Program Tantangan - Kisah di Taman Pemakaman

 

Lelaki tua itu berlari. Menembus kegelapan malam ibukota yang tak berbintang. Tak ada lampu. Sebab kompleks peristirahatan orang mati tak membutuhkan cahaya. Jadilah ia hanya mengandalkan sinar pucat pantulan bulan yang pun semakin lama semakin ditutupi awan kelabu.

 

Peluh membasahi kaus putih lusuhnya. Kaki-kaki tuanya sudah lelah walaupun belum lama mengambil langkah seribu. Ia harus berhati-hati menginjak tanah kuburan yang becek dan licin sehabis hujan tadi sore.

 

Tak jauh darinya, terdengar suara dua orang berteriak marah kepadanya. Mereka pun sedang berlari tepat di belakangnya. Mata si lelaki tua yang sudah terbiasa dengan gelap dapat melihat golok yang diacung-acungkan mereka. Golok yang mungkin sempat dipakai untuk mencabut nyawa pemilik tubuh terpotong-potong yang baru saja mereka kuburkan di salah satu liang. Untuk menyamarkannya dengan kuburan baru.

 

Sial!

 

Si lelaki tua itu meruntuk dalam hati. Ia berada di waktu dan tempat yang salah. Tanpa sengaja menangkap basah acara penguburan diam-diam itu. Ditambah lagi, rasa paniknya membuat semuanya menjadi lebih kacau. Para pembunuh itu menyadari keberadaannya dan kini ingin memberikan dirinya sebagai teman seperjalanan menuju akhirat untuk korban mereka.

 

Cahaya!

 

Dalam kelelahan yang sangat, lelaki itu menangkap cahaya dari pondok penjaga kuburan. Sebagai gelandangan yang kerap menumpang tidur di kuburan, seharusnya ia tak boleh terlihat oleh sang penjaga bila tak ingin diusir. Tetapi apa ia punya pilihan yang lebih baik?

 

Namun setibanya ia di pondok itu, tak ada siapa pun di sana. Dengan kepanikan yang semakin meningkat, ia melompat dan berjongkok di bawah sebuah meja dan bersembunyi di sana. Beberapa menit pertama terasa begitu menegangkan. Ia mewanti-wanti kedatangan para pembunuh itu atau paling tidak sang penjaga kubur.

 

Menit demi menit berganti. Hingga akhirnya berubah menjadi hitungan jam. Tetapi tak yang terjadi. Si lelaki tua tetap menunggu. Tak berani beranjak dari sana. Hingga akhirnya matahari terbit di ufuk timur, barulah ia dapat menghela nafas lega.

 

Sang penjaga kuburan baru saja kembali tak lama setelah itu. Namun keberanian si lelaki tua itu menghadapi si penjaga kubur telah menguap entah ke mana. Lagipula, para pembunuh itu pastilah telah pergi. Dan ia sudah pasti tak mungkin dikenali sebab kegelapan telah menyamarkan wajahnya. Begitu ada kesempatan, ia pun menyelinap pergi.

***

 

Perutnya keroncongan.

 

Si lelaki tua tahu. Seharusnya ia tetap mengemis hari ini, tetapi rasa takut yang menyelimutinya semalam masih terasa. Jadilah ia hanya meringkuk di sudut terpojok tempat pemakaman umum besar di Jakarta Selatan itu. Baki sedekah tetap ditaruhnya di depannya. Barangkali saja ada peziarah yang menyadari kehadirannya dan tergerak hatinya memberikannya barang sekoin dua koin.

 

Namun hingga siang menjelang petang, tidak ada yang peduli.

 

Jadilah terpaksa si lelaki tua diam-diam mencuri makanan jualan tukang gorengan kaki lima. Untung saja tidak ketahuan.

 

Kecuali oleh seorang anak lelaki jalanan yang memperhatikannya dari samping gerbang makam seorang mantan wakil presiden negeri ini.

 

Lelaki tua itu terpanjat. Ia celingak-celinguk ketakutan. Tetapi karena anak lelaki itu sama sekali tak melakukan apapun kecuali memperhatikannya, jadilah ia pura-pura tidak tahu dan kembali ke sudut persembunyiannya.

 

Saat ia hendak memakan gorengan hasil jarahannya, dilihatnya anak lelaki itu sudah tak ada lagi di sana.

***

 

 

Kehebohan besar terjadi keesokan harinya. Seorang peziarah menemukan bungkusan berisi mayat terpotong-potong dalam karung di dalam sebuah kuburan baru. Si pelaku rupanya menggali kuburan yang baru saja ditimbun untuk menyamarkan kuburan si korban.

