The Journal: Day 5

Dia ini kenapa sih? Sudah kubentak-bentak, sudah kumarahi sedemikian rupa, tapi masih saja sanggup tersenyum seperti itu. Apa yang salah dengan kepalanya?

Ini benar-benar mengganggu. Melihatnya tidak berdaya setelah di-bully seperti itu, membuatku ingat pada aku yang dulu. Rasanya jadi ingin marah-marah. Apa dia benar-benar tak ingin berusaha mempertahankan dirinya di hadapan mereka? Di sisi lain, dia tidak mau dibantu. Bukannya aku cemas, tapi melihatnya sok kuat begitu membuatku ingin meledak. Dia tidak ingin dibantu, tapi juga tidak mau melawan saat diperlakukan buruk. Maunya apa?

Hei, Risa, menurutmu aku harus bagaimana? Membiarkannya? Tapi … ah, kamu tahu dulu aku seperti apa kan? Aku pernah jatuh ke lubang paling dasar dan gelap dalam diriku. Semua suara rasanya menjauh. Kepergian ibu memperburuk segalanya. Rasanya, setitik cahaya yang sempat menerangiku lenyap begitu saja. Tapi, entah sejak kapan … kamu akhirnya bisa menarikku keluar dari kegelapan itu. Bagaimana caramu melakukannya? Aku ingin tahu … karena aku juga ingin melakukan hal yang sama. Untuknya, yang membuatku teringat masa lalu. Sebab aku tahu betul, di titik ini, dia benar-benar butuh bantuan. Aku hanya ingin mengulurkan tanganku padanya. Tapi, aku tidak tahu caranya. Bisa kamu beritahu aku?

 

Catatan Risa:

Ini pertama kali kamu mengatakan padaku kalau kamu benar-benar peduli pada seseorang. Aku masih ingat sedingin dan sekejam apa kamu dulu. Sudah tak terhitung berapa kali kamu sudah mengatakan ucapan jahat padaku sambil lalu. Sesaat kemudian, kamu cuek saja seolah sebelumnya tidak pernah mengatakan apapun. Tapi, itu dulu lho. Sekarang sih kamu sudah sedikit lebih hangat. Sedikit.

Temanmu ini memang mirip denganmu, meskipun konteksnya beda. Dia masih bisa senyum. Tapi, bisa kubayangkan jenis senyuman apa yang tampak di wajahnya. Kalian sama-sama tipe introvert. Agak susah memang, menghadapi orang-orang seperti itu. Tapi, kuberitahu satu hal. Jangan membentak atau memarahinya lagi. Nggak akan ngefek. Orang seperti itu hanya bisa dihadapi dari dalam. Kenali dia lebih jauh, pahami pikirannya, dan selami kepribadiannya. Dengan cara itu, kamu akan lebih mengerti seperti apa sebenarnya dirinya. Yang paling penting, cobalah percaya kalau dia masih bisa dibantu.

Oke, aku tahu ini kendala terbesarmu. Kamu nggak pernah bisa percaya sama orang lain. Ayolah, Wan! Ubah mindset-mu. Bagaimana temanmu mau terbuka sama kamu kalau kamu nggak mau melakukan hal yang sama?

 

P.S: JANGAN ASAL MEMBENTAK ATAU MEMARAHINYA! KAMU BUKAN INGIN MEMPERBURUK KONDISINYA, KAN?!

FIGHT!

Read previous post:  
42
points
(969 words) posted by aocchi 8 years 6 weeks ago
70
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan | Buku harian | Journal
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kika
Kika at The Journal: Day 5 (6 years 35 weeks ago)

mana lanjutannya kak ao?? Ah.. Penasaraaan..

Writer dansou
dansou at The Journal: Day 5 (7 years 49 weeks ago)
90

Ah, keluar juga lanjutannya Kak Ao. Makin lama makin bagus, nih ceritanya ^^. Saya bisa bayangin kalau ini dibikin novel, bentuk font-nya mirip tulisan tangan dan bakalan kereeen...
.
Lanjutannya Kak AO!!!! :D