Fantasy Fiesta 2011: Fechter

 

Langit jingga Minkhafte perlahan pudar sementara matahari mulai tenggelam di barat. Gelapnya malam tentu tak dapat dihindari, namun lampion-lampion beraneka warna yang menghias jalan-jalan kota tampaknya tak akan menyerah begitu saja. Kesibukan para penduduk mengangkut gerobak-gerobak makanan dan anggur ke tanah lapang di tengah ibukota Therir semakin menghidupkan suasana Festival Claire yang rutin digelar selama seminggu setiap tahunnya itu. Tak ada yang berpangku tangan hari itu—tidak juga para fechter yang turut larut dalam kegembiraan festival. Semua ambil bagian dalam pesta pora.

Kecuali aku, tentu saja.

Aku tak punya cukup waktu untuk omong kosong yang mereka sebut festival ini. Sebelas tahun yang lalu aku masih cukup naif untuk percaya pada kehebatan patung bisu yang dianggap sebagai pelindung kota. Sekarang tidak ada waktu bagiku untuk keajaiban dewa-dewi atau mitos kosong. Aku sudah lama meninggalkan semua itu, beserta kenangan-kenangan tentang kota kelahiranku, Istka, yang sekarang tinggal puing tak berpenghuni.

Istka.

Aku tersenyum miris mengingat kota itu. Kota kecil yang hancur oleh keberingasan sekelompok besar damon, makhluk mirip manusia dan hewan buas yang laparnya hanya bisa dipuaskan dengan jantung manusia. Kota yang kini bukan kota, melainkan reruntuhan yang membuktikan kekejaman Claire; Sang dewi yang ditinggikan sebagai pelindung kota-kota di Therir, berdiam diri melihat rakyat Istka dibantai di hari pemujaannya sebelas tahun yang lalu, dan menyiksaku dengan membiarkanku menjadi satu-satunya yang tersisa.

Aku bukan anak-anak lagi, dan aku tahu dewi itu hanyalah tipuan manusia-manusia yang merasa lemah atas hal-hal di sekitarnya. Claymore dan bakat sihir alami sebagai fechter jauh lebih realistis bagiku.

Bulan sudah tinggi saat aku beranjak keluar dari markas Organisasi. Gema nyanyian dan bunyi tabuhan alat musik terdengar di kejauhan. Sekarang aku tak perlu bersusah payah menyelinap; jalanan sudah kosong karena ditinggalkan. Sesuai dugaanku, gerbang utara kota masih berpenjaga—meskipun tanpa satupun fechter senior yang seharusnya bertanggungjawab atasnya. Prajurit-prajurit biasa—bukan fechter—bakal lebih mudah digertak. Sedikit pamer bros pasukan elite dan bualanku tentang misi, lalu semuanya beres.

“Berencana pergi ke Tiepa tanpaku, Nona Mata Es?”

Sosok laki-laki berjubah muncul di dari balik pohon ketika langkahku baru saja memasuki Hutan Bayangan. Belum sempat aku menarik claymore-ku di punggung, tahu-tahu dia sudah bergerak dan sekarang jarak di antara kami tinggal beberapa langkah saja.

Aku mengenali bilah samurai di pinggangnya, serta bros bunga myr keperakan yang sama persis dengan milikku yang berkilau di kegelapan hutan. “Raiden si Langkah Cahaya,” gumamku setelah menyadari bahwa sosok berjubah ini adalah Raiden, salah satu anggota pasukan elite sepertiku.

“Kau tidak lupa pada kecepatanku, ternyata,” seringainya. “Yah, memang sebaiknya begitu.”

“Aku tahu, Tuan Penguntit.”

“Hei, hei, jangan lagi. Kupikir kau sudah melupakannya.”

“Bagaimana bisa kulupakan seorang yang dengan kurang ajar membaca jurnal rahasiaku dan mencuri ideku?”

“Aku hanya membacanya, Deneve, tidak pernah mencuri ide. Bukankah ‘misi’ ini juga idemu?”

