Semu

Satu: Jendela

 

Jalanan sunyi. Kulirik berulang kali arloji platina mahal hadiah ulang tahun ke dua puluh delapan dari kolega bisnisku. Sebagai anggota kaum esmud—eksekutif muda—tentu tidak sulit bagiku untuk membeli barang sekelas ini. Arloji platina bukanlah benda yang seberapa mahal. Tapi, yang menjadikan berharga adalah kenangannya.

Ketulusan saat memberi.

Perhatian yang diberikan si pemberi.

Kuhela napas panjang. Sudah pukul sepuluh malam. Cukup larut untuk anak sekolah, karena besok masih hari aktif. Tapi nyatanya jalanan seolah tak pernah tidur. Gerombolan remaja yang kutaksir masih duduk di bangku SMA bertebaran di mana-mana. Memenuhi trotoar. Memadati badan jalan dengan motor dan mobil-mobil orang tua mereka yang sengaja dipamerkan.

Jengah, kuputuskan berbelok ke kiri. Menyusur gang sempit berhias lampu warna-warni yang biasa disebut Gorgeous. Sepanjang jalan banyak wanita-wanita dengan dandanan supertebal dan pakaian mencolok mengedar pandangan. Menggoda. Cari perhatian. Ya, gang ini sangat beken dengan bisnis prostitusinya. Kata sekian banyak orang, kupu-kupu malam di Gorgeous memang cantik-cantik dan ‘hebat’. Karena itulah, daerah ini dijuluki Gorgeous.

Sesuai dengan kondisi nyatanya.

Tapi terus terang saja, bukan itu alasanku lewat sini. Aku hanya ingin potong jalan. Sudah. Tak ada lain.

Sembari melangkah kuedarkan pandang. Kadang aku harus lekas melengos bila satu-dua waria mulai melirik padaku. Dipikir-pikir, ini seperti galeri pameran. Eksploitasi perempuan. Baik yang asli sampai imitasi. Mereka dipajang bagai barang lelang di tepi jalan. Boleh lihat tapi jangan sentuh. Penawar tertinggi yang akan menang. Jika kau tak memasukkan uang, maka kau takkan dapat apa-apa.

Tidak berbeda jauh dengan prinsip mesin penjual minuman kaleng.

Kupercepat langkahku dengan wajah lurus menatap ke depan. Aku tidak mau dikira sebagai salah satu ‘pembeli’. Meski kuakui, di usia yang semakin menjelang tiga puluh tahun ini aku mulai frustrasi karena tidak nikah-nikah. Tapi ‘berbelanja’ di lokasi-lokasi prostitusi juga bukan keputusan bijak.

Mungkin aku masih harus sabar.

Aku sudah hampir tiba di ujung gang. Suasananya lebih tenang. Perbedaan dengan kondisi di tengah sana pun lumayan signifikan. Di sini aku bisa dengar kerik jangkrik, dengkung kodok, bahkan gemerisik kucing mengejar tikus got. Lampu-lampu rumah tetap menyala terang, menunjang kesan meriah pada Gorgeous yang terletak di gang sempit.

Dan satu pemandangan menarik minatku.

Aku pun berhenti.

Sebuah rumah penduduk, berdinding beton tanpa cat, dengan jendela kayu penuh cahaya lampu terkuak lebar tanpa tirai dan sesosok gadis muda di baliknya. Terlibat pertengkaran dengan pria paruh baya. Mungkin ayahnya. Atau pamannya. Atau keluarganya. Atau bisa juga bukan ketiga-tiganya.

Tidak sepatah kata pun kudengar jelas. Namun si gadis tampak putus asa menghadapi lelaki yang berang itu. Perlahan air matanya mulai berlinangan dan dia lari keluar, muncul persis dari pintu di hadapanku.

Hening sejenak.

“Apa… kau lihat yang barusan?” tanyanya pias. Cemas.

ŸŸŸ

Dua: Waktu

 

“Lihat tidak?”

“Ya. Tapi aku tak dengar apa-apa,” tambah pria muda berjas rapi itu segera. Aneh sekali lelaki berpenampilan elit ini mau berhenti di depan rumah butut seperti rumahku. Bahkan sekalipun dia habis ‘belanja’ atau malah gagal mendapat mangsa dalam perburuan malamnya.

“Maaf membuat Anda menyaksikan hal yang tidak enak,” aku minta maaf sekaligus mengubah gaya bahasa.

“Bukan masalah,” ujarnya tersenyum. “Aku cuma kebetulan lewat.”

Kupaksakan diri berbalas senyum. Kaku. “Ngg—yah.”

“Kalau boleh tahu, apa yang terjadi?”

Alisku terangkat.

“Maaf. Aku paham tidak semestinya ikut campur masalah orang lain. Lupakan saja,” sahutnya buru-buru.

“Tidak apa-apa. Toh Anda terlanjur lihat,” kataku.

“Jangan pakai bahasa formal.”

“Tapi…”

“Oke, mungkin aku yang harus kasih contoh,” sambar laki-laki itu, melonggarkan dasi dan membedah dua kancing teratas kemejanya. “Aku bosan berbahasa formal sepanjang hari di kantor, jadi jangan buat aku merasa ada dalam situasi kerja.”

