Forgotten Soldier: Back to War (Prologue)

New York City, Amerika Serikat, 30 November 2010.

"Dua dari lima file catatanku terinfeksi virus?!" geramku kepada ahli reparasi komputer langgananku.

"Ya, ini tidak bisa dibendung lagi. Kita harus menghapusnya..." ujarnya dengan penuh keterpaksaan.

"Jangan! Kita perlu mem-backup data pribadiku. Coba buka folder videonya..." pintaku.

Pria bertubuh agak gemuk itu mengarahkan mouse komputerku dengan cekatan. Ia menekan tombol kiri pada mouseku dengan cepat pada folder bergambar pita film. Biasa disebut folder My Video. Setelah terbuka, aku sedikit memperhatikan konten di dalamnya.

"Syukurlah, koleksi Yuma Asami-ku tidak terinfeksi virus..." lenguhku.

"Err... pak, aku sarankan untuk tidak mem-backup data pribadi bapak." cegah pria itu di saat aku merogoh sebuah flashdisk di kantung celanaku. "Virus Sality mudah menular ke berbagai media penyimpanan, pak. Meskipun virus itu tidak menginveksi file bapak, tapi dia dapat bersarang di flashdisk bapak!"

Benar-benar sial. Virus yang dinamakan Sality ini benar-benar menjamur di seluruh kota New York. Kudengar dari televisi, virus ini telah menginveksi kurang lebih satu juta lima ratus pengguna komputer, yang mengakibatkan komputernya beresiko rusak permanen. Sebuah fenomena aneh di tahun ini, dimana virus komputer malah mewabah ke kota ini. Kukira virus flu babi yang akan mewabah.

"Jadi, harus bagaimana, pak?" tanya pria itu padaku.

"Aku tidak punya pilihan...." keluhku. "Lakukanlah yang terbaik bagimu, anak muda..."

"Master reset?" tanyanya. Aku mengangguk pelan.

Disaat ia bekerja, aku sempat terpikir. Aku tidak bisa menghentikan wabah virus ini yang disebarkan melalui dunia maya. Aku bukanlah siapa-siapa, kecuali Creed Lawson si veteran Perang Vietnam yang tinggal sendiri di kota metropolitan ini. Umurku yang mulai menua ini -sekitar 73 tahun- mungkin tidak bisa lebih aktif seperti saat aku muda dulu. Dimana setiap permasalahan dalam negeri segera dituntaskan sampai ke akar-akarnya, seperti yang dilakukan para mahasiswa di kota ini, saat ini.

Aku mengingat sedikit tawaran seseorang yang usianya sepuluh tahun lebih muda dariku. Ia tiap hari ia mengunjungi kamar sedangku yang berada di dalam flat murahan ini. Oh bukan, ia bukan debt collector. Melainkan seseorang yang menduduki posisi terhormat dalam Angkatan Darat Amerika Serikat. Kita menyebutnya, jendral. Ya, Jendral Folley namanya.

Seingatku, pertama kali ia mengunjungiku saat awal bulan Oktober. Yang membuatku bingung, bagaimana ia bisa tahu tempat kediamanku. Dan, untuk apa ia mencariku sekaligus memberiku sebuah tawaran yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang lebih muda dariku.

"Bapak Lawson, maaf jika ini tidak mengenakanmu, tetapi ini sudah tidak bisa dibiarkan. Angkatan Darat kehilangan salah satu putra terbaik dalam Batalyon Kavaleri ke Satu di Afghanistan. Dia adalah pemimpin batalyon itu, dan dari semua perwira terbaik yang kami seleksi untuk dijadikan penggantinya, semuanya tidak sanggup berangkat ke Afghanistan." kata Jendral Folley padaku saat itu.

"Lalu kenapa? Perang adalah bisnis Amerika Serikat, dan juga bisnismu. Bisnisku sudah selesai, sejak di 'Nam. Lagipula, kenapa harus repot-repot cari yang tua sementara yang muda masih banyak di negeri ini..." ujarku.

"Tapi, Bapak Lawson-"

"Maaf, pak jendral. Aku sudah kehilangan istriku di Vietnam. Aku sudah trauma dengan perang. Dan aku sudah bersumpah untuk tidak angkat senjata lagi. Jika pak jendral mengerti, bapak bisa pulang sekarang."

"Bapak Lawson, kumohon dengarkan ini. Bapak adalah tentara legendaris di seluruh Amerika. Nama bapak di elu-elukan pada era itu. Tidakkah bapak ingin merasakan hal yang sama pada tahun ini?" nampaknya Jendral Folley semakin berambisi untuk mengajakku menerima tawarannya.

"Di elu-elukan dan akhirnya dilupakan?!" sambungku. "Setiap tentara yang berperang, akan di elu-elukan di akhir perang. Sebulan kemudian, mereka terlupakan. Aku merasa kasihan pada mereka yang menerima ajakan muluk dari Paman Sam untuk bertempur di Afghanistan. Baik yang mati, yang tertahan, yang selamat, sama saja mereka dilupakan. Terbuang. Terabaikan..." jelasku.