 

Tempat pemakaman pun mendadak ramai. Seakan orang satu ibukota berkumpul hanya untuk menyaksikan karung berbau busuk dan berlumuran tanah liat digotong-gotong masuk mobil ambulan hitam polisi.

 

Sementara itu si lelaki tua masih tak berani bergerak dari pojok persembunyiannya. Dari balik pohon, ia mengintip kerumunan itu. Lambang kepolisian negeri pada mobil-mobil yang terparkir di sana menjadi pusat perhatiannya. Ia menimbang-nimbang. Perlukah dihampirinya pak polisi dan menceritakan apa yang dilihatnya malam kemarin?

 

“Mereka tak akan mendengarkanmu.”

 

Lelaki tua itu terlonjak kaget. Anak lelaki yang kemarin memperhatikannya tiba-tiba saja berada tepat di belakangnya. Ia kurus, pucat, matanya tak bersinar. Kosong. Mendadak ia menyadari sesuatu. Makhluk di hadapannya ini bukanlah manusia.

 

Seluruh bulu di kuduknya merinding. Ia ingin lari tetapi ia tak mampu. Kakinya seakan terpaku di tanah. Boro-boro. Berteriak saja ia tak dapat. Mulut dan lidahnya terkunci. Dicobanya memejamkan mata, tetapi pun, ia tak sanggup. Seluruh sel-sel tubuhnya seakan membatu seketika.

 

Tetapi anak lelaki itu tak menggubris ketakutannya. Selain kalimat yang dikatakannya tadi, tak ada lagi suara yang dibuatnya. Dingin. Ia berjalan melewati lelaki tua itu dan menghilang pada kerumunan orang. Meninggalkan si lelaki tua terduduk lemas di tempatnya.

***

 

Ternyata itu hanya pengalaman awalnya dengan gaib. Semenjak hari itu, anak lelaki itu terus menghantuinya. Selalu ada kapan pun pandangan lelaki tua itu lengah. Tak hanya itu. Beberapa kali ia dapat melihat sosok yang seharusnya tak nampak. Tiba-tiba saja tempat pemakaman itu terlihat ramai di matanya. Siang dan malam sama saja. Mereka berjalan di antara kumpulan para peziarah dan semuanya memperhatikannya.

 

Bagi si lelaki tua, ini bukan pengalaman lazim. Padahal sudah dua tahun ia diam-diam tinggal di pekuburan ini setibanya dari pengembaraannya di rimba ibukota, ia tak pernah mengalami penampakan apapun. Walaupun sesekali telinganya menangkap suara tak manusiawi. Tetapi itu wajar.  Matanya tak pernah sekali pun menangkap mereka yang tak terlihat.

 

Seharusnya ia pergi dari tempat pemakaman itu. Selain gangguan gaib ini, kini baki sedekahnya selalu kosong. Tak pernah lagi ada peziarah yang sudi merogoh koceknya. Ia makan hanya dari gorengan curian.  Tetapi ada sesuatu yang selalu menahannya pergi. Entah apa, ia tak tahu. Sepertinya dalam lubuk hatinya, tempat pemakaman ini adalah rumahnya.

 

Malam-malamnya kini dilalui lelaki tua itu di belakang pondok penjaga kuburan yang tak mengarah pada taman pekuburan. Ia meringkuk di bawah pohon kamboja hanya beralaskan koran lama. Berusaha sembunyi dari pengelihatan para makhluk gaib. Setiap malam bulu kuduknya berdiri tegang tak pernah tunduk, kecuali saat ia jatuh tertidur. Dalam hatinya ia memanjatkan doa-doa pengusir gaib dan penguat hati.

 

Tetapi tak ada satu pun yang nampaknya didengar Yang Kuasa.

 

Setiap malam, ketika jam dinding pondok penjaga kubur menyentuh angka duabelas, angin dingin akan menerpa tubuh tuanya. Bulu kuduknya berdiri bereaksi pada sentuhan dan bisikan halus. Dedaunan pohon kamboja akan bergoyang seakan melantunkan nada-nada kengerian. Kemudian di hadapannya akan muncul anak lelaki pucat itu.

 

Lelaki tua itu biasanya memejamkan matanya. Mencoba mengatasi ketakutannya dengan memikirkan tentang keluarga yang dirindukannya. Istri dan anaknya telah tiada dalam sebuah kebakaran di kawasan kumuh tempat tinggal mereka dua tahun silam. Tanah tempat tinggal mereka dahulu itu kini telah menjadi pusat perbelanjaan besar. Ada dugaan konspirasi di balik semua itu, tetapi sayang tak pernah terbukti.

