Janji Sakura - 2

           Tepat di belokan jalan ini, dan taman itu akan berada di tengah persimpangan jalan.  Sudah hampir sampai, aku semakin semangat mempercepat langkahku di jalanan kosong tersebut.  Perasaan aneh yang menggelisahkan segera menyelimutiku, nyaris membuat bulu kudukku berdiri.  Tak cuma sekali aku menoleh ke belakang sambil terus mempercepat langkah kakiku.  Kaito, Kaito, Kaito.  Semoga kau memang menungguku di sana.         

            Srakk...

            Apa itu?  Aku segera menolehkan kepalaku ke belakang dan saat pandanganku bersiborok dengan jalanan sepi, aku tidak bisa memutuskan apakah aku merasa lega atau malah ngeri.  Aku mengembalikan pandanganku ke depan dan mulai berjalan lebih cepat.  Pasti hanya salah dengar.  Mungkin hanya suara desiran angin. 

            Srakkk...

            Tidak!  Tidak ada siapa-siapa.  Hanya suara angin, pasti suara angin, beritahu otakku sementara otot kakiku bergerak semakin lincah.

            Srakkk.... sraaakkk...

            Tap... tap... tap...

            Jantungku nyaris berhenti sementara tubuhku kembali diam membeku.  Tidak mungkin lagi salah dengar.  Itu adalah suara langkah kaki yang terasa semakin mendekat.  Dengan tubuh bergetar ketakutan, aku memberanikan diri untuk sekali lagi mengecek ke belakang.  Tepat dua atau mungkin tiga meter di belakangku, aku melihatnya.  Pria besar berpakaian hitam-hitam dengan topi gelap yang menutupi kedua matanya saat ia berjalan ke arahku, semakin lama semakin cepat.  Aku masih berdiri membeku saat otakku memberikan peringatan.  Ternyata dia!  Pria itu yang mengikutiku?  Bagaimana mungkin?  Napasku berubah cepat saat kulihat ia mengangkat wajahnya, membuat sinar matahari jatuh tepat di atasnya, memperlihatkan padaku seringai menakutkannya.  Aku lalu berteriak tanpa suara dalam kebisuan yang menyergapku tiba-tiba.  Tubuhku masih tetap membeku walau pria itu mulai melangkah lebar, jelas-jelas sedang menuju ke arahku. 

            Lari!!!

            Tubuhku mengenali perintah dari otakku dan kata itu bagaikan cambuk yang akhirnya menggerakkanku.  Aku memutar tubuhku dan mulai berlari kencang, mengabaikan suara langkah kaki yang mengejarku kian dekat.  Tidak apa-apa, sebentar lagi aku akan sampai di tikungan taman, tempat Kaito sedang menungguku.  Ya, sedikit lagi, aku kembali memberi semangat pada dirku sendiri.  Sedikit lagi...

            Dan tepat pada saat aku berbelok ke taman, masih dengan berlari di tengah pukulan hebat jantungku, angin kencang yang tiba-tiba bertiup dari arah taman dengan membawa wangi sakura yang semerbak menyapu keras wajahku, menerbangkan rambut panjangku ke belakang saat bergerak melewatiku.  Aku terdiam dan mengerjap bingung.  Apa itu tadi?  Angin kencang yang tiba-tiba bertiup melewatiku?  Refleks, aku pun menolah, seolah ingin mengikuti pergerakan angin yang berlalu pergi.  Aku terkesiap saat aku tidak menemukan apa-apa.  Angin misterius itu menghilang bersama dengan pria yang sedari tadi mengejarku.  Aku kembali sendirian, berdiri di tengah jalan sunyi.  Pria mengerikan itu seolah telah hilang terbawa oleh tiupan angin kencang. 

            Masih dengan perasaan tak percaya, aku memutar kepalaku ke kiri lalu ke kanan, menyapu kedua sisi jalan yang dipenuhi pohon sakura jarang-jarang.  Padahal sedetik yang lalu, aku masih mendengar suara langkah kakinya di belakangku.  Tapi kemudian, dia hilang tak berbekas dari jalan ini.  Menggosok wajahku keras, aku mencoba menghilangkan keganjalan yang terus kurasakan.  Setelah memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan peristiwa aneh tersebut, aku berjalan ke dalam taman.  Saat ini hanya satu yang penting bagiku.  Bertemu Kaito.

