Falling Girl (Prologue)

Prolog

“Jadi untuk membuktikan kebenaran identitas trigonometri ini, kalian bisa menggunakan rumus penjumlahan sinus,” kata seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun di depan sebuah kelas. Tangan kanannya memegang sebuah spidol hitam sementara tubuhnya membelakangi murid-muridnya dan menghadap papan tulis putih di depannya, seolah-olah papan tulis itulah yang sedang ia ajar. Tangannya dengan lincah menulis angka-angka dan huruf-huruf di papan tulis.

            Vano, seorang murid laki-laki yang duduk di deret paling tepi dekat dengan jendela, memandang papan tulis yang jaraknya cukup jauh dengan tatapan hampa. Tak jarang pula ia menguap lebar-lebar, tanpa malu-malu, begitu guru di depan itu mulai mengucapkan rumus trigonometri yang terdengar seperti mantra. Bukan ia saja yang tampak jenuh dengan pelajaran Matematika di siang bolong itu. Hampir semua penghuni kelas XII IPA 6 itu tampak begitu bosan melihat rumus-rumus bertebaran di papan tulis, kecuali empat siswa teladan yang duduk di depan kelas, seorang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Mereka tampak begitu menikmati pelajaran Matematika-bagaikan-neraka itu.

            Dua buah pendingin udara yang dipasang di kelas itu tampaknya menjadi semacam oasis bagi para penghuni kelas itu. Udara yang dingin berembus membuat penghuni kelas terlelap. Apalagi ditambah dengan lagu ninabobo yang diucapkan oleh guru Matematika bernama Pak Triya di depan kelas. Vano hendak merebahkan kepalanya di meja saat segumpal kertas meluncur menimpa kepalanya, membuatnya terduduk kembali.

            “Ssst! Vano!” kata seorang anak perempuan yang duduk di samping mejanya.

            “Apaan, sih, Fiya?” jawab Vano dengan nada lelah. Ia menatap gadis mungil berkucir dua yang sedang tersenyum kepadanya. “Ada apa?”

            Anak perempuan yang bernama Fiya itu hanya nyengir dan berkata, “Jangan tidur, dong, Van! Pak Triya bakalan ngamuk kalau kamu ketahuan.”

            Vano bergumam, “Whatever.” Ia lalu melemparkan gumpalan kertas yang dilemparkan Fiya kepadanya tadi secara asal-asalan dan menjatuhkan kepalanya ke meja. Ia membelakangi Fiya, menjatuhkan pandangannya ke arah jendela. “Bintang jatuh,” gumamnya.

            Bintang jatuh. Vano melihat sebuah bintang jatuh sebelum akhirnya benda langit itu menghilang bagai ditelan awan-awan putih dan Vano terpejam... selama beberapa menit. Sebuah penghapus papan tulis menghantam tepat ke tengkorak kepalanya, membuatnya gelagapan terbangun. Seisi kelas terbahak-bahak dan muka Vano sedikit memerah. Di depannya, sosok Pak Triya tampak begitu murka melihat Vano. Vano hanya menatap Pak Triya polos dan beberapa saat kemudian beliau kembali ke depan kelas, asyik dengan kekasih papan tulisnya. Vano melirik ke arah langit selama beberapa detik dan memutuskan bahwa bintang jatuh tadi hanyalah imajinasinya.

* * *

Vano Sebastian, tujuh belas tahun, hanyalah seorang remaja laki-laki biasa. Ia cukup populer di sekolahnya, SMA Harapan Kita, sebuah sekolah swasta elite di Kota Solo. Wajahnya tampan dengan rambut lurus yang jatuh tepat di alisnya yang pekat. Hidungnya mancung dan ia memiliki segaris kumis tipis tepat di bawah hidungnya. Kulitnya tidak putih pucat, seperti artis-artis sinetron di televisi. Kulitnya cenderung coklat muda. Vano tak pernah mengeluh soal fisiknya, kecuali soal tinggi badan. Tingginya hanya 158 sentimeter, termasuk kecil untuk seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun

Ia tidak hanya populer karena memiliki wajah tampan, tapi karena ia terkenal cukup pintar di sekolahnya. Yah, sebetulnya dia cuma jago Matematika saja, sih. Tapi karena Matematika adalah dasar dari semua pelajaran ilmu alam di SMA, tidak heran ia menguasai semua pelajaran hitungan, seperti Fisika dan Kimia.