 

Rasa rindu dan kesedihan kemudian akan mengambil alih ketakutannya. Air matanya menetes di pipi keriputnya yang kotor. Satu hal yang disyukurinya atas kematian keluarganya, adalah mereka tak perlu terlunta-lunta bersamanya. Lelaki tua itu pun sadar. Yang dilakukannya selama ini adalah bertahan hidup. Sebab Tuhan melarang umat-Nya mengakhiri hidup sendiri. Ia tak ingin setelah kematiannya kelak, ia tak dapat menjumpai keluarga yang dirindukannya. Jadilah ia hanya menantikan usianya tiba pada angka yang tertera pada buku kehidupannya.

 

Malam ini pun tak berbeda.

 

Ketika nafasnya dirasanya mulai teratur, ia membuka matanya. Anak lelaki pucat itu tiba-tiba telah duduk di sebelahnya. Ia memeluk kedua lututnya sambil menatap lurus kosong entah ke mana. Lelaki tua itu melonjak kaget, karena biasanya anak lelaki itu akan menghilang.

 

Namun tak ada lagi rasa ketakutan sangat seperti sebelumnya. Hanya ada rasa merinding yang bisa diatasinya dengan pemikiran bahwa ia dan makhluk di hadapannya ini sesungguhnya tiada beda. Mereka pengembara seperti dirinya. Pengembara tanpa arah tujuan. Mungkin karena urusan tak tuntas, atau kesalahan selama hidup yang tak termaafkan.

 

Lelaki tua itu pun mengalihkan pandangannya dari anak lelaki itu. Disandarkannya kepalanya pada dinding pondok penjaga kuburan. Matanya menengadah ke atas langit malam ibukota yang tak berbintang.

 

Mungkin saja masih ada bintang yang tersisa.

***

 

Sekumpulan polisi datang memenuhi tempat pemakaman itu lagi. Dan sekali lagi seantero penduduk ibukota mengerubungi tempat itu bagaikan semut. Kali ini untuk menyaksikan rekonstruksi penguburan jasad.

 

“Mereka tak akan mendengarmu.”

 

Lelaki tua itu menoleh dan menemukan anak lelaki pucat itu kini menatapnya dengan tatapan kosong khas-nya. Nampaknya ia tahu niat si lelaki tua untuk mendekati polisi dan menyatakan diri sebagai saksi. Rasa bimbang pun kembali merambah hatinya. Menjadikannya rendah diri. Apakah mereka akan mau medengarkan seorang lelaki gelandangan tua renta ini?

 

“Mereka tak akan mendengarmu.”

 

Sekali lagi anak itu berkata. Tetapi perhatian lelaki tua itu sudah teralih oleh keributan massa yang tiba-tiba mengerubungi sebuah mobil polisi. Sahutan-sahutan menghina terdengar di sana-sini, tatkala muncul dua orang berbaju tahanan biru dikawal ketat oleh empat orang polisi.

 

Si lelaki tua terpanjat. “Mereka....!” Spontan ia menoleh ke arah tempat anak lelaki pucat itu berdiri. Tetapi kali ini tak ada siapa pun di sana.

 

Tiba-tiba kepalanya terasa pening bukan kepalang. Kakinya lemas. Lututnya pun terpaksa menyentuh tanah. Nafasnya tersengal-sengal. Sesuatu terasa merasukinya. Lewat kepala. Terus mengerobok ingatannya yang terdalam.

 

Bulan pucat.

 

Gundukan-gundukan gelap.

 

Ia berlari menuju cahaya, tetapi sesuatu menyandungnya. Membuatnya terjembab ke tanah basah berlumpur. Hidungnya pun mencium bau sesuatu seperti...

 

Bau anyir.

 

Darah.

 

Langkah-langkah kaki itu semakin dekat. Kemudian sesuatu dilayangkan dari belakang dan menyentuh batok belakang kepalanya keras. Rasa nyeri melingkupinya. Ia melayang lemah.

 

Beberapa detik sebelum satu sabetan kematian pada lehernya, ia teringat. Diam-diam ia menggumamkan nama anak dan istrinya.

 

“Akhirnya kau mengerti.”

 

Anak lelaki pucat itu telah berdiri kembali di sebelahnya.

 

“Mereka tak dapat mendengarmu.”

 

Semuanya menjadi jelas sekarang. Mengapa tak pernah ada lagi sedekah untuknya. Mengapa tukang gorengan itu tak pernah memergokinya mencuri gorengan. Mengapa ia dapat melihat penampakan makhluk gaib? Semuanya karena...

