TIGA SYARAT ITU?

              Hari ini sepuluh tahun yang lalu, aku bertemu denganmu. Seseorang yang seharusnya telah aku lupakan. Namun, ternyata getaran itu masih ada di sini. Teringat kembali kala itu. Kau hadir begitu saja dengan berjuta pesona hingga membuatku jatuh terduduk dalam rangkaian cerita panjang yang menyeretku pada kesimpulan ‘cinta itu tai kucing‘.

                Siang itu, kau berikan aku sekuntum bunga mawar merah dengan manisnya. Kau ajak aku pergi ke tempat-tempat dimana aku belum pernah menapakkan kakiku di sana. ‘Peak of Java‘. Banyak hal yang kau ceritakan padaku tentang filosofi hidup dan ketegaran jiwa. Idealisme-idealisme yang aku mulai menyukai dan akhirnya menggilainya. Kau jejalkan pada otakku ini sejumlah ide yang terkotak-kotak. Sayangnya, bentuk ide itu begitu jelasnya hanya ketika jiwaku waras.Tidak saat itu. Saat ketika sudut pandangku hanya tertuju padamu. Dan semua hal yang berhubungan denganmu adalah hal terindah yang kurasakan. Ahhh.Dan aku buta. Buta terhadap keindahan yang ada di sekelilingmu.

                “Selama ini duniaku begitu kelam,“ katamu.

                “Apa yang membuatmu tetap berada di sampingku?,“ tambahmu.

                “Aku tidak tahu,“ kataku.

“Seandainya aku mampu mengucapkan kata sayang, kuingin kau terakhir yang mendengarnya. Bahkan memberikan pujian padamu pun aku tak pernah. Karena aku tahu kau mengerti bahwa aku tak ingin orang lain muak dengan pujian yang keluar dari mulutku yang beracun. Aku tak ingin pujian untukmu akan meracunimu,“ katamu lagi.

                Entah angin apa yang membelokkan hatimu hingga singgah pada yang lain. Bukan ‘singgah pada yang lain yang kusesalkan’,tapi kau memalingkan punggungmu ‘without a reason’. Setelah kau tancapkan taringmu padaku dan kau koyak-koyak kehidupanku.

                “Give me a reason,honey,” ungkapku.

                “Tanyalah dirimu sendiri,” ujarmu kala itu.

                “Kau telah melanggar 3 syarat yang aku tahu kau sangat memahaminya,“ belamu lagi.

                “Apa???,“ sungutku.

“Haha...bahkan 3 syarat itupun kau telah lupa, bagaimana bisa hubungan ini berlanjut?,“ ejekmu.

                Lalu kau pergi begitu saja, meninggalkanku dengan rasa tanya dan penasaran yang tak terjawab. Memang, ingatanku sangat tumpul. Tapi untuk 3 syarat yang berhubungan denganmu di saat sekelilingku tak seindah dirimu, aku tidak mengingatnya. Benarkah?. Aku kembali sibuk mencari jawab pada diri sendiri. Se-amnesia itukah aku?. Sejak saat itu, luka semakin menganga seiring kemesraanmu berdua dengannya. Jiwaku pecah berserakan, terserak di segala tempat. Aku terhuyung-huyung dan tersungkur. Menangis darah dan berlinangan kepedihan.

                Teringat pepatah kuno ‘jika tak ingin terluka, janganlah jatuh cinta‘, aku mulai menikmati perih yang mendera. Kunikmati dengan sepenuh hati. Perlahan, aku mampu duduk dan berdiri kembali. Sekonyong-konyong dunia di sekitarku berubah menjadi begitu indah. Dan kudapati dirimu tak tampak di sana, bahkan sisa wangimu tak lagi tercium. Saat itulah aku merasa dunia itu luas dan sangat indah. Aku bisa mengatakan bahwa gula itu manis dan garam itu asin dengan jujur.

                Dan detik ini, kau tepat berdiri di hadapanku. Memandang lekat ke dalam bola mataku. Tanpa kata seolah kau ungkapkan apa yang kau rasa. Entah mengapa getaran itu kembali ada dan terus ada di sana. Sepersekian detik kuterpaku kelu. Kupegang erat tangan di sampingku.

                “Apa yang membawamu kesini,“ kataku.

Kau pun tetap tak bersuara, hanya mengulurkan tanganmu yang berisi sebuah bingkisan berbentuk peti mati padaku.

                “Selamat menempuh hidup baru,“ ucapmu.

Kau pun kembali berpaling pergi dan tak menatapku lagi. Buru-buru kubuka bingkisan itu, aku terpana. Sebuah diary yang menceritakan tentang kisah kita ada di sana. Itu adalah punyaku yang dulu kutitipkan padamu untuk kau jaga. Kini, kau kembalikan dalam kondisi utuh dengan balutan kotak berbentuk peti mati.Ingin kumembencimu, tapi aku tak sanggup mengingkari getaran yang semakin mengada. Kukuatkan diriku untuk tegak berdiri karena banyak tamu hari ini. Kuteteskan airmata dalam dekapan lelaki di sampingku. Dalam hati aku berjanji, ini adalah airmata terakhir untukmu.

 

***there’s a thin line between love and hate***

***wider that you can see between good and bad***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Wandydemonds
Wandydemonds at TIGA SYARAT ITU? (7 years 9 weeks ago)

ni situs bermanfaat banget, gue bisa belajar dari sini. nice banget cerita nya.

berlianerel at TIGA SYARAT ITU? (7 years 46 weeks ago)
90

Tapi kok aku tetep bingung 3 syaratnya itu apa yaa??? :o

Writer anisatur
anisatur at TIGA SYARAT ITU? (7 years 47 weeks ago)

banyak cinta yang tak berakhir bahagia... memang, cinta itu aneh...

Writer neisca
neisca at TIGA SYARAT ITU? (7 years 47 weeks ago)

awalnya aku mau ngasih judul `garis tipis antara cinta dan benci`...tapi ga jadi.yah..begitulah cinta..hahahaha..thnx komennya..mohon kritik dan sarannya

Writer dansou
dansou at TIGA SYARAT ITU? (7 years 47 weeks ago)
80

Iri deh bisa bikin cerita singkat sebagus ini. Saya suka sekali dengan pemilihan kata-katamu. Nice ones!
.
Btw, tag nya mengingatkan saya sama lagunya Geisha. Hahaha. Gak penting deh

Writer neisca
neisca at TIGA SYARAT ITU? (7 years 47 weeks ago)

thanx...mohon kritiknya...ga usah iri...aku yakin anda dapat membuat yg lebih baik dari saya...just need wild imagination to real it ^^...xixixi.

Writer idiotguavajuice
idiotguavajuice at TIGA SYARAT ITU? (7 years 47 weeks ago)
80

".. aku mulai menikmati perih yang mendera."
I really like that part.
Nice!

Writer neisca
neisca at TIGA SYARAT ITU? (7 years 47 weeks ago)

thanx....