“Tidak mengubah kenyataan apapun, Penguntit,” kataku geram. Aku melompat dan mulai berlari lagi, kali ini dengan kecepatan bukan manusia.

“Kau tahu aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal-hal gila di luar sana, Deneve. Setidaknya tidak sendiri. Apalagi tujuanmu adalah tempat di luar kekuasaan Organisasi.” Teriakan Raiden menggema di

“Oh, bagian dari tugas yang diberikan Sapphirus rupanya.”

“Hentikan omong-kosong-Sapphirus ini, Deneve. Tidak lucu.”

Ya, memang tidak. Aku masih terus berlari tanpa menoleh ke belakang; aku tahu Raiden akan dengan mudah mengimbangiku. Julukan Langkah Cahaya itu tak mungkin diberikan oleh Edelstein, pemimpin Organisasi, secara percuma. Benar saja, tahu-tahu laki-laki berjubah hitam itu muncul di sampingku.

“Maaf karena sudah mencampuri urusanmu.”

“Sekarang kau merasa bersalah?” tanyaku tanpa terkesan berminat sama sekali.

“Aku tahu aku melakukan kesalahan besar dengan menjadi mata-mata Sapphirus, dan sebuah maaf tidaklah cukup. Aku hanya ingin tahu apa yang kau pikirkan.”

“Kau bisa bertanya.”

“Ya, bertanya. Mendatangi seorang yang kau tak kenal dan bertanya, ‘Apa yang kau pikirkan?’ seperti kawan lama. Ini tidak semudah yang kau kira.”

“Aku tak peduli kau peduli pada apa yang kupikirkan.”

“Kukira aku juga begitu, Deneve.”

“Jadi mengapa kau tak kembali ke Sapphirus-mu yang terhormat saja? Tidak ada gunanya mengikuti seorang fechter gila dan teori-teorinya ini, Langkah Cahaya.”

Demi Claire, Deneve. Kau—”

Tanpa peringatan aku berhenti dan menendang kaki Raiden, membuat Raiden kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. “Jangan sebut nama itu lagi di hadapanku.”

Terkesiap, Raiden hanya menatapku dalam diam. Dia tak bergerak, masih terduduk di atas tanah hutan yang lembab. Baru setelah aku berbalik dan bersiap berlari lagi, Raiden angkat bicara. “Kau ingin keluar dari Organisasi.”

Damon, begitulah makhluk-makhluk ini dinamakan. Semua orang di Therir menggunakan istilah ini untuk menyebut sejenis makhluk humanoid yang memiliki anggota tubuh mirip hewan buas yang berbeda pada tiap individunya ini; kepala singa, bulu serigala, cakar harimau. Tak ada yang tahu dari mana mereka berasal; mereka tiba-tiba muncul dan terus menjadi pemangsa jantung manusia selama ratusan tahun. Selain penampilan fisik yang mirip hewan, mereka juga tak memiliki akal. Mereka berburu berdasarkan insting dan rasa lapar mereka—atau begitulah yang diyakini umat manusia.

Tugas kaumku, para fechter yang bersatu di bawah Organisasi, adalah melindungi manusia-manusia yang terlahir dengan sihir lemah atau tanpa sihir sama sekali. Dengan berbekal senjata yang mampu bersinergi dengan sihir, fechter bekerja melindungi Therir. Itulah komitmen Organisasi.

Omong kosong. Organisasi tidak lebih dari sekedar ajang jual jasa. Orang-orang Therir harus membayar untuk mendapatkan perlindungan Organisasi. Memuakkan. Sama memuakkannya dengan damon-damon buruan mereka.

Cih. Kau ternyata mata-mata ulung, Raiden. Kau bahkan bisa menebak apa yang kupikirkan.

“Teorimu. Semua yang kau sebutkan di jurnalmu. Tentang damon yang bisa berbicara, tentang kemungkinan mereka memiliki kecerdasan seperti manusia; tentang kemampuan mereka berubah bentuk, meniru apa yang mereka lihat. Tentang kemungkinan mereka tak sekadar menyerang secara acak. Tentang mereka bersarang di Tiepa.” Raiden bangkit, berjalan mendekat ke arahku. “Aku mempercayaimu, kau tahu itu?”