Mau tak mau senyumku timbul. Walau cuma sekilas. Dan bekas air mata yang tertinggal di kedua ujung mataku mulai mengering disapu angin malam. Suasana hatiku kini jauh lebih nyaman.

Kami terdiam sesaat. Saling pandang. Menghela napas. Bingung harus bagaimana mengawali sebuah percakapan yang bisa berlangsung cukup lama bagi masing-masing pihak. Kesunyian terus bicara hingga sebuah lengan tersodor di depan mataku.

“Siapa namamu?”

Mulanya aku ragu. Tapi kemudian, “Selena.”

“Nama yang bagus. Dan pria kasar tadi?”

“Pamanku,” aku menjawab. “Kasihan dia. Frustrasi. Banyak hutang dan tak punya uang untuk melunasi semua. Aku sudah berniat membantunya tanpa perlu diminta, tapi zaman sekarang sulit sekali cari kerjaan. Jadi… pamanku berusaha mendesak agar aku mau dijadikan salah satu dari—yah, apa yang sudah kau lihat di depan sana.” Telunjukku menuding pusat Gorgeous yang kian ramai.

“Orang dengan wajah dan nama sepertimu nggak pantas menempuh hidup sekeras ini,” komentar pria muda itu.

“Tak ada pilihan untuk anak yang ditinggal mati orang tuanya.”

“Oh… sori.”

“Nggak apa,” kataku santai. “Ngomong-ngomong, aku masih belum tahu namamu. Tidak adil.”

Dia tersenyum lebar. “Faros. Sekarang kita impas?”

“Ya. Kita impas,” aku menyahut. “Ngg, apa kau baru habis—yah… begitu?” tanyaku kemudian, agak segan. Bagaimanapun kami perlu topik baru demi meneruskan perbincangan. Dan alih-alih bersikap kikuk, esmud yang kuketahui bernama Faros ini malah tertawa lepas.

“Bukan. Aku cuma mau pulang. Potong jalan lewat sini lebih enak.”

Cengiranku muncul. “Aku tahu.”

“Kau lebih manis kalau tersenyum,” pujinya tiba-tiba, sedikit membuatku kaget. Aku mendongak dan sadar kalau Faros terus menatap lurus ke dalam biji mataku.

“Jangan mengejek.”

“Ayolah, ini serius,” dia berusaha meyakinkan. “Gadis sepertimu mestinya hidup bahagia dan bukan tertekan hanya gara-gara perilaku pamanmu yang brengsek.”

“Mungkin,” desahku pasrah. “Padahal asal kau tahu, kemarin hari ulang tahunku. Tapi mereka sama sekali nggak ingat. Oke, aku tidak mengharapkan hadiah apapun dengan kondisi ekonomi separah ini, namun paling tidak aku kan tetap butuh ucapan selamat dan doa dari mereka!”

“Yang benar?”

“Sudah jelas, kan?”

“Bukan itu maksudku,” ralat Faros. “Soal kemarin hari ulang tahunmu.”

Aku mengiakan. Agak heran. Keherananku makin bertambah saat laki-laki muda itu tersenyum-senyum sendiri. “Ada apa, sih?” tanyaku curiga. Pikiran kaum Adam sulit ditebak ketika dia bungkam sementara bibirnya menyunggingkan senyuman penuh arti. Itu satu-satunya pelajaran tentang lawan jenis yang sempat disampaikan ibu kepadaku.

“Ah, nggak. Kebetulan ulang tahunku juga kemarin,” jabarnya.

Aku mengerjap tak percaya. “Oh ya? Keberapa?”

“Dua puluh delapan,” jawab Faros. “Kau?”

“Delapan tahun lebih muda darimu.”

“Wow. Selamat,” katanya, mengulurkan tangan. Aku menyambutnya dan kami berjabatan. “Selamat untukmu juga,” balasku riang.

Thanks.

“Sama-sama.”

“Ngg—bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Kutraktir kopi dan kue. Memang sedikit larut, tapi anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahunmu. Sebagai orang yang lahir di tanggal yang sama, aku merasa harus memberimu sesuatu.”

Sejenak aku membisu. Berpikir singkat. Lalu, “Oke.”

ŸŸŸ

Tiga: Cangkir

 

Jam dinding menuding angka sebelas dan dua belas. Malam semakin mendekati penghujungnya. Tapi tetap saja, coffee shop penuh oleh pengunjung. Dari balik meja pelayan, kuhitung masih ada sekitar selusin orang yang duduk nyaman seraya menyesap secangkir minuman hangat. Beberapa di antara mereka tampak tenggelam di balik laptop maupun notebook. Entah apa yang dilakukan.

Toh bukan urusanku, benar?

Pintu kaca menguak terbuka lagi. Seorang pria muda berpenampilan ala kaum eksekutif melangkah diikuti gadis cantik dengan pakaian sederhana. Biarpun wajahnya menarik, tapi menurutku anak perempuan itu berasal dari keluarga tidak mampu. Warna bajunya kusam dan ada beberapa jahitan yang lepas. Sekadar dilihat saja, mereka berdua sudah cukup kontras.

Yah, paling tidak tampang gadis itu berhasil mendongkrak kesan orang lain dalam menilai penampilannya.