 

“Apa aku sudah mati?” Gemetar. Lelaki tua itu bertanya untuk memastikan. Anak lelaki pucat itu bergeming. “Dibunuh mereka?” lanjutnya. Pandangannya kemudian dilayangkan pada dua lelaki dalam baju tahanan polisi. “Tetapi mereka bukan pelakunya.”

 

Ia memang tak terlalu jelas melihat wajah mereka, tetapi ia dapat mengenali para pembunuhnya hanya dari suara dan tingkah lakunya.

 

Untuk pertama kalinya, anak lelaki pucat itu tersenyum. Tipis dan dingin. “Karena itulah kau masih tertahan di dunia ini.”

***

 

Joko menguap lebar setibanya di depan pintu rumahnya. Tugas hari ini cukup berat. Atasannya menyuruh semua anak buahnya lembur. Sebab kasus mayat mutilasi di tempat pemakaman umum itu telah menjadi kasus besar, sebab korban adalah keponakan seorang anggota DPR.

 

Kasus mutilasi di ibukota adalah kasus biasa. Tetapi bila korban adalah keponakan pejabat penting, maka ceritanya menjadi lain. Dalam hatinya ia meruntuk. Kalau saja ia tahu siapa lelaki yang dirampoknya beberapa malam lalu bersama  si Ucok, ia tak akan pernah menyentuhnya.

 

Lampu rumahnya mendadak tak dapat dinyalakan. Awalnya dikiranya listriknya yang bermasalah tetapi... Joko terhenyak. Tiba-tiba saja seluruh lampu rumahnya menyala serempak. Insting dalam dirinya membuat seluruh bulu kuduknya meremang. Sesuatu seperti angin lewat di belakang lehernya, menyerupai bisikan.

 

Tetapi egonya sebagai petugas kepolisian, menantangnya untuk tidak takut pada apapun. Ia pun hanya menghela nafas, dan masuk, lalu menutup pintu itu. Lantas ia berbalik. Di hadapannya berdiri sosok yang tak pernah dilihatnya.

 

Joko merasakan seluruh darah dalam pembuluh darahnya mengering.

 

***

Beberapa hati kemudian, tempat pemakaman umum itu kembali dipenuhi polisi dan masyarakat Jakarta yang penasaran. Kali ini bukan untuk rekonstruksi, tetapi untuk penggalian sebuah makam seorang gelandangan yang menjadi saksi pembunuhan mutilasi sebelumnya.

 

Para pelakunya telah mengaku. Bukan pelaku yang sama dengan yang berada di sesi pertama rekonstruksi. Mereka hanyalah kambing hitam. Pelaku yang sebenarnya tidak akan pernah tertangkap bila mereka tidak menyerahkan diri. Bukti-bukti yang mengarah telah dihapuskan dengan sempurna. Wajar. Sebab salah satu pelakunya adalah petugas kepolisian.

 

Konon, terdengar cerita yang membuat kuduk merinding. Salah satu pelakunya mengaku dalam keadaan depresi berat. Sebab setiap malam ia dihantui sosok lelaki gelandangan tua yang dibunuhnya. Lelaki gelandangan tua itu muncul di mana-mana. Di dalam rumahnya. Di kamarnya. Di kamar mandinya. Bahkan di bawah selimutnya! Karena itu lah, para pelakunya membutuhkan bantuan seorang psikiater.

 

Grup pencari kemudian tiba di sebuah lokasi, di mana tanahnya nampak seperti habis digali. Dibantu beberapa penjaga kuburan, para petugas pun mulai menggali. Dan sekitar setengah jam kemudian, mereka menemukan sosok mayat membusuk dalam kaus putih compang-camping. Ada luka menganga pada leher dan kepalanya.

 

Tak jauh dari sana si lelaki tua menatap proses penggalian itu dari awal hingga akhir bersama si anak lelaki pucat di sebelahnya. Menatap tubuhnya yang telah membusuk itu. Ia telah menjadi masa lalu. Tak ada lagi yang tersisa bagi dirinya di dunia ini selain jiwa pengembaranya. Akankah seseorang dari atas sana menjemputnya di sini?

 

Seberkas sinar dari balik tubuhnya mengusik perhatiannya. Dirasakannya tangannya disentuh tangan dingin anak lelaki pucat itu. Untuk kedua kalinya, anak lelaki itu tersenyum padanya.

 

“Mereka datang.”

 

Lelaki tua itu berbalik. Dilihatnya dua sosok yang dirindukannya. Istri dan anak perempuan kesayangannya. Wajah lelaki itu berubah sumringah. Ia pun berlari ke arah mereka.

