Champagne & Valet

Champagne & Valet

 

****Episode 1****

 

Cast :

 

Gemma Arterton as Grace Miller

 

Gabriel Macht as Rick Jerome Lancaster

 

Milo Ventimiglia as Ryan Zimmerman

 

******************************************************

 

(Coldmont Square Restaurant, Richton Springs)

 

Mereka bilang aku perayu ulung. Bukan perayu lelaki sih. Aku selalu berhasil menggaet calon investor untuk menginvestasikan uangnya atau mengajak calon klien untuk bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja. Setiap bulan aku mampu meluluskan lima hingga sepuluh deal dengan klien. Itu adalah rekor terbanyak yang belum pernah tersaingi orang lain. Dan itu membuatku bertahan menjadi Employee Of The Month selama satu tahun berturut-turut.

Dan di sinilah aku berada. Coldmont Square Restaurant. Aku selalu mengajak klien-klien yang berhasil kudapatkan untuk merayakannya di sini, sambil makan malam.

“Untuk kerjasama kita,” ucapku sambil mengangkat gelas yang telah berisi sampanye, diikuti seorang lelaki yang duduk satu meja denganku.

“Untuk kerjasama kita,” balasnya, sebelum kemudian kami melakukan toast. Kali ini, aku memilih Dom Perignon sebagai sampanye saksi kerjasama kami.

Sebenarnya, aku tidak terlalu menyukai anggur yang berasal dari Champagne, Perancis itu. Aku sudah bosan dengan sampanye, yang selalu kunikmati tiap kali merayakan dimulainya kerjasama dengan klien. Tapi, aku tidak bisa mengeluh. Mr. Barlow selalu mengingatkanku, bahwa kita harus selalu memperlakukan klien dengan istimewa. Dia selalu berpesan,”Miller, jangan lupa untuk memesan sampanye tiap kali kamu makan malam dengan klien!”

Untung saja ada anggaran dari perusahaan untuk memperlakukan klien seistimewa versi Mr. Barlow.   

“Jadi, di mana Anda tinggal, Miss Miller?” tanya lelaki yang kira-kira berumur empat puluhan di hadapanku itu setelah menyesap sampanyenya.

“Ivy Acres Apartment, Sir.”

Wow, what a luxury place to live. Dulu saya pernah mempertimbangkan untuk tinggal di sana. Tapi, akhirnya saya lebih memilih membeli rumah saja. Kadang kita perlu memilih harga yang lebih tinggi untuk memberikan image yang tinggi pula bukan? Apalagi bagi seorang pebisnis seperti saya…”

Lelaki itu mengoceh tentang dirinya, yang selalu menyelipkan bumbu-bumbu kesombongan di antara kalimat-kalimatnya. Terserahlah, yang penting dia telah menandatangani surat perjanjian tadi. Maka kubiarkan dia mengoceh sesuka hatinya. Kadang-kadang aku merasa dia merayuku. Tapi, aku mencoba untuk tetap tenang menghadapinya. Mencoba menutupi kebosananku dengan terus menegukkan sampanye ke dalam kerongkonganku.

Sekitar satu jam lebih yang membosankan itu akhirnya dapat kulalui juga. Kuserahkan kartu parkir mobilku pada seorang petugas valet yang sudah bersiaga di depan pintu. Klienku masih berdiri di sampingku.

“Mohon ditunggu sebentar, Miss,” ucap lelaki muda berseragam kemeja putih diluari rompi merah itu menerima kartu parkirku sebelum membungkuk sopan dan melesat pergi dari hadapanku. Petugas valet yang sama. Lelaki muda berusia 25-an berambut hitam, dengan emblem nama bertuliskan Zimmerman di dadanya.

“Terima kasih atas makan malamnya, Miss Miller,” ucap klienku.

You’re welcome, Mr. Pearson. Saya yang sangat berterima kasih karena Anda telah setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan kami.”

Well, tentu saja saya tidak akan menolak untuk bekerja sama dengan perusahaan yang mempunyai Client Service Officer yang sangat pintar dan juga cantik seperti Anda,” ucapnya dengan tatapan menggoda.

Here we go. Dia sudah mulai merayuku lagi. Mr. Pearson terus berbicara hal-hal yang tidak penting hingga akhirnya mobilku tiba di hadapanku.

