Apa pentingnya soal Reog-reog itu diangkat, misalnya? Action di dalam cerita pun emang temponya tralu cepat. Uh, ada banyak detail yang nggak begitu penting.

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 10 weeks ago)

hm kalau nanti bisa direvisi, mungkin akan saya sisipkan sedikit dan pangkas adegan yang ditambah2... tapi saya bingung "detail2 yang gak perlu" itu apa aja ya?

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 13 weeks ago)
90

wah, temanya indonesia banget. Salut kk
yah, meski saya nggak tahu apa2 soal Reog kecuali yang pake topeng macan super gede itu (apa namanya? barong?)
.
memang rasanya alurnya kecepetan ya. Maklum deh habis terbatas sih jumlah katanya

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 13 weeks ago)

dilema juga, mau dipangkas adegan2 tertentu takutnya gak nyambung awal dan akhirnya.

Topeng supergede itu namanya Barongan, dan cara pakainya gak boleh dipegang, cuma boleh digigit.

Wow, saya sih gak berharap apa2, tapi senang juga setidaknya ada yg berminat tau lebih banyak ttg Reog, Barong, Rangda & budaya Indonesia dari postingku ini.

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 14 weeks ago)

(Komentar Penulis)
Sedikit quiz: Apakah jenis kopi kesukaan Ragil?

Writer Shaoan
Shaoan at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 14 weeks ago)

Iced Hazelnut Latte

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 13 weeks ago)

Eh? Cuma 1 orang yg jawab? Ok, sebenarnya gak dijelaskan dalam cerita apa Ragil suka Iced Hazelnut Latte atau nggak, tapi demi fans ya saya bilang itu memang kopi kesukaan dia.

Pertanyaan Kedua:
Kalau kekuatan Reog terdapat dalam topeng dan Barong dalam kalung, kekuatan Rangda terkandung dalam benda apa?

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 11 weeks ago)

Bike pants yang dipake di dalem rok pendeknya Ragil.
XD
*ditembak mati*

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 10 weeks ago)

Bike pantsnya emang sakti, perisai penangkal SARA.

Writer Samara Dahana
Samara Dahana at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)
70

Halo vadis, salam kenal. Cuma mau coba menggali lebih dalam soal cerita ini. Kalo si Made ingin 'menyembunyikan' topeng Reog, kenapa dia tidak menyembunyikan di tempat lain? tp malah menyembunyikannya di goa yg sama tempat pertama kali topeng itu ditemukan? maaf ya nanya yang ga penting, soalnya penasaran..hehe..oya kalo sempet mampir2 ke lapakku ya. Ditunggu..^__^

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 14 weeks ago)

hmm, mungkin harusnya diceritakan dengan lebih detail "deal" antara made dan para warok di sini, dan prinsip logika bahwa "kutukan topeng reog" baru bisa dihilangkan kalau topeng tetap di tempat asalnya, gak ditemukan dan dipindahkan. tempat itu sudah diguna-guna oleh Warok Tua terakhir.

Writer nagabenang
nagabenang at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)
70

adegan berantemnya lumayan keren~ :)

Writer Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)
80

Ini jadinya kayak sebuah naskah b-movie yang berakhir keren.

Writer Shaoan
Shaoan at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)
60

Hi Andry! Ternyata elu jg udah siap tempur di FF2011 yah heheh...
Hmm...gw coba kasih komen ya. Gw suka cerita superheroes model gini (Apalagi bumbu lokal-nya itu. Salut deh!)
Secara keseluruhan sih oke, tapi emang kerasa banyak 'kebetulan'-nya di cerita ini, walaupun gw jg bisa ngerti alesannya (damn, lagi2 kuota 3000 kata itu).
Tapi yg menurut gw berasa 'kebetulan banget' tuh kl ternyata si bondan itu pewaris sejati reog. Mungkin krn yg kebayang di benak gw kl pewaris sejati reog tuh harusnya penari atau keturunan siapanya lah...gitu. (tp mungkin ga gitu juga yah? heheh...sori kl salah. Gw ga banyak tahu jg sih masalah ginian...)
Tapi secara keseluruhan, sbg pembaca, gw bisa menikmati cerita ini. Thanx ud posting ceritanya!

