Ice of Inferno

I

“Salju...”

Alsace tersenyum saat sebuah kristal udara beristirahat di telapak tangannya yang menadah. Ia menyipitkan matanya untuk mengamati keadaan di sekitarnya. Salju pertama yang turun di musim dingin tahun ini bukan datang dalam bentuk badai salju, tapi hujan salju lembut yang tenang dan indah, membuat senyumnya mengembang manis.

Ia menyukai musim dingin yang bersalju, sebagai vampir dan sebagai pribadi seorang Sace.

Sebagai vampir ia mensyukuri—bersyukur pada dunia, vampir tidak mengenal kata Tuhan—kehadiran musim dingin yang membuat matahari beristirahat dari kerja kerasnya di musim yang lain, terutama jika bersalju, matahari akan lebih sering tidur. Dan bagi kaum vampir hal itu sangat membahagiakan. Mereka bukan lagi kaum kuno kolot yang akan melepuh dan mati menghilang dengan bentuk akhir mengerikan begitu terkena cahaya matahari. Para tetua menyebut generasinya sebagai generasi mutan yang mengerikan—sebenarnya lebih mengerikan mana, generasinya atau kenyataan bahwa para tetua menggunakan istilah manusia dalam kehidupan sehari-hari mereka?—karena mereka mempunyai sedikit—bukan sama sekali—kekebalan terhadap cahaya matahari. Jangan salah sangka, generasinya sedikit kebal terhadap matahari bukan berarti generasinya berubah menjadi vas kristal berjalan yang memantulkan cahaya matahari. Mereka bukan vegetarian, duh! Tapi meskipun begitu, matahari masih menjadi salah satu objek utama yang akan lebih baik dihindari oleh mereka.

Sebagai seorang Sace, ia menyukai salju karena ada banyak kenangan indah yang terjadi saat musim dingin yang bersalju. Banyak pertemuan dengan orang-orang yang berarti baginya terjadi di hari bersalju. Ia bertemu pamannya—raja sebelumnya—di hari bersalju. Ia bertemu Mirel-sama—sepupunya, panutannya, dan rajanya—juga di hari bersalju.

Ia juga bertemu dengan Chrest-sama di hari yang—sangat—bersalju.

Ia mendesah. Kalau saja Chrest-sama merasakan perasaan bahagia yang sama sepertinya.

 

 

II

“Chrest-sama…” Sace mendesah penuh kenikmatan saat ia makin merasakan penyatuan tubuhnya dengan pria yang kini sibuk memuja tubuhnya dengan kecupan-kecupan lembut. Ini berbahaya. Setiap kali mereka seperti ini Sace selalu terombang-ambing dalam kontrolnya atas tubuhnya sendiri. Ia ingin sekali membiarkan tubuhnya lepas kontrol, membiarkan hasrat murni menguasai dan memuja hubungannya dengan pria berambut sewarna daun maple di musim gugur tersebut. Tapi ia hanya akan membahayakan pria yang bersamanya jika ia sampai lepas kontrol dalam ritual mereka. Ia akan menjadi lebih liar dan akan menuruti instingnya sebagai vampir, dan ia tak menginginkan hal itu. Ia tidak ingin mengulangi kesalahannya yang telah mengacaukan dunia pemuda yang berarti baginya.

“Bocah biru… bocah biruku…” Chrest membalas bisikannya, mengayun anggun dan membiarkan seluruh panca indranya hanya mengenal satu dunia; dunia berwarna biru, seperti salju gelap, seperti salju disaat badai. “Saljuku…”

Dan Sace terkesiap. Dengan nafasnya yang terputus-putus ia merasakan pelintiran kuat di sudut hatinya, membuatnya ingin tertawa miris: salju adalah hal yang paling dibenci Chrest-sama-nya.

“Aku tidak sebegitu dinginnya, kan, Chrest-sama?” Ia berusaha bercanda untuk menutupi rasa sakit yang mulai menghantam berulang-ulang di hatinya—sebuah usaha retoris, mengetahui bahwa kenyataannya memang, ya, tubuh vampir selalu sedingin salju, tubuhnya selalu sedingin salju.

“Kau saljuku, satu-satunya saljuku…” Chrest terus menggumam tanpa mempedulikan ucapan Sace, seakan-akan ia tengah mengucap sebuah mantra, mantra yang perlahan-lahan membuat pemuda yang terbaring di bawahnya membeku dengan kejamnya.