“Satu kepercayaan tidaklah cukup, Raiden. Mayat damon dengan separuh tubuh berzirah akan jauh lebih berguna untuk membuka mata Edelstein tentang kegilaan iblis-iblis itu.”

“Satu orang tidak akan cukup untuk menyelesaikannya.” Kurasakan tepukan lemah di bahuku. Raiden dan aku sekarang berdiri berhadapan. Tanpa seringaian, atau ekspresi mengasihani, Raiden tersenyum tulus kepadaku. Tangannya terulur ke arahku. “Biarkan aku membantumu.”

Rencana tiga hari menempuh perjalanan ke Perbukitan Tiepa di Therir Utara gagal total. Berkat Raiden yang staminanya payah, terpaksa kami berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Aku tak mengerti bagaimana bisa ia mempunyai kelemahan sefatal ini, padahal dia sangat unggul dalam hal kecepatan.

“Jangan memandangku rendah begitu. Kau juga punya kelemahan di balik daya tahan gorilamu itu. Kerja tim-mu payah, kau tahu?”

Aku hanya bisa mendengus mendengar komentar Raiden. Mau bagaimana lagi, fakta yang tak mungkin kubantah.Sebenarnya aku bisa saja meninggalkannya setiap kali kami berhenti. Tapi aku tak pernah melakukannya. Setelah dipikir masak, aku membutuhkannya. Satu orang tidak akan cukup.

Setelah lima hari perjalanan, akhirnya kami sampai di reruntuhan utama Tiepa. Konon, reruntuhan ini dulunya adalah bekas istana dewa-dewi Therir. Penghuninya meninggalkannya untuk melakukan perjalanan ke penjuru Therir, menyelamatkan manusia dari serangan-serangan damon yang lapar. Cuacanya yang dingin karena sangat dekat dengan kutub membuat tempat ini tidak memungkinkan permukiman bagi manusia biasa—meski sebenarnya banyak penduduk Therir yang ingin melakukannya.

Sejauh mata memandang, Tiepa tak lebih dari gundukan bukit-bukit berselimut salju yang hampir abadi. Tak ada tanda kehidupan; serigala salju pun tidak. Raiden, yang tampak agak menggigil di balik jubah hitam besarnya, berjalan mengamati sekeliling tumpukan batu yang kukenali sebagai runtuhan patung Claire. Sementara itu aku hanya memandanginya dalam diam; Raiden tak menghendaki kami berpisah jalan dan menyelidiki sekitar sendiri-sendiri. Terlalu berbahaya, menurutnya.

“Ini sia-sia. Tidak ada tanda kehidupan di sini.”

Aku tak mengacuhkan komentar si Langkah Cahaya. “Kita harus bergerak lagi dan memeriksa tempat lain.”

“Lebih baik kita kembali dan—WAAAA!”

Refleks aku menoleh ke arah Raiden, yang sudah lenyap tak ada di tempatnya lagi. Sebagai gantinya, satu lubang menganga di tanah di samping kaki Claire. “Raiden!” teriakku. Lubang gelap itu membuatku panik; jangan-jangan ... “Raiden jawab aku!”

“Tenang, Deneve! Aku baik-baik saja!” balas Langkah Cahaya dari dalam kegelapan.

“Baguslah. Cepat keluar dari situ.”

“Err, Deneve ... Kakiku patah.”

Itu sama saja dengan ‘tidak baik-baik saja’, Raiden. Aku menghela nafas kesal. “Berapa lama sihirmu bisa menyembuhkannya?”

“Mungkin sejam, atau bisa lebih. Cuaca dingin ini benar-benar—demi Claire!

“Raiden?”

“DENEVE, LARI! INI JEBAKAN DAMON!”

“Apa yang terjadi? Raiden, hei! Jawab aku! RAIDEN!”