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

Oh ya? Kebetulan-kah? Justru g pikir kalau Bondan itu keturunan penari Reog paling jago tukang gigit Singabarong itu yang baru kebetulan (dilema antara: kebetulan dan gampang ditebak).
Seharusnya g jelaskan dorongan yang membuat Bondan tertarik pada Reog sejak pertama, yang "menarik" dia pada topeng itu walaupun belum bereaksi pada awalnya, tapi daripada bilang kuota 3000 kata, g bilang aja g lupa.
mungkin kesan kebetulan karena kurang detail, yang proporsi bumbunya seharusnya bisa di-mix dalam kuota 3000 kata itu tapi belajar dari pengalaman tahun lalu dan ketentuan dan aturan tahun ini, yah g hanya bisa bilang ini yang terbaik yang bisa g racik. kalo gak ada "kebetulan2" ini pasti gak bakal terjadi bentrok 3 super-fighter ini, kan? - dan gak ada ceritanya.
Ok, thx buat supportnya, Shaoan & all!

Writer Shaoan
Shaoan at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

Iya sih emang...kl ga ada 'kebetulan2' itu memang ga akan ada konfliknya. Dan seudah dipikir2 lg...kl Bondan keturunan penari reog itu jg bisa jadi 'kebetulan' yg lain sih.
Tp mungkin iya, masalahnya kayanya dorongan bondan di awal tertarik ke reog itu agak kurang kuat, jadi di belakang kayanya ujug2 bgt kl dia tuh ternyata pewaris sejati reog-nya. Atau mungkin kasih clue-nya dikit di awal kl bondan tuh bakalan 'punya sesuatu' ke belakangnya. Soalnya gw pikir, kalo pengen dapet kesan misteriusnya (ga gampang ditebak, maksud gw) pembaca jg harus diarahin sedikit ke sana.
Halah, sori kl kesannya sok jago/ahli, padahal gw sendiri jg belom tentu bisa bikin cerita sebagus ini. Tp thx, gw belajar banyak dr diskusi2 kaya gini. heheh...

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

sama2, g jg perlu belajar lbh bnyk soalnya teori2 n workshop penulisan aja ternyata gak cukup.
sbnrnya udah niat dirombak dgn pv 1st person plus mimpi di awal, tp sesuai ketentuan di kastlfantasi.com ya gpp dah as is. g tgg entri2 ff2011 yg lain hehehe.

Writer Shaoan
Shaoan at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

Udah dikirim ya? Kalo udah sih emang ga bisa dirombak lg katanya yah...
Pake 1st person kayanya patut dicoba tuh, bisa masukin motivasi bondan jg disana. Mimpi di awal jg bisa bantu kayanya.

Writer humerus
humerus at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)
100

bzzzzttttt...... baju zirah barong? mana ada baju zirah ala jawa.
-
I Made Wardhani? kok kecewe-cewean ya? bukannya Wardhana? ohiya, kalau aslinya sih orang bali gak bakal manggil made soalnya itu katanya nama yang laim buat anak pertama jadi di bali yang namanya made itu banyak. cuam spoiler aja.
-
Tokusatsu banget nih.
-
satu hal lagi, polisi Indo kayaknya gak seniat itu buat ngurus kasus pencurian barang budaya deh. kalo teroris, tilang2, narkoba sih masih niat.
-
terakhir, sebenarnya saya sudah menspesialisasikan diri saya pada cerita yang lebih serius atau memang sengaja dibikin humor. jadi kalo cerita kayak gini yang ya bisa dibilang tokusatsu banget saya gak terlalu jago. karena bingung ya kasih bintang 10 aja lah.