“Mungkin suatu saat nanti bolehkah kita menikmati sampanye bersama lagi? Giliran saya yang akan mentraktir Anda tentunya, Miss,” ucap Mr. Pearson.

Aku mencoba tersenyum ramah,”Tentu saja, Sir, saat saya menyerahkan laporan keuntungan besar dari proyek kita nanti,” jawabku membuatnya terlihat kecewa. Dia pikir dia bisa mengajakku kencan? No way!

“Baiklah. Saya akan sangat menunggu saat itu,”

“Silakan, Miss,” petugas valet parking yang mengantarkan mobilku menyerahkan kunci mobil kepadaku. Seperti biasa, aku memberinya tip.

“Terima kasih, Miss,” ucap petugas valet bernama Zimmerman itu.

“Saya pulang dulu, Mr. Pearson. Sampai jumpa dan terima kasih,” ucapku menyalami klien genitku itu.

“Sampai jumpa, Miss Miller,”

Aku memasuki mobil berwarna hitamku dan secepat mungkin menyalakan mesinnya. Aku masih bisa mengetahui tatapan menggoda Mr. Pearson saat kuluncurkan mobilku keluar dari pelataran Coldmont Square.

Kujalankan Volkswagen Eos ini menyusuri jalanan Richton Springs yang masih cukup ramai. Aku menikmati perjalananku sambil mendengarkan CD Michael Buble yang tengah melantunkan lagu ‘Everything’ nya. Perasaan ini mulai mendera lagi. Rasa yang dingin dan sepi di dalam hatiku. Apalagi tiap kali melewati Royalbay Bridge, jembatan panjang yang menyeberangi semenanjung Milwell. Aku selalu menyempatkan diri menoleh sekilas ke arah lautan dan pulau kecil yang berada tak jauh dari pesisir. Knoxferry Island yang biasanya tampak indah oleh lampu-lampu rumah yang berjajar di bukit-bukitnya, tampak samar tertutup kabut malam ini.

*-*-*-*

(Coldmont Square Restaurant, Richton Springs)

 

Wanita cantik itu datang lagi. Kali ini bersama seorang pria. Dia selalu datang dengan orang-orang yang berbeda. Kadang dengan beberapa lelaki tua, atau dengan seorang lelaki muda seusia dengannya yang kutaksir mungkin umur awal 30-an, atau dengan beberapa lelaki dan perempuan. Yang jelas beragam orang selalu datang bersamanya. Dia tidak pernah datang sendiri. Mungkin memang pekerjaannya selalu bertemu orang.

Aku selalu mencuri pandang melalui kaca-kaca besar yang mampu menunjukkan pesona wanita itu di dalam restoran. Dia selalu duduk di meja yang sama, meski bersama orang-orang yang berbeda. Aku sangat menyukai senyumnya dan cara dia menyesap sampanyenya. Ya, wanita itu selalu memesan sampanye. Meski aku melihatnya tampak menikmati sampanyenya, entah kenapa aku merasa ada kejenuhan yang disembunyikan wanita itu di balik senyumannya. Mungkin aku sok tahu, tapi sepertinya dia kesepian.

“Mohon ditunggu sebentar, Miss,” ucapku langsung ketika menerima kartu parkir mobil dari tangan cantiknya. Segera aku melesat pergi ke areal parkir untuk mengambilkan Volkswagen Eos miliknya. Entah kenapa, tiap kali aku duduk di jok kemudi dalam mobil itu, aku membayangkan wanita cantik itu duduk menyetir dengan perasaan sepi dalam dirinya, karena tidak ada siapa pun di sampingnya.

Ketika aku keluar dari mobil, kudengar dia berbicara pada lelaki itu,”Tentu saja, Sir, saat saya menyerahkan laporan keuntungan besar dari proyek kita nanti,”

“Baiklah. Saya akan sangat menunggu saat itu,” jawab si lelaki.

“Silakan, Miss,” kukembalikan kunci mobilnya. Dan seperti biasa, dia memberiku tip.

“Terima kasih, Miss,” ucapku kemudian hanya bisa memandanginya lagi, beranjak untuk memasuki mobilnya.

“Saya pulang dulu, Mr. Pearson. Sampai jumpa dan terima kasih,” ucapnya.