Hening. Tak ada jawaban lagi dari Raiden, sial. Tanganku meninju tanah saking kesalnya. Tak terasa air mataku menetes. Tapi aku tak punya waktu untuk menangis. Segera aku bangkit, bersiap melompat ke dalam dan menghadapi apapun yang menungguku di dalam sana.

“Raiden—kalau kau mendengarku—bertahanlah!”

“Hendak menolong rekanmu, nona manis?”

Satu suara laki-laki mengejutkanku. Aku berputar dan mendapati sosok pirang berzirah seperti fechter di hadapanku. Dai tampak seperti seorang pemuda berusia duapuluhan, seumuran Raiden. Yang membuatku curiga, dia tidak kelihatan membawa satupun senjata. Wajahnya juga pucat, terlalu pucat untuk ukuran makhluk hidup.

“Kurasa melompat ke dalam sana bukan tindakan yang bijak, Nona.”

“Kawanku terjatuh.”

“Kita tidak tahu apa yang terjadi padanya.”

“Pedulimu?”

Laki-laki itu menyeringai, menampakkan sederetan gigi dengan taring di sudut senyumnya. “Maaf, tak bisa kubiarkan mereka—yang di dalam sana—mendapatkan mangsa segar lagi.”

Sial.

Entah dari mana segerombolan damon muncul, menghambur ke arahku. Ada empat berwujud setengah singa, tiga lainnya mirip dengan manusia elang. Dalam satu lompatan aku menghindar dari sergapan mereka, dan tepat sebelum kakiku menyentuh tanah, aku berhasil memutus dua kepala sekali sabet. Lima damon yang tersisa tak tinggal diam. Tiga di antaranya bahkan mengubah tangannya menjadi sebentuk pedang pendek dan mulai menghujaniku dengan serangan.

“Tampaknya kau bagian dari pasukan elite, Nona.”

Aku mendengus, masih beradu kekuatan dengan tiga damon bersenjata yang ternyata tak mudah dilumpuhkan. Jauh berbeda dari damon berpedang yang pernah kutemui, mereka tidak menyerangku asal-asalan. Semakin lama aku melihat semakin banyak kesamaan cara bertarung mereka denganku. Sesekali aku melirik ke arah laki-laki berzirah yang masih menyeringai dan mengamati pertarungan dari kejauhan.

Seketika itu aku baru saja menyadari kenyataan yang sangat mengerikan.

Mungkinkah ... Laki-laki itu juga—

Satu damon berhasil mendaratkan tendangan di perutku, mengirimku ke udara. Aku mendarat di tanah dengan wajah lebih dulu.

“Selamat datang di Kota Para Dewa.” Tak sempat lagi aku menghindar. Laki-laki berzirah itu mendaratkan kakinya di punggungku, membuatku tak mungkin bangkit. Claymore-ku tergeletak di tanah, terlalu jauh untuk diraih. Aku tak bisa melakukan apapun.

Damon terkutuk,” desisku. Tak kusangka evolusi damon sudah sesempurna ini, sampai ke tingkat makhluk-makhluk ini terlihat sangat mirip manusia.

“Oh, kau menyadarinya?” Laki-laki itu menekanku lebih kuat, membuatku hampir tak bisa bernafas.

“Akan kubunuh kalian semua.”

“Perkenalkan, Nona. Namaku Dietre, pemimpin Kota Tiepa yang tak berpenghuni—meskipun sekarang menjadi sarang makhluk bukan manusia,” celotehnya tak menghiraukan ancamanku. “Sudah kutunggu kedatanganmu, Nona Miliamev.”

Apa?

“Terkejut? Bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu namamu?” Bahkan tanpa melihat wajahnya pun, aku tahu damon yang mengaku bernama Dietre ini tengah tersenyum picik. “Tentu saja aku tahu. Aku dulu yang memberimu nama Miliamev. Orang tuamu adalah rekananku, Nona Deneve. Berjuang dan bertarung berdampingan. Ah, masa-masa itu ... ”

“K-kau ... Fechter?” Tidak, ini tidak benar. Nafasku yang pendek-pendek tak membantuku menjernihkan pikiran. Taring. Dietre bertaring. Dia tak memiliki pedang, dia bukan fechter. Dia damon!

