Hanya Teman

Setiap orang menginginkan kisah cinta yang berakhir bahagia. Mereka selalu merangkai kenangan terindah tentang cinta sejati mereka. Lalu mereka segera melupakan kisah lain yang seolah hanyalah episode tambahan dalam cerita hidup mereka. Sebenarnya aku juga tak yakin apakah gadis itu adalah cinta sejatiku. Namun aku yakin kisah yang terkubur dalam dunia maya itu takan pernah kulupakan selamanya...

 

Malam itu aku duduk di ranjangku yang nyaman menghadapi sang laptop terhormat sambil ditemani sebungkus keripik singkong. Seperti biasa aku mengunjungi situs pertemanan berlatar biru itu untuk menemui putri kodok. Gadis itu menandaiku dalam salah satu catatan konyolnya lagi, sebuah cerita yang tidak lucu tapi cukup membuatku tersenyum membaca komentarnya dan teman-temannya yang penuh keceriaan. Sebelum aku ikut berkomentar dia telah menyapaku lewat chat.

 

Kururu: Shu

Me: yo, hawduyudu?

Kururu: baik. Bagaimana denganmu?

Me: lumayan. Btw, catatanmu bagus =)

Kururu: terima kasih. Shu… apakah kau sibuk? Aku ingin bercerita tentang sesuatu…

Me: tidak, aku tak sibuk. Silahkan saja. Ada apa?

 

Lalu seperti biasa dia mencurahkan semua keluh kesah serta segala masalah yang dihadapinya seharian ini. Selama seminggu ini aku telah menjadi salah satu teman curhatnya. Dia memang selalu bercerita pada siapapun yang dekat dengannya tapi menurutnya dia lebih suka bercerita padaku, kurasa karena aku berusaha menjadi pendengar atau pembaca yang baik, aku hanya akan berpendapat ketika diminta. Ceritanya hari ini adalah tentang perselisihannya dengan sepupunya, entah apa sebabnya sepupunya itu mengancam akan membajak profil putri kodok.

 

Kururu: Shu... bisa bantu aku nggak?

Me: mau minta tolong apa? Akan kubantu semampuku

Kururu: aku akan membuat profil baru sebagai pencegahan kalau profil ini dibajak. Aku juga akan mengganti nama profilku, kira2 nama apa yang bagus agar sepupuku tak mengenaliku?

Me: bagaimana kalau Sakura?

Kururu: gak ah, nama itu terlalu umum xDDD

Me: nama yang tak biasa? Carmelina saja, bagaimana?

Kururu: nama yang manis seperti karamel, bagus sekali. Aku akan pakai nama itu, terima kasih Shu =D

Me: sama2 =)

Kururu: bukan, aku bukan ingin minta tolong tentang itu. Sebenarnya…

Me: apa?

Kururu: ah sudahlah, aku malu. Pasti kau takan mau >///<

Me: katakan saja

Kururu: sebenarnya... sebenarnya aku suka sama Shu... aku sayang sekali sama Shu... aku ingin tahu apa Shu mau menjalin hubungan denganku? >///<

Me: a apaaaa?! Aku… aku… waaaaaa (kabur)

Kururu: jangan kabur! (tarik baju Shu) katanya Shu mau bantu aku >^<

Kururu: Shuuuu?

Me: wahahaha, maaf.

Kururu: jadi bagaimana? >///<

Me: aku… juga suka padamu. Baiklah, mulai saat ini kita berpacaran =)

Kururu: benarkah? Yay, terima kasih. I love u Shu <3

 

Mulai saat itulah hubunganku dengannya berubah dari sekedar teman curhat menjadi pacar di dunia maya. Aku tak terlalu terkejut karena aku sudah merasakan sejak awal gadis itu memberi perhatian lebih padaku. Tapi akan kupastikan hubungan kami takan lebih dari ini, tidak akan pernah. Cepat atau lambat hubungan tanpa masa depan ini akan berakhir. Cinta ini terlarang bagiku, karena sebenarnya aku adalah seorang wanita...