“Sampai jumpa, Miss Miller,”

Aku tidak pernah tahu banyak tentang wanita cantik itu selain nama belakangnya yaitu Miller, dan dia masih single. Orang-orang yang bersamanya selalu memanggilnya Miss. Lalu hal lain yang kuketahui tentangnya adalah bahwa dia selalu memasang pewangi mobil beraroma buah peach di dalam mobilnya. Tidak pernah aroma lain.

Aku sangat tertarik pada Miss Miller itu. Namun aku merasa ketertarikanku tidak akan beranjak menuju fase selanjutnya. Bahkan untuk mengenalnya. Aku hanyalah seorang petugas valet parking.

*-*-*-*

(Chatlawn Landing, Mount Shakermill Island)

 

“Sampai kapan kau akan terus bersembunyi di sini?” Fletcher akhirnya membuka mulut di sela aktivitasnya membelah potongan-potongan batang kayu.

Aku yang duduk di beranda pondok tak jauh dari tempatnya berdiri dengan kapaknya, hanya memandang pepohonan rimbun yang sangat rapat di hadapan pondok kecil ini.

“Rick?” panggilnya memastikan apakah aku tuli atau tidak.

“Entahlah, Fletch. Sampai situasi aman tentunya.”

“Kau harus segera melepaskan diri dari masalahmu itu. Kau tidak bisa hidup seperti ini terus,”

“Biarkan aku menata sendiri kehidupanku, Fletch! Aku baru saja harus berpisah dengan istriku, ingat? Aku sedang tidak ingin memikirkan masa depanku. Everything’s messed up!”

Then clean it up! Sudah hampir setengah tahun kau berpisah dengannya, apa kau akan terus meratapi nasibmu?”

Aku meminum kopi hangatku,”Dia tidak tahu alasan sebenarnya. That’s the thing that makes me so fucked up!”

“Maka tunjukkan padanya apa yang sebenarnya terjadi!”

“Kau tahu aku tidak mungkin melakukannya.”

“Lalu apa yang bisa kaulakukan? Kau hanya bisa bersembunyi di sebuah pulau terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat yang terbang kemari sekali dalam seminggu. Kau sama sekali tidak melakukan sesuatu untuk memperbaiki hidupmu yang kacau itu.”

Aku berdiri dari kursiku, menghampiri Fletcher yang masih memotong bilah-bilah kayu.

“Apa kau mengusirku, Fletch?”

Fletcher meletakkan kapaknya,”Kau pikir aku akan mengusir adikku sendiri?”

“Adik tiri, Fletch,” koreksiku.

“Hanya karena kita mempunyai ayah yang berbeda, kau pikir aku akan tega mengusir saudaraku yang menderita dan sengsara?”

Who knows? I’m just your step brother with his miserable life,”

Fletcher menepuk pundakku,”Do something, Rick. Kembalilah ke Richton Springs,”

“Aku belum siap untuk membalas dendam,”

“Ini bukan masalah balas dendam, Rick. Tapi masalah meraih kehidupanmu kembali,”

“Kau tahu bagaimana orang-orang di agensi. Rencanaku belum cukup matang. Aku belum bisa kembali,”

Fletcher kembali menunjukkan wajah itu. Wajah khawatirnya.

“Cepat atau lambat mereka akan tahu kau di sini. Dan kau bisa bayangkan apa yang terjadi jika mereka kemari. They will kill you rightaway… and of course they will kill me either.

I know, Fletch. I know.”

*-*-*-*

(Ivy Acres Apartment, Richton Springs)

 

Kulepaskan gaun biruku yang mulai terasa terlalu longgar karena aku yakin berat badanku turun lagi. Jamuan makan malam dengan Mr. Pearson tadi benar-benar membuatku lelah. Mungkin akibat dari telingaku yang jenuh mendengar rayuan-rayuannya, sehingga mempengaruhi saraf-saraf di tubuhku ikut jenuh menahan kesal, mengakibatkan kelelahan. Berlebihan memang, tapi rasanya mungkin seperti itu. Setelah membersihkan diri di kamar mandi dan berganti pakaian dengan baju tidur, aku langsung naik ke atas ranjangku.

Baru sebentar aku memejamkan mata, suara dering telepon menggangguku. Dengan malas, aku meraih gagang telepon yang berada di atas meja kecil di samping ranjangku.