            Vano berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan minyak multinasional dan sangat jarang berada di rumah, sementara ibunya adalah seorang psikolog di sebuah perusahaan tekstil terbesar di Kota Solo. Ia memiliki seorang kakak laki-laki yang selisih umurnya hanya dua tahun bernama Agi.

            Bel pulang berbunyi tepat saat jarum panjang menunjuk angka enam sedangkan jarum pendek berada di antara angka satu dan dua. Murid-murid XII IPA 6 tampak benar-benar lega mendengar bel pulang, bagaikan mendengar petuah bijak dari sang dewa. Pak Triya menuliskan hal terakhir yang ingin dilakukan di muka bumi, yakni latihan soal. Setelah itu, beliau berbalik dan memasang muka termasamnya yang paling jelek. Vano yang duduk di belakang hanya bisa menahan tawanya, tapi ia masih mengusap rambutnya.

            “Selamat siang, Anak-anak!” kata Pak Triya setelah mereka selesai berdoa. Beliau berjalan meninggalkan kelas dan disambut teriakan riuh rendah dari para penghuni kelas itu. “Paling tidak kita bakal ketemu dia minggu depan!” seru salah seorang murid sambil menunjuk pintu.

            Vano berdiri dari kursinya, memasukkan beberapa tumpukan buku ke dalam tasnya, lalu ia menatap langit lagi untuk yang terakhir kalinya. Fiya memandang Vano keheranan dan bertanya, “Kenapa, Van?”

            Vano menggeleng dan berkata, “Tak apa-apa. Yuk, kita pulang! Aku lapar sekali dan aku bisa menghabiskan gajah saking laparnya.”

            Fiya melirik Vano dengan tajam dan bibirnya mengucapkan, “Garing.” tanpa suara.

* * *

Vano tiba di rumah beberapa menit kemudian. Ia memandang rumahnya yang cukup besar, sebelum akhirnya turun dari motornya, dan menghela napas. Rumahnya masih tertutup rapat, pertanda ibu dan kakaknya belum pulang. Atau kakaknya sudah pulang, tapi ia mengunci diri di kamarnya, karena, yah, dia cukup aneh.

            Setelah mengaduk-aduk isi tas sekolahnya yang berantakan, akhirnya Vano menemukan kunci rumah. Tidak terkejut dengan penemuan kuncinya, ia langsung memasukkan kunci ke gembok yang mengunci pintu pagar rumahnya. Tepat saat Vano melangkahkan kaki masuk ke halaman, ia melihat hal yang tidak biasa di halaman samping rumahnya. Asap membubung tinggi dan bergoyang menuju ke langit.

            Vano segera berlari menuju ke sumber asap itu. Barangkali ia berpikir kalau ada kebakaran di samping rumahnya. Atau Kak Agi melakukan eksperimen aneh lagi dengan melempar jerigen bensin ke halaman dan menjatuhkan pemantik api. Alasan yang mana saja, deh. Dan Vano begitu terkejut ketika ia tidak menemukan jerigen bensin di sana. Sebuah benda terbuat dari baja yang berkilau tertimpa cahaya matahari yang terik. Benda itu tampaknya terjatuh dari tempat tinggi dan mengeluarkan asap yang cukup pekat. Benda itu tampak seperti... pesawat UFO? Pesawat yang nyaris memenuhi halaman samping rumahnya yang lumayan luas.

