Aku digantung ditiang bendera. Dari kulit ariku keluar belalang yang bercerita perlahan tentang ibuku yang tak jemu menjahit bendera dari bulu kaki ayah. Aku tak mau bertemu mereka lagi sejak diam-diam kusimpan gerhana dibalik kaos singletku yang terbuat dari ulat bulu. Tapi rahangku tak setajam tusuk gigi untuk mengikis habis rasa rindu. Ia hanya menggigiti lidahku yang ditumbuhi kembang-kembang pemberianmu.
Ada lelaki singgah di alis matamu. Ia membawa sekeranjang penuh belalang dimulutnya. Ia tanami satu per satu belalang itu di kulitmu yang kering. Tapi sekarang sedang musim kemarau dan sungai-sungai sedang sibuk berlompatan menuju pantai. Perahu nelayan berteriak kehilangan bendera lalu mereka bertani ulat bulu tanpa menunggu gerhana datang. Ia menarik-narik leherku yang terikat oleh kawat gigi. Tapi nanti dulu!..aku belum bertemu Mischa Barton!.
Rating
Comments: 0
Rating:
Delicious
Digg
Facebook
Technorati
EHM...KAYA CERPEN YA...NICE TRY..
kok ga keliatan puisi na
he.. aku bingung. bahasanya tingkat tinggi ya?
gak sanggup!
sumpe lo? berasa sdg baca afrizal malna! gw mau baca puisi2 lo lainnya,,
thank you
iya seh kaya afrizal, bagus juga. tapi daya jangkau gw maseh rendah! hhehe..mboten mudeng:) mo baca yg alen dung
gag ngeRTi maKsudnyah...
tapi suka koq...
apa yaaa...
ibaratnya... permen ginseng...
ga ngerti ma rasanya... tp ada kenikmatan yg pngen dicari truz...
tapi... permen ginseng pny manfaat...
ini ga...
ap suka koq..