Solusi Tak Terduga

Hujan turun sangat deras disertai udara dingin yang menusuk kulit. Ali dan istrinya baru saja selesai menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah dikamar kontrakannya yang mungil.

“Abi, kenapa sih suka banget pakai sajadah warna hijau itu ? padahal kan Abi masih punya sajadah lain yang lebih bagus”, tanya Siti Nurjanah, istri istri. Yang ditanya malah tersenyum lalu dengan kalemnya ia menjawab,”memang sajadah ini warnanya telah pudar sedangkan yang lain lebih bagus, namun sajadah ini pemberian dari seseorang dan mempunyai nilai kenangan yang tak tergantikan”, jawab Ali.

***
Dulu waktu Ali masih kursus komputer, ada seorang teman akhwat yang diam – diam menyukainya. Akhwat tersebut bernama Dewi Puji Astuti yang biasa dipanggil Dewi. Ali dan Dewi hanyalah teman kursus biasa, tidak ada hal yang istimewa diantara mereka berdua. Namun karena Ali sering membantu kesulitan Dewi saat mengerjakan tugas dan sering pula pulang naik angkot yang sama maka tak disangka tumbuh “benih cinta” dihati Dewi.

Cinta Dewi yang tumbuh semakin membesar tak diiringi perasaan yang sama dihati Ali. Ia baru menyadari bahwa Ali adalah lelaki yang selalu bersikap dingin pada semua wanita. Hal itu dikarenakan Ali saat ini tidak mau membina hubungan apapun dengan wanita karena sedang fokus bekerja dan kursus komputer untuk membantu biaya sekolah ketiga adiknya. Ketika usia Ali tepat menjadi 24 tahun, Dewi memberinya kado berisi sajadah, peci, sarung, dan tasbih. Disaat memberikan kado itulah Dewi mengungkapkan perasaannya pada Ali secara terang – terangan. Ali kaget ketika mengetahui Dewi ternyata betapa sangat mencintainya.

Namun sayang, saat itu Ali belum siap untuk menikah dan ia pun tidak mau terjebak dalam situasi “pacaran”. Maka dengan berat hati Ali menolak cinta Dewi dan menganjurkannya untuk mencari laki – laki lain yang telah siap menikah dengannya. Hati Dewi serasa remuk, ia merasakan kepedihan yang tiada tara ketika mengetahui cintanya tak terbalas dan malah dianjurkan untuk mencari lelaki lain. Namun dengan sabar ia hadapi kondisi tersebut dengan hati yang selalu ingat kepada Sang Pencipta.

“Ya Allah ... aku bisa menerima jika mungkin saat ini Ali belum berniat menikah denganku. Semoga saja dimasa depan ia bisa membuka hatinya dan bersedia menikah denganku. Aku tidak akan menikah dengan laki – laki lain dan akan terus menunggunya sampai ia jadi imam rumah tanggaku”, itulah rintihan hati Dewi yang tetap berharap bisa bersanding dengan Ali suatu hari nanti.

Waktu berjalan sangat cepat, kursus komputer selama 6 bulan itu pun akhirnya usai. Ali mendapat pekerjaan di perusahaan multifinance berbasis syariah sedangkan Dewi bekerja sebagai operator disebuah radio swasta. Perbedaan tempat kerja tersebut menyebabkan Ali dan Dewi jarang berkomunikasi dan bertatap muka lagi. Mereka hanya sesekali bertemu jika keduanya menghadiri pengajian rutin malam jum’at disebuah pesantren di kawasan Gegerkalong Bandung. Itupun tanpa ada pertemuan khusus berdua karena Ali bergabung di masjid dengan jamaah ikhwan, begitu pula Dewi yang berkumpul bersama jamaah akhwat.

***

“wah ... ceritanya mengharukan sekali, kayak di sinetron aja. Waktu kita nikah, Dewi datang ke acara resepsi atau nggak ?’, tanya sang istri pada Ali. Dengan tenang Ali menjawab,”nggak. Waktu itu kebetulan ia sedang sakit dan terpaksa kakaknya yang mewakili hadir diacara resepsi pernikahan kita”.

“kalau menurut Ummi, Dewi pasti kaget waktu menerima undangan pernikahan kita. Dan ia pasti tidak akan kuat hati melihat Abi menikah dengan Ummi. Abi ngga tau sih bagaimana perasaan seorang perempuan disaat lelaki yang dicintainya malah menikah dengan perempuan lain”.

Ali terdiam lalu berkata,”jadi Ummi menyalahkan Abi yang menolak cintanya lalu mengirim undangan padanya ?”. “Ummi nggak menyalahkan Abi, jodoh itu sudah diatur Yang Maha Kuasa. Semua masa lalu Abi dan Dewi adalah takdir yang tidak bisa dihindari. Begitu pula kejadian saat ini dan dimasa depan”, jawab sang istri.
“kadang Abi juga merasa bersalah pada Dewi karena telah menolak cintanya dulu, namun bagi Abi penolakan saat itu adalah pilihan yang terbaik dibanding harus menikah namun dalam keadaan belum siap nikah atau pun tidak menikah tapi malah terjerumus pacaran”, kata Ali.