            Film-film alien buatan Hollywood menggambarkan pesawat UFO berbentuk seperti cakram terbang yang berwarna perak. Vano heran sekali bagaimana para sutradara film Hollywood itu mampu mendeskripsikan pesawat UFO mirip dengan yang dilihatnya saat ini, kecuali bagian yang menyerupai telinga kucing di atap pesawat. Oh, dan juga totol-totol berwarna merah jambu yang menyerupai pola sapi di pesawat itu. Vano sendiri tak yakin itu adalah pesawat alien hingga akhirnya pintunya terbuka, menghamburkan asap lebih pekat, dan terdengar suara perempuan terbatuk-batuk.

            Vano bisa saja lari terbirit-birit, menelepon 911, dan mendapat perlindungan dari NASA, tapi ada hal yang membuatnya tertahan. Sosok yang terbatuk-batuk itu mulai jelas. Dan saat Vano mengucek-ucek matanya, seorang gadis manis, berusia sekitar enam belas tahun, muncul dari dalam pesawat. Seekor anjing Doberman Jerman ada di samping perempuan itu.

            “Ah, padahal aku ingin sekali mendarat dengan keren, ternyata bahan bakar kita habis,” kata gadis itu. Ia mengusap wajahnya yang penuh dengan coreng-moreng abu. “Kita di mana, nih, Moso?”

            Anjing yang berjalan di samping gadis itu menyalak—bukan—anjing itu berkata, “Menurut sistem navigasi kapal, kita berada di sebuah negara bernama Indonesia di planet bernama Bumi di Galaksi Bima Sakti, Tuan Putri. Jaraknya sekitar sepuluh juta tahun cahaya dari planet kita.”

            “Wow! Tak kusangka pesawat kita mampu menempuh perjalanan sejauh itu,” kata si gadis. Ia mengamati sekelilingnya dan mendapati seorang remaja duduk bergulung dan membelakanginya. “Wahai, manusia bumi. Aku Alisa. Aku tidak bermaksud menginvasi Bumi lho.”

            Vano merintih pelan dan bergumam, “Anjingnya bisa bicara, anjingnya bisa bicara.... Aku diajak bicara orang asing, aku diajak bicara orang asing....”

            Gadis bernama Alisa itu saling berpandangan dengan Moso, anjing Doberman Jerman yang bisa bicara itu. “Tampaknya intelegensi manusia bumi rendah, ya, Moso.”

            Vano yang merasa terhina dengan ucapan gadis itu, langsung berdiri dan berbalik, lalu berseru, “Siapa yang kau bilang berintelegensi rendah? Aku peraih medali emas dalam olimpiade Matematika nasional. Dan siapa kalian berdua? Dari mana kalian berdua?” Vano menarik napas dalam-dalam. “Dan kenapa anjing itu bisa bicara?”

            Alisa menghela napas. Ia lalu berkata, “Sudah kukatakan, kan. Namaku Alisa Solewyn, putri dari Kerajaan Soldoraă. Dan anjing di sampingku bernama Moso. Kami berasal dari Planet Sou-Laarde yang berjarak sepuluh juta tahun cahaya dari Bumi.”

            Vano mengerjapkan matanya. Ia tidak mengerti sepatah kata pun yang diucapkan gadis di depannya. Solewyn? Soldoraă? Sou-Laarde? Vano mengerjapkan matanya sekali lagi. Ia berusaha mengingat tanggal apa hari ini. Satu April kah? Akhirnya ia berseru, “Sudah cukup main-mainnya! Aku tanya dengan serius.”

            Alisa menjawab, “Aku juga sudah menjawab dengan serius, Tuan-Galak-dan-Ketus. Sekarang kami membutuhkan obat-obatan. Lenganku dan kaki Moso sedikit tergores. Bolehkah kami meminta obat-obatan?”