Hari ini sejujurnya suasana hatiku sedang tidak terlalu enak. Aku bertengkar dengan suamiku kemarin malam, persis di hari ulang tahunku. Tapi sebagai pemilik coffee shop yang lumayan punya banyak pelanggan setia, aku tak boleh pasang wajah angkuh, tidak bersahabat, judes, dan semacamnya. Itu musuh kenyamanan pembeli. Bertentangan dengan prinsip kerjaku.

Jadi ketika mereka berjalan mendekat, aku berkata ramah, “Selamat malam. Mau pesan apa?”

“Faros. Apa tidak apa-apa, nih?” si gadis terdengar kuatir.

“Memangnya kenapa?” laki-laki di sampingnya bertanya.

“Tempat ini bagus banget. Pasti harga makanan dan minumannya mahal.”

“Selena,” ujar pria yang rupanya bernama Faros itu, berbalik menghadap si gadis. “Anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku. Paham? Jangan pikirkan biayanya. Aku senang bisa membahagiakan orang lain. Lagipula, ini juga sebagai tanda pertemanan kita.”

“Istrimu bagaimana?”

“Aku belum menikah. Tenang saja.”

“Oh,” Selena bergumam. “Baiklah. Terserah padamu.”

“Jadi… apa kalian sudah putuskan hendak memesan apa?” tanyaku sopan penuh senyum, setelah menanti pembicaraan mereka usai. “Kami juga menyediakan menu rendah gula. Silakan lihat sendiri katalognya.” Kusodorkan buku menu ke hadapan mereka.

Coffee shop ini punya menu andalan apa?” tanya si esmud.

Cappuccino di sini terkenal paling enak,” sahutku mempromosikan. “Coffee blend, mount blanc dan tiramisu kami juga layak dicoba. Anda pilih yang mana? Pesanan akan siap dalam tiga menit.”

“Kau ingin apa, Selena?” laki-laki itu menoleh pada gadis di sisinya. “Jangan sungkan. Bilang saja.”

“Oke, oke. Cappuccino dan tiramisu,” ujar Selena pasrah. “Senang?”

Faros tersenyum lebar. “Bagus. Aku sama seperti dia,” pintanya setelah kembali fokus kepadaku. “Tunggu. Aku berubah pikiran. Kurasa aku lebih suka minum black coffee malam ini.”

“Jadi pesanan Anda…” aku menggapai keyboard di laci kasir dan mengetikkan nota tagihan, “Tiramisu dua, cappuccino dan black coffee masing-masing satu. Semuanya lima puluh ribu.” Kutekan tombol enter dan kertas mungil bertuliskan detil harga barang tercetak keluar.

“Ini,” si pria mengangsurkan selembar uang.

“Uangnya pas,” kataku mengumumkan. “Terima kasih. Silakan tunggu sebentar. Buat diri Anda nyaman di sini.”

Sepeninggal pasangan itu, aku segera menyampaikan pesanan mereka kepada dua orang anak buahku yang kupekerjakan untuk membantuku menangani urusan dapur. Baru saja bibirku mengatup, ponselku bergetar keras. Kurogoh saku baju.

Ada panggilan.

Di layar tertulis jelas: Lana.

Putri sulungku. Ada apa malam-malam begini menelepon? Dia kan tahu aku masih sibuk menjaga toko. Pasti kabarnya sangat penting, atau mungkin sangat mendesak. Tunggu. Biar mendesak, Lana tidak harus menghubungiku. Bukankah ayahnya ada di rumah?

“Halo, kenapa Lan?” tanyaku langsung ke pokok masalah.

“Bu, tolong cepat pulang. Belikan obat untuk Chiaki. Dia demam tinggi, aku tak bisa tinggalkan dia begitu saja!”

Ya ampun. Si bungsu lagi. Sejak kecil selalu saja sakit-sakitan. Kasihan.

“Ibu masih di toko. Ayahmu saja yang belikan. Ke mana dia? Suruh ke apotek cari penurun panas!” aku menyarankan. Dari seberang sambungan telepon bisa kudengar lenguh panjang Lana sebagai respon.

“Maunya sih begitu!” katanya agak emosi. Kesal campur bingung. “Tapi sejak sore tadi ayah pergi nggak pulang-pulang! Ponselnya ditinggal, dia sama sekali tidak bisa dihubungi! Dia juga tidak bilang mau ke mana.”

Kuhela napas berat. “Baiklah. Tunggu ibu di rumah. Oke?”

“Jangan lama-lama, Bu. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain mengompres dahi Chiaki.” Lana mewanti-wanti.

“Ibu janji. Aku akan langsung ke apotek,” putusku sebelum mematikan sambungan telepon. Sepertinya malam ini aku harus mempercayakan masalah prosedur tutup toko kepada yang lain. Mudah-mudahan mereka semua sanggup dibebani amanah.

ŸŸŸ

Empat: Kardus

 

Sekian milyar jiwa tinggal di bumi. Memenuhi permukaan tanah. Beberapa hidup bergelimang harta. Beberapa hidup layak. Beberapa lagi hidup sederhana. Sisanya kekurangan, bahkan tak terpelihara. Beberapa dipuja-puja dan disanjung setengah mati sedang yang lain dicibir serta dijatuhkan. Segolongan kaum berjuang, membaktikan diri dan melakukan perubahan pada dunia. Kelompok minoritas diperlakukan layaknya sampah, terasing, terkucilkan, seolah mereka itu pemborosan ruangan.

