The Journal: Day 3

Aku bosan menulismu sebagai orang ketiga dalam catatan ini, Risa. Jadi, aku akan menulis langsung saja.

Sekarang ini, duduk di trotoar jembatan baru yang sampai sekarang belum kutahu namanya ini, rasanya menyenangkan. Semilir angin sepoi-sepoi menghampiriku. Melihat Gunung Merapi yang diselimuti kabut itu membuatku berpikir kalau itu adalah kamu. Selalu tidak bisa ditebak. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dengan menyuruhku menulis jurnal bodoh ini?

Aku memang suka menulis, tapi bukan jenis tulisan semacam ini. Meskipun aku ingin menulis singkat saja, entah kenapa tanganku bergerak terus. Tahu-tahu sudah panjang saja.

Belakangan ini aku memikirkan debat kita tempo hari saat kamu memintaku menulis di buku ini. Apa maumu? Hal bodoh apa lagi yang kamu rencanakan untukku? Itu yang selalu kupikirkan. Jangan hanya menuntutku untuk membuka pikiranku. Apa bisa kamu melakukan hal yang sama?

Hmm? Barusan, sepertinya aku melihat seseorang yang kukenal jalan di trotoar seberang. Orang itu lagi. Ya ampun, apa ini hari sialku? Tidak di sekolah, tidak di rumah, tidak di sini, kenapa aku harus selalu melihatnya? Padahal aku sengaja keluar untuk mengganti suasana belajar. Sial! Melihatnya membuat mood-ku jadi jelek. Ini mulai menyebalkan. Apa? Awas kalau kamu tertawa.

Aku berpikir … pernahkah sedetik saja kamu tidak memikirkan cari uang? Aku merasa kalau ini mulai berlebihan. Kamu jadi jarang makan. Sekalinya makan, porsinya sedikit sekali. Kamu jarang istirahat. Kamu memaksakan tubuh kecil kurusmu itu untuk kerja ke sana kemari, apa kamu tidak lelah? Berhentilah meski hanya untuk sehari saja.

Kamu selalu bilang, “Serahkan padaku.”

Atau….

“Nggak perlu cemas, kamu cukup bersandar padaku.”

Apa itu? Apa aku ini anak kecil yang masih akan senang kalau kamu berkata begitu? Untuk sekali saja, kamu yang harus bersandar padaku.

Cukup dengan semua ini, jangan buat aku kesal. Orang lain sering membuatku marah, aku tak peduli. Tapi, jangan kamu juga. Hari minggu nanti, jangan ke mana-mana. Aku mau kamu libur. Sehari saja. Kalau kuminta untuk menganggap ini sebagai sebuah permohonan, apa kamu tetap akan mengabaikannya?

Jangan buat aku menjadi lebih tak berguna lagi di hadapan mendiang ayah dan ibu. Bisa kamu mengerti itu? Semua ini mulai menyebalkan. Biarkan aku membantu!

Besok, aku berangkat sekolah lagi. Dan akan langsung berhadapan dengan ulangan Matematika di jam pertama. Ayah, Ibu, bantulah putra kalian yang tak berguna ini.

Kamu juga, Risa! Besok ada ujian Astronomi, kan? Aku sudah lihat jadwalnya di kamarmu saat beres-beres tadi pagi. Jangan tidur terlalu malam, bisa-bisa kamu tertidur saat ujian. Besok, akan kubuatkan sarapan yang lengkap dan banyak. Sebagai gantinya, berusahalah yang terbaik. Dapatkan nilai penuh untukku. Yah, walaupun aku tidak akan terlalu berharap.

 

Catatan Risa:

Kenapa aku ingin kamu menulis di buku ini? Karena hanya buku ini sarana yang tepat untuk membuatmu bicara yang sebenarnya. Aku tahu, kamu itu tipe orang yang nggak akan bisa mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya. Yang bisa kamu lakukan hanya mengatakan kata-kata kejam. Apa kamu tahu? Caramu mengungkapkan rasa peduli pada orang lain itu benar-benar aneh. Kalau seperti itu terus, orang lain bisa menganggapmu apatis.

