In The White Coat - Stase 2

Namanya Chimera.

Akhirnya aku memperoleh perawat yang khusus menangani stase penyakit dalam. Memang sih, tidak lazim seorang dokter penyakit dalam memiliki seorang perawat khusus yang menangani kasus-kasus penyakit dalam, karena biasanya hanya dokter bedah atau dokter anastesi yang membutuhkan perawat khusus yang memang memiliki kecakapan khusus untuk menangani kasus-kasus bedah atau anastesi. Tapi aku rasa aku juga membutuhkan seorang perawat khusus yang cakap menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan penyakit dalam, kasus-kasus yang kutangani.

Aku bekerja di sebuah rumah sakit yang kecil, di suatu daerah yang jauh dari kota. Kabarnya sih, rumah sakit ini adalah rumah sakit yang terbaik di daerah ini. Jangan dibayangkan rumah sakit ini seperti rumah sakit mewah berlantai tujuh yang megah. Jangan mengankankan juga banyak koas atau residen yang hilir mudik untuk follow up pasien atau berdiskusi sebelum referat. Tidak, tidak, artikan secara sederhana saja, ini rumah sakit secara harfiah, rumah bagi orang-orang yang sakit, yang dilegalkan pemerintah sebagai rumah sakit yang katanya paling maju di daerah setempat.

Tapi walaupun begini, bendungan pasien nyaris tak henti-henti menghambur ke dalam rumah sakit setiap harinya. Dan karena keterbatasan tenaga medis, terutama dokter, banyak dokter yang harus rela kerja lembur meski sering tanpa gaji tambahan, bahkan walau itu bukan termasuk kewenangannya. Seperti aku misalnya, terkadang aku juga menangani pasien anak-anak yang terserang typhus, meski itu kewenangan dokter anak. Atau pasien yang mengidap stroke, meski itu seharusnya kewenangan dokter saraf. Tapi aku senang. Ikatan persahabatan antardokter disini sangat erat, kami saling berbagi ilmu. Kemampuan dan pengetahuanku akhirnya bertambah pesat, sangat pesat.

Dan untuk alasan-alasan semacam itu karena itu aku membutuhkan seorang perawat. Aku lelah harus berebutan perawat bila lonjakan pasien sangat tinggi. Dan banyak perawat-perawat yang umumnya belum bisa untuk melakukan tindakan-tindakan yang sering diperlukan untuk pasien-pasien penyakit dalam. Ujung-ujungnya aku sering kelelahan melakukan seluruh tindakan sendirian. Akhirnya, Chimera, ya nama perawat itu, bersedia untuk menjadi perawat khusus penyakit dalam. Dia kuajari beberapa skill yang akan dia butuhkan, seperti melakukan resusitasi, punksi paru, atau plebotomi dengan peralatan seadanya yang bisa difungsikan di rumah sakit. Sejauh ini dia sangat terampil dan aku cukup puas dengan pekerjaannya

Chimera. Ya, namanya sungguh lucu dan unik. Chimera, putri dari Typhon dan Echidna yang dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai makhluk hidup dengan kepala singa, berbadan domba, dan berekor ular. Aku rasa sang pemilik nama dan orang tuanya tidak benar-benar paham arti dari 'Chimera' itu sendiri. Tapi, meski arti namanya cukup mengerikan, wajah Chimera sangat cantik. Cukup heran juga, mengapa perawat cantik dan terampil sepertinya bersedia mengabdi di rumah sakit nan kecil di daerah terpencil pula. Suatu realita yang jarang kutemui.

"Dok, ada pasien. Dikirim dari dokter umum di UGD." Chimera melongokkan kepala dari balik pintu.

"Oh ya, langsung suruh masuk saja." Hari ini entah kenapa pasien tidak begitu banyak. Syukurlah, itu artinya masyarakat setempat sehat-sehat dan tidak mengalami gangguan kesehatan.

Seorang laki-laki yang nampaknya berumur 30 tahunan memasuki ruangan. Wajahnya menunjukkan adanya kepanikan.

"Dok, mohon bantu Ibu saya, Dok."

Aku mengernyitkan kening. "Memangnya Ibu Anda kenapa? Ada masalah apa?"