            Vano menatap gadis di depannya dengan tatapan ajaib dan tidak percaya. Ia meneliti gadis bernama Alisa di depannya. Ia memiliki rambut panjang sepunggung berwarna coklat gelap dengan hiasan kepala berupa pita besar berwarna merah. Bajunya bernuansa gothic dengan renda-renda bertebaran di sana-sini. Matanya yang hitam pekat menatap Vano dingin. Vano teringat tokoh Elisa dalam Elisa di Negeri Ajaib yang sering ia baca waktu kecil. Tampang Vano berubah menjadi shock begitu melihat apa yang diinjak si Alisa itu.

            “Bonsai-bonsai ibuku!” kata Vano dengan begitu ekspresif. “Kau menginjak bonsai-bonsai ibuku!”

            Alisa menatap geram Vano dan berkata, “Ada orang yang nyaris kehilangan nyawanya di sini dan yang kau pedulikan adalah tanaman-tanaman kerdil ini.”

            Terdengar suara mobil dari luar halaman. Vano kenal sekali dengan suara mobil itu. Suara mobil ibunya.

            “Ibuku pulang!” seru Vano histeris. “Dia akan membunuhku.”

            “Tidak, jika aku membunuhmu terlebih dahulu, Tuan Ramah-dan-Baik-Hati,” kata Alisa. Wajahnya tampak begitu murka. Ia mengeluarkan sebuah logam panjang dari balik pitanya. Logam itu mampu membesar sendiri. Alisa menodongkan logam itu ke Vano sebelum akhirnya Moso berkata, “Tidak, Tuan Putri. Kurasa ia benar bertindak shock seperti itu. Kapan, sih, terakhir kali kita mendapat kunjungan dari planet asing?”

            “Vano!” Terdengar suara seorang wanita dari luar halaman. “Kenapa kau tidak membawa masuk tasmu? Dan kenapa motormu masih di luar?”

            Seorang wanita cantik berusia sekitar empat puluh tahunan membuka pagar yang menimbulkan bunyi berderit ringan. Ia terus memanggil nama Vano, tapi tampaknya yang dipanggil ingin mengambil sekop terdekat dan menggali lubang sedalam lima puluh meter dan mengubur dirinya. Wanita itu berhenti memanggil setelah ia tiba di halaman samping rumahnya.

            Vano tidak bisa membayangkan apa yang dilihat ibunya: sebuah piring cakram raksasa dengan motif sapi merah jambu, seorang gadis asing dari buku dongeng, dan anjing Doberman Jerman. Tapi yang ibu Vano kemudian katakan adalah, “Vano Sebastian! Kau berani sekali menghancurkan tanaman bonsai Mama!”

* * *

“Jadi, biar aku ulangi lagi,” kata Mama. “Kau adalah putri sekaligus pewaris kerajaan Soldoraă dari Planet Sou-Laarde. Dan karena sebuah peperangan, ayahmu menyuruhmu meninggalkan Planet Sou-Laarde dan akhirnya kau terdampar di bumi?”

            Vano, Mama, Alisa, dan Moso sekarang duduk di sofa empuk di ruang keluarga milik keluarga Vano. Vano dan ibunya akhirnya memutuskan untuk mengizinkan mereka berdua masuk rumah untuk mendapatkan antiseptik dan plester. Setelah mengobati Alisa dan Moso, Mama menyuruh mereka berdua bicara di ruang keluarga. Vano menatap Alisa dan Moso secara tajam, kemudian ke arah es teh di atas meja yang dibuatnya tadi. Alisa akhirnya menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.

            “Benar,” kata Alisa sambil mengangguk penuh semangat. “Oleh sebab itu izinkan kami untuk menumpang sejenak di sini sampai keadaan di Planet Sou-Laarde kembali tenteram.”

            Mama diam sejenak. Tampaknya beliau sedang berpikir tentang sesuatu dan akhirnya berseru, “KAU PIKIR AKU PERCAYA? Mana mungkin ada kehidupan lain selain di Planet Bumi! Kau pikir ini film Titanic?”

            “Ma,” kata Vano pelan. “Titanic bukan film tentang alien. Titanic adalah film romantis yang ada peluk-pelukannya di kapal itu.”