“Menolak untuk percaya? Ah, bagaimana kalau kubuktikan saja?”

Tanpa peringatan sebilah pedang yang terasa sangat tajam menusukku. Hampir mengenai jantung, meleset beberapa senti saja. Pedih menjalar dari sana ke seluruh tubuhku. Hawa dingin juga. Tidak, tunggu! Ini sihir!

“Manusia yang terlahir dengan kemampuan sihir,” ucap Dietre sambil mencabut bilah pedang di punggungku. “Hanya mereka yang bisa menjadi fechter.”

“Kau ... Tidak mungkin.”

“Segalanya mungkin, Nona. Karena aku sama sepertimu.”

Tidak, ini tidak benar. Cepat bangkit, Deneve! Tapi tubuhku terlalu kaku, hawa dingin itu telah membekukan tubuhku.

“Kasihan sekali dirimu, Deneve. Sama menyedihkannya dengan kedua orang tuamu. Lemah, tak bisa melindungi diri mereka sendiri. Tak heran kalau aku juga bisa menghabisimu semudah ini—semudah menghabisi keduanya.”

Kau membunuh mereka?

“Aku masih ingat bagaimana mereka memelas di kakiku, Deneve. Memohon-mohon agar kota kecil kesayangan mereka tak dihancurkan. Dua orang fechter elit memelas di kaki bawahannya? Konyol sekali.” Dietre tertawa, suaranya menggema di sekitarku. “Tentu saja tak bisa kukabulkan, Nona Deneve. Pasukan fechter-damon pimpinanku sudah terlalu lapar, kau tahu? Jadi kuremukkan tubuh manusia mereka yang menyedihkan itu sampai tak bisa dikenali.”

Pemimpin? Jadi ... Serangan itu ...

Entah bagaimana aku bisa bangkit di atas kakiku dan mencengkeram erat kaki Dietre. Hampir aku berhasil meremukkan tulangnya jika saja dia tak meninjuku tepat di wajah.

Sihir lagi, lebih banyak. Aku butuh lebih banyak!

Setelah kupanggil segenap sihir yang kubisa untuk mengobati lukaku, kembali aku berlari. Tubuhku sekarang terasa jauh lebih ringan. Kuserang Dietre yang terbahak puas dengan claymore-ku. Tampaknya dia senang melihatku bangkit dan berusaha membunuhnya. Aku benci mendengar suaranya. Harus kupatahkan lehermu, Dietre!

“Marah tidak baik bagi kecantikanmu, Nona Deneve,” tawa Dietre sambil meliuk lincah menghindari seranganku.

Berisik! Masih tanpa ampun kuhujani sosok damon sialan itu dengan sabetan mautku. Lebih cepat lagi, tangan-tangan lemah! Semakin banyak sihir yang kupusatkan pada kedua tanganku, semakin rapat pula seranganku. Tawa Dietre mulai menghilang, dan sekarang dia tampak cukup panik mengelak tiap seranganku.

Dietre kini tak hanya menghindar, dia balik menyerangku dengan pedang yang ‘ditumbuhkannya’ dari tangan kirinya. Bilah pedang yang kecil mirip samurai miliknya ternyata cukup tangguh menahan seranganku. Wujudnya yang tadinya sangat-manusia perlahan berubah; semacam tanduk tumbuh di dahinya, taringnya tumbuh makin panjang, bulu-bulu tumbuh di tubuhnya. Sepintas wujud aslinya ini terlihat seperti sabre tooth, harimau dari masa kuno. Tak hanya fisik yang berubah, serangannya juga semakin cepat, namun aku tak mau kalah. Lebih banyak sihir! pikirku, dan seketika itu aku melesat ke arahnya dengen kecepatan yang kuperkirakan bakal menandingi gelar Langkah Cahaya milik Raiden.

Segaris jejak claymore berhasil kutorehkan di perutnya. Aku baru saja hendak bersorak penuh kemenangan ketika kurasakan perih di lenganku. Ternyata kami sama-sama berhasil melukai satu sama lain.