Lelaki itu mengusap keringat di dahinya. Sepertinya ia terburu-buru datang ke rumah sakit. "Ibu Saya sesak, Dok. Sudah dua hari. Sebenarnya akan saya bawa ke rumah sakit, tapi saya tidak punya mobil. Mohon Dokter sekarang ikut saya ke rumah, mohon Ibu Saya diperiksa!”

Aku bergegas menyiapkan peralatan yang diperlukan. “Oh ya, maaf, apakah Ibu Anda sering merasa sesak napas? Apakah ada riwayat asma? Apakah jantungnya sering merasa nyeri?” tanyaku pada lelaki itu.

Lelaki itu menggelengkan kepala. “Saya kurang tahu, Dok. Sudah sepuluh tahun Saya tidak tinggal bersama Ibu Saya. Ini Saya juga baru sampai tadi malam, karena dikabari bahwa Ibu Saya sakit. Tapi katanya tetangga-tetangga dekat, Ibu Saya sehat-sehat saja, Dok. Dan dalam keluarga saya juga tidak ada riwayat asma.”

“Chimera, tolong siapkan obat-obatan yang diperlukan. Siapkan injeksi bronkodilator atau kortikosteroid beberapa ampul.” instruksiku pada Chimera. Bronkodilator atau kortikosteroid memang obat-obatan yang dibutuhkan saat keadaan darurat saat pasien sesak napas.

“Baik, Dok.” Chimera bergegas pergi untuk menyiapkan obat-obat yang kuintruksikan.

Tak lama kemudian aku, Chimera, dan lelaki yang belakangan kuketahui bernama Dirman, sudah berada dalam ambulance dan meluncur ke rumah Dirman.

“Dok, maaf tempatnya agak jauh dan masuk ke dalam desa, dan agak jauh dari tetangga.” Jelas Dirman padaku yang mengemudi.

Kami melalui sawah-sawah yang menghijau dengan tanaman-tanaman jagung muda. Beberapa diselingi pohon jati dan pohon kelapa yang tinggi menjulang. Aku mengamati jalan menuju rumah Dirman, berbatu dan cukup sempit. Mungkin hanya bisa dilalui mobil dari satu arah saja. Aku hanya melihat beberapa rumah yang sempat terlewati, memang jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya sangat jauh.

“Dok, di depan itu rumah saya.” Kata Dirman sambil menunjukkan rumah bercat putih.

Secara umum, rumahnya tergolong lumayan kalau tidak mau dibilang ‘mewah’ bila dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya di daerah itu. Heran juga, mengapa ada orang yang memilih membuat rumah sedemikian bagus di tempat yang agak terpencil begitu. Mungkin pemiliknya ingin tempat yang tenang, lengang, dan udaranya bersih.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah diikuti Chimera. Tampak seorang wanita paruh baya tergeletak di ruang tengah. Beberapa tetangga mengerumuninya, ada yang mengipas-ipas, ada yang menyiapkan minum, ada juga yang memijit kakinya.

Cepat aku memeriksa wanita itu. “Chimera, periksa tanda-tanda vitalnya, tekanan darah, nadi, terutama pernapasannya.” Mendengar instruksiku Chimera langsung menyiapkan spygmamonometer untuk mengukur tekanan darah.

Aku mengamati pasien itu. Pernapasannya lemah dan pendek yang lebih dikenal dengan dyspnea. Kakinya mengalami edema dan perutnya pun kembung secara abnormal. Jari-jarunya pucat dan kebiruan. Jantung? Paru-paru? Ginjal? Atau hati? Aku berpikir keras.

“Maaf, menurut sepengetahuan Ibu Bapak sekalian, yang dikeluhkan oleh Ibu ini ya? Sekitar seminggu terakhir?” tanyaku kepada para tetangga. Aku jelas tidak bisa menanyai pasien, dan anaknya pun tak tahu apa-apa. Padahal diagnosis harus segera ditegakkan.

“Anu... Ibu Elis beberapa hari yang lalu mengeluh bahwa dadanya terasa nyeri, dulu memang sering nyeri, namun cepat hilang. Sedangkan belakangan ini nyerinya sering datang dan lama. Sudah disarankan untuk berobat, tapi Ibu Elis tidak mau karena rumah sakit jauh.” Jawab seorang tetangga.

