The Journal: Day 1

13.32 WIB

Semua ini dimulai karena perjanjian bodoh itu. Sekarang, aku mengutuki diriku sendiri. Dasar mulut besar! Kenapa aku nekat menjanjikan sesuatu yang akan sulit sekali kutepati?

Tadi pagi, si Bodoh Risa itu memberikan buku ini padaku saat kami tengah sarapan. Aku masih ingat saat ia memainkan alisnya naik-turun sambil tersenyum sinis. Aku langsung mencium adanya rencana busuk.

“Awan, kamu ingat janjimu bulan lalu? Kamu akan nurutin semua yang kubilang kalau ketahuan berkelahi lagi. Masih ingat?”

Iya, aku ingat … sangat ingat. Gara-gara janji itulah, selama sebulan ini aku berusaha menahan diriku sendiri. Tapi, kemarin aku benar-benar meledak. Sudah cukup penghinaan ini, apalagi mereka mulai bawa-bawa orang tuaku. Mereka boleh menghinaku. Mereka boleh merendahkanku. Tapi, saat mereka mulai mencemooh orang tuaku, entah bagaimana badanku bergerak sendiri. Tahu-tahu saja mereka sudah terkapar dengan lebam di sekujur tubuh. Begitu juga denganku. Hasilnya, kami diskors selama 3 hari.

Risa benar-benar tidak punya perasaan. Sudah tahu kalau badanku sakit semua begini, tapi dia masih tetap saja menyuruhku menulis jurnal bodoh ini.

Ayah, Ibu, apa kalian memperhatikan kami dari atas sana? Lihatlah, Risa mengacau lagi. Dia bilang kalau aku harus menulis seperti ini setiap hari. Yang benar saja.

“Sebulan saja,” katanya memohon. “Ah, bukan. Dua minggu juga sudah cukup. Aku ingin tahu isi kepalamu, Wan. Jadi, tulislah apa saja. Perasaanmu. Pikiranmu. Kasih kakakmu ini kesempatan untuk bisa memahamimu.”

Coba saja. Dengan otak kecilnya itu, dia akan kesulitan memahamiku. Aku yakin seribu persen.

***

19.18 WIB

Seharian ini tak ada hal istimewa yang terjadi. Aku hanya di rumah saja, sendirian. Risa masih belum pulang dari kerja sambilannya. Ya, awalnya kupikir begitu. Tapi, ternyata hari ini bisa berubah menyebalkan.

Sore tadi, langit Jogja sedang tidak mendukung. Awan hitam bergulung-gulung diiringi suara petir yang memekakkan telinga. Pertanda kalau aku harus mengangkat jemuran di halaman. Aku segera mengambil ember besar dan keluar. Gerimis mulai turun, aku harus bergegas. Untung saja cucian Risa hari ini tidak terlalu banyak.

Aku masuk ke rumah tepat ketika hujan mulai deras. Saat aku ingin menutup pintu, seseorang berdiri di muka halaman rumah, tanpa payung. Aku mengenalinya sebagai anak perempuan penghuni kelas sebelah. Dia juga sama-sama sering di-bully seperti aku. Kalau tidak salah, teman sekelasnya memanggilnya ‘Ima’. Sedang apa dia di sini?

Dia memandang rumahku lekat. Dia juga kelihatan ragu-ragu mau masuk halaman atau tidak. Apa dia ingin bertemu denganku? Aku mencari-cari sebuah payung, lalu keluar setelah menemukannya. Aku segera memayunginya.

“Kamu anak kelas sebelah, kan? Ngapain di sini?”

“Umm….”

Lamban. Aku menunggu lama, tapi dia belum menjawab juga. Hujan makin deras. Kalau aku membiarkannya berdiri di sini lebih lama, dia bisa sakit. Bagaimanapun juga, dia perempuan. Jadi, terpaksa aku menyuruhnya masuk dulu.

Setelah kami masuk, kuminta dia duduk di tikar. Ruang tamu kami kecil, jadi kami sengaja tidak menempatkan perabotan terlalu banyak. Lagipula, lebih hemat beli tikar daripada kursi-meja ataupun sofa.

Aku mengaduk-aduk tumpukan cucian yang baru saja kuangkat dari jemuran, mencari handuk kering. Setelah menemukannya, kulempar handuk itu ke arah anak perempuan itu. Lantas, aku duduk bersila di depannya sambil menatapnya tajam.

Dia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya dan menyerahkannya padaku. Aku hanya diam sambil memandangi buku paket Matematika yang basah di tepiannya itu dengan pikiran kosong. “Apa ini?”

“Aku menemukan buku ini di halaman belakang sekolah,” katanya. Aku masih tidak mengerti. “Ada namamu.”

“Kenapa nggak kamu kembalikan di sekolah saja?”

“Aku dengar kamu kena skors selama 3 hari, kan? Kalau nggak salah ingat, bakal ada ulangan Matematika 3 hari lagi di kelasmu. Kupikir, mungkin kamu bakal kesusahan kalau nggak kukembalikan lebih cepat.”

“Dari mana kamu tahu rumahku?”

“Aku tanya ke wali kelasmu,” sahutnya. “Tadi itu, aku sempat berdiri diam di depan rumahmu sambil bertanya-tanya apa aku datang ke rumah yang benar. Tapi, aku lega saat melihatmu. Berarti aku nggak nyasar.”

Ya ampun, apa anak itu bodoh? Dia repot-repot ke sini hanya untuk itu? Dia sama saja seperti Risa.