“Aku mencintaimu, Chrest-sama,” Sace berujar lirih, suaranya mengiba, meminta belas kasihan, memohon agar dibebaskan dari segala penderitaan yang kini menggerogoti hati dan kewarasannya. Dan Chrest mengangkat tubuhnya, memberi jarak agar mereka bisa saling bertatapan—uh-oh, ini sangat berbahaya, terutama jika mata sewarna senja itu—

“Salju yang membawa pergi hatiku…” suaranya mengalun masuk ke telinga sang vampir muda, mengalir dan manis namun penuh racun mematikan, tapi Sace membiarkannya, karena yang lebih membiusnya—membuatnya lemah, menyusup perlahan, membunuhnya—adalah warna senja itu—warna yang selalu sukses membuatnya kehilangan kontrol, dan hal itu sangat berbahaya, tidakkan Chrest-sama menyadari hal itu?

“Salju yang membawa pergi kehidupanku…”

Dan Sace tersedak oleh air matanya sendiri.

 

 

III

“Mengurung diri lagi?” Pemuda bernuansa senja itu bergeming dari posisinya di sisi jendela, tapi Sace tahu kalau dia sudah menyadari kehadirannya bahkan sebelum ia membuka pintu kamarnya. Ia mendesah berat seraya meletakkan nampan berisi makanan di atas meja yang berada di samping sang figur berada. Ia menatap sosok itu dengan pandangan penuh kesedihan. Chrest-sama selalu seperti itu setiap kali musim dingin bersalju datang, mengurung diri di kamarnya sepanjang musim, jarang menyentuh makanan yang disediakan untuknya, dan bahkan—Sace menyadarinya dengan penuh kesedihan—ia jarang menyentuh tempat tidurnya—kecuali saat-saat dimana Sace terlalu khawatir akan kondisi kesehatannya dan merayunya dengan berbagai cara agar ia mau bergabung dengannya di tempat tidur. Rasanya sulit memikirkan pemuda yang selalu percaya diri—dan sedikit genit—itu menjadi sebuah sosok yang pemurung—bahkan tadinya Sace pun tidak akan pernah bisa membayangkannya—tapi pada kenyataannya di sinilah ia, menatap tak berdaya pada punggung pemuda murung yang nyaris tak dikenalinya.

“Chrest-sama…”

Chrest akhirnya berbalik dan tersenyum padanya, sebuah sunggingan di ujung mulut yang biasanya akan berubah menjadi cengiran meledek, tapi kali ini hanya berhenti di sana, sebuah sunggingan kecil yang membuatnya terkesan seperti terkena serangan stroke daripada tersenyum.

“Hei, bocah biru,” ujarnya sambil melirik ke arah nampan. “Apakah itu makan malam?”

Sace mengangguk sebelum membawa piring buah mendekat ke arah Chrest, memetik sebuah anggur dan mengulurkannya ke depan pemuda yang lebih tua darinya itu. “Karena Chrest-sama lagi-lagi tidak menghadiri jamuan makan malam bersamaku dan Demirel-sama.”

Senyum Chrest melebar dengan sedih. Ia memakan anggur yang diberikan vampir birunya sebelum merebahkan tubuhnya di sandaran kursi tinggi yang ia duduki. Tangannya melingkar longgar di pergelangan tangan Sace dan menariknya perlahan ke pangkuannya, lembut dan tanpa paksaan, tapi bagaimanapun juga Sace dengan ringan bergerak mengikuti arahannya. Saat pangeran vampir itu telah duduk di pangkuannya, tangannya bergerak menyusuri lengan hingga tiba di sisi wajah sang vampir—dingin, abadi, beku. Mata kemerahannya menatap tepat ke bola-bola sewarna abu—hangat, namun konstan dan mati—yang selalu bergerak lembut dengan nafsu setiap kali pandangan mereka bertemu—Chrest selalu merasa tertarik bagaimana Sace bisa dengan mudah terpesona olehnya hanya dengan tatapannya saja.

“Kau tahu aku selalu jadi anak manja saat musim dingin tiba,” Chrest berbisik pelan, memperhatikan dengan seksama saat mata abu-abu di hadapannya berdilasi maksimum, menyerah secara submisif. Ia tersenyum dan memberikan kecupan singkat di hidung bocah birunya—dan mendengarkan rintihannya dengan sedikit rasa bangga—sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada hamparan salju di balik jendela kamarnya. “…karena tak pernah ada hal bagus terjadi padaku setiap salju turun.”

Sace menundukkan kepalanya. “Hingga saat ini?”