 

***

Perasaan ini sangat menyiksaku. Rasa itu tumbuh pesat bagaikan penyakit berbahaya. Sudah berkali-kali aku melarang diriku sendiri agar tidak jatuh cinta padanya, tapi perhatian dan ketulusannya meluluhkan hatiku. Mimpi-mimpiku telah dihantui oleh bayangan wajahnya, bahkan seolah dalam lamunanku aku bisa melihat senyumnya dan mendengar tawa cerianya. Aku sama sekali tak bisa pura-pura mengacuhkannya setiap kali membuka profilku, tentu saja karena namanya selalu tertulis di sana bersama segudang puisi cinta darinya. Mungkin aku benar-benar jatuh cinta pada putri kodok, tapi logikaku tetap menolaknya karena aku bukanlah pecinta sesama jenis. Kebimbangan ini membunuhku.

 

Me: hey, Lin. Apa yang kau suka dariku? Mengapa kau ingin jadi pacarku?

Carmelina: tentu saja karena aku sayang sama Shu. Aku peduli pada Shu. Shu bisa menceritakan semua masalah Shu padaku, aku akan membantu Shu.

Me: bukan itu. Maksudku, bagaimana kalau penampilanku tak sesuai dengan perkiraanmu. Bagaimana kalau aku jelek dan gendut. Mungkin saja kau akan membenciku setelah melihat wajah asliku.

Carmelina: aku tak peduli Shu jelek atau gendut, aku akan tetap menyayangi Shu. Shu selalu membantuku, Shu selalu mendengarkan semua keluh kesahku, Shu selalu membuatku tertawa, Shu yang paling mengerti aku.

Me: bagaimana kalau... sebenarnya aku adalah cewek?

Carmelina: hah? xDDD

Carmelina: Shu memang lucu. Eh, masa sih Shu beneran cewek? xD

Me: hahaha, aku cuma bercanda. Lagipula sebenarnya aku ini cowok tampan pujaan banyak wanita (narsis) =P

Carmelina: Shu lebay. Shu kan gak pernah memperlihatkan foto asli Shu xDDD

 

Sial, aku tak bisa memberitahukan yang sebenarnya padanya. Aku tak mungkin menunjukan foto asliku, bagaimanapun aku mengubahnya wajahku akan tetap terlihat seperti perempuan. Mungkin karena dia tak pernah tahu bagaimana rupaku, maka dia menciptakan bayangan sempurna tentang diriku dalam pikirannya. Manusia terkadang memang seperti itu, mereka akan lebih mudah mencintai apa yang ada di dalam benak mereka dan cenderung membenci kenyataan yang tak sesuai dengan harapan mereka.

 

Sudah cukup, semua ini harus segera berakhir. akan segera menghilang dari hadapannya. Aku telah menyebarkan rumor secara terpisah pada teman-temanku di dunia maya, seolah-olah aku memberitahu sebuah rahasia bahwa aku sedang menderita penyakit parah. Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah menutup profil ini. Kurasa inilah keputusan terbaik bagi kami berdua. Shujin Kazuma harus mati.
 

***

Aku tak tahu mengapa ini semua menjadi sangat salah, padahal seharusnya aku telah memilih jalan yang paling benar. Aku seharusnya tahu, tapi aku tak pernah menyangka dia benar-benar mencintaiku. Kebohongan yang tersebar tentang kematianku membuatnya sangat sedih. Aku hanya bisa mengawasinya dari jauh melalui sebuah profil yang baru kubuat. Aku tak berani menyapanya, tak bisa menghiburnya, aku bahkan tak bisa memeluknya untuk menghentikan tangisannya. Profil Shujin Kazuma dipenuhi ucapan belasungkawa, tapi yang paling menyakitkanku adalah air mata yang tercermin dalam setiap tulisan Carmelina. Aku membuka profil teman-temannya dan menemukan curahan kesedihannya. Dia berkata bahwa dia sangat putus asa, dia ingin menyusul kepergianku. Tidak, ini benar-benar salah!