            Mama menoleh ke arah Vano sejenak kemudian beralih ke Alisa dan Moso lagi. “Pokoknya aku tidak percaya dengan kalian. Kalian terlalu sering menonton film Titanic. Tidak! Aku tidak mengizinkan kalian menumpang di sini.”

            Vano melirik ke arah halaman samping melalui kaca tembus pandang di samping ruang keluarga. Cakram-perak-bermotif-totol-sapi-merah-jambu itu masih tergeletak di sana dan masih mengeluarkan asap, meski tidak setebal beberapa saat yang lalu.

            “Kami mohon, Nyonya,” kata Moso lagi yang membuat Vano bergidik.

            “Tidak!” kata Mama tegas. Tampaknya beliau tak menyadari dengan siapa beliau berbicara: seekor Doberman Jerman. Untung saja bulunya tidak bertotol-totol sapi merah jambu atau—yang lebih buruk lagi—ungu.

            Alisa memasang wajah memelasnya yang dengan ajaib mirip sekali dengan wajah Moso, membuat Vano tersenyum geli. Namun, ibunya hanya memejamkan mata dan menyilangkan tangan di depan dadanya sambil menggeleng. Kemeja kerjanya juga tampak mengerut, persis seperti dahi ibunya.

            Alisa menghela napas dan berkata, “Baiklah, kalau begitu, Nyonya. Kami akan mencari keluarga baik yang menampung kami.” Ia pun berdiri dan menjatuhkan sebuah benda berkilau ke atas meja kaca. Benda itu mengeluarkan denting menggoda saat menimpa di aras kaca.

            Vano tersenyum puas saat ibunya membuka mata dan melihat sumber suara. Mata ibunya akhirnya terbuka lebar saat melihat benda yang terjatuh tadi. Entah kenapa Vano memiliki perasaan kalau Alisa sengaja menjatuhkan benda itu. Benda yang berkilauan.

            “Apa itu seperti yang kupikirkan?” tanya Mama. Ia melihat benda bening itu yang sekarang tergeletak di atas meja kaca. Tampak begitu serasi dengan beningnya meja kaca. “Apa itu berlian?”

            “Apa?” Alisa tampak terkejut dengan tidak alamiah. “Oh, benda itu. Di planet kami, benda itu disebut mantee, saya tidak tahu kalau di sini apa namanya. Berlian, Anda bilang? Baiklah, benda itu boleh untuk Nyonya, saya rasa. Saya masih punya banyak di pesawat. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena telah mengobati kami.”

            Mama kembali terdiam. Kemudian beliau memancarkan senyumnya yang paling cerah yang mampu membuat pasien stresnya berhasil menjadi lebih stres. “Em, Alisa. Kupikir kita bisa membicarakan soal kau menumpang di rumah ini. Karena suamiku sedang ke luar negeri sekarang, aku rasa tidak masalah jika rumah ini ditambah satu orang lagi—baiklah, dua orang!” tambah Mama begitu melihat Moso mendelik padanya.

            “Benarkah begitu, Nyonya?” seru Alisa begitu gembira. “Kau sudah merekam perkataannya, Moso?”

            “Guuk!” balas Moso. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan terlihat semacam alat perekam ada di dalamnya. Vano sedikit terkejut karena ternyata Moso bisa menggonggong.

            “Ma, Mama yakin mau menampung mereka?” kata Vano mendekati ibunya yang sedang mengamati berlian di tangannya dengan gembira. Ibunya hanya melambai-lambaikan tangannya, menyuruh Vano menjauh. Vano menatap Alisa dan Moso yang sedang ceria dengan sinis.

            Setelah memasukkan berlian seukuran bola bekel ke dalam saku kemejanya, Mama berkata, “Kalian pasti belum makan siang. Sekarang ayo kita makan siang dulu! Ah, Agi. Kenalkan orang-orang yang akan tinggal di rumah kita.”