Tidak ada yang peduli apakah mereka mati atau hidup.

Tidak ada yang peduli apakah mereka baik atau buruk.

Tidak ada yang peduli apakah anak-anak mereka perlu sekolah.

Tidak ada yang peduli apakah bayi-bayi mereka mendapat gizi cukup.

Tidak ada yang peduli. Sama sekali. Di tengah persaingan yang kian ketat, sepak terjang mengerikan kriminalitas di balik layar, kepedulian sosial seolah terdepak begitu mudah. Entah kini berada di mana.

Aku sudah cukup banyak melihat.

Cukup banyak pula merasakan. Tiga tahun terakhir bergelimang di jalanan kota metropolitan, naik dari satu bus ke bus lain, bermodal sebuah gitar ala kadarnya dan suara pas-pasan, kuamati kehidupan masa kini dari sudut pandang seorang manusia buangan. Pengamen.

Kumulai hari dengan menggenjreng gitar busuk ini dan mengakhirinya dengan cara sama. Hidup tanpa jadwal. Apalagi program dan rencana masa depan. Bagiku itu nonsense. Konyol. Satu-satunya hal yang terpatri di otakku hanyalah bagaimana esok hari aku masih tetap hidup.

Bahkan aku enggan teringat kalau kemarin ulang tahunku. Sayang, Tuhan tak berkenan mengabulkannya.

Kini aku sibuk bersembunyi di kegelapan, kelaparan, mengintai truk penuh muatan yang berhenti di pom bensin. Tidak jauh dari sini ada sebuah supermarket laris. Bisa dipastikan kendaraan berat ini hendak bongkar muatan. Mendistribusikan stok barang dagangan. Dan aku punya rencana.

Rencana sempurna milik Revan si cowok preman.

Saat sopir truk membayar bensin yang dibelinya, diam-diam aku keluar dari persembunyian. Lantas meloncat naik. Bersembunyi di sudut terjauh tumpukan kardus-kardus bersegel.

Aku tahu akses rahasia memasuki supermarket lewat gudang. Biar seluruh pintu ditutup pun tidak masalah. Lagipula, aku juga tahu bagaimana cara menyusup ke ruang pengawas dan mematikan program CCTV untuk sementara waktu, supaya sepak terjangku tidak terekam kamera. Tempat itu tidak pernah dijaga saat malam hari. Satu-satunya keamanan aktif hanyalah satpam di gerbang depan.

Dan dia gampang diakali.

Kurasakan truk ini berhenti. Suara pintu terkuak dan dengung perbincangan terdengar. Rupanya si sopir tengah bicara dengan satpam.  Yak, kami sudah sampai tujuan.

Bunyi gaduh kembali membahana di malam sunyi. Kali ini sopir dan rekannya pasti mulai membongkar-bongkar terpal dan tali yang dipakai mengikat barang bawaan. Aku bertahan diam, mengintai dari sela kardus. Tunggu momen tepat untuk meloncat turun dari samping badan truk tanpa kepergok.

Sekarang—!

Tep. Tubuhku mendarat ringan di lantai beton sebelum melesat kabur. Sip. Sekarang tinggal menyelinap ke dalam supermarket, mencuri beberapa buah lunch box atau mi instan gelas, habis itu kabur. Tanpa menyisakan jejak.

Apalagi bukti.

ŸŸŸ

Lima: Visi

 

“Chiaki,” suara Lana berdesau di telingaku. Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apakah barusan itu benar-benar Lana, kakak perempuanku. Kesadaranku kian tipis digerogoti demam sialan ini. Kondisi fisikku sangat kacau. Bahkan rasa dingin dari kain kompres yang sejak tadi tak henti ditempelkan Lana ke dahiku sudah tidak lagi terasa.

“Chiaki.”

Tuh kan, suaranya kedengaran lagi. Mungkin memang Lana.

“Kau masih bisa tahan, kan?” tanyanya kuatir. Kali ini kuanggukkan kepalaku perlahan, tak tega membiarkannya terus menunggu jawaban. “Sabarlah sebentar lagi. Ibu bilang dia akan lekas pulang. Setelah itu kita bisa ke rumah sakit. Kau perlu dokter.”

Terserahlah. Aku tak peduli bagaimana caranya. Yang penting siksaan ini segera berakhir! Aku benci kena demam. Aku benci kena penyakit. Sejak kecil, setiap dua bulan sekali tak pernah absen virus, bakteri, dan para kuman jahanam itu menginvasi diriku, menjangkitiku dengan penyakit-penyakit brengsek yang punya sejuta nama berbeda.

Yang benar saja! Padahal baru kemarin aku merayakan ulang tahun ke dua belas bersama-sama ibu dan kakakku yang kebetulan lahir di tanggal yang sama, lalu malam ini aku sudah kembali ke kebiasaan lama: ambruk diterjang sakit?

Menyebalkan.

Bagaimanapun juga ini tidak adil.

Kenapa harus aku yang memiliki sistem imun begitu buruk? Padahal aku kan anak baik-baik. Tidak pernah bolos. Selalu patuh pada nasihat orang tua. Akur-akur saja dengan saudara perempuanku meski dia sangat cerewet, ribet, dan bawel. Rajin belajar. Tak pernah lupa buat PR.