Kulihat sang jendral berdiri dari kursi kayuku dan berjalan keluar kamarku dengan sedikit lesu. Tetapi nyatanya, esoknya dia kembali menemuiku dengan tawaran yang sama. Ia berkali-kali mendatangi rumahku dengan perbincangan yang sama. Hingga pada suatu hari -dan mungkin ini tawaran terakhirnya- aku dan dia masih membicarakan tawaran yang sama. Tapi yang berbeda adalah pada bagian akhirnya.

"Baiklah, bapak Lawson. Saya sebenarnya ingin memaksa bapak untuk ke Afghanistan. Tetapi, mengingat bapak adalah veteran, dan bapak mungkin memang tidak mau kesana karena suatu hal, ya mungkin saya bisa mencari pengganti yang lain, atau-"

"Atau memecatku?" ucapku menyambung perkataan Jendral Folley.

"Mungkin saja kulakukan. Tetapi, amat sangat disayangkan bapak tidak ikut serta. Karena, ini ada kaitanya dengan pembunuh dari Ibu Nonoka Lawson..."

Yap, di bagian itu yang membuat dadaku berdenyut kencang. Ia... mengetahuinya? Pembunuh istriku?

"Nonoka? Maksudmu... soal keberadaan Chernov...." Chernov, si bedebah yang telah membunuh istriku, tepat di tahun 1959.

Sang jendral mengangguk. Aku hanya mematung mendengarnya. Ia mengetahui keberadaan pembunuh istriku -yang pernah aku mencari keberadaannya selama sepuluh tahun lebih-. Aku tahu, kembali ke medan perang berarti membangkitkan kembali memori kelamku di Vietnam. Tetapi, di Vietnam pula aku bersumpah untuk menggunakan sisa hidupku untuk membalas kematian istriku. Dan, tawaran Jendral Folley sepertinya merupakan kesempatan pertama dan terakhir yang aku punya.

"Baiklah, bapak Lawson. Aku mengerti bahwa bapak tidak ingin ikut serta. Baik, aku bisa mencari pengganti yang lebih pantas..." ucap Jendral Folley sambil bangkit dari kursi kayuku.

"Tunggu!" cegahku, yang disaat yang sama si jendral berbalik ke arahku. "Kapan pesawat menuju Afghan akan tiba?"

"Besok pagi" jawab Jendral Folley sambil tersenyum.

Bersambung.

Read previous post:  
Read next post:  
80

nice done, soldier!

"Looks don't count for shit in the jungle. This is 'Nam baby!", Woods said.

73 tahun...
Pas aku hitung:
2010-73 = 1937 (tahun kelahiran Creed Lawson)
1959-1937 = 22 (usia Creed waktu itu)
.
Terlalu tua?

Err kalau saranku sih, daripada memaksakan istri, bagaimana kalau 'wanita yang dicintai' saja, atau tunangan, atau calon istri, mungkin rekan satu kompi :D
-
yah hanya saran sih.
Untuk usia sih, kayaknya 60-an lebih pas. Jadi navy pada usia belasan, kayaknya lebih menegaskan status kelegendaannya. tapi kalau bisa jangan di vietnam saja... err rentangnya agak terlalu panjang, karena tokohnya amerika, ikut gulf-war (perang teluk) mungkin bisa ditambahkan dalam refrensi.

Wah, aku rasa kalau kekasih, calon istri, atau tunangan kurang ada rasa dramanya. Aku pengen liat bagaimana jadinya bila seseorang kehilangan istri yg amat sangat dicintainya karena dibunuh oleh seorang yg tidak bertanggung jawab, lalu memburunya bertahun-tahun. Pasti akan kerasa drama XD
.
Ya, mungkin kalau aku nyeritain Creed waktu pertama kali masuk tentara, ya aku hanya nyeritain dia dalam sebagian rentang waktu pada Perang Vietnam, bukan semuanya. Bisa jadi aku nulis kisahnya dia dua tahun di Vietnam. Toh, tak semua orang bisa terus hidup dalam seluruh rentang waktu suatu perang. Bisa jadi sebulan, setahun kemudian disuruh balik ke rumah :)
.
Tentara di usia belasan? Aku pernah interview sama temenku yg bokapnya tentara, paling muda orang bisa jadi tentara di usia minimal 20 tahun kurang lebih. Itu pun pertama-tama jadi prajurit biasa dulu di ketentaraan reguler. Kalau di akademi militer atau wamil, ya bisalah 18-19 tahun gitu. Tapi, saya pengennya menjadikan Creed sebagai tentara reguler biasa yg masuk tentara lewat cara biasa. Bukan wamil
.
Maaf mas...