 

Menuju cahaya.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

Aku merinding kok. -__-

merinding ingin ketawa? T___T

Engga. Seriusan, mungkin sense of horror kita rada-rada nyambung. Atau mungkin karena kemarin aku baca malem-malem sendirian di ruang tamu, yang pasti beneran merinding. Meski kayaknya aku lebih merinding sama mutilasinya daripada hantu-hantuannya sih. XD
Somehow aku sepakat sama ulasannya kak Vai. Menurutku di sini lebih banyak drama daripada horornya. Bagian yang paling berpotensi bikin orang terkencing-kencing itu justru pas si pembunuh sebenernya dihantuin sama si kakek, tapi eh yg itu kok cuma dijabarin garis besarnya doang (untung aja). XD XD
Omong-omong si anak kecil itu hantu keponakan yg dimutilasi itu ya?

*celingak-celinguk ada Vai apa ngga*
.
psst.
(sebenarnya itu karena aku ga berani nulis detail bagian si pembunuh dihantuin itu XD)
.
Penulis juga ga tau itu anak kecil dari mana.. XD

80

Kalo berdasarkan sixth sense, sesama setan tidak saling melihat...

sebenarnya...
aku juga udah lupa persisnya cerita sixth sense =______=

Nanti deh saya bikin ulasannya kalau si Arsenal udah posting, jadi biar ada pembanding.

aku sabar menanti...

100

Waaah... baru mampir ke sini... ^^
.
Err... mungkin cuma saya aja, tapi baca ini malah sedih, bukan merinding.
.
Anyway, ceritanya tetap bagus... ^^

100

hehehe... akhirnya selesai juga cerpen tantangan Anggra.
Idenya asik lho. Ada gore-nya pula. ^^

Ah, tinggal lihat bagaimana nanti Vai menilainya. Aku mampir kasih poin aja. :)

*nundukmalu*

90

Ada sedikit saltik:
'Satu hal yang kusyukuri atas kematian keluarganya, adalah mereka tak perlu terlunta-lunta bersamanya. Lelaki tua itu pun sadar.'
mungkin seharusnya 'dia syukuri'
.
Jadi tokoh utamanya sudah mati dari awal ya
makanya dia tiba2 bisa liat yang lain ><

edited. Thanks ^^
.
tadinya ini pakai POV 1, tapi aku ubah jadi POV 3. supaya cukup 2000 kata
*licik*

60

hmm.. bagus ko, cm sedikit ga nyaman buat dibaca :p

2550

Hum, ini beneran di luar zona nyaman menulismu ya, bu tabib.

Penceritaannya tidak mulus dan terlalu banyak asal isu ketegangan yang berbeda2. 1. Kerna liat orang dibunuh dan dimakamkan. 2. Ketahuan dikejar 3. Liat anak yg gak ada bola mata
4. Anak tanpa bola mata bicara dan akhirnya ada di mana-mana 5. Gak digubris orang sekeliling 6. Liat lagi pembongkaran yg ternyata pembunuhnya bukan orang2 yg dilihatnya. 7. Pindah nakutin orang

dan knapa juga endingnya begitu? Lebih serem endingnya ff2011mu. He.he...

Sebenarnya dirimu punya sense horor kok, bu tabib.

Selamat! sudah berhasil menyelesekan tantangan, Vai.

Spa yuk. He.he...

TT___TT
.
Karena saya benci horor, mba el. Baru mikirin jalan ceritanya aja udah merinding. Karena aku menulis dengan cara "empati" pada karakter-ku.
anw, poinnya kelebihan tuh... >_<
.
Mengenai cerita. Aku menulis ini inspirasinya dari The Sixth Sense. Sebenarnya si tokoh udah mati dari awal cerita, dibunuh para pembunuh itu. Makanya dia ga bertemu siapapun di pondok penjaga, ga ada yang ladenin dia ngemis, ga ketahuan waktu nyolong gorengan, dan dapat melihat "teman2". Karena Vai minta ada unsur psikologis. Poin2 di atas lah yang aku masukkan untuk salah satu syarat dia. Pikiran si kakek yang masih mengira dirinya masih hidup.
.
Tadinya ada rancangan cerpen yang lain sih. Idenya baru kepikiran tadi sore. Tapi waktunya udah mepet. Jadi terpaksa kuselesaikan seadanya.
TT___TT
.
Tapi makasih uda mampir.
spa? AYO! XD

Pointnya pas.
+5 menulis diluar zona nyaman
+3 ketepatan waktu
+2 pemenuhan EYD
-1 kurang dari 2500
-1 cara bercerita
-1 endingnya
-1 kata-kata yg masih bisa diedit
+2 usaha pemenuhan nuansa yg diharapkan penantang
he.he...

==_____________________==