Lantas apa alasannya, hingga aku harus jadi ringkih begini?

Ini menginjak-injak harga diriku sebagai anak laki-laki.

“Lana! Ibu pulang!”

“Tunggu, akan kubukakan pintunya!” balas Lana setengah berseru. Kemudian dia berpaling memandangku. “Chiaki, kau dengar kan? Ibu sudah datang. Kita akan segera ke rumah sakit. Kau pasti sembuh!”

Ya. Mauku juga seperti itu.

Perlahan kuraba handuk kompres yang melekat di dahiku. Hangat. Bahkan cenderung panas. Padahal mestinya kain ini dingin. Sejuk. Sedemikian parahkah demamku sampai-sampai kompresku jadi ikut panas?

Bagaimana jika aku kena penyakit kronis?

Bagaimana jika aku tidak bisa sembuh kali ini?

Bayangan-bayangan imajiner menakutkan berseliweran di benakku tanpa henti. Di saat begini, memang masuk akal kalau kita berkhayal yang tidak-tidak. Bahkan yang paling irasional pun bisa bermetamorfosis jadi kemungkinan terbesar bagi kita di waktu panik berbaur ketakutan.

Oke. kuakui aku takut.

Ketakutan setengah mati.

Sebab, entah kenapa rasanya tubuh ini tidak bisa kukendalikan. Selalu jatuh sakit walau aku tak mengharapkannya. Sangat lemah. Memalukan. Kenapa, kenapa, dan kenapa.

Jangan terlalu menyalahkanku kalau aku sering protes pada Tuhan.

Kerap mengatainya tidak adil.

Bagaimana kalau kau jadi aku? Berani taruhan, hanya butuh dua bulan pertama sebelum kau ditemukan mati bunuh diri potong urat nadi di dalam kamar mandi yang terkunci rapat oleh anggota keluargamu.

“Chiaki, kita ke rumah sakit sekarang!” kata ibu tegas.

ŸŸŸ

Enam: Roda

 

Kartu ucapan selamat ulang tahun dari mantan istriku yang diberikan tiga tahun lalu sebelum perceraian kami masih tertempel di kaca depan bus, tak seberapa jauh dari dasbor tempatku meletakkan koran dan berbagai peralatan kecil. Kemarin aku ulang tahun ke empat puluh lima dan lagi-lagi harus puas memandangi kartu yang sama untuk ketiga kalinya. Yah. Apa boleh buat. Aku paham betul alasannya tatkala dia putuskan menggugat cerai aku.

Sederhana saja.

Istriku merasa kesepian.

Sebagai sopir bus, aku harus rela menanggung konsekuensi kerja. Ada kalanya aku terpaksa pulang larut. Padahal gaji yang kuterima setiap bulannya tidak seberapa. Malah bisa dibilang kurang.

Halte berikutnya tinggal lima ratus meter lagi. Tapi siapa pula yang mau naik bus selarut ini? Semua orang mestinya sudah lelap tidur di rumah mereka masing-masing, menarik selimut hingga sebatas leher dan bergelung nyaman. Walau begitu selalu ada perkecualian. Kulirikkan mata ke kaca di atas bangku pengemudi, menatap sepintas beberapa penumpang yang masih tersisa dalam bus.

Tidak banyak.

Ada seorang ibu dengan dua anaknya yang duduk di bangku paling belakang. Sepuluh menit lalu dia berteriak padaku, berkata bahwa akan pergi ke rumah sakit. Yah… memang anak laki-lakinya tampak kena demam tinggi. Dia sudah dibungkus jaket tebal tapi masih saja gemetar.

Kemudian, seorang remaja laki-laki berumur lima belas tahunan yang naik di halte dekat supermarket. Dia menenteng tas plastik hitam besar yang menguarkan aroma lezat. Seperti bau khas lauk lunch box. Bukan maksudku berburuk sangka, tapi jam segini tidak akan ada seorang pun yang bisa berkeliaran membawa-bawa lunch box keluaran toko jika dia tak mengutil. Seluruh supermarket dan minimarket sudah tutup. Itu pasti.

Kuinjak pedal gas lebih dalam. Aku ingin cepat pulang. Sekejap kemudian halte berikutnya sudah kelihatan. Sia-sia saja meski aku berharap tidak ada penumpang tambahan. Di sana telah berdiri seorang eksekutif muda dan gadis bertampang lugu yang mungkin berusia lima tahun di bawahnya.

“Benar kau tidak mau pulang?” tanya si laki-laki, mengambil kursi persis di belakangku. Gadis itu mengangguk dan ikut duduk. Penuh tanda tanya, laki-laki itu bertanya lebih lanjut. “Kenapa?”

“Pamanku takkan mau membukakan pintu.”

“Ayolah, Selena,” laki-laki itu tersenyum. “Mustahil dia setega itu padamu.”

“Kau belum pernah menghadapi orang seperti dia selama hidupmu, Faros. Aku tidak mau dikasari lagi. Sudah cukup. Mungkin malam ini aku harus menumpang di tempat kenalanku dulu.”

