Pada Pagi Itu

Pada pagi itu, tiga tahun yang lalu kita pertama kali bertemu. Kau tipe pria yang dengan mudah mendapatkan perhatian dari yang lain karena ketampananmu, kepintaran, sifat tenangmu, keahlian dalam olahraga, daya pikir otak itu dan kelebihan lainnya. Dua tahun kita berbagi kelas, namun jarang kata sapaan terujar dari bibir masing-masing.

Pagi ini ketika aku melihat mading, nama kita berada di kelas yang sama. Apakah tahun ini akan sama seperti tahun-tahun berikutnya? Berlalu begitu saja bagai angin? Tanpa ada kata terucap di antara kita? Aku mundur dari kerumunan teman seangkatanku, kali ini, aku merasa tidak begitu antusias menyambut tahun ajaran baru. Apakah karena kita berbagi kelas lagi? Apakah aku takut melewati tahun terakhir ini dengan perasaan hampa? Jiwa ini takut, ia hanya berani untuk menunggu setetes embun untuk menyegarkan hati kering ini.

Selesai memilih tempat duduk, aku yang merupakan anggota OSIS harus bersiap-siap dalam kegiatan persiapan MOS. Aku sangat teratur, aku ahli dalam mengatur hal, bila ada yang tidak teratur, aku tidak segan-segan untuk marah–bahkan sampai memaki dia penyebab ketidakteraturan itu. Aku hidup berdasarkan jadwal, jadwal membuatku hidup teratur, dan aku bahagia akan hal itu. Meski beberapa temanku berkata kalau aku aneh, tidak pernah aku ambil pusing. Aku teratur karena tidak ingin terjatuh ke lubang dimana kakakku berada sekarang.

Kau, disisi lain, hidupmu tidak pernah teratur. Kau bahkan jarang masuk ke sekolah, beruntunglah engkau karena orang tuamu adalah donatur terbesar di sekolah ini dan kepintaran itu membuktikan bahwa kau memang berhak untuk tidak hadir di kelas. Entah mengapa, itulah yang membuatku sering memperhatikan kau. Hidupmu bebas, layaknya burung di angkasa sana. Bebas–terlalu bebas malah. Pernahkah burung bersayap itu merasa lelah dengan kebebasannya? Dimana ia biasa melepas kebosanannya?

MOS berlangsung dengan sangat baik, tidak ada kesalahan sedikit pun, semua memuji aku karena berhasil menyusun dan mengatur acara ini dengan baik. Aku bosan mendengar pujian yang sama setiap tahunnya. Aku menatapmu yang sedang terduduk di pinggir lapangan dalam balutan seragam olahraga, menatap langit biru dengan mata sayu itu. Apa yang ada dalam pikiranmu? Maukah kau membagi kebebasan itu denganku?

Tiga hari kita hanya bertegur sapa sebanyak lima kali, dua kali terjadi karena aku meminjam pulpenmu, tiga kali karena formalitas. Lidah ini kelu, seperti bertulang, tidak bisa bergerak tiap aku berhadapan denganmu. Padahal waktu itu kau sedang berkeringat, tapi hidung ini mencium aroma wangi yang membuat otak milikku serasa mau meledak, membuat perasaanku melayang jauh menembus lapisan yang ku beri nama kebahagiaan. Apa organ tubuh ini sudah rusak? Sehingga memberikan reaksi demikian tiap kali kita berdampingan?

Mata biru itu tidak pernah melirik tubuh mungil ini, tetapi mata hitam ini selalu memperhatikan tiap gerakan yang dilakukan tubuh indah itu. Tiap kali bibir itu terkatup, aku tersenyum, tiap kali engkau menguap, aku terkekeh. Ingin rasanya aku menjadi jemari itu, agar aku bisa menjamah setiap inci tubuh jangkung itu.

Minggu terakhir di bulan Agustus, tidak mungkin dapat aku lupakan. Kenangan itu masih terekam jelas oleh otak pelupa ini, sungguh aku berterima kasih karena otak ini bisa diajak bekerja sama. Awal dari sebuah kehidupan baru, kehidupan yang penuh dengan ketidakteraturan–dan cinta...