Yah kalau begitu pertanyaannya jadi:
Dimana si istri meninggal?
dan
Bagaimana seorang tentara yang absen cukup lama dari dunia ketentaraan, tidak terlibat dalam peperangan apapun, selama kurang lebih 40an tahun, bisa mendapat gelar 'legenda' ? yah terlepas dari bagaimana dia bisa menjaga stamina dan tekniknya.
-
ahaha tentu saja anda sebagai pengarang bebas menentukan bagaimana penggambaran tokoh anda :)
Anggap saja opini pembaca.
Tentang usia, di waffen ss, usia minimum rekruitmennya adalah 17 tahun, jadi kurasa kalau si tentara adalah calon 'legenda', rasanya masuk akal kalau pada usia 18-19 dia sudah menunjukkan prestasi yang luar biasa.
-
Err yah met menulis saja kalau begitu >_<

80

Hmm hmmm
Cukup masuk akal, kalau Chernov (orang rusia?) ada di afganistan. tapi di vietnam ? bukannya yang membekingi vietanam dulu cina ya? (belum sempat ngecek)
-
Sedikit kritik (keluhan) tentang tokoh utama...
Yang pertama, yah, kayaknya kurang keren, kalau masalah trauma dibicarakan begitu saja, terutama bagi seorang prajurit.
-
Lalu soal usia...
si tokoh usianya 67
sekarang tahun 2010
istrinya meninggal tahun 1959, 51 tahun yang lalu...
err itu artinya si tokoh baru berusia 16 dong pas menikah? (well bukan hal yang buruk sih, cuman apa itu juga berarti dia mulai jadi tentara saat usianya baru belasan tahun?)

Sebelumnya terima kasih telah berkunjung kemari.

1. Selain Cina, Soviet juga mendukung Vietnam Utara dalam perang itu. Siapa yg memberi tank ke Vietnam Utara? Siapa yg kasih helikopter sama pesawat tempur? Siapa juga yg kasih persenjataan sama penasehat perang? Semua itu Soviet yg melakukannya :)
Bisa dibilang, Cina dan Soviet memiliki andil yg sama besar dalam Perang Vietnam.
.
2. Umm.... entah kenapa, aku suka menggambarkan penderitaan traumatis seorang tokoh seperti itu. Rasanya agak munafik jika dibiarkan dipendam. Maka itu, aku sengaja menulis begitu supaya si tokoh ada penderitaan batin :)
.
3. Mas 145 yg baik nan imut, ternyata setelah kuhitung itu benar juga. Berarti Creed nikah pada umur 16 (!!). Ya ampun, kesalahan fatal. Kurasa akan kuperbaiki itu secepatnya.
.
Sekali lagi, terima kasih atas kritik dan komentarnya :)
.
Terima kasih

90

Oke. Ini pertama kalinya saya mengunjungi lapakmu, Tom, dan saya sudah menyiapkan semua kemampuan otak saya. Kebanyakan ceritamu tentang militer dan saya tak ada bayangan tentang dunia militer T_T.
.
Nggak komen soal cerita, ya :O. Saya bener-bener tidak punya kapasitas di bidang militer semacam ini.
.
Yang saya sukai dari cerita ini adalah PoV 1 dari seorang pria tua yang merupakan veteran Perang Vietnam. Ini susah, lho, bikin PoV 1 dari orang yang jauh usianya dari sang penulis karena perspektif orang tua ama remaja sangat beda. Tapi saya yakin kamu bisa :)
.
Tulisanmu juga udah rapi. Siip! Eh, tadi saya nemu kata 'lenguh' di salah satu dialog. Entah kenapa saya ngerasa kayak ada sapi yang lagi ngomong. Mungkin bisa diganti kata lain yang lebih 'manusiawi'. Dan setelah saya cek di kamus, kata 'lenguh' yang digunakan untuk manusia itu ternyata berarti sesak napas/mengi.
.
Saya nyerah, Tom! T_T

Sebelumnya, terima kasih telah sudi mampir ke cerita saya. Dan maaf bila memang kebanyakan ceritaku berkiblat ke fiksi militer. Ya mau bagaimana lagi? Kalau bikin romantis, banyak yg protes endingnya jelek. Kalau fantasi, ga cocok.
.
Terima kasih pujiannya mengenai PoV 1 itu. Sebenarnya susah-susah gampang menulis karakter seorang lanjut usia. Yg penting gambarkanlah dia sebagai sosok yg dewasa, bertanggung jawab, emosinya stabil, dan tidak suka hal-hal yg basa basi. Langsung to the point, artinya :)
.
Err.... lenguh ya? Hmm... aku juga belum begitu banyak menguasai kosakata sih, tapi kalau sapi ngomong bukanannya melembu? Ah, aku memang butuh penguasaan kosakata baru nih! >.<
ya mungkin aku merasa lenguh cukup cocok, karena hampir sama dengan lirih :)
.
Sekali lagi, terima kasih banyak telah berkunjung :)

Ya, inilah proyek baruku. Chapter yg udah jadi sebenarnya udah banyak, tapi berhubung sistem disini dimana member hanya bisa posting dua cerita dalam 24 jam, jadi ya saat ini hanya dua cerita yg aku posting.
.
Mohon bantaiannya :)