Aku terlalu asyik larut dalam obrolan mereka. Jalanan tak lagi kuperhatikan. Dan ketika kesadaranku kembali, aku tersentak. Sebuah mobil sedan meluncur kencang dari arah berlawanan sementara bus mulai melenceng ke jalur seberang. Refleks kubanting setir ke kiri. Roda berdecit keras. Menghantam pagar pembatas jalan. Jatuh bebas ke bawah jembatan, terjun menuju sungai di dasarnya.

Jerit histeris terdengar di mana-mana.

Sekilas, kulihat sesosok tubuh terlempar keluar dari pintu belakang.

ŸŸŸ

Tujuh: Sunyi

 

Berteriak.

Hanya itu yang terlintas di kepalaku. Melayang tanpa daya di udara malam, dipermainkan angin dan gravitasi. Dengan ngeri kupandang bagian dalam bus melalui pintu belakang yang setengah terbuka, miris menyaksikan ibu dan Chiaki berpelukan erat-erat, lengan ibu mencengkeram pegangan jendela.

Lalu bersama-sama, kami ditelan permukaan air sungai.

Aku terhempas percikan air yang ditimbulkan badan bus. Sejenak sempat kudorong kepalaku ke atas, menghirup udara sebanyak yang mampu kudapatkan dalam kondisi darurat semacam ini, kemudian menyelam ke bawah. Berusaha menolong keluargaku. Tapi tekanan sungai sangat besar dan besi berat itu tenggelam lebih cepat dari yang kuduga, jadi dengan hati hancur aku hanya bisa diam memperhatikan sosok-sosok tubuh yang terjebak dalam kendaraan naas tersebut.

Kemudian sekelilingku berubah gelap.

Entah berapa lama kesadaranku hilang. Ketika kurasakan udara kembali mengaliri paru-paruku, yang kudengar bergaung hanyalah suara orang-orang asing yang sama sekali tidak kukenali.

Siapa kalian?

Di mana ini?

“Dokter, dia sepertinya sudah terbangun,” kata seorang wanita berpakaian putih dari pangkal kepala hingga ujung kaki. “Bagaimana jika kita mulai sekarang? Saya rasa sudah tidak apa-apa.”

Suara lain menyambung. “Dokter?”

“Baiklah,” pria yang dimaksud mendesah pelan. Kulihat dia beringsut mendekat sebelum duduk di kursi di seberang meja. “Namaku Reza. Panggil saja Dokter Reza,” dia memperkenalkan diri. “Boleh tahu siapa kau ini?”

“Lana,” sahutku takut-takut.

“Dengar Lana,” Dokter Reza meneruskan. “Kau sekarang berada di rumah sakit. Tenang saja. Kau akan aman bersama kami semua. Apa kau bisa ceritakan apa yang terjadi malam itu?”

Tiba-tiba saja sekujur tubuhku bergetar hebat. Aku menggigil. Detak jantungku bertambah cepat sekian kali lipat. Keringat dingin mengucur deras dan lidahku terkunci. Rahangku terkatup rapat dengan sendirinya, seolah-olah tak mengizinkan aku bercerita, memainkan ulang mimpi buruk itu.

“Dok, kelihatannya dia tak sanggup.” Seorang perawat bicara.

Yang lain menimpali. “Benar, Dokter. Tak ada gunanya memaksa.”

Terus terang dialog mereka membuat hatiku lega. Dan akhirnya, kulihat Dokter Reza mengangguk. Setuju untuk tidak ngotot mengorek deskripsi lebih lanjut dariku soal musibah itu. Harusnya dia paham kalau aku masih syok. Dia dokter, betul kan?

“Lana,” ujarnya lagi. “Aku mengerti kondisimu. Maaf kalau semua ini terasa mengganggu. Tapi kami butuh sedikit informasi.”

“Anda mau tanya apa?” kataku, langsung tahu arah basa-basi ini.

Dokter Reza tampak ragu sejenak. Pria itu berdeham beberapa kali, menelan ludah, menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser maju kursinya beberapa senti dan wajahnya dijengukkan sedikit kepadaku. “Apakah kau kenal dengan orang bernama Daniel Reynaldo?”

Keningku berkerut. “Hah? Kurasa tidak.”

“Tidak?” selidik Dokter Reza lagi. “Kau yakin?”

“Yakin sekali!” aku menegaskan. “Memangnya siapa dia?”

Dokter Reza bertukar pandang sejenak dengan orang-orang yang berdiri di belakang punggungnya dan menonton perbincangan kami. Lalu, “Daniel Reynaldo adalah seorang laki-laki blasteran Asia-Eropa. Usianya kurang lebih empat puluh lima tahun. Dia mengidap schizophrenia dan delapan bulan lalu dikirim ke rumah sakit jiwa. Salah satu dari kepribadiannya telah melakukan rentetan pencurian terhadap sejumlah bank dan supermarket dengan kelihaian luar biasa hingga nyaris tak terlacak. Sayangnya, dia tidak bisa diadili karena tak sepenuhnya bersalah.”

“Kenapa begitu?” aku mulai tertarik.