            Namun, saat aku berdiri di depan pohon sakura tinggi tempat kami membuat janji, aku tidak menemukan sosok yang sedari tadi aku cari.  Kaito tidak ada di sini.  Tapi dia juga tidak ada di stasiun kereta.  Lalu ada di mana dia?  Apakah Kaito tidak jadi datang?  Lalu pikiran yang mengerikan menghantam benakku.  Apa terjadi sesuatu padanya?  Tidak, tidak, aku menggeleng keras sambil meneriakkan suku kata tersebut.  Tidak!  Pasti Kaito saat ini sedang bersembunyi untuk mempermainkanku?  Ya, pasti begitu.

            Aku segera berjalan mengitari pohon dan mulai memanggil namanya.  ”Kaito...”

            Ada di mana dia sebenarnya?  Aku segera mengeluarkan ponselku dan kembali menghubunginya.  Terdengar nada panggil berkepanjangan yang lagi-lagi tidak kunjung dijawab.  Perasaan putus asa bercampur kesal menggerogoti diriku, membuatku berdecak marah dan mulai bergerak menjauh sambil berputar cepat ke sekelilingku, menyapukan mata ke segala penjuru, tapi tetap tidak menemukan siapa pun.     

            ”Kaito!” kembali aku berteriak lantang sambil menatap ke sekelilingku. 

            ”Kaito!” suaraku kembali menggelegar di tengah taman sunyi tersebut.  Aku kemudian berputar dan berteriak ke arah pepohonan, berharap Kaito sewaktu-waktu akan muncul di sebaliknya.  ”Kalau kau mendengarkanku, keluarlah!  Jangan membuatku takut!  Ini sama sekali tidak lucu, kau tahu?!”

            Lagi-lagi, teriakan marahku menguap di udara.  Yang alih-alih menjawabku hanyalan desiran pelan angin.  Perasaan tidak enak yang mengelilingiku semakin kuat terasa.  Aku yakin pasti ada sesuatu yang sangat salah.  Kaito tidak ada di mana-mana, jalanan dan taman yang benar-benar kosong tanpa ada satu manusia pun di sana, ditambah lagi - ada seorang pria mencurigakan yang mengikutiku lalu menghilang dalam sekejap. 

            Kalau ini bukan sekedar mimpi, maka aku pasti sudah gila.  Aku berbalik dan berderap keluar dari taman tersebut, menyusuri jalanan kosong hingga aku bisa melihat pagar depan rumahku dari ujung jalan yang kumasuki.  Namun, langkahku untuk bergegas tiba-tiba terhenti.  Mataku terbelalak lebar saat melihat pria berbusana gelap dengan topi senada sudah berdiri di depan pagar rumahku.  Aku meletakkan tanganku di depan dada untuk menahan lonjakan jantungku sementara mulutku terkatup erat untuk menahan jeritan takutku.  Pria yang tadi tak sengaja kutabrak di depan stasiun kereta, pria yang sama yang mengikutiku hingga ke taman, kini bahkan sudah menghadangku di depan rumah?  Tapi kenapa?  Siapa pria itu?  Apa yang diinginkannya?  Kenapa dia bisa tiba-tiba menghilang dan sudah sampai duluan di rumahku?  Terlebih lagi, bagaimana dia mengetahui di mana aku tinggal?

            Rasa dingin yang menakutkan mulai menjalar turun hingga ke ujung kakiku.  Aku mundur secara teratur dan bersembunyi di balik tembok rumah sambil mengatur napasku yang sesak.  Aku harus bagaimana sekarang?  Tak mungkin aku kembali ke rumah bila pria menakutkan itu masih berdiri di sana.  Lalu, apa yang sebaiknya kulakukan?  Dalam kebingungan, aku menjulurkan kepalaku untuk mengecek keberadaan pria itu.  Aku tercekat saat menatap ke area kosong yang tadi masih menjadi tempatnya berdiri.  Tak lagi kutemukan jejak siapa pun di sana.  Sekali lagi, pria misterius itu sudah menghilang.  Ini gila, batinku keras.  Atau mungkin aku yang benar-benar sudah gila.  Aku bergidik takut saat berlari cepat menuju rumahku, mendorong pagar dengan tergesa-gesa dan melesat masuk ke dalam rumah, serta-merta mengunci pintu depan rumahku. 