“ tidak ada niat sedikitpun dihati Abi untuk menyakiti hati perempuan manapun didunia ini, termasuk Dewi”

Siti Nurjanah tersenyum melihat suaminya tersayang lalu berkata,”Ummi percaya Abi adalah laki – laki baik yang tidak pernah menyakiti hati perempuan. Penolakan cinta yang dilakukan Abi benar - benar pilihan terbaik. Malah Ummi bangga dengan sikap Abi yang bijak, meminta Dewi untuk menikah dengan lelaki lain yang telah siap nikah. Jarang ada laki – laki ketika menolak cinta dari seorang wanita yang mau memberi solusi seperti itu. Sungguh luar biasa”, katanya sambil menatap wajah Ali.

“satu hal yang Abi tidak mengerti dari sikap Dewi adalah kenapa ia selalu menutup pintu hatinya untuk menerima pinangan lelaki lain. Menurut kakaknya, telah banyak lelaki yang datang menemui ayahnya dengan niat untuk mempersunting Dewi. Namun tanpa alasan jelas, semuanya ditolak. Kira – kira Ummi tau apa yang kini dirasakan Dewi ?”, tanya Ali.

“mungkin ia masih mengharapkan Abi untuk jadi suaminya ... hehe”. Jawab sang istri setengah bercanda.

Ali tersenyum malu – malu mendengar kata – kata tersebut. Wajahnya pun mendadak memerah seketika.

***

“Abi, malam ini kita ke pengajian di Gegerkalong yuk ?”, ajak sang istri pada Ali. “Insya Allah”, jawab Ali pendek.
“selain mengaji, Ummi juga berharap bisa ketemu sekaligus silaturahim dengan Dewi ... hehe”, kata sang istri.

Ali merasa terheran – heran mendengar kata – kata istrinya barusan dan bertanya,”memangnya apa yang ingin Ummi lakukan jika bertemu Dewi ?”.

“Itu rahasia. Pokoknya nanti tolong Abi pertemukan Ummi dengan Dewi ya”, jawabnya sambil tersenyum penuh semangat.

Keinginan Siti Nurjanah agar bisa dipertemukan dengan Dewi rupanya dikabulkan oleh Allah SWT. Ketika ia dan Ali tiba diteras pesantren tersebut, secara tak sengaja berpapasan dengan Dewi yang hendak masuk ke masjid. “Assalammu’alaikum, ini kak Ali, kan ?”, tanya Dewi. “wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh. Iya benar”, jawab Ali datar.

Dewi menatap wajah Siti Nurjanah lalu dengan ramah segera berkenalan dengannya. Dengan santun Dewi mengajak istri Ali masuk ke masjid untuk bergabung dengan akhwat lain, sedangkan Ali bergegas menuju ruangan khusus ikhwan.

***

“Ummi sangat berterima kasih pada Abi yang udah mempertemukan Ummi dengan Dewi semalam”, kata istri Ali memulai perbincangan.

“iya. Memangnya kalian ngobrolin apa aja sih ? ceritakan sedikit dong pada Abi. Biar ga penasaran.hehe”, jawab Ali.

“awalnya Ummi hanya ingin kenalan aja dengan Dewi, namun ternyata ia banyak bertanya pada Ummi tentang bagaimana proses pernikahan kita. Mulai dari kenalan hingga tahap menikah dengan Abi. Dan Ummi jawab saja semua pertanyaannya dengan jujur, tanpa ada yang dikurangi ataupun dilebihkan. Dewi juga mengatakan pada Ummi kalau dulu ia adalah teman kursus komputer dengan Abi”, cerita sang istri.

“Oh begitu. Syukurlah jika kalian sekarang telah saling mengenal, mudah – mudahan kedepannya bisa menjadi teman baik”, kata Ali.

“Abi, ternyata Dewi sampai sekarang belum menikah. Tadi ia cerita pada Ummi bahwa ia belum bisa menemukan sosok lelaki yang baik dan soleh seperti Abi”, kata istri Ali.
“lalu Ummi kasih nasehat pada Dewi ?”, tanya Ali.

“Sudah. Ummi katakan padanya untuk mencoba membuka hati pada lelaki lain, karena mungkin saja lelaki tersebut merupakan orang baik dan soleh atau mungkin lebih baik dan lebih soleh daripada Abi”, jawab sang istri.

“lalu bagaimana reaksinya ?”, tanya Ali jadi penasaran.

“ia tersenyum lalu matanya berkaca – kaca seperti hendak menangis. Ia pun memeluk Ummi dan mengucapkan terima kasih atas nasehat yang telah diberikan”, jawab sang istri.