“Dok, tekanan darahnya 140/100, tapi pernapasannya hanya 10 kali per menit, Dok. Sedangkan nadinya tidak teratur.” Kata Chimera.

“Masukkan bronkodilator beberapa ampul. Setidaknya untuk sementara obat itu dapat membantu pernapasannya. Cepat, Chimera!”

Aku meletakkan stetoskop di dada dan perutnya, mencoba melakukan auskultasi pada organ-organ vitalnya. Astaga, suara jantungnya, kenapa jantungnya bersuara seperti ini?

“Dok, angina pectoris ya, Dok?” Chimera bertanya padaku.

Aku berpikir keras, “Tidak, angina pectoris tidak seperti ini. Walau angina pectoris juga menimbulkan nyeri, tapi kebanyakan suhu pasien pengidap angina pectoris sangat dingin dan banyak keluar keringat. Tapi aku curiga ini bukan angina pectoris. Coba lihat, ada edema di kaki, perut kembung, dan nyeri dada...”

Tunggu... aku sontak tersadar. Edema di kaki, perut kembung, nyeri dada, nadi tidak teratur, suara jantung yang aneh dan berat, jari-jari yang membiru, apakah ini... Pulmonary Hypertensi?

“Chimera, bawa pasien segera ke rumah sakit! Pasien ini mengidap hipertensi paru!” tegasku cepat. “Mas Dirman, Ibu Anda harus dibawa ke rumah sakit, Ibu Anda harus diberi perawatan segera, jika tidak nyawanya tidak akan tertolong.” Jelasku pada Dirman.

Dengan dibantu tetangga-tetangga, akhirnya Ibu Elis dimasukkan ambulans. Beruntung di ambulans terdapat naskal kanul yang terhubung dengan tabung oksigen. Untuk sementara aku berusaha mempertahankan saturasi pasien ini setinggi mungkin.

“Dok, hipertensi paru itu apa?” tanya Chimera.

“Ini memang penyakit yang jarang walau sangat mematikan. Hingga saat ini, penyakit ini memang belum bisa disembuhkan secara optimal. Biasanya gejala awal dari penyakit ini adalah pasien mudah merasa lelah, dan pusing pusing hingga pingsan. Hal seperti ini yang menyebabkan penanganan pada pasien menjadi lambat, karena pasien sering menggampangkan penyakit berbahaya ini. Padahal bila penyakit ini sudah semakin parah, sangat sulit untuk menyembuhkannya.”

Chimera mengangguk-angguk. “Lalu Ibu Elis akan kita apakan, Dok?”

“Aku rasa pasien ini terkena heart failure sebalah kanan hingga abdomennya menjadi kembung. Untuk sementara aku ingin menangani ini dulu. Nanti tolong disiapkan diuretic ya, obat itu akan membantu pengeluaran cairan yang berlebihan. Lalu jangan lupa digoxin juga, obat ini dapat membantu denyut jantung agar lebih stabil dan merangsang aktivitas listrik di jantung. Untuk sementara 2 obat ini saja dulu. Oksigen juga harus terus dipasang.”

Kami segera sampai di rumah sakit, Ibu Elis langsung dimasukkan ke dalam ICU. Chimera segera melaksanakan instruksi yang kuberikan. Aku mencoba mengkomunikasikan keadaan ibunya pada Dirman, mencoba melakukan inform consent, setidaknya keluarga pasien harus tahu apa yang terjadi pada kerabat mereka. Aku menyarankan Dirman untuk membawa ibunya ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap, karena di rumah sakit ini banyak obat-obatan yang kurang memadai.

“Di rumah sakit ini tidak ada obat semacam remodulin, vestavis, atau letairis. Padahal obat-obatan itu akan sangat membantu ibumu untuk survive. Yang bisa aku usahakan hanyalah melakukan atrial septostomy, semacam pembedahan di jantungnya. Tapi seperti operasi pada umumnya, resikonya tidak dapat diprediksi dan aku tidak dapat memberikan jaminan apa-apa pada kondisi ibumu.”

