The Journal: Day 4

Sekarang sudah masuk jam terakhir, waktunya pelajaran seni musik. Bah! Aku bolos lagi, menyelinap dari kelas lewat jendela yang memang gampang dipanjat itu. Jangan protes ya, kamu tahu sendiri bagaimana kualitas suaraku dan caraku memainkan alat musik. Aku tidak mau ditunjuk lagi seperti terakhir kali dan sukses ditertawakan seisi kelas. Jadi, di sinilah aku sekarang. Tempat favoritku kalau ingin bersembunyi dari guru-guru yang terus berkeliaran karena kurang kerjaan. Jangan tanya di mana tempatnya, takkan kuberitahu.

Sejak jam pertama tadi, semuanya lancar saja. Meskipun aku dikejar-kejar lagi karena aku tidak mau dicontek oleh mereka saat ulangan Matematika, aku masih baik-baik saja. Jangan cemas, aku tidak berkelahi kok. Kali ini, aku tak membiarkan mereka puas karena aku termakan umpan. Tidak lagi. Jadi, aku kabur saja. Dan kamu tahu sendiri kecepatan lariku. Mereka segera saja kehilanganku. Hahaha….

Ngomong-ngomong, tadi saat istirahat kedua, ada kegaduhan di toilet anak perempuan. Sepertinya ada yang bernasib sama denganku. Hanya saja dia tidak berhasil kabur. Dia langsung tertangkap di dekat toilet dan dipojokkan di sana. Sayang sekali toilet anak perempuan terletak di bagian belakang sekolah, jauh dari keramaian. Biarpun para guru tahu dan bergegas datang, bocah-bocah berandal itu segera bisa kabur sebelum tepergok. Kasihan yang jadi korban mereka. Tadi, aku lewat UKS. Dan ada seorang anak perempuan di sana, basah kuyup. Aku tidak bisa lihat wajahnya karena dia membelakangiku. Jadi, aku tidak tahu siapa itu.

Heh? Buat apa aku mengasihani orang lain? Aku seharusnya memikirkan diriku sendiri dulu. Setelah ini, aku harus memikirkan rute lain untuk pulang. Aku tidak mau dihadang di tengah jalan dan dikeroyok karena masalah tadi pagi. Ah, mereka itu pengecut. Mana berani satu lawan satu. Phew!

Oh ya, bagaimana ujian Astronomi-mu, Risa? Merasa bisa mengerjakan? Atau parah seperti biasanya? Apa malam ini pun kamu bakal pulang larut lagi? Kapan sih kamu akan memikirkan dirimu sendiri? Jangan selalu meninggalkanku sendirian di rumah. Aku jadi merasa seperti istri yang sedang menunggu suami pulang kerja. Dan itu benar-benar menyedihkan! Aku ini kan laki-laki.

Ah … ada yang datang. Sudah, aku sembunyi dulu!

***

Hei … ini sudah jam sepuluh malam. Kamu pergi ke mana sih? Kenapa belum pulang? Bukannya jam ngajar les cuma ditambah setengah jam? Kenapa selama ini?! Jangan suka keluyuran malam-malam, ah. Kamu itu perempuan. Bahaya.

Cepat pulang!

Hei, tahu tidak siapa orang yang datang saat aku sedang bolos jam terakhir? Ternyata anak perempuan yang kulihat di UKS. Kelihatan dari rambut dan pakaiannya yang basah. Mungkin dia ke sana untuk mengeringkan bajunya. Dan aku mendengarnya terisak. Melihat hal itu membuatku kesal. Apa menangis bisa menyelesaikan semuanya? Aku benci mendengar tangisannya itu. Rasanya aku ingin membentaknya saat itu juga, menyuruhnya diam. Tapi, kalau aku muncul, bakal ketahuan kalau aku bolos. Siapa yang akan menjamin kalau dia tidak akan mengadu ke guru BP?

Untuk apa dia nangis, coba? Dia bahkan tidak mencoba mempertahankan dirinya waktu di toilet tadi, begitulah kata anak-anak perempuan lain yang melihat itu. Rasanya miris, sih. Tapi, tetap bikin marah. Apa semua anak perempuan seperti itu? Sedikit-sedikit nangis?

 

Catatan Risa:

Ya ampun, siapa yang ngajarin kamu bolos pelajaran, ha?! Jangan lakukan lagi, nanti jadi kebiasaan. Yah, meskipun aku tahu separah apa kamu dalam seni musik, tapi kamu harus tahan. Masa’ jadi lembek sih gara-gara diketawain? Berusahalah ya.