 

Aku terpaksa meminta bantuan seorang temanku untuk menghiburnya. Wanita itu berbaik hati meminjamkan profilnya agar aku bisa berbicara dengan Carmelina tanpa dia tahu kalau aku belum mati. Aku berusaha mendekatinya sebagai seorang teman, sebagai seorang wanita, hal yang seharusnya kulakukan sejak awal. Aku berpura-pura menjadi teman dekat Shujin, aku sampaikan semua hal yang ingin Shujin katakan pada kekasihnya sebelum kematiannya. Aku bilang padanya untuk tetap bertahan hidup tanpa Shujin.

 

Setelah memakai berbagai rayuan, bujukan, dan penghiburan lewat tulisan dan percakapan di kotak chat akhirnya Carmelina menjadi lebih tenang. Aku benci saat dia menangis, setiap tetesan air matanya menusuk dan mencabik jantungku. Begini lebih baik, perlahan-lahan dia akan melupakan Shujin. Lalu setelah ini mungkin kami bisa kembali menjadi teman seperti seharusnya. Persahabatan antar wanita yang normal dan wajar.

 

***

Beberapa minggu berlalu setelah kematian palsu Shujin. Aku merasa tenang melihat Carmelina telah ceria seperti dulu. Aku berusaha menjauhinya setelah tugasku untuk menghiburnya telah selesai. Aku merasa belum siap menjadi temannya, itu karena perasaan Shujin selalu bergejolak dalam dadaku setiap kali dia menyapaku. Shujin telah menjelma menjadi kepribadianku yang lain, berkali-kali Shujin menyatakan kerinduannya untuk kembali pada putri kodok. Perasaan yang kubuang bersama jasad Shujin kini mulai meracuniku.

 

Awalnya profil Shujin Kazuma hanya kugunakan untuk bersenang-senang saja, hanya karena semua temanku setuju aku lebih cocok menjadi pria. Shujin adalah pribadi yang menyenangkan, selalu bercanda gurau dan cepat akrab dengan siapapun, suka mengganggu dan menggoda wanita, sifatnya benar-benar seperti pria pada umumnya. Aku sangat menikmati berpura-pura menjadi laki-laki, rasanya aku lebih bebas mengekspresikan perasaanku. Berbeda dengan di dunia nyata, aku tak suka disebut sebagai gadis tomboy. Aku dianggap terlalu tangguh untuk menjadi seorang perempuan, sedangkan tubuh fisikku tetaplah perempuan, aku merasa menjadi setengah wanita dan setengah pria.

 

Shujin adalah kebebasanku. Semua temanku baik pria maupun wanita menyukai Shujin. Aku cukup bangga karena selama menjadi Shujin aku bisa membuat beberapa wanita jatuh cinta padaku, tapi aku tak berniat mempermainkan mereka karena aku tetap menyukai lawan jenisku. Lalu aku berkenalan dengan Kururu, sebenarnya aku tak suka pada gadis lemah seperti dia. Aku menyebutnya putri kodok karena dia sangat suka pada hujan. Mungkin sebenarnya saat itu aku iri padanya karena dia adalah tipikal cewek yang benar-benar perempuan. Dia pandai memasak, menjahit, melakukan berbagai ketrampilan, pandai bersosialisasi, menyukai anak-anak, dia adalah calon istri idaman dan ibu rumah tangga yang sempurna. Apalagi dia sangat cantik dan sangat baik pada siapapun. Kelembutannya membuatku ingin selalu memperhatikannya dan melindungi keindahannya.