“Hallo,”

“Hallo, bisa aku bicara dengan Rick?”  suara seorang wanita terdengar dari seberang. Ada dua hal yang membuatku ingin langsung menutup telepon saat ini juga. Pertama, orang yang dia cari. Kedua, kenapa harus ada seorang wanita menelepon malam-malam mencari orang yang dia sebut namanya tadi.

“Tidak ada Rick di sini,” ucapku malas.

“Rick ke mana? Ini siapa? Istrinya?”

Bukan. Aku mantan istrinya dan aku tidak tahu di mana Rick sekarang. Tolong jangan telepon ke sini lagi,” jawabku langsung menutup telepon. Aku benar-benar tidak ingin terlibat apapun lagi yang berhubungan dengan Rick.

Aku berusaha memejamkan mataku, namun gara-gara telepon tadi, mataku jadi terasa susah untuk mengiringku ke alam tidur. Aku kesal. Sangat kesal. Kesalnya bukan karena wanita yang menelepon, tapi aku kesal karena kenapa tiba-tiba aku merasa rindu pada Rick. Seharusnya aku tidak merasakan hal ini lagi. Aku bukan lagi Mrs. Lancaster.

 

to be continued

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer zachira
zachira at Champagne & Valet (7 years 35 weeks ago)
90

Telat, kemana aja diriku nggak ngebaca cerita ini,..

suka sama deskripsi settingnya, natural,..ga terlalu ngeberatin cerita dengan pamer deskripsi.

baru kmrin ntn drama korea yang pemerannya jadi petugas valet parking. hehe jadi tertarik nih.

*pemeran rick-nya kurang ganteng, ihiks*

ada kemungkinan tokoh ceweknya jadian sama Ryan ngga ya? ^^

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (7 years 35 weeks ago)

oh ya? filmnya judulnya apa? *kurang up to date soal drama2 korea hehehe*
*
waduh masa sih kurang ganteng? itu aslinya ganteng lho, udah nonton SWAT 2 : Firefight? kupikir dia cocok mainin peran2 macho full action gitu hehehe :D

Writer zachira
zachira at Champagne & Valet (7 years 35 weeks ago)

Drama-nya judulnya Me Too, Flower *promosi* ihihihi,..

pantesan mukanya rada familiar, tapi tumben2an mukanya bukan tipikal pemeran drama romance (kalo itu yang Milo juga iya yah, bukan spesialis romance, haduhh)

Writer Riesling
Riesling at Champagne & Valet (8 years 4 weeks ago)
90

Paling suka bagian Ryan <3
Saya pernah nyoba pake POV pindah-pindah gini, tapi satu chapter cuma satu sih xDD. Tapi saya suka yang ginian~~

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (8 years 4 weeks ago)

tengkyuk Riesling.. semoga saya bisa melanjutkan.. T_T

Writer dansou
dansou at Champagne & Valet (8 years 4 weeks ago)

semangat kak Lav! *lirik cerita sendiri* *nangis* TT___TT

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (8 years 4 weeks ago)

*nangis bareng*

Writer cat
cat at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)
90

Apa sebutannya multiply POV1. Aku masih belum berani pake yg ginian. ‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Oh iya aku suka miss miller. Suka ma zimmer.
Tp ndak suka pemeran rick. ‎​(✽ˆ⌣ˆ✽)

Ni baru pembukaan. Dan aku yakin ni bakal jd cerita yg sedikit lebih berat dari yg sebelumnya.

Aaaaa Lady love story is back.

Tinggal nunggu cup of teanya Miss Romantic story.

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

Knp ndak suka Rick mbak? Kurang ganteng? Hehehe aku mau ngontrak Colin Farrell sbnrnya mbak tp bayarannya kok mahaaalll wkwkwkwkkw..
Ndak berat kok mbak, ringan saja hehehe.. Itu kalau ada ide mbak, klo ga ada ya ga lanjut axaxaxaxax..

Writer lfour
lfour at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)
90

mmmm lavender nulis lagi, mantep....
lanjutan jangan lama2 yak.......