Chrest—entah secara sengaja atau tidak—membiarkan tangannya menyentuh daerah nadi di leher kirinya—Sace mengernyit secara kentara melihatnya, karena ia tahu apa maksud gestur tersebut—sebelum kembali menghadap Sace dan tersenyum.

“Hingga saat ini.”

Dan Sace dapat merasakan perlahan hatinya hancur.

 

 

IV

Sace berusaha keras menahan insting alamiahnya muncul ke permukaan, namun mata Chrest yang makin menggelap bersamaan dengan hasratnya yang semakin memuncak sama sekali tidak membantu usahanya. Ia tahu ia paling lemah dalam urusan menolak hasratnya sendiri jika mata itu telah menatapnya dengan intensitas yang serasa menenggelamkannya. Sungguh, ia telah berusaha menolak Chrest karena ia sendiri sadar dirinya sedang tidak dalam keadaan kenyang saat itu—walau bukan berarti ia lapar—dan kebutuhan darah yang sedang tidak berada dalam kondisi tercukupi ditambah reaksi tubuh yang berlebihan dari hasil bercinta, bagi Sace tidak pernah menjadi kombinasi yang bagus. Tapi bagaimanapun juga ia akhirnya hanya bisa mengutuki diri sendiri karena begitu mudah menyerah pada keinginan Chrest bahkan tanpa perlu banyak mencoba.

Dan ia hanya bisa mengutuki takdirnya sebagai seorang vampir saat panca inderanya membeku oleh harum darah, suara aliran darah yang berderu dalam aktivitas mereka, dan bayangan imajinatif akan rasa yang ia kecap dari leher berkulit kecoklatan di hadapannya, akan perasaan yang timbul dari sedotan darah yang keluar dari kulit yang sama—

Sace menggelengkan kepalanya keras untuk mendorong balik instingnya. Bagaimana mungkin ia memikirkan hal seperti itu? Ia mungkin belum tahu pasti bagaimana sebenarnya perasaannya terhadap Chrest-sama, tapi ia tahu pasti kalau apapun arti Chrest-sama baginya, ia takkan mau membahayakan pemuda itu.

Tapi apa yang Chrest-sama lakukan dengan terkekeh rendah dan malah menelengkan kepalanya dalam sebuah undangan?

“Kau lapar, bocah biru?” tawarnya—dan Sace ingin memukul kepala pemuda itu karena tak tahu apa yang ia tawarkan dan seberapa besar hal itu menggodanya.

“Ti—dak… Chrest-sama aku…” Sace tersedak ludahnya sendiri dalam pertarungan yang terjadi di dalam dirinya—antara Sace dan Alsace sang vampir. Tapi Chrest-sama memandangnya penuh simpati—dengan matanya yang kini berwarna segelap darah, hasil dari akumulasi hasrat dalam dirinya—dan mengelus rambutnya lembut—membuatnya makin tertarik dari kontrolnya menuju dunia bebas instingnya, ini berbahaya.

“Aku mencintaimu, bocah biru…” Sace mengeluarkan suara memekik yang tertahan di tenggorokannya saat ia mendengar pernyataan itu. Dan nafasnya semakin tertahan saat ia merasakan denyutan hangat yang disertai dengan aroma khas Chrest-sama—aroma tanah dan dedaunan musim gugur—mendarat dan menekan di bibirnya, dengan lokasi denyutan tepat di bawah kedua taringnya yang telah memanjang. “Aku mencintaimu...”

Dan hanya dengan kalimat itu, ditambah sebuah kecupan di ujung telinga runcingnya, Sace mutlak kehilangan kontrol yang telah sebisa mungkin ia jaga.

Di balik jendela salju melayang turun penuh melankoli.

 

 

V

“Apa yang kau harapkan darinya, Sace?”

Sace mendongak dari piringnya yang berisi beberapa potong daging rusa dan irisan tipis keju—hanya sebuah formalitas, bukannya mereka, para vampir, membutuhkan makanan manusia untuk mengisi perut—dan menatap ke seberang meja panjang, tempat seorang pemuda yang seumuran dengannya dan memiliki nuansa abu yang gelap duduk seraya memutar gelas anggurnya—yang bukan berisi anggur, tentu saja.

“Ya, Demirel-sama?”

Demirel menatap dengan mata keunguannya dari balik gelas anggurnya. “Chrest-sama. Dia selalu mengurung diri setiap salju turun. Dia membenci salju, kau tahu.”

Sace mengencangkan cengkeramannya tanpa sadar pada pisau di tangannya, entah kenapa merasa kata-kata Demirel—setidaknya akan—menyinggungnya. “Lalu?”