 

Aku menyerah, akhirnya perasaan Shujin mengalahkan akal sehatku. Dengan kebohongan yang sama seperti dulu aku muncul di hadapannya, sekali lagi aku memakai profil berjenis kelamin laki-laki untuk berkenalan dengannya. Aku memakai nama yang berbeda tapi sifatku tetap sama seperti Shujin yang dulu. Aku bercanda dan menggoda Carmelina seperti saat pertama kali berkenalan dengannya. Berkali-kali putri kodok mencurigaiku tapi aku selalu berhasil mengelak dari tuduhannya. Hingga suatu saat temanku yang meminjamkan profilnya padaku waktu itu membongkar penyamaranku.

 

Carmelina: Shu! Kau benar-benar Shu, kan? Wanda bilang kau adalah Shu!

Me: aku tak kenal siapa itu Shu. Berapa kali harus kubilang kalau aku bukan Shu!

Carmelina: bohong! Wanda sudah menunjukan isi pesan Shu padanya. Di situ kau bilang kalau kau cuma pura-pura mati, Shu menyesal dan ingin mencegahku bunuh diri. Benar kan?

Carmelina: Shu, jangan berbohong lagi...

Me: ...

Me: benar, aku memang Shujin Kazuma.

Carmelina: ternyata benar... ternyata benar Shuuu… TT__TT

Me: hey, jangan menangis.

Carmelina: aku… aku tidak menangis… aku gembira Shu masih hidup TT__TT

Me: berhentilah menangis (sigh) maaf...

Carmelina: mengapa Shu berbohong seperti itu? Shu tak pernah memberitahuku tentang penyakit Shu, lalu tiba-tiba saja shu menghilang dan ada yang bilang Shu sudah meninggal, aku benar-benar terkejut... rasanya aku ingin mati saja =,(

Me: maaf, aku memang salah... aku sudah membohongimu, aku meninggalkanmu dan telah menyakiti hatimu... seharusnya aku tak pantas bertemu denganmu lagi

Carmelina: tidak, Shu tak salah. Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi (peluk)

Me: jadi kau... mau memaafkanku?

Carmelina: tentu saja. Aku sayang sama Shu. Aku sangat senang Shu kembali lagi >^<

Me: …terima kasih.

Carmelina: aku tahu, sebenarnya shu tidak mencintaiku kan? Shu pergi karena shu tak suka padaku. aku yang bodoh karena berpikir Shu punya perasaan yang sama denganku.

Me: tidak, sebenarnya bukan karena itu...

Carmelina: Shu... bisakah kita berteman seperti dulu lagi? >///<

Me: ...baiklah. hanya sebagai teman

Carmelina: terima kasih banyak Shu =D

 

***
 

Carmelina: Shuuuuu, minggu depan aku akan berkunjung ke tempat Shu =D

Me: a apa? Mengapa tiba-tiba?

Carmelina: kelasku akan mengadakan wisata ke tempat shu. Kalau ada waktu bebas aku akan ke rumah Shu. Aku ingin bertemu dengan Shu =D

Me: kau tidak perlu repot seperti itu...

Carmelina: tak repot kok. Kebetulan saja tempat wisatanya sama dengan tempat tinggal shu. Aku boleh ke rumah Shu kan?

Me: entahlah, aku agak sibuk minggu depan

Carmelina: begitu ya =(

Carmelina: aku boleh minta nomor telepon Shu?

Me: baiklah, beritahu nomormu, aku akan mengirim pesan padamu.

 

Kurasa kami makin akrab lewat sms, ini salah tapi kubiarkan Shujin menikmati saat-saat terakhirnya bersama putri kodok. Beberapa kali gadis itu meneleponku tapi tak pernah kuterima, padahal aku sangat ingin mendengar suaranya. Apakah aku sangat jahat karena telah mempermainkan hatinya? Aku ingin segera mengakhiri semua ini, lebih baik aku yang menderita daripada dia. Kurasa sudah saatnya aku memberitahukan kebenaran padanya.