Eh? Kamu menjalani hidup yang berat ya di sekolah? Tapi, aku bangga karena kamu sudah bisa menahan diri agar tidak berkelahi lagi. Nggak lucu kan kalau baru saja lolos dari hukuman skorsing, kamu harus menghadap BP lagi? Apa perlu aku protes ke sekolahmu karena hal ini? Tapi, kamu pasti akan langsung marah-marah lagi kalau aku melakukannya kan? Bilang padaku, Wan. Apa yang bisa kulakukan untuk membantu dalam hal seperti itu? Aku tahu kamu nggak ingin aku ikut campur, tapi tetap saja….

Kamu benar-benar nggak ingin dibantu? Masalah bullying di sekolahmu itu mulai serius, lho. Kenapa toilet perempuan nggak dipindah saja? Kelihatannya usaha sekolah untuk menanggulangi hal ini belum terlalu maksimal. Baru kelabakan kalau ada siswa yang kena depresi gara-gara itu. Kamu sendiri baik-baik saja, kan? Kamu masih Awan yang dingin dan bermulut kejam itu yang nggak akan mudah terpengaruh oleh segala macam bullying, kan? Aku jadi cemas, nih.

Soal ujian Astronomi, hasilnya baru keluar minggu depan. Ah, susah menjelaskan apa yang kurasakan. Kalau bilang bisa, nggak juga. Kalau bilang nggak bisa, sepertinya sih aku bisa. Ah, bikin pusing ya? Sudah, ah … jangan bicarakan kuliahku. Aku pening sendiri kalau membicarakan itu.

Bwahahaha … jadi, selama ini kamu merasa seperti istri yang nunggu pulang suami? Aduh! Siapa yang laki-laki, siapa yang perempuan, nih? Hahaha … berair lagi deh mataku.

Jangan khawatirkan aku. Asal kamu tetap setia memberiku bekal makanan yang banyak, aku akan baik-baik saja, kok.

Umm … maaf, aku sudah jelaskan kenapa pulang setelat ini, kan? Fyuuh … gara-gara ban motor kena paku di perjalanan pulang. Untung ada tambal ban yang masih buka di dekat situ. Tahu tidak? Aku jadi curiga kalau paku itu sengaja dibuang di situ. Ah, tapi aku mencoba berprasangka baik saja.

Wan, asal kamu tahu saja, airmata itu senjata terakhir perempuan. Juga pertahanan terakhir. Apa kamu pikir perempuan itu lemah? Kamu salah besar. Di saat-saat genting, perempuan justru terkadang bisa jadi jauh lebih kuat daripada laki-laki. Mau bukti? Coba ingat perjuangan ibu kita yang membesarkan kita sendirian setelah kepergian ayah. Apa kamu pikir kalau ibu itu lemah? Pasti tidak. Jangan remehkan airmata. Setelah menangis sepuasnya, biasanya perempuan akan lebih kuat dari sebelumnya. Itu yang kurasakan saat kehilangan ibu. Setelah menangis, biasanya perempuan akan merasa baik-baik saja. Justru bahaya kalau airmata nggak dikeluarkan, semua emosi jadi tertanam di hatinya dan jadi bom waktu. Siapa yang menjamin kalau emosi itu tidak akan meledak di saat-saat yang krusial?

Laki-laki pasti menderita sekali karena susah menangis. Atau mungkin lebih tepatnya gengsi? Hehehe….

Read previous post:  
36
points
(785 words) posted by aocchi 8 years 6 weeks ago
72
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | Buku harian | Journal
Read next post:  
Writer Kika
Kika at The Journal: Day 4 (6 years 35 weeks ago)
90

makin seru kak ao XD

Writer kutchings
kutchings at The Journal: Day 4 (8 years 6 weeks ago)
80

hmm gua suka perubahan the journal ini.. yang dari awalnya pake format buku harian sekarang kayak format curhat tertulis...

gimana kalau nanti ada konflik ama tu cewek...

atau konflik ama pekerjaan kakaknya gitu... hehe

Writer liza is rin
liza is rin at The Journal: Day 4 (8 years 6 weeks ago)
90

like thiss!!! :D Haha..

Writer dansou
dansou at The Journal: Day 4 (8 years 6 weeks ago)
80

Yang ini udah bagus banget. Ngga ada lagi yang mengganjal di pikiran saya. Lanjutkan

Writer anggra_t
anggra_t at The Journal: Day 4 (8 years 6 weeks ago)
80

Aku selalu pertamax! XDD
.
ngalir sih. tapi... hemmm... kayak lagi sms-an. =))
mungkin waktu nulis, coba kamu tempatkan dirimu di posisi awan/risa dan bayangkan kondisi mereka pada saat menulis diary. kira2 apa yang akan mereka katakan pada situasi yang mereka alami di buku harian. :)
lanjut!!