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)

Yupz, tokusatsu superhero. Supaya kostumnya bisa dipakai diluar baju, terpaksa istilahnya jadi "zirah". Bahkan Reog, Barong & Rangdapun dibikin go-internasional & go-modern.

Karena polisi indo kayaknya gak minat ngurus kasus budayalah tokoh2 macam Ragil ambil kesempatan dalam kesempitan.

Oops, iya, harusnya namanya I Made Johnny Wardhana. Makasih udah mengingatkan.

Writer humerus
humerus at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)

terus si ragil itu apa?

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

Detektif Kepolisian Elite, atau bisa jadi dipekerjakan di intel (kalau mau dibikin super lebay, bisa jadi dia pernah dilatih di FBI bersama Mulder & Scully, hehehe).

Kenyataannya dia kan polisi idealis yang sengaja sukarela mau mengusut kasus budaya - karena memang punya rencana sendiri.

Writer humerus
humerus at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

ya ampun, kepolisian makin aneh aja. kalo aku kapolrinya orang kaya gitu mending buat nangkep teroris aja.

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

gamfang, di cerita ini gue kapolrinya, jadi abis ini gue suruh reog & rangda tangkepin teroris, yo!

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)

Di tari Reog ada yang namanya Warok, kok... (abis baca wiki, hehahah)

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)

Ew saya gak tahu "Warog" versi Rusia, dan yg pasti gak ada hubungannya dengan dragon.

Yup, sepertinya cerita yg harusnya buat komik ini terpaksa dipaksakan jadi cerpen jadi alurnya terlalu cepat.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)
70

Aduh.
.
Dobel aduh.
.
Entah mengapa terlalu "ya gitu deh". Banyak bener kebetulannya: tiba-tiba ditelpon, tiba-tiba diserang, tiba-tiba masuk gua, tiba-tiba ternyata Warok itu salah mengartikan perintah, tiba-tiba si ini descendant si itu, tiba-tiba mythology threesome (euh? Salah ngomong...)
.
Fanservice juga banyak (saia seneng sih, hehe). Tiga, dalam hitungan saia. Pertama ya yang dibilang om semit, kedua pas mbak Ragil (summon tante aocchi a.k.a. Ragil hehehe) nepuk pahanya (ini fanservice tipe "male gaze"), lalu pas Bondan jatuh dan Ragil numpuk di atasnya (skinship? Hm...). Yeah... namanya juga "bumbu"... hahaha.
.
Yang menggelitik adalah bahwa tiba-tiba aja berantem di kafe sementara ga ada deskripsi pengunjung lainnya pada ngapain (ada sih, tapi di akhir, serasa oh-baru-inget-ada-pengunjung). Udah gitu kan harusnya pada teriak-teriak gimana ngeliat si preman "henshin" (atau ada yang ngerekam pake hape, gituh). Dan kalo gitu pasti langsung masuk berita tipi dan... yak, gak akan ada cerita lagi karena yang menyelidiki pasti Kepolisian Pusat, bukan Bondan dan Ragil eheheh. Ya okelah, demi cerita.
.
Hmmm... Rangda dan Reog temenan buat ngelawan Barong? Ini mah konflik lintas kepercayaan hahaha, serasa Fenrir ngelawan Cerberus. Eh tapi enggak deh, soalnya di tari Reog itu singanya namanya Singa Barong. Nah muncul pertanyaan baru: mana bisa Reog vs Barong? Kecuali jika yang namanya Reog itu bukanlah sesuatu yang saia duga (Bujang Anom? Klono Sewandono?)
.
Konsepnya keren sih, topeng Reog, tapi kok ya sadar-sadarannya baru terakhir? "Ah, kau keturunan si ini!" "Ah, ternyata kau adalah si ini!". Serasa deus-ex-machina banget gituh.
.
Trus ah, Barong warna emas? Bukannya dia itu semacam macan putih (silakan DMIIW)? Lalu kok Rangda a.k.a. Ragil ini ga punya kekuatan apa-apa selain auto-revive? Rangda kan penyihir badass, harusnya ada apa kek gitu.
.
Dan, ehem, mau coba nyari sumber inspirasi... Di bagian terakhir serasa Kamen Rider (hahaha love that). Lalu... um... jagoan bertopeng Reog... Bujang Anom? Itu loh, komik yang itu loh, Bujang Anom... terbitan Jagoan Comics. Segitu aja deh, 7 buat ini. Saiang sekali udah dikirim ya, padahal masih bisa dikerenin...
.
*dan semua orang membakar diri saia karena mencaci karya nasionalis*