Kamu ingin tahu apa yang kupikirkan? Aku ini bukan orang yang suka memikirkan hal-hal yang rumit. Bukankah dilihat saja, sudah langsung ketahuan? Aku masih ingat waktu dulu kamu bilang kalau isi otakku itu selalu tergambar jelas di wajahku. Lalu, untuk apa kamu bertanya? Apa karena akhir-akhir ini kita jarang ketemu, lalu kamu jadi kesulitan menebak apa yang kupikirkan? Baiklah, mulai sekarang akan kukatakan padamu semua yang kupikirkan. Juga apa-apa yang kulakukan di luar rumah. Anggap saja kalau ini sebuah kesepakatan. Kamu juga akan mengatakan padaku semuanya kan? Berjanjilah kalau nggak akan ada lagi rahasia, oke?

Aku berterima kasih. Kamu lihat itu? Terima kasih sudah mencemaskanku.

Hei … jangan mengatakan hal-hal seperti itu. Siapa yang bilang kalau kamu nggak berguna? Kamu lebih dari berguna. Apa kamu tidak tahu? Kamu selalu jadi kekuatanku. Terutama setelah kepergian ayah dan ibu. Itu yang selama ini kupikirkan. Apa kamu puas sekarang?

Hmm … aku nggak jamin kalau hari minggu nanti bisa diam di rumah. Tapi, aku akan berusaha.

Jangan cemas. Besok, aku janji akan makan banyak. Maaf, aku nggak nyangka kalau kamu akan khawatir. Dan aku akan berusaha untuk mendapat nilai bagus, meski mungkin bukan nilai penuh. Tapi, aku akan berusaha yang terbaik. Kamu juga! Dapatkan nilai 10 untukku. Aku tahu kamu bisa melakukannya, jadi tidak ada toleransi kalau nilaimu kurang dari itu. Hahahaha….

Oh ya, ngomong-ngomong … apa orang yang kamu lihat di jembatan adalah anak perempuan dari kelas sebelah itu? Hahaha … jangan suka menganggap kalau kamu akan dapat sial hanya karena bertemu dengan orang yang membuatmu terganggu. Itu bukan hal baik untuk dipikirkan. Sekali saja, berpikirlah positif mengenai orang lain.

Dan … tersenyumlah! Wajahmu itu sebenarnya imut, Wan. Tapi, jadi tampak mengerikan karena kamu selalu cemberut. Benar-benar….

Read previous post:  
34
points
(624 words) posted by aocchi 7 years 49 weeks ago
68
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | Buku harian | Journal
Read next post:  
Writer Kika
Kika at The Journal: Day 3 (6 years 26 weeks ago)

iya.. Konfliknya masih belum kelihatan, makin buat penasaran~ lanjut lagi~

Writer Samara Dahana
Samara Dahana at The Journal: Day 3 (7 years 49 weeks ago)
90

Halo ao, saya suka dngan hubungan kakak adik di cerita kamu, berasa bgt kalo mereka saling menjaga dan memiliki satu sama lain. Tp konfliknya belum terlihat, mungkin krn formatnya 'jurnal' atau mungkin saya yg hrs lebih sabar menunggu kelanjutaannya. Lanjuuuut ^__^

Writer kutchings
kutchings at The Journal: Day 3 (7 years 49 weeks ago)
80

gua suka cerita lo.. kayak cerita dunia nyata...

apakah cerita ini bakal lanjut or hanya sampai sini doang yah?

apakah bakal ada konflik kedepannya misal sequelnya?

i like this story

Writer aocchi
aocchi at The Journal: Day 3 (7 years 49 weeks ago)

makasih~~
iya, ini bakal lanjut ... konflik? tentu saja ada, meskipun mungkin tersirat sih, karena ini cuma semacam buku harian ... jadi, mungkin lebih ke pikiran di 'aku' *plak

Writer liza is rin
liza is rin at The Journal: Day 3 (7 years 49 weeks ago)
100

berhubung jdulnya jurnal, jadi format cerita yg begini tidak salah deh! hahahaha..
lanjutkan ya! :)

Writer aocchi
aocchi at The Journal: Day 3 (7 years 49 weeks ago)

wkwkwk, iya ya?
makasih~~

Writer anggra_t
anggra_t at The Journal: Day 3 (7 years 49 weeks ago)
90

NAH! ini baru namanya jurnal, diary, whatever lah! XD
teruskan, ao! teruskan! ^^

Writer aocchi
aocchi at The Journal: Day 3 (7 years 49 weeks ago)

oh begitu ya? iya ini sedang saya teruskan ^^
sankyu, bu tabib~~