“Subhanallah, nasehat yang Ummi katakan pada Dewi benar – benar bagus. Semoga saja hatinya tersentuh dan ia mau membuka hati untuk lelaki lain”, kata Ali.
“amin”

***

Usia kehamilan Siti Nurjanah telah memasuki usia 7 bulan, sebentar lagi Ali akan jadi seorang Ayah. Namun sebelum hari itu tiba, ia dikagetkan dengan keinginan istrinya yang hendak melahirkan dikampung halamannya di Garut. Siti Nurjanah ingin pada saat kelahiran anak pertamanya bisa dekat dengan keluarganya, terutama ibunya di Garut. Namun ia janji kalau kelahiran anak kedua, ketiga dan seterusnya akan di Bandung saja. Awalnya Ali menolak keinginan sang istri, namun setelah dipikir lagi memang ada baiknya jika kelahiran anak pertama dilakukan di Garut. Ia khawatir jika melahirkan di Bandung belum tentu bisa mengurus istrinya dengan baik karena kesibukan aktifitasnya yang padat di kantor.

“Ummi kemungkinan akan pergi ke Garut saat usia kehamilan memasuki usia delapan bulan, melahirkan disana lalu pemulihan kurang lebih 40 hari dan kembali ke Bandung setelah bayi berusia sekitar 1 bulan. Nah, selama Ummi tidak ada, bagaimana dengan Abi ?”, tanya sang istri.

“Tenang saja, Abi bisa tinggal dirumah orang tua lagi seperti pada masa bujangan dulu atau tinggal dirumah kontrakan sendirian biar mandiri ... hehe”, jawab Ali sambil tersenyum.

“Abi yakin bisa mandiri ? selama ini Abi sudah repot dengan pekerjaan yang menyita waktu dari pagi hingga sore bahkan terkadang sampai malam hari. Apalagi jika ditambah harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga ?”, tanya sang istri.
“iya. Memang Abi akan merasa kerepotan jika tidak ada Ummi, tapi yakinlah Abi bisa mengatasi segalanya dengan baik. Insya Allah”, jawab Ali.

“Ummi kurang setuju jika Abi balik lagi kerumah orang tua. Dulu saat bujangan sudah sering merepotkan orang tua, jangan sampai setelah menikah malah berbuat seperti itu lagi. Namun jika tinggal disini sendiri, Ummi agak ragu Abi bisa hidup mandiri”, kata sang istri.

“Tenang saja … Abi yakin bisa mengatasi keadaan itu”, jawab Ali.

“Ummi punya sebuah ide agar Abi tidak kerepotan saat Ummi pergi”, kata sang istri
“ide apa ?”, tanya Ali jadi agak penasaran.

“menikahlah dengan Dewi”, kata Siti Nurjanah dengan mantap.

“astagfirullahaladzim. apa Abi nggak salah dengar ucapan Ummi barusan ?”, tanya Ali dengan badan bergetar.

“tidak. Abi tidak salah dengar. Ummi menganjurkan Abi menikah dengan Dewi agar terjadi kemaslahatan dan mencegah kemudharatan”, jawab Siti Nurjanah secara diplomatis.

“maksudnya ?”, tanya Ali lagi.

“jika menikah dengan Dewi maka Abi telah menyembuhkan rasa sakit hatinya dulu dan menutup peluang ia menjadi perawan tua karena selalu berharap Abi akan jadi suaminya. Lalu setelah kalian menikah maka Abi tidak akan kerepotan mengurus pekerjaan rumah tangga karena telah memiliki istri lagi”, kata Siti Nurjanah sambil menggenggam tangan suami tercintanya.

Ali hanya terdiam dan tertegun mendengar ucapan istrinya tersebut, ia tak pernah berpikir bahwa istrinya bakal berkata seperti itu.

Ia mengecup kening istrinya lalu berkata,”Subhanallah. Ummi benar – benar istri yang luar biasa. Cinta dan perhatian Ummi pada Abi begitu besar hingga rela menyuruh Abi menikah lagi”.

“Iya. Mudah – mudahan menikah dengan Dewi bisa menjadi solusi yang baik buat kehidupan Abi”, kata Siti Nurjanah yang larut dalam pelukan Ali.

“Baiklah. Jika itu kemauan Ummi, maka Abi akan segera menghubungi Dewi dan keluarganya. Mohon do’anya semoga rencana kita bisa berjalan lancar dan diridhoi Allah SWT”, kata Ali.

“Allahumma amin yaa robbal ‘alamin”, sambut Siti Nurjanah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer eydaal
eydaal at Solusi Tak Terduga (7 years 14 weeks ago)
80

niiiiihhhh point

Writer cah_mars
cah_mars at Solusi Tak Terduga (7 years 51 weeks ago)
70

Hohohoho... terlalu mendadak masuk ke solusinya.
Oh ya, "di" sebagai kata depan seharusnya dipisah, banyak sekali di cerpen ini yang digabung.