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)

Saya gak tahu Bujang Anom, belum pernah baca. Kalau Caroq pernah lihat cover tapi gak pernah baca juga. Jangan sampai mirip mereka deh - bahaya.

Kalau Kelono Sewandhono kan yang raja yang dilindungi para Warok itu, dan unsur "modifikasinya" adalah Reog yang di cerita ini dijabarkan sebagai "Warok terkuat". Padahal ada penafsiran lain bahwa Reog = Singabarong.

Sengaja "diplesetkan", Barong di Reog sama atau sejenis dengan Barong di Bali.

Soal kebetulan2, saya hanya bisa bela diri dengan setting zaman TV, blog, internet dan blackberry. Warok zaman sekarang bisa cepat dapat info dan punya network sendiri, lho.

Hm, mungkin memang karena keterbatasan kuota kata, pacenya terpaksa harus dipercepat, kalau mau lebih dramatis lagi opening dan adegan tarungnya jangan2 ini harus dipecah jadi 2 cerpen.

Sebenarnya kostum Barong ada bagian putihnya (lihat di http://fantasindo.blogspot.com deh) tapi mungkin lupa dijelaskan lebih detail dalam cerita.

Yah tapi harus saya akui saya masih terus belajar dari pengalaman cerpen2 yg lalu plus ff2010.

Duh, duh, bukannya masih bisa direvisi setelah dikirim? Justru karena udah saya rombak 5x draft dan riset berulang-ulang, sampai ke limit, sama sekali buntu mau dikerenin gimana lagi dan ya sudah, kirim aja. Kalo gak boleh direvisi yah, alea jacta est.

Btw makasih semuanya buat inputnya, semoga kalian yang mau ikut Fantasy Fiesta 2011 sukses.

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)

Oia doakan cerpen FF2011 saia yang belum selesai...

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

Yup, saya doakan dan dukung juga. Btw apa kamu ada sedikit nangkap nuansa Persona 4 (Shin Megami Tensei) dalam ceritanya?

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

Hmmmm gak ada masuk tivi... jadinya saia gak nangkep suasana Persona 4 di sini (kecuali mungkin bertemu polisi ya, kan di P4 kita temenan sama cewek androginus--eh, polisi--juga)

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 15 weeks ago)

Haha, kalo bener2 berantemnya pas masuk tivi kan jadi kayak nyontek P4 donk? Duh, taunya pas maen P4 mustinya gue maruk tuh, pacarin semua cewek di sana... bonus dari Rise paling mantapz.

Writer anggra_t
anggra_t at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)
80

Wow. Hebat, kak. Udah mosting sekarang :o
Tentang budaya indonesia pula. :o
Kreatif tapi agak kurang riil aja. Pembukanya juga kayanya agak kaku ya? Dan ada beberapa tanda baca yang perlu diperbaiki. Selebihnya aku setuju dengan komennya el dan mitto.
.
Semangat, kak andry :D

Writer elbintang
elbintang at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)
2550

Andry : pertama, congrats atas selesenya cerpen ini. Wew, bener2 memprovokasi he.he

barong, rangda = bali bertemu reog = ponorogo, lintas kultur?

Err...polisi perempuan detektif pake pistol di paha balik roknya ajak ketemu si data penting di cafe, pergi ke ponorogo ber2 nemu liang t4 ditemukannya topeng...detektif indonesia perempuan? Penyidik maksudnya? Gw ragu ada. Intel mungkin ada. Dan setahu gw gak ada yg bertugas single untuk kasus yg disinyalir ghaib begitu.