            Bukan, ini semua tidaklah nyata.  Aku yakin, semua ini hanyalah mimpi.  Ya, aku pasti cuma sedang bermimpi.  Mimpi buruk yang mengerikan, pikirku lagi.  Benar, aku harus segera bangun.  Tapi bagaimana caranya?  Mendadak aku berlari ke arah tangga dan menaikinya dengan gesit sebelum membuka pintu kamarku dengan keras.  Kujatuhkan tubuhku ke atas ranjang dan memejamkan mata erat.  Aku harus tidur.  Dan pasti, saat terbangun nanti, semua akan kembali normal.  Aku akan keluar dari dunia mimpi buruk ini, kataku lagi.  Ya, aku hanya perlu tidur dan dunia kosong serta sepi ini akan menghilang.  Aku akan kembali kepada dunia nyata, kepada keluargaku, pada teman-temanku, dan terutama pada Kaito yang saat ini sedang menungguku.  Aku terus menutup mata dan berusaha merilekskan pikiranku dengan menghadirkan bayangan Kaito.  Sosok langsing berambut hitam dengan wajah ramahnya yang sangat kusukai, pandangan lembut yang selalu disertai dengan seulas senyum lebar cerahnya.  Ya, aku harus kembali padanya.  Pelan-pelan, aku pun jatuh tertidur.

 

...........

           

            ”Lho, di mana aku berada?” aku mengangkat kepalaku yang terbenam di antara lututku dan memandang ke sekeliling.  Kutemukan diriku sedang duduk di tengah-tengah ruangan sempit yang dikelilingi oleh kegelapan tak berujung.  Apakah aku sudah bangun?  Atau ini masih mimpi?

            Samar-samar, dari arah depanku terlihat gerakan halus.  Ada seseorang yang mendekat.  Aku memicingkan mata untuk mencoba melihat dengan lebih jelas.  Dari kegelapan, muncul sesosok tubuh.  Tinggi, besar dengan pakaian serba hitam.  Aku nyaris pingsan saat melihatnya.  Kuperintahkan diriku untuk bangun dan lari, tapi aku tidak bisa melakukannya.  Namun sebelum aku sempat berekasi, pria itu sudah berdiri menjulang di hadapanku.

            ”Sakura Himori,” suaranya yang berat dan parau mendesakku ke ujung rasa takutku.  Aku menciut ngeri mendengarnya.

            ”Siapa kau?  Aku ada di mana?  Apa yang kau lakukan padaku?”

            ”Apakah kau ingin tidur selamanya, Sakura?”

            Aku menatap sosok itu dengan bingung.  Lalu kugelengkan kepalaku dengan keras.  ”Tidak, tidak.  Aku ingin pulang.  Aku ingin kembali ke duniaku.”

            ”Karena itu aku datang menjemputmu.”  Pria itu kemudian merunduk begitu dekat.  Aku menjerit panik dan mendorongnya cepat.  Bergegas berdiri, aku memaksa kakiku yang gemetaran agar bisa menahan berat tubuhku yang mulai melemas. 

            ”Tidak.  Aku ingin pulang!!!”

            ”Pulang?”

            ”Aku harus bangun.  Aku harus bangun!”  Aku menjeritkan kata-kata yang sama sementara tangan-tanganku mulai menampar kedua wajahku.  ”Aku harus bangun.”

            Lengan-lengan kuat mencekal kedua bahuku sementara aku berontak hebat.  ”Aku akan membantumu, Sakura.  Sudah saatnya kau terbangun.  Karena aku datang untuk menjemputmu.”

            ”Tidaaaak!!!”