Hari itu sabtu yang cerah, aku memilih untuk mendekam di rumah dan belajar sebab besok ada ulangan matematika. Tetapi para sepupuku menarik lengan kiriku dan menculikku. Dengan terpaksa aku berakhir di dalam mobil sedan warna hitam ini. Aku yang mudah pusing tidak berani untuk membaca buku di mobil, akhirnya satu jam aku sia-siakan dengan melamun.

Langit yang mulai senja menyambut kedatangan kami di pantai ini, tidak begitu banyak pengunjung, mungkin karena tanggal tua. Segarnya angin laut menembus hidung kecil ini, aku menghirupnya sebanyak yang bisa ditampung oleh hidungku. Wangi laut memang sangat menenangkan, entah sudah berapa tahun semenjak terakhir kali aku ke pantai. Mungkin, sekitar enam tahun. Itu terkahir kalinya aku ke pantai, dan terakhir kalinya aku melihat kakakku.

Aku memilih untuk pergi menjauh dari rombongan sepupu-sepupuku, menyendiri, berharap bisa menemukan tempat yang tenang di pantai yang damai ini. Aku pun duduk di kursi. Tadinya aku mau duduk di atas hamparan pasir putih dekat bibir pantai, tapi besarnya ombak membuat aku enggan.

Jantung ini berhenti sesaat dan disaat bersamaan nafas ini tertahan di dada ketika melihat sosokmu duduk tidak jauh dariku. Apa mata ini sudah katarak atau yang aku lihat saat ini adalah fatamorgana? Sosok dingin itu tersenyum lembut, seolah seperti meleleh karena mentari senja. Apa kau, benar dia? Sosok yang selama ini diagungkan karena wajah tanpa ekspresi itu? Wahai langit, katakan bahwa yang ku lihat saat ini adalah nyata, izinkan aku terus bermimpi bila ini hanya bunga tidur.

Tampaknya dia tidak menyadari kehadiranku, terbukti ia langsung pergi ketika matahari telah meninggalkan langit, memberi tempat untuk sang rembulan memulai malam. Sedikit kecewa, tapi kepala ini terus aku usahakan untuk terangkat. Selesai menyantap makan malam, aku memutuskan untuk kembali ke tempat yang sama, dan kembali mendapatkan sosokmu di sana, mengenakan jaket warna hitam.

Senyum itu makin menjadi, ingin rasanya aku mengambil kamera dan mengabadikan momen langka ini. Tapi aku egois, hanya ingin menikmati momen ini untukku sendiri. Meski senyum itu hanya bisa aku lihat dalam kenangan esok harinya, semoga otak ini kembali bisa diajak kerja sama.

Tiga hari setelah kejadian itu, intensitas aku menatapmu semakin tinggi. Aku masih bingung, orang sepertimu ternyata bisa diluluhkan oleh mentari senja dan langit malam. Aku merasa iri kepada mereka, karena kau mau tersenyum lembut untuknya. Semenjak itu juga, aku selalu pergi ke pantai–duduk di tempat yang sama dan berharap bisa melihat sosok yang sama. Sosokmu yang tersenyum lembut.

Seminggu aku semakin berantakan, keteraturan perlahan aku lepas demi bisa melihat senyum indah itu. Semua mengeritkan kening karena perubahan drastis ini. Aku tahu aku salah, meninggalkan keteraturan yang telah menjadi sahabat baikku dari kecil, demi seuntai senyum dari pria yang bahkan tidak pernah melirikku. Aku tidak peduli, akan aku tinggalkan raga ini bila itu diperlukan, agar aku bisa puas melihat senyuman terindah itu.

Hari itu minggu ketiga aku melakukan hal bodoh ini, dan aku sangat malu karena kau menyadari hal ini. Dengan nada dingin kau bertanya mengapa belakangan aku sering ke sini, duduk di tempat favoritmu. Wajah ini memerah, seperti kepiting rebus, jantung ini juga berdetak lebih cepat dari biasanya. Nada bicaraku jadi kacau, jawaban yang keluar hanya huruf ’e’ dan ’h’ berulang kali. Sedetik kemudian, kau tertawa. Aku mendapatkan lebih dari yang aku inginkan!