“Bukan ‘Daniel Reynaldo’ yang berbuat demikian. Melainkan satu percabangan pribadinya, meski kami belum bisa tentukan yang mana. Dengan kata lain, tindakan itu di luar kendalinya. Di luar kesadarannya. Pengadilan tak mungkin memvonis orang yang tidak mengerti kenapa dia melakukan suatu tindakan, meskipun itu kriminal. Kondisi ini termasuk situasi ‘kejahatan yang dilakukan tanpa sadar’, dan dianggap sama seperti menghakimi orang gila.”

“Lalu apa hubungan ini semua denganku?”

“Kau,” Dokter Reza berkata lambat-lambat. Dramatis. “…adalah satu dari tujuh kepribadiannya.”

Hening sejenak.

“Bohong.”

Seakan tak mendengar omonganku, Dokter Reza terus saja bicara. “Cara terefektif menyembuhkan Daniel adalah mempertemukan seluruh karakter pada satu kesempatan. Pada dasarnya mustahil dua orang yang sama atau lebih ada di saat bersamaan, sehingga jika itu terjadi, kepribadian-kepribadian sampingnya akan terbunuh. Mereka akan lenyap. Jika metode ini berhasil dan pembobol bank itu ‘mati’, maka Daniel Reynaldo tak perlu dihukum.

“Selama lima bulan terakhir kami menerapkan terapi buku harian pada Daniel. Hasilnya adalah tujuh sudut pandang dan latar belakang yang berbeda di setiap halaman. Kau termasuk di antara mereka, Lana. Kau dan Daniel adalah sama.”

“Tidak… itu bohong.”

“Wajah dan postur tubuhmu hanya ada dalam pikiranmu sendiri. Juga kecelakaan itu.”

“Kau bohong.”

“Semuanya maya. Tidak ada yang nyata.”

“BOHONG!!!” raungku berang, berontak, ingin bangkit dari kursi dan menerkam dokter sialan itu. Tapi tidak bisa. Dengan kaget kualihkan pandangan ke bawah, lalu tersentak. Kedua pergelangan tanganku dibebat ban karet hitam yang ditempel ke punggung kursi. Aku diikat!

“Maaf, Lana,” Dokter Reza tersenyum menyesal. “Kami terpaksa menyikapimu seperti hewan liar. Tapi reaksimu sudah diperkirakan dan kami tidak ingin ada keonaran. Tak ada yang boleh lepas kendali.”

“Apa buktinya kalau aku Daniel yang kalian maksud?!” aku menyentak.

“Lihatlah sendiri.”

Dengan tenang Dokter Reza meraih cermin genggam di meja sudut. Lantas diberikan kepadaku. Meski ragu kuterima juga benda tersebut. Mataku beredar, menatap satu demi satu wajah orang-orang berbaju serba putih yang mengelilingiku di ruangan kosong yang juga putih ini.

“Lihatlah,” dia menginstruksi.

Tanganku agak gemetar ketika kulongok pantulan di dalamnya. Seharusnya yang kulihat adalah wajah seorang gadis remaja berambut sebahu yang depresi akibat kecelakaan yang menimpa keluarganya. Tapi aku salah. Yang menentang balik tatapan mataku justru seorang laki-laki dewasa bertampang bundar, nyaris botak, dengan mata coklat muda berbinar sayu serta hidung bengkok.

Aku menjerit.

Menjerit sekeras mungkin.

Lalu mulai mencakari wajah dalam sunyi.

ŸŸŸ-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
hers at Semu (6 years 1 week ago)
80

waww!!
-
Temanya terlalu menarik untuk sebuah cerpen. Efeknya, terlalu singkat untuk bisa menggambarkan ketujuh pribadi yang terpecah.
-
cerita bersambung menurutku akan lebih menarik, selain itu mempermudah pembaca untuk memahami tema2 spt ini, terutama penjelasan karakter.
-
Dalam kasus ini,aku sendiri sih lebih tertarik untuk mengangkat latar belakang terbentuknya karakter dari alter ketimbang menitik beratkan kisah yang hanya terjadi dlm pikiran ego. Alasannya tidak lain karena endingnya yang menceritakan tentang usaha dokter untuk menyembuhkan / menyatukan pribadi2 yg terpisah. Tapi itu subjektif saya.
-
O ya, menyambung komentar di bawah tentang pribadi yg dominan. Beberapa tahun yll, saya pernah liat film dokumenter. Isinya tntg usaha untuk menggabungkan pribadi yg berbeda ternyata memang harus dicari dulu pribadi mana yang dominan. Di film itu juga saya dapet info tentang konsep "pribadi yang terpecah" dan "pribadi yang bercabang". Yang paling sulit (mungkin tidak bisa) digabungkan adalah ketika pribadi itu sudah terpecah. Kebenaran dari konsep/ teori itu saya sendiri masih harus mencari pencerahan.
-
Waah malah ngelantur...
Maaf jadi ngotorin lapaknya,, hehe!!
-
Salloom!

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Semu (6 years 1 week ago)
90

Wah, pantes pas awal kok merasa 'kebetulan banget ya ada beberapa orang berulangtahun di saat yang sama, ketemu di tempat yang sama, terus mengalami kecelakaan yang sama'. Oooo... pas baca endingnya baru mudeng.
keren kk, gaya ceritanya enak dan mudah diikuti.
tapi yang bikin bingung, berarti masing2 kepribadian itu bisa saling bicara sendiri gitu ya?
Terus semua kejadian itu maksudnya dia dalam pengaruh hipnotis gitu?