            Jeritan kuatku mengikutiku ketika aku merasakan diriku didorong oleh kekuatan tak terlihat, membuatku terlempar keras ke atas dan meluncur melewati lorong panjang.  Semakin cepat dan semakin cepat.  Gerakan yang mengentak seluruh tubuhku dan memusingkan kedua mataku.  Aku berteriak bangun dan menyadari diriku terduduk di tempat tidur.  Kubuka kedua mataku dan jeritan ngeri memenuhi kedua indera pendengaranku saat aku menemukan sosok hitam tersebut duduk di samping tempat tidurku, wajahnya berada begitu dekat denganku sehingga untuk pertama kalinya aku menatap kedua matanya yang membara merah.  Lalu mulutnya bergerak, dari sana mengalir suara beratnya yang mendirikan bulu romaku.  ”Aku datang untuk menjemputmu, Sakura.”

            ”Tidaaaaaaakk!!!”

            Aku tersentak bangun dengan napas tersengal hebat.  Mataku menatap nyalang ke atas langit-langit putih yang tampak tidak asing.  Keringat dingin mengucur deras di wajahku dan bahkan membasahi seluruh tubuhku.  Aku bangun dengan susah payah lalu menatap kedua tanganku yang masih gemetaran.  Kugosokkan tanganku yang dingin ke wajahku yang lembap.  Seumur hidupku, aku tak pernah mengalami mimpi yang lebih buruk daripada ini.  Kurasakan jantungku yang masih berdetak keras.  Aku kemudian menurunkan wajahku dan menatap ke sekeliling.  Ini kamarku.  Jadi, aku sudah terbangun?  Benar-benar sudah terbangun, bukan?  Kulayangkan pandanganku ke arah luar.  Jendela yang tidak tertutup tirai membuka pemandangan ke langit malam.  Malam, ya?  Aku menatap jam wekerku dan terperanjat kaget saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam.  Apakah aku tertidur sepanjang hari?  Kalau begitu, jika semuanya memang sudah kembali normal, apakah itu berarti aku sudah melewatkan janjiku dengan Kaito?  Tak diberi kesempatan untuk bersikap panik, bunyi benda yang dilempar ke kaca jendela melonjakkanku.  Ya ampun, kali ini ada apa lagi?

            Aku menatap nanar ke kaca jendela, tidak bisa memutuskan apa yang harus kulakukan.  Lalu aku melihatnya.  Batu kerikil kecil yang menghantam kaca jendela.  Ada seseorang di bawah.  Aku segera turun dari ranjangku dan berlari mendekat ke jendela.  Kuturunkan pandanganku ke bawah dan menangkap sosok langsing dengan wajah ramahnya yang begitu kurindukan.

            ”Kaito!” jeritku sebelum buru-buru meredam suara kerasku.  Bagaimana kalau suaraku sampai membangunkan kedua orang tuaku.

            Aku buru-buru membuka jendela dan langsung melambaikan tanganku dengan gembira.  ”Kaito... Kau benar-benar Kaito, bukan?”

            Sosok yang berada di bawah membalas lambaianku dengan semangat yang sama.  ”Tentu saja.  Aku datang mencarimu karena kau sama sekali tidak bisa kuhubungi.  Kau juga tidak datang ke stasiun dan aku menunggu sepanjang hari di taman itu.  Kau ke mana saja sih?  Apa kau lupa pada janji kita?”

            Walau suara lembut Kaito tidak berubah, tapi aku tahu dia sedikit kesal padaku.  Dan pertanyaan tentang kenapa aku tidak datang sesuai janjiku, aku juga tidak tahu apa yang telah terjadi padaku hari ini.  Apakah aku benar-benar tertidur sepanjang hari dan bermimpi sepanjang hari?  Aku memberi Kaito seulas senyum menyesal dan segera membujuknya lembut.  ”Sumimasen*, Kaito.  Bisakah aku menceritakannya nanti?” tanyaku perlahan, tidak ingin mengambil resiko membangunkan Papa.  ”Kau tunggu di sini sebentar, aku akan turun untuk menemuimu.”

            ”Tidak usah,” potongnya cepat.

            ”Eh?”  Kenapa?  Marahkan dia?