Eh kemana gempita media dan masyarakatnya? Bukannya kalo ada peristiwa begitu masyarakat langsung berkerumun sepanjang hari gak jelas? Apalagi ada korban mati pun.

Ini bakal dahsyat kalo bisa diolah lagi.

Smangat!
Cheers ^_^

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)

Sori yah, menjawab komentar2 lain juga.

Reog: Warok+SingaBarong, Bali: Rangda+Barong
Yup, lintas kultur, kayak fusion antara ponorogo+bali.

Yah, gak harus realistis banget sih, sengaja gak diceritakan kalau Ragil volunteer utk pengusutan ini dan gak mau ada partner - karena dia punya RENCANA sendiri. bisa aja dia intel kepolisian ELITE. Realistisnya, kalau gak ada penyidik, berarti kasus supernatural ini gak bakal selesai dan gak perlu diceritakan sejak awal, toh?

Soal "sarung pistol di paha melanggar nilai2 kepatutan" - so sue me. Saya sengaja. Di ilustrasinya saya tambahkan bicycle pant supaya gak terlalu vulgar.

Ragil harus menyembunyikan identitas rahasia sebagai pewaris Rangda sampai detik-detik terakhir, dimana dia terpaksa mengeluarkan kemampuannya yang 1 lagi: menambah daya "api" di peluru pistol supaya bisa menembus zirah Barong.

Eh kemana gempita media dan masyarakatnya? Bukannya kalo ada peristiwa begitu masyarakat langsung berkerumun sepanjang hari gak jelas? Apalagi ada korban mati pun.
- Itu gak diceritakan / didetail karena kuota, jadi harus pilah2 adegan prioritas. Makanya Ragil bilang dia harus "mengurusi" kerusakan di cafe yg pasti bakal banyak heboh. Pasti repot dia seharian.

- Korban matipun adanya di tempat lain, kan? Hebohnya lain lagi, itu diurus belakangan, gak diceritakan.

Ini bakal dahsyat kalo bisa diolah lagi.
- Karena berasa menthog, kuposting di sini dulu toh? Siapa tahu masih boleh diolah lagi. Saya akui masih ada keterbatasan di diri saya sendiri, tapi saya tetap maju juga. Kalau gak dikiritik, gak bakal bisa belajar.

Seharusnya gak ada yang tahu siapa pewaris siapa sampai di akhir2, kan? Yang bisa tebak, selamat. Mungkin skill "misteri" saya belum terlalu terasah, harap maklum. Lain kali mungkin saya bisa menyajikan puzzle yang lebih misterius dan menegangkan.

Writer smith61
smith61 at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)
80

salute! jadi vanguard lagi nih ye!!!

salute! budaya Indonesia! mangstab! terintegrasi dengan pertarungan fantastis huehehe~

ada yang saya suka : Ragil mencabut pistol dari sarung di pahanya(Woohooo fanservice XD)

ehem, ehem, cuma gimana ya, terlalu cepat, dan agak gampang ketebak, lagi pertarungannya kurang intense dan gak bikin saya tegang, goodluck!!!

Writer vadis
vadis at Fantasy Fiesta 2011 - REOG (8 years 16 weeks ago)

psst, jadi vanguard-pun karena udah berasa menthog, hehehe. kan biasanya "jagoan" munculnya belakangan, toh?

Soal pertarungan vs drama/investigasi, pengalaman ff2010 yang lalu kalau pertarungannya terlalu intens, porsi dramanya kepangkas dan dirasa kurang banget, dibilang "ngaco".

Intinya saya coba untuk bikin semua bumbunya seimbang di sini, dan bila ternyata racikan sang koki masih belum sesuai dengan selera, mohon maklum. Apapun hasilnya akan saya terima dengan lapang dada.