“Kubunuh kalian semua, damon terkutuk.”

“Kau masih bisa mengatakannya bahkan di saat dirimu sendiri sudah menjadi salah satu dari kami?”

Kata-kata Dietre terdengar seperti petir di telingaku. Perlahan aku melihat kaki dan tanganku—yang telah berubah menjadi ...

Tidak!

“Selamat datang, Kawan. Seperti yang kubilang tadi—segalanya mungkin terjadi.”

“Aku—aku—bagaimana ini bisa terjadi—” racauku, masih menatap dua kaki cheetah yang mengambilalih tempat dua kaki manusiaku. “Apa yang kau lakukan padaku?!”

“Tidak ada.” Dietre meringis memegangi luka di perutnya. Cahaya sihir perlahan menyelubungi tangannya; dia sedang berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. “Sihirmu yang melakukannya padamu. Kau yang mengubah dirimu sendiri menjadi seperti kami. Kau terlalu haus kekuatan, Deneve. Sihir itu memakanmu, dan sekarang kau juga akan memakan yang lain. Kau akan merasakan rasa lapar yang kami rasakan juga.”

Aku hanya bisa membeku, merosot terduduk di atas salju Tiepa yang dingin. Kurasakan air mata perlahan menggenangi mataku—mata yang bukan lagi mata manusia. Tanganku yang sekarang lebih mirip cakar harimau dengan kuku tajam tak mungkin lagi bisa menghapus luncuran deras air mata di pipiku. Claymore-ku bahkan tak lagi kugenggam; sekarang ia menyatu dengan tangan kananku.

“Senang menghabiskan waktu bersamamu, Miliamev muda. Tapi aku sudah bosan sekarang.” Aku mendongak, mendapati dua tangan Dietre berubah menjadi sulur dengan ujung tajam seperti mata tombak. “Sampai jumpa di dunia lain.”

...

Seharusnya aku yang mati. Seharusnya aku yang tertusuk mata tombak Dietre. Seharusnya aku yang bersimbah darah dengan dada robek. Seharusnya aku—bukan Raiden. Bukan Raiden!

Tapi semuanya terjadi tidak seperti yang seharusnya. Raiden tiba-tiba muncul, berdiri di antara aku dan Dietre, dan menerima serangan yang seharusnya membunuhku. Dia memelukku, dan beberapa detik kemudian tercium bau darah. Raiden tersenyum—senyum berdarah.

“Kau baik-baik saja?” bisik Raiden di telingaku. “Hei, maaf menghilang begitu lama. Sekarang aku datang. Semuanya baik-baik saja, ‘kan? Baguslah. Sekarang cepat bangun dan hajar iblis itu.” Raiden melepaskan pelukannya, dan sekarang aku bisa melihat dua titik berdarah di zirah dan jubahnya. “Kau harus pulang membawa bukti, ingat?”

“Raiden—”

“Dasar bodoh, ke mana semangatmu?”

“Tidak, Raiden. Lukamu—”

“Sihirku masih cukup untuk menarikmu kembali.”

“Tidak! Jangan lakukan! Sembuhkan lukamu dulu!”

“Jangan mendengarkannya, Deneve.” Raiden memegangi bahuku dengan tangan gemetar. Sihir perlahan mengalir darinya. “Kau adalah apa yang kau pikirkan. Kau seorang fechter, dan selamanya fechter, mengerti?”

...

Dengan langkah mantap kumasuki markas Organisasi. Di tanganku tergenggam tangan-pedang Dietre yang setengah membusuk; sesuai janjiku pada Raiden, tak kubiarkan pengorbanannya terbuang percuma, aku berhasil mengiris-iris tubuh Dietre. Koridor seketika kubuat riuh, tak kubiarkan satupun fechter menghalangi jalanku menemui pemimpin Organisasi. Aku sudah terlalu muak.