Ketika hujan telah berhenti, dia permisi pulang. Sudah mendekati waktu maghrib, dia pasti menggigil di tengah jalan dengan baju basah itu. Yang bisa kulakukan hanya meminjaminya jaket.

Ayah, Ibu, berikanlah wangsit pada Risa agar besok sisi pengacau dalam dirinya tidak kumat. Aku juga berharap agar besok tidak akan jadi hari yang menyebalkan atau membosankan. Apa yang bisa kulakukan untuk membuat besok jadi menarik ya?

***

Catatan Risa:

Apa?! Kamu bilang aku bodoh? Berotak kecil? Kita lihat saja siapa yang otaknya lebih kecil.

Tapi, aku mungkin akan melakukan hal yang sama kalau ayah dan ibu dicemooh oleh orang lain. Meskipun begitu, kamu harusnya lebih sabar, Wan.

Kalau otakmu lebih besar dari milikku, bertindaklah setelah berpikir masak-masak. Jangan gunakan ototmu untuk menyelesaikan segala hal. Dan berhentilah mengadu pada ayah dan ibu tentang tindakanku. Apa kamu nggak berani menghadapi aku sendirian? Hahaha ... payah.

Ngomong-ngomong, anak perempuan dari kelas sebelah itu … kenapa kamu bersikap sedingin itu sama dia? Dia itu perempuan, bersikaplah lebih lembut.

Kamu ingin besok nggak membosankan? Hmm … kebetulan aku akan ngajar les sampai malam. Jaga rumah, ya? Kalau bosan, perbaiki genteng saja. Sudah bocor, tuh….

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Kika
Kika at The Journal: Day 1 (6 years 35 weeks ago)
2550

mampir ke cerita kak ao lagi :D
kika lanjut baca dulu~

Writer dansou
dansou at The Journal: Day 1 (8 years 6 weeks ago)
80

bagus nih. saya suka. model penceritaannya berbeda dari cerita kebanyakan. ini wujudnya jurnal, ya? bakalan lebih bagus lagi kalau ditulis tangan. feel nya bakalan dapet. tapi kayaknya ngga mungkin, ya? hehehehe...
.
saya tunggu lanjutannya

Writer anggra_t
anggra_t at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)
70

Langsung cabe aja ya. Pujiannya udah tahu kan? XD
.
balikin buku harian sampe hujan2an, anak perempuan itu niat banget ya? kalau aku sih, nunggu hujan berhenti dulu baru balikin bukunya. sekalipun itu cowok gebetanku. kan ntar jadi keliatan jelek dong di depan doi. :D
.
hemm... ini dengan gambaran buku harian ya? tapi bagian 1 dan 2 nya ga seperti buku harian...

Writer aocchi
aocchi at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)

itu hujannya mulai deres pas anak perempuan itu udah agak deket dari rumahnya 'aku' ... kepalang tanggung, sekalian saja nyamperin rumahnya ==a
Umm ... gak kayak jurnal harian ya? gak apa2 deh, untuk pertama begini dulu ... nanti untuk yang Day 2, semoga bisa lebih mirip buku harian....
tapi, bener sih ... kalau dibaca ulang, malah lebih mirip narasi biasa ya? *PLAK*

Writer anggra_t
anggra_t at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)

hahah! practice makes perfect ^^

Writer Shin_Serpentwitch
Shin_Serpentwitch at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)
70

hmmm ngalir jg bacanya. nice :)

Writer aocchi
aocchi at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)

aih, makasih sudah mampir dan baca ^o^

Writer xenosapien
xenosapien at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)
70

Hi, Ao. Mampir baca2 aja. :)

Quote:
Aku masuk ke dalam tepat ketika hujan mulai deras. Saat aku ingin menutup pintu, seseorang berdiri di muka halaman rumah, tanpa payung. Aku mengenalinya sebagai anak perempuan penghuni kelas sebelah.
Hehehe... diperbaiki tuh. :P

Writer aocchi
aocchi at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)

jadi -> masuk ke dalam rumah (kurang kata 'rumah' ya?) atau masuk ke rumah?

aih, makasih Xeno-nii sudah mampir dan baca :D

Writer xenosapien
xenosapien at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)

Hehehehe... lebih baik emang diganti "masuk ke rumah", Ao. Soalnya frase "masuk ke dalam" itu terkesan boros. Kan sesuatu yang "masuk" umumnya emang "ke dalam". Seperti sesuatu yang "jatuh" biasanya selalu "ke bawah". Atau yang "naik" lazimnya "ke atas". :D

Writer Chie_chan
Chie_chan at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)
80

pendek, jadi bacanya cepat. menurutku ada beberapa miss di logika kak. 1] menyilakan orang masuk tanpa tahu nama dan motifnya. sekalipun satu sekolahan kan tetap aja... rasanya gimanaa gitu -___- 2] orang berdiri di depan pintu rumah keguyur hujan (ga bawa payung pula) tanpa nekan bel atau teriak2 manggil orang rumah. kesan ceweknya kok seram ya jadinya. D: bukunya juga apa gak basah? atau jangan2 tasnya waterproof? *plak* XD 3] menurutku kalo udah menyilakan masuk teman sekolahan-yg-cuma-kita-tahu-tapi-gak-kita-kenal tapi ga nanya namanya itu lupa yg agak2 terlalu.
.
.
sisanya, narasi penceritaanmu bagus dan mengalir kayak biasa sih...

Writer aocchi
aocchi at The Journal: Day 1 (8 years 7 weeks ago)

wkwkwk ... sifatnya si tokoh 'aku' memang begitu sih ... tapi, sepertinya memang terlalu ekstrim ya? ok deh, siap diedit
makasih, chi xDD