Dirman merenung dan berpikir sejenak. “Sudahlah Dok, saya manut saja pada Dokter. Saya tahu Dokter akan melakukan yang terbaik pada Ibu Saya. Saya menerima segala konsekuensi yang akan terjadi. Untuk melarikan Ibu Saya ke rumah sakit lain sepertinya nyaris tidak mungkin. Butuh waktu berjam jam untuk mencapai rumah sakit yang lebih bagus, dan Saya tidak yakin Ibu Saya dapat bertahan. Saya mempercayakan Ibu Saya pada Dokter.”

Aku menghela napas panjang. “Baiklah. Kalau memang keputusanmu begitu, kau bisa menandatangani surat yang menyatakan kau siap menerima konsekuensi apapun yang mungkin diterima Ibumu.” Kataku mengangsurkan sebuah surat perjanjian.

Aku bergegas menemui Chimera yang sedang memantau kondisi Ibu Elis. “Chimera, bisakah kau hubungi Dokter Budi? Akan diadakan pembedahan pada Ibu Elis. Dan tolong katakan pada perawat yang bertugas di ruang operasi untuk menyiapkan ruangan operasi.”

“Baik Dok, akan segera saya laksanakan.”

Syukurlah Budi segera datang. Dengan cepat dia memakai baju operasi yang sudah steril, masker, dan penutup kepala. “Kau ini ya, baru beberapa menit lalu aku keluar dari ruang operasi, sekarang harus masuk lagi. Padahal teh hangat yang disediakan di mejaku belum juga kuminum setengahnya.” Ucapnya.

“Konsekuensi Bud, salahnya siapa jadi dokter bedah, mending sepertiku, penyakit dalam.”

“Iya ya. Beruntung betul kau. Sudah tidak perlu sering kelelahan melakukan operasi, perawatnya cantik lagi.” Budi semakin menggodaku.

Aku hanya tersenyum sekilas. Chimera memang cantik, dan aku yakin banyak sekali dokter atau sesama perawat lelaki di rumah sakit ini yang sering mencuri pandang ke arahnya. Di rumah sakit kecil begini, pasti Chimera bagaikan bidadari yang turun dari khayangan bagi para lelaki-lelaki yang jenuh dengan pasien-pasien yang datang tak mengenal waktu.

“Kau tahu, atrial septostomy ini cukup berbahaya. Aku tidak yakin ini akan benar-benar berhasil. Pasien sudah cukup tua, dan foramen ovale sudah menutup. Ini artinya aku harus membuat lubang baru agar tekanan di jantung kanan menjadi lebih ringan. Tapi membuat lubang di kulit setipis ini, Oh My God..”

“Aku percaya padamu, Bud. Kau dokter bedah terbaik yang ada di rumah sakit ini.”

“Tapi aku baru beberapa kali ini melakukan pembedahan ini. Dan baru sekarang aku melakukan atrial septostomy dengan pasien setua ini. Doakan aku.”

“Pisau.” Budi mengambil alat-alat operasi yang diperlukan dibantu oleh perawat bedah yang cukup senior. Perlahan-lahan, Budi membuat lubang di antara atrium kanan dan kiri. Mili demi mili, aku melihat keringat Budi mulai mengucur dan perawat membasuh keringatnya dengan tissue. Memang operasi yang sulit. Seharusnya jantung ini normal, seharusnya tidak perlu ada lubang di antara kedua atrium jantung, karena foramen ovale, atau lubang yang terdapat di antara kedua atrium jantung, normalnya sudah tertutup ketika manusia lahir. Tapi apa boleh buat. Untuk menstabilkan tekanan di jantung kanan, lubang ini harus dibuat.

Setelah sukses membuat lubang, Budi mulai memasukkan selang kecil yang di bagian ujungnya terdapat balon ke dalam lubang tersebut. Ballon cateter, aku mengamati dengan tegang. Perlahan, mili demi mili, cateter dimasukkan. Memang pekerjaan yang berisiko, bila terjadi kesalahan, bisa-bisa seluruh septum yang memisahkan kedua atrium yang sangat lunak itu bisa robek dan aku tidak dapat membayangkan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.