Sapphirus dan Edelstein, dua kembar pemimpin Organisasi, tercengang melihat kedatanganku. Mungkin mereka tak menyangka aku pulang? Terkejut? Yang jelas mereka menatap tanganku yang memegang potongan tubuh Dietre tanpa berkedip. Entah mereka menatap horor pada potongan tubuh itu, atau tangan-cakar harimau yang menggenggamnya mantap.

“Aku kembali.”

Edelstein melompat dari kursinya dan berubah menjadi sesosok manusia elang—tepat seperti yang digambarkan Dietre sebelum kematiannya.

Maafkan aku, Raiden. Semuanya tidak seperti yang seharusnya. Semua ... Sia-sia.

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis Blood_Raven
Blood_Raven at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (7 years 1 week ago)
90

baguusss banget! XDD

Sebenernya agak percuma kalau mau dikritik sekarang karena pasti sudah sampai inbox nya juri kan? Hhe.
Tapi biar lah..

karakterisasi sangat kuat menurutku. Setting, plot, naming dan dialog-nya juga well done..

Tapi ada deskripsi yg kurang. bunga myr dan claymore. Ini seperti bilang remington yg mungkin org awam gak bakal tau itu benda apa. Deskripsi singkat aja menurutku cukup seperti yg kamu lakuin di menjelang akhir mengenai sabre tooth. :)

Komen lain udah diborong. Hhe

Gitu aja.
Sori banyak sotoy-nya. Ini banyak pendapat pribadinya. Peace. :))

Penulis synrio
synrio at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (7 years 1 week ago)

Did you notice that this was for FF2011? :p
Taun ini saya nggak ikut XD
Anyway thanks sudah mampir

Penulis Blood_Raven
Blood_Raven at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (7 years 1 week ago)

heeehh?? Hahaha OMG, the last digit slip trough my eyes. :p
Abisnya ini cerpen jejer bareng peserta2 lain. Ahaha.
Btw, kebalikannya kalau saya malah yg kemarin yg gk ikut.^^
Sayang sekali kenapa nggak ikut?

Penulis cyber_nana
cyber_nana at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (7 years 51 weeks ago)
90

Satu kata: Keren! ^^d

Penulis Chie_chan
Chie_chan at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (7 years 51 weeks ago)
100

Numpang nyundul aja Sin. Surat cintanya udah di kastil. XD

Penulis xenosapien
xenosapien at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 7 jam ago)
100

Hohoho... mampirlah aku ke tempat Synrio. **kayaknya perdana yak?**

Ceritanya seru, Syn.
Oh, sepertinya udah banyak yang komen. Klo gitu aku nambahin sedikit aja ya.

1. Klo Fechter bisa berubah jadi damon, lha makhluk-makhluk aneh sebelumnya itu apa? Sedari awal mereka fechter juga kah?
2. Saat Raiden muncul dan menjadi tameng, ke mana Dietre? Ah, padahal aku pengen tahu gimana cara Deneve mengalahkannya. TT^TT

Ceritanya sendiri udah cukup bagus lho. Meski plotnya kayaknya cukup sederhana. Dan endingnya? Err... Deneve-nya mati kah? Hehehe... itu aja dulu ya, Syn. Semangat! :)

Penulis synrio
synrio at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 3 jam ago)

Eh ada Om Xeno XD XD
Makasih udah mampir ..
.
.
1.) Seperti yang saya jelasin ke Om Heinz, itu yang saya mau rahasiain dari pembaca: mereka itu sebenernya apa sih ..
/ketawa setan/
/dilindes truk/
.
2.) Saya juga pengen nulis cara ngalahinnya T_T
Tapi berhubung saya kehabisan waktu (panik.com) yaa begitulah :((
Lagian kalo saya bener tulis gimana Deneve ngalahin Dietre, bakal keterjang itu bates 3000 kata XD XD
Soal Deneve mati atau enggak .. Terserah pembaca deh XD

Penulis heinz
heinz at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 21 jam ago)
80

Agak bingung ama definisi fechter-nya. Maksudnya tuh ksatria super dengan kemampuan sihir kali ya?
*
Konsep Damon-nya juga aneh, fechter yang termakan ambisi. Tapi apakah jadi Damon lebih kuat daripada fechter (mengingat dua ortu yang fechter senior nyembah-nyembah ke Dietre yang junior)?
*
Terus apa semua Damon bisa bolak-balik ke wujud manusia?
*
Twist endingnya menarik.