Kau mengulurkan tangan kananmu, berkata bahwa semenjak dulu kau sadar bahwa aku sering memperhatikanmu, dan belakangan semakin sering. Kau juga berkata, bahwa aku adalah orang pertama yang melihatnya tersenyum setelah selama ini kau berusaha untuk selalu bersikap dingin dan angkuh. Semua kau lakukan karena tidak ingin terluka lagi. Cintamu pernah berlabuh di hati seseorang, tapi ia membalasnya dengan sebuah dusta. Aku bisa memahaminya, mengapa engkau menutup hati itu.

Kau pun berkata, sudah waktunya untuk memulai hidup baru, dan kau memintaku untuk hadir di dalam cerita baru dalam lembaran kehidupanmu. Aku bersedia.

Sungguh, tidak pernah aku bayangkan, betapa berantakannya hidup ini hanya karena seuntai senyummu. Tapi aku bahagia, karena aku bisa melihat isi hati yang tertutup itu. Dan menjadi satu-satunya orang yang mendapat senyum indah itu. Senja dan malam adalah saat-saat yang aku nantikan, karena aku bisa melihat sosokmu yang lain, sosok yang membuat hidup ini kacau karena cinta.

Read previous post:  
26
points
(98 words) posted by puTrI_keg3lapaN 8 years 10 weeks ago
52
Tags: Cerita | Cerita Pendek | 100 kata | Cinta
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ardarklucifer
ardarklucifer at Pada Pagi Itu (8 years 4 weeks ago)
80

widihh ana muda sekali hh

Writer nayacorath
nayacorath at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)
70

So sweet... >, Keren ihh, terutama pas bagian deskripsi kekerenan tokoh kau..
~jadi geer sendiri.. xP

Writer liza is rin
liza is rin at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)
100

ah, indahnya cerita ini walau tanpa dialog sekalipun.. ckckck.. saluutt. :D

Writer xenosapien
xenosapien at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)
80

Wew! Menggunakan kata ganti kau (alih-alih dia) membuat ceritanya jadi unik meski tanpa dialog, Put. Siip.... ^^

Writer Zhang he
Zhang he at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)
90

Full-deskripsi, sulit biasanya untuk buat pembaca untuk terus baca tanpa skip, tapi kamu sukses besar.
Untuk alur cerita menurutku masih bisa dikembangkan lagi

Writer flainst
flainst at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)

happy ending..... ^^
nice kk

Writer chaeryneverdies
chaeryneverdies at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)

Agak mirip diary, dan bnar bnar tnpa dialog.

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)

uhuk,ini cerpen pertama saia yg non dialog T^T...agak aneh emang,tp saia rasany mulai suka :p

Writer dansou
dansou at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)
80

Ending yang bagus. Saya suka cerita ini karena nggak ada dialognya, tapi pembaca bisa mengira-ira apa yang dilakukan aku dan pria idamannya. Kelemahannya cuma satu: cerita ini klise. Cowok tampan, keren, ugal-ugalan, dan orang tuanya penyumbang dana terbesar sehingga ia bisa bertingkah seenaknya. Cewek biasa-biasa aja, ketua OSIS, pemalu. Semua bisa ditemukan dalam novel-novel teenlit.
.
Anyway, ini masih cerita yang bagus kok.
.

Quote:
Hari itu sabtu yang cerah, aku memilih untuk mendekam di rumah dan belajar sebab besok ada ulangan matematika

Huruf 's'-nya nggak besar dan saya bertanya-tanya apa si aku sekolah di madrasah atau apa. Habis Sabtu kan Minggu. Masa dia Minggu ada ulangan matematika?
.
Wkwkwkwk. Cuma itu aja komen saya ^^

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Pada Pagi Itu (8 years 9 weeks ago)

tantangan juga bwt saia,soalny baru kali ini bikin cerpen tanpa dialog ^^,dan rasany,saia mulai suka,heheheh

iy,terlalu klise ><...saia lagi engga ada ide >,>

ah,bukan,itu kebiasaan saia XD,besok maksudny hari senin :p...nanti saia edit biar lebih jelas :)