 

***

 

Angin dingin menyapu rambut hitamku yang dipotong pendek seperti laki-laki. Bila aku ingin tetap berbohong aku pasti akan berpenampilan seperti biasanya. Tapi kali ini saja aku memakai rok dan kaos tipis seperti perempuan, aku bahkan berdandan dan memakai sepatu hak tinggi. Teman-temanku di asrama terkejut lalu menggodaku, mereka pikir aku akan berkencan dengan seseorang. Aku tak akan berharap banyak, aku yakin ini akan jadi pertemuan pertama dan terakhir dengan putri kodok tercinta.

 

“Hai, apakah kau Shujin Kazuma?”

 

Aku terpana menatap pemuda jangkung di hadapanku. Wajahnya tak pernah kulihat sebelumnya, bagaimana dia bisa tahu? Bahkan teman-temanku saja tak tahu aku adalah Shujin Kazuma. Pemuda berkulit coklat gelap itu masih tersenyum padaku, kelihatannya dia tak berniat memperkenalkan dirinya. , apakah mungkin...? Tidak, itu mustahil. Apakah pria ini adalah…

 

“…Carmelina?” tanyaku dengan suara tertahan. Apakah mungkin putri kodok yang kucintai selama ini adalah seorang lelaki?

 

“Namaku Wahyu,” akhirnya ia mengulurkan tangannya padaku, aku tersadar lalu segera menjabat tangannya. “Mungkin kau lebih mengenalku dengan nama Wanda,” lanjutnya sambil menggaruk kepalanya.

 

“Oh, Wanda. Aku tak menyangka Wanda adalah seorang pria. , kupikir tadi kau adalah Carmelina,” sahutku bernapas lega. “Tapi bagaimana kau bisa tahu?”

 

“Well, kebetulan aku juga teman curhat Lin, dia memberitahuku kalian akan bertemu di depan patung koala di taman bermain ini.”

 

“Maksudku, bagaimana kau bisa tahu aku adalah Shujin Kazuma?”

 

“Ah itu… Waktu pertama kali kita berkenalan, kau pernah bilang tinggal di jalan Kamboja, setelah kuperiksa ternyata tempat itu adalah asrama putri. Kupikir waktu itu kau berbohong tentang tempat tinggalmu, ternyata memang benar kau adalah Shujin dan kau adalah perempuan.” Aku tak mengerti mengapa pemuda dengan pipi berbintik coklat itu tersipu. Apakah karena cara berpakaianku tampak menggelikan di matanya?

 

“Kau tidak akan bertemu dengan Lin kalau hanya menunggu di sini,” katanya membuatku terkejut. “Mengapa? Apakah dia tak akan datang?”

 

“Taman ini memiliki 2 patung koala, kurasa dia sedang menunggumu di depan patung di sebelah barat.” Wahyu menunjuk ke arah yang dimaksudkannya. Tanpa menunggu lama aku segera berlari ke sana, melewati beberapa pasangan dan beberapa rombongan yang mungkin adalah teman sekelas putri kodok.

 

Dia benar-benar ada di sana. Gadis berwajah bundar dengan rambut kecoklatan yang indah. Dibandingkan dengan penampilanku yang menggelikan, dia tampak sangat manis dalam balutan gaun terusan warna pink dengan motif bunga. Sesekali dia menoleh ke kiri dan ke kanan, mungkin berharap seorang pria akan berlari mendekatinya dan minta maaf karena terlambat. Hujan turun dengan tiba-tiba, seorang teman mengajaknya berteduh tapi dia tetap tak mau beranjak dari sana. Putri kodok memejamkan matanya, dia tampak sangat menikmati hujan yang membasahi tubuhnya. Aku tak bisa mendekatinya, aku takan pernah berani melakukan itu. Aku berbalik dan pergi meninggalkannya.

 

Wahyu menghalangi jalanku. ”Begitu saja? Kau tidak ingin bertemu dengannya? Bagaimana kalau aku ke sana dan pura-pura aku adalah kau.”