            Seorang anak laki-laki yang baru saja masuk ke ruang keluarga menatap dua wajah baru di rumahnya. Ia menatap Alisa yang tersenyum padanya lalu beralih kepada si Moso. Agi mengangguk pelan dan kemudian ia berbalik dan meninggalkan ruang keluarga.

            “Oke, abaikan saja anak itu,” kata Mama. “Benar-benar keturunan ayahnya. Baiklah, aku akan memasakkan masakan yang lezat buat kalian. Sayang sekali, Bibi Sum sedang pulang kampung. Padahal ia pintar sekali membuat pudding coklat buat pencuci mulut.”

            Mama melenggang dengan ringan meninggalkan ruang keluarga dan menuju ke dapur, meninggalkan Vano dan dua orang makhluk dari planet asing sendirian.

            “Jadi, namamu Vano, ya?” kata Alisa. “Kita pasti akan berteman baik.”

            Vano menatap Alisa dengan dingin. Vano sedikit mendongak saat melihat Alisa yang berdiri karena Alisa lebih tinggi daripadanya. Tampaknya Alisa memikirkan hal yang sama karena ia menahan geli dari tadi.

            “Bagaimana kau menyembunyikan diri? Kenapa tidak ada orang-orang yang heboh? Seharusnya benturanmu ke Bumi akan menimbulkan bunyi gaduh, kan?”

            “Oh, soal itu,” kata Alisa. “Pesawatku memiliki tombol yang mampu membuat pesawat kami menjadi transparan. Tapi saat menembus atmosfer bumi, tampaknya tombolnya rusak selama beberapa detik. Jadi, kupikir kalian, manusia bumi, melihat semacam bintang jatuh. Dan soal benturan itu, apakah kau pernah mendengar soal peredam bunyi, Vano Sebastian? Itu sangat membantu kami, kau tahu.”

            “Tunggu sebentar,” kata Vano pelan pada dirinya sendiri. “Jadi bintang jatuh yang kulihat itu tadi... kalian.”

            “Maaf?” tanya Alisa.

            Vano menggeleng. Tampaknya hidupnya tidak akan tenang setelah kehadiran dua makhluk asing ini.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Hazuki_Auryn
Hazuki_Auryn at Falling Girl (Prologue) (6 years 44 weeks ago)

belom sempet baca,
T.T
masih ujian,
.
nengok komen2 (gak semua sih, cm separuh) kaya'ny ini menarik,
pingin bacaaaaa.......
TT_TT
(tahan diri, tugas kamu bikin research report in English blom kamu kerjakan, Hazuki, tugas yg harus dikumpulkan hr Sabtu besok! jangan lupa juga ESP-nya!.)
.
(iya, Yohana, Hazuki inget, nunggu abis ujian ja bacany)
.
-_-a

Writer freezcha
freezcha at Falling Girl (Prologue) (7 years 2 weeks ago)
80

Ceritanya bagus, cuma ada yang mau ditanyakan. Kalau memang tidak ada bunyi karena ada peredam bunyi, bagaimana dengan asap yang tebal di halaman rumah? Bukankah tetangga2 akan curiga?

Writer syara
syara at Falling Girl (Prologue) (7 years 20 weeks ago)
100

good idea! Kakak hebat ya, bisa buat ceritanya untuk nyaman dibaca. Dan tokoh Vano itu, membuat saya teringat akan seseorang. :)
~salam kenal :)~

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (7 years 20 weeks ago)

Wow ;-) makasih banyak udah mampir

Writer Riesling
Riesling at Falling Girl (Prologue) (7 years 40 weeks ago)
80

Kau nyari orang buat ngelanjutin kan?