Demirel mendesah dan meletakkan gelas anggurnya, mengelap bibirnya yang kini ternodai warna merah—oh, warna mata Chrest-sama! “Kita adalah makhluk yang tercipta dari kegelapan dan kehampaan, Sace. Salju adalah pertanda kehampaan sama seperti abu dan kegelapan malam.”

“Aku tidak mengerti—“

“—apa yang kukatakan, ya,” Demirel memotongnya, kini memandangnya penuh simpati dan rasa canggung. “Aku mengerti kau sedikit banyak merasakan keterikatan dengannya, aku pun—“ ia menghentikan dirinya sendiri dan mengibaskan tangannya sebelum kembali berbicara. “Apa yang ingin kukatakan adalah, perasaanmu tidak mungkin dibalas olehnya.”

“Itu tidak benar! Chrest-sama bilang—“ tapi seperti yang Demirel lakukan, ia menghentikan dirinya sendiri. Ia menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya, membawa tangannya—yang masih memegang pisau—ke dekat hatinya dalam gestur seorang pendoa—tapi vampir tak pernah berdoa. Beberapa saat kemudian ia kembali menatap rajanya—panutannya, orang yang juga berarti baginya—dengan pandangan mengiba. “Tapi aku makin menghancurkan hidupnya. Hanya ini, hanya dengan terus berada di sampingnya, aku bisa menebus dosaku.”

“Bahkan kau sampai bicara mengenai dosa seperti para manusia itu,” Demirel menggelengkan kepalanya dan menutupi wajahnya, lelah. “Lalu apa ‘dosa’ yang kau sebut-sebut ini?”

Jeda cukup lama menguasai ruangan sebelum Sace membuka mulutnya dengan bibir gemetar. “Aku telah mengubahnya menjadi Slavire.”

Mata Demirel membesar. “Kau meminum darahnya?”

“Dan mencampurkannya dengan darahku sendiri, ya,” Sace mengangguk pelan. “Di hari bersalju kemarin…”

Demirel menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi tingginya, matanya masih membelalak tak percaya. “Sace, kau tahu itu artinya—“

“Dia akan semakin membenciku,” Sace memotong, mata abu-abunya berkilat dengan air mata yang tak bisa tumpah. “dia kehilangan segala yang berharga baginya di hari bersalju, dan kini aku menghilangkan kemanusiaannya juga di hari yang bersalju. Aku mengubahnya menjadi makhluk yang dipenuhi kehampaan tepat di hari yang dibencinya, dan aku takkan pernah bisa mendapatkan lebih dari rasa bencinya.” Ia kembali mengeratkan tautan tangannya di depan dada dan merunduk, berharap jika ia berdoa salah satu Tuhan yang dipercaya para manusia akan membantunya keluar dari penderitaannya—dan penderitaan Chrest-sama. “Tapi aku harus bersamanya, itu saja sudah cukup.”

"Apa kau sadar siapa Chrest-sama itu?" Demirel berujar dengan nada suara bergetar, emosi apa saja yang ada di dalamnya tak dapat diidentifikasi oleh sepupunya. Ia menghela nafas untuk meredakan getaran dalam suaranya sebelum kembali bicara. "Chrest-sama adalah seorang Vampire Hunter, Sace! Dan kau mengubahnya menjadi Slavire--vampir bawahanmu! Apa kau sadar sekarang Chrest-sama adalah vampir?"

Sace mengangguk lemah. "Dia mencintaiku, Demirel-sama. Dia yang menawarkan darahnya padaku."

"Apakah dia tahu kalau setelah menjadi Slavire dia harus meminum darah selain darahmu atau dia akan mati?" Demirel memberinya pandangan menuduh. "Apakah dia menawarkan darahnya padamu dengan mengetahui hal-hal tersebut?"

Sace menarik nafas gemetar sebelum menggeleng. "Ini dosaku, Yang Mulia."

Sang Raja para vampir hanya bisa menatapnya dengan kilatan emosi yang beradu dan berpusar di matanya yang hampa—simpati, sedih, marah, jijik, kecewa, menuduh—sebelum ia menghela nafas lelah. “Asal kau tetap terfokus pada tugasmu di pertahanan kerajaan.”

Dan hanya itu yang Sace butuhkan dari sepupunya. Ia tidak membutuhkan pelukan penenang ataupun kata-kata penghibur, cukup hanya satu kalimat perintah yang memutus diskusi mereka.