 

”Tidak, jangan. Aku tak mau membohonginya lagi,” aku menggeleng menolak penawarannya.

 

“Kalau begitu mengapa kau tidak memberitahu yang sebenarnya? Bukankah tak adil kalau kau tahu semuanya tapi dia tak tahu apapun tentang orang yang dicintainya?!”

 

“Aku tak bisa! Ini tak semudah yang kau bayangkan. Apa kau bisa menjamin dia takan terluka kalau kuberitahu orang yang dicintainya selama ini adalah wanita?! Aku tak bisa terus memberinya harapan palsu. Sebesar apapun rasa cintaku, kami takan pernah bisa bersama. Tak ada masa depan bagi kami. Kumohon jangan beritahu dia…” Kurasa hujan tak bisa menyembunyikan air mataku. Wahyu hanya bisa memelukku dengan kaku, membiarkanku menumpahkan semua kesedihan dalam dadaku…

 

***

Setelah itu aku mengacuhkan semua panggilan, sms, pesan, dan chat dari putri kodok. Dia terus bertanya mengapa aku tak datang, dia terus bertanya apakah aku membencinya, dia terus bertanya apakah aku sedang sakit. Aku tahu dia kecewa, tapi mengapa dia tetap memperhatikanku? Bagaimana caraku membuatnya melupakanku? Seandainya aku terlahir sebagai laki-laki, mungkin semua ini akan jadi lebih mudah. Aku akan bebas mencintainya, dia tak perlu menderita seperti ini, dan mungkin kami akan bahagia bersama. Tapi itu mustahil, mungkin saat ini akan kusimpan perasaan dan impian itu untuk kehidupan selanjutnya.

 

Me: hai

Carmelina: Shuuu... kemana saja? Aku kangen sama shuuu (peluk) >^<

Carmelina: bagaimana keadaan Shu? Shu sehat?

Me: begitulah

Carmelina: Shu? Aku tak tahu kenapa, kurasa Shu sedang menghindariku. Apakah Shu sedang sibuk?

Me: tidak

Carmelina: lalu kenapa?

Me: aku harus pergi. Tolong jangan ganggu aku lagi…

Carmelina: kenapa? Maaf kalau smsku mengganggu Shu, aku hanya ingin tahu keadaan Shu >^<

Me: kupikir kau akan lebih bahagia tanpa kehadiranku...

Carmelina: mengapa Shu berpikir seperti itu?

Me: sebaiknya kau jangan menghubungiku lagi. ...

Carmelina: tapi kenapa? Shu aneh! Apa alasan Shu ingin pergi?

Me: karena memang itu yang terbaik bagi kita

Carmelina: tidak! Aku tak mengerti. Mengapa Shu sangat yakin ini yang terbaik bagiku?

Me: karena aku yakin kau akan menderita bila terus bersamaku!

Carmelina: itu tidak benar. Aku sayang sama Shu. Apapun masalah Shu aku takan pernah meninggalkanmu. Shu jadi begini? Shu seolah tak pernah mengenalku!

Me: . . .

Carmelina: apakah Shu menyukai cewek lain? Shu membenciku?

Me: . . .

Carmelina: tak apa-apa kalau Shu tak mau menjawab. Ternyata aku salah tentang Shu, ternyata selama ini Shu tak mengerti aku sama sekali.

Me: maafkan aku… selamat tinggal, Lin…

 

***

Setahun berlalu sejak hubunganku dengan putri kodok dalam dunia maya telah berakhir. Perpisahan kami memang tidak menyenangkan, tapi kurasa sekarang dia akan baik-baik saja. Perasaanku juga mulai membaik, saat ini aku sedang mencoba membuka hatiku pada seorang teman baikku, pada seorang lelaki tentunya.

 

“Hai, kau sudah lama menunggu?” pemuda jangkung itu hanya tersenyum jahil untuk menutupi rasa bersalahnya. “Lamaaa sekali, rasanya jenggotku sudah tumbuh panjang hanya karena menunggumu,” jawabku sambil bercanda.

 

“Whoaw, jangan bilang kau ingin jadi laki-laki lagi,” Wahyu pura-pura terkejut dengan cara berlebihan. “Sembarangan! Mana mungkin gadis secantik aku bisa jadi laki-laki,” aku tertawa melihat tingkahnya.

 

”Tapi serius, kau memang cantik. Kau sudah lebih mirip perempuan dibandingkan saat pertama kali aku melihatmu, lebih feminin.” Aku tak tahu apakah aku harus tersipu atau tertawa mendengar pujiannya itu. ”Gombaaal. Sudah, jangan bercanda lagi. Sekarang kita mau ke mana?”

 

“Rahasia. Aku akan memberimu sebuah kejutan.”

 

***

 

”Hey, teman! Akhirnya kau datang juga. Halo, aku Satria.” Seorang pria yang rupanya adalah teman Wahyu menyambut kami di depan patung koala di taman bermain. Pemuda yang bersemangat itu menjabat tanganku erat lalu memperkenalkan pacarnya.

 

Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat. Gadis itu berdiri dengan anggun di sana. Penampilannya hampir tak berubah, dia tetap cantik seperti dulu, putri kodok yang kucintai. Dia berdiri di hadapanku, sangat nyata. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang harum, aku bisa melihat setiap keindahan yang terlukis di wajahnya, aku bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari setiap gerakannya, dan akhirnya dia mengulurkan tangannya untuk mengijinkanku merasakan kelembutan sentuhannya.

 

”Namaku Evelin, salam kenal.” senyuman dan suara merdunya sukses membawaku ke atas langit. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengannya lagi, temanku yang sangat kusayangi.

 

”Aku... Carmelita.”

 

”Nama yang sangat manis seperti karamel. Mirip dengan nama profilku dulu. Oh ya, apa nama profilmu? Aku ingin menambahmu sebagai teman di profilku.” Syukurlah dia telah ceria seperti dulu. “Aku tidak terlalu mengerti tentang situs seperti itu.”

 

“Benarkah? Kalau begitu akan kuajari caranya, mudah dan menyenangkan kok. Kau juga akan ketagihan online seperti aku.” Evelin menerangkan cara mendaftar dan membuat profil dengan penuh semangat.

 

“Hey, ayolah gadis-gadis. Kita di sini untuk bermain, bukan untuk membahas internet,” ujar Satria tak sabar. ”Ngomong-ngomong tentang profil, aku tahu nama profil Wahyu...” pacarku segera membekap mulutnya sebelum Satria bicara lebih banyak. “Hahaha, ayo kita naik tornado.”

 

Sungguh mengherankan aku tak cemburu pada Satria, kurasa mungkin karena dia akan jadi pacar yang baik untuk temanku, sifatnya juga mirip dengan Shujin. Aku yakin Satria akan menyayangi Evelin lebih daripada yang bisa kuberikan padanya. Maka hari itu kuhabiskan dengan penuh kegembiraan. Aku punya pacar yang baik dan sangat mengerti aku, dan aku memiliki sahabat yang sangat kucintai di dunia ini. Hidupku sudah lengkap dan sempurna. Aku bahagia.

 

Aku ingin percaya cinta yang tulus takan pernah berakhir. Sekeras apapun kau mencoba menguranginya atau bahkan mengubahnya menjadi kebencian, rasa itu akan tetap kembali padamu walaupun dalam wujud yang berbeda. Cinta bukan hanya dari belahan jiwamu, cinta juga bisa datang dari keluarga, dari rekan kerja, atau bahkan dari orang asing yang belum pernah kau temui sebelumnya. Bagiku cinta itu datang dalam bentuk persahabatan, dan hanya itu yang perlu kulakukan, mencintainya sebagai teman. Hanya sebagai teman.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer soechan
soechan at Hanya Teman (6 years 45 weeks ago)
90