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (7 years 40 weeks ago)

Iyeee... tapi tampaknya saya mau nyoba ngelanjutin sendiri. Kalau kau mau, boleh, Ling :)))))

Writer HastiSkarsih
HastiSkarsih at Falling Girl (Prologue) (7 years 40 weeks ago)

telpon 911 tapi di indonesia ??, agak aneh ya.
Eh tapi aku suka loh ma ceritanya.
Yang ada di kepala saya bahwa dua makhluk ini akan mebuat hidup Vino melihat hal-hal baru dan merubah pola pandang dari nerd menjadi lebih manusiawi.
Semacam pengalaman hidup yang membuat manusia menjadi lebih dewasa.
Dan mungkin membantu dua makhluk ini mendapatkan apa yang mereka cari dengan bantuan Vino, mungkin seorang putri dari kerajaan mereka atau saudara mereka.
Atau mungkin saja Vino dan kejeniusan kakaknya membantu dua makhluk ini membuat sesuatu yang akan dipakai untuk memperbaki planetnya atau mungkin saja mereka merekrut Vino untuk menjadi salah satu awak kapalnya.
Tuh kan banyak kemungkinannya, ayo dong dilanjutin :)))

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (7 years 40 weeks ago)

Harusnya 110, ya? Iya, sih. Cuman 110 itu kurang begitu populer dibanding dengan 911 #ngeles.
.
Heem... idemu lumayan juga. Masalahnya adalah cerita macam gini tuh biasanya endingnya lamaaaa... Dan kalo endingnya lama, biasanya saya ngalor ngidul ke sana kemari >,<
.
Yaah... Mungkin kalo saya sudah tidak ada daftar proyek, mungkin ini akan saya lanjutkan.
.
*lirik Persona saya* -___-

Writer Vrila Sakura
Vrila Sakura at Falling Girl (Prologue) (7 years 45 weeks ago)
90

^~^
ceritanya seru ka
menurutku cerita ini punya ending kok, soalnya aku penggemar komik dan ada komik yang hampir mirip ceritanya kayak begini
kalau ide ku sih ka buat endingnya, Alisa balik lagi ke Planet Sou-Laarde setelah masalah di planetnya selesai.
Tapi sebelumnya Alisa itu dibikin selalu ngegangguin Vano, dan ngebenci Fiya. Karena menurutnya Fiya itu adalah pengganggu antara dia dan Vano.
hehe, maaf kebanyakan baca komik :p
Ka, habis persona selesai, selesaiin Falling Girl ya.. penasaran

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (7 years 45 weeks ago)

Entar kalo idenya muncul, pasti saya lanjutin. Atau kamu saja?
^^
.
Persona saya??? Hiks T_T Bikin nyesek banget tuh cerita -__-
.
Anyway, thanks for passing by :)

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (7 years 45 weeks ago)

Entar kalo idenya muncul, pasti saya lanjutin. Atau kamu saja?
^^
.
Persona saya??? Hiks T_T Bikin nyesek banget tuh cerita -__-
.
Anyway, thanks for passing by :)

Writer Zhang he
Zhang he at Falling Girl (Prologue) (7 years 50 weeks ago)
80

Haha, ada kalimat-kalimat yang bikin aku ketawa sendiri, seperti: Ia terus memanggil nama Vano, tapi tampaknya yang dipanggil ingin mengambil sekop terdekat dan menggali lubang sedalam lima puluh meter dan mengubur dirinya.Trus juga komentar mamanya Vano soal film titanic, kocak.
Hehe, tambahan2 yang begini bikin ceritamu fresh.

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (7 years 50 weeks ago)

ahahahaha... kalo mau silakan dilanjutin kak

Writer Zhang he
Zhang he at Falling Girl (Prologue) (7 years 49 weeks ago)

Kamu aja ya yang lanjutin, biar gaya khas kamu tetep keliatan, hihi. Ditunggu lo

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (7 years 49 weeks ago)

ahahaha. cerita macam gini biasanya endless dan saya gak punya stok ide sebanyak itu =,=

Writer skybluescramble
skybluescramble at Falling Girl (Prologue) (7 years 50 weeks ago)

dilanjutin gih, kalau cuma prolog belum begitu bisa dinilai...