Ia meletakkan peralatan makannya, mendorong piringnya menjauh, dan menunduk hormat sebelum beranjak dari kursinya.

Aye, Yang Mulia.”

 

 

VI

Sace mengencangkan pelukannya di sekitar pinggang Chrest, berusaha mendapatkan kehangatan sebanyak-banyaknya untuk menutupi rasa dingin yang membelenggu hatinya. Ia tidak butuh Chrest-sama membalas perasaannya, ia hanya butuh berada di sisinya, seperti sekarang.

Chrest tersenyum seraya menguatkan pelukannya di tubuh kecil vampir mungilnya—ia selalu kagum bagaimana tubuh seramping ini mampu menguasai medan perang yang penuh dengan tubuh-tubuh raksasa—dan menggosok tubuh itu untuk menimbulkan kehangatan begitu ia merasakan getaran halus dari sana. “Kau kedinginan, salju biruku? Saljunya tidak turun sederas itu, kan?”

Pemuda berambut biru itu tak menjawab, hanya makin menggeser kepalanya di dada Chrest, berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan mendengarkan dentuman konstan yang memantul di dadanya—frekuensi dentumannya sudah jauh berkurang dibanding saat Chrest-sama masih manusia, tapi Sace tetap bersyukur bahwa dentuman itu tidak absen selayaknya miliknya ataupun Mirel-sama.

Chrest, mendapatkan pertanyaannya tak terjawab, kembali mengarahkan pandangannya pada hujan salju di balik jendela. “Kau tahu kalau manusia itu makhluk senja, Sace?”

Sace berdesir, Chrest-sama jarang menggunakan namanya—biasanya hanya bocah biru, atau belakangan ini sering diganti dengan saljuku atau salju biru—dan mendengarkan bagaimana namanya keluar dari mulut Chrest-sama membuat ada dadanya sakit karena dilimpahi kebahagiaan. Tapi bagaimanapun juga ia tetap diam dan tak menjawab.

Dan Chrest sepertinya memang tidak memerlukan jawaban, karena ia segera kembali membuka mulutnya saat tangannya yang besar dan hangat menyapu rambut Sace dengan lembut. “Dan aku adalah senja yang membiarkan salju mendekapku dan membawaku menghilang.”

Kalau saja Sace adalah seorang manusia yang mempunyai detak jantung, ia yakin ia akan merasa seluruh tubuhnya adalah jantung. Ia mendongak sejenak untuk melihat Chrest tersenyum lembut padanya—penuh emosi, penuh cinta—dan memutuskan akhirnya ia tidak sanggup terus melihatnya dan kembali mengubur wajahnya di dada bidang Slavire-nya.

“Apakah ada setidaknya sedikit saja rasa cintamu pada salju, Chrest-sama?” Sace bertanya dalam bisikan, takut mendengar jawabannya.

“Bocah biruku,” Chrest berujar dalam suara lembut yang memabukkan, yang membuat Sace ingin mendongak penuh harap, walaupun ia tahu ia tidak boleh menggantungkan ekspektasinya terlalu tinggi. “Aku membenci semua jenis salju.”

Sace merasakan seluruh nafasnya terambil, dadanya sesak dan ia seperti kehilangan penyangga, kakinya tak memijak tanah, dan tubuhnya kaku. Hanya tangannya yang masih mampu merasakan cengkeraman kuat di baju Chrest-sama—orang yang dicintainya, ya, ia sangat mencintainya—disaat ia bahkan tidak bisa merasakan air matanya mengalir.

“Aku mencintaimu, Chrest-sama…”

Chrest tak menjawab penyataannya.

 

 

 END

 

Sebenernya ini nggak murni fanfic juga sih, karena karakternya cuma saya pinjem dari karakter yang sering digambar temen saya. Tapi karena bukan karakter asli punya saya juga, makanya ini disebut fanfic.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kurenai86
Kurenai86 at Ice of Inferno (6 years 23 weeks ago)
80

cara berceritanya keren...
sayang nggak ada lanjutannya ya.

Writer Phoebeyuu
Phoebeyuu at Ice of Inferno (6 years 23 weeks ago)

makasih. =)
maaf yaa nggak dilanjutin.

Writer skybluescramble
skybluescramble at Ice of Inferno (6 years 24 weeks ago)
70

main ke tempat saya juga ya, masih newbie di sini (:
.
teruskan menulisnya !