Writer skybluescramble
skybluescramble at Semu (6 years 1 week ago)

semuanya terjadi dalam kepalanya daniel aja, gitu kak.
.
analoginya kayak kita kalau sedang mimpi, yg kadang" tdk sadar jalan-jalan sendiri, ke toilet sendiri, semacam itulah..

Writer mas bows
mas bows at Semu (6 years 1 week ago)
90

Tujuh kepribadian ya!
.
Ijin curhat dikit
.
ahh jadi teringat pilm yang ceritanya mirip. Entah apa judulnya lupa. :) Inti ceritanya sih hampir sama, hanya di film itu sang dokter berusaha untuk menyatukan alter2 yang terpecah ke dalam ego-nya.
.
Seperti di pilm itu, aku yakin ada kepribadian yang dominan dalam cerita ini. Tapi aku ga nemuin itu.
.
Atau bisa jadi karena aku ga fokus karena aku masih bingung terhadap siapa sebenarnya "Aku" di sini :D
.
Mengenai ide dan pemaparannya, terus terang salut.

Writer skybluescramble
skybluescramble at Semu (6 years 1 week ago)

terimakasih, kak (:
cerita ini memang masih banyak cacatnya kok.. dan lagi, buat fiksi genre psikologis itu susah -__-
.
tapi kayaknya memang cerpen saya di kecom ini ga ada yg temanya lazim deh ...
*menyalahkan isi kepala*

Writer mas bows
mas bows at Semu (6 years 1 week ago)

emang tema yang lazim seperti apa?
.
Menurut saya sih tema psikologis ga harus tentang scizophrenia. Kebetulan tema yg kuangkat saat ini berkaitan dengan psikologis. Tentang seseorang yang menarik diri dari lingkungannya (withdrawal/Hikikomori).

Writer skybluescramble
skybluescramble at Semu (6 years 1 week ago)

ngg.. mungkin yg lebih.. bergaya teenlit?
.
aku sudah baca punya kakak :D
memang tdk harus skizo, tp aku pilih ini karena dr dulu punya minat ttg skizo, dan wondering kira-kira gimana rasanya kalau jd penderitanya..
gitu, kak.

Writer mas bows
mas bows at Semu (6 years 1 week ago)

wakk..
.
jangan-jangan keinginan itu menunjukkan bahwa kau seorang schizophrenia.
.
*aduh, sambil megang kepala krn dijitak.

Writer rysal
rysal at Semu (6 years 1 week ago)
100

Aku suka cerita kayak gini,ngomong ngomong nie satu aliran ya sama novel biru indigo *cmiiw

Writer Ashreya Orie
Ashreya Orie at Semu (6 years 1 week ago)
90

wuah, saya suka cerita2 seperti ini, walau ga ngerti apa itu skizo, tp sepertinya kl disebut kpribadian ganda, saya tahu.. hehehe..
pernah baca novel yg begini juga,dan selalu merasa keren! pembawaan suasanya juga bagus. dan endingnya itu yg bikin ga nyangka.. hahaha...
cuma agak bingung bagaimana dia menjalani semua kepribadian itu, padahal timelinenya nyaris bersamaan tapi tempatnya beda2?

Writer Alfare
Alfare at Semu (6 years 1 week ago)
80

Latar cerita agak enggak jelas. Taoi itu enggak akan begiu kupermasalahkan kok. Yang bikin aku ngerasa gimanaa gitu cuma bagian akhirnya yang tiba-tiba. Terlepas dari teknis kepribadan jamaknya, pembeberan yang terakhir menjadikan makna yang berusaha disampaikan cerita menjadi buram.
.
Tapi narasi kamu bener-bener runut dan bagus lho.

Writer Zhang he
Zhang he at Semu (6 years 1 week ago)
90

Komenku hampir sama kayak Dansou O.o soalnya aku mikirnya kepribadian ganda sih *aku ngerti kalo ini*
Tapi selain itu, aku sukaaaa banget gaya berceritamu, ringan dan mengalir

Writer dansou
dansou at Semu (6 years 1 week ago)
2550

Aih, yang ini bagus Zul! Cuman kenapa pake namaku, sih? -_-
.
Aku yakin ini dibikinnya pas SMA soalnya jauh lebih matang daripada Pengadilan. Deskripsinya oke, penulisannya bener semua *plok plok*, dan endingnya unpredictable.
.
Tapi justru itu yang bikin aku agak ngga sreg. Entah kenapa rasanya kayak dipaksain aja. Yah, aku sih ngga ngerti2 amat soal skizofrenia. Kak Juno yang jago macem begini.
.
Jadi aku bayanginnya, si Faros, Selena, ama si ibunya tu satu. Jadi si Daniel nya ngomong sendiri bertiga gitu? Nggak sampe aku.
.
Tapi yang ini bagus kok

Writer skybluescramble
skybluescramble at Semu (6 years 1 week ago)

aku juga kurang ngerti ttg skizo, tp terapi penyembuhan kyk gini pernah aku lihat di semacam film dokumenter yg aku sendiri lupa judulnya..
.
anyway, it's not easy to write about something you haven't really understood. aku juga yakin cerita ini msh ada byk kelemahannya..
.
tapi thanks ya dan (: