Program Tantangan: Masalah Perkalian Aron

Aron menghela napas panjang. Ia sedang berjalan pulang dari sekolahnya ketika ia mengeluarkan secarik kertas dari balik rompi seragam sekolah putih merahnya. Ia menatap kertas itu dengan muram, mengabaikan keramaian lapangan yang ia lewati saat itu.

            Sebuah kertas hasil ulangan matematika pertamanya di kelas dua SD. Ulangan matematika tentang perkalian itu mendapat nilai sepuluh. Dari skala seratus. Aron tampak tidak puas melihat hasil ulangannya itu.

            “Kenapa matematika itu susah banget, sih?” gumamnya kepada diri sendiri. “Dari dulu aku paling nggak bisa sama yang namanya matematika.”

            Ia menoleh dan menatap sekumpulan anak SMA di lapangan yang sedang pelajaran olahraga pagi itu. Mereka sedang bermain lempar lembing dan seorang pria yang sepertinya guru olahraga mereka meniup berkali-kali peluitnya murka kepada murid-muridnya agar tidak menusuk temannya dengan lembing. Aron tersenyum melihatnya

            “Seandainya saja ada cara membuat matematika menjadi lebih mudah,” katanya kepada diri sendiri lagi. Ia memasukkan hasil ulangannya ke balik rompinya lagi.

            Tiba-tiba saja, sebuah cahaya terang yang menyilaukan mata Aron muncul di depannya. Aron sedikit menyipitkan matanya dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Ketika cahaya itu mulai meredup, Aron melihat sosok seorang wanita cantik muncul dari cahaya itu.

            “Hei, hei Aron! Kau butuh bantuan tentang matematika?” kata wanita itu. “Kenalkan, aku Peri Matematika dan aku siap membantu masalahmu.”

            Mulut Aron menganga lebar-lebar. Ia belum pernah melihat wanita seatraktif itu sebelumnya. Rambutnya keriting dan berwarna kuning. Wanita itu mengenakan tunik putih yang biasa digunakan masyarakat Yunani kuno dan sayap di punggungnya berwarna transparan. Yang paling menusuk mata Aron ialah motif tunik yang dipakainya: terdiri dari angka-angka, lambang penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan lambang lainnya yang belum pernah Aron lihat.

            “Apa kesulitanmu, anakku?” tanya wanita itu lembut.

            “Mama bilang kalau aku tak boleh bicara dengan orang asing,” kata Aron.

            “Aku bukan orang asing, Aron. Aku adalah peri matematika,” jelas si Peri sambil tersenyum. “Sekarang, apa kesulitanmu?”

            Justru itu, pikir Aron dalam hati, peri matematika itu justru jauh lebih mencurigakan daripada penculik bertopeng, tapi kemudian ia berkata, “Matematika itu susah banget! Lihat saja nilai ulanganku dapat sepuluh dari seratus. Kenapa, sih, harus ada matematika?”

            Sang Peri menggeleng-geleng dan menjawab, “Matematika itu penting, Aron. Semua aspek kehidupan memerlukan matematika.”

            Aron menatap sang Peri hampa. Ia tidak percaya kalau matematika itu penting.

            “Tampaknya kau memiliki kesulitan dalam perkalian, Aron. Sekarang mari kita bikin jauh lebih mudah. Berapakah tiga dikali lima? Aku dengar makanan kesukaanmu adalah kue mochi. Bagaimana kalau kita menghitung dengan menggunakan mochi?” kata si Peri.

            Ia menjentikkan tangannya dan tiba-tiba saja muncul sebuah meja dengan satu buah piring besar yang berisi lima buah kue mochi kesukaan Aron. Sang Peri menatap meja itu dengan penuh minat, sedangkan Aron hanya mengedip-ngedipkan matanya. Ia tampak terkejut.

            “Ada berapa mochi yang kaulihat, Aron?” tanya Peri Matematika.

            “Ada lima buah,” jawab Aron. Ia menghitung dengan menggunakan jarinya.

            Sang Peri menjentikkan jemarinya lagi dan lima buah mochi muncul lagi, berbaris rapi di bawah barisan kue mochi di atasnya.

            “Sekarang ada berapa kue mochi yang kaulihat?” tanya Peri Matematika lagi.

            “Ada sepuluh,” jawab Aron cepat.

            Sekali lagi, si Peri menjentikkan jarinya dan muncul lima buah mochi berbaris rapi di bawah kue mochi sebelumnya.

            “Sekarang?” tanyanya.

            “Ada empat belas, Peri,” jawab Aron.

            Si Peri membelalak lalu ia nyengir bersalah dan berkata, “Oh, maaf, aku tadi mengambil satu karena tampaknya kue mochi ini enak. Aku nggak... nggak... nggak... kuat. Sebenarnya ada lima belas.”

            Aron mengangguk dan ia menatap si Peri yang sedang mengunyah mochi dengan nikmat dengan pandangan iri.

            “Sekarang berlatih sekali lagi. Berapakah empat dikali enam?” tanya sang Peri. Ia menjentikkan jarinya dan kue mochi di atas piring lenyap, digantikan enam buah kue brownies yang lezat. “Hei, khayangan, aku sedang diet, nih. Kenapa kalian mengirimkan makanan enak terus?”

            Aron mengabaikan si Peri dan mencoba menghitung.

            “Enam brownies ditambah enam brownies ditambah enam brownies ditambah enam brownies,” gumam Aron. Ia melipat jemarinya. “Jawabannya 23 karena satu dimakan Bu Peri.”

            Si Peri menyeringai, tangannya mengembalikan brownies yang dipegangnya ke piring. Ia berkata, “Kau benar, Aron. Tampaknya kau sudah mulai ahli. Matematika itu tidak susah, kok. Kau boleh menganggap angka-angka itu adalah jumlah benda yang kau sukai. Mainan, mochi, kartu Yu-Gi-Oh, apa saja. Lalu ketika kau mengalikannya, kau akan mendapatkan jumlah yang lebih banyak. Bukankah itu menyenangkan?”

            Aron mengangguk lagi dan ia berkata, “Kau benar.”

            “Baiklah. Kau tampaknya sudah lebih mengerti sekarang. Intinya adalah kau harus sering berlatih,” kata Peri. Tubuhnya mulai bercahaya terang dan menyilaukan lagi. “Aku harus kembali sekarang, Aron. Dan ingat, angka hanya terdiri dari sepuluh karakter, kau tak perlu takut melihat mereka berjejer di belakang sepanjang apa pun karena mereka cuma sepuluh karakter.”

            Si Peri itu akhirnya mulai memudar dan akhirnya menghilang setelah cahaya terang itu lenyap.

            Aron menggelengkan kepalanya dan mencubit pipinya.

            “Apa ini mimpi?” tanyanya kepada diri sendiri. Ia kemudian melanjutkan perjalanan pulang dan sekarang ia merasa matematika itu tak susah.

Read previous post:  
81
points
(1193 words) posted by dansou 3 years 17 weeks ago
81
Tags: Cerita | Cerita Pendek | iptek | alfare | fantasi | kacau | program | tantangan
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Bagus kak. Harusnya peri Matematika memang ada di dunia nyata, atau peri Fisika juga. Aku suka dengan cerita khayal kayak gini tapi aku belum pernah bisa membuat cerita dengan tema seperti ini -_- stuck di percintaan mulu *curcol* Keep writing kakak :D

100

Peri matematika yang gembul, hehe... Saya suka ceritanya... XD

Ah om Zul berlebihan. Ini cerita saya yang paling gak jelas. Padahal semua cerita saya gak jelas. Makasih banyak om

80

ini lebih bagus ^__^

Sankyu :D

100

Hahaha..periny endud kalo gt mah..

Iya... Gendut kayak saya *malu*

Iya... Gendut kayak saya *malu*

80

wkwkwkwkwkwkwk.. perinya geje bgt

Iya niih geje abis deh. Saya nggak... Nggak... Nggak... Kuat. Thank you kak sun

80

Apa INI?! Ini ga jelas banget!
(sial, aku ga bisa berhenti ketawa)
Oke, ini yang mau diikutin ya. Toh, aku lebih suka yang ini. Ah, ulasannya kubikin nanti.

Yang penting kan sesuai ama tantangannya om Al. Fantasi, 800 kata, ada kata kuncinya, dan berpesan moral :p *ngeles dot com*

90

emang sedikit kurang greget..
but nais :)

Thank you :D

Ngirim yang ini aja deh. AHahahaha *hampa*. Om Al silakan dicabe T_T. Padahal judulnya kerenan Post Bellum ya

80

Ntah knp rasanya missing dansou taste dalam cerita tantangan..
Tp yg ni lbh bgs drpd yg post bellum..

Thanks kak Lav. Hix...

90

Saya suka perinya yg nyeleneh. ‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Anyway baca cerita ini membuat saya ingat pada acara trans 7. Jagomatika. Wkwkwkwkwkwk.

Sip. Saya lebih suka yg ini. Simple, mudah dimengerti (maaf kuota otakku terbatas) dan lucu serta ada pesan moral yg baik.

eh.. emang di jagomatika juga ada ngitung perkalian pake makanan? aku nggak tahu >,<
.
pesan moral yang baik apa? aneh deh pesannya. hiks... jadi yang saya kirim yang ini kak Cat?