Writer Phoebeyuu
Phoebeyuu at Ice of Inferno (6 years 23 weeks ago)

will do. =)

Writer Samara Dahana
Samara Dahana at Ice of Inferno (6 years 24 weeks ago)
100

Halo phoebe, salam kenal. Ini keren bgt, kyk terjemahan novel barat. Apa akan ada kelanjutannya? Kritikan sama seperti yg sudah disampaikan dansou *nebeng :P

Mampir-mampir ke gubukku ^__^

Writer Phoebeyuu
Phoebeyuu at Ice of Inferno (6 years 23 weeks ago)

salam kenal juga. makasih udah mau baca. *bow*
kelanjutan.... kayaknya nggak ada. haha. soalnya fic ini cuma rikuesan dari yang menciptakan universe kisah ini. maaf ya, kecuali saya didaulat untuk nulis versi novel dari komiknya dia (ya, ini dari komik bikinan temen saya) saya nggak akan bikin lanjutannya.
pasti nanti mampir. =)

Writer lfour
lfour at Ice of Inferno (6 years 24 weeks ago)
100

hehehe...
vampir gay toh....
saya suka ma cerita kamu
saya juga sempet mau buat cerita tentang vampir gay

Writer Phoebeyuu
Phoebeyuu at Ice of Inferno (6 years 23 weeks ago)

thx. =)
terus? nggak jadi bikinnya?

Writer dansou
dansou at Ice of Inferno (6 years 24 weeks ago)
90

Hai, phoebe! User lama yang baru post cerita sekarang ya? Selamat datang! Ceritamu bagus dan deskripsinya bagus banget dan patut diacungi jempol. Deskripsinya detail, tapi tidak terlalu berlebihan, jadinya pas menurut saya.
.
Terus, penulisannya juga udah lumayan rapi. Ejaannya juga udah bener as far as I can see. Cuma mungkin ada satu yang nyempil

Quote:
Chrest-sama—orang yang dicintainya, ya, ia sangat mencintainya—disaat ia bahkan tidak bisa merasakan air matanya mengalir.

Harusnya di saat, tapi nggak penting-penting amat, sih.
.
Kritikan dari saya adalah terlalu banyak tanda pisah (--). Saya baca cerita kayak diganggu garis-garis mendatar yang mengganggu. Pakai tanda pisah nggak pa-pa, sih, cuman saya lihat semua kalimat yang pakai tanda pisah bisa diganti dengan koma.
.
Terus, saya penasaran di mana settingnya. Vampire adalah cerita rakyat khas barat dan saya pikir settingnya di barat. Jika demikian, kenapa kamu memberi akhiran -sama buat tokoh-tokohnya? -sama kan digunakan buat orang yang dihormati di Jepang? Atau saya yang salah?
.
Cuma itu komentar saya. Teruslah menulis dan salam kenal ;)

Writer skybluescramble
skybluescramble at Ice of Inferno (6 years 24 weeks ago)

betul.
suffix -sama cuma dipakai orang jepang, dalam konteks DUNIA NYATA. karena ini fantasi, gak masalah sih.. meskipun emang agak gimana gitu.

ngomentarin yg tanda "―", seperti dansou bilang, kebanyakan. kesannya banjir tanda pemisah itu, yang, sebenarnya fungsinya adalah untuk memisahkan detail penjelas tambahan dgn paragraf asli. jadi, saat tulisan di antara tanda "―" dilewat (tidak dibaca), paragraf HARUS tetap berdiri utuh, tidak berlubang atau terasa aneh. saya lihat di sini, seperti yg dikutip dansou, penggunaan tanda baca itu masih belum tepat. kalau kalimatnya takut terlalu panjang, lebih baik dipotong jadi beberapa kalimat pendek saja. toh panjang-pendek kalimat kan tidak berpengaruh pd plot cerita, tp mempengaruhi kenyamanan pembaca (:

Writer Phoebeyuu
Phoebeyuu at Ice of Inferno (6 years 24 weeks ago)

aww, makasih udah baca. *bow*

iya, user lumayan lama yang butuh adaptasi cara make terlalu lama hingga baru sempet publish sekarang. hehe.

tanda afterthought-nya kebanyakan yaa. saya berusaha kurangin deh untuk selanjutnya. makasih kritiknya.

untuk settingnya, karena saya pinjem karakter dan setting punya temen, jadi saya cuma bisa menjelaskan setau saya aja.

Settingnya ada di dunia paralel sih, jadi benar-benar terlepas dari dimensi yang kita semua tahu. Masalah kenapa ada suffix -sama.... itu dari anaknya yang bikin. haha. nanti saya tanyain ke dia deh. =)