Penulis synrio
synrio at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 3 jam ago)

Inilah kegagalan saya dalam nulis cerpen ini. Saya sendiri nggak bisa mendefinisikan fechter sama damon itu apa XD XD
/dihajar/
Fechter itu sebenernya mau saya bikin semacam bakat alami yang dipunya seseorang sejak lahir (tapi nggak tiap orang dilahirkan punya bakat itu, alias cuma beberapa yang 'gifted' aja).
Damon sendiri ..
Sebenernya itu yang sengaja saya rahasiain :p
Itu yang mau Deneve ungkap sebenernya: mereka itu manusia atau bukan?
Err kayaknya konsep cerpen ini nggak cocok jadi cerpen tapi novel T_T
/jedotin kepala ke tembok/
.
.
Makasih kunjungannya Om Heinz XD

Penulis Rea_sekar
Rea_sekar at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 1 hari ago)
100

Ayo synsyn, kita nari pompom bareng!

Penulis synrio
synrio at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 1 hari ago)

Iya, Om Rea nari pompomnya karena calon menang.
Saya kan udah positip hancur.
/nari pake pompom tapi sambil gulung-gulung/
T_T
.
Mana cabenya nih? XD
/masih nagih/

90

numpang memberi poin :) temanya bagus

Penulis aphrodite
aphrodite at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 3 hari ago)
80

aku suka konsep sihir yg 'memakan' penggunanya. semakin kuat, semakin mudah kehilangan kendali :D
.
paragraf ini agak ga nyambung dg paragraf sebelumnya ^^;

Quote:
Damon, begitulah makhluk-makhluk ini dinamakan. Semua orang di Therir menggunakan istilah ini...

.
kalimat ini belum lengkap?
Quote:
Teriakan Raiden menggema di

.
endingnya agak membingungkan buatku. pemimpin2 Organisasi ternyata Damon? O_o
.
btw, salam kenal ya :)

Penulis synrio
synrio at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 1 hari ago)

Makasih Senior Aphrodite yang sudi mampir ke lapak saya yang jamuran ini
/nangis haru
.
Hoho sebenernya itu paragraf nyambung dengan pragraf berikut. Saya baru sadar kalo ada spasi di situ :p
<-- nggak pernah cek ulang, asal kopas dari Word
.
Kasus kedua ini juga. Ada yang salah dengan mata saya ini haha XD
.
Endingnya membingunkan yah? Yah emang sengaja saya bikin begitu XD
(padahal aslinya karena dikejar deadline)
Iya, ternyata pemimpin Organisasi juga damon, tapi mereka menyembunyikan fakta ini dari bawahannya. Mereka bohong gitu.
.
.
Eniwei makasih atas kunjungannya Kak Aphro :)

Penulis Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 5 hari ago)
100

Ada typo 'Dai', mungkin harusnya 'Dia' kalau dilihat dari kalimatnya.
.
Sabre tooth, sebutan harimau bertaring pedang mungkin lebih baik.
.
Dan kenapa Samurai jadi nama pedang? Bukankah harusnya 'katana'? Samurai kan nama jabatan/gelar.
.
Anyway, konsep dan twistnya saya suka... ^^

Penulis synrio
synrio at Fantasy Fiesta 2011: Fechter (8 years 3 hari ago)

Hahahahahahahahahah
Saya juga sadarnya telat, begitu kirim baru sadar kalo saya nulisnya bukan 'katana'
Hahahahahahahahahahah
/nangis pedih di pojokan/
.
.
Sabre tooth ini kasusnya sama. Lupa juga istilah di Bahasa Indonesianya apa. Jadilah saya nulis seperti itu XD XD
(panik.com)
.
.
Eniwei saya jadi pengen kubur ini cerita dalem-dalem karena typonya parah abisssss T_T