            Dia tersenyum saat menatapku.  Lalu, aku melihat dia merentangkan kedua tangannya ke atas, seakan siap untuk menyambutku.  ”Loncat saja, Sakura.  Aku ingin segera bertemu denganmu.”

            Kata-kata itu menyerap di benakku dan sesaat membuatku kehilangan kata-kata.  Rona merah samar menjalari kedua pipiku.  Tapi sesaat kemudian, kernyit kecil menghiasi dahiku.  ”Loncat katamu?  Ini lantai dua, Kaito,” protesku pelan.

            ”Aku akan menangkapmu.  Percayalah padaku.”  Aku menatap Kaito selama sesaat, melihat tangan-tangannya yang terjulur ke atas, siap mendekap dan melindungiku seperti yang selalu dilakukannya.  Senyum menghiasi bibirku saat aku mengangguk setuju.

            ”Baiklah.  Tapi aku tidak akan memaafkanmu bila aku sampai terluka.”

            ”Kalau itu sampai terjadi, kau boleh memukuliku sampai puas.”

            Aku terkikik senang dan segera mengangkat tubuhku dengan bertopang pada kedua lenganku.  Saat kedua kakiku menginjak bingkai jendela yang cukup lebar, aku memosisikan diri dan siap meloncat turun.  Kupejamkan mataku saat aku melompat turun dan tidak berani membuka sampai aku merasakan tubuhku membentur tubuh hangat lainnya.  Lengan-lengan kuat mendekapku erat dan bisikan pelan menghampiri telingaku.  ”Tertangkap.”

 

 

Sumimasen: maaf

Read previous post:  
59
points
(1599 words) posted by Saddie Bluey 2 years 41 weeks ago
65.5556
Tags: Cerita | Cerita Pendek | drama | cerita gak jelas
Read next post:  
Writer H.Lind
H.Lind at Janji Sakura - 2 (2 years 41 weeks ago)
80

Ahh penasaran sama pria besar pakaian item-item itu. Haha
Apakah dia grim reaper ato cuma orang usil? :D
Ditunggu kelanjutannya.

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Janji Sakura - 2 (2 years 40 weeks ago)

Makasih >.< ya deh, semoga kelanjutannya gak mengecewakan, XD

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at Janji Sakura - 2 (2 years 41 weeks ago)

Aduh, kok jadi dobel begini ya? Om momod, apus dong komen dobelnya =.=

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at Janji Sakura - 2 (2 years 41 weeks ago)
100

Alur cerita yg mengalir dengan baik, gaya cerita yg sangat mudah dimengerti, serta tatanan kata yg ringan menurut saya. Ini yg menyebabkan aku kasih poin sepuluh ke kamu :)

.

Haii.....!! Karakter Sakura semakin imut di bab ini >w<

.

Kalau mau dibawa kemana cerita ini, mungkin aku setuju sama dansou, kalau cerita ini akan jadi cerita romantis yg ringan, dan ga mengharu biru.

.

Mungkin segitu dari saya. Moga-moga ada senior yang mau nambahin.
.
Salam

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Janji Sakura - 2 (2 years 40 weeks ago)

Makasih >.< *huggles*

Hehe... iya, kayaknya memang gak mengharu biru ya, wkwkwk... biasa aku tuh tipe penulis yang suka mengeksplor emosi yang mengharu biru, nyaris ungu malah *ngelantur*

Salam kenal ya

Writer dansou
dansou at Janji Sakura - 2 (2 years 41 weeks ago)
90

Jujur saja, saya belum bisa menebak ke mana cerita ini akan dibawa, tapi sepertinya ini bukan cerita romantis yang mengharu-biru. Siip! Ditunggu lanjutannya

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Janji Sakura - 2 (2 years 40 weeks ago)

Oke, siiip. Semoga lanjutannya gak mengecewakan, karena kayaknya makin ngelantur aku bikinnya =.=

Writer sandal
sandal at Janji Sakura - 2 (2 years 41 weeks ago)

justru itu yang membuat cerita ini menarik untuk di baca

Writer Saddie Bluey
Saddie Bluey at Janji Sakura - 2 (2 years 40 weeks ago)

makasih >.< salam kenal ya