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

tengkyuk lfour selalu membaca..
*berkaca2*

Writer dansou
dansou at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)
90

Horeee!!! Kak Lav balik lagi \(^^)/ asiiiikk!!!! Saya senang sekali :D. Buat referensi saya ya, Kak, buat gimana bayangin dunia kerja >,<
.
Multiple PoV 1, nih. Sebenernya juga enggak bingung-bingungin banget, sih, karena selang-seling. Kalo sampai tamat urut begini, saya rasa enggak bakal bingungin.
.
Ah, ada si Petrelli. Asiiik. Bawa Hiro sekalian juga dong ^^. Sampai episode 50 ya ceritanya Kak Lav *digampar*
.
Ah, yang ini:

Quote:
Aku tidak pernah tahu banyak tentang wanita cantik itu selain nama belakangnya yaitu Miller, dan dia masih single. Orang-orang yang bersamanya selalu memanggilnya Miss.

Tanyaaa!!! Kalau di dunia kerja, bukannya walau udah nikah, tapi seorang wanita tetep pakai maiden name (apa bahasa Indonesianya, sih?) kan? Setahu saya, gitu. Jadi, di dunia kerja walau udah nikah, tetep pakai nama belakang sebelum nikah. Iya enggak, sih, Kak? Jadi, dasar si Milo (namanya susah bener, panggilnya Milo aja, deh -__-") bilang si Miller masih single agak enggak kuat. Jelasin dong Kak!
.
Lanjuuut!!! :D

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

eh? gitu yak? klo kerja pake nama kecil yak? gimana klo pas dulu ngelamar kerja dia udah married n di CV nya udah pake nama misuanya? ^__^ *ngeles* ntar dah aku hapus bagian ntuh..
*
kenapa langsung ke Heroes? padahal Milo kan ga cuma maen disonoo.. aku suka dia maen di Gilmore Girls.. axaxaxa..

Writer dansou
dansou at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

makanya itu saya nanya, kak Lav. Saya kan belom pernah kerja ^^ kalo cewek tetep pakai maiden name nya enggak, sih? :O Soalnya saya bakal bikin dunia kerja buat proyek selanjutnya T_T *hiks*

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

masalahnya dansou, saya belum pernah kerja di luar negeri.. jadi saya ga tau pake nama saya apa nama belakang suami saya.. axaxxaxaxaxaxaxa... *bikin dansou tambah mumet*
mungkin kayaknya bener ya, untuk profesionalitas tetep pake maiden nya..

Writer dansou
dansou at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

Ya sudah lah kak Lav XD thanks atas bimbingannya m(_ _)m

Writer cat
cat at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

Seingatku dulu. Aku pernah nonton satu film tp lupa judulnya.

Setelah merit si cewek lgsg serta merta mengurus juga segala I'd cardnya untuk menambahkan nama suaminya.

Tp pas cerai dia juga segera melepas nama belakang itu.

Semoga saja ingatanku tidak ngawur.

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Champagne & Valet (8 years 6 weeks ago)
80

Ada Milooooo... \(^o^)/ mana perannya tipe bersahaja kayak Peter Preteli lagi :P
Suka ama Peter, tapi lebih suka Hiro (*nggak nyambung he3...*)
.
Jadi begini ya zona amannya kk lav? wkwkwkwk...
Agak bingung sih... banyak dialog tanpa narasi yang jelas
jadi puyeng harus nebak2 melulu 'aku' di tiap part itu siapa :)
Mungkin kalo buat film oke2 aja, tapi kalo buat bacaan rasanya gimana gitu ==a
Yah, mungkin sayanya aja yang nggak terbiasa sih -3-
.
karena masih pembukaan banget jadi nggak berani komen banyak
nunggu lanjutannya aja deh

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

Heroes yak.. padahal aku pengennya si Milo di sini lebih ke Jess nya di Gilmore Girls.. axaxaxaxax..
*
mungkin bukan zona aman kali yak, karena juga ga aman2 amat cz banyak kekurangan, lebih ke zona nyaman aja, karena seneng nulis nyank kayak gini, nulis bebas sesuka-suka sendiri.. axaxaxaxaxa
*
ho oh yak, soalnya daku mang kebawa dari cara penceritaan di pilem, pengennya sih dipilemin.. axaxaxaxaxa..

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

Habis... nontonnya yang ada dia cuma di Heroes sih ><
film2 barat tontonan saya yang model2 gitu deh
Supernatural, Heroes, Charmed, Buffy...

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (8 years 5 weeks ago)

supernatural n buffy? Sarah Michelle n Jensen Ackless dah pernah kupake di casting serial sebelumnyaaahhhhhhh.. *berasa pernah ngerilis pilem serial beneran* axaxaxaxaxaxaxaxaxa...