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (7 years 50 weeks ago)

Aku kan dah bilang kalo ada yg mau nglanjutin, silakan, blueskuyscramble. Hihihi ribet deh

Writer Alfare
Alfare at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)
80

Aku cuma bisa bilang bahwa tema-tema yang kita minati sebagai sesama penulis benar-benar mirip...

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)

benarkah? tapi pasti Kak ALfare jauh lebih jago

Writer Alfare
Alfare at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)

karenya kayaknya kamu lebih muda dariku, kayaknya itu wajar aja.

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)
100

saya bingung, trigonometri termasuk matematika kan ya ? kalo gitu kenapa Vano keliatan malas mengikuti pelajaran itu ?

hm....btw saya suka, mungkin suatu saat nanti saya akan melanjutkan prolog ini

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)

Pikiran2 orang genius macam Vano memang susah diprediksi. Ya saya mikirnya karena Vano udah biasa ngerjain soal2 susah, jadi dia bosen liat trigonometri yg gampang (iya! Trigonometri gampang, kata Vano) -,-
.
Ah, makasih banyak udah mau ngelanjutin cerita ini. Soalnya saya yakin cerita macam gini, gak bakalan punya ending

Writer kiva2011
kiva2011 at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)
Writer liza is rin
liza is rin at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)
100

like this! sangat direkomendasikan untuk dibaca saat sedang jenuh! haha..
Kakak dapet inspirasinya dari mana sih? kok kayaknya ide buat bikin yang beginian tuh banyak banget?! hahaha..
Salut untuk kakak! :D

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)

terima kasih banyak, Liza. saya juga nunggu karya-karyamu yang lain

Writer liza is rin
liza is rin at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)

udah udah.. karyaku udh keluar! :D mampir yaa >> http://www.kemudian.com/node/255226 .. ak tunggu. :)

Writer herjuno
herjuno at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)
80

Hm, gaya tulisnnya masih "senikmat" Persona, merki merupakan hal yang menarik melihatmu mulai membuat OC (original character) dan OS (original story). Anyway, nice job dengan event cue-nya, tapi deskripsi karakternya sedikit terlalu berlebihan. Storyline-nya kayaknya terpengaruh "aliran Jepang" ya, karena di anime, banyak plot "alien girl" kaya' gini.

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)

Makasih kak herjuno. Komen-komen kakak selalu saya nantikan *halah*. Ah, soal deskripsi Vano yang berparagaraf-paragraf itu, saya sendiri juga merasa sedikit janggal waktu nulis. Tapi kalau ngga dikasih deskripsi, entar juga aneh hasilnya. Apakah ada tips agar deskripsi dan dialgo tidak berlebihan?

Writer herjuno
herjuno at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)

Disebar aja. Misal di hal. 1, kamu bilang dia itu kulitnya pucat, terus di hal. 5, kamu bilang tingginya 158 cm, dsb.
.
Atau kalau nggak disusupkan dalam alur. Misal kamu membuat adegan si Vano harus mengambil sesuatu buat Alisa, terus kamu tulis: "Tingginya yang tak lebih dari 158 cm itu membuatnya harus berjinjit untuk meraih barang itu". Kan dari sini juga terungkap karakternya kaya' gimana.

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (8 years 1 week ago)

makasih kak herjuno ^^

Writer dansou
dansou at Falling Girl (Prologue) (8 years 2 weeks ago)
90

Idenya tiba-tiba saja muncul dan saya merasa sayang kalau ngga ditulis. Tapi saya nggak akan melanjutkan cerita ini, karena saya masih punya utang Persona. Kalau teman-teman berminat melanjutkan, saya justru senang sekali. Kalau nggak ada, ya nggak apa-apa sih.
.
Tau deh inspirasinya dari mana. Tapi kayaknya lucu aja kalau tiba-tiba rumah kita kedatangan alien dari luar galaksi. Saya mohon kritik dan sarannya.
.
Terakhir, kalau ada nama Akira di cerita ini, itu salah. Yang betul Vano. Pikiran saya ke Akira mulu nih