Ballon cateter sudah masuk, aku bersorak dalam hati. Selanjutnya, dengan gerakan yang luar biasa pelan dan telaten, Budi mencoba mengeluarkan cateter. Memang seperti itu yang harus dilakukan, cateter dilepaskan dan balon akan mengembang.

Memakan waktu cukup lama hingga operasi itu selesai. Aku melihat jam di tanganku. Operasi ini memakan waktu hampir 4 jam. Budi menghembuskan napas lega. Untuk beberapa saat, pasien diobservasi, sepertinya keadaannya baik. Aku berharap untuk ke depannya keadaannya tetap bisa stabil, meski penyakitnya tidak benar-benar sembuh, setidaknya ini dapat membantu hidupnya bertahan lebih lama.

“Demi Tuhan, operasi barusan... Semoga tidak ada lagi, aku tidak pernah merasa segemetar ini. Bayangkan, jantung! Satu kesalahan sekecil apapun bisa membuatnya tak tertolong!” ucap Budi sekeluarnya dari ruang operasi.

Ya, jantung adalah pusat kehidupan. Selagi jantung masih berdetak, maka selama pula manusia bisa tetap hidup. Dan bila jantung sudah rusak, sekecil apapun kerusakannya, pasti akan menimbulkan efek yang sangat buruk. Hanya karena jantung sebelah kanan mengalami tekanan yang sangat besar selama bertahun-tahun, dapat memengaruhi paru-paru, perut, hingga seluruh organ vital yang lain. Aku belajar banyak kali ini.

 

**sumber didapatkan dari berpuluh-puluh jurnal yang dibaca penulis dan menonton YouTube. Mohon sekali koreksi bila ada hal yang salah atau tidak sesuai dengan fakta yang terdapat di lapangan, karena penulis menyadari kemampuan personalnya belum mampu untuk melakukan penanganan seperti di atas ^^ Terima kasih.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at In The White Coat - Stase 2 (3 years 23 weeks ago)
80

tak kuijinkan ceritanya mendok >.<
walau panjang tapi aku suka~ mirip komik Godhand Teru deh, situasi di ruang operasi dan segala halnya. Idem dengan kak aggra soal penggunaan kata-kata medis, bagaimana bila akhir postingan dituliskan arti-artinya? hehe.. supaya kata-kata yang baru sekalian dipelajari ^^ maap cerewet tapi aku suka ini <3 :D

Writer dansou
dansou at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)
90

~,~ saya pusing baca komentar di bawah. Huhuhu T_T.
.
Waktu baca ini, saya ingat sama Code Blue (kyaaaa! Yamapi #apasih). Tapi kalo Code Blue kan dokter udara gitu. Kalo dokter terpencil, lebih mirip ke Dr. Koto, tapi aku lebih suka Code Blue.
.
Abaikan komentar saya.
.
Bagus nih. Bisa nambah pengetahuan soal kedokteran, meski istilahnya bikin dahi berkerut.
.
Saya tunggu karyamu berikutnya. Salam kenal

Writer n o n a i r i l
n o n a i r i l at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)

Komentar yang mana? Komentar ama nona tabib? Sudahlah, abaikan :D
.
Code Blue? Hahahha,, aku malah lebih terinspirasi ama Say Hello to Mr. Jack Black ama Grey's Anatomy loh, nggak keras unsur-unsurnya yah? *salah inspirasi :D
Aneh, udah 2 orang bilang tentang dr. Koto. Itu komik atau apasih? Anime? Tentang dokter juga? Astagaaa *berasa kuno
.
Makasih sudah mampir, salam kenal juga dansou :)

Writer dansou
dansou at In The White Coat - Stase 2 (3 years 23 weeks ago)

iya. komentar ama mbak anggra. pusing ~_~
.
Grey's Anatomy ya? aku sebenernya pengin nonton sih, tapi apa daya saya tidak berlangganan TV satelit. Jadinya belum pernah nonton. Huhuhuhu.... Tapi omong2 selain Grey's Anatomy, House juga tentang dokter-dokteran juga gak? Katanya bagusan House malahan *sok tahu* hahahaha -_-
.
He em. Dr. Koto itu komik. Sebenernya ceritanya bagus sih, cuman gambarnya agak kurang mendukung. Saya juga udah lama gak baca komiknya lama banget