Kalo gw jurinya, 2-2 nya belum maksimal. He.he

smangat Dansou!

Jadi pengen bikin 800 kata fantasy dari maggie dan jess-mu^_^

cheers!

Mati deh. Tembak saja saya sekarang XD
.
Bikin aja nggak papa kak El

Ku bikin after tgl 23 deh

eh selamat menempuh hidup baru, ya...
Longlive mahasiswa

*speechless*

90

Aaa...
Kalo saya lebih suka yang ini. Bikin ketawa ketiwi sendiri XD.
Ceritanya lebih ringan dan bahasanya lebih luwes.
Perinya kocak >__< Hidup Tante Peri!
Apalagi peranan mochi dan lembingnya (eh, kata kunci yang satu lagi apa?) lebih banyak, nggak sekedar tempelan kayak sebelumnya.
Kan nggak ada yang bilang kalo pesan moralnya harus berat wkwkwkwk...
Mbak cat setuju kaaaan??? (nyariin suporter nih)

Makasih Kak Kurenai *terharu*. Yang satunya rompi. Tapi pesan moralnya agak geje nih. Pilih yang ini apa yang sebelumnya? *galau*

Moral yg Nana dpt: Mat itu gampang.. -__- (ga setuju! Mat d skul Nana susaaaah bgt dbandingin skul lain 8(><)8; jadi inget rapot.. hikz.. T_T)

Ok, kembali ke tulisanmu.
Yg ini jauh lebih ringan dan berunsur fantasi n komedinya ada.
Bagian cerita:
-Perkenalan ada
-Konflik ada
-Klimaks kurang berasa
-Penyelesaian ada

*poin nyusul...*

Ah... Nggak juga. Mat di sekolah saya dulu (saya udah lulus SmA) juga terkenal susah sesolo. Asal tau aja harus ngapain *plak*
.
Thank you Nana (kak nya ilang karena saya lebih tua)

hahaha semngt mas dansou, aku aj gk bs tidur mikirin tntgannya

saya mau pingsan rasanya T___T. hiks... hiks... *mojok*
.
saya mau meratap dulu. kalo event tantangan udah kelar, bangunkan saya =,=

90

kok aku senyum2 baca cerita ini yak! Hehehe..

Yg ini gimana ya? Yg post bellum juga gimana yak?
Mending bikin cerita yang ketiga, keempat, kelima dst..

Biar makin bingung skalian, wkwkwkw..

mati deh saya.... aaaah, nyerah deh soal fantasi >,<

70

Hihihi, kalo dikali angka minus jadinya lebih sedikit bukannya banyak :P

Apa ya... kok aku lebih suka yang post bellum *kabur sebelum disepak*

=,= kak Zhang bikin saya tambah bingung aja. anak kelas 2 SD kan belum kenal tanda minus. Terus saya pilih yang mana???

Hahahaha.. kalo disuruh pilih aku juga bingung yak. Coba baca karya-karya Villam dan Dian yang 100 kata, jadi kamu bisa belajar membangun klimaks dan memberi hentakan di ending, tanpa perlu boros kata.

kak El kemarin juga rekomen itu, link nya mana, sih?

wuuooo. cerita milik punggawa kecom memang hebat2 >,<. oke... saya akan belajar bikin 100 kata juga. Tapi saat ini, buat tantangan nggak deh. Saya kapooook.... T_T. ternyata emang paling enak nulis di zona nyaman kita *sob*

Aaah... di word saya jumlah katanya 793 dan membeludak menjadi 1202 kata =,=

90

Ihik.. ihik... ini cerita tantangan saya yang kedua. Yang Post Bellum saya anggap gagal *nangis darah*.
.
Saya jauh lebih rileks nulis cerita ini karena Om Alfare udah mengingatkan saya buat nulis apa yang saya suka. Saya suka matematika dan lahirlah cerita ini.
.
Nilai moralnya yang saya nggak sreg. Yang tersurat sih Matematika itu nggak susah, yang tersirat barangkali jangan mudah menyerah, jangan main tusuk temen pakai lembing (eh?), dsb.
.
Ini harusnya masuk program tantangan majalah Bobo, ya -_- karena ceritanya kekanak-kanakan banget dan bukan buat pembaca kecom. Tapi kan nggak dibatasi siapa tokoh utamanya (ngeles).
.
Saya suka nilai moralnya Post Bellum, cuman yang ini saya lebih suka ceritanya. Bingung deh pilih yang mana
.
Om Al, enaknya yang mana, nih?