bagus banget^_^
salam kenal ya

Writer yellowmoon
yellowmoon at Hanya Teman (6 years 45 weeks ago)

terima kasih. salam kenal ^__^

Writer tyo adit
tyo adit at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)
80

kebanyakan lirik lagunya..., paling benci sm cerita kyk gini, "penipu di dunia maya", mending di pites aja org2 penipu kyk gini... hehe..., Bagus ceritanya, kejadian yg bisa di bilang nyata klo endingnya ga bgini... Karena emang byk bgt nih pnipu2 kyk bgini di jejaringan sosial... DAMN!! soalnya pernah jd korban dan ceritanya hmpir mirip, tp ini bilangnya punya penyakit keras n mau mati hiaayyyayayaa... dasar Modus... :))

Writer yellowmoon
yellowmoon at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)

haha, saya juga sering bertemu orang seperti mereka, tapi saya tahu cara membedakan faker dan real ^__^
mungkin ini cerita ttg faker yg masih punya hati nurani

Writer herjuno
herjuno at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)
80

Sudah kuduga, pasti suatu saat akan ada yang menggunakan lagu ini dalam cerpennya. Namun, penggunaannya yang banyak membuatnya jadi seperti song-fic, sebagaimana yang memotwilight katakan. Mungkin ada baiknya kalau petikan lirik itu dikurangi. Terlepas dari hal itu menuruts aya bagus; saya suka alurnya. Meski agak lambat, tetapi rapi, haha. Untuk konflik, saya juga sempat "ketipu" karena menyangka bahwa Caremalita itu cowok, tapi ternyata bukan.
.
Selain itu, karakterisasinya si Shuu menurut saya bagus, karena dinamika pikiran dan perasaannya cukup tergambar. Hanya saja satu: karakter Wanda itu kenapa kamu munculkan tiba-tiba. Seharusnya bisa lebih smooth, seperti mungkin Wanda itu sepupunya si Carmelita. Srtidaknya beri penjelasan dulu kalau sang karakter memangang peran yang cukup penting.
.
Untuk narrative hook, yah lumayanlah, terutama "pengantarnya" yang ditempatkan setelah lirik. Kemudian, untuk ending, well, happy ending yang lumayan manis.

Writer yellowmoon
yellowmoon at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)

terima kasih, sengaja memang saya masukan semua liriknya agar orang lain yg belum tahu lagu ini atau yg belum tahu artinya bisa ikut memahami perasaan Shujin
wanda adalah kejutan ^__^

Writer KD
KD at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)
100

hmmm

Writer yellowmoon
yellowmoon at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)

. . .

Writer neemotwilight
neemotwilight at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)
70

hmm,, maaf ikut nibrung aku orang baru disini,,
menurutku ceritaya bagus, yah pertama baca, kirain kalau nantinya itu si "lin" ternyta cowok, ternyta gak yah.. hehehe yah menurtku cerita ini sulit ditebak, dan cerita ini leih tepat jika disebut dengan songfic (menurutku)..
aku tidak bisa melanjutkan cerita ini karena menurutku bagian terakhirnya sudah seperti ending.. hehehe maaf lagi

Writer yellowmoon
yellowmoon at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)

saya baru tahu ada istilah songfic, terima kasih ^__^

Writer kamui_cute
kamui_cute at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)
80

ceritanya sulit di tebak.jadi sulit buat saya kasih ide.
Mungkin dikasih ketegangan yang lebih banyak.

Writer kamui_cute
kamui_cute at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)
80

ceritanya sulit di tebak.jadi sulit buat saya kasih ide.
Mungkin dikasih ketegangan yang lebih banyak.

Writer yellowmoon
yellowmoon at Hanya Teman (6 years 46 weeks ago)

terima kasih, saya rasa sudah cukup banyak ketegangan dan masalah dalam cerita ini ^__^