Writer dansou
dansou at In The White Coat - Stase 2 (3 years 23 weeks ago)

downloadnya di mana ya??? Hihihi

Writer n o n a i r i l
n o n a i r i l at In The White Coat - Stase 2 (3 years 22 weeks ago)

download-nya? coba cari di indowebster :) kalau mau yang link luar negeri bisa cari link-nya di rapidshare atau megaupload :)

Writer n o n a i r i l
n o n a i r i l at In The White Coat - Stase 2 (3 years 23 weeks ago)

sudah sudah, abaikan komen-komen saya dengan nona tabib :D :D
.
Lah, download aja sih kenapa? Aku juga nggak pake TV satelit kok, gila kaya banget di kost pake TV satelit, heehee,, Download aja, banyak kok. Kalau secara karakter bagusan dr. House, nek dr. House itu murni dokter tanpa drama, tapi kalau yang ada unsur drama-nya aku prefer Grey's Anatomy. Eh tapi Scrubs ama Medical Dragon juga bagus lho. Sekarang sedang nyari Say Hello to Mr. Jack Black, katanya sih anime-nya udah beredar ^^
.
Oh, bagus ya? Wah kapan kapan lah aku coba ke rental komik, penasaran juga. kadang-kadang baca/nonton serial kedokteran gitu bikin banyak belajar loh :D

Writer liza is rin
liza is rin at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)
100

like thiss ssooo muuchh.. selain ceritanya yg keren *membuatku tak bsa melepaskan pandangan mata dari cerita*, ceritanya juga berisi ilmu2 kesehatan. keren2! :D

Writer n o n a i r i l
n o n a i r i l at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)

makasiy sudah mampir, aku mampir ke tempatmu ahhh *ngacir ke stase-nya liza is rin :D

Writer liza is rin
liza is rin at In The White Coat - Stase 2 (3 years 23 weeks ago)

hihihi.. makasih, nona. sudah mau menyempatkan waktu anda untuk mampir ke lapak saya. :D

Writer anggra_t
anggra_t at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)
70

Jujur sebenarnya aku agak takut berkomentar. UDah lupa2 ingat teori mengenai pulmonary hypertension. heheh...
Jadi pertama2 komentar mengenai EYD tulisanmu dulu ya.
.
ada penggunaan huruf kapital yang tak pada tempatnya, misalnya:
Dok, mohon bantu Ibu saya, Dok. --> yang ditebalin itu seharusnya cukup huruf kecil aja. Karena kata "ibu" di sini bukan sebutan, melainkan kata benda.
lain dengan:
.
Dok, mohon bantu Ibu, Dok. --> karena ibu jadi sebutan.
.
Lalu aku agak amaze dengan nama Chimera. Hanya sekali lagi seperti tulisanmu sebelumnya, si Chimera ini ngga ada hubungannya sama pasien gagal jantung ini. Jadi cerita detail mengenai Chimera itu gak perlu IMO.
.
kalau nulis tentang medis begini, bagusnya kasih keterangan mengenai istilah2 medis di bawah. supaya bisa dibaca awam. kalo ngga, yang bisa baca cuma tabib kaya aku.. heheh..
.
Nah sekarang mengenai pulmonary hypertension.
Kalau dari kasus yang kau ceritakan di sini, ada yang ingin aku tanyakan (serius ingin tanya)
Benarkah pada cor pulmonale RR-nya hanya 10?? Bukannya pasiennya sesak? Seharusnya RR-nya bisa 30-40an ke atas lho.
Yah, ini sih kasus2 yang kutemui di lapangan... Tapi mungkin ada kasus tertentu gitu? (sekalian belajar)
.
cor pulmonale itu bisa disamakan dengan CHF (Congestive Heart Failure), diagnosanya sebenarnya gak sulit2 amat kok. liat aja pasiennya sesak, terus ada ronkhi basah paru, nafas kaya ikan pake mulut, dan edema tungkai tentunya. ^^
penanganannya menurut pengalamanku sih cukup dengan digoxin dan diuretic. Kalau atrial septostomy itu kan udah tindakan invasif, yang resikonya tentunya cukup besar dan baiknya sebisa mungkin dihindari kecuali kalau sudah tak teratasi lagi dengan obat.
Tapi yah, mungkin sekarang ada tatalaksana baru. sama2 belajar nih kita :DD

Writer n o n a i r i l
n o n a i r i l at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)

aaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!! tabiiiiiiiiiiiibbbbbbb *smooch*
.
eh eh emang sengaja nggak ngasih keterangan istilah, hahahaha *ketawa setan* iya deh ntar ditambahin :D
.
dan tentang si perawat itu, hehehehe, emang sengaja :D tapi nyadar banget kok eksekusinya emang kurang banget :D
.
soal EYD cuma bisa nyengir. payah ni saia kalau udah menyangkut EYD :( emang dari dulu kagak bisa belajar Bahasa Indonesia.
.
Iya, tadi awalnya udah mau treatment pake obat-obatan semacam prostaglandin. Tapi pas aku cek ke FDA aku kok jadi bingung, habisnya banyak aku kurang ngerti mekanisme obat-obatan itu kayak apa. Dan emang karena keegoisan aku sendiri sih, pengen bikin cerita yang lebay, pake operasi operasi segala wkwkwkwkkwkwk
*ya, saya cinta operasi betewe :D
**efek stase bedah dan kandungan
***semoga stase penyakit dalam juga banyak operasinya :D
.
ha? 10? yang bener?! yang bener aku ngetiknya 10? *cek ulang*
OH MY GODDDD *acak-acak rambut* kok isa aku ngetik 10? :o
*mangap*
.
makasih ya Tabib informasinyaa :D :D wah jadi nambah pengetahuan saia nih. Lumayan jadi modal buat masuk stase penyakit dalam besok. dokternya killer sejagat raya soalnya :) Ayo donk tabib yang koas-nya dilanjutin, jarang lho bidan-bidang begini kesorot dalam dimensi fiksi :)

Writer anggra_t
anggra_t at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)

dokter killer dikedipin aja. wkwk
.
semua calon tabib pasti langsung girang kalau bisa ikut operasi keren. Tapi dalam cerita, kalu bisa sih se-real mungkin. Jangan bikin pembaca awam jadi salah pengertian dengan penyakit yang kita bahas. Nanti mereka kira tiap orang sakit jantung harus dioperasi dong. :))
.
ntar jadi kaya sinetron donk. wkwk..

Writer n o n a i r i l
n o n a i r i l at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)

dikedipin? nggak berani lah, yang ada bisa-bisa stase itu suruh ngulang. oh tidaaakkkk, kapan nikahnya? :p *ngebet nikah
.
iya deh :) nggak lebay deh. Kalau bikin cerita bakalan lebih sederhana. makasih, mbak tabib :D
.
kalau di sinetron malah menurutku kuno banget. Masa ruang ICU isinya cuma infus ama tabung oksigen? Lah ini ICU dimana?? Udah gitu masa dokter yang operasi bisa keluar masuk ruang operasi? Lah kalau beneran ada dokternya bisa disembelih kali

Writer liza is rin
liza is rin at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)

kak, endema tuh apa sih? *maaf tiba2 nyamber aj* hehe..

Writer n o n a i r i l
n o n a i r i l at In The White Coat - Stase 2 (3 years 24 weeks ago)

edema?
.
edema itu bengkak, isinya cairan :)
kebanyakan karena ada gangguan pada sistem kardiovaskular => jantung dan pembuluh darah
tapi bisa juga karena alasan lain :)

Writer liza is rin
liza is rin at In The White Coat - Stase 2 (3 years 23 weeks ago)

ooooo.... i see i see..
klo alasan lainnya apa aja, nona?

Writer n o n a i r i l
n o n a i r i l at In The White Coat - Stase 2 (3 years 22 weeks ago)

bisa karena infeksi juga, Sayang,, tapi biasanya seringnya karena sistem kardiovaskular itu sendiri, heehee

Writer liza is rin
liza is rin at In The White Coat - Stase 2 (3 years 22 weeks ago)

oooowww... mengerti2!! :D hihihi.. terima kasih untuk pelajarannya, kakak! :D